Madrasah Sirah

Madrasah Sirah

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Madrasah Sirah, Education, Jln. Lueng Bata, Banda.

Kelas Sirah adalah platform edukasi Sirah Nabawiyah Online via website dengan modul video interaktif, sehingga Anda dapat dengan mudah belajar kapanpun dan dimanapun.

Kursus Bahasa Arab Online untuk Pemula via WhatsApp | Arabic Quantum Learning - Kursus Bahasa Arab Online Untuk Pemula 16/04/2018

Sudah lama anda ingin lancar berbahasa Arab?

Tidak punya waktu luang khusus untuk pergi ke tempat kursus?

Tempat kursus Bahasa Arab kejauhan?

Atau anda pernah belajar bahasa Arab, tapi masalahnya belajar anda tidak sistematis?

Padahal anda sebagai seorang muslim memiliki impian kuat untuk bisa berbahasa Arab?

Mungkin ini adalah salah kabar paling baik untuk Anda hari ini, Kelas belajar bahasa Arab via WhatsApp dimana Anda akan dipandu langsung oleh Ustadz Muhammad Rifyal, M.Pd, Mentor bahasa Arab tersertifikasi Internasional.

8000+ peserta sudah bergabung dari Korea, Swiss, Cina, Sudan, Mesir, Jerman, Singapura, Malaysia, Hongkong dan tentunya dari seluruh Indonesia.

Anda akan menemukan sensasi yang berbeda belajar bersama kami dan menyadari ternyata betapa mudahnya bahasa Arab yang telah Allah pilih untuk Al-Qur'an Nya.

Apa saja yang akan anda dapatkan?

- Anda Belajar Selama 12 Hari Masa Belajar (1 Bab Buku Al-Arabiyyah Baina Yadaik)
- Anda Mendapatkan 6 Materi Disajikan
- Ada Daftar Presensi
- Anda Mendapatkan Buku Al-Arabiyyah baina Yadaik jilid 1a format PDF GRATIS
- Dan banyak kelebihan lainnya.

Berapa bea belajar nya?

Program ini Gratis alias Rp. 0

Tapi tunggu dulu...

Kuota terbatas!

Gabung sekarang juga dengan mengklik link berikut sebelum terlambat dan Grup nya ditutup.

http://bit.ly/KursusArab
http://bit.ly/KursusArab
http://bit.ly/KursusArab

Anda akan mulai belajar via Grup WhatsApp khusus mulai tanggal 25 April 2018 insya Allah.

Salam, Tim Arabic Quantum Learning

Kursus Bahasa Arab Online untuk Pemula via WhatsApp | Arabic Quantum Learning - Kursus Bahasa Arab Online Untuk Pemula Grup WhatsApp Belajar Bahasa Arab Online GRATIS, Cepat, Mudah dan Menyenangkan dengan Hasil yang Mengejutkan - 082392991845

WhatsApp Group Invite 23/12/2017

Sudah lama ingin lancar berbahasa Arab?

Tidak punya waktu luang khusus untuk pergi ke tempat kursus?

Tempat kursus Bahasa Arab kejauhan?

Atau anda pernah belajar bahasa Arab, tapi masalahnya belajar anda tidak sistematis?

Padahal anda sebagai seorang muslim memiliki impian kuat untuk bisa berbahasa Arab?

Mungkin ini adalah salah kabar paling baik untuk Anda hari ini, Kelas belajar bahasa Arab via WhatsApp dimana Anda akan dipandu langsung oleh Mentor bahasa Arab tersertifikasi Internasional.

3500+ peserta sudah bergabung dari *Sudan, Mesir, Swiss, Malaysia, Korea, Qatar, Cina, Singapura, Hongkong, Jerman* dan tentunya dari seluruh *Indonesia* .

Anda akan menemukan sensasi yang berbeda belajar bersama kami dan menyadari ternyata betapa mudahnya bahasa Arab yang telah Allah pilih untuk Al-Qur'an Nya.

Apa saja yang akan anda dapatkan?

- Anda Belajar Selama 12 Hari Masa Belajar (1 Bab Buku Al-Arabiyyah Baina Yadaik)
- Anda Mendapatkan 6 Materi Disajikan
- Ada Daftar Presensi

Berapa bea belajar nya?

Program ini Gratis alias Rp. 0

Tapi tunggu dulu...

Kuota terbatas!

Gabung sekarang juga dengan mengklik link berikut:

https://chat.whatsapp.com/H8YhkldxFtl6IebxYUMwEP

Sebelum terlambat dan Grup nya ditutup, untuk belajar di Kelas Bahasa Arab Pemula tersebut.

Ingat! Grup ini *Khusus Putri* !

Anda akan mulai belajar via Grup khusus mulai tanggal 27 Desember 2017 - 5 Januari 2018 insha Allah.

Jazakumullahu khairan

Salam
*Arabic Quantum Learning*

WhatsApp Group Invite Follow this link to join

10/07/2017

Aku Ingin Kakek

Rasa sayang seorang kakek terhadap cucu, melebihi rasa sayangnya terhadap anak-anaknya sendiri. Karena begitu besar kasih sayang kepada cucunya, terkadang bisa menjadi cara seorang cucu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya melalui jalur kakek. Misalnya, ketika anak meminta makanan yang dis**ainya disebuah warung. Terkadang orangtua tidak mengizinkan, karena makanan yang dis**ai anaknya sudah terlalu sering diminta. Namun, Bagaimana dengan kakek? Kakek sering memberikan lebih dari yang diminta cucunya. Cucunya hanya minta satu, tapi kakek memberikan dua.

Jarang sekali melihat seorang kakek yang menolak keinginan cucunya. Tapi, rasa sayang seorang kakek yang lebih itu dapat membantu peran orangtua dalam melahirkan generasi gemilang di usia belia.

Bagaimana caranya?

Ar Rahiqul Makhtum yang ditulis Syaikh Shafiyyu Rahman Al-Mubarakfury mengkisahkan sedikit peran Abdul Muththalib, kakek nabi. Berikut beberapa kisahnya :

Pertama : Setelah Aminah ( ibu Nabi) melahirkan, dia mengirim utusan ke tempat kakeknya, untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran cucunya. Maka Abdul Muththtalib datang dengan perasaan s**a cita, lalu membawa nabi kecil ke dalam ka’bah, seraya berdo’a kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Dia memilih nama Muhammad bagi beliau. Nama yang belum dikena di kalangan bangsa arab.

Kedua : Saat nabi menjadi yatim piatu, nabi kembali kepangkuan sang kakek. Saat bersama kakek, ibnu hisyam berkata,” ada sebuah dipan yang diletakkan di ka’bah untuk Abdul Muththalib. Kerabatnya biasa duduk disekeliling dipan itu hingga Abdul Muththalib keluar ke sana, dan tak seorang pun yang berani duduk di dipan itu, sebagai penghormatan terhadap dirinya. Saat Nabi kecil yang montok, nabi duduk di atas dipan itu. Paman-paman beliau langsung memegang dan menahan agar tidak duduk di dipan itu. Tatkala Abdul Muththalib melihat kejadian ini, dia berkata, “biarkanlah anakku ini. Demi Allah sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.” Kemudian Abdul Muththalib duduk bersama beliau di atas dipannya, sambil mengelus-elus punggung nabi dan senantiasa merasa gembira terhadap apapun yang beliau Lakukan.

Ketiga : Nabi bersama kakek dari usia 6 tahun sampai 8 tahun 2 bulan 10 hari.

Dari ketiga kisah kakek nabi, Abdul Muththalib adakah inspirasi tentang peran kakek dalam pengasuhan anak?

Beginilah Inspirasinya..

Inspirasi pertama : aku ingin kakek memberikan usulan nama.

Nama Muhammad adalah pemberian kakek. Bukan berarti ini sebuah keharusan yang diberikan kepada kakek. Peran kakek dalam mengusulkan sebuah nama untuk cucunya adalah salah satu bentuk penghargaan seorang anak terhadap orangtuanya. Sangat memungkinkan kakek akan merasa di “wong ke”( di hargai), ketika dimintakan pertimbangan soal nama untuk cucunya. Karena nabi sudah menjadi yatim sebelum lahir, maka kakek mempunyai peran besar atas pemberian nama untuk Muhammad.

Inspirasi kedua : aku ingin kakek berdo’a

Abdul Muththalib membawa nabi kecil ke dalam ka’bah dan berdo’a. Ini adalah peran kakek selanjutnya. Mintalah kakek pergi ke rumah Allah ( masjid), kalau punya uang setiap kelahiran berangkat ke-makkah … Minta do’a khusus dari sang kakek untuk cucunya. Karena rasa sayang yang sangat besar dari seorang kakek terhadap cucu, maka akan terasa lepas tanpa beban jika kakek mendo’akan cucunya.

Inspirasi ketiga : aku ingin kakek menceritakan kesuksesannya

Dipan yang menjadi tempat khusus untuk abdul Muththalib, merupakan sebuah kesuksesan seorang kakek yang disegani oleh orang-orang disekelilingnya. Kehebatan kakek ini sangat membantu cucunya melihat keteladan langsung dari sang kakek.

Inspirasi keempat : aku ingin kakek berfikir positif tentang masa depanku

Abdul Muththalib tidak melarang nabi kecil naik ke atas dipannya. Justru dia mengatakan “ biarkanlah anakku ini. Demi Allah sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.”. Dipan yang menjadi kursi istimewa untuk kakek, menjadi saksi bisu atas kalimat seorang kakek. Nabi pun menjadi orang yang agung, dan membawa risalah islam sepanjang zaman.

Inspirasi kelima : aku ingin kakek tidak lama memberikan kasih sayang yang lebih kepadaku.

Masa kebersamaan Abdul Muththalib bersama nabi hanya dua tahun dua bulan sepuluh hari. Tidak terlalu lama, dikarenakan kakeknya meninggal dunia. Tidak lamanya kakek bersama nabi bukan keinginan nabi, tapi ini atas kehendak Allah. Ada inspirasi dari kehendak Allah terhadap takdir seorang kakek bersama nabi.

Inspirasnya adalah perlu diatur intensitas pertemuan seorang anak terhadap kakek. Karena rasa sayangnya yang berlebih, kalau terlalu berlebihan rasa sayang itu dan terlalu lama diberikan akan menghilangkan konsep-konsep hidup yang lainnya.

Begitulah inspirasinya. Maka setiap kita akan dapat mengatakan.. Aku ingin Kakek.

Wallahu’alam..

M. Ilham Sembodo

17/04/2016

Tips Nabawiyah : Mengatasi Bohong...

Bohong bukan hal yang sepele. Dilakukan oleh siapapun, dampaknya sangat buruk. Karena dengan bohonglah, dosa dan kemungkaran sulit dibongkar.

Bohong akan mempersulit terbukanya pintu taubat. Karena pertaubatan dimulai dari penyesalan. Dan penyesalan berawal dari pengakuan seseorang terhadap kesalahan yang dilakukannya. Jika kesalahan ditutupi dengan bohong, maka akan semakin jauhlah penyesalan, apalagi pertaubatan.

Dari bohong pertama, selanjutnya bohong-bohong berikutnya. Dan Rasulullah bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Dan jauhilah oleh kalian bohong. Karena bohong itu menunjukkan pada dosa-dosa. Dan dosa-dosa itu menujukkan ke neraka. Seseorang terus berbohong dan terus memilihnya, hingga ditulis di sisi Allah sebagai pembohong!” (HR. Muslim)

Alangkah sengsaranya keluarga jika para penghuninya telah terjangkiti penyakit bohong. Suami berbohong. Istri pun sama. Anak-anak meniru. Dosa dan kesalahan terlindungi oleh kemasan bohong.

Jadi, bagaimana cara mengatasinya?

Berikut ini tips langsung dari Nabi untuk mengatasi bohong

Zaid bin Aslam menyampaikan bahwa Khawat bin Jubair bercerita:
Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berhenti di Marr Adz Dzahran. Aku keluar dari tendaku, aku lihat para wanita yang sedang berbincang. Mereka membuatku kagum. Maka aku kembali dan mengambil tas. Darinya aku keluarkan pakaian yang bagus untuk aku pakai. Aku datangi mereka dan duduk bersama mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terlihat keluar dari tendanya.

Beliau bertanya: Abu Abdillah apa yang membuatmu duduk bersama mereka?

Maka ketika aku lihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku merasakan kewibawaan beliau.

Dalam keadaan aku panik, aku jawab: Ya Rasulullah, untaku lepas. Aku sedang mencari tali kekangnya, tapi ia pergi. Akupun mengikutinya.

Beliau melemparkan seledangnya kepadaku dan masuk ke antara pepohanan. Aku seperti bisa melihat putih perutnya di antara hijaunya pepohonan. Setelah selesai buang air, beliau pun berwudhu. Air nampak mengalir dari jenggotnya ke dadanya. Beliau mendatangiku dan bertanya: Abu Abdillah, bagaimana kabar untamu yang lepas?

Kami pun berangkat melanjutkan perjalanan. Tidaklah beliau menemuiku di sepanjang perjalanan kecuali berkata: Assalamu alaik Abu Abdillah, bagaimana kabar untamu yang lepas?

Ketika aku merasakan (ketidaknyamanan) itu, aku bersegera masuk ke kota Madinah, menghindari masjid dan menghindari duduk bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Begitulah berlalu beberapa lama. Hingga ketika aku lihat masjid sedang kosong, aku pun masuk ke masjid. Aku shalat.

Tiba-tiba, Rasul terlihat keluar dari salah satu kamarnya. Beliau shalat dua rakaat singkat. Aku memperpanjang shalatku dengan harapan beliau pergi dan meninggalkan saya.

Beliau berkata: Panjangkanlah ses**amu Abu Abdillah. Aku tidak akan pergi hingga kamu selesai.

Akupun berkata dalam hati: Demi Allah, aku akan meminta maaf ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menyenangkan hati beliau.
(selesai shalat) aku berkata: Demi yang mengutusmu dengan benar, unta itu tidak pernah lepas sejak aku masuk Islam.

Beliau berkata: Semoga Allah merahmatimu... Semoga Allah merahmatimu... Semoga Allah merahmatimu.

Dan beliau tidak lagi membahas tentang unta. (HR. Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Abu Nu’aim al Ashbahani dalam Ma’rifah al Shahabah)

Khawat jelas tahu bahwa dia berbohong. Karena jelas dia hanya ingin mengobrol dengan wanita-wanita cantik itu. Dan Rasulullah juga tahu bahwa Khawat bohong.

Target besarnya menghilangkan bohong agar tidak menjadi kebiasaan. Bukan mempermalukan apalagi menghukum untuk melampiaskan kemarahan.

Maka berikut ini tips nabawiyah untuk mengatasi bohong berdasarkan kisah di atas:

Pilihlah orang yang mempunyai wibawa di hadapan pelaku bohong.
Karena hanya yang punya wibawa, yang mampu menghilangkan kebohongan dengan cepat. Seperti kalimat Khawat bin Jubair bahwa sekadar melihat Rasul, pancaran wibawa itu telah menegurnya tanpa kata.
Jangan menjatuhkan harga dirinya. Apalagi di depan banyak orang.
Rasul tidak menegur Khawat di hadapan para wanita itu. Rasul juga tidak mendesak dengan kalimat yang menjatuhkan, saat Khawat menjawab dengan panik.
Jadikan jawaban bohong itu sebagai pintu teguran berulang kali
Rasul seakan percaya kalimat Khawat. Karena belum juga ada bukti yang menguatkan bahwa Khawat bohong.
Saat Rasul berkali-kali menanyakan jawaban Khawat tentang unta yang lepas, sesungguhnya itu teguran Rasul. Dan Khawat merasakan itu.
Sabarlah, mungkin tidak tuntas sehari.
Perjalanan itu menempuh beberapa hari. Rasul bersabar dan tidak harus selesai hari itu. Begitulah hingga beberapa hari di Madinah pun, Rasul tetap bersabar.
Tunggu waktu yang tepat untuk menuntaskan
Rasul tahu persis bahwa Khawat sudah merasa bersalah besar, apalagi kebohongan itu dilakukan terhadap orang yang dikaguminya. Khawat yang selalu menghindari Nabi semakin menguatkan bahwa Khawat telah tersiksa dengan kebohongannya sendiri. Maka sudah saatnya untuk dituntaskan. Karena kebohongannya telah menyesakkan nafasnya. Dan pasti dia ingin segera melepaskan diri dari ketidaknyamanan ini.
Tunjukkan jaminan kenyamanan, kalau dia mau mengaku.
Di tengah Khawat ingin segera melepaskan diri dari belenggu bohong. Dia menemukan oase nyaman untuk mengakui kesalahan. Bagaimana tidak, Rasul tidak menunjukkan muka yang masam dan marah. Rasul tidak mengeluarkan kata ancaman. Nyaman...
Jika telah mengaku, tak usah dibahas lagi.
Khawat pun mengaku. Dan subhanallah, Rasul tidak membahas mengapa kemarin ia berbohong. Tidak juga membahas lagi tentang jawaban bohong itu.
Tutuplah dengan doa
Indah sekali. Saat orang mengakui kesalahannya, ada bercampur aduk rasa. Dari mulai merasa bersalah, malu hingga takut. Semoga Allah merahmatimu, begitulah embun pembasuh semuanya. Tak hanya sekali. Bahkan hingga tiga kali.
Selamat mencoba...

10/04/2016

Hikmah di Usia Kecil, Jauh dari Maksiat di Usia Besar

Suatu saat seorang ibu bertanya kepada saya tentang pesantren untuk anak laki-lakinya. Saya berikan beberapa rekomendasi yang saya tahu. Di antaranya pesantren khusus laki-laki. Di pesantren tersebut tidak ada murid perempuan dan hanya menerima murid laki-laki.

Ibu itu serta merta menjawab: Saya takut kalau anak saya tidak pernah melihat dan berinteraksi dengan perempuan selama di pesantrennya, akan jadi ‘buas’ saat keluar pesantren.

Ada lagi seorang ayah yang mengajari kesia-siaan (menurut syariat Islam). Dia berdalih: Daripada belajarnya di luar dan tidak terkontrol, lebih baik dengan saya dan bisa saya kontrol. Biarkan dia mengenal dunia itu, agar nanti mereka bisa merasakan saat usianya telah tiba dan bisa menjauhinya.

Ini hanya sebagian dialog yang saya temukan di keluarga-keluarga muslim. Ada banyak dialog berbeda tetapi dengan makna sama. Intinya: kalau anak ‘dikurung’ dengan ajaran keislaman dan tidak pernah mencoba dunia jahiliyah, maka dikhawatirkan mereka justru akan sangat penasaran dan lebih ‘buas’ terhadap dosa itu.

Ini kesimp**an mereka. Dan luar biasanya, kesimp**an ini otomatis hadir di otak tanpa difikirkan. Menunjukkan sudah begitu lekat dan mendarah daging dalam diri orangtua. Terbukti ia tak perlu berpikir lama untuk mengeluarkan kesimp**an itu.

Sebuah kesimp**an hadir dari sebuah teori. Teori yang terus disuntikkan, hingga mendarah daging. Silakan anda cari, teori apa yang melandasi kesimp**an ini dan dari mana datangnya.

Dan kini bandingkan dengan pembahasan ini.

Allah subhanahu wata’ala memuji Nabi Yahya dalam Surat Maryam. Dari ayat,

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

“Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami Berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak.” (Qs. Maryam: 12)

Hingga ayat,

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada har iwafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (Qs. Maryam: 15)

Dalam tulisan yang lalu, saya pernah menulis (bukan untuk bermain aku diciptakan) mengambil pelajaran dari ayat ini. Kini saya nukilkan lanjutan dari penjelasan Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam tafsirnya,

Abdurrazzaq berkata: kami dikabari Ma’mar dari Qotadah pada firmanNya: {جَبَّارًا عَصِيًّا} ia berkata: Ibnu Musayyab pernah menyebutkan: Nabi shallallahu alaihi wasallambersabda, “Tidak ada seorang pun berjumpa Allah kelak pada hari kiamat kecuali pasti punya dosa kecuali Yahya bin Zakariya."
Qotadah berkata: Dia tidak punya dosa, tidak pernah berminat (dosa) dengan wanita.
Mursal

Begitulah penjelasan Ibnu Musayyab dan Qotadah –rahimahumallah-.

Adapun hadits yang diriwayatkan Ibnu Musayyab mursal dhoif.

Tapi berikut ini ada riwayat lain yang serupa,

ما من أحد من ولد آدم إلا قد أخطأ، أو هم بخطيئة، ليس يحيى بن زكريا

“Tidak ada seorang pun dari anak Adam kecuali pasti pernah bersalah atau berniat berbuat salah, kecuali Yahya bin Zakariya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf, Ahmad, Abu Ya’la, Ath Thobroni dalam Al Mu’jam Al Kabir.

Para ulama hadits berbeda pendapat tentang keshahihan hadits ini. Sebagian mengatakan bahwa hadits tersebut mursal dhoif. Seperti yang dikatakan oleh An Nawawi, Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar. Dan sebagian lain mengatakan shahih. Seperti yang pendapat Al Hakim, Adz Dzahabi dan Al Albani.

Terlepas dari perbedaan pendapat para ahli hadits, Allah berfirman di ayat lain tentang Yahya,

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

“Kemudian para malaikat memanggil-nya, ketika dia berdiri melaksanakan shalat di mihrab, “Allah Menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.”

Tidakkah ini layak menjadi renungan kembali bagi para orangtua yang ragu ‘mengurung’ anaknya dengan Islam sejak kecil.

Tidakkah ini bisa menjadi upaya perbaikan arah pendidikan keluarga, bagi yang masih berpendapat bahwa anak harus dikenalkan dengan dosa dan kesia-siaan terlebih dahulu.

Bukankah Yahya yang telah belajar Al Kitab dengan sungguh-sungguh sejak kecil, menjadi orang luar biasa;

Membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah

Panutan

Berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan

Seorang nabi di antara orang-orang saleh

So, masih ada yang ragu...?

Budi Ashati, Lc.

10/04/2016

Memahami Orangtua dan Guru

Dalam dunia pendidikan anak, baik di rumah ataupun di sekolah, pembahasan tentang memahami anak-anak sudah biasa.Itu yang dibahas di berbagai kajian parenting dan pendidikan. Dan memang Islam dengan dicontohkan langsung oleh Rasulullah memiliki kepedulian dan perhatian khusus terhadap anak-anak. Rasulullah langsung yang mengajarkan dan mencontohkan bagaimana memahami anak-anak.

Tetapi yang langka diajarkan di dunia parenting dan pendidikan hari ini adalah anak-anak harus diajari memahami orangtua dan guru. Hari ini, anak-anak selalu dalam posisi sebagai raja, yang harus dipahami. Efeknya, orangtua dan guru merasakan kelelahan dalam mendidik anak-anak. Sudah pasti lelah, karena hanya sepihak dari satu arah saja. Hanya ada pendorong tanpa penarik. Apa bisa berjalan? Bisa, tapi melelahkan dan pasti lebih lambat. Bayangkan ketika timbal balik telah tercipta. Antara orangtua dan anak. Antara guru dan murid. Jika guru memahami murid, maka harus mulai diajarkan murid memahami guru. Jika orangtua memahami anak, maka harus mulai diajarkan anak memahami orangtua. Dengna itu, maka aliran ilmu dan kebaikan pasti lebih cepat dan tak banyak masalah melintang.

Dan inilah hebatnya konsep pendidikan Islam. Tak hanya orangtua dan guru yang diminta memahami anak-anak. Tetapi anak-anak diajari memahami orangtua dan guru. Hal ini telah diajarkan oleh sejarah Rasulullah dan para shahabat. Bahkan sejak usia awal para shahabat. Rasul sangat memahami anak-anak. Tetapi anak-anak pun segera berproses untuk memahami Rasul sang guru.

Aisyah yang hidup bersama Nabi dan baru berusia 9-18 saat bersama beliau, telah memahami karakter sang guru; Rasulullah. Berikut kalimat Aisyah,
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memukul dengan tangannya hanya karena urusan pribadi beliau, tidak pada wanita tidak p**a pada pembantu, kecuali saat berjihad fi sabilillah. Dan tidaklah beliau membalas orang yang menyerang diri beliau kecuali jika ada aturan Allah yang dilanggar, maka beliau membalas untuk AllahMisykat Al Mashabih, At Tibrizi, dishahihkan oleh Al Albani)

Kalimat ini merupakan kesimp**an Aisyah hasil berinteraksi dengan Rasul. Perjalanan yang dilalui bersama antara guru dan murid, harus mampu melahirkan kemampuan murid memahami guru. Apalagi antara orangtua dan anak yang berinteraksi lebih sering dan lebih lama di rumah mereka.

Di antara peristiwa yang dialami Aisyah saat berinteraksi dengan sang guru, sebagaimana yang kita baca pada riwayat berikut,

Dari Aisyah berkata: Rasulullah jika memerintahkan sesuatu kepada para shahabat, beliau memerintahkan amal sesuai dengan kemampuan mereka. Tapi mereka berkata: Kami tidak sepertimu Ya Rasulullah, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Maka Rasul pun marah hingga terlihat marah itu pada wajah beliau kemudian beliau berkata (Sesungguhnya yang paling bertaqwa dan paling tahu tentang Allah adalah aku) (HR. Bukhari)

Perhatikanlah peristiwa yang disaksikan Aisyah tersebut di atas. Aisyah dan para shahabat bahkan hapal betul kapan Rasul marah. Rasul tidak marah dengan cara memukul orang atau benda. Tidak juga dengan berkata: Saya sedang marah! Tetapi mereka semua sangat paham kapan Rasul marah. Karena terlihat dari bahasa tubuh beliau. Wajah yang memerah, urat leher yang membesar dan seterusnya.

Andai anak-anak hari ini seperti Aisyah yang bisa memahami orangtua dan guru hanya dengan sekadar perubahan wajah orangtua dan guru?

Kemudian mereka tahu bagaimana harus bersikap saat keadaan tidak nyaman seperti itu terjadi?

Alangkah mudah dan ringannya tugas mendidik itu...

Kalau kisah tersebut terjadi pada anak perempuan yang lebih besar rasanya, maka kini saya nukilkan kisah yang terjadi pada shahabat laki-laki yang juga masih berusia belia.

Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu, shahabat asli Madinah yang oleh Ibnu Abdil Barr disebut (dalam: Al Isti’ab),
“Dia ikut menyaksikan Bai’at Aqobah kedua bersama ayahnya saat masih kecil dan tidak ikut pada Aqobah yang pertama.”

Aqobah dua hanya berjarak beberapa bulan menuju hijrah Rasulullah dan para shahabat ke Madinah. Dan kemudian Jabir berinteraksi dengan sang guru; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Jabir belajar memahami gurunya. Berikut ini penuturannya,

Dari Jabir: Bahwasanya Umar bin Khattab radhiallahu anhu mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan membawa Taurat dan berkata: Ya Rasulullah ini Taurat.

Rasul diam. Dan Umar membacanya. Wajah Rasulullah mulai berubah.

Abu Bakar segera berkata: Tidakkah kamu melihat wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?

Umar pun melihat wajah Rasulullah dan kemudian berkata: Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan Rasul Nya. Kami ridho kepada Allah sebagai Robb, Islam sebagai Ad Dien dan Muhammad sebagai Nabi.

Nabi kemudian bersabda: (Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan Nya, andai Musa hadir untuk kalian, kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, kalian semua tersesat dari jalan yang lurus. Andai ia hidup dan menemui kenabianku, pasti ia mengikutiku) (HR. Ad Darimi, lihat Misykat Al Mashabih karya At Tibrizi dan dihasankan oleh Al Albani)

Peristiwa ini dihadiri oleh Jabir yang masih belia. Peristiwa ini hadir hidup dalam kenangan Jabir. Di sinilah ia belajar bagaimana memahami guru yang sedang marah. Abu Bakar yang melihat perubahan wajah Rasul segera memberitahu Umar. Abu Bakar hanya berkata: Tidakkah kamu melihat wajah Rasulullah? Umar yang mendengar itu, hanya menatapkan matanya ke wajah Rasul. Dan seketika itu, Umar langsung paham bahwa beliau sedang marah. Dan Umar segera tahu sumber kemarahan Rasul, yaitu keberadaan Taurat yang dibawanya dan dibacanya di hadapan beliau. Umar pun segera bertindak untuk mencari keridhoan guru dan berupaya meredam kemarahan beliau. Dan guru yang bijak itupun menjelaskan mengapa beliau marah.

Ini berjadi dengan gamblang di hadapan Jabir. Pantaslah para shahabat Nabi sejak dini tak hanya dipahami tetapi juga belajar memahami guru.

Begitulah kita belajar dari pendidikan terbaik Rasulullah. Sebagai orangtua dan guru, kita harus memahami anak-anak kita. Tetapi kita pun harus mulai mengajarkan kepada anak-anak untuk memahami orangtua dan guru.

Oleh: Budi Ashari,Lc.

Want your school to be the top-listed School/college in Banda?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jln. Lueng Bata
Banda
22111

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00