UNTAIAN MUTIARA NUSANTARA

UNTAIAN MUTIARA NUSANTARA Mengetengahkan informasi yang berhubungan dengan Seni Budaya Indonesia

SELAMAT HARI NUSANTARA, 13 Desember 2025.Deklarasi Djuanda 1957 menjadi tonggak perubahan cara pandang bangsa dan negara...
13/12/2025

SELAMAT HARI NUSANTARA, 13 Desember 2025.
Deklarasi Djuanda 1957 menjadi tonggak perubahan cara pandang bangsa dan negara Indonesia terhadap laut, dari pemisah antarp**au menjadi penghubung seluruh wilayah NKRI.

Sebelum 1957, batas wilayah laut Indonesia mengacu pada Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda.
Aturan ini menetapkan lebar laut teritorial hanya sejauh 3 mil dari garis pantai setiap p**au. Ketentuan tersebut menyebabkan laut di antara p**au-p**au Indonesia berstatus laut bebas. Secara hukum, kondisi ini memecah kesatuan wilayah NKRI dan menyulitkan pengawasan kedaulatan laut.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja menyampaikan Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Dalam Deklarasi tersebut menegaskan "Bahwa semua perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan p**au-p**au yang masuk daratan NKRI adalah bagian-bagian yang tak terp*sahkan dari wilayah Yuridiksi Republik Indonesia."

Deklarasi Djuanda juga menetapkan lebar laut teritorial Indonesia sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis lurus yang menghubungkan titik-titik terluar p**au-p**au Indonesia.

Namun pengakuan internasional terhadap konsep negara kep**auan Indonesia baru tercapai puluhan tahun kemudian, melalui Konvensi Hukum Laut PBB atau UNCLOS 1982, dan pengakuan resmi berlaku setelah diratifikasi pada 1994.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan tersebut, pemerintah mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara pada 1999. Penetapan resmi dilakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 126 Tahun 2001.

Peringatan Hari Nusantara mnjadi pengingat bagi kita semua, bahwa laut memiliki peran penting dalam sejarah pembentukan wilayah Indonesia & menjadi bagian tak terp*sahkan dari identitas Indonesia sebagai negara kep**auan.

Source: Kompas, Antara, Kementerian ESDM.

LEGENDA GUNUNG KELUD Bagi warga Jawa Timur, Gunung Kelud mempunyai legenda panjang. Menurut sejarahnya gunung Kelud buka...
26/09/2025

LEGENDA GUNUNG KELUD
Bagi warga Jawa Timur, Gunung Kelud mempunyai legenda panjang. Menurut sejarahnya gunung Kelud bukan berasal dari sebuah gundukan tanah meninggi secara alami. Namun legenda dan asal usul Gunung Kelud terbentuk dari sebuah mitos pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti bernama Mahesa Suro dan Lembu Suro.

1. Arti Nama Gunung Kelud
Gunung Kelud atau Kelut, dalam bahasa jawa berarti 'sapu', sedangkan dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet atau Kloete.

Nama Gunung Kelud berasal dari kata 'Jarwodhosok' yaitu dari kata 'ke' (kebak) dan 'lud' (ludira) yang artinya bisa merenggut banyak korban tidak berdosa.

2. Legenda 'Sumpah Lembu Suro'
Legenda Gunung Kelud tak pernah lepas dari cerita Lembu Suro. Lembu Suro adalah tokoh legenda manusia berkepala lembu yang dikhianati cintanya. Berikut beberapa versi yang menceritakan tentang asal mula sumpah Lembu Suro:

a. Dewi Kilisuci adalah putri Jenggolo Manik yang cantik jelita. Karena kecantikannya dia dilamar oleh dua orang raja yang bukan dari bangsa manusia. Satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro, satu lagi berkepala kerbau bernama Raja Mahesa Suro.

Dewi Kilisuci membuat sayembara untuk membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud yang harus selesai satu malam. Kedua sumur itu harus berbau amis dan wangi. Karena kesaktiannya, mereka berhasil menuruti permintaan Dewi Kilisuci, namun Dewi Kilisuci tidak mau diperistri.

Akhirnya Dewi Kilisuci menyuruh mereka membuktikan bahwa kedua sumur tersebut berbau amis dan asin dengan cara masuk ke dalam sumur. Ketika Lembu Suro dan Mahesa Suro masuk ke dalam sumur, para prajurit Jenggala segera menimbun keduanya.

b. Raja Brawijaya mengadakan sayembara untuk mencari suami putrinya yang bernama Dyah Ayu Pusparani. Lembu Sura adalah makhluk berkepala lembu yang datang dalam sayembara. Syarat yang diajukan adalah membuat sumur dalam waktu semalam yang akhirnya bisa diselesaikan oleh Lembu Suro. Karena tidak mau diperistri, para prajurit Majapahit pun menimbun Lembu Suro yang sedang menggali sumur.

c. Raja Brawijaya mengadakan sayembara untuk mencari suami putri Dyah Ayu Puparani yaitu barang siapa berhasil merentang busur sakti Kyai Garudayeksa dan mengangkat gong Kyai Sekardelima, maka orang itu berhak memperistri putrinya. Makhluk berkepala lembu bernama Lembu Suro berhasil dalam sayembara dan untuk menepati janji, maka Raja akan menikahkan mereka.

Putri Dyah Ayu Pusparani yang tidak mau diperistri mengakali Lembu Suro yaitu meminta dibuatkan sumur di atas Gunung Kelud untuk mandi mereka berdua setelah menikah, namun sumur harus jadi dalam waktu semalam. Lembu Suro segera menggali sumur dengan tanduknya dan setelah galian cukup dalam, para prajurit menimbun sumur dengan tanah dan bebatuan besar.

Ketika ditimbun di dalam sumur, Lembu Suro masih sempat meminta tolong, namun tidak ada yang menghiraukan itu dan saat tertimbun, suara sumpah Lembu Suro' pun terdengar.

"Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung"
Artinya: "Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar jadi daratan, Tulungagung menjadi perairan dalam."

Dewi Kilisuci akhirnya mengasingkan diri dan mendari pertapa, mendekatkan diri pada Sang Ilahi untuk menjaga rakyat Kediri dari bahaya Lembu Suro. Konon, Dewi Kilisuci bertapa di Gua Selomangleng hingga muksa (menghilang).

Hingga saat ini jika Gunung Kelud meletus dianggap sebagai amukan Lembu Sura untuk membalas dendam atas kelicikan Prabu Brawijaya. Lembu Sura yang asalnya seorang putra bangsawan itu memang seorang pemuda sakti, namun sifatnya berandalan maka ayahnya menyabda hingga ia dianggap pemuda bodoh seperti kerbau.
(dari berbagai sumber)

MENGENAL WAYANG LUMPING INDRAMAYUBagi peminat wayang kulit, sajian wayang kulit Dermayon atau Indramayu, Jawa Barat, tid...
05/03/2024

MENGENAL WAYANG LUMPING INDRAMAYU
Bagi peminat wayang kulit, sajian wayang kulit Dermayon atau Indramayu, Jawa Barat, tidak kalah menariknya dengan pertunjukan wayang kulit dari daerah lainnya di p**au Jawa.

Hal ini dikarenakan kita akan mendapati pertunjukan yang menarik dan menghibur dengan ciri khas Pesisir Pantai Utara, Jawa Barat.

Sejarah
Sejarah wayang kulit di daerah Indramayu, Jawa Barat, tak terlalu berbeda dengan sejarah wayang kulit yang ada di daerah Cirebon, sudah ada sekitar tahun 1400-an. Hanya saja terdapatnya pengakuan bahwa wayang adalah sebagai media dakwah oleh Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati yang lebih sering didengungkan.

Perbedaan wayang kulit Indramayu dengan wayang lain di p**au Jawa adalah terletak pada perbedaan bahasa yang dipergunakan. Penggunaan bahasa ibu (setempat) menjadi khas p**a di dalam berbagai tuturannya, baik lakon maupun sempal guyonnya. Bahasa daerah Indramayu menjadi bahasa sosial dan sangat komunikatif dalam sebuah pertunjukan wayang kulit.

Wayang kulit oleh sebagian masyarakat Indramayu disebut juga wayang lumping, kemungkinan istilah ini lahir karena wayang ini terbuat dari kulit binatang yang disamak, kemudian dikeringkan. Fungsinya, selain untuk bahan utama wayang kulit, bisa juga digunakan untuk kendang atau bedug.

Lakon
Adapun ceritanya, tak jauh p**a bedanya. wayang kulit Indramayu sama juga masih menggunakan dua cerita Ramayana dan Mahabharata. Tetapi, munculnya cerita karangan oleh para dalang di daerah Indramayu memiliki daya tarik tersendiri. Dewasa ini pertunjukan wayang kulit Indramayu ditampilkan dalam acara-acara tertentu, seperti: Ruwatan bersih desa, ngunjung, sunatan dan pernikahan.

Memiliki 9 Punakawan
Dalam wayang kulit Indramayu ada tambahan tokoh panakawan yang berjumlah sembilan, sebagai manifestasi dari wali sanga di tatar Pulau Jawa.

Sembilan punakawan adalah: Semar sebagai orangtua dengan anak-anaknya Bagong, Gareng, Cungkring, Curis, Bagal Buntung, Bitarota, Ceblok, Abdul Wala.

Karakter punakawan ini sebenarnya tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa.

Musik Pengiring
Musik pengiring tak jauh berbeda dengan umumnya gamelan pengiring pertunjukan wayang kulit, yakni gamelan dengan laras pelog salendro. Namun dalam pertunjukan wayang kulit Indramayu ditambah dengan Kemanak dan Bedug yang cukup dominan dibunyikan, untuk efek adegan-adegan tertentu dalam pertunjukan wayang ini.

Kemanak adalah instrumen yang berbentuk seperti sendok. Sendok yang terbuat dari kuningan. Bentuknya simple, enteng, dan mudah dibunyikan. Cara membunyikannya dengan saling mengetukkan/saling dipukulkan.

Fungsi
Salah satu fungsi wayang dalam masyarakat Indramayu adalah untuk ritual ngaruat (ruwatan) yaitu untuk membersihkan dari musibah (marabahaya).

Beberapa orang yang biasanya akan mengikuti ritual ruwatan (sukerta), antara lain: Wunggal (anak tunggal), Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia), Suramba (empat orang putra), Surambi (empat orang putri), Pandawa (lima putra), Pandawi (lima putri), Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri), dan Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra), dan lain sebagainya.
(dari berbagai sumber)

LEGENDA ALAS KETONGGO, NGAWI, JAWA TIMUR Alas Srigati atau Alas Ketonggo, adalah hutan dengan luas 4.846 meter persegi, ...
06/04/2023

LEGENDA ALAS KETONGGO, NGAWI, JAWA TIMUR
Alas Srigati atau Alas Ketonggo, adalah hutan dengan luas 4.846 meter persegi, yang terletak 12 KM arah selatan dari Kota Ngawi, Jawa Timur. Menurut masyarakat Jawa, hutan ini merupakan salah satu dari alas (hutan) angker atau ‘wingit’ di tanah Jawa.

Alas Srigati atau lebih dikenal dengan sebutan Alas Ketonggo, jika dilihat dari namanya sudah cukup merepresentasikan apa yang ada di dalamnya, ketonggo berasal dari kata “Katon” yang berarti terlihat dan “Onggo” yang artinya adalah makhluk halus.

Eyang Srigati adalah Priyagung, seorang begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah Jawa. Beliaulah yang menurunkan Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Padjadjaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua kisah Spiritual ini tertuang di Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kecamatan. Paron. Kabupaten. Ngawi.

Lokasi Pesanggrahan Srigati dapat ditempuh dengan berbagai macam kendaraan bermotor. Pesanggrahan Srigati merupakan obyek wisata spiritual yang menurut penduduk setempat adalah pusat keraton lelembut/makhluk halus.

Dilokasi ini terdapat sekitar 12 lebih tempat petilasan. Seperti Punden Krepyak Syeh D***o atau Palenggahan Agung Brawijaya, Padepokan Kori Gapit, Palenggahan Watu Dakon, Sendang Drajat, Sendang Mintowiji, Goa Sido Bagus, Sendang Suro, dan Kali Tempur.

Menurut juru kunci Alas Srigati, Ki Among Jati menjelaskan secara rinci, para pengunjung yang datang di Alas Srigati biasanya mereka ingin napak tilas mengenang sejarah dimana Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya V singgah terlebih dahulu di Alas Srigati untuk melepaskan baju kebesarannya sebelum melanjutkan perjalanan ritual ke puncak Gunung Lawu.

Menurut sejarah, Alas Ketonggo adalah hutan petilasan Raja Brawijaya, di mana Prabu Brawijaya bersembunyi ketika Majapahit diserang Demak. Alas Ketonggo juga sekaligus tempat dimakamkannya sang raja yang dibuktikan lewat sebuah makam tua disana.

Pada hari-hari tertentu seperti Jum’at Pon dan Jum’at Legi pada bulan Suro, Pesanggrahan Srigati banyak dikunjungi oleh para pesiarah untuk menyaksikan diselenggarakannya upacara ritual tahunan “Ganti Langse” sekaligus melaksanakan tirakatan / semedi untuk ngalap berkah.

Menurut juru kunci, pengunjung di Alas Srigati tidak melakukan hal-hal yang sifatnya syirik, seperti menyembah punden dan hal-hal lain yang berbenturan dengan aturan agama. Akan tetapi para pengunjung melakukan ritual mengambil tempat di Alas Srigati hanya sebagai tempat perantara untuk menyambung segala permintaannya hanya kepada Allah SWT.

"Siapapun yang meyakini kekuasaan Tuhan harus meyakini adanya alam rohani, tempat kehidupan makhluk-makhluk rohani atau gaib. Ada kehidupan setelah terjadi kematian, yaitu alam kehidupan gaib atau alam rohani bagi para arwah yang telah meninggalkan dunia atau alam kehidupan jasmani." (dari berbagai sumber)

Yuk Ngetrip GUA TERAWANG, JAWA TENGAH Gua Terawang yang berada di tengah belantara hutan jati di Desa Kedungwungu, Kecam...
03/03/2022

Yuk Ngetrip
GUA TERAWANG, JAWA TENGAH
Gua Terawang yang berada di tengah belantara hutan jati di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah memiliki pemandangan yang indah sekaligus merupakan gua vertikal yang memiliki lubang di bagian atasnya. Sejak zaman raja-raja Jawa gua ini sudah dikenal sebagai tempat bertapa guna memperoleh kekuatan mistis atau untuk mendapatkan wangsit.

Gua Terawang sebenarnya merupakan kompleks dari enam gua yang berada dalam satu kawasan dengan satu gua induk, satu sendang dan lima gua kecil. Memiliki udara yang sejuk dengan keindahan alam gua yang eksotik.

Gua ini berada di area seluas 13 hektar yang menjadi wilayah dari kawasan hutan RPH Kedungwungu dibawah Perhutani Jawa Tengah. Daerah tersebut terdiri dari perbukitan kapur yang memungkinkan terbentuknya formasi gua seperti Gua Terawang ini. Panjang keseluruhan lorong gua ini mencapai 180 meter dengan kedalaman sekitar 11-50 meter dari permukaan tanah.

Yuk Ngetrip...GUA KEMBAR, SUMATERA UTARA Jika kamu jalan-jalan ke Sumatra Utara, jangan lewatkan mengunjungi salah satu ...
03/03/2022

Yuk Ngetrip...
GUA KEMBAR, SUMATERA UTARA
Jika kamu jalan-jalan ke Sumatra Utara, jangan lewatkan mengunjungi salah satu gua yang penuh misteri di pinggiran hutan Dusun Tambak Tajoh, Desa Adin Tengah, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara atau sekitar 80 kilometer dari Medan.

Gua ini disebut Gua Kembar karena ada dua gua dengan pintu masuk yang mirip satu sama lain. Gua ini konon penuh misteri karena tidak diketahui dimana ujungnya, selain itu ada 10 pahatan berbentuk patung di dinding pintu masuk gua.

Sepuluh pahatan patung yang sebagian besar berselimut lumut ini mendeskripsikan tentang sosok pendiri kampung atau simantek kuta, dan sistem kekerabatan yang ada di desa itu.

Sementara warga setempat menyebut gua ini dengan sebutan Gua Umang yang berarti gua hantu. Kadang beberapa warga melakukan ritual di area pintu masuk gua, dengan membakar rokok.

Warga percaya ada banyak cerita mistis yang tersimpan di gua ini. Salah satunya adalah gua ini disebut tembus hingga ke wilayah Kabupaten Karo. Selain itu, konon katanya gua ini juga punya 1.000 lorong yang membingungkan.

Maestro Tari Legong, Bulantrisna Djelantik Tutup Usia Maestro Tari Legong yang juga merupakan keturunan raja terakhir Ka...
24/02/2021

Maestro Tari Legong, Bulantrisna Djelantik Tutup Usia
Maestro Tari Legong yang juga merupakan keturunan raja terakhir Karangasem, Bali, Bulantrisna Djelantik meninggal dunia, Rabu (24/2/2021) dini hari, karena mengidap kanker pankreas.

Perempuan kelahiran Deventer, Belanda 8 September 1947 ini merupakan cucu kesayangan dari Raja terakhir Kerajaan Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem.

Anak Agung Bulantrisna sudah piawai menari sejak kecil, hingga kini mendapat julukan maestro Tari Legong. Legong Asmaradana menjadi salah satu karya ciptaan Bulantrisna Djelantik.

Selain seorang penari Bulantrisna juga merupakan dokter spesialis THT dan pernah pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung.

Bulantrisna Djelantik adalah keturunan raja terakhir Karangasem, AA Anglurah Djelantik. Ayahnya dr AA Made Djelantik adalah tokoh dan budayawan Bali.

Selamat jalan bu Bulan..🙏🤲

WAYANG LEMAH, KUATNYA UNSUR SENI DALAM UPACARA SAKRALPertunjukan wayang merupakan salah satu seni budaya nasional Indone...
18/10/2020

WAYANG LEMAH, KUATNYA UNSUR SENI DALAM UPACARA SAKRAL
Pertunjukan wayang merupakan salah satu seni budaya nasional Indonesia yang dikenal sebagai seni tradisional adiluhung multi medium. Tak hanya itu, seni pewayangan di Jawa dan Bali juga erat kaitannya dengan kehidupan adat dan keagamaan.

Seperti kesenian wayang lemah, yang merupakan salah satu wayang sakral dari Bali. Kata lemah dalam penamaan seni wayang ini bukanlah seperti arti dalam bahasa Indonesia, tapi dalam bahasa Bali, 'lemah' artinya adalah siang hari. Pasalnya wayang lemah ini lebih sering dipentaskan siang atau sore hari pada saat upacara keagamaan, Upacara Panca Yadnya.

Meskipun bentuknya sangat sederhana, wayang lemah diposisikan sangat penting sehingga sering disebut Wayang Wali yaitu kesenian sakral yang menyertai upacara keagamaan. Wayang lemah adalah salah satu dari tiga macam wayang yang disakralkan di Bali. Tiga wayang sakral tersebut adalah Wayang Sapu Leger, Wayang Suddhamala dan Wayang Lemah.

Dalam pertunjukannya wayang lemah, tidak menggunakan panggung khusus. Cukup beralaskan tikar, menggunakan satu gedebog (batang pohon p*sang) yang masing-masing ujungnya ditancapkan batang kayu dadap. Kedua kayu tersebut dihubungkan dengan benang putih yang disebut benang tukelan atau di beberapa tempat disebut benang pip*s. Tidak perlu memasang kelir (layar) karena benang tukelan itu digunakan untuk menyandarkan wayang, pengganti kelir.

Pada masing-masing ujung benang, digantunglah p*s bolong satakan (uang kepeng berjumlah 200 keping) atau ada p**a yang menggunakan 11 kepeng. Oleh karena pertunjukannya berlangsung di siang hari dan tanpa kelir, maka tidak diperlukan lampu blencong atau alat penerangan lainnya.

Namun di daerah Buleleng, Bali, ada dalang memakai lampu blencong dalam pertunjukan wayang lemah. Sementara di Tabanan, selain ada yang memakai lampu blencong, ada juga dalang memakai lampu sentir atau pelita. Namun lampu itu dibuat dari kulit telur sebagai tempat bahan bakar minyak kelapa, serta sumbunya dibuat dari sigi kompor minyak tanah atau benang tukelan.

Pertunjukan wayang lemah, dipentaskan dengan jumlah anggota sekaa (grup) yang minim, paling sedikit 3 sampai 5 orang, yang terdiri dari seorang dalang, dan satu atau dua pasang penabuh gender wayang. Namun ada juga dalang yang menggunakan dua pasang gender wayang dan dua katengkong sehingga jumlah personil yang diperlukan termasuk dalang adalah tujuh orang.

Dalam tradisi berkesenian di Bali, sebelum pertunjukan seni maupun wayang akan selalu dimulai oleh pelaku seni dengan mengucapkan doa-doa agar pementasannya lancar dan sukses. Doa tersebut sudah tentu disertai sesajen atau banten persembahan. Bentuk sesajen tersebut tentu saja berbeda-beda untuk setiap dalang.

Cerita atau lakon yang digunakan dalang biasanya diambil dari Itihasa (cerita Ramayana dan Mahabharata) dan disesuaikan dengan jenis upacara. Jika pertunjukan itu dilakukan pada upacara Dewa Yadnya, maka lakon cerita diambil dari kisah yang menceritakan upacara, misalnya Kunti Yadnya. Tapi bila pertunjukan dilangsungkan pada upacara Bhuta Yadnya, maka lakon ceritanya adalah Bima Dadi Caru, yaitu cerita ketika Bhima mengorbankan dirinya sebagai caru kepada Raksasa Baka.

Sedangkan jika pertunjukan berlangsung pada upacara Pitra Yadnya, maka lakon yang disajikan adalah Bima Swarga atau cerita lain yang mengisahkan perjalanan roh ke surga. Jika pertunjukan itu diadakan untuk Upacara Manusa Yadnya, maka lakon yang digunakan dalang adalah cerita yang mengisahkan perkawinan, misalnya perkawinan Arjuna-Subadra, atau perkawinan Abimanyu-Uttari.

Lakon-lakon pementasan wayang lemah tersebut dikemas sedemikian rupa, dan disesuaikan dengan durasi upacara. Biasanya, pertunjukan wayang Lemah dimulai bersamaan dengan diawali pemujaan oleh Pandita (pemimpin upacara agama Hindu). Demikian p**a akhir pertunjukan akan ditutup jika pandita sudah mengakhiri pemujaan.

Maka, jika pemujaan Pandita berlangsung lama, pertunjukan wayang lemah juga akan berlangsung lama atau sekitar dua jam. Demikian p**a sebaliknya, pertunjukan wayang bisa pendek sekitar 30 menit saja jika durasi pemujaan pandita berlangsung pendek.

WAYANG GOLEK BETAWI MENGUKIR CERITA LEGENDA Pasti banyak diantara kita menganggap wayang golek identik dengan kesenian k...
18/10/2020

WAYANG GOLEK BETAWI MENGUKIR CERITA LEGENDA
Pasti banyak diantara kita menganggap wayang golek identik dengan kesenian khas Jawa Barat. Namun, ternyata masyarakat Betawi juga memiliki kesenian wayang golek yang biasa disebut wayang golek Betawi.

Meskipun tidak sepopuler wayang kulit khas Betawi, nama wayang golek Betawi sepertinya timbul tenggelam, namun hingga saat ini masih ada dan masih dimainkan dalam acara-acara hajatan di kalangan masyarakat Betawi.

Ada dua jenis wayang golek Betawi, yang pertama adalah serupa dengan wayang golek Sunda, dalam bentuk dan tata cara pergelarannya. Namun bahasa yang dipakai bukanlah bahasa Sunda tapi bahasa berdialek Betawi.

Lakon yang dimainkan adalah lakon-lakon yang biasa dipergelarkan sama dengan wayang golek Sunda, seperti Babad Alas Amar, Bandung Nagasewu, dan Patalikrama. Ada p**a yang membawakan cerita Panji seperti Panji Kemeng Pati, Kuda Lalean, dan Kuda Narawangsa. Wayang golek jenis ini populer di daerah Sukapura, Cilincing, dan Jakarta Timur. Sementara musik pengiring yang digunakan adalah gamelan yang masih berbau khas Sunda.

Lalu jenis yang kedua adalah wayang golek yang biasa disebut wayang golek Ciputat. Jenis wayang golek ini terbuat dari kayu, bentuknya mirip dengan bentuk wayang Pakuan (wayang golek dari Tatar Sunda yang dibuat tahun 1960).

Kisah yang diambil adalah kisah-kisah yang terjadi di lingkungan sekitar, sehingga wayang golek ini tidak memakai perhiasan seperti dalam wayang kulit atau wayang golek yang mengambil cerita Ramayana atau Mahabharata. Bentuk mukanya juga disesuaikan dengan sifat, perangai, dan pembawaannya.

Wayang golek Betawi dari Ciputat ini sering mengambil kisah pribumi, seperti kehidupan para jawara dan jagoan pada zaman awal Batavia dalam melawan Kompeni seperti si Pitung atau si Jampang.

Pada saat pergelarannya, dalang dibantu beberapa orang asisten. Kadang para nayaga (penabuh gamelan) juga ikut memainkan wayang bersama dalang. Sehingga sajian wayang ini mirip dengan pertunjukan wayang golek modern.

Sementara itu, seperti dikutip dari Ensiklopedia Jakarta, bagian I, 2003, musik pengiring yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang golek Ciputat adalah Gamelan Ajeng yang lengkap dengan alat musik terompetnya (terompet pencak silat).

Gamelan Ajeng merupakan musik tradisional Betawi yang mendapat pengaruh dari musik gamelan Sunda. Beberapa daerah di Jawa Barat hingga kini masih memiliki gamelan ajeng, diantaranya Ciamis, Karawang, Depok dan Subang. Namun dalam perkembangannya jenis gamelan ajeng Betawi memiliki sedikit perbedaan dengan gamelan Ajeng dari Tatar Sunda.

WAYANG JEMBLUNG TRADISI MENDONGENG MASYARAKAT BANYUMAS Wayang Jemblung merupakan pertunjukan wayang wong yang berasal da...
18/10/2020

WAYANG JEMBLUNG TRADISI MENDONGENG MASYARAKAT BANYUMAS
Wayang Jemblung merupakan pertunjukan wayang wong yang berasal dari daerah Banyumas yang terletak di kaki Gunung Slamet dan Bagelen, lalu mengalami persebaran sampai di kerajaan Daha Kediri dan menyebar luas sampai di Kabupaten Blitar.

Jemblung berasal dari istilah jenjem-jenjeme wong gemblung (Tentram-tentramnya orang gila) yang mengandung maksud, walaupun dalam pertunjukannya berlaku seperti orang gila tetapi dalam ceritanya mengajarkan nilai-nilai luhur tentang etika dan moral serta pesan-pesan yang baik kepada masyarakat.

Namun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa kata jemblung berasal dari cerita yang disajikan, yaitu cerita Menak. Di dalam cerita tersebut terdapat tokoh bernama Jemblung Umarmadi (salah satu keluarga Wong Agung Menak Jayengrana) yang memiliki ciri khas berperut buncit.

Kapan tradisi ini muncul tidak diketahui secara pasti, tetapi tradisi ini muncul karena pengaruh kehidupan sosial masyarakat Banyumas sejak dari nenek moyang yaitu rangkaian hidup tolong-menolong sesama warga terutama saat upacara kelahiran bayi.

Tradisi ini disebut sepasaran bayi (selamatan yang dilakukan saat bayi berumur lima hari) dengan diadakannya macanan atau macapatan (tembang atau puisi tradisional Jawa) yang kemudian biasa disebut acara muyen (menjenguk bayi yang baru lahir). Tapi kesenian ini bisa juga dipentaskan untuk keperluan acara lain seperti pernikahan, khitanan, syukuran, kaul dan lain-lain.

Kesenian wayang jemblung awalnya dimainkan oleh satu orang, namun sesuai perkembangan pertunjukan ini disajikan oleh 5 orang atau lebih yang bertindak sebagai dalang sekaligus sebagai wayang, pemusik, dan sinden.

Uniknya, musik pengiring pertunjukan wayang jemblung tidak diiringi menggunakan alat musik gamelan seperti pada sajian wayang pada umumnya tapi musik iringannya dilantunkan dengan mulut yang mengeluarkan bunyi-bunyian meniru suara gamelan.

Dikarenakan kesenian ini disajikan dengan posisi duduk, maka peyajiannya benar-benar memfokuskan pada seni suara berupa cerita dan dialog tanpa gerakan tubuh, tapi lebih pada mimik muka (ekspresi wajah). Sedangkan cerita yang disajikan berasal dari cerita pewayangan seperti Cerita Menak, Serat Ambya, Babad Banyumas, Babad Pasir Luhur, Babad Tanah Jawi dan sejenisnya.

Namun sesuai perkembangan zaman, wayang jemblung yang tadinya disajikan hanya dengan dialog antar para dalang jemblung, lalu dibuatlah dalam bentuk wayang berbahan baku lintingan kertas koran bekas yang dibuat sesuai karakter yang ada di tokoh pewayangan dan disetiap akhir pertunjukan wayang-wayang jemblung tersebut akan di berikan kepada penonton khususnya anak-anak secara gratis.

(Vey/dari berbagai sumber)

WAYANG TIMPLONG YANG TERSISIH ZAMAN Pasti banyak diantara kita yang merasa aneh saat mendengar kata wayang timplong. Pad...
17/10/2020

WAYANG TIMPLONG YANG TERSISIH ZAMAN
Pasti banyak diantara kita yang merasa aneh saat mendengar kata wayang timplong. Padahal seni wayang timplong sudah ada sejak tahun 1910 di Dusun Kedung Bajul, Desa Jetis, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Sayangnya, orang awam di luar daerah Nganjuk, kemungkinan besar tidak banyak yang mengetahui wayang ini. Bahkan bisa jadi generasi muda di Nganjuk yang lebih memilih gemerlap kemajuan zaman juga banyak yang tidak mengetahui lagi kesenian wayang ini.

Meski tersisih oleh gemerlap zaman, keberadaan wayang timplong masih tetap terjaga dengan baik. Kini wayang timplong sudah masuk pada generasi keenam. Seni wayang ini diturunkan dari generasi tua melalui garis keturunan keluarga yang secara tidak langsung menjaga kesenian tradisi asli Nganjuk ini kepada generasi berikutnya. Saat ini diperkirakan masih ada lima dalang wayang timplong yang tetap setia melestarikan kesenian wayang ini.

Wayang Timplong memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan jenis wayang pada umumnya. Selama ini kita ketahui jika wayang pada umumnya terbuat dari kulit binatang atau juga terbuat dari kayu pohon, maka beda halnya dengan wayang timplong. Wayang ini terbuat dari kayu pohon waru, namun untuk bagian tangan dari wayang tersebut menggunakan kulit binatang.

Memang wayang timplong bisa dikategorikan jenis wayang khlitik, karena terbuat dari bahan kayu pipih. Namun perbedaan mendasar di antara keduanya, yaitu pada cerita yang dibawakan, membuat wayang timplong dimasukkan dalam kategori tersendiri.

Wayang timplong diciptakan oleh Mbah Bancol, sekitar tahun 1910-an, melalui sebuah proses yang cenderung berbau mistis. Awalnya pria asal Grobogan itu tengah membelah sebatang pohon waru untuk kayu bakar. Namun anehnya pada satu belahan kayu itu terlihat sebentuk gambar yang mirip wayang.

Lalu Mbah Bancol memahat kayu itu dan mewujudkan bentuk gambar itu menjadi sebuah wayang. Dari satu wayang yang berhasil dibuat, mendorong Mbah Bancol untuk terus membuat yang lain hingga akhirnya terbentuk seperangkat wayang. Sebagai pelengkap, Mbah Bancol juga menyiapkan seperangkat gamelan sederhana untuk mengiringi wayang ini.

Untuk mengiringi pagelaran wayang timplong, sang dalang hanya dibantu oleh lima orang panjak atau pemain gamelan yang terdiri dari pemain kendang, dua kenong, gambang, dan gong kecil.

Nama atau sebutan timplong sendiri berasal dari alunan gending yang dimainkan dari seperangkat gamelan sederhana. Orang-orang menyebutnya dengan sebutan timplongan, pasalnya kalau gamelan ditabuh dan didengarkan dengan seksama suaranya akan terdengar berbunyi timplang..timplong..timplang..timplong.

Wayang timplong yang masih hidup dan berkembang di tengah-tengah komunitas penduduk pedesaan ini biasa mengusung cerita-cerita rakyat, teristimewa cerita Kediren atau asal usul daerah Kediri. Lakon Babat Kediri, Asmoro Bangun, dan Panji Laras Miring sudah menjadi pakem wayang timplong

Wayang Timplong tetap ada meskipun eksistensinya terbatas hanya pada komunitas pedesaan yang masih menghargai seni tradisi melalui acara-acara ritual. Ruwatan dan bersih desa yang masih subur di tengah-tengah masyarakat menjadi ruang hidup bagi seni wayang Timplong. Seni tradisi yang memiliki nilai-nilai luhur ini bisa jadi sebuah kekuatan untuk pencerahan kehidupan manusia dimanapun mereka berada.

Saat ini, beberapa buah wayang timplong yang telah berumur tua (kuno), seni asli khas Nganjuk ini bisa ditemui di Yale University Art Gallery, New Haven, USA. Wayang berkarakter Panji, kondisinya masih utuh dan terawat dengan baik, belum terdapat kerusakan yang berarti. Padahal, bahan dasar wayang Timplong terbuat dari kayu, biasanya dari kayu waru, pinus atau mentaos.

Selain itu, wayang timplong kuno abad ke 19 khas Nganjuk ini juga bisa dilihat di Museum Leiden, Belanda. Namun wayang yang berada di Museum Leiden sedikit berbeda dengan kondisi wayang Timplong yang saat ini ada di Kabupaten Nganjuk.

Bila wayang timplong yang sekarang ada, tampak kasar dengan guratan-guratan asesoris pada tubuh wayangnya. Sehingga, penampilan wayang seperti gambar mati atau lukisan dua dimensi. Namun jenis tokoh wayangnya relatif masih sama.

Sedangkan wayang timplong asli (kuno) yang ada di Museum Leiden, bentuknya halus, mulai dari guratan-guratan asesoris hingga pewarnaan yang menempel. Terkesan cara pembuatannya tidak asal, benar-benar penuh perhitungan dan kesabaran, sehingga tampilan wajahnya seperti hidup. Hal menarik pada kondisi asli wayang Timplong di Leiden tersebut, ujud kayu masih terlihat jelas. Meski pipih, tapi bentuknya menyerupai gambar tiga dimensi.

Wayang Timplong memang hanya dipentaskan secara sederhana dalam acara-acara khusus saja di pedesaan, hingga membuat seni wayang ini tersisih, terbenam dan bisa jadi satu saat akan punah dalam gemerlapnya dunia modern.

Jika seni tradisi kita punah satu-persatu, maka generasi masa depan bangsa ini hanya akan mengenal seni budaya melalui cerita, tulisan, sajian gambar maupun benda seni yang ada di museum saja, tanpa bisa lagi melihat bentuk pagelarannya.

WAYANG , MAHAKARYA DALAM SENI BERTUTUR Wayang merupakan seni yang dihasilkan dari ekspresi budaya Bangsa Indonesia. Dibu...
17/10/2020

WAYANG , MAHAKARYA DALAM SENI BERTUTUR
Wayang merupakan seni yang dihasilkan dari ekspresi budaya Bangsa Indonesia. Dibuat melalui proses yang benar-benar rumit dan selama berabad-abad telah dipentaskan di berbagai daerah di p**au Jawa, Bali bahkan di Sumatera maupun Kalimantan.

Pada tahun 2003 lalu, UNESCO mengakui wayang dan mencatatnya sebagai mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Asal Usul Wayang
Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Wayang yang berasal dari kata bayang, mulai ada pada zaman purbakala sebagai upacara memanggil arwah dengan memasang lampu minyak kelapa dan menayangkan bayangan pada dinding atau kain putih yang dibentangkan.

Namun ada beberapa pendapat mengenai asal usul wayang ini. Ada yang mengatakan bahwa wayang berasal dari kebudayaan India yang sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu.

Pendapat lain mengatakan bahwa wayang merupakan hasil kebudayaan asli masyarakat Jawa tanpa ada pengaruh budaya lain. Disebutkan p**a oleh beberapa sumber bahwa wayang berasal dari relief candi karena candi memuat cerita wayang, seperti candi Prambanan.

Bukti keberadaan wayang dalam perjalanan sejarah di Indonesia tercatat dalam berbagai prasasti, seperti prasasti Tembaga (840 M), prasasti Ugrasena (896 M), dan prasasti Balitung (907 M).

Jenis dan Perkembangan Wayang
Pertunjukan wayang (wayang kulit) sudah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Airlangga (976-1012 M), Raja Kahuripan, Jawa Timur. Kemudian seni wayang berkembang sesuai dengan budaya setempat. Alat peraga dan cara pertunjukannya juga ikut berkembang.

Maka jenis-jenis wayang juga menjadi beragam. Sebenarnya jenis wayang di Indonesia dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Berdasarkan ceritanya. 2. Berdasarkan cara pementasannya. 3. Berdasarkan bahan pembuatannya.

Namun rata-rata masyarakat kita hanya mengenal sebutan wayang kulit, wayang golek dan wayang wong (wayang yang diperankan oleh manusia).

Diawal perkembangannya, pementasan lakon-lakon wayang yang diciptakan bertemakan sastra epos Ramayana dan Mahabharata, kemudian sejak abad pertengahan diciptakan p**a lakon-lakon bertemakan agama Islam.

Akibat perkembangan zaman tentunya membawa perubahan kebudayaan dan peradaban juga, sehingga wayang yang merupakan seni adhi luhung ini makin ditinggalkan.

Tidak heran, beberapa jenis wayang punah dan tak bisa lagi ditonton masyarakat. Hingga saat ini sekitar 75 jenis wayang telah punah. Hanya sekitar 25 jenis wayang saja yang kini masih bertahan dengan jumlah komunitas dan penonton yang bisa dibilang masih cukup banyak.

Fungsi Wayang
Wayang adalah sebagai penggambaran alam pikiran manusia yang dualistik atau akan selalu ada dua hal: baik dan buruk, ada pihak atau kelompok yang saling bertentangan, lahir dan batin, serta halus dan kasar.

Seperti dalam sejarah seni Sunda, kata wayang sudah ada sejak abad V dan disebutkan bahwa Wayang adalah : “Ngawayangkeun Awak Salira” (Wayang adalah cerminan kehidupan manusia).

Selain itu, wayang juga menjadi sarana pengendalian sosial yaitu melalui kritik sosial yang disampaikan lewat humor. Fungsi lainnya adalah menanamkan rasa solidaritas sosial (rasa peduli, saling membantu, kerjasama, disiplin), termasuk juga sebagai sarana dakwah, hiburan, maupun pendidikan.

Kandungan Nilai Dalam Wayang
1. Wayang Bersifat “Momot Kamot”.
Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat memuat segala aspek kehidupan manusia (momot kamot). Pemikiran manusia, baik terkait dengan agama/keyakinan, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum maupun pertahanan keamanan dapat termuat di dalam sebuah cerita atau pertunjukan wayang.

2. Wayang mengandung Tatanan, Tuntunan, dan Tontonan.
Di dalam wayang dikandung tatanan, yaitu suatu norma atau konvensi yang mengandung etika (filsafat moral). Dijadikan tuntunan karena dalam lakon yang disajikan memiliki nilai-nilai luhur etika dan budi pekerti. Sedangkan tontonan, wayang bisa menjadi media hiburan yang menarik.

3. Wayang merupakan Teater Total.
Pertunjukan wayang dapat dipandang sebagai pertunjukan teater total, artinya menyajikan aspek-aspek seni secara total (seni drama, seni musik, seni gerak tari, seni sastra, seni vokal, dan seni rupa).

SUMBER:
http://www.academia.edu/
http://nationalgeographic.co.id
https://ilmuseni.com/seni-budaya/
https://sportourism.id/heritage
http://shadowspuppets.blogspot.co.id
https://goo.gl/XsYFv1
https://goo.gl/3DLfWw
https://pusakapusaka.com
http://wawasansejarah.com
http://museumseni.jakarta.go.id
http://setiadarmabali.com/

Address

Bandung Satu
40162

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when UNTAIAN MUTIARA NUSANTARA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category