29/11/2025
BANJIR ACEH, SUMATERA UTARA, DAN SUMATERA BARAT:
PERINGATAN ALAM DAN PESAN ALLAH ATAS ULAH TANGAN MANUSIA
Setiap kali banjir melanda, kita sering menyoroti curah hujan tinggi sebagai penyebab utamanya. Namun musibah besar yang kini menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa bencana tidak hadir tanpa sebab. Ada rangkaian panjang kerusakan lingkungan yang sebagian besar dipicu oleh ulah manusia, jimulai dari penebangan pohon, alih fungsi hutan, hingga lemahnya pengelolaan tata ruang.
Fenomena banjir besar dan longsor sejak akhir November 2025 menghantam ratusan desa, mengakibatkan puluhan ribu warga mengungsi, merusak rumah, jembatan, lahan pertanian, dan fasilitas vital lainnya. Hujan ekstrem memang menjadi pemicu, tetapi kondisi ini diperparah oleh melemahnya daya dukung alam akibat penggundulan hutan dan rusaknya daerah resapan air.
DATA TERKINI DAMPAK BANJIR (PER 28 NOVEMBER 2025)
- Total korban meninggal di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat: 174 orang.
- Korban hilang: 79 orang.
- Sumatera Utara: 116 meninggal, 42 hilang.
- Aceh: 6 meninggal, 11 hilang.
- Sumatera Barat: sejumlah korban meninggal dan hilang, dengan kerusakan luas di berbagai kabupaten.
- Dampak tambahan: jembatan rusak, jalan terputus, lahan pertanian hancur, dan puluhan ribu warga mengungsi.
Kerusakan ekologis dinilai memperburuk dampak banjir. Tanah yang seharusnya mampu menyerap air kini kehilangan fungsinya karena hilangnya tutupan hutan. Akibatnya, air hujan meluap dan langsung menggenang pemukiman, memicu longsor di daerah perbukitan.
PERINGATAN ALLAH DALAM AL-QUR’AN
Allah SWT telah mengingatkan manusia tentang akibat merusak bumi melalui firman-Nya dalam QS. Ar-Rum: 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini relevan dengan kondisi hari ini. Bencana yang terjadi bukan sekadar fenomena alam, tetapi peringatan agar manusia kembali menjaga keseimbangan bumi. Alam adalah amanah, bukan objek eksploitasi. Ketika manusia merusaknya, maka kerusakan itu akan kembali kepada manusia sendiri dalam bentuk musibah.
SERUAN UNTUK PERUBAHAN
Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar menjadi momentum untuk:
- Menghentikan penebangan liar dan memulihkan kawasan hutan melalui reboisasi.
- Memperkuat tata ruang dan drainase kota agar mampu menghadapi cuaca ekstrem.
- Menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman.
- Memperkuat kesiapsiagaan bencana di tingkat lokal dan nasional.
PENUTUP
Semoga bencana ini menjadi pelajaran berharga. Kita mendoakan seluruh korban yang meninggal agar Allah menerima mereka dengan husnul khatimah. Bagi yang selamat, semoga diberikan kekuatan. Dan bagi kita semua, semoga Allah memberi hidayah untuk menjaga bumi-Nya dengan lebih bijaksana.
Bumi tidak menangis karena hujan, tetapi karena manusia berhenti menjaganya.