Ma'had Tarbiyatul islamiah Dayah Madinatul Fata

Ma'had Tarbiyatul islamiah Dayah Madinatul Fata

Share

(Pondok-pesantren) "MA'HAD TARBIYATUL ISLAMIAH DAYAH MADINATUL FATA" Adalah sarana&prasarana Belajar mengajar Dalam Hal Ilmu pengetahuan/pendidikan Agama.

18/11/2015

Pelajarilah ilmu pengetahan Agama islam
Secara benar, Agar Hidup semakin Ter Arah

Photos from Ma'had Tarbiyatul islamiah Dayah Madinatul Fata's post 30/10/2015
Photos 21/10/2015

Ini adalah sebuah Asrama santri, Tempat kami belajar Dan mengajar Dalam ilmu pengetahuan Agama.

Sebut saja, "DAYAH MADINATUL FATA"
Atau Disebut PONDOK-PESANTREN

ALAMAT :
Jalan Raya soekarno Hatta
Jln-Masjid AlQurban No.5
Gampong lampeuot (mibo)
Kecamatan Banda Raya
Kota banda aceh

Photos 13/09/2015
06/09/2015

Bismillaahirrahmaanirrahim ..
Assalamua'alaikum wr-wb.

Dengan ini, kami atas nama pondok-pesantren."DAYAH MADINATUL FATA". Yang beralamat
Di Jalan Raya soekarno Hatta. Jln-Masjid AlQurban No.5.
Gampong lampeuot
Kecamatan banda Raya
Kota Banda Aceh.

Dengan ini, mengajak para sahabat kaumuslimin khusus nya umat islam Dimanapun saja berada, untuk bersama-sama menuntut ilmu agama Di pondok-pesantren."Dayah madinatul fata"

Adapun persyaratan untuk mendaftarkan diri menjadi santri Di tempat kami Adalah :

1. Membawa foto copy ktp,2=lmbr
2. Foto ukuran 4x6 = 4 lmbar
3. Mengisi Bio data santri

Adapun biaya administrasi di pondok-pesantren."DAYAH MADINATUL FATA" Adalah sebagai berikut :

1. Biaya uang pendaftaran santri baru, Geratis untuk umum sampai kapanpun. (Bebas biaya)

2. Biaya uang kamar/listrik disetiap bulanannya, Geratis hingga sampai kapanpun juga (Bebas biaya)

3. Wajib belajar menuntut ilmu dan yakin dengan sungguh-sungguh ingin belajar ilmu agama sampai kapanpun.

(1) Layanan Informasi :
082167427575

(2) Layanan pengaduan dana sumbangan/amal jariah untuk pembangunan pondok-pesantren."DAYAH MADINATUL FATA"

1. 08126917242
2. 085260174494

Wassalamu'alaikum Wr-Wb.
(Dayah madinatul fata)

09/07/2015

Atas nama pimpinan Dan para Dewan Guru juga Para santri Di PONDOK PESANTREN "DAYAH MADINATUL FATA"

kami semua Mengucapkan.
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMDHAN 1436-H

Photos 26/06/2015

"HARTA KITA YANG SEBENARNYA"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Anak keturunan Adam (senantiasa) berkata :

Hartaku, hartaku! Apakah engkau wahai anak Adam mendapatkan bagian dari hartamu selain yang engkau makan sehingga engkau habiskan, atau engkau pakai sehingga engkau rusakkan atau yang engkau sedekahkan sehingga engkau sisakan (untuk kehidupan akhirat)"(HR. Muslim).
Harta kita yang sebenarnya adalah yang kita sedekahkan, karena itu akan menjadi tabungan amal kita untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak.
semoga kita bisa mengambil pelajaran dan Allah mudahkan kita untuk mengamalkannya,
khususnya di bulan Ramadhan ini.

Aamiin.

01/06/2015

Bismillaahirrahmaanirrahim.
Assalamu'alaikum Wr-Wb..

Sahabat kaumuslimin wal-muslimat para pecinta Halaman Dayah Madinatul Fata yang kami cintai
smile emotikon

Sya’ban adalah nama bulan, Di namakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air.. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

Shaum di bulan Sya’ban
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956).

Dan dalam riwayat Muslim No.1957 : “Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

Sebagian ulama di antaranya Ibnul Mubarak dan selainnya telah merajihkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah penyempurnakan puasa bulan Sya’ban akan tetapi beliau banyak berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan riwayat pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan
smile emotikon

Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: ” Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.” Dan dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa asatu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157).

Dan Ibnu Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya s**a untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i, lihat Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/461.

Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian p**a puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”, menunjukkan bahwa ketika bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung -bulan haram dan bulan puasa- manusia sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara manusia mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian. Dalam hadits tadi terdapat isyarat p**a bahwa sebagian yang telah masyhur keutamaannya baik itu waktu, tempat ataupun orang bisa jadi yang selainnya lebih utama darinya.

Dalam hadits itu p**a terdapat dalil disunahkannya menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan. Sebagaimana sebagian salaf, mereka menyukai menghidupkan antara Maghrib dan ‘Isya dengan shalat dan mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Dan yang seperti ini di antaranya dis**ainya dzikir kepada Allah ta’ala di pasar karena itu merupakan dzikir di tempat kelalaian di antara orang-orang yang lalai.

Dan menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan punya beberapa faedah, di antaranya:
Menjadikan amalan yang dilakukan tersembunyi. Dan menyembunyikan serta merahasiakan amalan sunah adalah lebih utama, terlebih-lebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan rabbnya. Oleh karena itu maka dikatakan bahwa padanya tidak ada riya’. Sebagian salaf mereka berpuasa bertahun-tahun tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian keduanya disedekahkan dan dia sendiri berpuasa. Maka keluarganya mengira bahwa dia telah memakannya dan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah memakannya di rumahnya. Dan salaf menyukai untuk menampakkan hal-hal yang bisa menyembunyikan puasanya.

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Berkata Qatadah: “Disunahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang darinya kesan sedang berpuasa.”

Demikian juga bahwa amalan shalih pada waktu lalai itu lebih berat bagi jiwa. Dan di antara sebab keutamaan suatu amalan adalah kesulitannya/beratnya terhadap jiwa karena amalan apabila banyak orang yang melakukannya maka akan menjadi mudah, dan apabila banyak yang melalaikannya akan menjadi berat bagi orang yang terjaga. Dalam shahih Muslim No. 2948 dari hadits Ma’qal bin Yassar: “Ibadah ketika harj sepeti hijarah kepadaku.” Yakni ketika terjadinya fitnah, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sehingga orang yang berpegang teguh akan melaksanakan amalan dengan sulit/berat.

Ahli ilmu telah berselisih pendapat tentang sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban ke dalam beberapa perkataan:

1. Beliau disibukkan dari puasa tiga hari setiap bulan karena safar atau hal lainnya. Maka beliau mengumpulkannya dan mengqadha’nya (menunaikannya) pada bulan Sya’ban. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila mengamalkan suatu amalan sunah maka beliau menetapkannya dan apabila terlewat maka beliau mengqadha’nya.

2.Dikatakan bahwa istri-istri beliau membayar hutang puasa Ramadhannya pada bulan Sya’ban sehingga beliaupun ikut berpuasa karenanya. Dan ini berkebalikan dengan apa yang datang dari ‘Aisyah bahwa dia mengakhirkan untuk membayar hutang puasanya sampai bulan Sya’ban karena sibuk (melayani) Rasulullah.
3.Dan dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa karena pada bulan itu manusia lalai darinya. Dan pendapat ini yang lebih kuat karena adanya hadits Usamah yang telah disebutkan tadi yang tercantum di dalamnya: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan.” (HR. Nasa’i. Lihat Shahihut Targhib wat Tarhib hlm. 425).

Dan adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila masuk bulan Sya’ban sementara masih tersisa puasa sunah yang belum dilakukannnya, maka beliau mengqadha’nya pada bulan tersebut sehingga sempurnalah puasa sunah beliau sebelum masuk Ramadhan -sebagaiman halnya apabila beliau terlewat sunah-sunah shalat atau shalat malam maka beliau mengqadha’nya-. Dengan demikian ‘Aisyah waktu itu mengumpulkan qadha’nya dengan puasa sunahnya beliau. Maka ‘Aisyah mengqadha’ apa yang wajib baginya dari bulan Ramadhan karena dia berbuka lantaran haid dan pada bulan-bulan lain dia sibuk (melayani) Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Maka wajib untuk diperhatikan dan sebagai peringatan bagi orang yang masih punya utang puasa Ramadhan sebelumnya untuk membayarnya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Dan tidak boleh mengakhirkan sampai setelah Ramadhan berikutnya kecuali karena dharurat, misalnya udzur yang terus berlanjut sampai dua Ramadhan. Maka barang siapa yang mampu untuk mengqadha’ sebelum Ramadhan tetapi tidak melakukannya maka wajib bagi dia di samping mengqadha’nya setelah bertaubat sebelumnya untuk memberi makan orang-orang miskin setiap hari, dan ini adala perkataannya Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Demikian juga termasuk faedah dari puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa puasa ini merupakan latihan untuk puasa Ramadhan agar tidak mengalami kesulitan dan berat pada saatnya nanti. Bahkan akan terbiasa sehingga bisa memasuki Ramadhan dalam keadaan kuat dan bersemangat.

Dan oleh karena Sya’ban itu merupakan pendahuluan bagi Ramadhan maka di sana ada p**a amalan-amalan yang ada pada bulan Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan shadaqah. Berkata Salamah bin Suhail: “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban itu merupakan bulannya para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya’ban dia berkata: “Inilah bulannya para qurra’.” Dan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i apabila masuk bulan Sya’ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur’an.

Puasa pada Akhir bulan Sya’ban

Telah tsabit dalam Shahihain dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Apakah engkau berpuasa pada sarar (akhir) bulan ini?” Dia berkata: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Apabila engkau berbuka maka puasalah dua hari.” Dan dalam riwayat Bukhari: “Saya kira yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.” Sementara dalam riwayat Muslim: “Apakah engkau puasa pada sarar (akhir) bulan Sya’ban?” (HR. Bukhari 4/200 dan Muslim No. 1161).

Telah terjadi ikhtilaf dalam penafsiran kata sarar dalam hadits ini, dan yang masyhur maknanya adalah akhir bulan. Dan dikatakan sararusy syahr dengan mengkasrahkan sin atau memfathahkannya dan memfathahkannya ini yang lebih benar. Akhir bulan dinamakn sarar karena istisrarnya bulan (yakni tersembunyinya bulan).

Apabila seseorang berkata, telah tsabit dalam Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa salla, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali orang yang terbiasa berpuasa maka puasalah.” (HR. Bukhari No. 1983 dan Muslim No. 1082), maka bagimana kita mengkompromikan hadits anjuran berpuasa (Hadits ‘Imran bin Hushain tadi) dengan hadits larangan ini?

Berkata kebanyakan ulama dan para pensyarah hadits: Sesungguhnya orang yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ini telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa dia ini terbiasa berpuasa atau karena dia punya nadzar sehingga diperintahkan untuk membayarnya.

Dan dikatakan bahwa dalam masalah ini ada pendapat lain, dan ringkasnya bahwa puasa di akhir bulan Sya’ban ada pada tiga keadaan:

Berpuasa dengan niat puasa Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian barangkali sudah masuk bulan Ramadhan. Puasa seperti ini hukumnya haram.
Berpuasa dengan niat nadzar atau mengqadha’ Ramadhan yang lalu atau membayar kafarah atau yang lainnya. Jumhur ulama membolehkan yang demikian.
Berpuasa dengan niat puasa sunah biasa. Kelompok yang mengharuskan adanya pemisah antara Sya’ban dan Ramadhan dengan berbuka membenci hal yang demikian, di antaranya adalah Hasan Al-Bashri -meskipun sudah terbiasa berpuasa- akan tetapi Malik memberikan rukhsah (keringanan) bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa. Asy-Syafi’i, Al-Auzai’, dan Ahmad serta selainnya memisahkan antara orang yang terbiasa dengan yang tidak.

Secara keseluruhan hadits Abu Hurairah tadilah yang digunakan oleh kebanyakan ulama. Yakni dibencinya mendahului Ramadhan dengan puasa sunah sehari atau dua hari bagi orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa, dan tidak p**a mendahuluinya dengan puasa pada bulan Sya’ban yang terus-menerus bersambung sampai akhir bulan.

Apabila seseorang berkata, kenapa puasa sebelum Ramadhan secara langsung ini dibenci (bagi orang-orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa sebelumnya)? Jawabnya adalah karena dua hal:

Pertama: agar tidak menambah puasa Ramadhan pada waktu yang bukan termasuk Ramadhan, sebagaimana dilarangnya puasa pada hari raya karena alasan ini, sebagai langkah hati-hati/peringatan dari apa yang terjadi pada ahli kitab dengan puasa mereka yaitu mereka menambah-nambah puasa mereka berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Atas dasar ini maka dilaranglah puasa pada yaumusy syak (hari yang diragukan). Berkata Umar: Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan hari syak adalah hari yang diragukan padanya apakah termasuk Ramadhan atau bukan yang disebabkan karena adanya khabar tentang telah dilihatnya hilal Ramadhan tetapi khabar ini ditolak. Adapun yaumul ghaim (hari yang mendung sehingga tidak bisa dilihat apakah hilal sudah muncul atau belum maka di antara ulama ada yang menjadikannya sebagai hari syak dan terlarang berpuasaa padanya. Dan ini adalah perkataaan kebanyakan ulama.

Kedua: Membedakan antara puasa sunah dan wajib. Sesungguhnya membedakan antara fardlu dan sunah adalah disyariatkan. Oleh karenanya diharamkanlah puasa pada hari raya (untuk membedakan antara puasa Ramadhan yang wajib dengan puasa pada bulan Syawwal yang sunnah). Dan Rasulullah melarang untuk menyambung shalat wajib dengan dengan shalat sunah sampai dipisahkan oleh salam atau pembicaraan. Terlebih-lebih shalat sunah qabliyah Fajr (Shubuh) maka disyari’atkan untuk dipisahkan/dibedakan dengan shalat wajib. Karenanya disyariatkan untuk dilakukan di rumah serta berbaring-baring sesaat sesudahnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika melihat ada yang sedang shalat qabliyah kemudian qamat dikumandangkan, beliau berkata kepadanya:

Apakah shalat shubuh itu empat rakaat?” (HR. Bukhari No.663).
Barangkali sebagian orang yang jahil mengira bahwasanya berbuka (tidak berpuasa) sebelum Ramadhan dimaksudkan agar bisa memenuhi semua keinginan (memuaskan nafsu) dalam hal makanan sebelum datangnya larangan dengan puasa. Ini adalah salah/keliru dan merupakan kejahilan dari orang yang berparasangka seperti itu.

Wallahu ta’ala a’lam.
Wassalamu'alaikum wr-Wb..
smile emotikon

Atjeh 1 january 2015
"DAYAH MADINATUL FATA"

Photos from Ma'had Tarbiyatul islamiah Dayah Madinatul Fata's post 19/05/2015

PROFIL YAYASAN TGK. ABDUL AZIZ DAYAH MADINATUL FATA BANDA ACEH

1. MUQADDIMAH

Pertama dan utama, Puji syukur terhadap Allah SWT yang telah menganugerahkan kasih sayang sesama Hambanya. Shalawat dan salam kepada Rasul yang diutus menjadi Rahmat bagi sekalian ‘alam, beliau juga menjadi contoh tauladan bagi semua makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT baik itu dari segi kehidupan, moral, tatakrama, tingkah laku, tindak tanduk, tutur kata, pergaulan sesama manusia baik yang kafir maupun seiman dan juga semuanya yang patut kita contoh untuk kehidupan yang sudah akhir zaman ini. Begitu juga sahalawat dan salam tidak lupa juga kita ucapkan kepada Keluarga dan Sahabatnya sekalian yang telah membantu Rasul dalam Membesarkan Agama yang sangat di Ridhai oleh Allah SWT.

2. SEJARAH PENDIRIAN DAYAH MADINATUL FATA

Mesjid Al qurban merupakan mesjid utama kemukiman lam Ara yang terletak di pinggiran kota Banda Aceh. Dalam komplek mesjid ini terdapat dua mesjid yaitu mesjid baru yang didirikan pada masa rezim orde lama, dan mesjid lama yang didirikan pada tahun 1920-an dan di renovasi pertama kali tanggal 14 -7 1956 M / 1375 H. Mesjid ini merupakan peninggalan bersejarah yang sampai sekarang masih utuh dan di fungsikan sebagai tempat ibadah dan tempat pengajian.
Di samping Mesjid lama ( mesjid tuha ) ini terdapat satu balai pengajian yang sudah di fungsikan sejak awal berdirinya mesjid dan juga merupakan warisan dari Abu Syiek Abdul Aziz. Namun dari tahun 80-an pengajian yang berlangsung di mesjid tuha dan di bale ini merupakan pengajian mingguan .

Pada awal tahun 2001 timbullah pemikiran dari panitia Mesjid yang dipimpin oleh H. Ichtyar Roedyar Hamid dan tokoh tokoh masyarakat disekitarnya untuk mendirikan suatu dayah salafiah di samping Mesjid tersebut. Setelah mengadakan musyawarah timbullah suatu hasil kesepakatan bahwa yang akan memimpin dayah tersebut adalah Tgk Atasykuri M. Hm. beliau merupakan putra daerah Lambheu ( Salah satu desa di Darul Imarah, Aceh Besar ) yang usianya masih muda dan pada saat itu masih aktif mengajar di dayah Ruhul Fata Seulimum Aceh Besar. Kelanjutannya beberapa tokoh masyarakat meujumpai dan memohon kepada pimpinan Dayah Ruhul Fata yaitu Tgk. H Muchtar Luthfi AW yang akrab di sapa dengan ABON agar memberi izin kepada TGK ATASYKURI untuk memimpin dayah dan membina ummat di tempat kelahirannya.

Setelah mendapat Izin dari Gurunya, akhirnya Tgk. Atasykuri M. Hm kembali ke kampung halamannya untuk mendirikan sebuah Dayah Salafiyah yang diberi nama dengan Yayasan Tgk. Abdul Aziz DAYAH MADINATUL FATA.

Yayasan ini berdiri pada tanggal 05 Agustus 2001 . Awal dari pada pendirian Yayasan pertama adalah cuma satu buah Balai Pengajian, Mushalla / Masjid tua, 4 buah Bilek / Kamar Santri dan 1 kamar mandi. Luas tanah yayasan pada saat pendirian pertama adalah ± 1472 M2. Kemudian pada tanggal 05 Januari 2002 diresmikanlah Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata Oleh Al Mukarram Tgk. H. Muchtar Luthfi atau yang lebih dikenal dengan Panggilan ABON, yaitu Guru Tgk. Atasykuri M. Hm sekaligus Pimpinan Dayah Ruhul Fata Seulimuem – Aceh Besar dan Dayah Madinatul Fata ini merupakan salah satu cabang dari Dayah Ruhul Fata Seulimum.

Dengan bermodalkan keuangan pribadi dan bantuan dari masyarakat sekitar Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata semakin hari semakin bertambah pesat, baik itu jumlah santri yang belajar di pondok maupun dari segi pembangunan dan perluasan lahan yayasan, pada tanggal 04 Januari 2002, Saudara Muhammad Djamil Ibrahim, Ph.d yang berdomisili di Jln. Borobudur No. 22 Menteng Jakarta Pusat, beliau mewaqafkan sepetak tanah kepada yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata sebesar ± 2400 M2 Tanah yang diwaqafkan tersebut berada disebelah utara yayasan.

Kemudian Pada pada tanggal 31 Desember 2003 Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( Bapak Drs. Anas M. Adam, M. Pd memberikan SERTIFIKAT AKREDITASI dengan Akreditas Type C, nomor sertifikat 421 / G.1 / 522 / 2003 dengan jumlah total nilai 3065. pada tahun 2003 juga Dinas Pendidikan Kota banda Aceh memberikan bantuan Fisik yakni Asrama permanen santri sebanyak satu gedung ( 4 Bilek / Kamar santri ).

Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata yang beralamatkan di Jalan Mesjid Al-Qurban No. 05 Gampong Lampeuot Mukim Lam Ara Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh Telpon (0651) 49885 merupakan salah satu contoh lembaga pendidikan Agama Salafi yang berada dikota Banda Aceh,
Perluasan Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata terus kami lakukan mengingat jumlah peserta didik pun semakin hari semakin pesat, Tahun 2006 Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata kembali membeli tanah dengan luas ±2800 M2, semua tanah yang dibeli oleh Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata adalah berupa waqaf masyarakat sekitar menurut kemampuan masing – masing, ada yang mampu menyumbang satu meter dan bahkan ada yang menyumbang beberapa ratus meter. Luas sementara Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata adalah ±6700 M2, Insya Allah akan kita perluas lagi, mengingat kemampuan dana yang begitu terbatas maka Kami juga sangat mengharapkan uluran tangan baik dari masyarakat, Pemda, Pemerintah Provinsi juga Pemerintah Pusat dan Donatur dari negara muslim lainnya.

Mengenai pembangunan fisik, Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata juga menerima bantuan APBA dari tahun 2008 dan 2009 dari Dinas Pendidikan dan Pembinaan Dayah Provinsi Aceh, Bantuan itu sepenuhnya dipergunakan untuk pembangunan bilik santri dan juga MCK santri.

3.VISI DAYAH MADINATUL FATA

- Menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga pendidkan agama pengkaderisasi generasi islam yang beriman, bertaqwa, akhlaqul karimah, disiplin, menguasai iptek dan ekonomi

4.MISI DAYAH MADINATUL FATA

- Mencetak santriwan dan santriwati yang beriman, bertaqwa, berakhlaqul karimah, berjiwa pemimpin, mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin maju serta mampu untuk maju dengan terampil menghadapi tantangan hidup, berkuwalitas, dan siap menjadi contoh di masyarakat dan memasyarakatkan islam.
- Mencetak kader hafiz al qur’an.
- Memberikan pendidikan kesetaraan dari jenjang sd/min sampai jenjang sma/ma,
- Membangun asrama penginapan yang lebih layak dan memadai.
- Mengembangkan koperasi sebagai penopang perekonomian pondok pesantren.
- Menciptakan lapangan kerja bagi dewan guru dan alumni

3. PROFIL PIMPINAN DAYAH.

Tgk. Atasykuri M. Hm lahir pada tanggal 15 Februari 1973 di desa Lambheu Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar. Ayahnya bernama Tgk. Muhammad Hasyim Musthafa yang berasal dari Aceh Selatan. Sedangkan ibundanya, yakni Siti Hawa adalah orang asli Aceh Besar. Beliau merupakan anak ke – 9 dari 11 bersaudara.

Sejak kecil, Tgk. Atasykuri M. Hm telah sering di bawa oleh ayahandanya untuk menimba ilmu agama di beberapa tempat pengajian. Karena memang tekatnya yang kuat, pada tahun 1989 beliau memutuskan untuk menimba ilmu agama di Dayah Ruhul Fata Seulimeum Aceh Besar setelah tamat menjalani pendidikan di MTsN Keutapang dua Aceh Besar.

Setelah lama menimba ilmu agama di sana, akhirnya pada pertengahan tahun 2001 M, beliau mendapat izin dari gurunya yakni Tgk. H. Mukhtar Luthfi AW ( ABON ) untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan agama.

Disamping mengemban tugas yang mulia mengajar di Dayah, beliau mendapat kepercayaan untuk menjabat ketua organisasi PERTI ( Persatuan Tarbiyah Islamiyyah ) Kota banda Aceh.

4. KONDISI LINGKUNGAN SOSIAL DAYAH.

Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata yang berdiri sejak tahun 2001 terletak di penghujung Kota Banda Aceh. Daerah ini termasuk tempat yang strategis untuk sebuah Dayah mengingat letaknya yang agak sedikit jauh dari pusat kota sehingga aman dari kebisingan dan keramaian kota.

Kondisi keberagamaan disekitar Dayah Madinatul Fata, sebagaimana di Dayah – Dayah lain, senantiasa semarak dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakannya. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor yang diantaranya rasa cinta yang tinggi kepada Agama yang masih sangat melekat di hati masyarakat sekitarnya.

5. MODEL KEPEMILIKAN DAYAH.

Dayah Madinatul Fata yang dipimpin oleh Tgk. Atasykuri M. Hm berada dibawah naungan Yayasan Tgk Abdul Aziz. Walaupun demikian, kepemimpinan diakomodir sepenuhnya oleh pimpinan dayah.

6. PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN.

1. Majelis Ta’lim

a. Untuk Para Santri.
Majelis Ta’lim untuk para santri ini diadakan tiap hari dan malam.
Adapun proses belajar/mengajar diwaktu hari di bagi menjadi tiga waktu, yaitu sesudah shubuh s/d jam 07.15 am WIB, jam 08.30 am s/d 10.00 am WIB, dan jam 10.30 am s/d azan Dhuhur.
Dilanjutkan Dengan mengulang kitab pada pukul 5 sore sampai dengan ba'da magrib.

Adapun untuk para santri tingkat ‘aliyah, ada penambahan jam belajar yaitu mulai sesudah dhuhur s/d jam 03.00 pm WIB.

Sedangkan waktu belajar/mengajar malam hanya satu waktu yaitu sesudah maghrib s/d jam 09 pm WIB. Untuk para santri tingkat ‘aliyah, ada penambahan jam belajar malam yaitu mulai jam 09.30 pm s/d jam 00.00 WIB.

b. Untuk penduduk sekitar dayah ( orang-orang tua ).
Majelis Ta’lim untuk para penduduk sekitar dayah (orang-orang tua) ini dilaksanakan hanya 1 kali setiap minggu yang pimpin langsung oleh Pimpinan Dayah Tgk Atasykuri M. Hm.

2. Melaksanakan pendidikan wajardikdas untuk tingkat paket B setara SMP / MTs dan Paket C setara SMA / MA yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama ( Kemenag ).

3. Mengadakan pelatihan keahlian hidup ( Life Skile ), berupa pelatihan komputer, aplikasi dan pemograman komputer, pelatihan kaligrafi Arab, dan pertukangan,

Kitab yang diajarkan di Dayah Madinatul Fata ini adalah kitab kuning, sebagaimana yang telah dilaksanakan di dayah dayah salafiah dan yang tidak bertentangan dengan i’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah. Kurikulum yang dipakai di dayah Madinatul Fata ini disusun sesuai kebutuhan, seperti kurikulum yang umumnya dipakai di dayah-dayah salafiah diseluruh Aceh.

7. SANTRI DAN GURU/TENGKU

Yayasan Tgk. ‘Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata memiliki santri baik yang menetap atau pun yang hanya mengaji malam. Santri yang hanya mengaji diwaktu malam umumnya karena masih mengikuti pendidikan formal diluar Dayah,dari tingkat SMP/MTsN, MAN/SMA Atau Perguruan Tinggi.
Untuk melatih mental dan kedisiplinan santri dalam hal mengajar, maka sebagian dari santri yang sedang belajar di tingkat aliyah di latih dan diemban tugas untuk mengajar santri-santri di tingkat Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah. Adapun guru di Dayah Madinatul Fata yang lainnya adalah para alumnus Dayah Madinatul Fata sendiri dan Juga Alumnus Dayah Ruhul Fata Seulimeum Aceh Besar.

8. SARANA DAN PRASARANA DAYAH.

Sarana dan pasarana yang terdapat di Dayah Madinatul Fata guna menunjang proses belajar mengajar diantaranya adalah:
a. 1 ruang kantor sekretariat
b. 1 ruang pustaka
c. 1 buah balai utama tempat perkump**an/rapat
d. 8 buah balai pengajian
e. 100. ruang bilik/kamar (tempat istirahat seusai ngaji)
f. 1 buah mushalla
g. 10 buah komputer
h. 1 buah lapangan bulu tangkis

Dan insya Allah beberapa tahun kedepan akan mulai ditempati balai dan bilik santri putri.

9. MODEL PENGEMBANGAN EKONOMI DAYAH

Koperasi pondok pesantren Dayah Madinatul Fata yang sedang aktif berjalan mempunyai badan hukum dan surat izin operasional dari dinas koperasi.
Usaha-usaha koperasi yang dilaksanakan adalah sbb:
1. Warung serba ada ( Waserda )
2. Ternak Unggas
3. Pertanian
4. Agribisnis Beras Organik

10. PROGRAM PENGEMBANGAN DAYAH.

a. Fisik ; Pengadaan lahan dan Pembangunan untuk tempat pengajian bagi santri wati dan rumah guru.

b. Non Fisik ; Peningkatan prestasi para santri, peningkatan keterampilan khuthbah dan kepemimpinan serta olah raga bela diri.

11. PROGRAM UNGGULAN.

Yayasan Tgk Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata memiliki beberapa program unggulan, diantaranya yaitu program penghafalan Alqur-an.
Dengan adanya program ini, semoga tumbuh kader kader yang mampu menghafal al-Qur-an sebanyak banyaknya dan dapat memudahkan dalam hal mempelajari Ilmu Tafsir Alqur-an.

12. PENUTUP.

Sebagaimana yang telah kami informasikan pada bagian 7 mengenai pendidikan formal bagi santri yang kurang mampu dan putus sekolah, Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata telah mengadakan pendidikan Paket B dan Paket C. Jadi secara global santri yang akan lulus kelak bisa juga bekerja dan berbakti kepada Agama, Negara dan Bangsa dengan jiwa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hampir 90% santri yang berada dibawah naungan Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata ada orang yang kurang mampu, malah bisa kita katakan adalah orang yang hidup dengan segala keterbatasan, baik dari segi aspek Agama, ekonomi dan juga dalam berbangsa dan bernegara. Dari dasar ini lah santri kita didik dan kita latih supaya mereka bisa menjadi orang yang lebih terampil dan bermatabat kelak ketika sudah keluar atau sudah siap kita didik di Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata.

Hanya kepada Allah lah semua kesempurnaan, tiada s**ar bagi Allah untuk mengubah sesuatu apapun walau itu hannya dalam hitungan detik, Tanpa henti – hentinya Kami juga mengharap keridhaan Allah supaya Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata ini diberi keberkatan dalam mendidik manusia yang bermoral dan juga bermartabat, karena dari itu kami juga mengharapkan perhatian dari pada saudara – saudara kami yang sebangsa,se iman dan se agama untuk sama – sama memperhatikan tempat yang sangat mulia ini, mengingat juga tujuan yang sangat mulia dan juga untuk kemegahan Islam, merupakan tugas kita bersama dalam membina dan mengembangkan Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata yang kita cintai ini.

Akhirul kalam, hanya inilah Profil singkat Yayasan Tgk. Abdul Aziz Dayah Madinatul Fata, dimana ada kekurangaan dan kesilapan kata kami mohon untuk diperbaiki, sudah lumrah sebagai manusia diciptakan oleh Allah tidak lepas dari kekurangan dan keterbatasan.

SEMOGA ALLAH SWT MERIDHAINYA.
Aamiin YA RABBAL ‘Aalamiin

Want your school to be the top-listed School/college in Banda Aceh?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jalan Masjid Al-Qur'ban No.5- (mibo) Gampong Lampeuot. Kecamatan Banda Raya. Kota Banda Aceh
Banda Aceh
23238