Charity for Education Berbagai penelitian tentang “kemiskinan” telah dilaksanakan oleh berbagai lembaga resmi pemerintah maupun non-pemerintah.
This social movement aims to make children and their families
located in an area that is not covered by adequate transportation or children and their familieswho did not receive the attention of the government to be able to independently carry out educational activities. Ce mouvement social a pour but de sensibiliser les enfants et leurs familles situé dans une zone qui n'est pas couverte par les
transports ou les enfants et leurs familles qui n'a pas reçu l'attention du gouvernement pour être en mesure d'effectuer de manière indépendante des activités éducatives. Gerakan sosial ini bertujuan agar anak beserta keluarganya yang terletak di daerah yang tak terjangkau oleh moda transportasi yang memadai atau anak beserta keluarganya yang luput dari perhatian pemerintah agar mampu secara mandiri melaksanakan kegiatan pendidikannya. Kegiatan tersebut telah menghasilkan berbagai analisa, metode dan solusi yang dilatarbelakangi oleh berbagai acuan misalnya krisis yang melanda Indonesia, bencana alam dan lain-lain. Pemerintah telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin sebelum krisis dari 54,2 juta pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta pada tahun 1998 (sumber BPS 1998). Keberhasilan ini juga diikuti oleh meningkatnya pendapatan masyarakat, termasuk masyarakat pedesaan. Adanya krisis menyebabkan jumlah penduduk miskin meningkat 23,8% pada akhir tahun 1998 (sumber SIAGA-Sustainable Indonesian growth Alliance, Bappenas, UNSFIR-UNDP dan FEUI). BPS menginformasikan bahwa penduduk miskin pada akhir tahun 1998 telah mencapai 49,5 juta jiwa dimana 31,9 juta berada di pedesaan dan 17,6 juta jiwa berada di perkotaan. Kebijakan dan upaya telah banyak dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi laju pertambahan penduduk miskin, misalnya pemerintah menerapkan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang merupakan merupakan hasil semiloka “Social Safety Net” yang dilaksanakan oleh LIPI dan UNICEF pada tanggal 24-25 Agustus 1998. Data BPS pada Agustus 1999 menginformasikan bahwa penduduk miskin di Indonesia sebesar 37,5 juta jiwa (18,2 % dari jumlah penduduk) dimana 25,1 juta jiwa berada dipedesaan dan 12,4 juta jiwa berada diperkotaan. Penurunan ini dikarenakan membaiknya kondisi perekonomian, turunnya harga barang dan jasa, serta meningkatnya pendapatan masyarakat sebagai hasil transfer pendapatan dari program Jaring Pengaman Sosial. Tulisan ini mengacu pada data yang ada di salah satu provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak sebagai gambaran kondisi kemiskinan dilingkungan kita serta mengacu pada indikator kemiskinan yang dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Nasional (BKBN). Jumlah keluarga Pra KS dan KS I mencapai 28,3% dari total keluarga yang ada. Secara keseluruhan keluarga miskin yang berada di pedesaan lebih banyak dibandingkan yang ada diperkotaan. Karakteristik yang melekat pada keluarga miskin, salah satunya adalah pendidikan kepala rumah tangga yang rendah. 2,01% dari rumah tangga miskin di pedesaan dipimpin oleh kepala rumah tangga yang tidak tamat SD dan 24,32% berpendidikan SD. Kecenderungan yang sama juga dijumpai pada rumah tangga miskin di perkotaan, yaitu 57,02% yang tidak tamat SD dan 31,38% hanya berpendidikan SD (BPS 1994). Penghasilan utama (62 %) dari rumah tangga miskin bersumber dari sektor pertanian, kemudian dari perdagangan (10,4 %), industri (7,4 %), jasa (6,5 %) dan sisanya dari sektor bangunan, pengangkutan dan lainnya. Lebih dari 74 persen rumah tangga miskin diperkotaan penghasilan utamanya berasal dari luar sektor pertanian, hal ini dikarenakan lebih beragamnya sumber penghasilan diperkotaan. Dalam laporan Bank Dunia, Qubria (1995) mengemukakan beberapa ciri-ciri kemiskinan, yaitu :
(1) banyak ditemukan di pedesaan dari pada di perkotaan,
(2) kemiskinan berkorelasi positif dengan jumlah pekerja dalam satu keluarga,
(3) kemiskinan ditandai dengan kurangnya kepemilikan asset keluarga,
(4) pertanian sebagai sumber penghasil utama,
(5) berkaitan dengan masalah sosial. Ciri-ciri tersebut menunjukan bahwa penanggulangan kemiskinan di pedesaan akan lebih efektif diarahkan pada peningkatan produktifitas dan diversifikasi kegiatan rumah tangga petani melalui peningkatan ketrampilan petani, perluasan akses layanan permodalan dan jaminan layanan pemasaran. Tanpa mengesampingkan usaha-usaha yang telah banyak dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga sosial lainnya. Tanpa mengesampingkan usaha-usaha para ahli dan peneliti dalam upaya mencari fakta dan metode penyelesaian masalah kemiskinan dan pendidikan. Namun kita tidak bisa menutup mata dan kita menyaksikan sendiri bahwa masih banyak anak-anak di padesaan yang masih mengalami persoalaan dalam mengakses pendidikan. Tanpa mengesampingkan teori-teori dari para ahli perihal kemiskinan dan pendidikan. Kami bekerja dengan pemikiran dan cara yang sangat sederhana yakni apabila ada anak kesulitan dalam mengakses pendidikan karena masalah ekonomi dan sosial dam patut untuk dibantu maka akan kami usahakan untuk membantu. Kami tentu saja melihat dan mendengar pro-kontra antar pemerintah dan para ahli serta masyarakat perihal persoalan kemiskinan sampai dengan pelaksanaan bantuan di negeri ini. Kami tidak menghendaki masuk ke ranah persoalan tersebut. Kami berkerja dengan landasan kepercayaan dari masyarakat, sahabat, relasi dan para alumni sekolah dan perguruan tinggi tempat dimana kami bersama. Pengalaman dan pengetahuan pemerintah, lembaga-lembaga sosial lainnya serta persoalan yang ada di negeri ini, tentu akan menjadi pelajaran bagi kami dan digunakan sebagai landasan firasat dan instinc ilmiah praktis. Sehingga kami dapat menghindari polemik yang pernah dialami oleh lembaga-lembaga tersebut diatas. Kami menyadari program ini membutuhkan usaha yang besar. Namun rasa ikhlas yang menghubungkan kita dengan amaliah dari yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang merupakan energi pendukung yang sangat kuat untuk bekerja dan berusaha. Cakupan program ini sangatlah sederhana, yakni anak-anak disekitar lingkungan dimana program dilaksanakan dalam hal ini di kampung-kampung sekitar daerah Limbangan Garut.
13/07/2019
09/01/2018
09/11/2017
19/05/2017
16/10/2016
30/09/2016
Persiapan kunjungan utk siswa siswi di pelosok Pangeureunan Garut dan nengok penghuni baru sekaligus kunjungan ke TKP banjir Garut disertai tim HMJE. Semoga berkah....Aamiien.