19/02/2026
Dikutip dari sebuah tulisan dari buku dengan judul yang sama "Kalibrasi Rasa" oleh Kyai Budi Ashari:
Masih dalam Mu’jam Ramadhan, Fuad Mursi selanjutnya mengisahkan malam ru’yah hilal Ramadhan di Kairo masa Turki Utsmani , berikut Suasana perayaan sudah dirasakan bahkan seminggu sebelum hari ru’yah hilal. Di mana mereka saling kunjung keluarga dan kerabat menjelang Ramadhan. Malam ru’yah hilal Kairo menyala terang sepanjang malam. Para ulama, tokoh, pemimpin, masyarakat baik laki, perempuan, anak anak semua keluar untuk bersenang menyambut Bulan Ramadhan. Mereka keluar dengan pakaian pakaian bagus, pelana pelana-pelana kuda mereka pun dihias indah. Suara Allahu Akbar menggema di mana mana.
Masyarakat berombongan dari berbagai kalangan; petani, pedagang, tukang bangunan, tukang masak, para penjual di pasar, berbagai kalangan profesi penjahit, ahli parfum, tukang cukur, pengrajin sepatu dan semua lapisan masyarakat keluar malam itu melakukan perjalan an bersama sama menuju rumah Qadhi. Qadhi menyambut mereka semua dan menjamu mereka dengan kopi, wewangian bukhur. Kemudian Qadhi menghadirkan ulama 4 madzhab untuk menyampaikan apakah esok sudah masuk Ramadhan atau belum.
Jika esok Ramadhan, maka malam itu juga berita gembira tersebut dikirimkan kepada Pasya, pemimpin tertinggi kota itu. Masjid masjid dan seluruh penjuru kota diterangi. Kemudian terdengar 40 sampai 50 tembakan meriam yang menggema dan menggetarkan kota menandakan esok Ramadhan. Saat itu masyarakat saling bertemu dan saling mengucapkan selamat. Beberapa ahli ibadah keliling kampung kampung sambil meneriakkan kalimat; jika esok Ramadhan mereka berteriak sambil keliling: (Wahai umatnya manusia terbaik...shiyam...shiyam...) atau kalau esok belum Ramadhan maka mereka umatnya manusia terbaik...shiyam...shiyam...) atau kalau esok belum Ramadhan maka mereka berteriak: (Esok penyempurna Bulan Sya’ban...buka...buka...).
Semua perayaan itu selesai di tengah malam di mana masyarakat beramai--ramai mendatangi masjid untuk shalat tarawih dan berniat puasa esok harinya.
Ini hanya sedikit kisah dari begitu menyalanya perayaan penyambutan Ramadhan di sepanjang kebesaran Islam di berbagai penjuru kota Islam.