03/08/2023
INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN
Turut berduka sedalam-dalamnya
Atas Berp**ang Ke Rahmatullah Bapak Alfian bin Zainal Arifin (Orang Tua/AYAHANDA dari Adinda AMSAL (Ketua Umum PW PII Aceh) pada hari Rabu, 2 Agustus 2023 sekitar jam 13.20 di RSUDZA
Rumah duka berada di Gampong Blang Ketumba Kec. Juli (Km. 7 ) Kab.Bireuen.
Allahummagfirlahu warhamhu
Semoga Allah menerima segala amal ibadahnya dan mengampuni dosanya.
Keluarga yang beliau tinggalkan semoga Allah berikan ketabahan dalam menghadapi musibah ini.
30/10/2020
Assalamualaikum.
Sehubungan dengan program Safari Shalat Shubuh berjamaah
Gerakan Pemuda Shubuh Aceh, KNPI Aceh, HMI Aceh, PII Aceh, IMM Aceh, KAMMI Aceh, BKPRMI Aceh, PMII Aceh, GPII Aceh, HIMMAH Aceh, GPI Aceh, KAPMI Aceh, ISKADA dan PDDA dalam rangka HARI SUMPAH PEMUDA 2020.
Dengan ini mengajak kepada Bapak/Teungku/Saudara/Seluruh Jamaah Pemuda dan Masyarakat untuk berkenan hadir pada:
Hari : Sabtu (besok)
Tgl : 31 Oktober 2020
Tempat: Masjid Besar Syuhada Lamgugop Banda Aceh
Penceramah :
Prof. Dr. Tgk. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA.
Imam :
Ustadz Mauliza Akbar Alhafizh.
Dilanjutkan dengan
Diskusi REFLEKSI HARI SUMPAH PEMUDA 2020
Bersama Ketua KNPI Aceh, Wahyu Saputra, S.E.
Turut dihadiri perwakilan OKP/ORMAS Islam dalam momentum Sumpah Pemuda.
21/07/2020
come on guys, lets join us,
catat, daftar, dan ikuti kegiatan yg bermanfaat ini ,🥰😁
25/06/2020
Temui DPRA, PII Aceh Sampaikan Permasalahan Pendidikan
23/05/2020
segenap Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesi Aceh mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441H/ 2020M
Mohon Maaf Lahir dan Batin
21/05/2020
Catur Bakti Gelar Buka puasa bersama dan Santuni anak Yatim bersama Keluarga Besar PII Aceh.
Pemberian santunan itu, lanjut Umar, merupakan bentuk kepedulian PII dan KB PII terhadap sesama, khususnya anak yatim guna mewujudkan keceriaan mereka di hari yang fitri, apalagi dalam masa pandemi Covid-19 saat ini
Sambut Idul Fitri, Relawan PII Aceh Santuni Yatim - Serambi Indonesia
Kegiatan yang dilaksanakan atas kerja sama dengan Keluarga Besar (Alumni) PII tersebut dipusatkan di Sekretariat PII Aceh, Banda Aceh.
09/05/2020
Ramadhan Berkah, PII Kabupaten Pidie Bagikan Takjil Gratis
Ramadhan Berkah, PII Kabupaten Pidie Bagikan Takjil Gratis | AdvokasiRakyat.id
Home Agama Ramadhan Berkah, PII Kabupaten Pidie Bagikan Takjil Gratis AgamaBerita UtamaDewanNasionalIsu DesaKabupatenOKP /Ormas/OrmawaSosialTimur Ramadhan Berkah, PII Kabupaten Pidie Bagikan Takjil Gratis By Aduen Alja - May 9, 2020 22 0 Facebook Twitter Google+ Pinterest WhatsApp Ramadhan Berkah, P...
04/05/2020
PII Tetap Penting dan Dibutuhkan
Oleh Sayed Muhammad Husen
Tahun pertama kuliah di Unsyiah 1985/1986 saya berkesimp**an tidak aktif di PII, padahal selumnya sudah ikut PII sejak kelas tiga SMP di Balohan Sabang. Ketika SMA menjadi Wakil Ketua Departemen Humas PD PII Sabang. Tidak aktif di kampus atas nasihat senior untuk beradaptasi dengan pola belajar yang berbeda antara SMA dan perguruan tinggi. Anjurannya ternyata mujarab. Tahun pertama kuliah bisa capai IP 3,64.
Saya bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman kuliah di FKIP yang pernah ikut PII. Rata-rata mereka unggul sejak masa orientasi, penataran P4 100 jam dan dalam perkuliahan. Kebetulan tahun 1986 dibentuk kembali Komisiat PII FKIP dan saya diamanahi jabatan Ketua Bidang Ekstern. Ketua PK dijabat sahabat Amrul Syah.
Kegiatan unggulan PK PII FKIP tahun 1987 adalah seminar pendidikan yang dibuka langsung oleh Rektor Unsyiah Prof Abdullah Ali. Sebagai ketua panitia pelaksana bangga sekali bisa menyampaikan pidato dan laporan di depan rektor. Kesempatan yang jarang diperoleh bagi yang bukan aktivis.
Atas bantuan dan panduan Amrul Syah selama dua tahun saya banyak kenal keluarga besar PII dan pengenalan wilayah Banda Aceh. Maklum sebagai perantau masih terasa asing di Banda Aceh. Kunjungan ke kantor atau rumah keluarga besar untuk meminta dukungan penyelenggaraan training dan kegiatan lain.
Tahun itu p**a saya mengikuti Couching Instruktur di SD Lamnyong dan Advance Training di Keumangan. Sejak itu keterlibatan saya dalam berbagai kegiatan dan kepengurusan PII semakin intensif. Menjadi Kabid Pembinaan Masyarakat Pelajar PD PII Perguruan Tinggi dibawah pimpinan Erdwar M Dahlan dan Sekretaris Umum Zaki Fuad Khalil. Aktif mengelola training di banyak tempat dan kesempatan.
Hal yang sangat membanggakan, saya dan M Adli Abdullah ditugaskan melalui pleno PD PII Perguruan Tinggi tahun 1987 untuk mengaktifkan kembali Forum Silaturrahmi Mahasiswa (Fosma) yang telah vakum. Sebelumnya dipimpin aktifis PII Saleh Miftahussalam dkk. Kami mengelola pengajian Sabtuan di Mushalla KID Darussalam sebagai kegiatan inti Fosma. Kami juga diminta menghadap pembantu Rektor Unsyiah Utju Ali Banyah untuk memastikan kajian-kajian Islam di Fosma tidak mengkritik dan menyalahkan rektor seperti pernah terjadi sebelumnya.
Selanjutnya FOSMA diintegrasikan kegiatannya ke dalam UKM Bina Bintal Mahasiswa. Kami membentuk pengurus lengkap FOSMA, dan menyelengarakan kegiatan yang lebih besar seperti sunatan massal, latihan kader muballig mahasiswa dan muzakarah intelektualitas Islam. Selain aktivis PII Fosma juga diikuti aktivis HMI dan mahasiswa lainnya.
Ketika memimpin FOSMA saya mendapat kuliah gratis dan berkenalan dengan banyak intelektual kampus Unsyiah dan UIN Ar-Raniry. Bukan hanya dari kalangan PII. Dari sini kami mempelajari manajemen dakwah, pemanfaatan potensi zakat dan islamisasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Saya agak beruntung ketika Konferensi Wilayah PII di Ketapang tahun 1988 bisa masuk salah seorang anggota formatur. Ketua PW PII terpilih adalah Farid Wajdi Ibrahim. Saya boleh minta jabatan dan diamanahi sebagai Kepala Bidang Kaderisasi.
Ini adalah periode yang cukup menantang karena PII secara nasional tidak menyesuaikan diri dengan UU Keormasan. Alasannya wajib berasas tunggal Pancasila. Pemerintah menghentikan seluruh kegiatan PII dan mulailah kegiatan PII menggunakan cover Yakpida, remaja masjid, dan nama-nama lain sesuai kebutuhan di lingkungan sekolah.
Saya merasakan masa-masa inilah puncak karir organisasi saya di PII dengan tugas yang berat merancang dan memimpin pengelolaan training seluruh Aceh. Saya merasakan sebagai instruktur yang sesungguhnya, mengharuskan banyak membaca, menjaga diri dan siap menjadi ideologi PII.
Saya masih sempat menjabat di PW PII periode Saiful Bahri dengan jabatan Kepala Bidang Humas. Periode ini terhenti total akibat penangkapan pimpinan PII Aceh oleh Laksus tanggal 11 Agustus 1992 dan wajib lapor di Korem TU. PII Aceh pun bubar hingga terbentuk kembali periode Muslim Yakob. Saya bahagia bisa memfasilitasi tempat rapat pertama pembentukan kembali PII Aceh di Masjid Raya Baiturrahman tahun 1997. Karena ketika itu kebetulan saya tinggal di menara masjid kebanggaan muslimin Aceh itu.
Apa artinya itu semua itu: menjadi PII, mengikuti training, menjabat pengurus, membangun jaringan dan mengelola training? Dari itulah kita jadi terasah, meningkatkan kapasitas dan memiliki komitmen untuk membela dan memperjuangkan Islam. Saya benar-benar merasakan jasa PII dan ummat Islam yang telah membina saya dan kawan-kawan dalam wadah gerakan PII. Karena itu PII tetap penting dan dibutuhkan di masa-masa akan datang.
Tak apalah ketika kami bersama PII tak bebas berbicara, tak ada publikasi media dan tak dikenal sebagai aktifis oleh publik. Allah Maha Tahu amal sosial yang kami kerjakan dan sejarah pasti mencatatnya dengan jujur. Semoga Allah membalas yang setimpal kepada sahabat-sahabat yang telah mendahului kami.
Selamat Harba ke 73 PII, 4 Mei 2020. Tetap istiqamah di jalur islamisasi pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.
Lampanah, 4 Mei 2020
04/05/2020
Refleksi Awal Mula Saya Ber PII
Oleh Marjoni Abdul Muthaleb
Pertengahan tahun 1997 saya baru saja menamatkan SMP Negeri 1 Sigli dengan status peraih Nilai Ebtanas Murni masuk 8 besar tertinggi di Kabupaten Pidie. Di saat kawan-kawan belajar seangkatan saya memilih masuk Sekolah SMA Modal Bangsa di Banda Aceh, justru saya hanya memilih ikut test masuk Kelas Unggul SMA Negeri 1 Sigli.
Dalam proses seleksi akademik masuk kelas unggul tersebut dengan mudah saya lolos, tetapi di akhir seleksi Kelas Unggul SMA Negeri 1 Sigli tersebut ada test wawancara yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Sigli, Bapak Drs. Ramli Rasyid, M.Si.
Dalam wawancara tersebut ada satu syarat yg harus calon siswa kelas unggul sepakati, yaitu harus Unggul di Intra kurikuler dan Ekstrakurikuler. Dasar persyaratan tersebut akhirnya kami yang menjadi siswa-siswi Kelas Unggul SMAN 1 Sigli yang masuk tahun ajaran 1997-1998. Padat jam belajar dari hari Senin sampai Jum’at, menu belajar full day Intrakurikuler, sedangkan Sabtu siang hingga Minggu kegiatan pramuka dan kegiatan-kegiatan PII.
04/05/2020
Pelajar Islam Indonesia adalah Proses Kesempurnaan Pendidikan.
Oleh Amsal
Sekretaris Umum PW PII Aceh
Dalam menuntun kehidupan banyak perjalanan yang akan kita lalui, dalam memilih jalan tersebut maka pilihlah dimana engkau bisa terus menjadi lebih baik lagi dan menemukan jati dirimu. Sehingga dalam menuju itu saya memilih Pelajar Islam Indonesia sebagai tempat saya berproses.
Bermula dari menyelesaikan Leadership basic training 2015 silam tepat dimana kami bersama menyelesaikan di Bumi Bunyet Tanah Pelajar Bumbu Tape, itulah nama angkat kami. Angkatan yang terdiri dari berbagai warna saat ingin menempuh perjuangan di ladang basic. Ada yang dipaksa, ingin tau, dan banyak juga karena keinginan sendiri. Akan tetapi, sebagian besar karena diajak oleh rekan lain.
Namun satu yang pasti kami tahu, disinilah awal kami mengenal apa itu PII dan proses yang akan kami dapatkan. Pengalaman berharga itu pun tak terasa terus membekas dan tak bisa dilupakan dalam perjalanan hidup, saat kembali ke sekolah bergabung di organisasi lain dan belajar seperti biasanya.
Namun ada satu hal yang berbeda, dulu kurang berani dalam menyampaikan pendapat berubah menjadi ingin selalu memberikan pendapat. Dulu sosial adalah hal yang jauh berubah menjadi jiwa sosial adalah keinginan. Saat itu pun saya berfikir, perubahan ini terjadi dengan sendiri atau ada yang merubahnya.
Melawati berbagai proses dan bulan kucoba kembali melanjutkan jenjang training berikutnya serta kursus, yang kuikuti saat itu p**a, aku paham disanalah medanku berlatih dan menemukan apa yang harusnya kulakukan sejak dulu.
Karena rasa ingin tahu dan perubahan pun terus terjadi akhirnya di tengah berakhir masa SMA saya menyelesaikan training terakhir, yaitu Advance Training dan lanjut sebagai Instruktur, walapun menjadi peserta termuda pada saat itu, saya pun tetap melakukan yang terbaik.
Sampai sekarang saya bingung cara berterimaksih kepada PII, karena disaat saya ingin terus berbuat untuknya, maka dia pun memberikan ilmu yang tak pernah aku temukan sebelumnya.
73 tahun dedikasimu untuk negeri ini , aku tahu sekarang, engkau hadir bukan untuk bertanya apa yang Indonesia berikan untukmu. Tetapi dengan pertanyaan, apa yang terus akan aku lakukan untuk negeriku? Dedikasi serta implementasi segala hal untuk pendidikan negeri ini yang berjiwa islami.
04/05/2020
Pesantren Kilat, Awal Mula Revolusi Karakter (Jasa PII Terhadap Saya)*
Oleh Mohd Rendi Febriansyah
Anggota Departemen Kajian Aksi dan Informasi Strategis
Fase pelajar adalah dimana manusia dituntut untuk berproses menjadi manusia esensial. Tentunya dalam proses itu berbagai sifat dan karakter baru muncul akibat perubahan pola pikir. Bandel, sering bolos, lompat pagar sekolah, kejar kejaran dengan guru, berkelahi dan penampilan "preman". Itulah gambaran sifat dan karakter saya ketika menjadi pelajar SMP.
Belajar? Kegiatan paling membosankan, lebih seru duduk di kantin bersama rekan sejawat. Masuk organisasi? Buang waktu, lebih baik nongkrong dan buat kasus di sekolah. Pemikiran-pemikiran demikianlah yang terbenak ketika itu. Persetan terhadap hal sekitar, yang penting saya "happy" menjalani pergaulan saya.
Namun kehidupan "nakal" tersebut mulai menyusut sedikit demi sedikit ketika saya mulai masuk SMA dan mengenal organisasi. Ya, organisasi pertama yang saya ikuti berhasil mengubah pola sosial saya menjadi lebih positif. Organisasi apa? OSIS? Pramuka? Atau ROHIS? Bukan, jawabannya adalah Pelajar Islam Indonesia.
Saya tidak menyangka akan masuk PII dan aktif di dalamnya. Jangankan masuk, kenal saja tidak. Namun ketika kelas 1 SMA saya disuruh ikut pesantren kilat di bulan puasa oleh seorang guru. Beliau mengancam apabila tidak ikut maka tidak diperbolehkan menjadi anggota OSIS apalagi mendaftar ketua. Karena menjadi anggota OSIS adalah hal yang saya idamkan ketika SMA, maka ikutlah saya pesantren kilat dan disinilah awal mula saya berproses di PII.
Dulu saya tidak pernah tahu dan tidak mau tahu apa esensi dari organisasi sebenarnya. Namun, PII telah memberikan formulasi organisasi yang menurut saya sempurna hingga menjadikan saya mampu berkompetisi baik di dalam maupun di luar PII. Instrumen organisasi yang begitu komprehensif membuat saya berpikir bahwa inilah organisasi yang tepat bagi kaum pelajar intelektual.
Berbagai manfaat saya rasakan selama berproses di PII. Bukan hanya tentang organisasi, saya merasa diri saya telah mengalami revolusi yang dulunya individualis menjadi lebih s**a memikirkan kemaslahatan umat. Dari umat, untuk umat. Itulah yang diajarkan oleh PII. Dan yang paling membuat saya kagum adalah tidak adanya dikotomi antara intelektualitas Islam dan umum juga tanpa menyentuh pluralis agama.
"Kecanduan" ber PII semakin kuat setelah menyadari bahwa disinilah saya menemukan jati diri. Pemimpin, dari dulu saya bercita cita menjadi seorang pemimpin. Namun ketika SMP saya berpikir pemimpin macam apa jika melakukan hal buruk? Dan lagi lagi PII merubah pola pikir saya. Ternyata setiap manusia adalah pemimpin di muka bumi.
Karena kemampuan leadership dan kekuatan mental setelah ditempa PII ketika Basic Training, saya diamanahkan berbagai jabatan baik diinternal PII maupun eksternal. Saya pernah berpikir untuk menjadi ketua OSIS, tetapi karena belum bisa memanajemen prinsip saya mengurungkan niat tersebut. Namun setelah selesai Intermediet Training, cakrawala pemikiran saya semakin terbuka sehingga saya berhasil mendirikan organisasi Rohani Islam (ROHIS) di sekolah dan menjadi ketua pertamanya.
Dalam internal PII saya berproses secara instan. Empat bulan pasca Basic Training. Saya terpilih menjadi Komandan Korda Brigade PII Aceh Utara selama dua periode dan kemudian lanjut ke Pengurus Wilayah PII Aceh sekaligus Koordinator Wilayah Brigade PII Aceh. Dalam organisasi ini saya tidak menyebut itu semua jabatan, melainkan media melatih diri sebagaimana salah satu catur bakti PII.
Revolusi karakter yang dilakukan oleh PII terhadap saya menjadikan jatuh cinta yang amat dalam terhadap organisasi ini. Inilah organisasi yang telah mengubah pola sosial saya, inilah organisasi yang telah membangkitkan intensitas empati terhadap sekitar. Rasanya tak akan mampu diri ini untuk membayar jasa-jasa PII. Hanya pengabdian dan perjuangan yang akan menjadi hadiah kecil untuknya.
Sekarang usianya telah menyentuh 7 dasawarsa, namun kobaran semangat juangnya semakin terasa. Tidak akan redup sinarnya hingga akhir masa. Untuk umat ia kian berjasa.
Selamat hari bangkit PII ku yang ke 73, semoga gerakanmu diridhai Allah Yang Esa. Kau milik umat, dan kepada umatlah tempat kembalinya. Untaian terimakasih aku curahkan atas jasamu yang begitu besar. Doaku senantiasa menyertaimu. Jayalah PII ku, panjang umur pengkaderan.
*Pantonlabu, 4 Mei 2020*