Afif Luthfi

Afif Luthfi

Share

Trainer LuarSekolah | Former Learning Director PT Anugerah Nusa Dinamika (AND Learning & Coaching)

Afif Luthfi atau biasa disapa dengan Kang Afif adalah trainer di bidang komunikasi, kepemimpinan dan service excellence selama lebih dari 13 tahun. Perusahaan yang telah menggunakan jasanya terdiri dari instansi pemerintah, perusahaan multinasional, BUMN, institusi pendidikan, dan swasta yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti: PT Antam Tbk, PT Timah Tbk., PT Bukit Asam Tbk, Semen In

21/04/2025

LOWONGAN KERJA BUKAN AJANG LUCU-LUCUAN: Mengapa Banyak yang Salah Kaprah?

Dalam dunia kerja hari ini, kita dihadapkan pada fenomena baru: lowongan kerja yang menjadi bahan ejekan. Seolah-olah, iklan loker bukan lagi panggilan untuk berkontribusi, tapi bahan hiburan digital di tengah timeline yang bising. Saya tak habis pikir—apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Beberapa hari lalu, seorang pemilik usaha kecil memposting lowongan sederhana. Isinya sangat normatif: wajib sholat 5 waktu, tidak merokok, siap kerja saat jam sibuk, lebih baik jika punya kendaraan sendiri. Tapi apa yang terjadi? Komentar penuh sindiran, cemoohan, bahkan olok-olok soal “kerja kok pake syarat akhlak.”

Pertanyaannya: Sejak kapan etika jadi bahan lelucon?
Sejak kapan usaha menjaga lingkungan kerja bersih dan sehat malah dianggap remeh?

MENTALITAS YANG TERTUKAR
Ada gejala besar yang sedang kita hadapi: banyak orang lebih ingin dimengerti, daripada siap untuk mengerti. Mereka menuntut hak sebelum menunjukkan kelayakan. Mereka mencari gaji layak, tanpa pernah bertanya apakah dirinya sudah “layak digaji.”

Padahal, dunia kerja adalah dunia kontribusi. Bukan dunia “terserap.” Bukan tempat curhat ekspektasi. Tapi tempat bertanya: “Apa yang bisa saya bantu untuk tumbuh bersama perusahaan ini?”

MEMBANGUN BUKAN MENGGUGAT
Setiap pengusaha kecil adalah pahlawan ekonomi. Ia menciptakan lapangan kerja, menanggung resiko, dan merawat nilai. Ketika mereka menetapkan syarat kerja yang sesuai nilai hidup mereka, itu bukan sok suci—itu komitmen. Dan yang tidak cocok? Ya sudah, tidak perlu ikut.

Perlu kita sadari: semakin banyak yang sinis terhadap kebaikan, semakin sulit kita memajukan bangsa. Dan itu bukan soal gaji. Itu soal cara pandang.

REFLEKSI UNTUK KITA SEMUA
Sebelum mencibir lowongan, tanyakan pada diri:

Apakah saya siap menjadi karyawan yang mudah diandalkan, bukan yang mudah tersinggung?

Apakah saya membangun karakter kerja, atau hanya mencari kenyamanan?

Apakah saya cukup besar untuk menghormati nilai orang lain?

Penutup: UBAH DULU DIRIMU, BARU DUNIA MENGIKUT
Di dunia kerja, bukan hanya skill yang diuji, tapi karakter. Dan karakter tidak bisa dipals**an lewat CV. Ia nyata dalam cara kita merespons realita. Maka, daripada mengolok-olok, mari belajar memahami. Karena yang siap kerja itu bukan yang paling banyak komentar—tapi yang paling bisa dipercaya.

“Kriteria kerja yang baik bukan soal enaknya, tapi soal cocoknya nilai antara karyawan dan perusahaan.” – Afif Luthfi

21/04/2025

“KAMU GILA ATAU LINGKUNGAN KERJAMU YANG BIKIN GILA?” – Tentang Bos Gaslighting dan Budaya Kantor yang Diam-Diam Merusak

Saya pernah mendampingi seorang profesional muda yang tiap minggu datang ke sesi coaching dalam keadaan lelah, bukan fisik—tapi mental. Dia bukan orang yang malas. Bahkan sebaliknya, dia rajin, komunikatif, dan punya inisiatif tinggi.

Tapi belakangan, dia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Jangan-jangan memang aku yang kurang kompeten…” katanya sambil tertawa getir.

Ternyata, bosnya sering membolak-balikkan fakta. Saat hasil kerja bagus, pujian diberikan ke orang lain. Saat ada kesalahan, tanggung jawab dilempar ke dia. Bahkan ide-ide orisinalnya sering dianggap remeh—lalu muncul kembali dalam presentasi atasan, seolah milik si bos sendiri.

Saya diam. Lalu bertanya pelan:
“Kamu sadar gak… kamu sedang mengalami gaslighting?”

GASLIGHTING DI TEMPAT KERJA
Gaslighting bukan cuma istilah di hubungan romantis. Ia hidup dan berkembang juga di ruang meeting. Saat bos membuatmu ragu akan realita. Saat kamu dipermalukan di depan tim lalu disuruh ‘jangan baper’. Saat kamu dianggap ‘kurang inisiatif’, padahal kamu sebenarnya hanya takut dimatikan idenya.

LINGKUNGAN YANG TIDAK AMAN SECARA PSIKOLOGIS
Banyak organisasi gagal memahami satu hal penting:

"Karyawan hanya bisa berkembang di lingkungan yang mendukung rasa aman."

Bukan cuma soal keamanan fisik, tapi psikologis—tempat kita bisa jujur, bertanya tanpa takut dibodohi, mengkritik tanpa harus dimusuhi.

Sayangnya, banyak tempat kerja masih mengedepankan fear-based culture. Pimpinan dijadikan sosok tak boleh dibantah. Feedback cuma formalitas. Kesalahan dipermalukan. Transparansi diganti dengan politik.

Padahal, seperti yang dikatakan Amy Edmondson, “Psychological safety is not about being nice. It’s about candor, about being able to speak up.”

“Keamanan psikologis itu bukan soal bersikap manis atau baik-baik aja. Tapi soal keterbukaan, soal keberanian buat bicara jujur dan menyampaikan pendapat.”

BUTUH BUDAYA FEEDBACK, BUKAN BUDAYA TAKUT
Organisasi hebat bukan yang bebas dari kesalahan. Tapi yang membuat kesalahan bisa diolah jadi pembelajaran.

Bukan tempat yang saling menghakimi. Tapi saling menguatkan.

Bukan tempat yang membuatmu mempertanyakan kewarasanmu sendiri. Tapi tempat yang bertanya, “Apa yang bisa kita perbaiki bersama?”

Mari kita bangun budaya kerja yang sehat. Dimulai dari berani bicara—dan lebih berani mendengar.

“Jangan buru-buru menyalahkan dirimu atas rasa lelah. Kadang, kamu bukan lemah—kamu cuma terlalu lama berada di tempat yang salah.” – Afif Luthfi

19/04/2025

“BISA KERJA TAPI GAK BISA INTERVIEW” — Apakah Dunia Kerja Cuma Buat yang Pandai ‘Acting’?

Pagi itu, sambil nunggu loading Zoom meeting yang entah kenapa lemot banget, saya berselancar ke salah satu job portal. Lalu nemulah sebuah postingan yang meledak-ledak tapi jujur dan… menyayat.

“MUAK BANGET SAMA STANDAR INTERVIEW INDO! Sampe kapan sih perusahaan-perusahaan mau sadar kalo kita BISA KERJA tapi cuma GA BISA INTERVIEW?!”

Seketika, saya diam.

Bukan karena gak setuju. Tapi karena… saya paham.

Kita hidup di dunia yang menjadikan komunikasi sebagai “mata uang” utama untuk masuk ke gerbang kerja. Tapi sayangnya, gak semua orang dilahirkan dengan skill komunikasi yang sama. Bahkan, banyak dari kita yang sebenarnya jago ngerjain tugas, tapi gugup saat harus “menjual diri” di depan pewawancara. Lalu… jadi gagal.

Padahal skill komunikasi dan skill kerja itu dua hal yang beda dimensi. Satu tentang performa sosial, satu tentang kemampuan teknis. Tapi kenapa yang lebih berat malah pintu masuknya?

Apakah Interview Itu Sekadar Ajang ‘Acting’?
Pertanyaan ini menyengat.

Benarkah interview itu hanya menguji siapa yang paling pintar “acting”, bukan siapa yang paling siap kerja?

Di satu sisi, ya. Kita gak bisa munafik. Banyak banget proses rekrutmen yang masih menilai siapa yang paling lancar ngomong, paling percaya diri, paling “jualan” dengan gaya CEO TikTok. Padahal di balik panggung, yang kerja keras mati-matian belum tentu yang paling vokal.

Tapi di sisi lain… kita juga harus ngerti perspektif recruiter.

Bayangkan kamu disuruh memilih partner kerja. Kamu cuma punya waktu 30 menit buat mengenal mereka. Gak ada CV, gak ada portofolio yang bisa bicara sendiri. Yang kamu punya cuma obrolan singkat. Nah, apa yang akan kamu nilai? Ya, gimana mereka menjawab. Gimana mereka merespons. Gimana mereka membaca situasi.

Makanya, bukan karena dunia kerja gak adil, tapi karena dunia kerja gak punya waktu buat mengenal kita sedalam itu. Maka ‘kesan pertama’ jadi satu-satunya pintu.

Jadi, Haruskah Kita Semua Jadi Extrovert?
Nggak. Tapi kita perlu belajar tampil.

Bukan buat fake atau acting, tapi buat menyampaikan: “Hey, gue punya kemampuan. Tapi lo harus tahu dulu caranya gue nunjukin.”

Komunikasi itu bukan tentang jadi cerewet. Tapi tentang bisa menjelaskan siapa kita dan apa yang bisa kita bawa ke meja kerja. Bahkan introvert pun bisa jago interview, asal tahu cara memetakan kekuatan mereka dan menyampaikannya dengan jujur dan tenang.

Interview bukan ajang siapa paling heboh. Tapi siapa yang paling siap menyampaikan esensi dirinya, dengan cara yang paling autentik.

Ayo, Re-design Proses Rekrutmen!
Sisi lainnya adalah… kita juga bisa mulai push back. Generasi kita gak cuma boleh ngeluh, tapi bisa ngajak perusahaan duduk bareng, redesign proses rekrutmen biar lebih adil dan manusiawi. Misalnya:

Ada tes kerja nyata sebagai bagian dari proses seleksi

Interview dua arah, bukan interogasi satu arah

Ada pilihan untuk menjawab via video pre-record, bagi yang grogi live

Karena zaman berubah, maka sistem pun harus ikut berubah.

Penutup: Yang Jago Acting Boleh Masuk, Tapi yang Jago Kerja Harus Diundang Duduk
Interview itu penting. Tapi jangan sampai dia jadi satu-satunya alat ukur. Karena dunia kerja butuh doers, bukan cuma talkers. Butuh builders, bukan hanya debaters.

Kalau kamu merasa bisa kerja tapi susah interview — bukan berarti kamu gagal. Mungkin kamu cuma perlu satu langkah lagi: belajar menyampaikan nilai dirimu, bukan jadi orang lain.

Karena di dunia yang keras, kadang cara kita “masuk” lebih menentukan dari apa yang bisa kita “kasih”.

19/04/2025

POLITIK KANTOR ITU NYATA, TAPI BUKAN BERARTI HARUS MAIN KOTOR

Tiga tahun lalu, saya pernah mengajak makan siang seorang Gen Z yang baru kerja enam bulan. Usianya 24 tahun, gayanya cuek, tapi matanya tampak penuh api. Dia bercerita, “Kak, aku tuh kerja udah sekeras itu, tapi yang naik level malah yang s**a ngobrol di pantry.”

Saya tersenyum. “Kamu pikir yang ngobrol di pantry itu cuma buang waktu?”

Dia bengong.

Selamat datang di dunia nyata di mana poitik kantor itu exist!
Politik kantor sering dianggap negatif. Seolah-olah itu tentang menjilat atasan, menusuk dari belakang, atau mencari muka. Tapi seperti halnya pisau dapur, politik bisa dipakai untuk membantu memasak atau melukai—tergantung siapa yang memegangnya dan untuk apa.

Saya ingat seorang mentor pernah bilang,
“Kantor bukan sekadar tempat kerja, tapi juga arena diplomasi.”
Dan diplomasi yang baik bukan tentang drama, tapi tentang membangun jembatan.

GEN Z, kalian punya senjata berharga: kejujuran dan value!
Kita semua pernah muda. Kita pernah jadi idealis. Tapi hidup di lingkungan kerja mengajarkan satu hal penting: bukan siapa yang paling pintar yang paling cepat naik, tapi siapa yang paling bisa membaca arah angin dan tahu kapan bicara, kapan diam.

Itu bukan manip**asi. Itu kecerdasan sosial.

Seorang pemimpin pernah bilang pada saya,
“Saya percaya pada anak muda yang pintar. Tapi saya lebih percaya pada anak muda yang tahu kapan harus menyimak sebelum mengeksekusi.”

Politik yang sehat itu menggunakan pengaruh untuk menumbuhkan!
Saya percaya, Gen Z adalah generasi yang paling transparan. Tapi transparansi saja tidak cukup. Kalian juga perlu ketajaman strategi.
Karena dunia kerja bukan cuma soal hasil. Tapi juga soal cara membawa diri.

Politik sehat itu saat kamu bisa support rekan kerja, bukan saingan diam-diam.

Politik sehat itu saat kamu tahu cara menyampaikan ide ke bos tanpa mengancam egonya.

Politik sehat itu saat kamu menggunakan empati, bukan drama, untuk memengaruhi keputusan.

Yang bertahan bukan yang keras, tapi yang lentur!
Di akhir makan siang itu, anak muda tadi diam sebentar. Lalu dia bilang, “Berarti aku harus belajar jadi peka, ya?”

Saya hanya mengangguk.
Karena kadang, jawaban terbaik tidak perlu dijelaskan panjang lebar—cukup direnungkan.

Untuk kamu, Gen Z yang sedang berjuang di tengah dunia kerja yang kadang tak adil:

Tetap jadi dirimu. Tapi pastikan kamu tahu cara mainnya.
Jangan jadi orang yang keras kepala. Jadilah orang yang bijak tapi tetap bisa meledak kalau perlu—dengan cara yang elegan.

02/04/2023

Senang bisa berbagi pengalaman dengan para peserta kartu 🔥 Semoga dapat teraplikasikan dengan baik, ya!

Alhamdulillah kelas Maret selesai. Tiba lagi next jadwal 2023:

03-07 April
10-14 April
01-05 Mei
08-12 Mei
15-19 Mei
22-26 Mei

Semoga dilancarkan. Aamiin!

Photos from Afif Luthfi's post 26/03/2023

MASJID RAMAH ANAK & PEMBANGUN PERADABAN

Beberapa hari lalu, alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk safari ke Masjid Kapal Al Munzalan dan Masjid Ismuhu Yahya di Pontianak. Kunjungan kali ini seperti mengobati kekangenan saya mengunjungi Masjid Daarut Tauhiid di Bandung karena ambience-nya mirip-mirip. Namun, ada beberapa hal yang menarik dari kesan yang saya dapatkan.

Saat mengikuti pengajian di Masjid Kapal Al Munzalan, terlihat banyak sekali anak-anak yang ikut memakmurkan masjid. Selain mengikuti pengajian, namanya juga anak-anak, mereka berlari dan bermain, bercanda dengan teman-teman lainnya baik di teras maupun di dalam masjid. Namun, bukannya ditegur berkali-kali oleh orang tuanya--seperti yang saya lihat pada masjid-masjid lain--mereka justru dibiarkan bersenang-senang.

"Biarkan mereka senang dengan masjid, senang datang dan bertemu teman-temannya di masjid, senang beribadah dengan orang tuanya di masjid, senang makan dan bermain di sana, dan merasakan suasana yang akan masuk ke ingatan mereka sehingga mereka rindu masjid." Sekelibat saya teringat dengan salah satu pesan dari seorang guru ini.

Walau begitu, saat sedang salat, mereka bisa tetap tertib, ini yang bikin takjub.

Begitu p**a kesan menakjubkan datang saat saya safari ke Masjid Ismuhu Yahya. Bagaimana dulunya saat itu hanya berdiri masjid yang belum rampung sebagai tonggak peradaban. Namun, atas izin Allah sekarang sudah berdiri unit-unit lain yang memberdayakan masyarakat sekitar dan santri-santri di dalamnya. Mereka dididik dengan soft skill penunjang agar dapat mandiri dan produktif. Dibangun berdasarkan pilar-pilar yang ada dalam Al Qur'an, masjid Ismuhu Yahya mampu membuat lingkungan yang sejuk di tengah teriknya khatulistiwa.

Yuk, sharing pengalaman Anda juga di kolom komentar!

Photos from Afif Luthfi's post 25/03/2023

KELAS PELATIHAN PRAKERJA

Terima kasih untuk seluruh peserta Prakerja gelombang ke-49. Kelas kepemimpinan sudah terpenuhi untuk periode jadwal:

- 27 - 31 Mar (08:00-11:00 WIB)
- 03 - 07 Apr (08:00-11:00 WIB)
- 10 - 14 Apr (08:00-11:00 WIB)

Nantikan kelas-kelas lainnya, ya!

12/02/2023

Apa kabar RESOLUSI? Februari sudah mau habis. Semoga terus berprogress ya untuk setiap pencapaiannya tahun ini. Aamiin.

Apa sih target pencapaianmu di tahun ini? Boleh SHARING d**g di KOMENTAR 😊

20/11/2020

*Hai! Apakah kamu orang introvert?*
Apakah pekerjaan kamu juga menuntut untuk bisa bicara? Bisa menyampaikan ide dan presentasi?
Jangan khawatir, kamu sudah menemukan event yang tepat.

_"Siapa bilang orang introvert ngga bisa public speaking? Ia telah membuktikannya. Mengisi presentasi dan acara mulai dari sahabat Aceh hingga Papua, perusahaan multinasional, pemerintah, hingga swasta. Kamu juga bisa!"_

Temukan solusinya di acara online training ini...!

Dalam acara ini, kamu akan bayak mempelajari poin-poin penting dan bermanfaat, yaitu:
✅ *JURUS ANTIMAINSTREAM* - Bagaimana bisa tampil PD dengan waktu cepat dan mudah meski kamu introvert!
✅ *BICARA LENTUR DAN TERSTRUKTUR* - Membuka sesi perkenalan dengan _smooth_ dan menyampaikan isi materi dengan lancar bebas hambatan.
✅ *MENYUSUN MATERI PRESENTASI* - Metode menyusun materi presentasi dengan efektif dan fleksibel.
✅ *MENGATASI SITUASI SULIT* - Hal-hal tak terduga bisa terjadi saat presentasi berlangsung. Kadang mengejutkan, kadang tidak mengenakkan. Bagaimana semestinya kita bersikap?
✅ Dan SHARING PENGALAMAN BERHARGA dari narasumber sebagai seorang introvert yang sukses mengatasi hambatan dirinya.

*APA SAJA BONUS YANG Kamu DAPATKAN?*
🎁 E-Book “20 Jurus Jitu Menghadapi Demam Panggung”
🎁 Material (pdf)
🎁 Template-Template Slide Presentasi yang Keren
🎁 E-Sertifikat Resmi dari AND-LC
🎁 Diskon khusus buku “MAESTRO Public Speaking”
🎁 DOORPRIZE bagi peserta yang beruntung

*Catat Waktunya*
Selasa, 24 November 2020
Pkl 09.00 – 15.00 WIB
Via Zoom Cloud Meeting

*Investasi*
IDR 250K / orang
IDR 650K / 3 orang

*Info Registrasi*
Made 0815-7295-7753
Amel 0819-3149-8955

*DAFTAR SEGERA DI SINI:*
bit.ly/speakingisfun
bit.ly/speakingisfun
bit.ly/speakingisfun

Sampai bertemu di kelas nanti!
Have a blissful day!
*AND Learning & Coaching*

Want your school to be the top-listed School/college in Bandung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Bandung