07/10/2015
WISDOM DALAM MERENCANAKAN STUDI
Merencanakan studi adalah merencanakan masa depan yang panjang bagi siswa, merentang hingga akhir hayat. Urusannya lebih mendalam daripada sekedar bagaimana meraih kekayaan, karir, atau status sosial, tetapi pada the pursuit of happiness, menggapai hidup yang bahagia. Ada pleasant life (hidup yang menyenangkan), ada good life (hidup yang baik), tetapi meaningful life (hidup penuh makna) adalah yang tertinggi. Oleh karena itu, perencanaan studi membutuhkan wisdom.
Karl Pillemer, Ph.D., dari Cornell University melakukan survey kepada lebih dari 1000 orang lanjut usia di Amerika Serikat (di atas 70 tahun) dan menanyakan nasihat-nasihat apa yang ingin mereka berikan kepada orang-orang muda berdasarkan pengalaman hidup yang sudah mereka jalani. Hasilnya dituangkan dalam buku “Lessons for Living: Tried and True Advice form the Wisest Americans”. Ada banyak nasihat dan wisdom tentunya di sana, namun dalam hal karir, nasihat pertama yang muncul adalah “do not stay in the job you dislike” (jangan berlama-lama dalam pekerjaan yang engkau tidak sukai).
Setiap orang diciptakan Tuhan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dengan bakat dan passionnya sendiri-sendiri. Dengan perspektif wisdom kita membacanya sebagai “Tuhan menciptakan setiap orang dengan misi hidupnya masing-masing sesuai bakat yang dianugerahkan”. Tugas kita adalah membantu siswa menemukan bakat dan passionnya, mengasah potensinya, dan mengantarkannya berprestasi dalam hidup sesuai dengan kelebihan yang dimilikinya.
Albert Einstein menyatakan, “Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” (Setiap orang adalah jenius. Tapi jika Anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, seumur hidupnya ia akan merasa bodoh).
Banyak siswa yang memilih jurusan dan karir semata-mata karena mengikuti teman (apa yang bergengsi menurut teman-temannya), didominasi pertimbangan prospek finansial, karena desakan orang tua, atau malah memilih begitu saja secara buta tanpa disupport informasi yang cukup. Akibatnya bisa panjang, mulai dari tidak menikmati kuliah, pindah jurusan/kampus, drop out, hingga menghabiskan waktu puluhan tahun berikutnya di dunia kerja tanpa merasakan kenikmatan kerja, semata-mata menjalankan tugas.
Merencanakan studi adalah merencanakan hidup, dunia dan akhirat, oleh karena itu, perencanaan studi sangat memerlukan wisdom.