Covid telah memaksa kita me-mikirkan ulang karier dan hidup kita
Pictorial Goal Mapping
training pengembangan diri
12/04/2020
Kiat untuk menjadi bahagia dalam kondisi Wabah Corona
Ahli ilmu saraf yang Emiliana Simon-Thomas mengajar ilmu kebahagiaan di kursus edX dan telah diikuti oleh lebih dari setengah juta siswa di seluruh dunia, menyampaikan tiga tips utama menjadi bahagia:
1. Kesadaran diri
"Hanya butuh lima menit untuk merasakan sensasi di tubuhmu, sensasi di sekitarmu – benar-benar rasakan di saat kamu masuk dalam, berusaha untuk tidak menyerah pada pandangan konstan ke depan dan ke belakang."
2. Terhubung dengan orang lain
"Menghabiskan waktu secara sengaja berbincang dengan orang lain tentang pengalaman Anda, tentang pengalaman mereka, dan jika Anda bisa, cerita kejadian yang baik. Sulit memang untuk tidak merasa khawatir, namun kamu bisa tanya seseorang - apa yang Anda nikmati hari ini? Apakah dengan mandi pakai air panas? Pembicaraan apa yang menarik dan video apa yang Anda tonton yang benar-benar menyentuh dan menginspirasi?`"
3. Berlatih untuk bersyukur
"Coba untuk menuliskan kejadian-kejadian baik dan siapa yang ada dalam cerita itu. Terkadang mereka bukan pasangan atau tetangga Anda, tetapi seseorang yang tidak Anda kenal, yang mungkin telah memanen buah yang Anda makan. Benar-benar gali ke dalam perasaan kita tentang kemanusiaan saat ini, itu sangat penting dan cara kita untuk mengenali potensi [kita] untuk mengatasi tantangan ini sebagai komunitas."
Jadi, bagaimana cara kerjanya?
Meskipun tampak aneh untuk menggunakan pendekatan ilmiah dalam mencapai kebahagiaan, ternyata proses analisis studinya sangat mudah: para peneliti menyurvei orang-orang yang bahagia dan mempelajari perilaku mereka, lalu menguji apakah mereka yang tidak bahagia dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka dengan melakukan hal yang sama.
Pada dasarnya, banyak pandangan dasar manusia tentang sesuatu yang membuat kita bahagia adalah salah, Santos menjelaskan.
"Kita berpikir kebahagian dan tidak itu berasal dari keadaan seperti jumlah uang yang didapatkan, dan harta benda. Mahasiswa saya berpikir nilai yang tinggi dan sempurna adalah kebahagiaan. Tetapi hasil penelitian menunjukan hal yang berbeda."
Mengajarkan kebahagiaan adalah mengajarkan orang untuk tidak "menggandakan teori-teori buruk".
Dalam pandemi virus corona saat ini, katanya, apa yang mungkin terpikirkan oleh kita adalah apa yang perlu kita beli, katakanlah seperti perabot baru ,untuk merasa bahagia - dan ketika itu tidak berhasil, Anda memutuskan untuk membeli barang lain yang lebih baik.
"Kami mengoreksi intuisi orang agar menyadari hal-hal yang benar-benar membuat kehidupan yang baik."
Kemudian, tergantung pada peserta didik untuk mempraktikan hal-hal itu. "Kami mencoba membantu sedikit tentang itu - semua tugas-tugas di kelas mempraktikkan intervensi ini, dan kami tahu itu meningkatkan kebahagian mereka."
Ahli saraf Emiliana Simon-Thomas, Direktur Sains dari The Greater Good Science Center (GGSC) Universitas California Berkeley, mengatakan "Masalah terbesar dalam krisis ini adalah dengan tidak mengetahui kapan krisis ini berakhir."
Sistem saraf manusia dirancang secara evolusioner untuk menemukan pola-pola dalam lingkungan sosial dan menciptakan asosiasi, dia menjelaskan, namun dengan situasi yang berkembang pesat seperti Covid-19, mustahil untuk memenuhi keinginan itu.
Orang-orang dalam situasi sekarang cenderung melihat ke belakang mencari solusi atau merenungkan kemungkinan akan masa depan. Apakah saya akan kembali bekerja? Apakah saya bisa sakit? Bisakah saya membantu keluarga jika mereka sakit?
"Walaupun kedua kemampuan itu sangat adaptif dalam memecahkan masalah yang mendesak atau mengancam secara langsung, mereka sangat berbahaya dalam situasi seperti yang kita hadapi [virus corona] di mana ancamannya ambigu, dan durasinya tidak diketahui."
Pandemik virus corona ini sangat menantang karena biasanya ketika orang mengatasi masalah akan ketidakpastian dan kecemasan, mereka bisa mengunjungi orang tua atau pergi ke pub dengan teman-teman - karena bukan masalah kesehatan fisik.
Jadi seperti apa peningkatan kebahagian dalam kondisi `lockdown`?
"Kabar baiknya adalah ini bukan flu tahun 1918 [flu Spanyol]," kata Prof Santos. "Kami memiliki teknologi yang memungkinkan kami terhubung dengan orang-orang - mungkin tidak dalam kehidupan nyata tetapi dalam waktu nyata. Kami dapat melihat ekspresi, mendengar mereka tertawa, hadir dalam kehidupan orang-orang."
Dia menyarankan agar orang-orang menemukan cara untuk meningkatkan kebahagiaan, seperti panggilan video dengan orang-orang tersayang sambil membuat makan malam, karena interaksi penting seperti itu sering menjadi yang dirindukan dalam isolasi.
Sepanjang krisis global saat ini, orang-orang tetap berkumpul bersama, menemukan cara untuk terhubung meskipun terhambat oleh karantina dan jarak. Video-video warga Italia yang bernyanyi bersama dari balkon mereka masing-masing menjadi viral dalam beberapa minggu terakhir. Lalu, ada juga cerita-cerita tentang para keluarga yang tetap melakukan perayaan walaupun terpisah jarak, dan menjadi berita utama.
"Terdapat berbagai cara dalam membingkai sesuatu bisa sangat kuat memengaruhi emosi kita ketika kita menghadapi krisis ini," tambah Prof Santos.
"Terlepas dari betapa cemasnya perasaan, kita bisa mengendalikan narasinya dan membingkai krisis ini - kita bisa berpikir situasi sekarang sangat menyedihkan atau kita bisa menjadikan itu sebagai tantangan yang dihadapi oleh keluarga secara bersama-sama."
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Address
Griya Bukit Mas 2 B2 No 1
Bandung
40191