Sampaikan Walau 1 AYAT

Sampaikan Walau 1 AYAT

Share

Husnul Khotimah

26/05/2023

JENIS PENYAKIT HATI DALAM ISLAM

Saat menyebut atau membahas mengenai penyakit hati dalam perspektif Islam, biasanya yang dimaksud bukanlah penyakit hati jasmaniah seperti penyakit hepatitis, liver, sirosis, dan sebagainya.

Dalam Islam, PENYAKIT HATI memiliki dua makna. Yang dimaksud dengan penyakit hati dalam Islam lebih kepada kerusakan pandangan dan keinginan seseorang terhadap realita atau kebenaran yang ada di hadapannya.

Menurut al-Ghazali, melansir dari Jurnal Bimbingan Konseling Islam, istilah kalbu yang menunjuk kepada jantung atau hati (heart) dapat bermakna hati fisik (jasmaniah) yang menjadi pusat peredaran darah dan hati spiritual (batiniah) yang menjadi pusat perasaan, dalam arti PERASAAN HALUS (LATHIFAH).

HATI SPIRITUAL menunjuk kepada keadaan bolak balik dalam menentukan keputusan, memelihara jiwa dengan memberikan cahaya dan kearifan. Hati fisik sangat besar pengaruhnya pada kesehatan badan dan hati spiritual besar pengaruhnya pada KESEHATAN JIWA.

Penyebab Penyakit Hati dalam Islam
“Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam Keadaan kafir.” (QS. At-Taubah [9] : 125)

Sakitnya hati merupakan kerusakan yang menimpanya, yang merusak pandangan dan keinginannya terhadap kebenaran. Seseorang yang berpenyakit hati tidak melihat kebenaran sebagai kebenaran, mengutip Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam buku Thibbul Qulub: Klinik penyakit Hati.

Mereka cenderung melihatnya sebagai sesuatu yang tidak sesuai dari hakikat sebenarnya atau pengetahuannya tentang kebenaran menjadi berkurang dan merusak keinginannya terhadapnya, sehingga ia membenci kebenaran yang bermanfaat atau mencintai kebatilan yang membahayakan.

Abdul Aziz dalam bukunya yang berjudul Kesehatan Jiwa: Kajian Korelatif Pemikiran Ibnu Qayyim dan Psikologi Modern membagi empat faktor penyebab gangguan jiwa, yaitu:
1. Mengabaikan pikiran
2. Fitnah syubhat dan syahwat
3. Dosa dan maksiat
4. Gelisah, bingung dan sakit

Muhammad Asy-Syanawi mengatakan bahwa sebenarnya manusia tidak akan terganggu dengan adanya nilai dan moral, seperti yang diungkapkan sebagian orang, melainkan perilaku akan terganggu jika manusia menjauh dari nilai dan moral.

Oleh karena itu, perilaku yang menyimpang dari tujuan dan tugas utamanya merupakan sumber gangguan yang bermuara pada sikap menjauhi agama dan ajaran-ajarannya. Seseorang yang diserang penyakit hati kepribadiannya cenderung terganggu, menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemanya.

Seringkali, orang yang sakit jiwa tidak merasa bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya normal, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari yang lain.

PENYAKIT HATI dalam PERSPEKTIF ISLAM
Dalam perspektif Islam, penyakit hati seringkali diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti dengki, iri hati, arogan, emosional, dan sejenisnya.

Mengutip Dr. HM. Zainuddin, MA dalam Penyakit Hati dan Cara Pengobatannya, Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi membagi penyakit hati dalam sembilan bagian, yaitu:
1. pamer (riya’),
2. marah (al-ghadhab),
3. lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah),
4. was-was (al-was-wasah),
5. frustrasi (al-ya’s),
6. rakus (tama’),
7. terperdaya (al-ghurur),
8. sombong (al-ujub),
9. dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).

Beberapa sifat tercela di atas memiliki relevansi dengan penyakit jiwa. Sebab, dalam kesehatan mental (mental hygiene) sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi, biasanya para penderitanya memiliki salah satu sifat-sifat buruk tersebut sebagai tanda bahwa ia memang sedang sakit jiwa.

JENIS PENYAKIT HATI dalam ISLAM
Menurut pemikir-pemikir Islam, jenis penyakit hati antara lain berbentuk riya, hasad, dengki, rakus, was-was, tamak dan sebagainya. Berikut beberapa penjelasan mengenai jenis penyakit hati dalam Islam, mengutip Syaikh Ahmad Farid dalam buku Manajemen Qalbu Ulama Salaf:

1. RIYA
Penyakit hati dalam Islam yang pertama adalah riya. Dalam penyakit riya, terdapat unsur penipuan terhadap diri sendiri dan juga orang lain, karena pada hakikatnya ia mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Dalam riya, terdapat unsur kepura-puraan, munafik, seluruh tingkah-lakunya cenderung mengharap pujian orang lain, senang kepada kebesaran dan kekuasaan. Sifat ini digambarkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’:142 dan at-Taubah:67 dan juga hadits Nabi: "Yang paling aku kuatirkan terhadap umatku adalah riya’ dan syahwat yang tersembunyi".

Riya ada yang jelas dan ada yang samar. Riya yang jelas adalah riya yang menjadi pemicu dan pendorong bagi seseorang untuk mengerjakan sesuatu, meskipun ia juga mengharapkan pahala.

Sedangkan riya yang samar adalah riya yang tidak menjadi pendorong seseorang untuk berbuat, selain membuat pekerjaan yang ditunjukan untuk meraih ridha Allah terasa ringan. Misalnya, orang biasa sholat tahajud setiap malam dan terasa berat, tetapi ketika ada tamu di rumahnya ia menjadi giat salat tahajud dan terasa ringan.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya” (QS. Al-Maa‟uun [107] : 4-6)

2. SOMBONG
Penyakit hati dalam Islam yang kedua adalah sombong. Sombong merupakan penyakit hati yang sangat buruk. Orang yang sombong enggan menerima kebenaran, menolaknya dan memandang rendah terhadapnya. Dan hal itu terjadi karena adanya perasaan tinggi hati dan agung (sombong).

Ada beberapa ayat yang membicarakan penyakit sombong, salah satunya dalam surat al-A'raf ayat 136:

“Kemudian Kami menghukum mereka, Maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.” (QS. Al-A‟raf [7]: 136).

Adapun hal-hal yang di sombongkan biasanya antara lain; menyombongkan ilmu pengetahuan, status sosial dan nasab, kekayaan, menyombongkan pengikut, pendukung dan golongan.

Kesombongan bisa terjadi pada gerak-gerik seseorang seperti memalingkan muka, memandang sebelah mata (sinis) atau pada ucapannya hingga suara dan nada bicaranya. Kesombongan tidak bisa hilang hanya dengan angan-angan, melainkan dengan proses pengobatan yang membutuhkan dua tahap.

Tahap pertama, cara mengatasinya harus dilakukan secara ilmiah dan praktis secara simultan. Pengobatan secara ilmiah dilakukan dengan mengenali diri sendiri dan mengenali sifat-sifat rabbnya. Tahap kedua, yaitu mengusir gejala sombong yang tiba-tiba muncul akibat hal-hal yang bisa memicu kesombongan.

3. UJUNG atau BANGGA HATI
Penyakit hati dalam Islam yang ketiga adalah ujub atau bangga hati. Ketahuilah bahwa ujub atau bangga hati adalah perbuatan yang dicela di dalam kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. seperti dalam firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. al-Baqarah [2]: 264).

Menyebut-nyebut adalah akibat dari sikap menganggap besar amal perbuatan dan itu termasuk ujub. Ujub dapat menyeret kepada sifat sombong. Orang yang memiliki sifat ujub tertipu dengan diri dan pendapatnya sendiri, merasa aman dari siksa Allah, merasa memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan tidak mau mendengar nasihat atau petuah dari orang lain.

Hal ini dapat membawa kehancuran yang nyata. Manusia hendaknya memohon kepada Allah agar diberi pertolongan yang baik untuk taat kepada-Nya. Maka obatnya adalah pengetahuan yang bisa melawan ketidaktahuan tersebut.

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. an-Nisa‟ [4]: 79).

4. IRI HaYti dan DENGKI
Penyakit hati dalam Islam yang ke empat adalah iri hati dan dengki. Iri hati dan dengki adalah gejala-gejala luar yang kadang menunjukkan perasaan dalam hati. Namun, gejala-gejala tersebut tidak mudah untuk diketahui karena seseorang akan berusaha semaksimal mungkin menyembunyikannya.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa rasa iri muncul akibat kegagalan seseorang dalam mencapai suatu tujuan. Oleh sebab itu, emosi ini sangat kompleks dan pada dasarnya terdiri atas rasa ingin memiliki. Meski demikian, tidak benar juga mengumpamakan rasa iri sebagai kump**an dari rasa marah, rasa ingin memiliki dan rasa rendah diri. Iri dan dengki memiliki karakteristiknya sendiri.

Dan di antara gejala-gejala yang nampak adalah marah dengan segala bentuknya mulai dari memukul, mencela, menghina, membuka rahasia orang lain, dan seterusnya.
As-Syarqawi mejelaskan bahwa emosi ini secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua macam, yakni:
1. Iri yang melahirkan kompetisi sehat (al-munafasah);
2. Iri yang melahirkan kompetisi tidak sehat (al-hiqd wal hasad).

Iri yang pertama merupakan kompetisi sehat untuk meniru hal-hal positif yang dimiliki orang lain tanpa didasari oleh niat jahat dalam rangka fastabiqul khairat. Iri dalam jenis ini merupakan sesuatu yang diharuskan bagi setiap muslim berdasarkan firman Allah:
“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan”. (Q.S. al-Maidah: 48).

Sementara, iri yang kedua lebih didasarkan oleh rasa benci terhadap apa-apa yang dimiliki oleh orang lain, baik yang berkaitan dengan materi maupun yang berhubungan dengan jabatan/kedudukan. Iri jenis ini, menurut As-Syarqawi cenderung memunculkan sikap antipati dan bahkan melahirkan sikap permusuhan terhadap orang lain. Kemunculannya lebih disebabkan oleh rasa sombong, bangga, riya, dan rasa takut kehilangan kedudukan.

23/08/2022

PERIHAL REZEQI

Allah telah menegaskan bahwa Dia sudah mengatur REZEKI setiap umat-Nya. Allah berfirman:
“Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata.” (QS. Hud: 6)

Boleh saja merasa sedih dan terpuruk karena dagangan sepi dan tidak laku seperti hari-hari sebelumnya. Namun, jangan jadikan perasaan itu sebagai alasan untuk putus asa dan menyerah berikhtiar.
Sebaliknya, jadikanlah momen ini untuk introspeksi diri. Pikirkan kembali apakah pelayanan yang diberikan kepada pelanggan sudah memuaskan atau belum. Selain itu, mungkin saja ujian ini juga merupakan teguran dari Allah karena jarang melibatkan-Nya dalam usaha yang dijalankan.

Dikutip dari Buku Pintar Doa dan Dzikir Rasulullah tulisan Abdullah Zaedan, berikut doa ketika terpuruk usaha, yang bisa dipanjatkan umat Muslim:

اَللّٰهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ اَنْ تَرْزُقَنِىْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَمَشَقَّةٍ وَلاَضَيْرٍ وَلاَنَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ
Allahumma innii as-aluka an'tardzuqanii rizqan halaalan waa singan thoyyaban min wasi'an wa laa masyaqqotin wa laa dhzirin wa laa nashobin innaka 'alaa kulla syaiin qodiir.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar melimpahkan rezeki kepadaku berupa rezeki yang halal, luas, dan tanpa susah payah, tanpa pemberatan, tanpa membahayakan, dan tanpa rasa lelah dalam memperolehnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”

Setelah berdoa dan berusaha secara optimal, pasrahkan segalanya kepada Allooh. Dengan bertawakal, kekhawatiran terhadap Allooh akan terhapus dan semakin dimudahkan dalam mencari rezeki.

1.. Doa Dimudahkan Rezeki

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُك

Allahumma inni ashbahtu usyhiduka wa usyhidu hamalata 'arsyika wa mala'ikatika wa jami'a khalqika annaka antallahu lailaha illa anta wa anna Muhammadan 'abduka wa rasuluka.

"Ya Allah aku berada di waktu pagi bersaksi atas-Mu. Kepada para pembawa Arsy-Mu, kepada semua malaikat, dan kepada semua makhluk, bahwa tiada Tuhan selain Engkau dan Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Mu." (HR. Abu Hurairah)

2. Doa Mohon Rezeki yang Barokah

Allahumma ashlih lii diinii, wa wassi’ lil fii daarii, wa baarik lii fii rizqi.
“Ya Allah, perbaikilah agamaku (yang menjadi pokok urusanku), lapangkan tempat tinggalku, dan berikan keberkahan dalam rezekiku.”

3. Doa agar Selalu Diberi Kecukupan Rezeki

Hasbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil ‘azhiimi.
“Allah telah mencukupkan padaku. Tiada Tuhan melainkan Engkau dan pada-Mu aku berserah diri. Engkau Tuhan yang menguasai Arsy yang besar.”

4. Doa Pembuka Kekayaan

اَللَّهُمَّ يَاغَنِيُّ يَامُغْنِيْ أَغْنِنِيْ غِنًى أَبَدًا وَيَاعَزِيْزُ يَامُعِزُّ أَعِزَّنِيْ بِإِعْزَازٍ عِزَّةَ قُدْرَتِكَ وَيَامُيَ سِّرَاْلأُمُوْرِ يَسِّرْ لِيْ أُمُوْرَ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ يَاخَيْرَ مَنْ يُرْجَى يَا اللهُ

Allahumma yaa ghaniyyu yaa mughnii aghninii ghinan abadan wa yaa aziizu yaa mu izzu a izzanii bi i'zaazi 'izzati qudratika wa yaa muyas siral umuuri yassirlii umuurad dunyaa waddiini yaa khaira man yurjaa yaa allaahu.
“Ya Allah, Engkaulah yang Maha Kaya, berilah kekayaan yang abadi untuk hambamu. Wahai Dzat yang Maha Mulia yang memberikan kemuliaan, berilah kemuliaan kepadaku dengan kemuliaan kekuasaan-Mu. Engkaulah Dzat yang mempermudah semua urusan, berilah kemudahan kepadaku di dalam semua urusan dunia dan agama. Engkaulah Dzat yang paling baik Ya Allah.” (HR. Tirmidzi)

5. Doa agar Dijauhkan dari Kemiskinan

Allahumma innii a’uudzu bika min fitnatin naari wa ‘adzaabin naari wa min fitnatil qabri wa ‘adzaabil qabri wa min syarri fitnatil ghinaa wa min syarri fitnatil faqri wa min syarril masihid dajjaal.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ujian api neraka, siksa neraka, ujian kubur, dan siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari buruknya ujian kaya dan buruknya ujian kemiskinan dan dari jahatnya ujian Dajjal.”

6. Doa agar Terhindar dari Kebangkruatan

Allahumma inni a’uudzu bika min munkaraatil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa-i wal adwaa-i wa a’uudzu bika min ghalabatid dainin wa qahril ‘aduwwi wa syamaatatil ‘ibaad.
“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari rusaknya moral, kejahatan amal perbuatan, hawa nafsu, dan penyakit. Aku juga berlindung kepada-Mu dari banyaknya utang, kekerasan musuh, dan cemoohan para hamba-Mu.”

7. Doa ketika Mengalami Kerugian/Kebangkrutan

Allahumma asyba’ata wa arwaita fahanni’naa wa razaqtanaa fa-aktsarta wa-athabta fazidnaa. Allahumma qanni’nii bimaa razaqtanii wa baarik lii fiihi wakhluf ‘alayya kulla ghaa-ibatin lii bi khairin.
“Ya Allah, Engkau telah mengenyangkan dan menyegarkan, maka berilah kenikmatan kepada kami. Engkau telah memberikan rezeki kepada kami, maka perbanyaklah. Engkau telah membaguskan, maka tambahlah kami. Ya Allah, berilah aku rasa kecukupan terhadap rezeki yang telah Engkau berikan kepadaku dan berkahilah di dalamnya. Berilah ganti setiap sesuatu yang hilang dariku dengan ganti yang lebih baik.”

16/08/2022

Quran Surat Ali ‘Imran Ayat 133

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Arab-Latin: Wa sāri'ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin 'arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u'iddat lil-muttaqīn

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa"

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Dan bersegeralah dengan ketaatan kalian kepada Allah dan rosulNya supaya kalian bisa meraih ampunan yang agung dari tuhan kalian dan surga yang luas, luasnya seluas langit dan bumi, Allah menyiapkannya untuk orang-orang yang bertaqwa.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

133. Segeralah berbuat kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan beragam jenis ibadah, agar kalian mendapatkan ampunan yang besar dari Allah dan masuk ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

133. Hai orang-orang beriman, berlomba-lombalah kalian dalam beramal shalih agar kalian dapat meraih ampunan dari Tuhan atas dosa-dosa kalian, dan masuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allah siapkan bagi orang-orang yang mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

133. وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ

(Dan bersegeralah kamu kepada ampunan)
Ini merupakan perintah bagi orang-orang beriman untuk bergegas dalam menjalankan kebaikan dan tidak menunda-nunda.

عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ

(yang luasnya seluas langit dan bumi)
Keduanya adalah makhluk Allah yang terluas berdasarkan apa yang diketahui hamba-Nya. Lalu bagaimana kalian melakukan perbuatan yang menjadikan kalian diharamkan untuk memasuki surga dengan keluasannya, Padahal surga itu disiapkan untuk orang-orang bertakwa. Lalu kalian memakan harta riba kemudian masuk neraka yang disiapkan untuk orang-orang kafir.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Tatkala Allah memotifasi hamba-Nya dengan syurga-Nya, Dia berfirman :

{ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ }

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga" , tetapi tatkala Dia membolehkan mereka mencari kekayaan dunia, Allah berfirman :

{ فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا }

"maka berjalanlah di segala penjurunya" [al-Mulk : 15], maka tidak seharusnya kedua perkara ini terjadi yang sebaliknya, sehingga ketika mengejar dunia manusia berlomba-loba mengejarnya, dan kepada akhirat mereka bermalas-malasan!

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

133 Dan bersegeralah kamu kepada sebab diberikannya ampunan dari Tuhanmu dengan melakukan taubat dan ketaatan juga bersegera kepada apa yang menjadikan Allah ridho dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa: yaitu orang-orang yang menjauhi maksiat dan maksiat yang besar yaitu riba.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Dan berlomba-lombalah kepada keampunan dari Tuhan kamu dan surga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang berbakti.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

133. Kemudian Allah memerintahkan mereka untuk segera menuju ampunaNYa dan menggapai syurgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu bagaimana dengan kadar panjangnya yang disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa? Mereka itu adalah penghuni-penghuninya dan perbuatan-perbutan ketakwaanlah yang akan menyampaikan kepadanya.

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Setelah diperintahkan taat kepada Allah dan nabi Muhammad, umat islam diperintahkan juga untuk berlomba meningkatkan kualitas ketakwaan. Dan bersegeralah kamu dengan saling mendahului untuk mencari ampunan dari tuhanmu dengan menyadari kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mengerjakan amalan-amalan yang diridai Allah untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Mereka adalah orang yang terus-menerus berinfak di jalan Allah, baik di waktu lapang, mempunyai kelebihan harta setelah kebutuhannya terpenuhi, maupun sempit, yaitu tidak memiliki kelebihan, dan orangorang yang menahan amarahnya akibat faktor apa pun yang memancing kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan akan sangat terpuji orang yang mampu berbuat baik terhadap orang yang pernah berbuat salah atau jahat kepadanya, karena Allah mencintai, melimpahkan rahmat-Nya tiada henti kepada orang yang berbuat kebaikan. Pesan-pesan yang mirip dengan kandungan ayat ini disampaikan p**a melalui surah an-nahl/16: 126; asy-syura'/42: 40

09/08/2022

TOLONG MENOLONG DALAM KEMAKSIATAN

Bagian dari sunnatullah, pelaku maksiat akan saling tolong-menolong dalam kemaksiatan. Sebagaimana pelaku kebaikan akan saling membantu dalam kebaikan. Iblis dan bala tentaranya, mereka saling membantu dalam maksiat.
Allooh berfirman,
"Demikianlah Kami jadikan adanya musuh bagi tiap-tiap nabi, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu." (QS. al-Anam: 112).

Orang-orang yang lemah iman, cenderung lebih memihak perkataan yang menipu itu. Allooh nyatakan di lanjutan ayat, "Agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman dengan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan." (QS. al-Anam: 113).

Sebagaimana hal ini juga dilakukan antar sesama orang munafiq. Allooh berfirman, "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka saling menyuruh membuat yang munkar dan saling melarang berbuat yang maruf dan mereka menggenggamkan tangannya (sangat pelit)." (QS. At-Taubah: 67).

Sebenarnya kita tidak perlu terlalu heran, ketika kebijakan semacam ini keluar dari orang kafir. Karena tabiat mereka yang menyimpang dari fitrah sucinya. Dalam al-Quran, Allooh menyebut mereka Syarra ad-Dawab (makhluk yang paling jelek). Kufur, tidak mau beriman dan tabiatnya buruk.

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allooh ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman." (QS. al-Anfal: 55)

09/08/2022

MAKNA HAKIKI BEKERJA DAN REZEKI

BEKERJA merupakan hal mendasar dalam kehidupan. Hidup manusia dapat berjalan baik jika setiap orang mau bekerja, baik untuk kepentingan individu ataupun kepentingan sosial.

Dengan BEKERJA, seseorang dapat membangun kepercayaan dirinya. Seseorang yang bekerja tentu berbeda dengan orang yang tidak bekerja sama sekali atau pengangguran dalam masalah pencitraan dirinya. Bahkan dengan bekerja, seseorang akan merasa terhormat di hadapan orang lain. Karena dengan hasil tangannya sendiri, mereka mampu bertahan hidup. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan seorang pengemis yang selalu meminta belas kasih orang lain. Bekerja malahan akan menaikkan derajat suatu bangsa di hadapan bangsa lain.

Bahkan, bekerja dalam pandangan Islam selalu dikaitkan dengan masalah keimanan. Banyak kalam Allah SWT yang menyebutkan bahwa pembahasan tentang BEKERJA dengan cara terbaik (AMAL SALEH) selalu disandingkan dengan keimanan kepada Allah SWT.
Masalah keimanan selalu diletakkan di awal kalimat sebelum amal saleh. Dalam Al-Quran Surat Al-‘Ashr ayat 1 – 3, yang artinya, : 1. Demi masa ; 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian ; 3. Kecuali orang-orang yang BERIMAN dan MENGERJAKAN AMAL SALEH dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 105 yang artinya : “BEKERJALAH kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat PEKERJAANMU itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu KERJAKAN.”

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, BEKERJA disejajarkan dengan KEIMANAN, sekaligus sebagai wujud dari keimanan itu sendiri. Hal ini p**alah yang memberikan pemahaman bahwa bekerja hendaknya berada dalam bingkai keimanan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Insyiqaaq ayat 6 yang artinya : “Sesungguhnya kamu telah BEKERJA dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”

Dalam Islam, BEKERJA bukan sekadar untuk mendapatkan materi, tetapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu. Bekerja sebagai upaya mewujudkan firman Allah sebagai bagian dari keimanan. Dengan demikian, bekerja merupakan aktivitas yang mulia. Dengan bekerja, seseorang dapat melaksanakan perintah-perintah Allah SWT lainnya, seperti zakat, infak, dan sedekah. Bahkan Rasulullah SAW menempatkan posisi terhormat bagi mereka yang berinfak dari hasil kerjanya sendiri. Sabda Rasulullah SAW : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”

Malahan mereka yang bekerja atas dasar niat untuk MENAFKAHI keluarganya dikategorikan sebagai MUJAHID (pejuang) di jalan Allah. Allah SWT pun menempatkan mereka sebagai SYAHID (dunia) apabila meninggal saat bekerja untuk mencari penghidupan yang terbaik bagi keluarganya. Sabda Rasulullah SAW : 👉“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang BEKERJA dan barangsiapa yang BEKERJA KERAS untuk keluarganya, maka ia seperti MUJAHID di JALAN ALLAH Allah.” (HR. Ahmad)👈

Dalam Islam, BEKERJA juga merupakan WUJUD SYUKUR akan nikmat dan karunia ALLOH. Selain itu, bekerja juga sangat dianjurkan, karena dapat menjaga wibawa dan kehormatan diri. Dengan bekerja, seseorang tak kan meminta-minta dan mengharapkan pemberian orang lain. Allah SWT dan Rasul-Nya melarang para peminta-minta, yaitu mereka yang tidak bekerja dan hanya berpangku tangan. Ibnu Mas’ud mengatakan : “Saya amat benci melihat seorang laki-laki yang menganggur, tidak ada usahanya untuk kepentingan dunia dan tidak p**a untuk kepentingan akhirat.”

Bekerja di dunia merupakan salah satu jembatan menuju akhirat. Karena itu, bekerja bukan semata-mata mencari penghidupan dunia. Cara kerja kita akan menentukan, apakah kita akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat atau tidak? Maka, setiap langkah KERJA kita akan dimintai PERTANGGUNGJAWABANNYA di hadapan ALLOOH TA'ALA kelak.

Allah berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 77, yang artinya : “Dan CARILAH pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (KEBAHAGIAAN) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) DUNIAWI dan BERBUAT BAIKLAH (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya ALLOOH tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Begitu banyak kalam ALLOOH dan hadits Rasulullah yang secara khusus memberikan motivasi untuk bekerja. Bekerja dengan cara terbaik demi mendapatkan rezeki halal dan penghidupan terbaik. Di antaranya dalam Al-Quran Surat Al-Jumu’ah ayat 10, yang artinya : “Apabila telah ditunaikan SHOLAT, maka BERTEBARAN-LAH kamu di muka bumi ; dan carilah KARUNIA Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Juga hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Baihaqi : “Sesungguhnya Allah senang jika salah seorang di antara kamu MENGERJAKAN sesuatu PEKERJAAN yang dilakukan secara professional.” (HR. Baihaqi)

Banyak orang MEMAKNAI rezeki begitu sempit, yaitu sekadar uang atau materi. PEMAHAMAN yang umum melekat adalah rezeki merupakan hasil kerja seseorang dan bukanlah pemberian dari Sang Pemilik Rezeki. Ketika kita mendapatkan KESEHATAN yang baik, masih bisa MENGHIRUP udara dengan bebas, mata masih bisa MELIHAT dengan jernih, telinga masih bisa MENDENGAR dengan jelas, mulut masih bisa BERBICARA dengan indah, TANGAN masih bisa digerakkan, dan KAKI masih bisa diayunkan untuk melangkah, seakan semua kenikmatan itu bukanlah sebuah rezeki.

Semua itu hanya dianggap sebuah kewajaran biasa. Padahal, di saat salah satu bagian tubuh tidak dapat difungsikan dengan baik, tentu akan banyak mengeluarkan biaya untuk menormalkannya kembali. Untuk itu, tidakkah sesungguhnya kesehatan yang melekat pada diri merupakan REZEKI TERBESAR (setelah keimanan) dari ALLOOH TA'ALA?

Tetapi kebanyakan manusia tidak memahami dan menyadarinya. Untuk itulah, Rasulullah SAW bersabda : “DUA HAL yang sering manusia lupakan adalah KESEHATAN dan KESEMPATAN.”

REZEKI menurut para ulama ialah apa saja yang bisa dimanfaatkan (dipakai, dimakan atau dinikmati) oleh manusia. REZEKI dapat berupa uang, makanan, ilmu pengetahuan, rumah, kendaraan, pekerjaan, anak-anak, istri, kesehatan, ketenangan, serta segala sesuatu yang dirasa nikmat dan membawa manfaat bagi manusia. REZEKI merupakan kelengkapan hidup yang pasti Allah karuniakan kepada mahluk hidup di dunia, khususnya manusia. Sebagaimana ajal, keberadaan rezeki telah dijamin Allah SWT. Tidak ada manusia yang hidup di dunia tanpa dilengkapi rezeki.

Sayangnya, kebanyakan orang memahami rezeki sebagai harta dan materi belaka. Bahkan, lebih sempit lagi, yaitu berupa uang. Dengan demikian, muncul anggapan bahwa jika seseorang tidak memiliki uang berarti dia tidak mendapatkan rezeki. Begitu p**a jika seseorang bekerja dan hanya mendapatkan sejumlah kecil uang, dianggap hanya mendapat sedikit rezeki. Sementara itu, pengalaman masa kerja, kebahagiaan, dan lain sebagainya tidak dianggap sebagai sebuah rezeki.

Ada p**a pemahaman masyarakat bahwa peluang tempat untuk mengais rezeki hanya dengan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sementara pekerjaan selain PNS bukanlah tempat yang layak untuk mendapatkan rezeki. Ini merupakan pemahaman yang keliru. Padahal, dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan, 99 PINTU REZEKI MANUSIA DIPEROLEH dari BERDAGANG.

Banyak kalangan memiliki pemahaman berbeda terhadap makna rezeki ini. Pemahaman makna tersebut akan menentukan cara seseorang dalam memperlakukan rezeki yang ada padanya.



Berikut ini tiga model pemahaman tentang makna rezeki :

Sebagian orang memahami bahwa rezeki yang didapat menjadi miliknya sepenuhnya. Tidak ada campur tangan pihak lain dalam mendapatkan rezeki tersebut, baik orang lain ataupun Allah SWT. Baginya, segala sesuatu yang diperoleh adalah hasil kerja kerasnya semata. Orang yang berpaham demikian jauh dari rasa syukur dan sangat sulit untuk membagi rezekinya dengan orang lain. Bagi mereka, berbagi hanya akan mengurangi rezeki yang dimiliki. Mereka tidak sadar bahwa segala sesuatu sesungguhnya hanya milik Allah SWT.
Para ulama memahami makna rezeki sebagai atho’ atau pemberian. Makna tersebut merupakan makna dasar dari kata ar-rizqu dalam bahasa Arab. Dengan pengertian atho’, segala rezeki yang diperoleh seseorang di dunia adalah semata-mata pemberian Allah SWT. Rezeki bukanlah hasil kerja dari seseorang. Sementara, kerja hanyalah sebatas haal (jalan) atau perantara untuk mendapatkan rezeki. Sedangkan, sebab utama diperolehnya rezeki adalah pemberian dari Allah SWT. Ada banyak perantara bagi seseorang untuk mendapatkan rezeki. Bisa melalui kerja yang dilakukan, melalui orang lain, atau menemukan sesuatu di jalan, dan lain sebagainya. Coba renungkan jika rezeki adalah hasil dari kerja kita, tentunya mereka yang bekerja keras dan banting tulang saja yang mendapatkan hasil banyak. Pemahaman tentang rezeki sebagai pemberian Allah SWT akan memudahkan seseorang untuk memenuhi segala aturan-Nya dan berbagi dengan orang lain.
Pemahaman lainnya adalah rezeki yang dimiliki seseorang semata-mata amanah dari Allah SWT. Sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya. Inilah pemahaman sesungguhnya tentang rezeki. Pemahaman ini akan mengantarkan seseorang pada rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap rezeki. Lantaran, Sang Pemilik Rezeki dapat mengambil kembali semua rezeki, kapan pun Dia berkehendak. Jika seseorang telah memiliki pemahaman ini, tentunya ia tak kan menolak kehendak-Nya dan tak kan membuatnya stress atau bingung. Mereka pun akan berhati-hati dalam mengelola rezekinya. Jangan sampai menyinggung perasaan Sang Pemilik Utamanya. Apa pun kehendak Sang Pemilik Rezeki, tentu akan dipenuhinya dengan senang hati sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang dipercayakan pada dirinya. Kalaupun tidak ada rezeki padanya, mereka paham bahwa –mungkin– itulah yang terbaik menurut Sang Pemilik. Meskipun belum diberi kepercayaan, mereka akan terus berupaya menampilkan yang terbaik dalam kehidupan ini. Seraya selalu mendekatkan diri pada-Nya dan menarik simpati-Nya, sehingga Sang Pemilik mempercayakan rezeki pada dirinya.
Bekerja dengan hati nurani adalah bekerja dengan berlandaskan pada pusat kesadaran manusia, yaitu kalbu. Hati nurani adalah hati yang telah diwarnai atau dipenuhi cahaya kebenaran. Sedangkan kalbu merupakan dasar kefitrahan diri. Pada dasarnya, kalbu cenderung pada panggilan kesucian, kebenaran, dan ketaatan kepada Allah SWT. Dalam bekerja, hendaknya mendengarkan suara hati nurani sebagai pengambil kebijaksanaan.

Penanaman nilai-nilai spiritual di dunia kerja diyakini mampu mendorong munculnya motivasi dan produktivitas kerja yang tinggi atas dasar ibadah. Dengan demikian, pekerjaan yang dilakukan secara ikhlas, tanpa pamrih, penuh kesadaran, bertanggung jawab, bersemangat, dan bersungguh-sungguh karena merasa dinilai Allah SWT, suci bersih dari penyimpangan, penyelewengan dan kebohongan, penuh prestasi, terobsesi untuk selalu menampilkan yang terbaik, serta menjadi teladan, contoh terbaik dalam kebaikan bagi lainnya. Berbagai sikap ini harus dibina dan dikembangkan dalam keseharian kerja kita.

Ketika bekerja dengan kesadaran spiritual, seseorang selalu merasa dilihat, dinilai, dan diawasi Allah SWT, sehingga tidak membutuhkan penilaian dari manusia. Ada atau tidak ada pimpinan yang mengontrol, selalu menampilkan sikap yang terbaik dalam setiap langkah pekerjaannya. Kerja spiritual inilah yang diyakini mampu memotivasi sekaligus menjadi modal utama sebuah kesuksesan dalam pencapaian visi perusahaan atau instansi.

Want your school to be the top-listed School/college in Bandung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Sindangreret-Sukasari-kec Pameungpeuk
Bandung
40376