26/04/2026
Bisnis militer yang masih berlangsung hingga saat ini merupakan konsekuensi logis dari sejarah panjang dominasi militer di Indonesia. Praktik semacam ini dapat ditelusuri sejak masa kemerdekaan Indonesia, hingga di era Reformasi ini. Salah satu contoh terbaru dan masih berlangsung hingga saat ini dapat ditemukan di hulu DAS Citarum.
Di kawasan tersebut, terdapat lahan seluas 25 hektare yang dijadikan sebagai tempat berlangsungnya bisnis militer. Menariknya, pembentukan bisnis ini berlangsung melalui Program Citarum Harum, sebuah program yang berupaya untuk mempercepat pengendalian kerusakan DAS Citarum yang sangat tercemar.
Proses terbentuknya bisnis militer tentu tidak datang dari ruang hampa. Ia berawal dari pencaplokan tanah oleh militer yang membuat masyarakat tereksklusi dari tanah yang mereka kuasai. Namun, eksklusi tersebut tidak berjalan dengan total, karena terdapat dinamika pertukaran kepentingan antara militer dan masyarakat yang sebelumnya tereksklusi.
Melalui risetnya yang berjudul "Eksklusi dan Pertukaran Kepentingan dalam Pembentukan Bisnis Militer di Hulu DAS Citarum", Noki hendak menganalisis bagaimana hubungan antara pencaplokan tanah oleh militer, eksklusi, dan pertukaran kepentingan dapat mendorong terbentuknya bisnis militer.
Simak selengkapnya pada:
Diskusi Riset ARC
Senin, 27 April pukul 16.30
23/04/2026
Seiring dengan berkembangnya diskursus transisi energi dan promosi untuk segera beralih ke kendaraan listrik, investasi di sektor pertambangan, khususnya nikel pun meningkat dengan cepat di Indonesia. Ini berimplikasi terhadap bertambahnya kebutuhan lahan untuk mendukung beroperasinya pertambangan nikel.
Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan salah satu wilayah yang menjadi pusat industri nikel di Indonesia. Di Kabupaten Konawe Selatan sendiri terdapat 38 titik sebaran pertambangan nikel dan terbanyak di Kecamatan Laeya yang memikiki 13 titik pertambangan melingkupi wilayah seluas 451,08 Ha. Penelitian ini berlangsung di salah satu desa di Kecamatan Laeya, yakni Desa Torobulu.
Terdapat dua konsensi perusahaan di Desa Torobulu yang memulai aktivitas eksplorasi dan eksploitasi. Mereka membuka tambang baru maupun memperluas area pertambangan dengan menyasar wilayah pemukiman melalui skema pembelian lahan dengan penduduk setempat.
Melalui risetnya Syarif hendak menjelaskan, mengeksplorasi dan menganalisis proses dan mekanisme pencaplokan tanah yang melibatkan aktor lokal sebagai agen/perantara tanah untuk perluasan pertambangan dalam hubungannya dengan pembentukan subjek kriminal melalui 'mekanisme partisipatif' yang diterapkan oleh pihak perusahaan untuk mengatasi hambatan aliran modal pertambangan.
Simak selengkapnya pada
Diskusi Riset
Pembentukan Subjek Kriminal Melalui Spekulasi: Mafia Tanah sebagai Agen-Perantara Tanah untuk Perluasan Pertambangan Nikel di Desa Torobulu
Jumat, 24 April pukul 15.30
16/04/2026
Mengapa masyarakat-masyarakat di luar Eropa tidak mengenal kepemilikan pribadi sehingga corak produksi kapitalisme tidak muncul “dengan sendirinya”? Mengapa pemerintahan di Asia prakapitalis dicirikan oleh negara yang lebih kuat dan sentralistik dibanding Eropa feodal? Apakah masyarakat prakapitalis di Asia bisa disebut feodal? Seperti apa mekanisme apropriasi surplus di masyarakat tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah isi pembahasan teori Asiatic Mode of Production (AMP) atau Corak Produksi Asiatik yang merupakan gagasan Marx terhadap keadaan masyarakat “Timur”. Gagasan tersebut muncul dalam karya-karya Marx sebagai upaya memecahkan teka-teki perkembangan (atau ketiadaan perkembangan) corak produksi di masyarakat “Asiatik”.
Marx sendiri tidak sempat membuat penjelasan teoretis yang lengkap tentang AMP. Adalah seorang Karl A. Wittfogel, melalui karyanya yang berjudul Oriental Despotism: A comparative Study of Total Power yang menawarkan terobosan dan menghidupkan kembali perdebatan mengenai AMP.
Melalui gagasan Engels dan Marx yang melihat perkembangan organisasi sosial dan politik suatu masyarakat sebagai respon masyarakat terhadap kondisi lingkungannya, ia membuat kajian komparatif terhadap masyarakat dan negara “Asiatik”. Argumen utamanya adalah bahwa kekuasaan despotik lahir dari kontrol negara atas air dan pengairan sehingga memunculkan apa yang ia sebut sebagai "masyarakat hidrolik." Sederhananya, bagi Wittfogel, proyek-proyek irigasi dan pekerjaan umum adalah sarana utama negara untuk mengamankan syarat-syarat reproduksinya.
AMP dan “Despotisme Oriental” telah menjadi arena perdebatan intelektual dan juga politik. Pemikiran-pemikiran tersebut telah dianggap sebagai terobosan dalam menganalisis perkembangan masyarakat dan kebudayaan di satu sisi dan juga sebagai penyimpangan yang ditulis sebagai senjata politik yang berbahaya—alih-alih kerangka analisis—yang buta terhadap perjuangan kelas. Bagaimanapun, karya Wittfogel dan perdebatan AMP telah membuka peluang untuk memeriksa ulang keragaman transisi dari prakapitalisme ke kapitalisme serta kekhasan perkembangan kapitalisme pada berbagai negara-bangsa modern.
Simak selengkapnya pada:
Seri Diskusi Batjaan Liar #13
Jumat, 17 April pukul 15.30
Luring dan Daring
17/03/2026
Selamat berlibur. Selamat merayakan hari raya. Mohon maaf lahir dan batin.
11/03/2026
Beberapa tahun kebelakang publik diramaikan dengan berbagai kasus pencaplokan tanah (land grabbing) yang—oleh media maupun kelompok gerakan—diduga kuat melibatkan praktik Mafia Tanah. Kasus D**o Elos dan Sukahaji merupakan dua contoh dari bagaimana praktik ini berlangsung.
Pola yang sama sesungguhnya berlangsung di banyak kasus lain dan telah lama menjadi bagian dari persoalan klasik menyangkut caut-marut masalah pertanahan di Indonesia.
Maraknya fenomena Mafia Tanah ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari lemahnya sistem administrasi pertanahan berikut dengan sering diabaikannya hak-hak komunitas lokal atas tanah, di sisi lain investasi yang memerlukan tanah dan perlakuan tanah sebagai komoditas terus meningkat mengikuti pesatnya pembangunan ekonomi baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.
Seri Diskusi Batjaan Liar #13 ini akan membedah hasil penelitian Dianto Bachriadi mengenai fenomena Mafia Tanah di Indonesia dengan bertolak pada serangkaian pertanyaan berikut: Apa yang dimaksud dengan “Mafia Tanah”? Siapa dan hal-hal apa saja yang membentuk mafia tanah di Indonesia? Bagaimana mafia tanah bekerja? Apa yang membedakannya dengan spekulan tanah (land speculator) dan perampas/pencaplok tanah (land grabbers)? Apa hubungan antara fenomena mafia tanah dengan politik jatah preman atau politik pemalakan (politics of racketeering?) Apa hubungan antara mafia tanah dengan aparatur pemerintah di bidang pertanahan dan penegakan hukum? Apakah “mafia tanah” hanya beroperasi di daerah perkotaan dan semi-urban, atau juga muncul di daerah pedesaan atau bahkan di pedalaman (remote and frontier areas)?
Simak selengkapnya pada:
Seri Diskusi Batjaan Liar #13
Jumat, 13 Maret pukul 19.15
Luring dan daring
Unduh Working Paper Mafia Tanah
s.id/WPARC004
05/03/2026
Pada bulan Desember tahun lalu Jacobin merilis sebuah artikel wawancara dengan Vivek Chibber yang berjudul 'Colonial Plunder Didn't Create Capitalism'.
Argumen utama Chibber adalah kolonialisme tidak serta merta mendorong lahirnya kapitalisme. Imperium besar seperti Spanyol dan Portugal telah terlebih dahulu melakukan ekspedisi dan penjarahan kolonial sejak abad ke-14, namun ini tidak otomatis membuat kedua negara tersebut mengalami transisi corak produksi menuju kapitalisme.
Meminjam penjelasan Robert Brenner, Chibber berpendapat bahwa untuk melacak asal-usul kapitalisme, pertama-tama yang harus diperhatikan adalah perubahan kelembagaan berikut dengan komposisi kelas yang ada di dalam masyarakat—bukan pada akumulasi kekayaan yang berasal dari negara jajahan.
Bagi Chibber kemunculan kapitalisme pertama sekali bisa ditemukan di pedesaan Inggris pada abad ke-15 ketika 'petani' dicerabut dari tanahnya dan hukum kompetisi pasar menjadi penentu terbangunnya relasi sosial
Artikel Jacobin tersebut memicu polemik keras diantara para Marxis, sebagian bahkan menuduh penjelasan Chibber yang menempatkan kemunculan kapitalisme di Inggris sangat Eropasentris. Polemik ini membuka kembali perdebatan klasik menyoal transisi kapitalisme
Simak selengkapnya pada:
Seri Diskusi Batjaan Liar #12
Jumat, 6 Maret pukul 19.15 luring dan daring
29/01/2026
Diskusi dan Peluncuan Buku: “Aktivisme-Cendekia dan Dinamika Gerakan Sosial Pedesaan”
Bersama:
- Jun Borras (penulis buku) sebagai narasumber
- Pandu Sujiwo (peneliti ARC) sebagai pembahas
Diselenggarakan pada:
- Selasa, 3 Februari 2026
- 15.00 s.d. 1800 WIB
- Luring di Perpustakaan ARC dan Daring melalui Zoom (tautan daring akan dibagikan melalui email yang dicantumkan di formulir pendaftaran)
Konfirmasi kehadiran dengan mendaftar di: s.id/AktivismeCendekia-DinamikaGSP
---
Hari ini, kelompok gerakan sosial di Indonesia tengah dihadapkan pada momen kritis dalam perkembangan kapitalisme global. Di pedesaan, di mana akumulasi kapital berpangkal, gerakan sosial yang berkembang juga diterpa kondisi ketimpangan yang terus direproduksi, seiring dengan orientasi pembangunan untuk kepentingan akumulasi kapital, ditambah menguatnya peran militer di ranah kehidupan sipil. Meski begitu, gerakan sosial pedesaan bukanlah entitas tunggal dan homogen. Ia tersusun atas beragam kepentingan yang terfragmentasi yang juga menentukan pasang surut gerakan itu sendiri; tak jarang juga mengalami kooptasi melalui mekanisme kebijakan dan kanal-kanal institusional negara.
Di saat yang sama, peran aktivisme-cendekia juga menjadi krusial untuk didudukkan secara kritis dalam dinamika gerakan sosial pedesaan, di tengah konteks agraria Indonesia maupun global yang terus berubah. Persoalan ini berkaitan dengan bagaimana pengetahuan diproduksi, untuk apa pengetahuan itu digunakan, dan sejauh mana ia mampu berkontribusi pada penguatan gerakan sosial pedesaan.
Dalam momen ini ini, ARC bekerja sama dengan INSISTPress, Pusaka Bentala Rakyat, dan LPPMD Unpad menyelenggarakan Diskusi Publik dan Peluncuran Buku dengan tema “Aktivisme-Cendekia dan Dinamika Gerakan Sosial Pedesaan” sebagai ruang refleksi dan pertukaran gagasan untuk membahas dinamika gerakan sosial pedesaan, keterlibatan aktivisme-cendekia di dalamnya, sekaligus menelaah tantangan dan kemungkinan strategis bagi penguatan gerakan menuju perubahan sosial yang lebih radikal.
Diskusi ini juga sekaligus merupakan momen peluncuran buku Seri Kajian Petani dan Perubahan Agraria yang berjudul “Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional” karya Marc Edelman & Jun Borras, serta “Aktivisme Cendekia & Perjuangan Agraria” karya Jun Borras & Jenny Franco.
28/01/2026
Alerta! Alerta! Alerta!
Hari ini PT. SMART, PN Rantau Prapat, dan pihak kepolisian dengan dibantu oleh tentara memaksakan proses eksekusi terhadap warga Padang Halaban meskipun tanah seluas 83 Ha yang bertahun-tahun ditempati warga kini statusnya merupakan Tanah Negara yang HGU-nya telah habis masa berlakunya sejak tahun 2024.
Beberapa mahasiswa dan warga yang mempertahankan tanahnya juga memeroleh tindak kekerasan dan penangkapan.
Eksekusi yang dilakukan hari ini menunjukan arogansi dan kesewenang-wenangan aparat pemerintah daerah yang sama sekali tidak mengidahkan hak-hak warga!
04/12/2025
Setelah melaksanakan proses seleksi yang dilakukan berdasarkan penilaian atas concept note para pendaftar kami telah menetapkan sebanyak 16 orang pendaftar yang lolos untuk menjadi peserta dalam pelatihan ini. Selamat kepada para peserta terpilih TPSA 2025! 💫✨
Kami sangat mengapresiasi berbagai gagasan-gagasan menarik dalam CN yang didaftarkan oleh 37 orang pendaftar TPSA di tahun ini dan kami sendiri berpengharapan bisa menerima semua pendaftar.
Namun, karena keterbatasan tempat, waktu, dan berbagai kapasitas teknis penyelenggaraan, kami tidak dapat mengakomodasi peserta lebih banyak lagi, sehingga kami harus memilih dengan proses seleksi ketat yang juga tidak mudah bagi kami
Meskipun begitu, kami sangat terbuka dan bersenang hati bila teman-teman yang sudah mendaftar tetap dapat mengikuti berbagai kegiatan dan pelatihan yang diselenggarakan ARC di lain kesempatan.
Kami juga membuka ruang bila teman-teman ingin berkunjung atau berkontak jarak jauh untuk berdiskusi dengan para peneliti ARC mengenai apa pun yang berkaitan dengan gagasan penelitian yang sedang teman-teman tekuni 🙌😉
26/11/2025
Malam hari kemarin kami resmi menutup pendaftaran TPSA 2025. Kami menerima sebanyak 37 orang pendaftar dari berbagai latar belakang di berbagai daerah di Indonesia. Kami sangat berterimakasih dan mengapresiasi antusiasme teman-teman semua, meskipun begitu karena berbagai keterbatasan yang kami miliki, setiap tahunnya kami baru mampu untuk mengakomodir 15 orang peserta saja dan harus melakukan seleksi berdasarkan concept note yang telah didaftarkan.
Selanjutnya, para peserta terpilih akan kami hubungi melalui surel masing-masing dan diumumkan di kanal sosial media ARC pada tanggal 4 Desember 2025
Simak terus update selanjutnya ya! 💫✨😉
18/11/2025
TPSA 2025 IS COMING!
Selama sepuluh tahun terakhir ARC secara konsisten telah menyelenggarakan Training Penelitian Sosial Agraria (TPSA). Hingga sekarang TPSA telah menghasilkan 150+ alumni pelatihan dan ide penelitian berkaitan dengan kajian agraria kritis di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Sebagai bagian dari komitmen kami dalam penyebarluasan pengetahuan seputar kajian agraria kritis dan memastikan sebanyak-banyaknya orang untuk dapat terlibat, kami berupaya agar kegiatan TPSA dapat terselenggara secara gratis bagi para pesertanya
Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan ini, juga kerja-kerja penelitian ARC kedepannya, saat ini kami mengadakan penggalangan dana dengan cara menjual T-shirt. Seluruh keuntungan akan didedikasikan bagi penyelenggaraan kegiatan TPSA 2025.
[T-shirt 'Land to The Tillers, not The Banker$']
📌 DETAIL PRODUK:
- Cotton combed 30s (Nyaman dan adem untuk sehari-hari)
- Sablon DTF (Tebal, awet, dan tidak mudah retak)
- Tersedia dalam dua warna, hitam dan putih
💰 HARGA:
- Rp 225.000 (S-XL)
- Rp 250.000 (Khusus Ukuran XXL)
📞 HOW TO ORDER:
Hubungi contact person kami untuk pemesanan dan info lebih lanjut:
0813-2075-3318 (Hanny)
📷 by Frans Ari Prasetyo
Stok sangat terbatas. Buruan order sebelum kehabisan!