CV. Gen's Genius

CV. Gen's Genius

Share

bergerak di bidang penerbitan buku referensi untuk anak-anak sekolah dn umum serta memperluas wawasan siswa didik

14/04/2021

Teluk Lampung

Jak teluk sampai panjang
Lamun tengah debingi
Lampu sinagh menyinagh
Sehelau pumandangan

Lamun kak ghani minggu
Nayah ulun sai guk san
Bak haga nyari judu
Di saksiko lautan

Reff:
Ghang laya helau ghulus
Nutuk pinggegh lautan
Ngiwi bubaghis lughus
Sehelau pumandangan

Lamun jak sana misan
Nyak haga nyita mulang
Nutuk ghik pumandangan
Sayup mata gham mandang
Sayup mata gham mandang

Photos from CV. Gen's Genius's post 25/03/2021

Star lagi.. gelap2an 😀😀😀

Photos from CV. Gen's Genius's post 05/08/2017

Perjuangan Lettu CPM Suratno dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Panggungrejo sebagai berikut :Pada mulanya tahun 1947, walaupun Belanda belum menduduki Lampung tetapi suasana menghadapi agresi Belanda telah dipersiapkan. Daerah Lampung sebagai bagian dari Provinsi Sumatra Selatan ikut merasakan bagaimana suasana menghadapi Agresi Belanda dan Sekutu.

Daerah Lampung sebagai bagian dari Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta, dalam kenyataannya berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sebagai daerah lumbung padi untuk Sumatra Bagian Selatan, penduduk daerah Lampung berusaha dan bekerja sebagaimana biasanya. Lampung masih menikmati kemerdekaan bahkan turut memeriahkan hari Proklamasi 17 Agustus 1948 yang dipusatkan di lapangan Enggal Tanjung Karang. Kemeriahan ini tidak terjadi pada tahun berikutnya, karena daerah Lampung sudah diduduki oleh tentara Belanda. Suasana pertengahan tahun 1948 tetap diliputi oleh kewaspadaan, karena pasukan Belanda sudah berada di Baturaja dan Martapura, karena itulah pada saat menyusun strategi pertahanan daerah Lampung terdepat daerah pertahanan militer bagian utara dan bagian selatan.

Sedangkan daerah pertahanan bagian tengah menunggu apabila kedua pertahanan itu telah diterobos oleh Belanda. Pada tanggal 15 September 1948, diadakan pemisahan kesatuan Sub-Territorial dan Mobil secara administrasi dan sudah terlaksana dengan baik sesuai dengan penetapan panglima TNI Komando Sumatra, khusus Batalyon Mobil telah selesai berikut persenjataannya. Hampir seluruh perwira-perwira pertama Brigade Garuda Hitam ditempatkan menurut organisasi dan formasi yang baru dengan posisi masing-masing, baik dalam Sub-Territorial dan mobil. Hanya yang belum selesai penempatan dan pemindahan perwira menduduki fungsi-fungsi Desa militer karena terlalu banyak Desa-Desa yang ada di Lampung dan Palembang Selatan.

Akhirnya Desa militer ini hanya pada Desa-Desa tertentu yang dianggap penting dan strategis. Pengumuman itu dilaksanakan pada tengah malam tanggal 31 Desember 1948 kepada semua daerah Lampung. Batalyon mobil kompi I dan kompi II baru berangkat ke Lampung Utara pada pukul 03.00 tanggal 1 Januari 1949, kemudian pukul 05.00 Komandan STL meninggalkan Tanjungkarang ke Gedongtataan dan pada jam tersebut Belanda sudah mulai mendarat di Panjang. Dengan didudukinya kota Tanjung Karang - Teluk Betung oleh Belanda tidak berarti bahwa Indonesia kalah perang. Pasukan Polisi Militer di bawah Lettu CPM Suratno bertempur melawan Belanda di Kaliawi dan Langkapura dan berusaha untuk membuktikan bahwa tentara dan lasykar Indonesia masih sanggup mengusik kedudukan Belanda.

Belanda pun terus menyerang, hingga waktunya pun pada tanggal 15 januari 1949 pasukan Belanda lagi-lagi menyerang di Gedongtaan yang dilakukan melalui Branti. Pada sore harinya Gedongtaan jatuh ditangan Belanda setelah mengalami pertempuran sengit. Namun malam harinya pasukan kita mengadakan serangan balasan yang dilakukan oleh Pasukan CPM Kompi C dipimpin Kapten Suratno setelah mengadakan konsolidasi dan mengatur strategi untuk menyerang Belanda di Gedongtaan. Belanda terpaksa mundur kembali ke Tanjungkarang pada hari berikutnya yaitu tanggal 16 Januari 1949. Namun pasukan Belanda mengadakan serangan kembali disertai serangan pesawat udara dengan menembaki Staf Komando di Gadingrejo. Serangan itu tidak berhasil menembus dan merebut pertahanan kita. Akibat seringnya serangan Belanda yang terus-menerus terhadap garis pertahanan di Gadingrejo, maka Staf Komando terpaksa mundur dipindahkan ke Pringsewu. Pos-pos pertahanan yang dibuat oleh pasukan CPM Kompi C pimpinan Lettu CPM Suratno dipusatkan untuk pengamanan pertahanan pos terdepan, karena daerah-daerah tersebut merupakan sumber supplay bahan pangan yang sangat diperlukan oleh pasukan CPM di dalam operasi jangka panjang.

Keberhasilan pasukan Lettu CPM Suratno menjaga benteng pertahanan dalam menghadapi dan melawan serangan udara itu, kemudian esok harinya dikibarkanlah
bendera Merah Putih diatas bukit yang sejak awal terjadinya pertempuran tersebut, sehingga bukit itu diberi nama Bukit Silitonga.

Pertahanan Sukoharjo sampai masa pengakuan kedaulatan tidak dapat direbut Belanda.

Profile pictures 17/06/2015

putra genrhe

Photos 27/10/2014
05/06/2014

21 Hal Yang MEMBANGGAKAN INDONESIA Di Mata Dunia


Info ini bisa membangkitkan nilai Nasionalisme kita. Karena ternyata di tengah-tengah ‘kemirisan’ yang dihadapi terhadap bangsa ini, masih banyak yang sangat membanggakan. Ternyata Indonesia memiliki banyak sekali kelebihan yang sayang untuk dibiarkan begitu saja, KELEBIHAN itu yaitu :

1. Republik Indonesia merupakan Negara kep**auan terbesar di dunia
Yang terdiri dari 17.504 p**au (termasuk 9.634 p**au yang belum diberi nama dan 6.000 p**au yang tidak berpenghuni) . Disini ada 3 dari 6 p**au terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (p**au terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2).

2. Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia
Dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia.

3. Pulau Jawa adalah p**au terpadat di dunia
Dimana sekitar 60% hampir penduduk Indonesia (sekitar 130 jt jiwa) tinggal di p**au yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah RI.
Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku.

4. Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak,
Yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia. Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa.

5. Monumen Budha (candi) terbesar di dunia
Adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang relief lebih dari 1 km. Diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (750-850).

6. Tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia,
Yaitu : Pithecanthropus Erectus yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang lalu.

7. Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II.
Pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia.

8. Indonesia adalah Negara pertama (hingga kini satu-satunya) yang pernah keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)
Pada tgl 7 Januari 1965. RI bergabung kembali ke dalam PBB pada tahun 1966.

9. Tim bulutangkis Indonesia adalah yang terbanyak merebut lambang supremasi bulutangkis pria,
Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002).

10. Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia
(20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua.

11. Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian,
Yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

12. Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis
(Plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.

13. Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia).

14. Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species.

15. Biodiversity Anggrek terbeser didunia :
6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.

16. Memiliki hutan bakau terbesar di dunia.
Tanaman ini bermanfaat ntuk mencegah pengikisan air laut/abrasi.

17. Binatang purba yang masih hidup
Komodo yang hanya terdapat di p**au Komodo, NTT adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bias mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg.

18. Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera adalah bunga terbesar di dunia.
Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter.

19. Memiliki primata terkecil di dunia ,
Yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan yang mirip monyet dan hidupnya diatas pohon ini terdapat di Sulawesi.

20. Tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia
Yaitu, Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi.

21. Ikan terkecil di dunia
Yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk.

Banyak kan kelebihannya? tinggal cara mengolah dan memeliharanya saja yang harus di dukung dengan kepercayaan diri yang hebat untuk memakai produk kita sendiri.

SUMBER: http://www.smartnewz.info/


www.SMARTNEWZ.info | Kump**an Artikel Online Kump**an Artikel Online Meliputi Artikel Pengetahuan, Artikel Agama, Artikel Kiss Love, Artikel Unik, Artikel Humor, Artikel Misteri, Artikel Serba 7, Artikel Komik, Artikel Sepakbola Yang Mungkin Anda Belum Ketahui

Photos 22/03/2014

merenovasi persiapan tahun ajaran baru.. bismilahhhhh.. mohon doa na ea teman2 semua.....

Photos 31/01/2014

Puyang Rya Menang Betanding

Beberapa abad silam, konon terdapat dua bersaudara yang mengembara ke suatu daerah utara tanah Lampung. Yang tua bernama Mensura Tuha dan yang muda bernama Rya Menang Betanding. Dalam pengembaraan itu kedua orang bersaudara tersebut akhirnya sampai di suatu tempat yang masih hutan rimba dan belum dihuni manusia.

Daerah ini dialiri beberapa anak sungai dan salah satu di antaranya terdapat sebuah sungai yang cukup besar.

Pada suatu hari, Rya Menang Betanding berkata kepada kakaknya, "Menurut pandangan saya, di daerah ini terdapat kayu yang besai (bagus) bambu dan rotan besai serta tanah dan sungainya yang cukup besai. Mengingat di daerah ini segala sesuatunya serba-besai dan belum dihuni manusia, maka sebaiknya kita berdua membuka permukiman baru yang kelak diharapkan akan tumbuh menjadi suatu perkampungan." Mendengar ucapan adiknya itu, Mensura Tuha setuju saja dan sekaligus menanamkan sungai yang terbesar itu dengan nama Sungai Way Besai yang kemudian sepanjang daerah Sungai Way Besai itu terkenal dengan sebutan daerah Way Besai (asal kata dari serba-besai). Mereka berkeyakinan sepenuhnya, di sepanjang Sungai Way Besai tersebut belum ada manusia lainnya yang menghuni atau membuka suatu perkampungan.

Mulailah kedua bersaudara itu membuka, membabat hutan di tepi Sungai Way Besai sekaligus untuk dua perkampungan yang kabarnya belum mempunyai nama tetap. Tatkala kedua bersaudara itu sedang membabat hutan, tiba-tiba mereka melihat sepotong bambu hanyut di Sungai Way Besai.

Setelah melihat bambu yang hanyut dan punya tanda-tanda bekas dipotong manusia, mereka berkesimp**an sudah barang tentu ada manusia lain yang lebih dulu dari mereka membuka suatu perkampungan di hulu Sungai Way Besai itu.
Untuk membuktikan kebenarannya, mereka berdua mencoba menyelusuri Sungai Way Besai tersebut ke arah hulunya untuk mengetahui siapa gerangan yang memotong bambu yang hanyut itu, ataukah mungkin ia telah membuka p**a suatu perkampungan. Ternyata dugaan mereka itu benar, terbukti mereka menemukan seorang yang bernama Umpu Kawa, yang telah lebih dahulu membuka suatu perkampungan yang kemudian dikenal dengan nama Cugah.

Rya Menang Betanding dan Mensura Tuha meneruskan perjalanannya dan akhirnya mereka menemukan satu perkampungan lagi yang terletak di tepi Sungai Way Abung bernama Kotabumi. Kedatangan kedua bersaudara itu di Kotabumi agaknya mengandung hikmah karena di Kotabumi ini mereka mendapat jodoh putri-putri Pangeran Kotabumi. Kakak beradik ini kawin dengan putri-putri Pangeran Kotabumi yang masing-masing bergelar Minak Ratu Demaung yaitu, istri Mensura Tuha, dan Minak Maju Demaung, istri Rya Menang Betanding.

Setelah pernikahan mereka, timbullah keinginan kedua bersaudara ini untuk kembali ke perkampungan yang telah dirintisnya di tepi Sungai Way Besai. Lebih-lebih lagi kedua orang tersebut kini telah bertambah anggotanya sebagai modal yang cukup besar untuk pengembangan manusia di daerah yang terpencil di tengah-tengah hutan rimba.
Ketika kedua bersaudara itu menyampaikan maksudnya kepada mertuanya untuk kembali ke perkampungannya di tepi Sungai Way Besai, mertuanya pun tidak keberatan dan sekaligus akan memberi anak-anaknya barang-barang alat rumah tangga (dalam Bahasa Lampung Way Kanan--kepunyaan). Tetapi mengingat jarak calon perkampungan sangat jauh sekali, diperkirakan sangat sulit membawa barang-barang tersebut, di samping itu kelak sewaktu-waktu akan mengalami kerusakan, Rya Menang Betanding dan Mensura Tuha menyampaikan suatu usul pada pihak mertuanya agar sebaiknyalah mereka diberi pusaka atau kenang-kenangan yang lebih kekal abadi. Untuk itulah, kedua orang putri Pangeran Kotabumi yang sudah akan diboyong suaminya ke tepi Sungai Way Besai diberi suatu pusaka, kenang-kenangan yang cukup langgeng dan abadi yakni berupa nama kampung, masing-masing sebagai berikut :

1. Kota Harilang untuk nama kampungnya Mensura Tuha dengan Minak Ratu Demaung.
2. Kota Batu untuk nama kampungnya Rya Menang Betanding dengan Minak Maju Demaung.

Setiba di tempat perkampungannya yang baru, mulailah kedua orang bersuara itu menyusun suatu kehidupan yang baru sebagai langkah permulaan dengan iringan cita-cita luhur untuk membangun suatu perkampungan yang permanen.

SEJALAN pergantian siang dan malam, Kotaharilang dan Kotabatu tumbuh pesat menjadi suatu perkampungan disertai pertambahan penduduknya. Keturunan Rya Menang Betanding dan Mensura Tuha mulai berkembang biak setelah berjalan beberapa tahun.
Pada suatu ketika datanglah bencana besar, musibah yang menimpa daerah tersebut, yang ditandai datangnya penyakit, wabah diiringi kejadian-kejadian lainnya yang aneh-aneh dan mengerikan. Akibatnya, banyak penduduk yang meninggal dunia. Timbullah suatu pemikiran hal ini dipandang perlu untuk melakukan korban sebagai tolak bala. Korban dilaksanakan dengan jalan menyembelih seorang manusia bernama Sisura.
Ketika penyembelihan Sisura ini dilakukan, darahnya ditadah dengan bukoro dan kemudian kepalanya dicemplungkan ke dalam lubuk kampung Kotabatu.

Beberapa tahun kemudian setelah penyembelihan Sisura, agaknya ketenangan makin berkurang untuk tetap bertahan di kampung tersebut. Oleh sebab itu, Rya Menang Betanding beserta anak cucu keturunannya memutuskan memindahkan kampungnya ke suatu tempat yang tidak berapa jauhnya dari Kampung Kotabatu. Kampung yang baru ini letaknya lebih kurang 2 kilometer dari Kotabatu (di hilirnya) dan kemudian dinamai Gedungmenong.

Pada suatu ketika Rya Menang Betanding melakukan perjalanan muhibah ke tanah Banten, untuk bertemu Raja Banten. Perjalanan tersebut cukup hebat dan menakjubkan karena beliau tidak menggunakan kendaraan seperti yang ada di zaman modern ini. Beliau hanya menggunakan kain basahan yang biasa dipakai mandi di sungai yang disebut telesan. Kain basahan tersebut diletakkan di atas permukaan air sungai untuk dijadikan tempat duduk, sedangkan yang sepotong dilipatnya untuk dijadikan layar.
Setelah mengikuti aliran sungai yang bermuara ke lautan, beliau dengan santai dan tenang berlayar mengarungi Laut Sunda dan akhirnya sampailah di tanah Banten.

Setibanya di tanah Banten, beliau dihadapkan pada ujian-ujian, antara lain membunuh seekor naga di Teluk Banten dan membunuh seekor lipan besar, selebar papan, yang hinggap di batang kelapa. Kedua binatang tersebut mati oleh Rya Menang Betanding dengan manteranya, antara lain: "Kumincok di lembung puntung, nak mati kimal untung".
Selain itu, beliau ikut p**a dalam suatu perlombaan besar untuk mengambil dan merebut sebilah keris pusaka yang kabarnya berasal dari daun tebu. Rya Menang Betanding menang dalam perebutan dan mendapatkan keris pusaka tersebut yang kemudian terkenal dengan nama Tedung Rangga. Keris Tedung Rangga ini kira-kira bermakna, ular berbisa. Hingga sekarang, keris tersebut masih ada tersimpan pada salah seorang keturunannya.

Setelah selesai mengikuti beberapa acara di tanah Banten, Rya Menang Betanding bermaksud kembali ke tanah Lampung. Namun, sebelum kembali beliau mengadakan suatu perjanjian di Selat Sunda dengan pihak raja/ratu lautan. Isi perjanjian antara lain, anak cucu dan keturunannya atau rakyatnya jangan sampai terkena mabuk dalam pelayaran atau mabuk laut. Dalam perjanjian tersebut telah ditentukan p**a suatu kode, tanda pengenal bagi anak cucu keturunannya. Jika suatu waktu akan melakukan pelayaran, sebelum memulai pelayaran disarankan menaburkan beras kunyit (beras dicampur kunyit) ke laut dengan disertai ucapan-ucapan dalam hati nurani antara lain: "Kami ini adalah keturunan anak cucu Rya Menang Betanding yang akan memulai pelayaran dan mohon agar kami jangan sampai terkena mabuk laut".

Setelah itu Rya Menang Betanding kembali ke tanah Lampung, menuju daerah permukimannya di tepi Way Besai (Sungai Besai) bernama Gedungmenong yang selanjutnya meneruskan perjuangan dalam usaha membangun desa baru, diiringi pertambahan penduduk setelah berjalan bertahun-tahun.

PADA suatu ketika Rya Menang Betanding akan berkunjung ke tempat mertuanya di Kotabumi bersama istrinya. Dalam perjalanan tersebut beliau melalui hutan rimba yang sangat luas dan sama sekali tidak mempunyai jalan atau rintisan. Akhirnya, dia bersama istrinya muncul di satu perkampungan yang bernama Tulangbawang Marga Bungamayang.

Di Kampung ini pun ada peninggalannya serta beberapa buah barang pusaka yang ditinggalkannya. Bekas jalan yang dilalui Rya Menang Betanding tersebut, hingga kini masih ada bekas-bekas dan jika ingin melalui jalan tersebut, mudah-mudahan kita tidak akan tersesat.

Niat berkunjung ke tempat mertua ternyata tidak diteruskannya, berhubung ia berpendapat jika ke Kotabumi khawatir akan disuruh menetap di tempat mertuanya itu yang berarti ia akan tipasuk (diambil mertuanya). Akhirnya, ia berputar haluan ke arah Komering dan di sini ia bertemu p**a dengan beberapa orang yang konon sama-sama saktinya, sehingga mereka mengadakan suatu pertandingan melangkahi Sungai Komering.

Ternyata, dalam pertandingan itu semua lawannya dapat melangkahi Sungai Komering, kecuali Rya Menang Betanding sendiri yang tidak dapat melangkahinya. Berhubung kakinya yang sebelah masih berada di darat, sedangkan yang sebelah lagi sudah tercelup ke dalam sungai. Maka Rya Menang Betanding menyatakan dirinyalah yang menang, dengan alasan ia berarti mempunyai kekuasaan di darat dan di air, sedangkan lawan-lawannya bertanding itu hanya mempunyai kekuasaan di air saja.

Selesai melakukan pertandingan tersebut, mereka bermufakat melakukan perjalanan bersama-sama dengan mempergunakan perahu di sungai Komering. Setelah mendapat persetujuan, para anggota rombongan tersebut diharuskan membawa masing-masing bekal secukupnya untuk jangka lama. Masing-masing anggota rombongan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya berupa ketan putih, sedangkan Rya Menang Betanding sendiri hanya membawa bekal satu pundi-pundi kecil yang berisi ketan hitam paling banyak satu kilo.

Semua temannya menggerutu ketika melihat Rya Menang Betanding yang hanya membawa bekal satu pundi kecil itu saja. Barang mustahil akan mencukupi untuk sangunya selama dalam perjalanan yang telah direncanakan cukup lama.
Setelah rombongan melakukan perjalanan, tiba saatnya istirahat dan rombongan masing-masing menanak nasi. Semua rombongan mengeluarkan bekalnya masing-masing secara infak yang kemudian digabung, dikumpul untuk dimasak dalam satu belanga. Setelah semua teman-temannya memasukkan ketan putih ke dalam belanga, barulah terakhir sekali Rya Menang Betanding memasukkan p**a ketan hitam sejumput ke dalam belanga yang sama dengan diiringi ucapan bahwa mana kelak yang berwarna hitam, itulah kepunyaannya. Setelah dimasak ketan itu maka seluruhnya menjadi hitam.

Teman-temannya makin penasaran pada Rya Menang Betanding, tambahan lagi selama dalam perjalanan tersebut ia tidak pernah ikut mendayung atau menolakkan perahu dengan galah yang terbuat dari bambu yang panjangnya lebih kurang 3,5 meter dan lurus, yang lazim digunakan di sungai yang airnya deras. Oleh karena itu, teman-temannya meminta agar Rya Menang Betanding menolakkan perahu dengan menggunakan cawah.

Mendengar ucapan teman-temannya itu, Rya Menang Betanding menyanggupinya, dengan syarat ia dicarikan galah yang cukup besar, panjang dan lurus menurut ukuran yang semestinya. Kemudian diambilkan oleh teman-temannya sebatang bambu buntu yang tidak berlubang di dalamnya. Setelah bambu tersebut diterima, ia menyarankan agar semua anggota rombongan bersiap-siap dan waspada, berhubung ia sudah akan mulai menolakkan perahu tersebut dengan galahnya.

Di luar dugaan sama sekali, perahu tersebut meluncur dengan amat laju dan kencang yang berjalan dengan lurus, sehingga menembus beberapa tanjung yang terdapat di Sungai Komering. Akhirnya perahu tersebut harus berantakan, hanya tinggal di bagian haluan saja yaitu tempat Rya Memang Betanding berdiri yang dinamakan binet. Para anggota rombongan lainnya sudah tak tentu lagi di mana adanya, entah sudah tenggelam atau terbang.

Akhirnya, perahu tersebut berhenti di satu tempat yang dinamakan Kehamongan. Galahnya ditancapkan di tepi sungai yang kemudian tumbuh hingga sekarang, sedangkan kepala perahu tempatnya berdiri yang dinamakan binet itu menjadi batu dan masih ada hingga sekarang.

Itulah sebabnya, menurut hikayat Sungai Komering menjadi lurus.
Alkisah, setelah tiba di Kehamongan tersebut, beliau mendirikan lagi suatu perkampungan yang juga diberinya nama Gedungmenong yang letaknya berseberangan dengan Kehamongan. Akhirnya beberapa tahun kemudian beliau wafat dan dimakamkan di Kehamongan dan tempat itu menjadi keramat.

(Cerita Rakyat Lampung ~ Gen’s Genius)

Photos 23/01/2014

Ratu Melinting dan Ratu Darah Putih

Ratu Dipugung atau Ratu Galuh mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak pertama bernama Seginder Alam dang yang kedua bernama Gayung Gerunggung. Seginder Alam mempunyai seorang anak gadis yang bernama Putri Sinar Kaca, sedangkan Gayung Gerunggung juga mempunai seorang anak gadis yang bernama Putri Sinar Alam.

Kala itu datanglah Sultan Banten ke Lampung, ia melihat cahaya terang yang memancar dari bumi ke langit. Sultan mendapat firasat bahwa di Pugung ada seorang putri yang dapat mengakibatkan hal baik jika menikah dengannya. Ratu Dipugung menunjukkan cucunya yaitu putri Seginder Alam yang tak lain adalah Putri Sinar Kaca. Dan kemudian Sultan pun menikahi Putri Sinar Kaca.

Beberapa lama setelah Sultan menikahi Putri Sinar Kaca, Sultan memutuskan untuk kembali sementara ke Banten tanpa Putri Sinar Kaca. Belum lama Sultan berada di Banten, ia melihat kembali cahaya terang yang memancar dari bumi ke langit seperti yang ia lihat sebelum menikahi Putri Sinar Kaca. Sang Sultan berkata dalam hatinya, "Jika demikian, tentu putri itu masih ada di Pugung (Lampung). Putri yang kunikahi ternyata bukanlah yang terlihat sinarnya itu." Oleh sebab itu, Sultan memutuskan untuk kembali ke Lampung, tujuannya bukan untuk menemui istrinya "Putri Sinar Kaca" tetapi akan mencari dan menikahi sesegera mungkin Putri yang terlihat sinarnya tadi.

Setelah tiba di Pugung, ia terus berkata pada kakeknya yaitu Ratu Dipugung, bahwasanya yang dinikahinya itu bukanlah putri yang terlihat di dalam sinar yang dilihatnya. Ratu Dipugung lalu menunjukkan cucunya yang lain, putri Gayung Gerunggung yaitu Putri Sinar Alam. Akhirnya Sultan pun menikahinya. Beberapa lama setelah Sultan menikahi Putri Sinar Alam, Sultan memutuskan untuk kembali lagi sementara ke Banten tanpa Putri Sinar Alam.

Beberapa lama sang Sultan berada di Banten, Putri Sinar Kaca melahirkan seorang putra yang diberi nama Kejalo Bidin. Dan kemudian Putri Sinar Alam pun melahirkan seorang putra yang bernama Kejalo Ratu. Kejalo Bidin dan Kejali Ratu tumbuh dan besar di Pugung Lampung. Saat mereka berdua bermain di halamn rumah mereka, mereka melihat tiga ekor burung perkutut yang hinggap di pelepah pohon kelapa, mereka memandang ketiga ekor burung perkutut tersebut dan berlari kepada ibu mereka untuk bertanya:

”Mengapa burung perkutut itu ada tiga ekor, biasanya hanya ada sepasang burung perkutut? Tanya Kejalo Bidin (anak Putri Sinar Kaca). Putri Sinar Kaca pun menjawab ”Yang di sebelah kiri adalah induknya, di tengah adalah anaknya, dan di sebelah kanan adalah anaknya”. Kejalo Bidin pun kembali melontarkan kata-kata ”berarti kami pun mempunyai seorang ayah p**a, siapa ayah kami Ibu??”

Putri Sinar Kaca pun tidak berkenan menjelaskan kepada keduanya. Dengan bersikeras mereka berdua selalu memaksa Putri Sinar Kaca untuk menjelaskan kepada mereka yang akhirnya Putri Sinar Kaca pun menceritakan kepada mereka berdua bahwa ayah mereka adalah sama yaitu Sultan Banten.

Setelah mereka tumbuh dewasa, mereka berdua pun memutuskan pergi ke Banten untuk menemui ayah mereka yaitu Sultan Banten. Tiba mereka di Banten dan bertemu Sultan Banten, Sultan Banten pun tidak langsung percaya pada pernyataan mereka berdua, dan sang Sultan memutuskan untuk menoreh pedangnya di dahi kedua bersaudara tersebut, jika darah putih yang keluar dari dahi mereka maka benar mereka berdua adalah putranya.

Sang Sultan pun mencabut pedangnya dan menorehkannya ke dahi kedua bersaudara itu. Ternyata darah putih bercampur kemerahan keluar dari dahi Kejalo Bidin, sedangkan darah putih keluar dari dahi Kejalo Ratu. Sang Sultan pun langsung percaya dan yakin bahwa mereka berdua adalah putra kandungnya.

Sultan pun memberikan gelar kepada kedua putra kandungnya. Kejalo Bidin diberi gelar ”MINAK KEJALO BIDIN”, sedangkan Kejalo Ratu diberi gelar ”MINAK KEJALO RATU DARAHPUTIH”.

Mereka berdualah yang menjadi cikal bakal kebuaian Melinting dan kebuaian Ratu Darahputih. Minak Kejalo Bidin di Melinting dan Minak Kejalo Ratu Darahputih di Kalianda.

Setelah bertahun-tahun sejak peristiwa itu, Ratu Dipugung meminta dua orang ini mendirikan keratuan baru di dalam keratuan Ratu Dipugung. Minak Kejalo Bidin diminta mendirikan keratuan di Melinting (Labuhanmaringgai) dan Minak Kejalo Ratu Darahputih di Kalianda. Keturunan Ratu Darahputih di Kalianda diantaranya adalah Raden Intan yang menjadi pahlawan nasional asal Lampung (perkiraannya Raden Intan keturunan yang ketujuh dari Minak Kejalo Ratu Darahputih).


(Cerita Rakyat Lampung)

02/01/2014

3 Tokoh Wanita yang Berperan Dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Soekarno dan Mohammad Hatta dikenal sebagai tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun, selain dua nama tersebut, ternyata masih ada nama lainnya yang turut berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia yang tidak banyak orang mengetahuinya. Apalagi tokoh yang kami maksud berasal dari kalangan perempuan. Setidaknya ada tiga nama tokoh perempuan yang turut berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia 67 tahun silam. Siapa sajakah Ketiga Tokoh Perempuan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17-08-1945? Simak ulasannya berikut ini.

1. Fatmawati
Nama asli Fatmawati adalah Fatimah. Ia adalah istri presiden pertama RI, Ir Soekarno. Perempuan ini juga dikenal sebagai penjahit bendera Indonesia yang dikibarkan saat proklamasi dilakukan. Ia lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923 dan meninggal di Kuala Lumpur pada tanggal 14 mei 1980. Ia meninggal karena serangan jantung.

2. SK Trimurti
Nama lengkap SK Trimurti adalah Soerastri Karma Trimurti. Ia adalah seorang pengajar, penulis, dan wartawan. Ia adalah istri dari sayuti melik, tokoh yang dicatat dalam sejrah sebagai pengetik naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17-08-1945. SK Trimurti menikah dengan Sayuti Melik pada tahun 1938 dan bersama mereka berjuang demi kemerdekaan bangsa. Ia pernah dipenjarakan karena tulisannya yang dianggap berbahaya bagi pemerintahan Belanda akhirnya ia dipenjara dari tahun 1939 hingga 1943. Ia juga pernah menjabat sebagai menteri perburuhan di era Soekarno.

3. Johanna Tumbuan
Ia adalah seorang aktivis pemuda dan pemudi pada masa perjuangan kemerdekaan. Ia berteman dengan sejumlah tokoh nasional seperti Mohammad yamin, Mr. Assaat, Dr Rusmali dan lain sebagaianya. Johanna menikah dengan Masdani yang juga seorang aktivis pemuda. Perempuan ini hadir di Kongres Pemuda Kedua pada bulan Oktober 1928. Joanna juga mendapat banyak penghargaan dari pemerintah sama seperti suaminya. Di akhir hidupnya, ia mengabdikan diri menjadi dosen psikiatri sejak 1961.

Itulah tiga tokoh perempuan Indonesia yang berjasa dalam mendukung dan ikut berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Walau demikian, siapapun mereka, laki-laki ataupun perempuan, tercatat ataupun tidak dalam sejarah, kita harus mengucapkan banyak terimakasih kepada para pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Photos 30/12/2013

Alhamdulilah... ting9al pendistribusian na lgi..

Want your school to be the top-listed School/college in Bandar Lampung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Jalan Zainal Abidin
Bandar Lampung
35142