Plants of Paths

Plants of Paths

Share

Semoga fanpage ini dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.

Plants of Paths merupakan fanpage yang menjadi wadah untuk bertukar informasi terkait dengan nama-nama tumbuhan yang digunakan sebagai nama jalan, khususnya di Kota Bandung, Jawa Barat.

Photos from Plants of Paths's post 15/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN RASAMALA]

Jalan Rasamala merupakan jalan yang berada di kecamatan Bandung Wetan. Nama jalan ini berasal dari nama tanaman rasamala. Altingia excelsa Noronha atau yang kita kenal dengan nama pohon rasamala adalah salah satu jenis pohon hutan yang banyak tumbuh di daerah Jawa Barat. Kayu yang dihasilkan dari pohon ini termasuk kayu yang kuat dan awet, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pohon ini juga menjadi vegetasi yang mendominasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sebab, pohon ini menjadi salah satu dari berbagai jenis tanaman yang sengaja ditanam oleh Perum Perhutani sebagai tanaman akan diambil manfaat kayunya.

Pada habitat alami, rasamala dapat tumbuh mencapai ketinggian 60 meter. Berdasarkan penelitian, spesies ini berasal dari Pegunungan Himalaya kemudian menyebar ke Burma, Semenanjung Malaya, Sumatera hingga Jawa. Beberapa daerah di Indonesia mengenal pohon ini dengan nama lain, seperti Mala, Tulasan dan Mandung. Sedangkan di negara seperti di Burma dinamakan Nantayok, di Laos dinamakan Sop dan di Thailand dinamakan Hom. Pohon rasamala dapat tumbuh didaerah dengan ketinggian 500 m hingga 1500 m diatas permukaan laut dengan kondisi berbukit dan lembap. Curah hujan yang diperlukan adalah 100 mm per bulan pada kondisi tanah vulkanik yang subur. Sebaran rasamala di Indonesia, antara lain di Jawa Barat, Bengkulu dan Bukit Barisan.

Pohon rasamala merupakan tumbuhan yang selalu hijau. Tingginya mencapai 40 m hingga 60 m dengan cabang bebas 20 m hingga 35 m. Diameter batangnya sekitar 80 cm hingga 150 cm. Pada bagian kulit, memiliki tekstur halus dan berwarna abu-abu dan kayunya berwarna merah. Pohon rasamala muda memiliki tajuk yang rapat dan berbentuk seperti segitiga atau pyramid kemudian semakin membulat sesuai dengan pertambahan usia pohon. Daun-daun rasamala berukuran 6 cm hingga 12 cm dan lebar 2,5 cm hingga 5 cm serta berbentuk lonjong dengan letak bergiliran. Tepi daun berbentuk bergerigi halus.

Bunga rasamala merupakan bunga berkelamin satu, sehingga terdapat bunga jantan dan betina di pohon yang sama. Berdasarkan karakternya, bunga yang tidak memiliki kelopak dan mahkota, benang sari yang banyak dan kepala putih berupa papila, maka secara alami penyerbukannya dibantu oleh angin atau serangga.

Pohon rasamala menghasilkan buah dan benih. Buahnya berwarna coklat dan berbentuk seperti kapsul dengan ukuran sekitar 1,2 cm – 2,5 cm. Buah ini terdiri dari 4 ruang dimana setiap ruang berisi 1 – 2 benih yang telah dibuahi dan benih yang tidak dibuahi berjumlah 35 benih. Buahnya dapat dipanen jika warnanya telah berubah menjadi hitam. Jika terlambat melakukan pemanenan, maka buah akan pecah dan benih akan tersebar. Benih tersebut memiliki aroma khas dan berbentuk pipih dengan sayap disekelilingnya. Sistem perkecambahan benih rasamala adalah perkecambahan epigeal. Hampir sepanjang tahun pohon rasamala akan berbunga dan berbuah. Namun, pada bulan April dan Mei adalah waktu puncaknya dan pada bulan Agustus hingga Oktober merupakan waktu terbaik untuk mengumpulkan benihnya.

Klasifikasi Tanaman Rasamala
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Altingiaceae
Species : Altingia excelsa Noronha (i)
Nama lokal : Rasamala

Referensi deskripsi :
https://rimbakita.com/pohon-rasamala/
Referensi foto :
https://steemit.com/natural//types-of-tree-species-in-indonesia-24-rasamala-altingia-excelsa

Photos from Plants of Paths's post 15/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN CICARIANG]

Jalan Cicariang merupakan jalan yang berada di kecamatan Cibeunying Kidul. Nama jalan ini berasal dari nama tanaman cariang bereum atau biasa disebut Ki leho beureum. Ki leho beureum atau Saurauia cauliflora merupakan tanaman endemik p**au Jawa, Indonesia. Tanaman tersebut telah dimasukkan dalam IUCN Red List karena spesies yang terancam kepunahan.

Tanaman ini biasanya berupa pohon-pohon kecil atau seperti semak, atau kadang-kadang tanaman merambat pada sesuatu. Bentuknya alternatif dan sederhana. Daun berbentuk spiral dengan pinggiran yang bergerigi. Tanaman tersebut tidak memiliki daun penumpu atau suatu jaringan yang tumbuh di dekat daun yang fungsinya melindungi saat pertama tumbuh. Tanaman diselimuti bulu dengan bulu agak pipih. Bunga-bunga tumbuh sendiri atau dikumpulkan di cymes terminal, dengan kelopak bunga yang bebas beserta kelopak yang bebas. Bunganya memiliki dua alat kelamin, namun dapat juga unisexual atau berumah satu. Daun bunga berwarna putih atau pink. Buah berbentuk beri dan menyerupai kapsul.

Klasifikasi Tanaman Cicariang
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Actinidiaceae
Species : Saurauia cauliflora (i)
Nama lokal : Cariang bereum/Ki leho beureum

Referensi deskripsi :
http://dbpedia.org/page/Saurauia_cauliflora
Referensi foto :
https://en.wikipedia.org/wiki/Saurauia #/media/File:Saurauia_madrensis_2.jpg

Photos from Plants of Paths's post 15/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN KATUK]

Jalan Katuk merupakan jalan yang berada di kecamatan Lengkong. Nama jalan ini berasal dari nama tanaman katuk. Umumnya tumbuhan ini bertumbuh di tegalan atau di pekarangan rumah. Kadang ada juga yang memanfaatkannya sebagai tanaman hias. Tanaman daun katuk dipastikan mudah ditemukan. Karena tanaman ini merambat dengan tingkat kesuburan yang cukup tinggi. Tak hanya itu, tanaman daun katuk juga bisa bersemi tanpa tergantung pada musim atau cuaca.

Tanaman daun katuk memiliki nama latin Saoropus Androgynus. Sebuah tanaman jenis semak yang masuk ke dalam keluarga pohon jarak. Biasanya tanaman ini tumbuh di atas ketinggian tanah mencapai 1500 mdpl. Karena tergolong tanaman semak, tentu tumbuhan ini tidak begitu tinggi. Bahkan tumbuhan tertinggi hanya mencapai 2-3 meter saja. Maka dari itu, banyak yang menanamnya di pot lalu dijadikan hiasan rumah.

Dari segi klasifikasi khusus (ilmiah) tanaman daun katuk tergolong spesies Saoropus Adrogynus dari famili phyllanthaceae. Untuk kelasnya ialah magnoliopsida dengan ordo malpighales. Tanaman daun katuk juga termasuk ke dalam divisi magnoliophyta dengan genus Saoropus. Jika dibaca dari klasifikasi ilmiah ini, wajar kalau tanaman daun katuk disebut sebagai tanaman semak hias yang merambat.

Akar tanaman daun katuk sebagian besar berbentuk akar tunggang. Nyaris tidak ditemukan tanaman daun katuk yang memiliki akar serabut. Sebagian besar batang tanaman daun katuk berpostur tegak lurus. Posisinya menjulang tetapi tidak terlalu tinggi. Batang tanaman daun katuk yang paling tinggi, ukurannya tidak sampai 3 meter. Bahkan ada batang yang hanya berukuran 2 meter saja. Sekalipun demikian, ukuran batang semacam ini yang membuatnya cantik saat dilihat.

Tanaman daun katuk memiliki daun jenis majemuk dengan jumlah genap. Bentuknya berhadapan dengan ukuran daun tidak terlalu besar. Bahkan terkesan kecil karena diameternya hanya 5-6 cm saja. Untuk ukuran daun tanaman katuk sedikit lonjong. Maksudnya antara pangkal dengan ujung berbentuk menyipit atau meruncing. Sedangkan di bagian tengah daun melebar. Tanaman daun katuk memiliki bunga yang jumlahnya cukup banyak. Namun bentuknya kecil-kecil dan andai tidak berwarna terang, mungkin bunga tanaman ini tidak akan terlihat.

Bunga tanaman daun katuk memiliki dua jenis warna. Yang pertama adalah warna kuning semu merah. Sedangkan yang kedua adalah berwarna merah menyala. Yang unik ialah, di setiap bunga terdapat bintik-bintik kecil dengan warna berbeda.

Klasifikasi Tanaman Katuk
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Euphorbiaceace
Species : Sauropus androgynus (i)
Nama lokal : Katuk

Referensi deskripsi :
https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-daun-katuk/
Referensi foto :
http://plantamor.com/species/info/sauropus/androgynus

Photos from Plants of Paths's post 15/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN SALEDRI]

Jalan Saledri merupakan jalan yang berada di kecamatan Lengkong. Nama jalan ini berasal dari nama tanaman Seledri, yang cukup sering dimanfaatkan oleh masyarakat di Indonesia. Tanaman seledri adalah tanaman sayuran yang berasal dari benua Amerika, tumbuh baik di ketinggian 1000-1200 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara 15-24 derajat Celcius.

Akar tanaman seledri adalah akar tunggang yang memiliki serabut akar yang menyebar ke samping dalam radius sekitar 5-9 cm dari pangkal batang. Akar yang berwarna putih kotor ini mampu menembus tanah hingga kedalaman 30 cm.

Batang seledri biasanya bantet, mempunyai batang yang lunak, bentuknya bersegi dan beralur. Batang ini beruas dan tidak berambut, cabangnya berjumlah banyak dan berwarna hijau.
Seledri merupakan tanaman biji berkeping dua (dikotil) serta merupakan tanaman setahun atau dua tahun yang berbentuk semak atau rumput

Daun tanaman seledri berbentuk menyiri ganjil yang merupakan daun majemuk, dengan anak daun 3-8 helai. Anak daun mempunyai tangkai yang panjangnya 1-2 cm. Tangkai daun berwarna hijau keputih-putihan dan helaian daun tipis serta rapat.

Klasifikasi Tanaman Seledri
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Apiaceae
Species : Apium graveolens (i)
Nama lokal : Seledri

Referensi deskripsi :
https://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-morfologi-seledri/
Referensi foto :
http://plantamor.com/species/info/apium/graveolens

Photos from Plants of Paths's post 15/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN PARIA]

Jalan Paria merupakan jalan yang berada di kecamatan Lengkong. Nama jalan ini berasal dari nama tanaman paria/peria, atau yang biasa disebut dengan pare. Tanaman yang satu ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena rasanya yang pahit. Pare atau paria (Momordica charantia L) berasal dari India Barat dan Burma. Di negara lainnya pare disebut dengan istilah balsam-pear/bitter gourd (Inggris), Peria (Melayu), muop dang, kho qua (Vietnam), mara, phakha, maha (Thailand), ampalaya, amargoso, paria, palia (Pilipina), ku gua, foo gwa (Cina).

Tanaman pare tergolong sebagai tanaman semak semusim. Tanaman ini bisa tumbuh di dataran rendah serta bisa juga tumbuh liar di tanah yang tidak terawat. Pada beberapa orang menanam tanaman ini sebagai tanaman pagar. Meskipun sebagai tanaman pagar, tanaman ini akan terlihat sangat cantik terlebih pada daun dilengkapi dengan sulur yang berbentuk spiral yang menambah kesan artistik. Pare memiliki sistem perakaran yaitu akar tunggang yang bercabang – cabang.

Akar tunggang ada pare juga disebut sebagai akar primer yang tumbuh dari radikula. Sedangkan cabang – cabang di sekitar akar utama disebut sebagai akar sekunder. Akar primer berbentuk kerucut dan akar sekundernya bercabang lagi hingga menjadi sangat panjang. Akar ini berwarna putih kekuningan sedangkan bentuknya meruncing pada ujungnya. Bentuk ujung akar ini menyesuaikan fungsinya untuk menembus lapisan tanah. Sementara itu, akar cabang memiliki panjang sekitar 16 cm dengan diameter 0,5 cm.

Sistem percabangan batangnya bertipe simpodial. Ini karena antara batang pokok dan percabangan sukar dibedakan, selain itu cabang juga pertumbuhannya lebih cepat jika dibandingkan dengan batang pokok. Daun pare tergolong sebagai daun tidak lengkap, ini karena daun hanya memiliki lembaran daun tetapi tidak memiliki pelepah. Daun pare juga termasuk daun tunggal.

Buah pare termasuk buah buni dan disebut sebagai buah sejati karena tumbuh dari bakal buah. Buah pare disebut sebagai buah buni karena terdiri dari dua lapisan buah yakni lapisan luar (kulit) dan lapisan dalam yang teksturnya lunak dan berdaging. Seperti yang kita ketahui, buah ini memang banyak dikonsumsi namun rasanya pahit. Bila buah sudah masak, di bagian dalam buah terdapat 3 ruang dan di ruang tersebut terdapat biji buah pare. Buah pare berbentuk silinder dengan ukuran 2 hingga 7 cm dan berdiameter 1 hingga 5 cm.

Banyak sekali khasiat yang bisa diperoleh dari buah pare. Selain dikonsumsi untuk sayuran, buah pare juga berkhasiat sebagai berikut:
• Obat diabetes, gangguan pencernaan, perangsang nafsu makan, obat cacing, sebagai antikanker, antibiotik, antivirus, penurun kandungan gula darah, serta obat pendertita penyakit demam/malaria.
• Buah pare banyak mengandung vitamin A, vitamin B , vitamin C, betakaroten, fitokimia lutein, likopen, kalori, protein, lemak, karbihidrat, serat, abu, kalsium, fosfor, kalium, zat besi,dan natrium.
• Selain buahnya, ternyata daun pare juga mempunyai manfaat yang tidak kalah dengan buahnya. Manfaat tersebut antara lain: dapat menyembuhkan mencret pada bayi, membersihkan darah bagi wanita yang baru melahirkan, dapat menurunkan panas, dapat mengeluarkan cacing kremi serta dapat menyembuhkan batuk.

Klasifikasi Tanaman Katuk
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Cucurbitaceae
Species : Momordica charantia (i)
Nama lokal : Paria/Peria/Pare

Referensi deskripsi :
http://gedenews.blogspot.com/2015/02/memang-buah-yang-satu-ini-banyak.html #:~:text=Pare%20merupakan%20jenis%20tanaman%20yang,serta%20lebih%20kuat%20daripada%20mentimun.
https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-pare/
Referensi foto :
http://plantamor.com/species/info/momordica/charantia

Photos from Plants of Paths's post 14/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN KIARACONDONG]

Jalan Kiaracondong merupakan jalan yang cukup panjang di daerah kecamatan Kiaracondong, Jalan ini dikenal juga dengan Jalan Ibrahim Adjie. Jalan ini dimulai dari perempatan Jalan Soekarno Hatta menuju arah utara hingga ke Jalan Jakarta (Antapani). Asal usul nama jalan ini berasal dari sebuah pohon kiara yang sangat besar namun posisinya tidak tegak melainkan condong, namun tidak pernah roboh. Akhirnya orang orang menyebut daerah itu dengan daerah Kiaracondong.

Beringin cekik atau Beringin akar lilit (Ficus annulata) adalah salah satu tumbuhan khas Indonesia. Pohon beringin cekik ini bisa ditemui dihampir seluruh wilayah nusantara, dan yang paling terkenal adalah pohon beringin cekik di Taman Nasional Ujung Kulon. Di setiap daerah di Indonesia menyebut pohon beringin cekik dengan macam-macam nama, seperti Bulu atau Ara Susu (Kalimantan), Kiara Bodas atau Kiara Oneng (Sundah), dan Grasak (Jawa). Sedangkan di negara berbahasa Inggris, pohon beringin cekik dikenal dengan nama Strangler Fig.

Beringin cekik termasuk tanaman dikotil atau berbelah dua. Seperti halnya tanaman dikotil lainnya, akar beringin cekik tergolong akar tunggang dan berwarna coklat. Bentuk fisik pohon beringin cekik serupa dengan beringin yang umum tumbuh di sekitar kita (Ficus benjamina), dan yang membedakan antara beringin biasa dan beringin cekik adalah struktur perakarannya. Struktur anatomi akar beringin cekik hampir mirip dengan struktur anatomi batangnya. Akar-akar dari beringin cekik tumbuh menjalar dan mengikat bagian batang pohonnya. Tak sedikit p**a yang tumbuh bersatu dengan pohon lain, dan pohon tersebut menjadi sasaran lilitan akar beringin cekik.

Beringin cekik dapat hidup secara epifit (menempel pada pohon lain), dan pohon yang ditumpangi oleh beringin cekik biasa disebut dengan istilah pohon inang. Tumbuhnya beringin cekik yang menempel pada pohon inang ternyata tidak hanya menempel saja, namun lama kelamaan akarnya akan tumbuh membesar dan melilit tanaman inangnya, bahkan dapat melilit hingga rapat. Jadi selain melilit beringin cekik juga mengambil nutrisi dari pohon yang diinanginya dan perlahan mematikan pohon inangnya.

Klasifikasi Tanaman Kiara/Beringin Pencekik
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Moraceae
Species : Ficus annulata (i)
Nama Lokal : Pohon Kiara/Beringin pencekik.

Referensi Materi:
https://www.ciriciripohon.com/2020/01/ciri-ciri-pohon-beringin-cekik-di-alam-liar.html
Referensi Foto Ficus annulata (Pohon Kiara/Beringin Pencekik):
http://plantamor.com/species/info/ficus/annulata

Photos from Plants of Paths's post 14/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN JATI]

Jalan Jati terletak di daerah kecamatan Lengkong, nama jalan ini diambil dari sebuah pohon yang sudah sering dimanfaatkan sebagai bahan baku mebel, yaitu pohon jati. Pohon jati merupakan jenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi dengan pohon yang besar, batang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi antara 30-40 meter. Selain itu juga memiliki daun besar yang gugur di musim kemarau.

Tanaman yang memiliki nama ilmiah Tectona grandis ini dapat digunakan sebagai bahan pembuatan perahu, flooring, furniture, lemari, alat music, bantalan rel kereta api, tiang jembatan, gelagar rumah dan lain sebagainya.

Tanaman pohon jati merupakan tanaman dengan pohon yang besar, tinggi dan berkualitas karena daya tahan dan stabilitasnya. Pohon jati dapat tumbuh dengan tinggi mencapai 30 sampai 45 meter dan dengan diameter sekitar 200 cm.
Berikut ini adalah ciri-ciri dari pohon jati, antara lain:
• Kayu dari pohon jati ini kuat dan besar dengan diameter sekitar 200 cm
• Pohon jati ini awet jika digunakan untuk pembuatan barang
• memiliki kulit kayu berwarna coklat kuning keabuan dengan tekstur pecah-pecah menurut alur memanjang, lepas dan bersisik.
• Daunnya berhadapan, berpucuk lancip serta bertangkai pendek dengan bagian atas daun berwarna hijau kasar. Sedangkan bawah daun berwarna hijau kekuning-kuningan dan berbulu halus serta diantaranya rambut-rambut merah mengembang jika disobek atau dirusak daunnya akan menjadi merah.
• Biasanya pohon jati setiap tahun akan berbunga dengan lebat mulai pada awal musim hujan dan apabila air cukup dapat berbunga di musim kering (pada daerah aliran sungai).

Klasifikasi Tanaman Jati:
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Verbenaceae
Species : Tectona grandis (i)
Nama lokal : Jati.

Referensi Materi:
https://tanahkaya.com/pohon-jati/
Referensi Foto Tectona grandis (Jati):
http://plantamor.com/species/info/tectona/grandis

Photos from Plants of Paths's post 14/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN KEMBANG SAPATU]

Jalan Kembang Sepatu merupakan jalan yang terletak di kecamatan Batununggal. Kembang sepatu sendiri merupakan sejenis tanaman hias yang cukup populer di Indonesia. Bunga Kembang Sepatu dengan nama latin Hibiscus rosasinensis sebenarnya adalah jenis tumbuhan semak. Flora ini berasal dari kawasan Asia Timur, kemudian tersebar dan tumbuh di daerah iklim tropis dan sub tropis. Daya tarik dan keunikan dari bunga sepatu adalah ukuran kelopak bunganya yang besar dengan warna sangat cerah. Beberapa warna bunga sepatu antara lain merah tua, putih, kuning, oranye, dan merah muda.

Bunga sepatu mampu tumbuh cukup tinggi, yaitu 2 hingga 5 meter. Namun yang biasa kita lihat di taman ialah tanaman yang selalu dirapikan agar tetap tampak indah sehingga pertumbuhannya tidak maksimal dan ukurannya tidak terlalu tinggi. Daun tanaman kembang sepatu berbentuk oval atau bulat telur. Ukurannya tidak terlalu besar, dengan bagian ujung yang meruncing. Bunga kembang sepatu terdiri dari 5 buah kelopak. Lalu terdapat kelopak tambahan yang berfungsi melindungi kelopak bagian dalam bunga. Struktur ini membuat bunga kembang sepatu terlihat terdiri dari beberapa lapisan. Tangkai putiknya berbentuk silinder memanjang. Sementara tangkai sarinya berbentuk oval dengan taburan serbuk sari.

Bentuk bunga sepatu menyerupai terompet dengan ukuran cukup besar, yaitu dengan diameter sekitar 6 cm hingga 20 cm. Arah mekar bunga kembang sepatu menghadap ke atas, ke samping, atau bahkan ke bawah. Pada umumnya, tanaman ini steril sehingga tidak menghasilkan buah. Cara mengembangbiakkan atau budidaya kembang sepatu adalah dengan teknik cangkok, penempelan, serta stek. Di daerah tropis seperti Indonesia, bunga kembang sepatu dapat terus berbunga sepanjang tahun. Begitu p**a jika ditaamn di rumah kaca. Namun di daerah sub tropis, kembang sepatu hanya akan berbunga di musim panas hingga musim gugur.

Klasifikasi Tanaman Kembang Sepatu:
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Malvaceae
Species : Hibiscus rosasinensis (i)
Nama Lokal : Kembang sepatu.

Referensi Materi dan Foto:
https://rimbakita.com/bunga-sepatu/

Photos from Plants of Paths's post 14/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN CARINGIN]

Jalan Caringin berlokasi di kecamatan Babakan Ciparay, Jalan ini cukup panjang, membentang diantara Jalan Raya Kopo hingga Jalan Holis. Asal usul Jalan Caringin ini berasal dari pohon beringin yang berada di jalan tersebut. Pohon itu sudah ada sejak dahulu kala namun sekarang dikabarkan sudah tidak ada.

Tanaman beringin sendiri merupakan salah satu spesies dari familia Moraceae dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pohon nangka. Pohon ini memiliki banyak keunikan mulai dari akar gantung dan buahnya yang semu. Pohon Beringin sendiri sering ditemukan di tengah alun-alun suatu daerah dan biasanya memiliki umur yang tak lagi muda.

Akar beringin merupakan akar berjenis tunggang yang dapat menopang pohon tersebut dengan baik. Akar pohon ini berbentuk seperti jaring dan memiliki fungsi sebagai jaring pengaman nutrisi. Batang beringin berbentuk silindris seperti pohon pada umumnya, bertekstur kasar dengan percabangan sympodial. Artinya, pohon tersebut memiliki batang dengan tipe batang yang bercabang banyak atau tidak seperti memiliki satu batang utama. Bentuk daun beringin sendiri adalah ovalis, ujung runcing dengan pangkal tumpul. Bertipe daun tunggal berseling (alternate) dan bertulang daun menyirip.

Bunga dari pohon akar gantung ini merupakan bunga tunggal yang tumbuh di ketiak daun (cauliflora). Bentuk tangkainya silindris dengan kelopak seperti corong berwarna hijau. Bentuk mahkota bulat dan berwarna kuning kehijauan, benang sari dan putiknya pun berwarna kekuningan. Buah beringin merupakan buah semu (fig) yang dapat digunakan sebagai pakan satwa, berbentuk bulat dan berwarna hijau saat muda.

Tajuk Pohon Beringin berbentuk bulat melebar, sehingga pohon ini sendiri sering digunakan sebagai tempat berteduh karena rindang. Pohon ini memiliki tinggi berkisar antara 15-25 meter. Masih banyak Pohon Beringin yang memiliki tinggi pohon lebih tinggi dari itu di alam bebas. Pohon yang memiliki akar gantung ini merupakan pohon yang memiliki diameter mencapai 2 meter. Berdasarkan ukurannya, pohon berakar gantung ini termasuk pohon berukuran besar, apalagi pohon yang sudah berumur tua.

Klasifikasi Tanaman Caringin/Beringin:
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Moraceae
Species : Ficus benjamina (i)
Nama lokal : Beringin/Waringin.

Referensi Materi:
http://plantamor.com/species/info/ficus/benjamina
Referensi Foto Ficus benjamina (Beringin/Waringin):
https://foresteract*com/pohon-beringin/

Photos from Plants of Paths's post 14/12/2020

[ASAL USUL NAMA JALAN KACAPIRING]

Jalan Kacapiring terletak di kecamatan Batununggal, tepatnya dekat dengan Jalan Laswi. Nama dari jalan ini diambil dari nama tanaman kacapiring. Kacapiring adalah tanaman perdu yang dapat tumbuh menahun dari suku kopi-kopian atau Rubiaceae. Bunganya berwarna putih dan sangat harum, mirip seperti bunga melati meskipun tidak memiliki kekerabatan langsung dengan tanaman Melati.

Tanaman ini memilki ciri daun kecil, banyak cabang dan batang, di sela cabang dan daun kerap kali muncul bunga berwarna putih yang menebarkan harum yang khas. Bunga kacapiring ini sulit didapatkan dan hanya mampu berbunga pada saat-saat tertentu, keunikan inilah yang membuat tanaman dan kebun semakin indah.

Bunganya hanya muncul sekuntum di ujung-ujung tangkai. Ketika baru saja mekar bunganya berwarna putih bersih, tetapi lama kelamaan berubah warna menjadi krem kekuningan. Buahnya berwarna kuning dengan kelopak yang masih menempel berbentuk oval dan tidak akan retak walaupun sudah matang dan kering. Di Bali, tanaman ini dikenal dengan nama jempiring yang merupakan maskot kota Denpasar. Pada umumnya, bunga ini digunakan untuk ramuan membuat minyak wangi.

Klasifikasi Tanaman Kacapiring
Divisio : Magnoliophyta
Familia : Rubiaceae
Species : Gardenia jasminoides (i)
Nama Lokal : Kacapiring.

Referensi Materi dan Foto:
http://krbogor.lipi.go.id/id/Manfaat-Bunga-Kacapiring-Gardenia-augusta.html

14/12/2020

Jalan Binong Jati di Bandung berasal dari nama tanaman lhoo.. Tanaman apakah itu?

Yuk kenalan dengan tanaman tersebut.
Penjelasan terkait ada di postingan sebelumnya ya. Semoga bermanfaat ❤

Photos from Plants of Paths's post 14/12/2020

Apakah kamu pernah mendengar nama Jalan Binong Jati?
Jalan Binong Jati merupakan nama salah satu jalan di Bandung lhoo... Tepatnya di Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat. Nah, nama jalan ini diambil dari nama salah satu tumbuhan. Apakah itu? Yap, betul. Tumbuhan Binong atau Winong. Pepatah menyebutkan bahwa “tak kenal maka tak sayang”. Oleh karena itu kita perlu mengenal terlebih dahulu mengenai tumbuhan Binong tersebut. Berikut ini klasifikasi tumbuhan Binong:

Divisio : Magnoliophyta
Familia : Tetramelaceae
Species : Tetrameles nudiflora
Nama Lokal : Binong/Winong.

Nah setelah mengenal klasifikasinya, kita perlu melakukan PDKT yang lebih dalam nih, yaitu dengan mengenal juga ciri-cirinya. Ciri-ciri tumbuhan Binong adalah sebagai berikut:
1. Binong berhabitus pohon dengan ketinggian dapat mencapai 45 meter dan diameter batang 2 meter. Batang silindris, monopodial. Kulit batang berwarna abu-abu, kadang mengkilap dan berlekuk.
2. Binong memiliki akar banir yang cukup tinggi. Tajuk pohon membulat dengan sistem percabangan yang lebar.
3. Daun Binong bertipe tunggal, berbentuk hati. Tepi daun
bergerigi. Ujung daun runcing. Pangkal daun membelah dangkal,
warna hijau, permukaan halus, tulang daun menyirip, serta
tangkai daun yang cukup panjang.
4. Bunga bertipe majemuk dalam bulir, berumah dua, terdapat bulir bunga jantan dan bulir bunga betina. Bunga jantan muncul diujung ranting, sedangkan betina muncul dibawahnya. Bunga jantan dan betina ketika masih muda berwarna hijau dan ketika sudah tua akan berwarna coklat.
5. Buah berbentuk bulat telur lonjong.

Informasi Tambahan:
Kayu binong mempunyai sifat yang ringan dan lunak serta serat kayunya bertekstur halus dengan warna coklat muda kompak. Kayu binong berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi ringan, peti kemas, kertas, serta pembuatan kerajinan seperti alat musik gitar, furniture, dan lain-lain.

Referensi Materi:
http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/pohon-winong

Referensi Foto Tetrameles nudiflora (Kepundung/Menteng):
https://sites.google.com/site/efloraofindia/species/m---z/t/tetramelaceae/tetrameles/tetrameles-nudiflora

Want your school to be the top-listed School/college in Bandung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Bandung