26/05/2017
"Apakah Anak-Anak juga Mendapat Pertannyaan di Dalam
Kubur??"
Dalam masalah ini terdapat dua pendapat dan kedua pendapat tersebut berasal dari kalangan pengikut mazhab imam Ahmad. Bagi yang berpendapat bahwa anak-anak itu ditanya di dalam kubur, mereka berhujah bahwa disyariatkan untuk menshalati jenazah mereka, mendoakan mereka, dan memohonkan kepada Allah agar mereka dilindungi dari siksa dan fitnah kubur.
Imam Malik r.a menyebutkan di dalam kitabnya Al-Muwatha’ dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah menshalati jenazah anak-anak dan Abu Hurairah mendengar beliau mengucapkan doa:” Ya Allah, lindungilah ia dari siksa kubur”.
Mereka juga berhujah dengan riwayat Ali ibn Ma’bad, dari Aisyah r.a bahwa ada jenazah anak-anak yang lewat di depan rumah Aisyah lalu ia pun menangis. Ada seseorang yang bertanya,” apa yang membuat engkau menangis, wahai Ummul Mukminun?” ia menjawab, “ Aku menangisi anak itu karena rasa sayang kepadanya dari sesak himpitan kubur.”
Mereka juga berhujah dengan riwayat Hannad ibn as-Sari, Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami, dari Yahya ibn Sa’id, dari Said ibn Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata,” jika Rasulullah menshalati junazah seseorang yang berbuat dosa, beliau berdoa: ‘Ya Allah, lindungilah ia sari siksa kubur’.”
Mereka berkata,” Allah menyempurnakan akal bagi mereka agar mereka megetahui kedudukan diri sendiri dan mereka diberi ilham jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada mereka.”
Hal ini telah ditunjukan beberapa hadis yang isinya menjelaskna bahwa anak kecil itu akan mendapat pertanyaan di akhirat. Al- Asy’ari telah mengisahkan dari para pakar sunnah dan hadis bahaw ika mereka ditanay di akhirat, tidak ada halangan bagi mereka utnuk ditanyai di dalam kubur.
Pendapat yang kedua mengatakan ,” pertanyaan hanya ditunjukan kepada orang yang dapat memikirkan siapa yang rasul ldan apa yang dibwa oleh Rasul sebagaimana dapat ditanay apakah ia beriman kepada Rasul dan menaatinya ataukah tidak? Oleh sebab itu, ditanyakan kepadanya:’Apa yang engakau katakan tentang orang yang diutus di tengah kalian?”
Oleh karena itu, seorang anak kecil belum bisa membedakan perekara ini dari sisi mana pun. Bagaimana mungkin ia diberi pertanyaan, “apa yang engkau katakan tentang orang yang diutus di tengah kalian?” sekiranya akalnya dikembalikan kepadanya di dalam kubur, ia tidak akann ditanay tentang hal-hal yang tidka mungkin diketahuinyas sebab pertanayaan tersebut tidka bermanfaat baginya.
Hal ini berbeda dengan pertanyaan yang diajukan kepada mereka di akhirat. Allah SWT mengutus seorang Rasul kepada mereka lalu Rasul itu memerintahkan agar mereka taat kepdanya dan mereka mempunyai akal utnuk memikirkan hal ini.
Orang yang taat kepada rasul maka ia akan selamat. Dan orang yang mendurhakai Rasul maka ia akan dimasukan ke dalam neraka. Hal itu merupakan ujian berupa perintah agar mereka megerjakannya pada waktu itu, bukan merupakan pertanyaan yang berkaitan dengan perkaara pada masa lampau selagi mereka di dunia, berupa ketaatan atau kedurhakaan, seperti halnya pertanyaan dua orang Malaikat selagi di dalam kubur.
Adapun berkaitan dengan hadis Abu Hurairah, yang dimaksudkan dengan siksa kubur bagi anak bukanlah hukuman yang diatuhkan kepadanya karena meninggalkan ketaatan atau karena mengerjakan hal yang dilarang. Pasalnya, Allah tidak meyiksa seseorang karena dos yang tidak dilakukanya. Namun, siksa kurubr yang dimaksudkan di sini bisa berarti penderiataan yang dirasakan orang yang meninggal karena sebab orang lain meskipun bukan berupa siksaan atas amal yang dilakkanya.
Di antaranya adalah sabda Nabi:” sesungguhnya, orang yang meninggal dunia benar-benar disiksa karena tangis keluarganya.”.makna disiksa adalha menderita atau mereasa sakit karenanya, bukan berarti ia disiksa karena dosa orang yang masih hidup, kareana Allah telah berfirman,” dan seseorang tidka akan memikul beban dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)
Hal ini sebagaimana disabdakana Nabi :”safar ( perejalanan jauh) adalah bagian dari azab (siksa).”
Jadi, itu lebih umum dari pada hukuman. Karean itu, tiak diragu lagi bahwa di dalam kubur ada penderitaan, kegundahan, dan penyesalan yang bisa berpengaruh pada anak-anak kecil sehingga ia merasa tersiksa karenanya.
Maka orang yang menshalati jenazah anak kecil, hendaknya memohon kepada Allah agar Dia menlindunginya dari siksaan seperti itu.
:Referensi : Ibnul Qayim al-Jauziyah, hakekat Ruh,(jakarta:
Qisthi. 2015):