14/12/2017
Pada hari Selasa, 12 Desember 2017 Departemen Ekstrakulikuler Seni Sekolah Dasar Sintesa menyelenggarakan Gebyar Pentas Seni Tahunan. Siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 memamerkan bakat mereka kepada pemirsa yang memikat mulai dari perpaduan instrumen musik dan vokal, tari-tarian, dan lain-lain. Terima kasih kepada semua staf yang terlibat untuk membuat acara ini dan juga kepada orang tua yang mendukung anak-anak mereka dengan persiapan mereka.
14/12/2017
Untuk lebih jelas mengenai Sekolah Dasar Sintesa, anda bisa mengunjungi website kami
mysite
BERANDA
14/12/2017
Kegiatan Field trip kali ini siswa kelas 6 Sekolah Dasar Sintesa mengunjungi Museum Geologi di Bandung. Kegiatan Field trip berlangsung pada Senin 11 Desember 2017 lalu.
Tempat tujuan field trip ini adalah Museum Geologi Bandung. Museum yang berisikan bebatuan, fosil, dan mineral ini dapat mengenalkan siswa terhadap nilai-nilai sejarah kehidupan dan juga tentang pelestarian alam.
Sekolah sebagai penyelenggara kegiatan belajar mengajar wajib untuk mengakomodir kebutuhan setiap siswa dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan, baik dalam proses belajar mengajar di kelas maupun proses belajar mengajar yang dilakukan di luar kelas.
Kegiatan belajar di luar kelas sering dikenal dengan istilah Field trip. Kegiatan Field trip merupakan sebuah kegiatan pembelajaran di luar kelas yang bertujuan menfasilitasi siswa untuk menyerap ilmu pengetahuan dalam kondisi yang sesungguhnya. Melalui Field trip diharapkan dapat menumbuhkembangkan kreativitas siswa dalam berpikir.
14/12/2017
Kenapa Anak Malas Belajar?
Akhir2 ini sering terdengar keluhan,”Kok anak saya malas?”
Pertama-tama, mari kita bahas apa yang dimaksud ‘malas’ pada tulisan ini. Ada berbagai bentuk kemalasan. Malas bantuin beresin mainan,malas makan, malas bantuin ortu kalo diminta, malas belajar (tipe ini adalah tidak jauh dari malas baca),dll. Kali ini kami hanya akan membahas tentang malas tipe terakhir yaitu malas belajar.
Beberapa masalah yang membuat anak malas belajar:
1.Beban sekolah yang terlalu banyak.
Dalam sehari, anak dicekoki 6-7 pelajaran berbeda yang rata2 diuji secara sangat superfisial: Menghafal kata demi kata. Ini sangat melelahkan.
2. Sistem mengajar yang tidak menarik atau tidak s**a pada pelajaran / guru
Coba diperhatikan, siapa tahu anak malas hanya pada pelajaran tertentu. Jika ya, maka ini mungkin berhubungan dengan metode mengajar guru yang buruk, anak tak s**a pada pelajaran tersebut atau rasa tak s**a pada guru.
3.Anak tersebut bukan anak yang berorientasi akademis.
Tidak semua anak memiliki kemampuan akademis yang tinggi. Yang saya maksud ‘akademis’ di sini adalah pelajaran serius yang mendominasi kurikulum seperti Bahasa Inggris, Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, PPKn,dll. Ada anak yang kelak akan menghabiskan hidup sebagai foto model, pelukis, koreografer, pemain bola,fotografer,dll. Anak-anak model begini sangat mungkin malas menghabiskan waktu dengan tekun untuk capek-capek menghafal untuk ulangan, misalnya.
5.Tak ada panutan
Anak tak punya contoh tentang apa yang dimaksud dengan ‘rajin’. Anak kecil belum mampu berpikir konkret, mereka butuh contoh nyata untuk hampir semua hal yang harus mereka lakukan.
6. Fasilitas berlebih.
Anak diberi beberapa gadget (HP,IPod,PS,dll) / mainan canggih.
7. Belum tahu cara belajar yang cocok, strategi belajar yang tepat atau lingkungan khas yang bisa memacu semangat belajarnya
Tipe anak belajar bermacam-macam. Ada anak yang mudah paham jika dia mendengarkan (audio learner) , ada yang lebih mudah ngerti kalo dikasih lihat gambar (visual learner),dll. Kemalasan belajar bisa jadi muncul karena anak belajar hanya dengan cara yang ternyata bukan metode yang cocok dengannya. Ada juga anak yang baru bisa belajar jika belajar sambil mendengarkan musik atau susah belajar jika ada orang ngobrol, dll.
Nah solusi untuk mengatasi hal tersebut di antaranya adaah :
1. Telusuri Penyebab Anak Malas Belajar
Jurus ampuh pertama yang harus Anda lakukan dalam mengatasi rasa malas belajar pada anak adalah dengan menelusuri terlebih dahulu penyebabnya. Dengan begitu Anda mampu menentukan metode yang tepat dalam mengatasi masalah tersebut. Selain disebabkan oleh kehilangan motivasi, rasa malas belajar pada anak juga dapat disebabkan oleh hal lain seperti kurangnya perhatian, penerapan metode belajar yang salah, suasana belajar, dan sebagainya.
2. Ajarkan pada Anak Dalam Menghadapi Kegagalan
Ajarkan anak dalam menghadapi kegagalan agar ia tidak mengalami kehilangan motivasi untuk mencoba. Beritahu mereka bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda dan semangati mereka untuk mencobanya lagi. Dengan melakukan hal ini akan menghilangkan rasa takut pada anak sehingga mereka akan mau mencoba lagi.
3. Berikan Perhatian Kepada Anak
Tugas Anda sebagai orang tua adalah dengan memberikan perhatian yang cukup pada anak, dengan melakukan hal yang sangat kecil ini dapat membantu menumbuhkan semangat belajar pada anak. Perhatian yang Anda berikan selain dalam kata-kata juga dapat berupa perbuatan seperti membelikan peralatan untuk belajar, hal ini selain membuat mereka menjadi senang juga akan menghilangkan rasa malas belajar anak.
4. Kenalkan Metode Belajar yang Benar pada Anak
Seperti yang disebutkan diatas bahwa salah satu penyebab anak malas belajar adalah karena metode belajar yang salah, maka yang harus Anda lakukan adalah dengan mengganti metode tersebut dengan yang benar dan tepat. Salah satunya adalah metode belajar sambil bermain, dengan metode ini selain anak mampu untuk belajar ia juga tidak akan cepat mejadi bosan karena disertai dengan bermain.
5. Ciptakan Susana Belajar yang Baik
Bisa Anda bayangkan lebih enak mana, belajar dalam keadaan gaduh dan tempat kotor atau belajar dalam keadaan tenang dan tempat yang rapi? Pasti Anda memilih yang kedua. Anak juga begitu, ia pasti akan memilih pada suasana belajar yang baik. Dengan suasana belajar yang baik juga akan membuat anak menjadi lebih fokus dalam belajar.
6. Puji Anak Ketika Ia Berhasil
Dalam mengatasi rasa malas belajar pada anak dapat Anda lakukan dengan menjaga semangat anak untuk terus belajar. Untuk melakukannya sangatlah mudah cukup beri pujian kepada anak ketika ia berhasil, atau Anda juga bisa memberikan hadiah kepadanya jika ia berhasil menjadi juara kelas. Selain membuat mereka senang, hal itu juga akan menjaga semangat anak untuk belajar.
7. Atur Waktu Belajar Anak
Jangan terlalu memaksakan kehendak Anda kepadaa anak untuk selalu belajar, belajar, dan belajar. Hal itu hanya akan membuat mereka jenuh terhadap belajar sehingga timbullah rasa malas. Aturlah waktu belajar anak dengan baik jangan hanya untuk belajar, ada kalanya juga untuk bermain. Dengan melakukan kegiatan tersebut akan membantu dalam mengatasi rasa malas belajar pada anak.
13/12/2017
Tanggal 14 Desember ini ditetapkan sebagai hari sejarah. Banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di tanggal ini. Hari sejarah merupakan hal yang sangat penting bagi penerus bangsa. Jadi, kita harus terus melestarikan budaya kita sabagai ciri khas bangsa kita.
Sekolah Dasar Sintesa ingin mengajak para generasi muda untuk kembali mencintai sejarahnya. Banyak nilai-nilai yang diwariskan pendahulu melalui sejarah. Maka peringatan hari sejarah 14 Desember ini menjadi momentum yang tidak hanya seremonial, namun juga harus tertanam dengan kuat dalam ingatan generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan atau bahkan bisa jadi tombak bangsa Indonesia.
13/12/2017
Tips meningkatkan minat belajar anak
Apakah Anda tau apa yang anak inginkan dalam proses belajar?
Cara sederhana dalam meningkatkan minat belajar anak adalah kenali hal-hal yg dis**ai oleh anak dan ajak dia melakukan hal tersebut. Padukan hal-hal yang dis**ai dengan menambahkan pendidikan di dalamnya.
Kuncinya adalah mengetahui apa yg dapat membuat anak tertarik dan ingin belajar. Bagi anak usia sekolah dasar, belajar harus berangkat dari minat si anak itu sendiri.
Prinsip dasar belajar anak-anak haruslah menyenangkan . Karena dengan belajar menyenangkan akan menumbuhkan emosional yang positif. Dalam proses belajar, anak harus diposisikan sebagai subjek dan bukan objek. Sebaiknya anak belajar atas inisiatif diri sendiri.
REWARD YES, PUNISHMENT NO
Sebisa mungkin orang tua memberikan reward atau penghargaan kepada anak atas berbagai prestasi yang dilakukan. Sebaliknya sedapat mungkin menghindari bentuk punishment atau hukuman. Sebab, hukuman yang kelewat batas akan membuat harga diri anak down atau turun.
Seorang anak tidak mungkin dapat menguasai semua mata pelajaran. Mungkin ada anak yang unggul disatu pelajaran lain. Kemudian orang tua justru memberikan anak les dipelajaran yang lemah tadi. Sedangkan pelajaran yang unggul justru dilupakan.
Namun, sebisa mungkin reward yang diberikan tidak terlalu mahal dan terkesan wah bagi si anak. Ini dimaksudkan agar anak punya standar keinginan atas reward-nya .
Hal terpenting adalah memberikan kasih sayang kepada anak. Terkadang anak berbuat baik, orangtua tidak memberikan reward karena hal itu dianggap biasa saja, tapi manakala si anak berbuat tidak baik, maka orang tua memberikan reaksi luar biasa dengan memberikan punishment.
13/12/2017
Rabu (13/12) kemarin anak-anak kelas 1 Sekolah Dasar Sintesa telah melakukan field trip yang menyenangkan. Anak-anak berkunjung ke kantor Dinas Pemadam kebakaran dan Penanggulangan Bencana di Jl. Sukabumi, Batununggal yang merupakan kantor pusat pemadam kebakaran di Bandung, Jawa Barat. Disini anak-anak belajar tentang bahaya api dan tugas dari petugas pemadam kebakaran serta alat-alat yang digunakan. Betapa senangnya anak-anak karena diberi kesempatan untuk mempraktekkan cara kerja petugas pemadam kebakaran dengan memakai atribut,jaket, helm dan sepatu boot. Anak-anak kelas 1 Sekolah Dasar Sintesa ini juga diajak berkeliling menaiki mobil pemadam kebakaran. We have fun yesterday.
13/12/2017
Kami memperkenalkan beberapa pendidik yang ada di Sekolah Dasar Sintesa ini. Para pendidik di sekolah kami merupakan lulusan terbaik dari luar negri yang mengajar sesuai bidangnya. Di sekolah Dasar Sintesa ini guru-guru kami dalam kegiatan belajar mengajar menggunakan metode yang menyenangkan sehingga tidak membosankan siswa-siswi.
06/12/2017
Cara Orang Tua dalam Mendidikk Anak
Kali ini Sintesa akan membahas mengenai cara orang tua dalam mendidik anak-anak khususnya untuk anak usia sekolah dasar. Dimana dalam tahap ini anak sedang mengalami perkembangan yang begitu pesat dengan segala macam tingkah laku dan rasa keingintahuan yang tinggi. Yuk mari kita simak bagaimana sih sebenarnya cara yang tepat untuk mendidik anak agar menjadi pribadi yang baik.
1. Mengontrol perkembangan anak
Orang tua harus mengontrol setiap tahap perkembangan anak, baik kognitif maupun fisiknya, juga emosional anak agar kesehatan perkembangan mental anak bisa terjaga. Jika perlu, diskusikan perkembangan anak dengan gurunya di sekolah, agar orang tua juga dapat mengetahui bagaimana perkembangan anak di sekolah p**a. Dengan begitu orang tua bisa tahu cara mendidik anak yang tepat.
2. Menjalin komunikasi yang intens dengan anak
Pada usia 6 tahun keatas jalinan komunikasi yang intens dengan anak akan semakin penting sebagai cara mendidik anak yang baik. Seiring dengan peningkatan pemahaman anak terhadap diri dan lingkungannya, ia akan makin membutuhkan komunikasi yang lancar dengan orang tuanya. Pada saat ini kemungkinan anak akan mempunyai banyak pertanyaan yang akan ia cari jawabannya, di sinilah gunanya komunikasi dengan orang tua. Komunikasi juga dapat menjadi salah satu cara yang baik dalam cara mendidik anak usia 5 tahun dan cara menegur anak yang benar.
3. Beri anak kepercayaan sedikit demi sedikit
Saat ini anak usia 6 tahun sudah bisa mulai belajar melatih kemandiriannya. Mungkin Anda punya ciri orang tua yang over protektif kepada anak. Namun, sangat penting untuk mulai memberi kebebasan kepada anak dan memberinya kepercayaan untuk mulai belajar mandiri. Misalnya, membiasakan anak untuk tidur sendiri, makan sendiri, bahkan memakai baju sendiri dan belajar mandi sendiri.
4. Beri dorongan dan bantuan
Dalam rangka pembelajaran bagi anak agar dapat lebih mandiri, orang tua dapat memberi dorongan kepada anak untuk mencoba berbagai hal agar ia bisa mengembangkan kepribadiannya. Misalnya mendorongnya untuk berani tampil di depan umum seperti bernyanyi pada saat pelajaran seni di sekolah. Dorong anak untuk berani berbicara dan mengungkapkan perasaannya, juga beri bantuan apabila anak mengalami kesulitan untuk melakukan sesuatu hal.
5. Ajarkan anak untuk menghargai waktu
Karena anak usia 6 tahun sudah bisa mengenal konsep waktu, maka Anda sebagai orang tua juga bisa mulai mengajarkan anak untuk disiplin dan menghargai waktu. Misalnya, mengajarkan anak agar ia bisa tepat waktu ketika bangun tidur, berangkat ke sekolah dan p**ang ke rumah. Juga menepati jadwalnya yang lain di rumah dan seusai sekolah. Dengan menghargai waktu, secara tidak langsung anak juga akan belajar cara menghargai orang lain.
6. Kembangkan kreatifitas anak
Ketika daya imajinasi anak sudah semakin berkembang, orang tua perlu memfasilitasinya agar anak memiliki daya kreatifitas yang sehat. Anda bisa menyalurkan minat dan bakat anak agar kreatifitasnya terarah. Misalnya, memberi anak les musik, menggambar, melukis, memasak atau lainnya. Pastikan agar anak menyetujui kegiatan tersebut sebelum Anda mendaftarkannya. Sesuaikan kegiatan dengan kepribadian anak.
7. Biasakan anak bergaul
Kemampuan sosial sangat penting untuk dipelajari oleh anak. Ketika anak mulai menyadari diri serta lingkungan sekitarnya, maka itu adalah tanda bagi Anda untuk mulai membiasakan anak bergaul dengan orang lain di lingkungan rumahnya. Jika anak sudah sekolah, ia akan mengalami interaksi dengan berbagai karakter temannya. Di luar sekolah dan rumah, usahakan untuk mendampingi anak ketika Anda memperkenalkannya kepada lingkungan baru.
8. Tekankan sopan santun pada anak
Sangat penting untuk membiasakan anak belajar etika serta sopan santun sejak awal. Hal ini merupakan bagian dari pendidikan karakter anak dan pendidikan keluarga bagi anak. Ajari anak cara menghormati orang tua dan cara menjaga perasaan orang lain, juga etika dan sopan santun yang baik dalam pergaulan.
9. Perkenalkan hak dan kewajibannya
Anda bisa mulai memperkenalkan kewajiban anak di rumah beserta hak yang dimiliki anak karena ia sudah mulai bisa memahaminya. Ia sudah bisa menyadari peran anak dalam keluarga. Ajari anak kewajibannya mulai dari hal kecil yang telah Anda biasakan sejak dini, misalnya membereskan mainan. Beri tanggung jawab makin besar seiring dengan usia anak dan kesanggupannya mengerjakan kewajiban rumah yang lebih berat. Misalnya membersihkan kamarnya sendiri dan menyapu atau mengepel rumah. Hal ini juga akan mengajarkan anak untuk lebih mandiri.
10. Berikan contoh yang baik
Berapapun usia anak, mereka akan selalu meniru . Karena itu orang tua harus selalu memberikan contoh yang baik kepada anak agar mereka juga bisa meniru hal yang baik dari orang tua. Contohkan kebiasaan baik seperti meminta maaf, berpamitan kepada orang tua, berbicara dengan kata – kata yang baik dan suara lembut, menjaga kebersihan, menuruti orang tua, dan juga berbagai hal lainnya. Perkenalkan pendidikan agama dalam keluarga kepada anak.
11. Ajarkan anak untuk jujur
Anda tentu ingin anak menjadi pribadi yang jujur kepada orang tua. Oleh karena itu janganlah membiasakan untuk berbohong kepada anak. Usahakan selalu mengatakan hal yang jujur kepada anak dan jangan pernah membuat janji yang tidak bisa Anda tepati, sebab janji merupakan tanda kepercayaan bagi seorang anak. Beri tahu kepada anak tentang buruknya dampak dari kebiasaan berbohong dan tekankan pentingnya untuk bersikap jujur.
06/12/2017
Bakat Anak: menggali Potensi yang Terpendam
Setiap anak merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa dan masing-masing dari mereka memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain. Orang tua memiliki tantangan dalam mengembangkan potensi dan bakat yang anaknya miliki. Ayo kenali bakat yang ada dalam diri anak kita dengan perhatikan hal-hal berikut ini.
a. Potensi Anak Unik & Beragam
Sebagaimana setiap anak adalah unik, demikian p**a bakat dan potensi yang dimilikinya. Keunikan setiap anak ini harus disadari sepenuhnya oleh orangtua, sehingga orangtua tak jatuh pada tindakan membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain. Padahal, sudah jelas setiap anak berbeda dan unik, baik keunikan yang berasal genetika maupun lingkungan tempatnya bertumbuh sejak bayi.
Potensi dan bakat anak itu sendiri sangat beragam. Bakat itu bisa terkait dengan hal-hal akademis yang bisa dikenali dengan nilai-nilai rapor, tetapi bisa juga tak berhubungan dengan akademis. Penilaian bakat dan prestasi anak yang didasarkan pada nilai rapor adalah terlalu menyempitkan makna kecerdasan dan potensi anak.
b. Peran orangtua sebagai pembantu
Bakat anak adalah titipan yang diberikan Tuhan kepada anak. Titipan itu melekat pada anak dan menjadi milik anak, bukan milik orangtua. Oleh karena itu, setiap saat orangtua harus menyadari bahwa fungsinya adalah membantu anak.
Orangtua bukanlah penentu masa depan anak. Tetapi orangtua berperan untuk membantu agar potensi-potensi yang dititipkan Tuhan kepada anak itu bisa keluar, ditemukan, dan tumbuh berkembang.
c. Menciptakan Lingkungan, memberikan Stimulasi
Untuk mengenali bakat dan potensi anak, peran orangtua utama adalah memberikan lingkungan yang nyaman untuk tumbuh dan berkembangnya potensi anak itu. Anak tidak merasa takut mengeluarkan dirinya. Anak juga merasa nyaman untuk berproses dengan hal-hal yang menjadi minatnya, yang terkadang masih berubah-ubah.
d. Bertumbuh bersama Waktu
Karena setiap anak tumbuh dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda, demikian p**a perkembangan potensi anak tumbuh dengan cara yang beragam p**a. Ada anak yang cepat kelihatan dan mudah dikenali bakatnya. Ada anak yang tak tahu dan terus mencari apa yang menjadi kesenangannya. Ada anak yang sudah tetap minatnya. Ada anak yang massih berubah-ubah.
e. Antara Kepentingan Anak & Ambisi Orangtua
Dalam proses pengembangan bakat pada anak, peran orangtua sangat dominan. Sebab, anak masih sangat bergantung pada orangtua. Apa yang dis**ai dan didorong orangtua, anak akan berusaha memenuhinya. Anak akan berusaha menggapai harapan-harapan yang digantungkan orangtua kepadanya.