Sam'an Netra Mulia

Sam'an Netra Mulia Yayasan Sam’an Netra Mulia merupakan sebuah lembaga yang mempunyai perhatian terhadap bidang pendi

Bagi mereka yang tak bisa melihat, bulan Rabiul Awal tidak diukur dari megahnya dekorasi, melainkan dari kedalaman rasa ...
24/08/2026

Bagi mereka yang tak bisa melihat, bulan Rabiul Awal tidak diukur dari megahnya dekorasi, melainkan dari kedalaman rasa dan alunan sholawat yang memenuhi dada.

Sejak kecil, para santri tunanetra di Pesantren Sam'an mengenal Rasulullah bukan dari gambar, melainkan dari cerita dan bisikan lembut Ibu mereka sebelum tidur. Suara sabar Ibulah yang menjadi kompas pertama, mengajari mereka bahwa dunia ini tidak gelap selama ada Al-Qur'an dan sholawat di dalam hati.

Di bulan Rabiul Awal yang penuh berkah ini, mari kita teladani kasih sayang Nabi dengan memuliakan para Ibu dan mendukung perjuangan para santri tunanetra di Sam'an.

Ketik 'CINTANABI' di kolom komentar atau klik link di bio untuk mendukung pendidikan santri tunanetra!

22/08/2026

Kadang, yang paling kita butuhkan bukan penghakiman… tapi kesempatan untuk berubah.

Setelah semua kesalahpahaman, amarah, dan rasa kecewa, akhirnya mereka sadar:
Allah saja Maha Pemaaf dan selalu membuka pintu taubat.

Mereka belajar bahwa tugas seorang saudara bukan memojokkan yang sedang belajar, tetapi membimbing, merangkul, dan menguatkan.

Karena perjalanan menuju cinta Allah bukan hanya tentang menjadi lebih baik sendirian, tetapi juga tentang belajar memaafkan dan mengajak saudara berjalan bersama.

Dari mereka, kita belajar: jangan merasa paling baik. Bisa jadi, kita hanya sedang lebih dulu diberi kesempatan oleh Allah.

Kalau kamu mengikuti kisah mereka dari Part 1 sampai terakhir, apa pelajaran paling berkesan yang kamu dapat? Tulis di kolom komentar

22/08/2026

Tapi santri tunanetra tetap bisa chatting, mengetik, bahkan membuka aplikasi sendiri. Kok bisa?

Bukan sulap. Bukan juga karena mereka bisa melihat layar.

Mereka menggunakan fitur TalkBack, teknologi pembaca layar yang mengubah tulisan dan menu di HP menjadi suara.

Dengan gerakan sederhana seperti swipe satu jari dan double tap, mereka bisa berpindah menu, mengetik pesan, membaca informasi, hingga berkomunikasi seperti biasa.

Bahkan suara TalkBack sengaja dibuat lebih cepat agar informasi bisa diterima dengan lebih efisien.

Teknologi bukan sekadar memudahkan.
Bagi tunanetra, teknologi adalah salah satu jalan menuju kemandirian.

Sekarang coba dengarkan suara TalkBack-nya.
Kamu bisa paham apa yang sedang diketik santri?

Tulis tebakanmu di komentar & SHARE ke temanmu yang belum tahu cara tunanetra menggunakan smartphone!

21/08/2026

Bahasa Inggrisnya percaya diri 100%, grammar-nya… masih butuh perjuangan!
“Don’t go where-where!”
Maksudnya mau bilang “Jangan ke mana-mana”, tapi ternyata bahasa Inggrisnya bikin teman sendiri ikut mikir.

Di balik canda sederhana ini, ada semangat besar para santri tunanetra Sam’an untuk terus belajar. Dari bahasa Inggris, teknologi, hingga menghafal Al-Qur’an Braille, semuanya dijalani dengan semangat dan keceriaan.

Karena belajar bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi tentang siapa yang mau terus mencoba.

Jumat berkah, yuk ikut membersamai pendidikan santri tunanetra Sam’an.
Ketik lik link di bio untuk ikut berbagi hari ini.

20/08/2026

Ternyata, mengenali bumbu dapur juga punya cerita tentang Ibu.

Garam, Bumbu tabur, cengkeh, hingga lengkuas… hanya lewat rabaan dan aroma, santri tunanetra Sam’an mampu menebaknya satu per satu.

Kepekaan itu bukan muncul begitu saja.
Sejak kecil, Ibu adalah sosok pertama yang mengenalkan mereka pada dunia mengajarkan tekstur, mengenalkan aroma, hingga melatih mereka menjadi pribadi yang mandiri.

Kini, jemari yang dulu dibimbing Ibu itu juga meraba setiap titik Al-Qur’an Braille

Di balik setiap kemampuan mereka, ada kasih sayang, kesabaran, dan doa seorang Ibu.

Kalau hari ini Ibu masih bisa mendengar suaramu, jangan hanya kirim pesan. Telepon surgamu.
Sampaikan satu kalimat sederhana:

"Terima kasih, Bu. Untuk semua yang Ibu ajarkan sejak langkah pertamaku."

18/08/2026

- Drama Menuju Cinta Allah
Mereka datang ke pesantren dengan alasan yang berbeda. Tapi ternyata, Allah punya tujuan yang lebih besar.

Syauqy merasa kehilangan kebebasannya.
Ali bahkan hampir tidak mengenal salat.
Haidar takut hidupnya semakin jauh dalam kelalaian.
Fatih merasa pesantren telah mengambil masa depannya.

Namun di hadapan Ustadz Zulfikar, mereka mulai mempertanyakan satu hal:

“Untuk apa sebenarnya kita hidup?”

Allah tidak membutuhkan ibadah mereka.
Justru merekalah yang membutuhkan Allah.

Karena dunia ini hanya tempat singgah. Ada kehidupan yang lebih panjang setelahnya, dan setiap manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.

Mungkin pesantren yang awalnya terasa seperti “penjara” bagi mereka…
justru menjadi jalan pertama menuju cinta Allah.

Kalau kamu berada di posisi mereka, apa yang akan kamu tanyakan kepada Ustadz Zulfikar?

Pelukan seorang ibu bukan sekadar kasih sayang. Dalam bahaya, ia bisa menjadi perisai terakhir untuk anaknya.Di tengah d...
18/08/2026

Pelukan seorang ibu bukan sekadar kasih sayang. Dalam bahaya, ia bisa menjadi perisai terakhir untuk anaknya.

Di tengah duka gempa NTT, masih banyak ibu yang bertahan demi anak-anaknya. Kehilangan rumah, kehilangan banyak hal, tetapi tetap berusaha menjadi tempat paling aman bagi keluarganya.

Kisah ini mengingatkan kita: kasih ibu sering kali begitu besar, sampai kita lupa betapa berharganya kehadiran mereka.

Kalau hari ini Ibu masih bisa kamu dengar suaranya, jangan tunggu nanti.

Telepon surgamu. Telepon Ibumu.
Tanyakan kabarnya, dan dengarkan suaranya

18/08/2026

“Aku memang tak pernah melihat wajah Ibu, tapi aku tahu seperti apa rasanya dicintai.”

Dari hangatnya tangan yang menuntun,
dari sabar yang tak pernah habis,
hingga doa yang selalu mengiringi langkah…
Ibu adalah cahaya yang mungkin tak pernah kulihat, tapi selalu kurasakan.

Kini, setiap ayat Qur’an yang kuraba dan kuhafalkan di Pesantren Sam’an adalah bentuk kecil rasa terima kasih untuk semua perjuangan Ibu.

Bu, terima kasih sudah merawat, percaya, dan tak pernah menyerah pada ku

Kalau hari ini Ibu masih bisa kamu hubungi, jangan tunggu nanti.
Telepon Ibumu. Dengarkan suaranya. Katakan: “Terima kasih, Ibu.”

Ketik “IBU” di kolom komentar dan kirimkan doa terbaikmu untuk Ibu tercinta

15/08/2026

Siapa bilang santri tunanetra nggak bisa masak sendiri?

Memotong sayur, menyalakan kompor, menuangkan air semuanya bisa dipelajari. Bukan karena tidak ada rasa takut, tapi karena mereka terus belajar untuk mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri

Di Sam’an, belajar bukan hanya tentang menghafal Al-Qur’an. Santri juga dibekali keterampilan hidup agar mampu menjalani kehidupan dengan lebih mandiri

Karena keterbatasan penglihatan bukan alasan untuk berhenti belajar

Kamu sendiri, masih takut menyalakan kompor? Atau sudah jago masak?

Yuk, dukung program pendidikan dan kemandirian santri tunanetra Sam’an. Setiap dukunganmu membantu mereka belajar lebih banyak dan melangkah lebih mandiri

14/08/2026

Rp 25.000 biasanya habis untuk apa dalam sehari?

Secangkir kopi, jajanan, parkir, atau sesuatu yang mungkin selesai dinikmati dalam hitungan menit

Tapi pernahkah kamu membayangkan, nominal yang sama bisa ikut menjadi bagian dari masa depan seorang santri tunanetra?

Di Pesantren Sam’an, dukungan dari orang-orang baik dikumpulkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan santri mulai dari tempat tinggal, makan harian, hingga Al-Qur’an Braille

Kamu nggak harus menunggu kaya untuk ikut membantu. Karena kebaikan kecil yang dilakukan bersama bisa menjadi kesempatan besar bagi mereka untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an

Yuk, ikut membersamai pendidikan santri tunanetra melalui Program Beasiswa Santri. Cek link di bio dan jadi bagian dari perjalanan mereka.

Address

Jalan Pasir Honje No. 130
Bandung Satu

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sam'an Netra Mulia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Sam'an Netra Mulia:

Shortcuts

Share

Category