22/08/2026
MEMBANGUN NEGERI DENGAN IMAN DAN TAKWA KEPADA ALLAH
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada tanggal 17 Agustus 2026, telah dilaksanakan upacara peringatan kemerdekaan dengan penuh khidmat.
Adapun pada sesi amanat Pembina Upacara, Bapak Zamzam A. J. Tanuwijaya menyampaikan pidato yang menggugah kesadaran tentang hakikat kemerdekaan yang sebenarnya. Bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada sejarah perjuangan fisik, tetapi harus diteruskan melalui perjuangan pada tiap individu untuk menemukan keutamaan dirinya masing-masing, berkarya, menegakkan kebenaran, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, negara dan umat.
Berikut kutipan amanat beliau:
“Kemerdekaan yang sebenarnya, kemerdekaan yang hakiki adalah kemerdekaan yang dibangun oleh para individu masing-masing. Dimana karya perbuatan yang benar-benar hebat dan menginspirasi, bisa diberikan oleh mereka yang bekerja dalam kebebasan yang sebenarnya.
Peran sekolah adalah untuk membebaskan, bukan untuk membebaskan lalu masuk ke dalam hawa nafsu dan pemikiran yang sempit, tetapi dengan mensyukuri kita sebagai manusia. Dengan cara belajar dengan sebaik-baiknya dan menemukan keutamaan diri.
Negeri ini baru merdeka secara perjuangan fisik tahun 1945, tapi kita melanjutkan perjuangan sampai hari ini. Berjuang untuk memperjuangkan kebenaran yang terbaik
bagi diri masing-masing. Buat masyarakat, buat negara ini, buat negeri ini, buat umat ini. Karena kontribusi yang terbaik adalah saat kalian bekerja sesuai dengan apa yang Allah mudahkan ke diri masing-masing.
Sebagaimana tadi dibacakan dalam undang-undang, bahwa negeri kita
berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, itu sudah perumusan dari para pejuang kita, para ulama kita. Ketuhanan yang Maha Esa, Atas berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa, negeri ini diberikan kemerdekaan.
Namun untuk membangun negeri ini
tidak bisa tanpa iman dan takwa kepada Allah. Kemakmuran negeri juga tidak bisa dicapai tanpa iman dan takwa kepada Allah Ta’ala.
Seperti yang dikatakan pada Surat Al-A’raf Ayat 96
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tapi kalau tidak beriman dan bertakwa kepada Allah Ta'ala maka yang muncul adalah bencana, musibah, dan persoalan.
Mari kita bangun negeri ini dengan iman dan takwa kepada Allah.”
Sebuah amanat yang menempatkan kemerdekaan bukan sekadar sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai tanggung jawab moral dan spiritual yang harus terus dihidupkan oleh setiap generasi.
Sebab, kemerdekaan sejatinya menemukan maknanya ketika manusia mampu menggunakan kebebasannya untuk belajar, bertumbuh, menemukan kebenaran dan keutamaan diri masing-masing, berkarya sesuai dengan kemampuan yang Allah mudahkan, serta menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.