09/04/2026
Janganlah Kamu Bersedih
TPQ AL-IMAN KOTABARU
09/04/2026
Janganlah Kamu Bersedih
Khataman al-Qur'an Muhammad Fadhil
Cara Baru Para Pemburu Kotak Shadaqah
17/11/2025
Siapa yang menunda kewajiban, maka ia akan ditunda terkabul doanya
26/10/2025
Assalamu`alaikum warahmatullahita`alla wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
“Mulutmu Tak Akan Jadi Saksi — Kalau di Dunia Kerjanya Ngutuk Orang.”
Manusia itu aneh. Di dunia, ia ingin suaranya didengar. Tapi di akhirat, justru suaranya akan dibungkam.
Yang setiap hari teriak “anjir!”, “tolol!”, “laknat!”, berharap suatu hari bisa bersuara di hadapan Tuhan.
Padahal Nabi ﷺ sudah menutup pintu itu dengan satu kalimat dingin tapi menggetarkan:
> “Sesungguhnya orang-orang yang s**a melaknat, tidak akan menjadi saksi dan tidak p**a pemberi syafaat pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)
Sialnya, lidah yang di dunia s**a mengirim “kutukan”, di akhirat justru kehilangan hak berbicara.
Mereka terhapus dari daftar saksi dan terhapus dari daftar pemberi syafaat.
Mereka bisu — bukan karena lidah mereka mati, tapi karena cahaya hati mereka padam.
Melaknat itu bukan cuma mengucap “terkutuklah kau”, tapi seluruh getar kebencian yang kau lempar ke orang lain — baik lewat kata, emoji, atau nada pasif-agresif di story WhatsApp.
Setiap “ih jijik banget orang kayak gitu” yang keluar dari hatimu, sesungguhnya adalah doa buruk.
Dan setiap doa buruk yang lahir dari hati gelap, menutup satu pintu cahaya dalam dirimu.
Dalam logika ruhani Imam al-Ghazali, dosa lidah itu paling berbahaya. Karena ia tak terlihat tapi mencatat.
Ia menetes halus dari hati yang merasa suci — hingga akhirnya, lidah jadi altar bagi iblis, bukan bagi Ilahi.
Coba bayangkan:
Kau sedang di pengadilan akhirat.
Semua amal dipanggil jadi saksi: tanganmu, matamu, bahkan jari yang pernah mengetik komentar jahat di Twitter.
Lalu malaikat menoleh padamu dan bertanya,
“Kenapa lidahmu tidak bicara?”
Dan jawabannya menggantung di udara:
“Karena dulu, ia terlalu sibuk melaknat, bukan memaafkan.”
Lihat betapa indahnya ironi ini:
Semakin sering seseorang mengutuk, semakin dia kehilangan kekuatan spiritual dari doanya sendiri.
Dia ingin menegakkan “kebenaran” dengan marah, tapi justru menghancurkan kredibilitas ruhnya di hadapan malaikat.
Rasulullah ﷺ melarang lisan dari la’n (melaknat), karena lisan adalah jembatan antara rahmat dan azab.
Sekali ia dipakai untuk melaknat, jembatan itu berubah jadi jurang.
Dan jurang itu, kelak, bisa jadi tempat jatuhnya si pelaknat sendiri.
Jadi apa solusinya?
Bukan dengan menahan marah sepenuhnya — tapi dengan mengubah bentuknya.
Jadikan kemarahanmu doa: bukan “laknatilah dia, ya Allah”, tapi “tunjukilah dia, ya Allah, sebelum aku ikut sesat karena benciku.”
Lidahmu itu bukan hanya alat bicara, tapi izin dari langit untuk menjadi bagian dari rahmat.
Kalau engkau jadikan ia sumber laknat, maka engkau sendiri dicabut dari percakapan Ilahi.
Dan bukankah itu kehilangan paling tragis — ketika Tuhan tak lagi mau mendengarmu, karena kau terlalu sering bicara seperti setan?
Jadi, sebelum komentar “dasar bego!” di kolom orang lain, ingat: mungkin lidahmu sedang antri di neraka kecil.
Kalau mulutmu bisa bikin orang lain kepanasan, jangan salahkan kalau di akhirat kamu malah kena mode “mute” dari Allah.
Komen deh:
Pernah nggak kamu ngutuk orang tapi akhirnya sadar yang rugi kamu sendiri?
Share ke temen yang kalau marah, kalimat pertamanya bukan “Astaghfirullah”, tapi “Anjir!”.
berat
22/10/2025
"Sebab Makam Musa Tidak Ditemukan"
Abdullah bin Mu'ammal menceritakan kepada kami, Mutsanna bin Shabbah, dia berkata:
Aku mendengar Wahb bin Munabbih berkata:
Musa As berdiri Ketika Bani Isra'il melihatnya, mereka pun menghampirinya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka agar duduk lalu mereka pun duduk. Ia lantas pergi ke Kota Tire. Ternyata di sana ada sebuah sungai yang airnya berwarna putih seperti kepala domba, serta airnya seperti kapur barus, dan dipenuhi dengan pohon raihan (sejenis kemangi). Ketika Musa As takjub dengan sungai tersebut, ia pun melompat ke dalamnya untuk mandi dan mencuci pakaiannya. Kemudian ia keluar dari sungai untuk menjemur pakaiannya, kemudian ia kembali lagi ke sungai dan berendam di dalamnya hingga pakaiannya kering, lalu ia memakainya. Kemudian ia pergi menuju bukit pasir yang berwarna merah di atas kota Tire. Ternyata di sana ada dua orang laki-laki yang sedang menggali sebuah makam. Musa As mengamati kedua orang itu, lalu ia berkata, “Boleh aku membantu kalian?” Keduanya menjawab, “Ya.” Musa As lantas turun untuk menggali. Ia bertanya, “Kalau boleh tahu, seperti siapa orang yang akan dikubur di sini?” Keduanya menjawab, “Setinggi engkau dan posturnya juga seperti engkau.” Ia berbaring di atasnya, dan bumi pun menelannya. Karena itu, tidak ada yang bisa menemukan makam Musa As kecuali rahmat Allah, karena Allah telah membuat makam Musa itu bisu dan tuli.”
Cara Baru Para Maling Kotak Infaq Masjid. Tanpa Mencongkel Gembok dan Kotak Infaq.
Semoga Segera Terungkap Pelakunya
22/08/2025
نعوذ بالله من ذالك
Nyari Duit dg Cara Haram diantaranya adalah Mencuri.
Seburuk-buruknya mencuri adalah mencuri di Rumah Allah (Masjid).
Semoga pelakunya segera mendapat peringatan dari Allah
Suara Merdu KH. Hawasyi Nawawi al-Bantani
16/08/2025
Jenazah Raja Namrud bin Kan’an dan Ratunya Namrud bin Kan’an Ia dikenal sebagai penguasa yang sombong, mengaku sebagai Tuhan, dan memaksa rakyatnya menyembah dirinya. Namun, datanglah Nabi Ibrahim AS ...