09/04/2018
🌹
Halaman (Fan Page) Resmi SMA Plus Muthahhari Bandung. SMA Plus Muthahhari merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk dari perubahan pesantren mahasiswa.
Pesantren tersebut didirikan pada tahun 1991 dan berubah menjadi SMA pada tahun 1992 dengan status terdaftar. SK/Izin pendirian sekolah dari Kanwil Depdiknas dengan No. 857/I02/Kep/E/1994 tanggal 11 Januari 1994. Tahun 1996 mendapat status disamakan dari Dirjen Dikdasmen Depdikbud dengan nomor SK: 37/C/Kep/MN/1996 tanggal 26 Maret 1996. SMA Plus Muthahhari memakai istilah plus, karena disamping ku
09/04/2018
🌹
09/01/2017
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa Ali Muhammad
Ibu Bapak guru, karyawan dan seluruh civitas academica, anak-anak sekalian, rahimakumullah,
Al-Salam 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Baru saja kita berlibur, berkumpul bersama sanak saudara dan keluarga tercinta. Terkadang, saat sekolah, ingin libur. Saat libur, ingat teman-teman dan sekolah.
Sekarang, kita memulai semester baru di tahun yang baru. Kita bersiap masuk sekolah lagi setelah libur akhir tahun. Tetapi, dan ini yang istimewa, setelah masuk kita bersiap 'berlibur' lagi. Ya, berlibur lagi. Istimewanya, kali ini kita akan berlibur bersama. Bersama guru dan kawan-kawan. Mungkin, hanya kita yang setelah masuk, libur lagi, jalan-jalan lagi. Diizinkan orangtua dan ditemani kawan-kawan tercinta. Mungkin hanya di SMA Plus Muthahhari, sekolah kita tercinta. Ya, tiba saatnya kegiatan unik tiga tahun sekali: Observasi Rumpun.
Sesuai namanya, kita akan bersama-sama mengobservasi; menggali informasi dan mengamati. Ada yang berkaitan dengan Peminatan IPA dan ada juga IPS. Inilah rumpunnya.
Intinya: kita akan berpetualang. Bepergian ke berbagai tempat dan mengambil pelajaran. Kita akan berkunjung ke pabrik, museum, ziarah, atau sowan dan ikut tinggal bersama para kyai di Pesantren.
Selama perjalanan ini, perbanyaklah bershalawat dan berdoa. Salurkan keceriaan dengan berbagi bersama. _Saafiruu tashihhu_, sabda Baginda Nabi Saw. Bepergianlah, kau akan disehatkan. Uji sahabatmu dalam tiga, masih sabda Rasulullah Saw. Satu di antaranya di saat perjalanan.
Jaga nama baik sekolah. Jaga kesehatan. Ingat selalu pesan Ust. Jalal. Dahulukan akhlak di atas fiqih. Pelihara persatuan dan persaudaraan. Hormati kemajemukan. Santun terhadap yang tua, dan siap membantu yang lebih muda. Kita juga akan berkhidmat dan berbagi bersama.
Ikuti pesan dan bimbingan Ibu Bapak guru. Nikmati saat-saat ini, dan tarik bayangan beberapa tahun ke depan. Ketika kita melihat ke belakang dan Observasi Rumpun menjadi satu hal yang kelak dirindukan. Sebagaimana juga dahulu, para alumni telah demikian terkesan.
Selamat menjelajah bumi Allah Ta'ala yang luas ini. Sebagaimana pesan hymne sekolah kita. Selamat membaca alam raya. Selamat meraih ilmuNya. 'Ala al-Nabi wa alihi shalawat...
23/12/2016
MAT (Muthahhari Adventure Team) kembali mengadakan DikSar (Pendidikan Dasar) untuk anggota barunya di daerah Gunung Manglayang, Bandung, Jumat-Sabtu, 23-24 Desember 2016.
MAT merupakan salah satu club pecinta alam yang ada di SMA Plus Muthahhari. Ikatan persaudaraan antar alumni MAT sangat dekat, sehingga kakak kakak angkatannya ikut serta membimbing adik adik angkatannya...
Bravo MAT..!!
Fii amanillah...😇
07/12/2016
Pelaksanaan Penilaian Akhir Semestar Plus Muthahhari, 5 s/d 9 Desember 2016. masing masing sibuk dengan laptopnya :)
Semoga dimudahkan dan dilancarkan...menjawab soal soalnya juga koneksi internetnya ;)
I WISH MY TEACHER KNEW
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shali ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad
Pada akhirnya saya harus menulis. Saya harus terus menulis. Apa pasal? Lalu lintas informasi yang hingar bingar ternyata menyimpan sisa. Bila tidak menulis, kita akan digerus oleh kata-kata yang bertubi-tubi menerkam relung jiwa. Mata benar-benar adalah jendela hati. Apa yang kita lihat direkam memori sanubari. Bayangkan membaca berlaman-laman media sosial, beratus pesan di berpuluh grup, dan situs-situs berita agar tak ketinggalan perbincangan. Belum pernah rasanya, otak (kebanyakan) manusia menyimpan begitu banyak informasi seperti zaman sekarang ini.
Menulis juga membantu saya meringankan berbagai bacaan itu. Minggu lalu, di SMA Plus Muthahhari diadakan pertemuan orangtua murid, silaturahmi setahun sekali. Ada orangtua dari Kuningan yang bertanya tentang kebergantungan anak-anaknya pada gadget. Masalah kita semua, masalah zaman ini. Ustad Jalal menjawabnya dengan berbagi makalah yang pernah beliau presentasikan: adiksi internet. Tatkala internet menjadi candu yang meninabobokan. Sambil Ustad Jalal mempersiapkan presentasi, saya diminta menjawab pengalaman pribadi. Saya sampaikan, masalah itu adalah tantangan kita semua. Bagi saya, orangtua harus dapat mencarikan alternatif kegiatan untuk anak-anak. Dan itu mensyaratkan kebersamaan. Bagaimana mungkin meminta anak mengurangi internetan kalau kita sendiri memantengi telepon genggam kita? Ajak anak-anak berbicara. Jadilah pendengar yang baik untuk mereka. Hingga saat ini, saya masih percaya, beruntunglah orangtua yang anak-anaknya terbuka menceritakan berbagai permasalahan pada mereka. curhat sekalipun. Dan itu dimulai dengan menyediakan telinga (dan hati) untuk menampung semua cerita mereka. _Expect the unexpected_. Bersiaplah untuk yang tak terduga.
Membaca dan menulis adalah alternatif kegiatan pengganti itu. Setidaknya, melatih anak-anak untuk menyusun prioritas dan mengelola ragam informasi yang tiada henti menghujani mereka.
Tahun ini, seiring dengan 21st Century Learning, Sekolah-sekolah Muthahhari berbenah. Di SCM dan SMP Bahtera dipasang kamera CCTV di beberapa titik. Memudahkan pengawasan juga memantau lalu lalang. Di SCM, bahkan disediakan komputer khusus untuk desain. Sekolah terus memperbaiki diri. Situs scmbandung.co.id akan berkembang menjadi situs komunitas, gagasan inovatif lainnya dari guru-guru luar biasa kami. Kisi-kisi ujian, materi, ringkasan dan sebagainya sudah p**a dapat didownload melalui scmbandung.sch.id Perhatikan perbedaan dua situs itu. Yang satu dot co yang lainnya dot sch. Yang co adalah yang komunitas itu. Ingat saja: _co, community_, komunitas.
Lain SD, lain p**a di SMA. Kekhawatiran surfing tanpa batas di dunia maya membuat kami melakukan pemeriksaan terhadap handphone anak-anak. Kami minta izin anak-anak. Tidak minta izin pun, orangtua mereka akan mengizinkan demi kebaikan anak-anak. Menurut pakar informatika, di dunia gadget sekarang ini kita benar-benar telanjang. Catatan sejarah browsing kita di internet, di sosial media tersimpan di server masing-masing aplikasi. Foto yang kita unggah akan bertahan selamanya. Foto yang kita simpan di walaupun kita hapus akan tetap terjaga di memori jangka panjang. Saya sampaikan pada anak-anak, barangkali ini yang dinamakan hukum kekekalan energi ☺. Bercanda tentunya. Sudah bukan rahasia lagi, kalau perkembangan kecerdasan artifisial _(artificial intelligence)_ meningkat begitu rupa. Google dan aplikasi-aplikasi sejenis merekam jejak langkah kita dan menganalisisnya begitu rupa. Kita tanpa sadar menyuapi server-server asing itu dengan data-data pribadi kita. Dengan foto-foto keluarga kita. Dengan sejarah dan kepribadian kita. Kemudahan teknologi harus kita bayar dengan kehilangan privasi.
Meski demikian, seterbuka apa pun, selalu ada rahasia yang belum diketahui. Bulan ini, Ust. Jalal membaca sebuah artikel di majalah internasional. Judulnya: _I wish my teacher knew_. Ia berkisah tentang sebuah penelitian di sekolah yang ditujukan pada anak-anak. I wish my teacher knew. Andai saja guruku tahu. Ternyata, banyak hal yang ingin disampaikan anak-anak tak leluasa mereka sampaikan. Banyak hal yang tak terkait dengan pelajaran justru mempengaruhi pembelajaran. Misalnya, anak-anak itu akan cerita: andai guruku tahu orangtuaku bertengkar tadi pagi. Andai guruku tahu aku tidak tidur semalam tadi. Andai guruku tahu teman-temanku mengejekku tiada henti. Andai guruku tahu aku belum makan…andai, andai, dan andai…
Lalu Ust. Jalal berkata singkat padaku, dalam sebuah bincang pagi, “Coba Mif, ujicobakan di Sekolah-sekolah Muthahhari. Lakukan penelitian kecil-kecilan: I wish my teacher knew.” Maka saya sampaikan pesan itu pada guru-guru di seluruh sekolah Muthahhari. Ada yang melakukannya dalam program BK, walikelas, hingga home visit yang mereka lakukan sepekan ini. SMP Plus Muthahhari bahkan menyelenggarakan kegiatan untuk Spiritual Camp untuk guru. Saya akan bawakan tema ‘I wish my teacher knew’ ini.
Di Sekolah Cerdas Muthahari dan SMP Bahtera dilakukan Home Visit setiap enam bulan sekali. Ini program unik sekolah yang unik ini. Sejak awal berdiri, ada kunjungan rutin guru-guru ke rumah anak-anak. Berbagi cerita, mendekatkan diri dengan keluarga, dan memperoleh berbagai inspirasi untuk kebaikan bersama. Orangtua menyambut hangat, ditambah dengan penganan yang disajikan nikmat. Lengkap sudah. Silaturahmi, aktivitas pengalih perhatian digital, dan…pesan _I wish my teacher knew_ tadi.
Terima kasih Ibu dan Bapak guru Sekolah-sekolah Muthahhari. Terima kasih orangtua murid seluruhnya. Mohon berkenan senantiasa menyertakan kami dalam doa. Perkenankan saya menyapa Ibu dan Bapak setiap bulannya. Sebut saja ini, _*Muthahhari Log*_. Sila disebarluaskan via berbagai grup yang ada. Kita berbagi hikmah bersama.
Terakhir, mari doakan keluarga besar kita yang berp**ang. Mereka yang sakit. Mereka yang tertimpa bencana. Di Garut, Sampang hingga Australia. Para pengungsi di berbagai tempat dunia.
O ya, selamat untuk SMP Bahtera atas raihan Juara Harapan I Angklung se-Jawa Barat. Selamat p**a untuk setiap tim yang ikut berbagai lomba. Dan ikut bangga p**a bahwa SMA Plus Muthahhari jadi tempat kumpul dan rapat seluruh guru Pendidikan Agama Islam se-Bandung Timur. Sekitar 50-an sekolah hadir bersama. Beberapa hari yang lalu Pengawas Sekolah bahkan berbagi materi terbaru dengan guru-guru Sekolah.
Maju terus Sekolah-sekolah Muthahhari!
27/09/2016
SMA Plus Muthahhari bekerjasama dengan English Language Training International (ELTI GRAMEDIA) Bandung mengadakan Test TOEFL yang dilanjutkan dengan presentasi studi di Eropa.
Kita tunggu hasil TOEFL Smuther 2 hari ke depan :)
Semoga bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang Studi di Luar Negeri
31/08/2016
Keluarga besar SMA Plus Muthahhari mengucapkan Belasungkawa yang sedalam dalamnya atas wafatnya Bp. H. GUFRON bin FACHRUDIN, pada hari Sabtu, 27 Agustus 2016 karena sakit.
Almarhum yang juga ayahanda dari ibu Helva (guru Bahasa Indonesia) adalah salah seorang sesepuh dan penggerak amal Ahlul Bait di Masjid Al-Munawwarah Kiaracondong sejak tahun 80-an. Almarhum juga semasa hidupnya selalu berkhidmat untuk SMA Plus Muthahhari.
Mohon doanya semoga almarhum diterima amal islamnya, diampuni atas segala dosa dosanya dan dilipatgandakan amal kebaikannya dalam kasih sayang Allah SWT...
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun....
Selamat jalan pak Gufron.. 😭
Ilmu Smuth,Osis Sma Plus Muthahhari
24/08/2016
Membaca salah satu postingan anakku Zahra Nur Alia bbrp minggu yg lalu, ttg kerinduannya kepada keluarga angkatnya.. Bu Enok dan keluarganya, mereka petani penggarap di suatu desa di sekitar pangalengan, kerinduannya kpd kebun wortel, kentang, sumur, bola2 ubi...kerinduannya kpd kabut, teriknya mentari dan nafas yg terengah engah ketika dia berusaha ikut bekerja seperti Ibu angkatnya, menggarap kebun..
Tinggal bersama keluarga angkat selama beberapa saat, ikut menjadi bagian dan merasakan bagaimana mereka menjalani hari hari keluarga tersebut adalah salah satu program unggulan di SMA Plus Muthahhari. Spiritual Work Camp (SWC) namanya. Rupanya SWC ini sangat membekas di hati sanubari anakku dan teman2nya...Mereka menjalani SWC dua tahun yg lalu, tapi dampak dan kenangan indahnya akan terbawa seumur hidup ..
Dan setelah setahun ini bejibaku sbg mahasiswa baru, berkutat dgn padatnya jadwal kuliah dan praktek, kurang tidur krn deadline tugas yg menumpuk,kunjungan industri dan seabrek tugas lainnya, saya mengira libur panjang akhir semester selama sebulan adalah saat yg paling ditunggu olehnya utk rehat sesaat. Di saat kebanyakan teman2 seangkatan, sejurusannya sdg menikmati liburan, di luar dugaan anakku meminta ijin kepada ku dan ayahnya utk ikut bergabung menjadi relawan dlm kegiatan KKN di daerah Ciwidey Pangalengan bersama teman2 lintas kampus se Jabar. Mereka akan berkhidmat kpd masyarakat di sana selama kurang lebih dua minggu...Antara terenyuh, terharu dan bahagia kami memberinya ijin utk pergi.
Selamat berkhidmat anakku... Selamat melayani.. Selamat memberikan manfaat utk sebanyak mungkin orang..sebarkan senyuman Sang Nabi, sebarkan perkhidmatanmu kepada makhlukNya sbg jalan utk meraih cinta dan keridhoanNya...
Terima kasih utk semua guru2 terutama seluruh Bpk dan Ibu Guru SMU Plus Muthahhari yg sdh ikut memberikan warna dan kepekaan hati kepada anak kami..
*Sumber foto dr IG dan atas seijin pemiliknya😀
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad
Setiap pagi di SMA Plus Muthahhari diadakan apel pagi. Tidak, bukan untuk anak-anak. Apel pagi yang dimaksud adalah berkumpulnya guru-guru membincangkan satu dua hal selama 15-20 menit. Setiap hari. Tahun ajaran ini, kami mulai pagi tadi. Saya kebagian pemateri pertama.
Kebetulan, sehari sebelumnya ramai dibincangkan reshuffle Kabinet. Yang menjadi perhatian khusus praktisi pendidikan adalah pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pak Anies Baswedan digantikan oleh Pak Muhadjir Effendy. Teriring ucap terima kasih atas setiap tetes keringat dan pemikiran Pak Anies, kami ucapkan selamat bertugas pada Pak Muhadjir.
Hanya saja, di malam hari saya membaca link berita yang menurut saya kurang pas. Pak Muhadjir meminta maaf dalam serah terima jabatan di Kantor Kementerian. Katanya, ia datang terlambat. Okay lah, bagian itu teknis. Siapa pun memaklumi. Acara yang padat dari pelantikan ke paripurna ditambah dengan kemacetan Jakarta. Siapa pun mafhum.
Tetapi, ada bagian dari berita itu yang agak ‘mengganggu’ saya. Pak Menteri berkata bahwa ia dulu bercita-cita jadi guru SMP, karena ayahnya seorang Kepala Sekolah. Keinginannya tidak terwujud. Ia berkata, “Saya saat itu tes dapat juara satu tapi tidak masuk. Saya sempat bertanya, gugat pada Tuhan kenapa saya tidak masuk. Ternyata itu adil. Kalau dulu saya jadi guru SMP saya tidak akan bertemu Bapak Ibu semua di sini.” Kenangan bertahun-tahun lalu itu masih disimpan Pak Menteri. Ada rasa ketidakpuasan karena gagal jadi guru SMP. Tetapi sekarang bersyukur karena Tuhan memberikan jalan hidup yang lain. Ia jadi menteri.
Kalimat seperti itu mungkin sering kita dengar. Ia menjadi keliru bila kita maknai, “Untung dulu saya tidak jadi guru SMP. Coba kalau jadi, saya tidak akan jadi menteri.” Pada kalimat itu ada kesan merendahkan guru SMP. Pada kalimat itu bisa ditangkap makna tersirat bahwa posisi menteri lebih tinggi dari guru SMP. Benar menteri adalah atasan, tetapi atasan yang memposisikan dirinya untuk berkhidmat, untuk membantu para guru itu. Mengajar di setiap tempat punya karakteristik tersendiri. Jadi guru besar dan mengajar mahasiswa tidak dapat dikatakan lebih sulit dibanding mengajar murid-murid SMP. Pun sebaliknya. Sekiranya pernyataan Pak Menteri itu dirasakan kurang pas dalam konteks penghormatan pada guru, kita turut menyayangkan.
Syukur atas nikmat tidak selayaknya disandingkan dengan posisi orang lain. Di Sekolah, saya larang anak-anak berkata, “Untung gurunya sakit, jadi kita masih punya waktu mengerjakan tugas.” Ia bersyukur atas penderitaan orang lain. “Untung petugasnya buta huruf, jadi kita tidak ketahuan…” dan lain sebagainya. “Untung tadi saya mengambil jalan ini, kalau jalan itu mungkin saya kena musibah seperti yang lainnya.”
Ibrahim bin Adham seorang sufi. Ia terlihat duduk tepekur di masjid. Terdengar kalimat istighfar darinya. Seseorang mendekat dan bertanya, “Untuk apa istighfarmu? Dan sudah berapa lama?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Aku sudah beristighfar tiga puluh tahun untuk satu alhamdulillah yang aku ucapkan.” Orang yang mendengarnya terperangah, “Bagaimana bisa?” Kata Ibrahim, “Dahulu aku berdagang di pasar. Suatu hari, pasar terbakar. Aku berlari ke pasar dan menemukan semua toko telah hangus, kecuali tokoku. Aku bersyukur dan berkata: Alhamdulillah! Aku lupa, tokoku selamat tapi tidak toko kawan-kawanku. Sejak itu aku berusaha menebusnya. Memohon ampun pada Allah Ta’ala atas satu alhamdulillah yang aku ucapkan.”
Selamat bertugas Pak Menteri. Semoga dikuatkan dalam kesehatan dan kemudahan. Selamat menjaga harapan masa depan negeri ini. Terima kasih untuk perkhidmatan Pak Anies. 20 bulan mungkin bukan waktu yang lama. Dalam periode sesingkat itu, banyak jejak sudah ditorehkan. Rahimallahu walidayka!
25/07/2016
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad
Bila ditelusuri, mungkin Sekolah Muthahhari-lah yang pertama kali menggunakan istilah plus sebelum namanya. SMA Plus Muthahhari yang berdiri tahun 1992 memelopori penggunaan kata itu. Sebagai sekolah alternatif, berbagai media meliput keseharian dan pembelajaran di sekolah. Hampir semua media cetak waktu itu pernah memuat tentang Muthahhari. Di antara yang kerap ditanyakan para wartawan (dan tamu yang berkunjung) adalah: apa yang dimaksud dengan plus itu?
Dr. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri dan Pembina Yayasan menjawab singkat: “Sederhana saja. Kurikulum di sekolah kami adalah kurikulum pemerintah plus kurikulum Yayasan dan kurikulum murid.”
Nah, dua kurikulum itu yang bila dijabarkan menjadi jawaban versi panjang. Kurikulum Yayasan meliputi life skills, IT Literacy, English dan Dirasah Islamiyyah. Kurikulum murid meliputi ragam kegiatan yang mewadahi tumbuh kembang potensi anak-anak yang banyak.
Tulisan ini akan bercerita yang kedua.
Di tingkat SD, kurikulum ini diberikan dalam satu slot pelajaran yang disebut Kelas Minat. Di awal semester diberitahukan pada anak (dan orangtua) apa saja yang bisa dipilih dalam sebuah kelas demo. Lalu disebarkan angket dan kelas disusun berdasarkan angket yang tersedia. Setelah satu semester lebih berlatih, hasilnya adalah sebuah pertunjukan drama musikal kolosal yang dipentaskan di gedung pertunjukan.
Di tingkat SMP, ia diberikan dalam kelas seni dan budaya yang khusus. Prakteknya bisa dalam kegiatan bergitar, biola, teater, tari, angklung, senirupa dan semisalnya. Partisipasi dan antusiasme anak-anak sangat tinggi. Mereka berlatih hingga di luar jam belajar. Hasil akhirnya adalah sebuah kegiatan keliling kota, dan mementaskannya di hadapan khalayak banyak.
Di SMA, kegiatan ini diberikan dalam bentuk yang berbeda. Ada pelajaran intra yang masuk di kurikulum reguler. Kami menyebutnya T-Time. Ia meliputi creative and reading writing, multimedia animasi, fotografi digital, aplikasi smartphone, angklung, public speaking, kaligrafi dan banyak lagi. Setiap semester hasil belajarnya diperlihatkan. Lalu ada program yang mungkin bisa disebut ekstrakurikuler, tetapi dengan ciri khas yang berbeda. Nah, di SMA Plus Muthahhari kegiatan itu diwadahi dalam ragam klub yang tersedia. Kami menyebutnya UKM: Unit Kegiatan Murid. Kurang lebih sama seperti Unit Kegiatan Mahasiswa. Bedanya dengan kegiatan ekstrakurikuler, Klub melatih anggotanya berorganisasi. Ada pengurus, ada program kerja, ada laporan pertanggungjawaban dan semisalnya.
Siang tadi, di Sekolah dilaksanakan kegiatan perkenalan klub itu. Karena ia diberikan dalam bentuk klub, keterikatan anggotanya melintasi batas dan ruang sekolah. Bahkan yang sudah alumni pun masih sering terlihat bergabung dan membimbing adik-adik kelas mereka. Berikut daftar klub yang ada di SMA Plus Muthahhari plus prestasi dan raihan yang pernah mereka capai.
1. CERMIN IDE (CI)
inilah klub para penggemar seni. Didirikan pada saat Pak Andi berkiprah sebagai guru Seni Rupa di sekolah. Kini, Pak Andi menjadi seniman handal yang karya dan produksinya banyak diminati masyarakat. Ragam kegiatan Cermin Ide: Roti Jubah Selai, Fotografi Lubang Jarum, Potret wajah dan sebagainya.
2. MOTAHARI ADVENTURE TEAM (MAT)
Organisasi Pecinta Alam yang mendasarkan falsafah kegiatannya pada: Manusia, Alam, dan Tuhan. Sejak pertama kali dibimbing oleh Pak Rahmat, tercatat sudah melahirkan 14 angkatan. Mereka berkeliling mencintai manusia, alam dan Tuhan. Berziarah, berdoa dan beribadah di sekitaran alam terbuka.
3. MUTHAHHARI RESCUE TEAM (MRT)
Kegiatan Palang Merah Remaja Muthahhari. MRT dilatih oleh Pak Mulyadi. Sebagai unit kesehatan sekolah mereka sigap memberikan pertolongan pertama. Beberapa kali mereka membantu korban kecelakaan bermotor di sekitar Sekolah. Niat mereka untuk berkhidmat pada sesama disalurkan melalui kegiatan ini.
4. ANGKLUNG SIMPHONY
Klub kesenian khas Jawa Barat ini dilatih oleh Bang Erwin. Prestasi yang pernah diraih adalah pentas di hadapan aparatur pemerintah, sejak Bapak Walikota hingga duta besar negara-negara sahabat. Mereka bahkan pernah tampil di Korea, dan Republik Islam Iran bersama Delegasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
5. TEATER TIMBANG
Ini klub yang cukup lama di Muthahhari. Sejarahnya bisa ditarik jauh hingga tahun-tahun awal. Pernah juga berkolaborasi dengan Teater Dal dari Miranda Risang Ayu. Tampil di Festival Istiqlal, mengisi kegiatan keagamaan di televisi swasta. Karya yang sudah diproduksi: Fatimah bukan Susi Monroe, Kartini dan Budi Utomo dan sebagainya.
6. SMUTH UNITED
Setiap angkatan selalu saja ada yang hobi olahraga Sepak Bola. Smuth United memfasilitasinya, meliputi futsal dan sepakbola lapang besar. Mereka berlatih bersama senior-senior mereka. Pernah juga mengikuti beberapa kompetisi. Meraih gelar pemain terbaik dan sebagainya. Pembina tahun ajaran ini adalah Pak Sukardi.
Selain ragam kegiatan yang sifatnya pilihan ada juga organisasi yang diikuti seluruh murid SMA Plus Muthahhari, meliputi
7. PRAMUKA
Kegiatan kepanduan di sekolah sangat aktif. Ambalan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Azzahra ini pernah mengirimkan wakil menjadi delegasi di Jambore Nasional hingga Saka Bahari yang pernah mewakili Indonesia di event Internasional.
8. OSIS dan MPK.
Ini organisasi induk yang menaungi semuanya. Organisasi Siswa Intra Sekolah dan Majelis Permusyawaratan Kelas. Murid-murid belajar menyampaikan dan mengelola aspirasi. Sekolah—misalnya—mensyaratkan aspirasi yang disampaikan harus memenuhi beberapa kriteria: deskriptif bukan evaluatif, kata kerja bukan kata sifat, menyediakan alternatif solusi dan sebagainya.
Dan yang terakhir adalah kegiatan bahasa asing pilihan
9. Abad 21 mensyaratkan kemampuan bahasa dan komunikasi yang baik. Selain communication skill dalam Life Skills, berikut ragam bahasa asing pilihan di SMA Plus Muthahhari.
a. JEPANG, bersama Sensei Ratna
b. JERMAN, bersama Frau Khadijah
c. PERANCIS, bersama Madame Erni, dan
d. PERSIA, bersama Khanum Feli
Arab dan Bahasa Inggris telah masuk dalam kegiatan reguler.
Demikian sekilas ‘plus' yang singkat itu. Ternyata cukup banyak ketika dijabarkan 😀.
Maju terus Sekolah-sekolah Muthahhari!
02/05/2016
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad
"IF YOU CAN TAKE IT, YOU CAN MAKE IT.."
(A Tribute to Rekan-Rekan Guru, Civitas Academica Sekolah-Sekolah Muthahhari dan Guru Kami Dr. Jalaluddin Rakhmat)
Apa yang dapat kuceritakan tentang Ali? Ribuan pena telah menuliskannya. “Yang paling mengetahui tentang Sunnah Rasul, adalah Ali,” demikian Kitab Al-Isti’ab (2:475) yang menjadi rujukan dalam mempelajari para sahabat mengisahkannya. Kalimat itu menyimpulkan semuanya. Ali adalah cerminan teladan suci Rasulullah Saw. Ia dikhususkan dengan begitu banyak keistimewaan. Kebersamaannya bersama Rasulullah Saw tak tertandingi siapa pun.
Ketika ia dibai’at kaum Muslimin untuk memimpin umat, beberapa perang saudara terjadi. Perang Jamal, Perang Shiffin, dan Perang Nahrawan. Semua peperangan yang mendatangkan duka, karena harus bertempur dengan sesama kaum Muslimin sendiri. Menarik bahwa Ali tidak pernah menjadi pihak pertama yang melepaskan pedang dari sarungnya. Ali selalu berusaha untuk mendahulukan persatuan kaum Muslimin, di atas segalanya. Meski untuk itu, sebagaimana pesannya pada putranya Al-Hasan, “…Kalian sudah tahu aku yang paling berhak untuk itu dari selainku. Maka demi Allah, aku akan berdamai demi keselamatan kaum Muslimin, dan tidak ada kezaliman di dalamnya, kecuali khusus atas diriku…” (Nahjul Balaghah, 1:180). Ali bersabar selama tidak ada yang dizalimi, kecuali dirinya sendiri.
Usai perang Nahrawan, barisan pasukan Ali bin Abi Thalib bergerak memasuki Kufah. Wajah umat Islam tak lagi sama. Apa yang dikuatirkannya sejak puluhan tahun lalu itu terjadi sudah. Saat hukum ditegakkan, banyak orang yang punya kepentingan mulai bermain peran. Ali adalah Amirul Mu’minin, pemimpin kaum Muslimin. Ia berhadapan dengan perang saudara yang paling tragis dalam sejarah kaum Muslimin. Demikian p**a yang dialami oleh putra-putra setelahnya. Al-Husain syahid berhadapan dengan ribuan orang yang berikrar dua kalimat syahadah dalam adzannya.
Terlalu banyak yang ingin kutuliskan tentang Amirul Mu’minin as. Kesabarannya, keberaniannya, ketegarannya, perkhidmatannya, peribadatannya, keluhuran ilmu dan hikmahnya…Ah, seperti kata penyair Iqbal terhadap Baginda Nabi Saw, “Duhai…belum pernah insan melahirkan putra semacam dia.” Maka Ali adalah kekasih Rasulullah Saw. Insan pilihan yang dididik dan dibesarkan dalam buaian kenabian.
Menilai tulisan ini, orang akan berkata, aku terlalu memuji Ali. Kultus individu. Adakah batasan yang jelas dari kultus individu itu? Sampai mana kecintaan berhenti dan kultus individu berganti? Perkenankan kusampaikan sesuatu: bila kita tak pernah mengambil resiko, kita takkan pernah menikmati sepenuhnya anugerah yang ada. Pemandangan dari puncak bukit diperoleh setelah resiko mengarunginya. Benar ada kemungkinan jatuh, tapi menanti juga kebahagiaan untuk sampai di puncak. Kekuatan dan potensi manusia tak ada batasnya. Demikian p**a cinta. Ia tak pernah ada batasnya.
Let me tell you a story of Louis Zamperini. Ia adalah atlet olimpiade Amerika yang sedianya akan tampil di Olimpiade Tokyo. Ia difavoritkan meraih medali emas. Tetapi Perang Dunia kedua menghentikan mimpinya. Ia bergabung bersama Angkatan Udara. Konon, dikenal beruntung karena berkali-kali selamat dari gempuran serangan. Ketika ia mendarat darurat dengan kondisi tanpa rem, pesawat bomber yang ditumpanginya dilubangi tak kurang dari 600 peluru. Dan ia tak terluka sedikit pun. Dan pada sebuah ekspedisi penyelamatan, pesawatnya jatuh ke laut. Ia selamat bersama dua rekannya. Mereka terombang-ambing di lautan 45 hari lamanya. Bertahan hanya dari makan ikan dan air hujan. Mereka harus menghadapi serangan hiu dan sempat ditembaki pesawat Jepang p**a. Ketika akhirnya diselamatkan oleh Kapal Laut Jepang, mereka kemudian diperlakukan sebagai tawanan. Louis disiksa, diinterogasi, dan berbagai penderitaan lainnya. Tapi ia tak pernah menyerah. Ia tetap bertahan. Usai perang, ia bahkan kembali ke Jepang, menemui para penyiksanya dan memaafkan mereka. Ia temukan kedamaian dalam memaafkan mereka. Ia tak pernah lagi bisa berlari di Olimpiade, tapi Olimpade Jepang 1998 memberinya kesempatan membawa api olimpiade, dan ia berlari kecil penuh kebahagiaan.
Apa yang membuatnya bertahan selama hampir dua tahun di kamp tahanan? Katanya, ia teringat pesan kakaknya, “Bila kau sanggup menahannya, kau akan melaluinya.”
Saya ingin menambahkan hal lainnya lagi. Louis adalah seorang yang percaya kekuatan tanpa batas itu. Ketika di Olimpiade Jerman, ia bersalaman dengan Hi**er yang memujinya karena kecepatan larinya. Tapi ia berusaha mencuri dan merobekkan gambar n**i dan hampir tertembak karenanya. Ia sanggup bertahan terombang-ambing di lautan tanpa kehilangan kewarasannya. Ia berdiri tegak di hadapan semua siksaan yang dialaminya. Dan ia dapat membalas dendam pada para penyiksanya itu, tidak dengan memperlakukan mereka, tetapi dengan memaafkannya. Seperti kata Ali, “Kalau kau berkuasa atas musuhmu. Jadikan syukurmu pada Allah Ta’ala, maafmu bagi musuhmu.” Living well is the best revenge, kelak George Herbert menggemakannya.
Kekuatan tanpa batas, itulah esensi kemanusiaan yang sesungguhnya. Kau menderita, lalu bersabar dan merasa sabar ada batasnya? Kau dalam penantian, dan merasa penantian ada ujungnya? Kau dalam pencarian, dan merasa pencarian ada akhirnya? Kau belum temukan kekuatan manusia yang sesungguhnya.
Belajarlah dari Ali. Ia setia pada Baginda Saw tanpa sekali pun meragukannya. Ia taat pada Baginda tanpa pernah mempertanyakannya. Ia hadir dalam setiap pertempuran, menyerahkan dirinya untuk melindungi Baginda tanpa sedetik pun ketakutan akan keselamatan dirinya. Yang ia kuatirkan keselamatan Bagindanya.
Mengapa aku kisahkan tentang Ali. Sedang ribuan pena telah menuliskannya. Karena pada mencintai Ali p**alah kecintaan akan diuji batasnya. Padahal ia tak berbatas. Mencintai Ali akan menerima sederet ujian, dan kau akan diuji karenanya. Termasuk, tuduhan kultus individu itu.
Muthahhari, seorang guru dan pengajar di berbagai institusi pendidikan di Iran, seorang pecinta Ali. Ia mencintainya tanpa batas. Dan ia berkhidmat mengajar untuk setiap murid, sejak sekolah dasar hingga mahasiswa. Ia ditembak oleh satu di antara muridnya. Hari gugurnya diangkat menjadi hari guru di negerinya. Ia berkhidmat pada murid-muridnya tanpa batas. Mengapa? Karena ia belajar dari Ali, seorang guru yang mencintai umatnya tanpa batas. Karena Ali belajar dari guru teramat mulia umat manusia, Baginda Nabi Saw.
Alkisah, ketika di masjid ada dua majelis, yang berzikir dan berdiskusi, Baginda Nabi Saw bergabung dengan yang diskusi. Berzikir bagus, tapi mengaji ilmu lebih dihargai. Kata Baginda Saw, “Sesungguhnya aku diutus untuk menjadi seorang guru.” (HR. Ibnu Majah: 229) Ketika Baginda mengutus Ali untuk menjadi guru di Yaman, Baginda Nabi Saw berpesan, “Ya Ali, sekiranya kau beri petunjuk pada seseorang, itu lebih baik dari apa yang disinari matahari.” (Fii Rihab Aimmah Ahl al-Bait 1:267) Atau pesan monumental Baginda Saw untuk para pengajar itu, “Sesungguhnya Allah Ta’ala dan para malaikatNya, seluruh penghuni langit dan bumi, bahkan semut di punggung bebatuan, atau ikan di lautan, mendoakan bagi seorang pengajar kebaikan.” (HR. Turmudzi dalam Shahih Targhib wal Tarhib 1:19) Ali adalah murid Baginda yang mencintai Baginda tanpa batas. Ia berkata, “Man ‘allamani harfan, faqad sayyarani ‘abdan. Siapa yang mengajariku sehuruf saja, ia telah menjadikanku hambanya.” Bayangkan jumlah huruf yang telah diajarkan Baginda Saw seumur hidupnya, tanpa batas! Meski riwayat itu tidak kuat dalam literatur kitab hadis, tetapi ‘hamba’ yang dimaksud adalah ketaatan pada guru kebaikan. Dan taat pada Baginda Nabi Saw tak mengenal batas.
Hari ini, hari Pendidikan Nasional. Di Yayasan Muthahhari, setiap Hardiknas, tema kami selalu “Mari berterima kasih pada Ibu dan Bapak guru.” Anak-anak SD akan membagikan permen atau souvenir dengan ajakan ungkap terima kasih pada Ibu dan Bapak guru kita. Siapa yang mengajari kita membaca dan menulis? Masih ingatkah kita nama guru-guru SD dan SMP kita? Tahukah kita kondisi terakhir mereka? Di Sekolah-sekolah Muthahhari, kami tetap ajarkan kebaikan tanpa batas itu. Meski belakangan banyak postingan tak bertanggungjawab yang menyudutkan kami. Mereka bisa datang ke sekolah kapan saja, konfirmasi dan tabayun. Tapi belajar dari Ali, kami wajib mengedepankan persatuan, persaudaraan dan kebersamaan. Kami tak boleh membalas fitnah dengan makian. Kami tak bisa membalas cacian dengan gerutuan. Kami (belajar) bersabar tak mengenal batas.
Kami akan belajar dari Louis Zamperini, “If you can take it, you can make it.” Kalau kau bisa bertahan, kau akan melaluinya. Apa pun yang ujian yang menghampiri kami, kesabaran akan membuahkan hasilnya. Hidup bahagia dan berkarya adalah jawaban sesungguhnya.
Kami belajar dari Muthahhari, berkhidmat dengan mengajar siapa saja, bahkan mereka yang mungkin tak menyukainya. Maka jadilah guru-guru di Sekolah-sekolah Muthahhari wajib untuk berkhidmat pada anak-anak dengan kesabaran tanpa batas. Memperlakukan mereka istimewa, berharap anugerah dan doa para malaikat hingga ikan-ikan di lautan itu. Kami sadar, sudah terlalu banyak kekurangan kami. “Hormati anak-anakmu, dan perbaiki akhlak mereka. Maka dosamu akan diampuni.” Sabda Baginda Nabi Saw dalam Al-Bihar 104:95 hadis nomor 44. Kami yakin berkhidmat sebaik-baiknya pada anak-anak didik kami adalah sebaik-baiknya jalan untuk menyambut ketentuan Tuhan atas kami.
Dan tentu saja, kami belajar dari Ali, murid kekasih hati Rasulillah Saw. Ia yang berkata, “Sebagai rasa hormat, bangkitlah dari tempat dudukmu dan berdirilah, bila datang guru atau ayahmu, meski kau seorang penguasa.” (Ghurar al-Hikam 136).
Lalu kau akan katakan, berdiri untuk menghormati gurumu adalah kultus individu? Kami tahu, mencintai guru semisal Ali dan Baginda Nabi Saw akan mendatangkan ujian. Tapi, hingga kita benar-benar memasrahkan diri pada kecintaan itu, kita takkan pernah dapat benar-benar merasakan keindahannya. Meski jalan menujunya terjal dan berliku, tajam dan berbatu. Kata Ust. Jalal, guru kami semua di Yayasan Muthahhari, risk dalam Bahasa Inggris dekat dengan rizq dalam Bahasa Arab. Maka bagi kami, setiap risk adalah rizq.
It is worth riding for. Pemandangan di puncak bukit menanti para pendaki yang sanggup menahan sakit.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari berterima kasih pada Ibu dan Bapak guru kita. Mari doakan mereka. Semoga guru di seantero negeri dikaruniai kesabaran (yang tanpa batas) itu. Mari angkat topi kita, tinggi-tinggi untuk mereka. Semoga keberkahan guru-guru kehidupan semisal Muthahhari, semoga sinar kecintaan guru umat laksana Ali dan Baginda Nabi Saw senantiasa menyinari guru-guru kita semuanya. Al-Fatihah ma’as shalawat.