04/05/2020
Pesantren Kilat, Awal Mula Revolusi Karakter (Jasa PII Terhadap Saya)*
Oleh Mohd Rendi Febriansyah
Anggota Departemen Kajian Aksi dan Informasi Strategis
Fase pelajar adalah dimana manusia dituntut untuk berproses menjadi manusia esensial. Tentunya dalam proses itu berbagai sifat dan karakter baru muncul akibat perubahan pola pikir. Bandel, sering bolos, lompat pagar sekolah, kejar kejaran dengan guru, berkelahi dan penampilan "preman". Itulah gambaran sifat dan karakter saya ketika menjadi pelajar SMP.
Belajar? Kegiatan paling membosankan, lebih seru duduk di kantin bersama rekan sejawat. Masuk organisasi? Buang waktu, lebih baik nongkrong dan buat kasus di sekolah. Pemikiran-pemikiran demikianlah yang terbenak ketika itu. Persetan terhadap hal sekitar, yang penting saya "happy" menjalani pergaulan saya.
Namun kehidupan "nakal" tersebut mulai menyusut sedikit demi sedikit ketika saya mulai masuk SMA dan mengenal organisasi. Ya, organisasi pertama yang saya ikuti berhasil mengubah pola sosial saya menjadi lebih positif. Organisasi apa? OSIS? Pramuka? Atau ROHIS? Bukan, jawabannya adalah Pelajar Islam Indonesia.
Saya tidak menyangka akan masuk PII dan aktif di dalamnya. Jangankan masuk, kenal saja tidak. Namun ketika kelas 1 SMA saya disuruh ikut pesantren kilat di bulan puasa oleh seorang guru. Beliau mengancam apabila tidak ikut maka tidak diperbolehkan menjadi anggota OSIS apalagi mendaftar ketua. Karena menjadi anggota OSIS adalah hal yang saya idamkan ketika SMA, maka ikutlah saya pesantren kilat dan disinilah awal mula saya berproses di PII.
Dulu saya tidak pernah tahu dan tidak mau tahu apa esensi dari organisasi sebenarnya. Namun, PII telah memberikan formulasi organisasi yang menurut saya sempurna hingga menjadikan saya mampu berkompetisi baik di dalam maupun di luar PII. Instrumen organisasi yang begitu komprehensif membuat saya berpikir bahwa inilah organisasi yang tepat bagi kaum pelajar intelektual.
Berbagai manfaat saya rasakan selama berproses di PII. Bukan hanya tentang organisasi, saya merasa diri saya telah mengalami revolusi yang dulunya individualis menjadi lebih s**a memikirkan kemaslahatan umat. Dari umat, untuk umat. Itulah yang diajarkan oleh PII. Dan yang paling membuat saya kagum adalah tidak adanya dikotomi antara intelektualitas Islam dan umum juga tanpa menyentuh pluralis agama.
"Kecanduan" ber PII semakin kuat setelah menyadari bahwa disinilah saya menemukan jati diri. Pemimpin, dari dulu saya bercita cita menjadi seorang pemimpin. Namun ketika SMP saya berpikir pemimpin macam apa jika melakukan hal buruk? Dan lagi lagi PII merubah pola pikir saya. Ternyata setiap manusia adalah pemimpin di muka bumi.
Karena kemampuan leadership dan kekuatan mental setelah ditempa PII ketika Basic Training, saya diamanahkan berbagai jabatan baik diinternal PII maupun eksternal. Saya pernah berpikir untuk menjadi ketua OSIS, tetapi karena belum bisa memanajemen prinsip saya mengurungkan niat tersebut. Namun setelah selesai Intermediet Training, cakrawala pemikiran saya semakin terbuka sehingga saya berhasil mendirikan organisasi Rohani Islam (ROHIS) di sekolah dan menjadi ketua pertamanya.
Dalam internal PII saya berproses secara instan. Empat bulan pasca Basic Training. Saya terpilih menjadi Komandan Korda Brigade PII Aceh Utara selama dua periode dan kemudian lanjut ke Pengurus Wilayah PII Aceh sekaligus Koordinator Wilayah Brigade PII Aceh. Dalam organisasi ini saya tidak menyebut itu semua jabatan, melainkan media melatih diri sebagaimana salah satu catur bakti PII.
Revolusi karakter yang dilakukan oleh PII terhadap saya menjadikan jatuh cinta yang amat dalam terhadap organisasi ini. Inilah organisasi yang telah mengubah pola sosial saya, inilah organisasi yang telah membangkitkan intensitas empati terhadap sekitar. Rasanya tak akan mampu diri ini untuk membayar jasa-jasa PII. Hanya pengabdian dan perjuangan yang akan menjadi hadiah kecil untuknya.
Sekarang usianya telah menyentuh 7 dasawarsa, namun kobaran semangat juangnya semakin terasa. Tidak akan redup sinarnya hingga akhir masa. Untuk umat ia kian berjasa.
Selamat hari bangkit PII ku yang ke 73, semoga gerakanmu diridhai Allah Yang Esa. Kau milik umat, dan kepada umatlah tempat kembalinya. Untaian terimakasih aku curahkan atas jasamu yang begitu besar. Doaku senantiasa menyertaimu. Jayalah PII ku, panjang umur pengkaderan.
*Pantonlabu, 4 Mei 2020*