Deden Kiagus Zaenal M

Deden Kiagus Zaenal M

Share

Pengetahuan dan Pengalaman Inspiratif biasanya muncul dari tragedi kehidupan...

10/03/2023

Sementara PNS kecil spt sy dan pegawai swasta lainnya sibuk gali lubang tutup lubang, pegawai yg korup sibuk menyelamatkan dan menyembunyikan aset2nya dari pantauan dan pajak2nya...mau sampai kapan?

13/01/2023

Satu abad NU...
Merawat jagad Membangun Peradaban...

24/06/2021

Kenangan bbrp waktu yang lalu: Sangat tersanjung seluruh Keluarga (Aku, Istri, Anak dan menantu) dikunjungi komplit Pengurus Keuskupan Bandung, dipimpin langsung oleh Uskup Bandung Monsignor (Mgr) Antonius Subianto, OSC. (selain sebagai Uskup, beliau sebagai Sekretaris Jenderal KWI Pusat).

Semoga berkah Silaturahmi menyebar bagi Umat Islam (Muslim) dan Komunitas Katholik, dan Kemanusiaan pada umumnya.

Dengan peran beliau sebagai pemimpin organisasi dan pemimpin agama; orang Katholik saja belum tentu dikunjungi beliau. Betulkan?

24/06/2021

Riwayat Burung Gereja
Oleh: Kiagus Zaenal Mubarok/Deden
Burung yang paling banyak berkeliaran yang akrab dengan manusia adalah Burung Gereja. Burung ini secara alami sebetulnya hidup di gedung-gedung yang mempunyai celah untuk mereka bertelur di ketinggian. Bisajadi ia bertelur di gedung gereja, mesjid, perkantoran, hotel, atau gedung apapun yang penting nyaman burung itu berkeliaran dan bertelur.
Walaupun berkeliaran di manapun, yang jadi pertanyaan: kenapa burung tersebut dinamakan burung Gereja?
Atas fenomena ini, dicarilah riwayat munculnya burung ini. Setelah diselidiki, ternyata memang kehidupan burung ini tidak hanya di gereja, tapi di semua gedung.
Namun dalam penyelidikan tidak terlepas dari subjektifitas penelitinya. Orang yang berfikiran sempit bisajadi langsung berfikir: jangan2 terjadi Kristenisasi dalam penamaan burung? (What?).
Singkat cerita, orang yang seneng guyon (biasanya orang NU ... wkwkwk), mulai mendengar penyelidikan ini. Berupaya tidak terjadi kekisruhan atas hasil penelitian ini apalagi jadi sumber pertikaian.
Diberitahulah, bahwa awal penamaan BURUNG GEREJA itu sebenarnya adalah BURUNG MASJID, terus diceritakan karena di masjid sering diadakan Khitanan Massal, mulailah burung tersebut bermigrasi ke Gereja. Kenapa demikian: burung itu befikir sudah terjadi kekerasan fisik terhadap sesama "burung"...
Ciganitri, 9 Mei 2021.

Deden Kiagus Zaenal M Send a message to learn more

29/05/2021

MAL PRAKTEK DI BIDANG AGAMA
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Seorang anak muda, baru lulus SMA, bercerita kepada saya bahwa ia bersama teman-temannya sedang belajar agama selama beberapa bulan kepada beberapa "ustadz" yang tempat kajiannya berpindah-pindah, atau sembunyi-sembunyi.

Materi kajiannya cukup banyak, dimulai dari uraian tentang dua kalimat syahadat, sejarah nabi (al-sirah al-nabawiyyah), hingga jihad. Setiap mereka yang ikut kajian itu berkewajiban untuk merekrut temannya agar juga ikut kajian dengan bimbingan "ustadz" yang sesuai kelasnya. Ia mengaku telah dibaiat agar lebih taat kepada ulil amri, tidak perlu menaati orang tua yang menentangnya, dan apalagi kepada jajaran pemerintah RI, mereka menganggapnya sebagai musuh.

Saya yang penasaran bertanya, siapa yang dimaksud dengan ulil amri? Ia menjawab, ya para ustadz saya itu. Mendengar jawaban begitu saya tersenyum saja menahan rasa geli, tidak tahan untuk tidak segera mengajukan pertanyaan.

Saya pun bertanya lagi, mengapa kajian agamanya harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya? Ia menjawab, karena menurut "ustadz" bahwa dahulu Nabi Muhammad saw. pun berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi. Mendengar jawaban begitu saya mengomentari, bahwa Nabi itu dulu pernah berdakwah tidak secara terang-terangan adalah awal untuk mengenalkan Islam. Sejak saat itu setelah berabad-abad hingga kini Islam sudah terkenal dan banyak penganutnya, sehingga untuk belajar agama seperti di Indonesia ini tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi seperti orang ketakutan. Pemuda itu diam membenarkan dan tidak mampu membantah.

Lalu saya bertanya lagi, mengapa juga diajarkan agar bersikap anti kepada pemerintah? Anak muda itu menjawab, karena pemerintah membuat hukum sendiri dan mematuhi hukum buatan manusia dan tidak berhukum kepada hukum Allah, yaitu al-Qur'an dan Hadits. Kemudian saya mencecarnya dengan beberapa pertanyaan agar anak muda itu berpikir dan segera sadar, apakah para "ustadz"mu sebagai manusia tidak membuat-buat aturan sendiri dalam kajian agar membawa al-Qur'an dan terjemahnya cetakan Departemen Agama? Apakah "ustadz"mu itu punya motor tapi tidak punya SIM? Apakah "ustadz"mu itu jika berkendara di jalan raya s**a melanggar aturan lalu lintas dan lampu merah? Apakah para "ustadz"mu itu tidak pernah menaati peraturan di sekolah dan kampus yang dipenuhi aturan yang juga buatan manusia? Anak muda itu semakin terdiam tak mampu menjawab sepatah kata pun semua cecaran pertanyaan saya yang memang tidak perlu ia dijawab.

Kepada anak muda itu juga telah mendapatkan materi tentang "jihad" dalam arti perang. Lalu kepadanya saya berikan penjelasan yang panjang lebar tentang makna jihad yang tepat dan sesuai untuk konteks ke-Indonesia-an saat ini. Bagian inilah yang saya kuatirkan amat meracuni pikiran para pemuda yang baru belajar agama kepada "ustadz" yang sedang dimabuk agama itu, di mana semangat beragamanya membara, namun akalnya belum mampu mencerna tentang tujuan menganut agama. Sehingga di tangan mereka agama hanyalah alat untuk memuaskan hawa nafsu, menjadi masalah kemanusiaan, dan bukan sebagai petunjuk untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang datang silih berganti.

Saya bersyukur dengan sebab perjumpaan yang amat singkat itu, anak muda itu kini telah berikrar dan bertekad untuk berhenti belajar agama kepada "ustadz" yang berdakwah secara nomaden, sembunyi-sembunyi, dan mengajarkan kebencian kepada orang tua, kepada orang kafir dan memprovokasi untuk melawan kepada pemerintah yang sah.

Kepada setiap orang tua hendaklah mengawasi kegiatan putera-puterinya, terutama kepada siapa mereka belajar agama dan apa saja yang diajarkan oleh ustadz (guru agama) mereka. Dan tentu saja kepada pihak berwenang agar bekerja sama untuk mengawasi, mengingatkan dan bila perlu menindak tegas "mal praktek" di bidang agama seperti yang saya ceritakan di atas.

21/05/2021

Tidak mudik, tidak panik, tetep asyik...

08/04/2020

SEKEDAR MENGINGATKAN KEMBALI
tentang Religiousitas dan Spiritualitas

Fenomena yg terjadi saat ini sangat memprihatinkan. Kita dikenal sebagai bangsa yang religius, banyak orang taat beragama, tempat ibadah ada di mana-mana. Tapi ternyata kejahatan terus terjadi, korupsi dan fitnah merajalela.

Hal ini menunjukkan bahwa kita tdk mampu membawa perbedaan antara yang beragama dengan yang tidak. Kita masih terpaku pada “religius”, bukan “spiritual”.

Menurut definisi awam, orang religius adalah orang yang agamis, rajin ibadah, terkadang dari penampilannya terlihat (sengaja diperlihatkan), menampilkan simbol-simbol agama.

Orang spiritual adalah orang yang baik, bukan hanya dlm menjalankan perintah agama saja, atau di tempat ibadah saja, tapi ia baik di mana pun ia berada.

Ada 5 perbedaan antara religius dengan spiritual :

1. Orang religius adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Sedangkan orang spiritual adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu hadir. Orang melakukan perbuatan tidak baik karena ia berpikir Tuhan hanya ada, tapi tidak hadir. Sedangkan orang spiritual berpikir bahwa Tuhan hadir di mana pun dia berada.

2. Orang religius adalah orang yang merasa paling suci dan paling benar. Orang spiritual adalah orang yang melihat semua orang adalah setara, semua punya kelebihan dan kekurangan.

3. Orang religius adalah orang yang mudah melihat perbedaan, dan sensitif dengan perbedaan. Orang spiritual adalah orang yang mudah melihat persamaan, mau menerima perbedaan, mau mendengarkan orang lain.

4. Orang religius adalah orang yang hanya mementingkan simbol-simbol agama dan ritual agama saja. Orang spiritual adalah orang yg menyembunyikan ibadahnya dari orang lain, dan mempraktekkan keagamaan nya di mana pun dan kapan pun.

5. Orang religius adalah orang yg baik dalam urusan ibadah saja. Orang spiritual adalah orang yang baik dalam semua urusan, karena menganggap semua urusan adalah ibadah.

Tanpa spiritual, ibadah yang dilakukan hanya menjadi ritual semata. Ritual agama diperlukan, tapi harus dilakukan dengan kesadaran dan cinta kepada Tuhan.

Religius adalah cara untuk meraih spiritual. Kita bisa menjadi spiritual tanpa melakukan hal-hal yang religius. Tapi hal itu tidaklah lengkap, karena beragama tanpa ibadah tidaklah lengkap.

Untuk menjadi orang yang spiritual kita harus ingat dengan esensi dan hakekat kita ada di dunia ini, dan mencari makna dari setiap yang kita lakukan.

6. Orang religius exclusive. Orang spiritual membumi.

Mari menjadi orang yg spiritual. 🙏
Spiritual = spirit dari ritual. Spirit adalah Roh. Dari ibadah seharusnya timbul keinginan dari roh (hati nurani) dan bukan keinginan daging spt memperkaya diri dgn korupsi dll (harta, tahta, wanita/pria).

Kualitas pohon dilihat dari buahnya, dan buah Roh ialah: kasih, s**acita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Kiranya Allah Senantiasa memberkati .

Amin...mari kita sama2 belajar meningkatkan ibadah kita dari Religious menjadi Spiritual...

18/12/2019

Geng pencinta Guyonan Gus Dur: Prof Greg Barton, Deakin University Melbourne Australia dan KiaGus ZM, Padjadjaran University Jatinangor Sumedang...

25/11/2019

Mulailah inovasi pada hari ini...

25/11/2019

Terimakasih kpd sahabat semua yg menerima undangan dari Page saya ini, krn pertemanan melalui FB hanya terbatas 5000 orang.

15/06/2019

TERKAPAR

Diri ini serasa sangar
Unggah dalih drama nalar
Sandarkan fakta tuk digelar
Asa kuasa nan melingkar

Dalil-dalil murah kau umbar
Sengkarut kalimat saling lempar
Ulik tafsir berharap benar
Mahkamah bak podium altar

Kuasa, kuasa, kuasa

Apa pemangku amanah sadar
Bangsa menonton nanar
Pertiwi dijudi bersinar
Kuasa jadi taruhan hambar

Harap mahkamah adu benar
Diri boleh ikhtiar
Taqdir kala berciri vulgar
Sang Diri akan beri kabar

Hai pemangku amanah nan kasar
Mahkamah bagai mimbar
Polah diri akan tersebar
Sang Diri sebagai kuasa latar

Di Mahkamah Sang Diri, kalian akan terkapar.

Bandung, 15 Juni 2019
Deden KZM

24/07/2018

Matahari dan Matahati

Kusibak selimut unggah langkah
Di tepian jurang malas dan harokah
Kupacu asa ikhtiar tuk berubah
Di terik matahari yang membuncah

Adakah kuasa menjajal tingkah
Gejolak ambisi tunggangi polah
Hari-hari berlalu dikitari lelah
Tuk rengkuh cita-cita nan mentah

Apa diri patut ungkap resah
Daya insani layak menggugah
Apa Sang Diri liarkan jatah
Matahati jadi indikasi washilah

Sang Diri pacu diri dalam ma'rifah
Asyik diri umbar nafsu menjelajah
Sang Diri berikan nilai pepatah
Namun diri berlaku serasa gagah

Hai jiwa-jiwa diri yang pongah
Kembalilah tuk Sang Diri yang Rahmah

Jatinangor, 24 Juli 2018
Deden KZM

Want your school to be the top-listed School/college in Bandung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jalan Ciganitri Pertanian No 93
Bandung
40289