02/05/2016
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad
"IF YOU CAN TAKE IT, YOU CAN MAKE IT.."
(A Tribute to Rekan-Rekan Guru, Civitas Academica Sekolah-Sekolah Muthahhari dan Guru Kami Dr. Jalaluddin Rakhmat)
Apa yang dapat kuceritakan tentang Ali? Ribuan pena telah menuliskannya. “Yang paling mengetahui tentang Sunnah Rasul, adalah Ali,” demikian Kitab Al-Isti’ab (2:475) yang menjadi rujukan dalam mempelajari para sahabat mengisahkannya. Kalimat itu menyimpulkan semuanya. Ali adalah cerminan teladan suci Rasulullah Saw. Ia dikhususkan dengan begitu banyak keistimewaan. Kebersamaannya bersama Rasulullah Saw tak tertandingi siapa pun.
Ketika ia dibai’at kaum Muslimin untuk memimpin umat, beberapa perang saudara terjadi. Perang Jamal, Perang Shiffin, dan Perang Nahrawan. Semua peperangan yang mendatangkan duka, karena harus bertempur dengan sesama kaum Muslimin sendiri. Menarik bahwa Ali tidak pernah menjadi pihak pertama yang melepaskan pedang dari sarungnya. Ali selalu berusaha untuk mendahulukan persatuan kaum Muslimin, di atas segalanya. Meski untuk itu, sebagaimana pesannya pada putranya Al-Hasan, “…Kalian sudah tahu aku yang paling berhak untuk itu dari selainku. Maka demi Allah, aku akan berdamai demi keselamatan kaum Muslimin, dan tidak ada kezaliman di dalamnya, kecuali khusus atas diriku…” (Nahjul Balaghah, 1:180). Ali bersabar selama tidak ada yang dizalimi, kecuali dirinya sendiri.
Usai perang Nahrawan, barisan pasukan Ali bin Abi Thalib bergerak memasuki Kufah. Wajah umat Islam tak lagi sama. Apa yang dikuatirkannya sejak puluhan tahun lalu itu terjadi sudah. Saat hukum ditegakkan, banyak orang yang punya kepentingan mulai bermain peran. Ali adalah Amirul Mu’minin, pemimpin kaum Muslimin. Ia berhadapan dengan perang saudara yang paling tragis dalam sejarah kaum Muslimin. Demikian p**a yang dialami oleh putra-putra setelahnya. Al-Husain syahid berhadapan dengan ribuan orang yang berikrar dua kalimat syahadah dalam adzannya.
Terlalu banyak yang ingin kutuliskan tentang Amirul Mu’minin as. Kesabarannya, keberaniannya, ketegarannya, perkhidmatannya, peribadatannya, keluhuran ilmu dan hikmahnya…Ah, seperti kata penyair Iqbal terhadap Baginda Nabi Saw, “Duhai…belum pernah insan melahirkan putra semacam dia.” Maka Ali adalah kekasih Rasulullah Saw. Insan pilihan yang dididik dan dibesarkan dalam buaian kenabian.
Menilai tulisan ini, orang akan berkata, aku terlalu memuji Ali. Kultus individu. Adakah batasan yang jelas dari kultus individu itu? Sampai mana kecintaan berhenti dan kultus individu berganti? Perkenankan kusampaikan sesuatu: bila kita tak pernah mengambil resiko, kita takkan pernah menikmati sepenuhnya anugerah yang ada. Pemandangan dari puncak bukit diperoleh setelah resiko mengarunginya. Benar ada kemungkinan jatuh, tapi menanti juga kebahagiaan untuk sampai di puncak. Kekuatan dan potensi manusia tak ada batasnya. Demikian p**a cinta. Ia tak pernah ada batasnya.
Let me tell you a story of Louis Zamperini. Ia adalah atlet olimpiade Amerika yang sedianya akan tampil di Olimpiade Tokyo. Ia difavoritkan meraih medali emas. Tetapi Perang Dunia kedua menghentikan mimpinya. Ia bergabung bersama Angkatan Udara. Konon, dikenal beruntung karena berkali-kali selamat dari gempuran serangan. Ketika ia mendarat darurat dengan kondisi tanpa rem, pesawat bomber yang ditumpanginya dilubangi tak kurang dari 600 peluru. Dan ia tak terluka sedikit pun. Dan pada sebuah ekspedisi penyelamatan, pesawatnya jatuh ke laut. Ia selamat bersama dua rekannya. Mereka terombang-ambing di lautan 45 hari lamanya. Bertahan hanya dari makan ikan dan air hujan. Mereka harus menghadapi serangan hiu dan sempat ditembaki pesawat Jepang p**a. Ketika akhirnya diselamatkan oleh Kapal Laut Jepang, mereka kemudian diperlakukan sebagai tawanan. Louis disiksa, diinterogasi, dan berbagai penderitaan lainnya. Tapi ia tak pernah menyerah. Ia tetap bertahan. Usai perang, ia bahkan kembali ke Jepang, menemui para penyiksanya dan memaafkan mereka. Ia temukan kedamaian dalam memaafkan mereka. Ia tak pernah lagi bisa berlari di Olimpiade, tapi Olimpade Jepang 1998 memberinya kesempatan membawa api olimpiade, dan ia berlari kecil penuh kebahagiaan.
Apa yang membuatnya bertahan selama hampir dua tahun di kamp tahanan? Katanya, ia teringat pesan kakaknya, “Bila kau sanggup menahannya, kau akan melaluinya.”
Saya ingin menambahkan hal lainnya lagi. Louis adalah seorang yang percaya kekuatan tanpa batas itu. Ketika di Olimpiade Jerman, ia bersalaman dengan Hi**er yang memujinya karena kecepatan larinya. Tapi ia berusaha mencuri dan merobekkan gambar n**i dan hampir tertembak karenanya. Ia sanggup bertahan terombang-ambing di lautan tanpa kehilangan kewarasannya. Ia berdiri tegak di hadapan semua siksaan yang dialaminya. Dan ia dapat membalas dendam pada para penyiksanya itu, tidak dengan memperlakukan mereka, tetapi dengan memaafkannya. Seperti kata Ali, “Kalau kau berkuasa atas musuhmu. Jadikan syukurmu pada Allah Ta’ala, maafmu bagi musuhmu.” Living well is the best revenge, kelak George Herbert menggemakannya.
Kekuatan tanpa batas, itulah esensi kemanusiaan yang sesungguhnya. Kau menderita, lalu bersabar dan merasa sabar ada batasnya? Kau dalam penantian, dan merasa penantian ada ujungnya? Kau dalam pencarian, dan merasa pencarian ada akhirnya? Kau belum temukan kekuatan manusia yang sesungguhnya.
Belajarlah dari Ali. Ia setia pada Baginda Saw tanpa sekali pun meragukannya. Ia taat pada Baginda tanpa pernah mempertanyakannya. Ia hadir dalam setiap pertempuran, menyerahkan dirinya untuk melindungi Baginda tanpa sedetik pun ketakutan akan keselamatan dirinya. Yang ia kuatirkan keselamatan Bagindanya.
Mengapa aku kisahkan tentang Ali. Sedang ribuan pena telah menuliskannya. Karena pada mencintai Ali p**alah kecintaan akan diuji batasnya. Padahal ia tak berbatas. Mencintai Ali akan menerima sederet ujian, dan kau akan diuji karenanya. Termasuk, tuduhan kultus individu itu.
Muthahhari, seorang guru dan pengajar di berbagai institusi pendidikan di Iran, seorang pecinta Ali. Ia mencintainya tanpa batas. Dan ia berkhidmat mengajar untuk setiap murid, sejak sekolah dasar hingga mahasiswa. Ia ditembak oleh satu di antara muridnya. Hari gugurnya diangkat menjadi hari guru di negerinya. Ia berkhidmat pada murid-muridnya tanpa batas. Mengapa? Karena ia belajar dari Ali, seorang guru yang mencintai umatnya tanpa batas. Karena Ali belajar dari guru teramat mulia umat manusia, Baginda Nabi Saw.
Alkisah, ketika di masjid ada dua majelis, yang berzikir dan berdiskusi, Baginda Nabi Saw bergabung dengan yang diskusi. Berzikir bagus, tapi mengaji ilmu lebih dihargai. Kata Baginda Saw, “Sesungguhnya aku diutus untuk menjadi seorang guru.” (HR. Ibnu Majah: 229) Ketika Baginda mengutus Ali untuk menjadi guru di Yaman, Baginda Nabi Saw berpesan, “Ya Ali, sekiranya kau beri petunjuk pada seseorang, itu lebih baik dari apa yang disinari matahari.” (Fii Rihab Aimmah Ahl al-Bait 1:267) Atau pesan monumental Baginda Saw untuk para pengajar itu, “Sesungguhnya Allah Ta’ala dan para malaikatNya, seluruh penghuni langit dan bumi, bahkan semut di punggung bebatuan, atau ikan di lautan, mendoakan bagi seorang pengajar kebaikan.” (HR. Turmudzi dalam Shahih Targhib wal Tarhib 1:19) Ali adalah murid Baginda yang mencintai Baginda tanpa batas. Ia berkata, “Man ‘allamani harfan, faqad sayyarani ‘abdan. Siapa yang mengajariku sehuruf saja, ia telah menjadikanku hambanya.” Bayangkan jumlah huruf yang telah diajarkan Baginda Saw seumur hidupnya, tanpa batas! Meski riwayat itu tidak kuat dalam literatur kitab hadis, tetapi ‘hamba’ yang dimaksud adalah ketaatan pada guru kebaikan. Dan taat pada Baginda Nabi Saw tak mengenal batas.
Hari ini, hari Pendidikan Nasional. Di Yayasan Muthahhari, setiap Hardiknas, tema kami selalu “Mari berterima kasih pada Ibu dan Bapak guru.” Anak-anak SD akan membagikan permen atau souvenir dengan ajakan ungkap terima kasih pada Ibu dan Bapak guru kita. Siapa yang mengajari kita membaca dan menulis? Masih ingatkah kita nama guru-guru SD dan SMP kita? Tahukah kita kondisi terakhir mereka? Di Sekolah-sekolah Muthahhari, kami tetap ajarkan kebaikan tanpa batas itu. Meski belakangan banyak postingan tak bertanggungjawab yang menyudutkan kami. Mereka bisa datang ke sekolah kapan saja, konfirmasi dan tabayun. Tapi belajar dari Ali, kami wajib mengedepankan persatuan, persaudaraan dan kebersamaan. Kami tak boleh membalas fitnah dengan makian. Kami tak bisa membalas cacian dengan gerutuan. Kami (belajar) bersabar tak mengenal batas.
Kami akan belajar dari Louis Zamperini, “If you can take it, you can make it.” Kalau kau bisa bertahan, kau akan melaluinya. Apa pun yang ujian yang menghampiri kami, kesabaran akan membuahkan hasilnya. Hidup bahagia dan berkarya adalah jawaban sesungguhnya.
Kami belajar dari Muthahhari, berkhidmat dengan mengajar siapa saja, bahkan mereka yang mungkin tak menyukainya. Maka jadilah guru-guru di Sekolah-sekolah Muthahhari wajib untuk berkhidmat pada anak-anak dengan kesabaran tanpa batas. Memperlakukan mereka istimewa, berharap anugerah dan doa para malaikat hingga ikan-ikan di lautan itu. Kami sadar, sudah terlalu banyak kekurangan kami. “Hormati anak-anakmu, dan perbaiki akhlak mereka. Maka dosamu akan diampuni.” Sabda Baginda Nabi Saw dalam Al-Bihar 104:95 hadis nomor 44. Kami yakin berkhidmat sebaik-baiknya pada anak-anak didik kami adalah sebaik-baiknya jalan untuk menyambut ketentuan Tuhan atas kami.
Dan tentu saja, kami belajar dari Ali, murid kekasih hati Rasulillah Saw. Ia yang berkata, “Sebagai rasa hormat, bangkitlah dari tempat dudukmu dan berdirilah, bila datang guru atau ayahmu, meski kau seorang penguasa.” (Ghurar al-Hikam 136).
Lalu kau akan katakan, berdiri untuk menghormati gurumu adalah kultus individu? Kami tahu, mencintai guru semisal Ali dan Baginda Nabi Saw akan mendatangkan ujian. Tapi, hingga kita benar-benar memasrahkan diri pada kecintaan itu, kita takkan pernah dapat benar-benar merasakan keindahannya. Meski jalan menujunya terjal dan berliku, tajam dan berbatu. Kata Ust. Jalal, guru kami semua di Yayasan Muthahhari, risk dalam Bahasa Inggris dekat dengan rizq dalam Bahasa Arab. Maka bagi kami, setiap risk adalah rizq.
It is worth riding for. Pemandangan di puncak bukit menanti para pendaki yang sanggup menahan sakit.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari berterima kasih pada Ibu dan Bapak guru kita. Mari doakan mereka. Semoga guru di seantero negeri dikaruniai kesabaran (yang tanpa batas) itu. Mari angkat topi kita, tinggi-tinggi untuk mereka. Semoga keberkahan guru-guru kehidupan semisal Muthahhari, semoga sinar kecintaan guru umat laksana Ali dan Baginda Nabi Saw senantiasa menyinari guru-guru kita semuanya. Al-Fatihah ma’as shalawat.