26/10/2025
Assalamu`alaikum warahmatullahita`alla wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
“Mulutmu Tak Akan Jadi Saksi — Kalau di Dunia Kerjanya Ngutuk Orang.”
Manusia itu aneh. Di dunia, ia ingin suaranya didengar. Tapi di akhirat, justru suaranya akan dibungkam.
Yang setiap hari teriak “anjir!”, “tolol!”, “laknat!”, berharap suatu hari bisa bersuara di hadapan Tuhan.
Padahal Nabi ﷺ sudah menutup pintu itu dengan satu kalimat dingin tapi menggetarkan:
> “Sesungguhnya orang-orang yang s**a melaknat, tidak akan menjadi saksi dan tidak p**a pemberi syafaat pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)
Sialnya, lidah yang di dunia s**a mengirim “kutukan”, di akhirat justru kehilangan hak berbicara.
Mereka terhapus dari daftar saksi dan terhapus dari daftar pemberi syafaat.
Mereka bisu — bukan karena lidah mereka mati, tapi karena cahaya hati mereka padam.
Melaknat itu bukan cuma mengucap “terkutuklah kau”, tapi seluruh getar kebencian yang kau lempar ke orang lain — baik lewat kata, emoji, atau nada pasif-agresif di story WhatsApp.
Setiap “ih jijik banget orang kayak gitu” yang keluar dari hatimu, sesungguhnya adalah doa buruk.
Dan setiap doa buruk yang lahir dari hati gelap, menutup satu pintu cahaya dalam dirimu.
Dalam logika ruhani Imam al-Ghazali, dosa lidah itu paling berbahaya. Karena ia tak terlihat tapi mencatat.
Ia menetes halus dari hati yang merasa suci — hingga akhirnya, lidah jadi altar bagi iblis, bukan bagi Ilahi.
Coba bayangkan:
Kau sedang di pengadilan akhirat.
Semua amal dipanggil jadi saksi: tanganmu, matamu, bahkan jari yang pernah mengetik komentar jahat di Twitter.
Lalu malaikat menoleh padamu dan bertanya,
“Kenapa lidahmu tidak bicara?”
Dan jawabannya menggantung di udara:
“Karena dulu, ia terlalu sibuk melaknat, bukan memaafkan.”
Lihat betapa indahnya ironi ini:
Semakin sering seseorang mengutuk, semakin dia kehilangan kekuatan spiritual dari doanya sendiri.
Dia ingin menegakkan “kebenaran” dengan marah, tapi justru menghancurkan kredibilitas ruhnya di hadapan malaikat.
Rasulullah ﷺ melarang lisan dari la’n (melaknat), karena lisan adalah jembatan antara rahmat dan azab.
Sekali ia dipakai untuk melaknat, jembatan itu berubah jadi jurang.
Dan jurang itu, kelak, bisa jadi tempat jatuhnya si pelaknat sendiri.
Jadi apa solusinya?
Bukan dengan menahan marah sepenuhnya — tapi dengan mengubah bentuknya.
Jadikan kemarahanmu doa: bukan “laknatilah dia, ya Allah”, tapi “tunjukilah dia, ya Allah, sebelum aku ikut sesat karena benciku.”
Lidahmu itu bukan hanya alat bicara, tapi izin dari langit untuk menjadi bagian dari rahmat.
Kalau engkau jadikan ia sumber laknat, maka engkau sendiri dicabut dari percakapan Ilahi.
Dan bukankah itu kehilangan paling tragis — ketika Tuhan tak lagi mau mendengarmu, karena kau terlalu sering bicara seperti setan?
Jadi, sebelum komentar “dasar bego!” di kolom orang lain, ingat: mungkin lidahmu sedang antri di neraka kecil.
Kalau mulutmu bisa bikin orang lain kepanasan, jangan salahkan kalau di akhirat kamu malah kena mode “mute” dari Allah.
Komen deh:
Pernah nggak kamu ngutuk orang tapi akhirnya sadar yang rugi kamu sendiri?
Share ke temen yang kalau marah, kalimat pertamanya bukan “Astaghfirullah”, tapi “Anjir!”.
berat