16/08/2020
๐๏ธ ๐๏ธ *Pendidikan sosial anak pada lingkungan tidak kondusif* ๐๏ธ๐๏ธ
Nabi _shallallahu 'alaihi wasallam_ bersabda:
ุงูู
ุฑุก ุนูู ุฏูู ุฎูููู
_"Seseorang tergantung agama temannya"_
Setiap anak membutuhkan pendidikan bersosial, dalam rangka untuk menumbuhkan karakter iman yang terkait dengan adab akhlaq terhadap makhluk Allah ta'ala.
Namun lingkungan pendidikan bagi anak tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orangtua. Kadangkala lingkungan yang ada adalah lingkungan yang tidak kondusif, yaitu lingkungan yang sebagian besar anggota masyarakatnya kurang bagus agama dan akhlaqnya.
Hal ini yang menjadikan orangtua khawatir tentang pendidikan anaknya. Apalagi pada fase anak ini, cara belajar yang masih dominan pada anak adalah _at-taqlid_, yaitu peniru ulung. Apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan, akan ditirunya.
โ _Apa yang harus orangtua lakukan jika lingkungan sosial anak tidak kondusif?_ โ
โ
Jika pindah rumah belum memungkinkan, maka orangtua hendaknya menguatkan potensi positif anak yaitu sifat mempengaruhi. Tidak selamanya anak itu selalu dipengaruhi, tetapi anak juga memiliki potensi untuk mempengaruhi temannya.
Dalam lingkungan yang demikian, orangtua tidak hanya dominan men- *sterilisasi* anak dengan "memenjarakannya" di rumah, tetapi hendaknya juga lebih menguatkan *imunitas* anak dari pengaruh temannya. Jika imunitas telah ada pada diri anak, maka anak akan lebih dominan mempengaruhi dari pada dipengaruhi. Maka jadilah anak sebagai *agen dakwah*, bukan hanya sekedar obyek dakwah. Anak bukan hanya sekedar _surviver_, tetapi anak juga akan menjadi _warrior_ yang tangguh.
โ _Bagaimana menguatkan imunitas anak terhadap pengaruh luar_ โ
Imunisasi fisik anak dapat dilakukan dengan vaksinasi. Vaksin akan melawan dan menghilangkan virus jahat dari tubuh anak. Demikian juga "vaksin psikologis" akan menjadikan anak kebal terhadap "virus" jiwa yang jahat yang datang dari luar. "Vaksin psikologis" akan memunculkan rasa aman dan nyaman pada jiwa anak, sehingga semua "virus" seperti rasa ketakutan dan tekanan tidak mampu bertahan "hidup" lama dalam jiwa anak.
โ _Apa "vaksin psikologis" itu?_ โ
โจ "Vaksin psikologis" adalah *kelekatan* orangtua terhadap anak โจ
๐๏ธ Kelekatan dapat dibangun dengan:
1๏ธโฃ *Pengakuan*
Yaitu memberikan pengakuan bahwa anak dapat menjaga diri dan memiliki potensi mempengaruhi temannya. Orangtua hendaknya selalu berpikir positif tentang anaknya, bahwa anak tidak selalu condong kepada keburukan dan mudah dipengaruhi kejelekan oleh temannya. Karena pada dasarnya setiap anak lahir memiliki kecondongan kepada kebaikan sehingga membutuhkan pengakuan.
Maka dengan hal ini, anak akan menjadikan orangtuanya sebagai manusia yang paling *dipercaya* di seluruh bumi ini. Anak yang diberi kepercayaan, dia akan memberikan kepercayaan juga. Kadar kepercayaan anak terhadap orangtuanya bergantung dari seberapa besar kadar kepercayaan yang orangtua berikan kepadanya. Jika orangtua selalu berpikir negatif terhadap anaknya sehingga selalu mencurigai dan memiliki kekhawatiran yang berlebihan kepada anak sehingga anak dipaksa selalu menurut apa kata orangtuanya, selalu diawasi seolah-olah orangtua adalah CCTV yang selalu mengintainya dimanapun dia berada, maka anak akan sulit menjadikan orangtuanya sebagai manusia yang paling dipercayainya.
2๏ธโฃ *Pembersamaan*
Yaitu membersamainya dalam setiap aktifitasnya. Pembersamaan yang dimaksud adalah pembersamaan secara fisik maupun kejiwaan. Dengan pembersamaan ini orangtua dapat mendengar keluhannya, membantu mencarikan solusi masalahnya, membimbingnya dan mengarahkannya. Karena sejatinya anak terlahir dalam keadaan belum mengetahui apa-apa sehingga anak membutuhkan pembersamaan.
Anak memiliki sifat senang mencoba-coba, sehingga anak ingin selalu mencoba melakukan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Orangtua yang terlalu abai kepada anaknya maka bisa jadi apa yang dilakukannya adalah hal yang tidak benar.
๐กDengan pengakuan dan pembersamaan, maka apapun yang dialami anak di luar rumah, akan diceritakan kepada orangtuanya dengan rasa aman dan nyaman tanpa rasa takut disalahkan dan dimarahi, dan anak akan meminta arahan dan nasehat kepada orangtuanya tentang apa yang dialaminya tersebut. Yang pada akhirnya anak tidak perlu untuk berbohong, karena rasa aman dan nyaman sudah didapatkannya. Karena anak yang berbohong sebenarnya ingin mendapatkan rasa aman dan nyaman dari kebohongannya itu.
Mari kita tingkatkan imunitas anak-anak kita pada jaman yang penuh dengan "virus" mental yang jahat ini. Virus ini lebih berbahaya dari virus corona. Lebih mudah menular, lebih sulit dilihat gejalanya, dan lebih sulit disembuhkan.
Kholiq
SKIS Semarang