19/11/2025
*Transformasi SDM di Lingkungan Daarul Qur’an*
Ahmad Jamil, Ph.D.
(Pimpinan Daarul Qur’an)
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ada satu kisah nyata yang selalu menggugah hati tentang makna perjuangan dan transformasi sumber daya manusia di lingkungan Daarul Qur’an. Kisah ini bukan tentang teori manajemen, tetapi tentang tekad, kesungguhan, dan keberkahan niat. Ia bernama *Achmad Fauzi*, sosok yang membuktikan bahwa perubahan besar selalu bermula dari ketulusan kecil.
Pada tahun 2008, ia menapaki jalan kehidupannya di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, Ketapang, Cipondoh, Kota Tangerang. Bukan sebagai guru atau pengajar, tetapi sebagai petugas kebersihan (OB). Namun dari sanalah titik awal perubahan dimulai. Ia tidak datang dengan ambisi, melainkan dengan semangat belajar, rasa tanggung jawab, dan sikap tawadhu yang tulus. Di sela tugasnya, ia membantu para guru, ikut mengasuh santri, bahkan sering berinisiatif mendukung kegiatan di luar jam kerja.
Ketika Daarul Qur’an mengalami fase ekspansi besar—dengan perpindahan kegiatan belajar ke Bandung (Geger Kalong, D**o Giri, hingga Pasanggrahan Ujung Berung), Fauzi tetap setia dan tangguh. Ia tidak pernah mengeluh, justru tumbuh bersama perubahan lembaga. Dari sinilah terbentuk karakter SDM yang menjadi kunci dalam setiap transformasi: loyalitas, fleksibilitas, dedikasi dan semangat belajar berkelanjutan (*lifelong learning*).
Seiring waktu, ia melangkah lebih jauh. Menemukan jodohnya di saat ia aktif menjadi pendidik di Daarul Qur’an Bandung, melanjutkan kuliah S1 di STIT At-Taqwa, kemudian menempuh magister dan doktoral di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Hari ini, Kamis, 6 November 2025, ia menuntaskan ujian terbuka promosi doktor dengan disertasi berjudul *“Implementasi Pembelajaran PAI Berbasis Proyek dalam Mengembangkan Karakter Mandiri dan Keterampilan Berpikir Kritis.”* Dulu seorang OB, kini seorang kepala sekolah bergelar doktor.
Transformasi ini adalah bukti nyata bagaimana visi SDM Daarul Qur’an sejalan dengan nilai-nilai Islam dan manajemen modern. Imam al-Ghazālī pernah menulis,
العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُونٌ، وَالعَمَلُ بِلَا عِلْمٍ لَا يَكُونُ”
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak akan berarti.”(*Iḥyāʾ ʿUlūm ad-Dīn*, Juz 1, hlm. 64)
Fauzi membuktikan keseimbangan itu; ilmu (terus belajar dan berproses), amal (khidmat dan karya nyata), dan akhlak (ketawadhuan dan mujahadah). Sejalan dengan pandangan pakar manajemen modern seperti Peter Drucker yang menegaskan bahwa “the best way to predict the future is to create it,”—cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya sendiri.
Dalam perspektif pendidikan Islam, apa yang dilakukan Fauzi menggambarkan konsep *tazkiyah* (penyucian diri) dan *tarbiyah* (pengembangan potensi manusia). Ia menempuh *marhalah* demi *marhalah* menuju insan kamil—manusia yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak dan bermanfaat bagi lembaga dan masyarakat.
Kini, ketika Daarul Qur’an terus bertumbuh, kisah Fauzi menjadi cermin bagi seluruh keluarga besar DaQu: bahwa setiap insan, apapun titik awalnya, berhak untuk tumbuh, berkembang, dan mengabdi. Transformasi SDM bukan hanya tentang sistem, tetapi tentang manusia yang menemukan makna dan panggilan hidupnya.
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ، وَاجْعَلْهُ نَافِعًا لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَفِي كُلِّ مُجْتَهِدٍ رَافِعٍ لِرَايَةِ الْقُرْآنِ.
“Ya Allah, berkahilah ilmunya dan amalnya, jadikan ia manfaat bagi Islam dan kaum Muslimin, serta teguhkan setiap insan yang berjuang meninggikan panji Al-Qur’an.”
Selamat dan sukses untuk Ustadz Dr. Achmad Fauzi, S.Pd.I., M.Pd. Zie D'Cerchi
Semoga ilmu dan pengabdiannya menjadi amal jariyah yang tak terputus.