16/01/2020
Syekh M Nawawi Banten menyebut lima tingkat keimanan anak Adam. Ia menjelaskan secara rinci sebagai berikut ini: مراتب الإيمان خمسة Artinya, “Derajat keimanan ada lima,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja,
1.Pertama, iman taklid. Keimanan ini didasarkan pada ucapan orang lain (ulama biasanya) tanpa memahami dalilnya. Keimanan orang ini sah-sah saja meski ia terbilang bermaksiat karena meninggalkan upaya pencarian dalil sendiri bila ia termasuk orang yang dalam kategori mampu melakukan pencarian dalil.
2.Kedua, iman ilmu atau ilmul yaqin. Keimanan ini didasarkan pada pemahaman aqidah berikut dalil-dalilnya. “Orang dengan kategori keimanan pertama dan kedua terhijab dari zat Allah,
3.Ketiga, iman ‘iyan atau ainul yaqin. Dengan keimanan ini seseorang mengetahui Allah (makrifatullah) dengan jalan pengawasan batin. Dengan keimanan ini, Allah tidak ghaib sekejap pun dari mata batinnya. Bahkan “gerak-gerik” Allah selalu hadir di dalam batinnya seakan ia memandang-Nya. Ini maqam muraqabah.
4.Keempat, iman haq atau haqqul yaqin. Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah melalui batinnya. Ini yang dibilang oleh para ulama bahwa “arif (orang dengan derajat makrifat) memandang Tuhannya pada segala sesuatu.” Ini maqam musyahadah. “Orang dengan kategori keimanan ini terhijab dari makhluk Allah. Dengan demikian, yang tampak padanya hanya Allah belaka.
5.Kelima, iman hakikat. Dengan keimanan ini, orang menjadi lenyap karena Allah dan dimabuk oleh cinta kepada-Nya. Ia tidak menyaksikan apapun selain Allah. Bahkan ia sendiri tidak menyaksikan dirinya. Seperti tenggelam di laut, ia tidak melihat adanya pantai. Orang ini berada di maqam fana. Semua keimanan ini mulia di level mana pun itu. Tetapi memang derajat dari semua keimanan itu berbeda di sisi Allah. Hanya saja, kita sebagai manusia biasa tidak perlu menilai tingkat keimanan orang lain karena semua mendapatkan petunjuk dari sumber yang sama, yaitu Allah.
**amantri
**abumi