Yayasan Amani

Yayasan Amani Collaboration for Sustainability and Survival As an eco-socio entrepreneurship Amani was founded by Wardah Alkatiri in 1999 in Bekasi, West Java.

Amani aimed at empowering rural communities and urban poor through the creation of what is believed to be socially and environmentally responsible micro businesses, including the promotion of sustainable agriculture. The business activities include (1) Organic farming of rice, soy bean, vegetables, fruits and poultry; (2) the Production of Tofu, Tempe, Kecap (soy sauce), Virgin Coconut Oil, Tea le

aves, and Herbal drinks; (3) Trading of those commodities through supermarkets and direct customers around Jakarta-Tangerang-Bogor-Depok-Bekasi. The farm production fields were in West Java (Bogor, Cianjur, Sukabumi); Central Java (Pekalongan, Yogyakarta, Magelang), and Bali (Bedugul). For the trading establishment, PT Amani Mastra was founded in 31 July, 2001. Later on, as a new government regulation was issued for not-for-profit activities, in November 23, 2006, Yayasan Amani Dharma Semesta NPWP: 21.038.558.9-432.000 was established. The establishment was registered in Minister of Justice (PengesahanKehakiman) on September 1, 2008. In all of its activities, Amani had never received any grants/donations. It has been either fully self-sufficient or received funding from Wardah Alkatiri’s husband, Mochamad Tafif Djoenaedi.

Kami bukan hanya s**a melihat alam, tapi juga prihatin terhadap laju kerusakan alam yang makin melesat: penggundulan hut...
03/02/2016

Kami bukan hanya s**a melihat alam, tapi juga prihatin terhadap laju kerusakan alam yang makin melesat: penggundulan hutan, punahnya spesies hewan dan tanaman, rusaknya keragaman hayati, emisi gas rumah kaca yang makin menggangu keteraturan iklim, buangan pabrik dan rumah-tangga mencemari air, tanah dan udara di mana-mana, serta di negara berkembang seperti Indonesia khususnya -- urbanisasi terjadi begitu cepat seakan tanpa rencana yang jelas dengan akibat multidimensi yang ditimbulkan: konversi lahan hutan dan lahan pertanian menjadi daerah industri, perumahan, dan perkantoran; migrasi besar2an terjadi dari desa ke kota; lalu, merebaknya budaya konsumeris-kapitalis sampai ke pelosok; sistem pendidikan yang tidak melek-sustainabilitas sehingga hanya melahirkan manusia-2 ‘monster’ perusak lingkungan atas nama ilmu dan teknologi – dan akhirnya, masalah sustainabilitas yang sangat dahsyat.

Kami menyaksikan berbagai usaha telah dilakukan di mana-mana untuk mengatasi persoalan lingkungan, tapi hasilnya sangat sedikit sedangkan masalah utama tetap tak tersentuh. Usaha oleh berbagai pihak belum dapat menggoyah paradigm politik-ekonomi dan budaya dominan yang justru menjadi penyebab masalah itu ada – baik di negara kaya apalagi di negara miskin.

Kami telah melihat bahwa orang tidak mudah digerakkan oleh sekedar seruan kampanye lingkungan. Mereka membutuhkan solusi atas masalah sehari-hari yang mereka hadapi. Oleh karenanya, kami yakin gerakan lingkungan hidup perlu dilakukan melalui ke-wira-usahaan yang kreatif.

Kami tidak mempercayai paradigma ‘pertumbuhan’ karena itu absurd.
Pertumbuhan yang kami maksud adalah terus menerus membesarnya ukuran eknomi serta jumlah produk dan energi yang masuk dan keluar menyertainya. Pertumbuhan tanpa henti semacam itu - yang diperoleh dengan meng-ekstrak sumberdaya alam yang berjumlah terbatas ini - secara matematika tidak masuk akal - dengan demikian, tidak mungkin bisa berlanjut.

Kami tahu, di negara2 berkembang ada korelasi positif antara GDP per kapita dan kesejahteraan, tapi setelah berjalan lama seperti di negara maju AS dan Eropa Barat, formula tsb tidak berlaku lagi. Malahan, paradigma itu telah melahirkan ketimpangan yang makin lebar di dunia ketiga (negara berkembang): yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Kami percaya bahwa yang dimaksud Quran mengatakan Allah menyerahkan bumi untuk ‘dikuasai dan dinikmati’ manusia (Quran:45:13 and 67:15) bukanlah berarti eksploitasi habis2an sebagaimana dilakukan manusia modern (termasuk Muslim) dengan bantuan ilmu dan teknologi, melainkan - dalam konteks Islam - ‘dikuasai dan dinikmati’ dengan dibatasi oleh huk*m Allah, karena manusia adalah ‘wakil’ Nya (khalifah).

Kami percaya pada kekuatan ‘ilm’ sebagaimana didefiniskan oleh Quran – yaitu - ilmu pengetahuan dalam arti yang utuh, bukan hanya teori tetapi meliputi praktek, tindakan pengamalan, dan kearifan.

Kami percaya pada kepintaran manusia dan kemampuan mereka beradaptasi menghadapi berbagai perubahan. Setiap orang pasti mampu membuat perubahan, untuk menolong dirinya, kelompoknya, dan akhirnya masyarakat luas.

Pada akhirnya, kami percaya di tangan Tuhan-lah kekuasaan atas segala sesuatu dan Tuhan-lah pemilik mutlak semua hal.

Wardah Alkatiri dan Mochamad Tafif Djoenaedi
Pendiri Yayasan Amani

Toward a ‘Green Muslim’ Culture -Green color has often been associated with nature and anything natural. Today, as we be...
29/01/2016

Toward a ‘Green Muslim’ Culture -

Green color has often been associated with nature and anything natural. Today, as we become increasingly concerned with saving our planet ecologically, the green color is closely tied with this trend. Psychologically, green has healing power and is understood to be the most restful and relaxing color for the human eye to view.

In the context of Islam, green has religious significance as well. Green is considered as the traditional color of Islam. The ‘greenness’ is mentioned several times in the Quran to describe the inhabitants of paradise. Green is also the favorite color of Prophet Muhammad (peace be upon him). Muslim environmentalist scholar and a policy advisor in the New York City mayor’s office, Ibrahim Abdul-Matin, in his book "GreenDeen: What Islam Teaches About Protecting the Planet", earnestly enjoins a transformation for Muslim people toward what he terms 'Green Deen' and 'Green Muslim' culture.

In Arabic, Deen (or, Din) is defined as a religion or creed, a faith or belief, a path or a way, and the Quran states clearly: "lak*m deen u k*m wali al-deen" (to you be your way, and to me mine) (Q:109:6). It is often cited to illustrate that Islam – like all things – is a choice ! Being a ‘green Muslim’ too is a choice to practice Islam while affirming the integral and inseparable relations between humanity, nature and Allah. A choice to witness that Allah – al-Muheet (the all-encompassing) – surrounds all things !

Abdul-Matin outlines 6 principles of being Green Muslims:
1. Understand the Oneness of Allah and His creation (Tawhid)
2. Seeing signs of Allah (ayat) everywhere
3. Being a steward/ guardian (khalifah) of the Earth
4. Honoring the covenant, or trust, we have with Allah (amanah) to be protectors of the planet
5. Moving toward justice (adl)
6. Living in balance with nature (mizan)

Being in perfect correspondence with Abdul-Matin’s principles and call for transformation, Green Santri Network promotes a Green Muslim culture for Indonesian Muslims.

Finally, Green Muslims are both spiritual and scientific.

Wardah Alkatiri
Green-Santri-Network

Enam prinsip Green Muslim:1. Memahami Tawhid - yang secara eksistensial berarti ke-Maha Esa-an Allah dan keberadaanNya p...
29/01/2016

Enam prinsip Green Muslim:

1. Memahami Tawhid - yang secara eksistensial berarti ke-Maha Esa-an Allah dan keberadaanNya pada semua makhluk ciptaan-Nya
2. Memiliki kemampuan melihat tanda-tanda Allah (ayat Allah) di mana-mana
3. Menjadikan diri sebagai khalifah - yaitu - mengambil peran menjaga, merawat dan megurus bumi
4. Memelihara amanah Allah kepada manusia sebagai penjaga planet bumi
5. Menegakkan dan memperjuangkan keadilan (adl)
6. Memilih cara hidup yang seimbang dan harmonis dengan alam (mizan)

23/01/2016
Gerakan Organic bukan sekedar mengajar bertani tanpa pupuk kimia. Gerakan ini membangun kesadaran holistic bahwa segala ...
22/01/2016

Gerakan Organic bukan sekedar mengajar bertani tanpa pupuk kimia. Gerakan ini membangun kesadaran holistic bahwa segala hal pasti terhubung dengan hal-hal lain. Pemahaman tersebut sejalan dengan premis ekologi, bahwa semua makhluk hidup - dari gajah hingga virus, dari pohon beringin hingga lumut dan bakteri - berada dalam satu kesatuan yang menyususn entitas kehidupan di bumi. Dengan basis pemahaman itu gerakan Organic bukan hanya mencari alternatif cara bertani (produksi) melainkan juga mencari alternatif sistem distribusi, yaitu melalui KOPERASI. Dengan demikian gerakan Organic menghindari sistem perdagangan kapitalistik.

Di samping produksi, gerakan Organic juga mencari alternatif cara konsumsi (makan), yaitu dengan jalan menghindari makanan olahan pabrik (industri).

Tiga hal tsb, Produksi, Distribusi, Konsumsi, merupakan pilar revolusi Organic. Dengan demikian, dalam persoalan makanan, gerakan Organic membangun kesadaran bahwa apa yang Anda makan tidak terlepas dari bagaimana makanan itu diproduksi, dan bagaimana makanan itu sampai ke meja makan Anda.

Masih Soal Budaya: Tanggapan Atas Tulisan Dr. Haidar BagirTulisan Dr. Haidar Bagir di harian Kompas 9 Januari lalu yang ...
21/01/2016

Masih Soal Budaya: Tanggapan Atas Tulisan Dr. Haidar Bagir

Tulisan Dr. Haidar Bagir di harian Kompas 9 Januari lalu yang berjudul, “Negeri Tunabudaya” cukup menarik. Dan meskipun agak berbeda pandangan, saya sependapat dalam beberapa hal dengannya. Misalnya, membincang budaya adalah bicara soal menjadi manusia seutuhnya: spiritual, moral, estetis, sadar dan berpikir. Sayapun sependapat tentang revitalisasi budaya sangat diperlukan masyarakat kita kini.

Namun, ada beberapa hal penting yang tampaknya luput dari perhatian Dr. Bagir yang ingin saya kemukakan di sini, untuk menyodorkan tiga perspektif lain tentang persoalan kondisi ke-budaya-an kita. Yaitu, perspektif tiga elemen besar di dalam masyarakat Indonesia: 1. orang awam; 2. kaum wanita; dan 3. perspektif lingkungan hidup.

Pertama, perlu diingat bahwa di seluruh Dunia Ketiga dikenal adanya pembagian budaya menjadi High Culture (budaya tinggi) dan Low Culture (budaya rendah). Ini adalah strategi cultural imperialism yang merupakan proses sistematis dominasi budaya masyarakat luas untuk tunduk menyesuaikan diri mengikuti kepentingan kelompok penguasa. Proses ini dimulai sejak jauh di zaman kolonial. Yang disebut budaya tinggi adalah produk kultural dari bangsa-bangsa Eropa, sedang budaya rendah adalah produk kultural lokal. Di masa itu, gereja, institusi pendidikan dan otoritas public memainkan peran penting dalam menggiring masyarakat pribumi untuk tunduk mengikuti budaya kolonial. Lalu, sejak kemerdekaan dari penjajah, di kalangan para elite nasionalis di seluruh Dunia Ketiga terjadilah proses kemunculan kembali ‘subjective antiquity’ dan neo-patrimonialisme dengan imajinasi institusi kerajaan di masa lalu. Yang menarik, gejala subyektifitas sejarah tsb, yang disertai pengidolaan tata-cara kerajaan di masa lalu, diterapkan dengan jalan meniru persis konsep kolonial mereka dulu. Lalu itu dijadikan corak bagi pemerintahan post-colonial yang baru lahir tersebut, dan corak ini membentuk pandangan paternalistic serta sentralistik dalam pemerintahannya. Ilmuwan politik Seyyed Vali Reza Nasr menulis tentang hal yang satu ini di dunia Islam dalam bukunya "Islamic Leviathan: Islam and the Making of State Power". Di Indonesia, tentu bukan kebetulan kalo para tokoh yang disebut oleh Dr. Bagir sebagai orang2 dengan “kesadaran budaya tinggi” adalah para elite, baik dari kalangan berpendidikan tinggi Barat maupun aristokrat Jawa. Keduanya adalah High Culture dalam kerangka cultural imperialism di atas.

Kedua, sebagai wanita saya ingin menyampaikan kritik kaum ibu yang sepanjang pengetahuan saya jarang mengemuka dalam diskusi para intelektual Indonesia atas budaya atau peradaban modern. Sejak 1970an banyak pemikir wanita menyadari bahwa tanpa disadari modernisme ternyata adalah ‘laki-laki’. Sila lihat "The Gender of Modernism" editan Bonnie Kime Scott. Sebagai gambaran, maskulinitas modernisme paling gampang dilihat dari contoh berikut. Sejak memasuki industralisasi, lapangan kerja serta sistem, tempat dan irama kerja di negara ini dibuat dengan mengabaikan kepentingan dan fitrah kaum ibu. Adakah, misalnya, pembangunan kota dengan pola sub-urban seperti Jakarta dibuat dengan mempertimbangkan jarak dari rumah ke tempat kerja kaum ibu yang baik karena kebutuhan ekonomi atau sekedar keinginan berkarya harus meninggalkan anaknya sehari penuh hingga malam tiba kembali ke rumah? Tentu saya tidak perlu berpanjang-lebar menunjukkan korelasi antara keadaan kaum ibu tersebut dengan data meningkatnya kenakalan remaja, penggunaan narkoba, merosotnya kualitas generasi muda, dsb.

Ketiga, sebagai aktivis lingkungan dan peneliti eco-sociology - yaitu hubungan antara masyarakat dan ekologi - tanpa basa basi saya katakan bahwa budaya kapitalis-konsumeris dan developmentalis-teknokratis Barat yang diimpor oleh Dunia Ketiga adalah budaya ‘insane’ - tidak waras, dari sudut pandang lingkungan hidup. Bukan hanya karena merusak lingkungan dengan exploitasi sumberdaya alam besar2an untuk memenuhi selera konsumsi manusia, yang mana ini bisa mengancam keseimbangan alam dan keberlanjutan umat manusia di bumi, tapi juga menjauhkan manusia dari nilai2 kemanusiaan dan dari kebahagiaan yang dia cari2. Karena itu, yang diperlukan adalah transformasi budaya yang berpijak pada kenyataan, yaitu kenyataan bahwa alam ini sudah rusak; bahwa SDA menipis, dan bahwa ada ketimpangan social ekonomi yang sangat besar. Dengan demikian, yang kita perlukan adalah transformasi radikal. Inilah yang kini makin banyak ditulis dan diperdebatkan oleh environmental dan social scientists. Yaitu, transformasi budaya radikal dalam hal cara pandang, cara berfikir, cara hidup, hubungan antar manusia, serta perlunya dekonstruksi dan rekonstruksi sistem dan metode pendidikan untuk mencetak manusia yang melek-sustainabilitas (keberlanjutan).

Terakhir, marilah kita lihat, apakah benar masyarakat kita saat ini tunabudaya. Saya punya pendapat sedikit berbeda dari Dr. Bagir dengan memakai 5 tolok ukur di atas, yaitu, spiritual, moral, estetika, sadar dan berpikir. Pertama, dalam hal spiritual dan moral, saya adalah orang yang melihat rata2 orang awam Indonesia tidak kurang ber-moral dan tidak kurang spiritual dibanding orang awam bangsa2 lain, bahkan dalam banyak hal lebih spiritual dan lebih bermoral. Kedua, estetika adalah persoalan subyektif dan value-laden (tidak bebas nilai), disamping adanya selera pribadi yang pasti terlibat: yang indah buat orang Madura mungkin tidak indah buat orang Jawa, demikian juga yang indah buat umat Nasrani mungkin tidak indah buat umat Islam. Saya berpendapat, tidak mungkin bisa menyatukan standar estetika 300 kelompok etnis Indonesia kecuali melalui pemaksaan budaya sentralistik oleh negara yang tentu saja tidak kita kehendaki. Poin terakhir, tentang sadar dan berfikir. Kita harus ingat bahwa sadar dan berfikir adalah aktivitas kognitif manusia yang melibatkan sistem simbol dan sistem ilmu, yang bisa berbeda2 antara umat Islam, Nasrani, Hindu, Buddha, Tao, dsb. Bahkan sistem simbol dan sistem ilmu mereka itu bisa saja sangat berbeda dengan sistem modern. Jadi, sekali lagi, tidak mungkin bisa kita menyatukan 250 juta kepala yang mempunyai sistem kognitif berbeda kecuali melalui pemaksaan oleh negara, yang juga tidak kita kehendaki.

Oleh karena itu, tantangan terbesar kita bukannya revitalisasi budaya dengan penyeragaman oleh negara, melainkan memberi ruang seluas-2nya kepada komunitas budaya - yaitu kelompok2 agama dan adat. Yang harus dilakukan adalah memberdayakan mereka melalui pendidikan dan keterampilan yang diperlukan para pimpinanannya, untuk bisa berpartisipasi aktif menata anggota masing2 menghadapi masalah nyata kehidupan sehari2 di masyarakat, yaitu, sekali lagi saya garisbawahi: segudang masalah yang ditimbulkan oleh budaya kapitalis-konsumeris, developmentalis-teknokratis yang sudah begitu merasuki masyarakat Indonesia dan membutakan mata mereka dari sustainabilitas.

Wardah Alkatiri
PhD candidate in Sociology, University of Canterbury, New Zealand
Perancang program Green-Santri Network – pemberdayaan kelompok Islam melalui pendidikan dan keterampilan untuk survival dan socio-ecological sustainability.

Amazing world around you !Tahukah Anda kalo Jamur lebih mirip hewan daripada tanaman? Dulu Jamur digolongkan oleh ilmuwa...
20/01/2016

Amazing world around you !
Tahukah Anda kalo Jamur lebih mirip hewan daripada tanaman? Dulu Jamur digolongkan oleh ilmuwan sebagai tanaman tapi sejak 1960an dibuatkan kelompok (kingdom) sendiri karena sifat2nya lebih mirip hewan daripada tanaman. Yaitu, Jamur tidak bisa mensintesa makanan sendiri dari tanah melainkan makan dari sisa2 mahluk hidup. Namun, Jamur juga tidak bisa dianggap hewan karena hewan mencerna makanan di dalam tubuhnya sedangkan Jamur di luar.

Di samping penghematan uang belanja, yang paling utama dari hobi berkebun dan menanam sayuran di rumah adalah membuat ke...
19/01/2016

Di samping penghematan uang belanja, yang paling utama dari hobi berkebun dan menanam sayuran di rumah adalah membuat keluarga Anda selalu terhubung dengan alam, menciptakan rekreasi yang sehat dan murah, serta membuat memori-2 indah buat anak2 Anda.

Green-Santri-Network (GSN) education programme aims to eventually create a network of sustainable Muslim communities to ...
19/01/2016

Green-Santri-Network (GSN) education programme aims to eventually create a network of sustainable Muslim communities to transform the existing communities toward more sustainable ways of living by returning to smaller scale, more self-reliant communities with simpler ways of living and with self-local governance. GSN does not seek to shift the larger society at once, rather, to work on a community scale. It draws upon multiple disciplines with pragmatic strategies to equip people with resilience and adaptive capabilities in the face of environmental degradation. GSN is based on personal actions to change lifestyles.

Yayasan Amani aims to develop an education and training programme for the creation of Green Santri Network, a socio-ecol...
15/01/2016

Yayasan Amani aims to develop an education and training programme for the creation of Green Santri Network, a socio-ecological movement by Indonesian Muslim communities using Muslims’ own sensibility and ‘thought language’ to disseminate messages more effectively, and to incite spontaneity and creativity from a larger portion of Indonesian society.

The quiet wisdom of nature does not try to mislead you like the landscape of the city does, with billboards and ads ever...
10/01/2016

The quiet wisdom of nature does not try to mislead you like the landscape of the city does, with billboards and ads everywhere. Nature doesn’t make you feel you have to conform to any image. It’s just there, and it accepts everyone. (Erin Lau)

They are community like you !                                                                                           ...
10/01/2016

They are community like you !
"There is not an animal in the earth, nor a flying creature flying on two wings, but they are communities like you. We have not neglected in Our decrees a thing. Then unto their Lord they will be gathered" (Quran 6:38)

Address

Bandar Surabaya
60241

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Amani posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Yayasan Amani:

Shortcuts

Share

Category