30/09/2023
T.I.M.B.A.N.G.A.N.
Barangkali, kita adalah generasi lama produk pendidikan menggunakan rotan. Kita mungkin sering merasakan bagaimana menakutkannya amarah orang tua dan sakitnya pukulan rotan mereka. Pengalaman itu membekas kuat dalam jiwa kita.
Ketika hari ini ada yang menyinggung soal memukul anak berkaitan dengan shalat, maka yang otomatis terbayang dalam benak kita adalah pukulan-pukulan yang dulu pernah kita terima, atau yang pernah kita lihat. Secara tidak kita sadari, pengalaman masa lalu itu mengendap menjadi referensi. Maka, ketika kita merasa perlu memukul anak, kita melakukan sebagaimana orang tua kita dulu melakukannya.
Sebaliknya, sebagian kita merasakan masa lalu sebagai trauma. Kita campakkan segala hal yang berkaitan dengan masa lalu, kemudian kita ambil kutub yang berseberangan. Kita buang total segala sesuatu yang kita pandang sebagai kekerasan. Kita bebaskan anak sejak dini untuk memilih apa yang mereka inginkan.
Begitu mendengar ada yang membolehkan memukul anak ketika meninggalkan shalat, maka yang langsung muncul adalah antipati. Meskipun perintah memukul itu datangnya dari Nabi. Muncul penolakan dalam hati, karena praktik itu dianggap bertentangan dengan teori parenting hari ini.
Penting kita pahami, bahwa bicara pendidikan bukan hanya bicara canggihnya kurikulum dan treatment atau perlakuan. Akan tetapi, ada sisi keberkahan yang mesti kita perhatikan. Keberkahan ada pada mengikuti petunjuk Allah dan apa yang Rasulullah tuntunkan.
Apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya pasti mengandung hikmah (keutamaan) dan wasathiyah (proporsional dan pertengahan). Jika kita dapati ada hal dalam syariat yang terasa mengganjal, bisa jadi itu muncul karena kita menimbangnya berdasarkan perasaan, atau berdasarkan pengalaman melihat praktik orang yang serampangan.
Maka, penting bagi kita senantiasa menjaga kesadaran ketika akan melakukan suatu tindakan. Apalagi, dalam urusan pendidikan. Ilmu harus dikedepankan. Bukan perasaan.
Al-Ihtifal Bi-Ahkam wa Adab Al-Athfal, Syaikh 'Adil bin Abdillah Ali Hamdan Al-Ghamidi, Maktabah Dar Al-Hijaz, cet. ke-2, hal. 81-93