SDIT Insan Kamil Bandar Lampung

SDIT Insan Kamil Bandar Lampung

Share

"CITA-CITA"

"..cerdas imu dunia ^_^
"..cerdas ilmu agama ^_^
"..Pengamalan di kehidupan sehari-hari ^_^

15/04/2026

DAI SDIT INSAN KAMIL

25/03/2026

Nasihat Nyai Hj. Noer Channah Zamzami - Lirboyo, Kediri untuk para Penghafal al-Qur'an

berat



20/03/2026

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
MOHON MAAF LAHIR & BATIN.

Bagaimana Hukum Mengucapkan : "Selamat Hari Raya Idul Fitri"?

Masalah pengucapan 'Selamat Hari Raya Idul Fitri' dan ucapan selamat lainnya mendorong diskusi di kalangan ulama. Syekh Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan masalah ini dalam kump**an fatwanya berikut ini:

قال القمولي في الجواهر : لم أر لأصحابنا كلاماً في التهنئة بالعيدين ، والأعوام ، والأشهر كما يفعله الناس ، ورأيت فيما نقل من فوائد الشيخ زكي الدين عبد العظيم المنذري أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة انتهى ، ونقله الشرف الغزي في شرح المنهاج ولم يزد عليه.

Artinya:
Al-Qamuli dalam Al-Jawahir mengatakan: Aku tidak menemukan banyak pendapat kawan-kawan dari Madzhab Syafi’i ini perihal ucapan selamat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, ucapan selamat pergantian tahun dan pergantian bulan seperti yang dilakukan oleh banyak orang sekarang. Hanya saja aku dapat riwayat yang dikutip dari Syekh Zakiyuddin Abdul Azhim al-Mundziri bahwa Al-Hafizh Abul Hasan al-Maqdisi pernah ditanya perihal ucapan selamat bulan baru atau selamat tahun baru. Apakah hukumnya bid’ah atau tidak? Ia menjawab, banyak orang selalu berbeda pandangan masalah ini. Tetapi bagi saya, ucapan selamat seperti itu mubah, bukan sunah dan juga bukan bid’ah.’ Pendapat ini dikutip tanpa penambahan keterangan oleh Syaraf al-Ghazzi dalam Syarhul Minhaj. (Lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Hawi lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal Hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman: 83).






26/10/2025

Assalamu`alaikum warahmatullahita`alla wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahim.

“Mulutmu Tak Akan Jadi Saksi — Kalau di Dunia Kerjanya Ngutuk Orang.”

Manusia itu aneh. Di dunia, ia ingin suaranya didengar. Tapi di akhirat, justru suaranya akan dibungkam.
Yang setiap hari teriak “anjir!”, “tolol!”, “laknat!”, berharap suatu hari bisa bersuara di hadapan Tuhan.
Padahal Nabi ﷺ sudah menutup pintu itu dengan satu kalimat dingin tapi menggetarkan:

> “Sesungguhnya orang-orang yang s**a melaknat, tidak akan menjadi saksi dan tidak p**a pemberi syafaat pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)

Sialnya, lidah yang di dunia s**a mengirim “kutukan”, di akhirat justru kehilangan hak berbicara.
Mereka terhapus dari daftar saksi dan terhapus dari daftar pemberi syafaat.
Mereka bisu — bukan karena lidah mereka mati, tapi karena cahaya hati mereka padam.

Melaknat itu bukan cuma mengucap “terkutuklah kau”, tapi seluruh getar kebencian yang kau lempar ke orang lain — baik lewat kata, emoji, atau nada pasif-agresif di story WhatsApp.
Setiap “ih jijik banget orang kayak gitu” yang keluar dari hatimu, sesungguhnya adalah doa buruk.
Dan setiap doa buruk yang lahir dari hati gelap, menutup satu pintu cahaya dalam dirimu.

Dalam logika ruhani Imam al-Ghazali, dosa lidah itu paling berbahaya. Karena ia tak terlihat tapi mencatat.
Ia menetes halus dari hati yang merasa suci — hingga akhirnya, lidah jadi altar bagi iblis, bukan bagi Ilahi.

Coba bayangkan:
Kau sedang di pengadilan akhirat.
Semua amal dipanggil jadi saksi: tanganmu, matamu, bahkan jari yang pernah mengetik komentar jahat di Twitter.
Lalu malaikat menoleh padamu dan bertanya,
“Kenapa lidahmu tidak bicara?”
Dan jawabannya menggantung di udara:
“Karena dulu, ia terlalu sibuk melaknat, bukan memaafkan.”

Lihat betapa indahnya ironi ini:
Semakin sering seseorang mengutuk, semakin dia kehilangan kekuatan spiritual dari doanya sendiri.
Dia ingin menegakkan “kebenaran” dengan marah, tapi justru menghancurkan kredibilitas ruhnya di hadapan malaikat.

Rasulullah ﷺ melarang lisan dari la’n (melaknat), karena lisan adalah jembatan antara rahmat dan azab.
Sekali ia dipakai untuk melaknat, jembatan itu berubah jadi jurang.
Dan jurang itu, kelak, bisa jadi tempat jatuhnya si pelaknat sendiri.

Jadi apa solusinya?
Bukan dengan menahan marah sepenuhnya — tapi dengan mengubah bentuknya.
Jadikan kemarahanmu doa: bukan “laknatilah dia, ya Allah”, tapi “tunjukilah dia, ya Allah, sebelum aku ikut sesat karena benciku.”

Lidahmu itu bukan hanya alat bicara, tapi izin dari langit untuk menjadi bagian dari rahmat.
Kalau engkau jadikan ia sumber laknat, maka engkau sendiri dicabut dari percakapan Ilahi.
Dan bukankah itu kehilangan paling tragis — ketika Tuhan tak lagi mau mendengarmu, karena kau terlalu sering bicara seperti setan?

Jadi, sebelum komentar “dasar bego!” di kolom orang lain, ingat: mungkin lidahmu sedang antri di neraka kecil.
Kalau mulutmu bisa bikin orang lain kepanasan, jangan salahkan kalau di akhirat kamu malah kena mode “mute” dari Allah.

Komen deh:
Pernah nggak kamu ngutuk orang tapi akhirnya sadar yang rugi kamu sendiri?
Share ke temen yang kalau marah, kalimat pertamanya bukan “Astaghfirullah”, tapi “Anjir!”.

24/09/2025
23/09/2025

Yuk daftarkan putra shalih dan putri shalihah anda di SDIT Insan Kamil Bandar Lampung

Photos from SDIT Insan Kamil Bandar Lampung's post 20/07/2025

Soft Opening SD IT Insan Kamil 2 Bandar Lampung

Photos from SDIT Insan Kamil Bandar Lampung's post 19/07/2025

Peresmian Gedung SD IT Insan Kamil 2 Bandar Lampung


18/07/2025

Pembiasaan Tadarrus al-Qur'an, Hadits dan Do'a Harian Sebelum Memulai KBM

Want your school to be the top-listed School/college in Bandar Lampung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jl. Karimun Jawa No. 121 Sukarame
Bandar Lampung
35131

Opening Hours

Monday 07:00 - 13:15
Tuesday 07:00 - 13:15
Wednesday 07:00 - 13:15
Thursday 07:00 - 13:15
Friday 07:00 - 13:15