alumni MAN 2 Amuntai

alumni MAN 2 Amuntai ..╔╦╦╦═╦╗╔═╦═╦══╦═╗....║║║║╩╣╚╣═╣║║║║?

Waktu Indonesia baru merdeka, guru dianggap pengisi kemerdekaan, orang yang menyalakan pikiran anak bangsa. Tapi lama-la...
29/07/2026

Waktu Indonesia baru merdeka, guru dianggap pengisi kemerdekaan, orang yang menyalakan pikiran anak bangsa.

Tapi lama-lama arahnya berubah. Sekolah tumbuh di mana-mana, tapi mutu pengajarnya belum matang, dan yang diwariskan justru pola zaman kolonial, mencetak pegawai, bukan manusia yang berpikir bebas.
Gus Dur bahkan pernah menulis pengantar untuk buku Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan karya Paulo Freire.

Dua-duanya sepakat, pendidikan sejati itu bukan sekadar transfer pengetahuan dari guru ke murid, tapi jalan membebaskan manusia dari kebodohan, dari rasa takut, dan dari kepatuhan buta pada sistem.
Sayangnya sekolah kita hari ini lebih sibuk mengejar angka rapor, ranking kelas, dan nilai ujian. Anak-anak dipaksa menghafal, bukan diajak berpikir.

Empati, welas asih, dan keberanian bertanya malah jadi hal langka, kalah penting dibanding siapa yang paling tinggi nilai matematikanya.
Bagi Gus Dur, pendidikan harus berangkat dari kemanusiaan, dari keyakinan bahwa setiap manusia punya martabat yang sama di hadapan Tuhan.

Bukan sekadar alat pembangunan negara atau pemenuhan target industri. Kalau pendidikan lupa soal ini, yang lahir hanyalah generasi pintar tapi kosong nuraninya.
Makanya jangan heran kalau makin banyak orang bergelar, makin banyak juga yang berlomba kejar jabatan dan uang, bukan kejar kebermanfaatan.

Sekolah mengajarkan mereka cara menang, bukan cara peduli. Ijazah jadi tiket status sosial, bukan bukti kedewasaan berpikir dan kepekaan pada sesama.
Gus Dur mengingatkan, pendidikan yang benar itu membebaskan, bukan memenjarakan pikiran dalam angka dan gengsi gelar.

Pertanyaannya buat kita semua, sekolah yang kita jalani selama ini sedang membentuk manusia yang lebih peduli, atau cuma mencetak pegawai dengan ijazah mentereng?

Mengapa Fitnah Lebih Cepat Dipercaya daripada KlarifikasiKamu pasti pernah lihat ini: satu tuduhan buruk meledak di meds...
19/07/2026

Mengapa Fitnah Lebih Cepat Dipercaya daripada Klarifikasi

Kamu pasti pernah lihat ini: satu tuduhan buruk meledak di medsos, dalam hitungan jam sudah jadi bahan omongan semua orang. Sementara klarifikasi dari yang dituduh? Baru dibaca orang setelah berhari-hari, itu pun kalau sempat.

Ini bukan cuma soal algoritma. Ini soal cara otak kita bekerja. Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menjelaskan kenapa hal ini hampir selalu terjadi. Otak manusia memang lebih s**a yang cepat dan dramatis daripada yang benar.

Otak Kita Punya Dua Mode
Ada System 1: cepat, otomatis, penuh perasaan. Begitu dengar kabar jelek, langsung naik darah, marah, jijik, atau takut. Tidak perlu mikir panjang.

Ada System 2: lambat, teliti, butuh usaha keras. Ini yang dipakai kalau kita benar-benar mau cek fakta, baca panjang lebar, dan menahan diri untuk tidak langsung judge.

Fitnah adalah “makanan” kes**aan System 1. Narasinya simpel, emosinya kencang, dan biasanya mengonfirmasi prasangka kita yang sudah ada.

Klarifikasi? Sebaliknya. Harus baca detail, mikir konteks, dan mengakui “eh, ternyata aku salah sangka”. Itu melelahkan. Makanya kalah cepat.

Yang Mudah Dicerna Terasa Lebih Benar

Otak kita s**a yang gampang dan familiar. Semakin sering mendengar sesuatu, semakin kita merasa “ini pasti benar”. Ini namanya illusion of truth.

Fitnah biasanya pendek, tajam, dan bikin orang langsung share. Setiap kali disebar ulang, semakin terasa nyata. Klarifikasi biasanya panjang, hati-hati, dan datang belakangan. Orang sudah capek, sudah terlanjur percaya, dan nada defensifnya malah terdengar kurang meyakinkan.

Yang Kelihatan Dulu, Itu yang Dianggap Benar

Kahneman punya istilah tajam: WYSIATI: What You See Is All There Is. Apa yang kelihatan duluan, itu yang dianggap “seluruh cerita”.

Fitnah datang duluan, bombastis, dan memenuhi pikiran orang. Klarifikasi yang datang kemudian bukan cuma harus menjelaskan, tapi harus membongkar tembok narasi yang sudah terbangun di kepala banyak orang. Berat. Sakit. Dan sering sia-sia.

Kita Lebih Takut Rugi daripada Senang Untung

Manusia punya sifat ini: lebih sensitif terhadap ancaman dan kerugian. Mendengar kabar buruk tentang seseorang terasa seperti “bahaya, aku harus waspada”. Ikut menyebarkannya terasa seperti tindakan bijak. “Daripada nanti kena dampaknya.”

Klarifikasi tidak punya rasa urgensi seperti itu. Tidak ada “risiko” yang harus dihindari. Jadi orang males menyebarkannya.

Lalu Kita Bisa Apa?

Kita tidak bisa mematikan System 1.

Tapi kita bisa lebih sadar.
Sebelum share tuduhan yang bikin darah naik, tanya diri sendiri: “Apa aku sudah benar-benar tahu kebenarannya? Atau cuma ikut-ikutan emosi?”

Bagi yang difitnah, klarifikasi tidak cukup hanya dengan fakta kering. Harus dibuat sederhana, berulang, dan menyentuh hati.

Orang perlu merasakan kejujuran dan kepedihanmu, bukan cuma baca daftar bukti.

Nah, yang sering terjadi: musuhmu tak membutuhkan klarifikasi darimu. Soalnya apapun yang kamu coba luruskan, para haters tetap tidak akan percaya. Sementara itu, kawanmu juga tidak membutuhkan klarifikasi. Kawan yang baik akan mempercayai cerita versi dirimu tanpa kamu susah-payah mencoba menjelaskannya.

Pada akhirnya, ini bukan pertarungan antara kebohongan dan kebenaran semata. Ini pertarungan antara emosi yang cepat dan akal sehat yang lambat.

Untuk Kamu Korban Fitnah

Usah sedih dan merasa sendirian. Bahkan Siti Aisyah, isteri Nabi-pun, pernah mengalami terkena fitnah keji sampai al-Qur’an mengabadikan kisahnya (Surah An-Nur ayat 11 sampai 20).

Nabi Muhammad pun difitnah oleh kaum munafik seolah manusia pilihan utusan Allah ini berlaku curang dan tidak adil (lihat Surat Ali 'Imran ayat 161 dan Surat At-Taubah ayat 58). Nah, apalagi “cuma” sekelas kita kan…

Untuk Kamu yang Memfitnah Orang Lain

Apapun motivasi kamu melakukan fitnah, entah karena motif politik, kepentingan ekonomi, gara-gara iri dan dengki, atau karena benci atau karena akibat ditolak asmara,
ingatlah akan Surah An-Nur ayat 19:

“Sesungguhnya orang-orang yang s**a (senang, rida) agar perbuatan keji itu tersebar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ayat ini menegaskan bahwa berniat, senang, atau rida melihat aib dan fitnah tersebar luas, meskipun orang tersebut tidak ikut memproduksi fitnahnya, sudah cukup untuk mengundang murka Allah. Terlebih lagi jika orang tersebut ikut menyebarkan, membagikan, atau memviralkan berita bohong tersebut.

Islam sangat keras melarang memfitnah. Baik sekadar senang melihat fitnah itu tersebar, mencari-cari aib, menggunjing, apalagi menyebarkan tuduhan bohong. Semuanya bisa masuk kategori dosa yang mendatangkan azab di dunia dan akhirat.

Penutup

Memahami masalah ini bukan membuat kita sinis. Justru sebaliknya: membuat kita lebih rendah hati, lebih hati-hati, dan lebih berempati. Karena di balik setiap fitnah yang viral, ada hati yang hancur. Dan di balik setiap klarifikasi yang terlambat, ada orang yang berusaha bangkit dari luka.

Ada yang akan masuk surga lewat jalur korban fitnah. Ada p**a yang akan masuk neraka gara-gara menjadi pelaku fitnah atau turut menyebarkannya.

Mari kita jadi bagian yang tidak ikut-ikutan mempercepat dan menambah luka orang lain. Dan semoga fitnah semacam itu tidak pernah terjadi pada kita dan orang-orang yang kita sayangi. Amin Ya Rabb

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar, menyatakan pelaku korupsi layak dijatuhi hukuman mati karena dinilai merampas hak mas...
11/07/2026

Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar, menyatakan pelaku korupsi layak dijatuhi hukuman mati karena dinilai merampas hak masyarakat dan menyebabkan dampak luas terhadap kesejahteraan rakyat.

Menurutnya, isu hak asasi manusia tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari hukuman berat bagi koruptor.

Pernyataan tersebut memicu kembali perdebatan publik mengenai efektivitas hukuman mati dalam pemberantasan korupsi dan penerapannya sesuai prinsip hukum serta HAM.

[Pojok Bekasi]

11/07/2026

Setan vs Setan

Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yg menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yg g...
18/05/2026

Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yg menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yg gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.

Dan dia ngomongnya bukan sebagai pembela Nadiem.

Dia ngomong sebagai orang yg paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.

Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:

Ahok bilang dengan sangat tegas: pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yg sangat masuk akal secara logika.

Chromebook itu bukan laptop biasa. Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.

Harganya jauh lebih terjangkau dari laptop konvensional. Dan yg paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video p***o, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.

Ahok kasih contoh nyata.

Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.

Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yg terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.

Itu bukan mimpi.

Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.

"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.

Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."

Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:

"Saya pikir ini sengaja."

Logikanya sederhana dan sangat keras.

Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.

Lebih sulit dibohongi.

Lebih sulit dimanip**asi menjelang pemilu.

Sistem yg membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yg menguntungkan mereka yang berkuasa.

Karena rakyat yg bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yg terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.

MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yg sama. Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yg habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.

"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,

kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yg bisa komunikasi ke mana-mana?"

Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:

Ahok tidak berhenti di situ.

Dia lanjutkan dengan sesuatu yg sangat pedas.

Pemerintah melakukan survei.

Rakyat bilang mereka s**a makanan gratis.

Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.

Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.

Tapi Ahok membaliknya: kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yg tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yg jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yg ada di depan mata.

Itu bukan preferensi yg genuine.

Itu keterbatasan informasi yg dimanfaatkan sebagai justifikasi.

"Mereka juga pintar. Dia survei, Pak. Rakyat s**a makanan itu jadi legitimasi."

Dan soal Nadiem yg sekarang dituntut 27 tahun:

Ahok tidak membela Nadiem secara personal.

Tapi dia bilang satu hal yg sangat logis dan sangat sulit dibantah:

Menteri itu tidak pernah menyentuh anggaran secara langsung.

Menteri membuat kebijakan.

Yg mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.

Kalau ada yg salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah: apakah menteri yg memerintahkan secara eksplisit? Apakah ada aliran dana yg bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?

PPATK sudah menjawab: tidak ada. Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.

"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.

Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."

Ahok tidak sedang bicara soal Chromebook sebagai produk. Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:

apakah kita mau membangun rakyat yg pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?

MBG memberikan makan hari ini. Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup. Dan ketika kebijakan yg lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yg lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.

Itu adalah pilihan yg sangat disengaja oleh mereka yg paling diuntungkan dari rakyat yg tetap tidak berdaya.
*Cp*

DILEMA CHROMEBOOK DAN ALARM DIASPORASaya terdiam lama. Melihat angka itu. Angka yang tidak main-main. Delapan belas tahu...
16/05/2026

DILEMA CHROMEBOOK DAN ALARM DIASPORA

Saya terdiam lama. Melihat angka itu. Angka yang tidak main-main. Delapan belas tahun. Itulah tuntutan jaksa untuk Nadiem Anwar Makarim. Mantan Mendikbudristek yang dulu kita elu-elukan sebagai simbol pembaruan. Sebagai "anak ajaib" yang p**ang dari Harvard untuk membenahi pendidikan kita yang karatan.

Tuntutan itu dibacakan di Pengadilan Tipikor Jakarta, 13 Mei 2026. Bukan hanya penjara. Ada dendanya: Rp 1 miliar. Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah uang penggantinya: Rp 5,6 triliun.

Anda tahu berapa kekayaan Nadiem? Dia memang kaya. Sangat kaya untuk ukuran rata-rata kita. Tapi angka Rp 5,6 triliun itu jauh melampaui seluruh hartanya. Bahkan jika semua sahamnya di perusahaan teknologi itu dijual hari ini, mungkin belum tentu menutup angka itu.

Logika hukum macam apa yang dipakai?

Nadiem dituduh korupsi pengadaan laptop Chromebook periode 2019–2022. Kerugian negara disebut Rp 2,18 triliun. Tapi tuntutan uang penggantinya lebih dari dua kali lipat kerugian negara. Ini hukum atau sedang main tebak-tebakan angka?

Saya mencoba menyelami apa yang dirasakan Nadiem saat duduk di kursi pesakitan itu. Pasti sesak. Mungkin dia ingat saat-saat awal diminta p**ang ke Indonesia.

Saat diminta meninggalkan kenyamanan sebagai CEO perusahaan decacorn pertama Indonesia. Dia datang membawa mimpi "Merdeka Belajar". Tapi yang dia temukan di akhir perjalanan adalah "Penjara".

Masalah Chromebook ini memang pelik. Sejak awal, pengadaan laptop ini sudah riuh. Banyak yang mengkritik: kenapa harus Chromebook? Kenapa bukan laptop Windows biasa? Kenapa spesifikasinya begini dan begitu?

Jaksa mendakwa ada pengaturan spesifikasi tender. Ada ketidaksesuaian kebutuhan di daerah. Intinya: barangnya dianggap kemahalan atau tidak berguna.

Tapi Nadiem punya pembelaan yang masuk akal. Dia bilang program ini justru menghemat anggaran. Skala ekonominya besar. Pengadaannya massal. Kalau beli eceran, harganya bisa jauh lebih mahal. Tim hukumnya pun berteriak: perhitungan kerugian negara itu asumtif! Hanya berdasarkan dugaan-dugaan, bukan fakta riil di lapangan.

Di sinilah letak perdebatan besarnya: Apakah ini korupsi karena ada uang yang masuk ke kantong pribadi, atau ini 'kesalahan kebijakan' yang dipidanakan?

Dalam dunia birokrasi kita, batas antara keduanya tipis sekali. Setipis kulit bawang. Kalau Anda membuat kebijakan baru yang mendobrak, lalu kebijakan itu gagal atau dianggap merugikan, Anda bisa dengan mudah ditarik ke ranah korupsi. Apalagi kalau ada "pesanan".

Goenawan Mohamad menyebut situasi ini sebagai "The banality of evil". Semacam peringatan bahwa kejahatan terbesar lahir dari manusia-manusia biasa yang menolak untuk menggunakan nurani dan kemampuan berpikirnya.

Jaksa menyusun tuntutan dengan enteng, seolah-olah menghukum orang belasan tahun itu seperti membalik telapak tangan.

Publik terbelah. Ada yang senang. "Rasakan itu pejabat sombong," kata sebagian orang yang mungkin tidak s**a dengan kebijakan Merdeka Belajar yang bikin pusing guru. Tapi banyak juga yang ngeri. Terutama mereka yang masih punya idealisme.

Kita harus jujur melihat Nadiem. Dia punya banyak kekurangan? Pasti. Banyak kebijakannya yang kontroversial? Iya. Tapi apakah dia seorang pencuri? Apakah dia tipe orang yang akan mempertaruhkan reputasi globalnya demi "recehan" dari proyek laptop?

Bagi orang sekaya Nadiem dan bukan politisi murni, motivasi korupsi uang biasanya rendah. Motivasi mereka biasanya adalah legacy. Nama baik. Kebanggaan bisa mengubah bangsa. Kalaupun ada kebocoran di bawah, apakah sang Menteri harus menanggung semuanya dengan hukuman 18 tahun?

Inilah yang saya sebut sebagai "Alarm untuk Generasi Masa Depan".

Dulu, kita sibuk membujuk-bujuk diaspora Indonesia untuk p**ang. "Ayo p**ang, bangun negeri!" Kita bilang Indonesia butuh otak encer mereka. Kita butuh cara kerja Silicon Valley di birokrasi kita yang lamban.

Nadiem adalah contoh paling nyata dari diaspora yang p**ang itu. Dia sukses besar di swasta, lalu masuk ke pemerintahan. Hasilnya? Hari ini dia dituntut penjara yang lamanya hampir dua dekade.

Bayangkan Anda adalah ilmuwan muda di Jerman. Atau arsitek hebat di Jepang. Atau ahli AI di Amerika. Begitu melihat berita Nadiem dituntut 18 tahun penjara karena urusan administrasi pengadaan barang, apakah Anda masih berniat p**ang?

Mungkin Anda akan berpikir seribu kali. "Lebih baik saya jadi warga kelas dua di negeri orang daripada jadi pesakitan di negeri sendiri."

Ini adalah kerugian yang jauh lebih besar daripada angka Rp 2,18 triliun itu. Ini adalah kerugian berupa "hilangnya kepercayaan". Dan kepercayaan itu harganya tak terhingga.

Saya melihat ada pola yang berbahaya di negeri ini. Orang-orang pintar yang mencoba melakukan terobosan seringkali berakhir di penjara. Sistem hukum kita seolah-olah dirancang untuk menjaga status quo. Siapa yang berani lari kencang, dia akan dijegal.

Kalau Anda tidak melakukan apa-apa, Anda aman. Biarpun pendidikan kita jalan di tempat, Anda tetap selamat. Tapi kalau Anda mencoba mengganti sistem lama dengan teknologi baru, bersiaplah menghadapi audit yang mencari-cari kesalahan hingga ke titik koma.

Tuntutan 18 tahun itu, bagi saya, terlalu berlebihan. Itu hukuman untuk bandar narkoba kelas berat atau pembunuh berencana. Kalau untuk menteri yang (diduga) salah mengurus proyek, angka itu terasa seperti dendam politik, bukan penegakan hukum.

Apalagi soal uang pengganti Rp 5,6 triliun. Itu angka ajaib. Dari mana hitungannya? Jika kerugian negara Rp 2,18 triliun, kenapa tuntutannya dua kali lipat lebih? Apakah jaksa ingin membuat Nadiem miskin tujuh turunan? Atau ingin memastikan dia tetap mendapat penjara tambahan 9 tahun karena tidak mungkin sanggup bayar?

Ini bukan lagi soal hukum. Ini soal rasa keadilan.
Saya mencoba berpikir jernih. Kita boleh tidak s**a dengan Nadiem. Kita boleh mengkritik kurikulumnya yang berubah-ubah. Tapi jangan biarkan ketidaks**aan itu membuat kita buta terhadap ketidakadilan hukum.

Jika Nadiem terbukti menerima suap, silakan dihukum. Tapi jika ini soal "pengaturan spesifikasi" yang merupakan ranah administratif dan kebijakan, maka hukuman 18 tahun adalah lonceng kematian bagi inovasi di pemerintahan.

Negara ini tidak akan pernah maju kalau setiap pejabat takut mengambil keputusan. Pejabat akan menjadi robot-robot administrasi yang hanya cari aman. Yang penting berkas lengkap, biarpun rakyat tidak dapat apa-apa.

Nadiem sudah memberikan contoh. Dia berani mencoba. Dia membawa gaya baru. Sayangnya, dia masuk ke hutan belantara birokrasi tanpa membawa senjata yang cukup kuat untuk melawan para "bedebah" yang sudah lama bersarang di sana.

Mungkin Nadiem terlalu naif. Dia pikir mengurus negara itu semudah mengurus aplikasi ojek online. Dia lupa bahwa di pemerintahan, musuh Anda bukan hanya kompetitor bisnis, tapi juga mereka yang terusik kepentingannya oleh transparansi digital.

Sekarang, bola ada di tangan hakim. Kita berharap hakim masih punya hati nurani. Masih punya akal sehat. Jangan sampai vonis nanti hanya berdasarkan "pesanan" atau tekanan opini publik yang diprovokasi.

Jika Nadiem benar-benar divonis seberat itu, kita harus bersiap mengucapkan selamat tinggal pada gelombang kep**angan diaspora.

Kita telah mengirim pesan yang sangat jelas ke seluruh dunia: "Jangan p**ang ke Indonesia, karena penjara sudah menunggu Anda."

Hukum harus ditegakkan, benar. Tapi hukum tanpa keadilan adalah kezaliman. Dan kezaliman yang dilegalkan adalah bencana bagi sebuah bangsa yang sedang bermimpi menjadi negara maju.

Tetaplah teguh, Mas Nadiem.

Saya tetap berpihak pada akal sehat. Saya berpihak pada mereka yang berani mendobrak, meski akhirnya harus babak belur. Karena bangsa ini butuh lebih banyak pendobrak, bukan sekadar penonton yang pandai menghujat.

Mari kita tunggu, apakah hukum di Indonesia masih punya nyawa, atau sudah menjadi mayat yang digerakkan oleh tali-tali kepentingan.

Negara para bedebah? Semoga tidak. Kita masih ingin mencintai negeri ini, meskipun rasanya makin lama makin perih.

(Adib Adiba)

MENGAPA NADIEM HARUS di-KPK-kanNamaku Kandilo’.Guru biasa.Mengajar di sekolah kecil di pelosok Toraja. Sekolah yang kala...
14/05/2026

MENGAPA NADIEM HARUS di-KPK-kan

Namaku Kandilo’.
Guru biasa.
Mengajar di sekolah kecil di pelosok Toraja. Sekolah yang kalau hujan deras, suara seng atap lebih nyaring daripada suara guru di kelas. Kadang listrik mati. Kadang sinyal hilang. Kadang kapur tulis habis sebelum bulan berganti.

Saya sudah lama jadi guru. Sudah melihat banyak menteri pendidikan datang dan pergi. Ganti kurikulum. Ganti istilah. Ganti slogan. Tapi di sekolah kami, sering kali yang berubah hanya spanduk di dinding kantor.

Dulu kami di kampung terbiasa pasrah. Dana sekolah datang entah kapan. Barang datang entah dari mana. Kadang jumlahnya tidak sesuai cerita di atas. Kepala sekolah bingung. Guru bingung. Orang tua murid lebih bingung lagi. Tapi semua dianggap biasa. “Memang begitu dari dulu.”

Lalu datang era Nadiem Makarim. Awalnya saya juga ragu. Anak muda kota. Bekas pengusaha. Apa dia tahu susahnya sekolah di gunung? Apa dia pernah lihat murid jalan kaki satu jam hanya untuk belajar?

Ternyata ada yang berubah pelan-pelan.
Bukan gedung mewah.
Bukan pidato besar.
Tapi sistem mulai terbuka.

Kami mulai bisa melihat data. Dana BOS mulai lebih jelas. Penggunaan anggaran lebih ketat. Banyak hal mulai masuk aplikasi. Awalnya kami para guru tua mengeluh. Ribet. Susah. Belajar lagi. Tapi lama-lama kami sadar: justru karena semuanya tercatat, orang mulai sulit bermain-main.

Dulu kalau ada barang datang ke sekolah, kami hanya tanda tangan. Tidak tahu harga sebenarnya. Tidak tahu prosesnya bagaimana. Sekarang semuanya punya jejak. Ada laporan. Ada pengawasan. Ada transparansi. Pelan-pelan budaya takut mulai pindah. Bukan guru yang takut. Tapi mereka yang selama ini nyaman di ruang gelap.

Saya ingat pertama kali sekolah kami dapat perangkat digital. Anak-anak kampung senangnya bukan main. Mereka pegang laptop seperti memegang jendela ke dunia lain. Ada muridku yang pertama kali melihat peta dunia bergerak di layar. Matanya berbinar. Saya masih ingat itu.

Memang tidak semua berjalan mulus. Internet kami sering hilang. Guru-guru banyak yang belum siap. Tapi setidaknya ada usaha bergerak maju. Ada rasa bahwa sekolah kampung juga diperhatikan. Bahwa anak-anak desa juga punya hak mengenal dunia digital.

Sayangnya, perubahan selalu punya musuh.
Semakin sistem terbuka, semakin banyak orang gelisah.

Saya ini cuma guru kampung. Tapi saya tahu satu hal: orang yang hidup dari sistem yang kacau pasti tidak s**a kalau semuanya jadi transparan. Sebab kalau semua terang, permainan jadi sulit.

Makanya saya sedih melihat Nadiem Makarim seperti diburu habis-habisan. Seolah-olah semua yang ia lakukan salah. Padahal kami di bawah ini merasakan sendiri ada sesuatu yang mulai berubah. Tidak sempurna, iya. Tapi bergerak.

Yang paling saya takutkan bukan soal satu orang menteri jatuh. Yang saya takutkan: orang-orang baik setelah ini jadi takut masuk memperbaiki pendidikan. Takut dicurigai. Takut dikriminalisasi. Takut dilawan oleh mereka yang terganggu kenyamanannya.

Dan kami di kampung akhirnya kembali begini lagi.
Menunggu spanduk baru.
Menunggu slogan baru.

Tapi aku, si Kandilo' akan komitmen pada satu hal,
bahwa korupsi yang paling berbahaya adalah mencuri masa depan anak-anak.

Salam pembebasan

Kandilo'

17/12/2025
  Jangan jangan ini anak buhan Pian Amuntai (MAN 2 HSU) - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MAN 2 HSU dalam ...
17/12/2025



Jangan jangan ini anak buhan Pian

Amuntai (MAN 2 HSU) - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MAN 2 HSU dalam ajang Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80. Tim Syarhil Qur’an putra dan putri MAN 2 HSU berhasil meraih Juara 2, sekaligus mengharumkan nama madrasah. Selasa (16/12/2025).

Tim Syarhil Qur’an Putra diperkuat oleh Teguh Iman Noor Ariffin kelas X-J sebagai pensyarah, Abrar Hafizy kelas XI-D sebagai pembaca tilawah, serta Muhammad Lutfhi kelas XI-D sebagai penyaji sari tilawah. Dengan kekompakan dan penguasaan materi yang baik, tim putra mampu menampilkan syarahan yang sarat pesan keislaman dan nilai-nilai Al-Qur’an.

Sementara itu, Tim Syarhil Qur’an Putri juga menunjukkan performa yang tidak kalah gemilang. Tim ini terdiri dari Nor Annisa kelas XI-F sebagai pensyarah, Malika Sheba Jameela kelas X-E sebagai pembaca tilawah, dan Wafa Azizah kelas X-G sebagai penyaji sari tilawah. Penampilan mereka dinilai mampu menyampaikan pesan Al-Qur’an secara komunikatif, harmonis, dan menyentuh.

Keberhasilan kedua tim ini menjadi bukti nyata bahwa MAN 2 HSU tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga konsisten mencetak prestasi di bidang keagamaan. Capaian Juara 2 yang diraih oleh tim putra dan putri Syarhil Qur’an di HAB Kemenag ke-80 ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus mengembangkan potensi dan bakatnya.

Plt. Kepala MAN 2 HSU, Irwan menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas capaian tersebut. “Alhamdulillah, prestasi ini sangat membanggakan. Juara 2 yang diraih tim Syarhil Qur’an putra dan putri menjadi bukti bahwa pembinaan keagamaan di MAN 2 HSU berjalan dengan baik. Semoga menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus berprestasi dan mencintai Al-Qur’an." Kata Irwan.

Sementara itu, salah satu perwakilan juara dari tim Syarhil Qur’an putri, Nor Annisa, mengungkapkan rasa syukur atas hasil yang diraih. “Kami sangat bersyukur atas capaian ini. Terima kasih atas dukungan guru dan madrasah. Semoga ke depan kami bisa tampil lebih baik dan meraih prestasi yang lebih tinggi." Kata Annisa.

Prestasi ini sekaligus mempertegas komitmen MAN 2 HSU dalam menumbuhkan generasi Qur’ani yang berprestasi, berakhlak mulia,...

BIOGRAFI AL 'ALIM ALFAADHIL ABUYA KH,M,SYUKRI UNUS ANTASAN SENOR MARTAPURABeliau ulama yang memiliki ribuan murid/ Jama'...
10/12/2025

BIOGRAFI AL 'ALIM ALFAADHIL ABUYA KH,M,SYUKRI UNUS ANTASAN SENOR MARTAPURA

Beliau ulama yang memiliki ribuan murid/ Jama'ah. Ilmu tata bahasa (nahwu)yang dimilikinya menjadikan tuan guru majelis taklim di bawah jembatan Antasan Senor ini sebagai seorang penulis manaqib,khususnya tokoh Tasawuf terkenal.beliau juga banyak .mengijazahkan sanad sanad kitab mu'tabarah

BISINGNYA deru kendaraan di j alan raya yang menghubungkan Martapura dan Hulu Sungai tidak mempengaruhi minat jamaah hadir ke pengajian Sabilal Anwar yang terletak di samping kiri Jembatan Antasan Senor. Dari majelis itulah lahir beberapa nama ulama yang tersebar di berbagai pelosok. Tapi sosok guru bersahaja dan cerdas itu kini banyak melakukan kegiatan di rumah setelah sempat sakit. Beliau juga dipandang sebagai ahli tata bahasa (Gramatika Nahwu) yang banyak menyusun berbagai kitab.

K.H. M. Syukeri di lahirkan pada hari Senin tanggal 05 Oktober 1948 M bertepatan dengan 1 Zulhijjah 1367 H di desa Harus, Sungai Malang, Amuntai Tengah (HSU) dari seorang Bapak yang bernama Unus Bin Ali Bin Abd Rasyid dan ibu yang bernama Hj. Mascinta Bin Sa'ad Bin Abd Rasyid.Beliau di lahirkan di kalangan keluarga yang taat beragama, sehingga sejak kecil beliau sudah di didik secara Agamis dan mencintai pada Ilmu Pengetahuan Agama, dan mencintai Ulama. Karena kecintaan orang tuanya ( Unus ) kepada ulama maka KH.M Syukeri Unus selalu di bawa oleh bapaknya untuk berkenalan dan silaturrahmi dengan ulama sehingga pada suatu ketika ada diantara ulama yang mengatakan kepada orang tuanya, anak ini kelak akan menjadi orang yang bermanfaal dan babarakat di kemudian hari berkat kecintaan orang tuanya kepada ulama, dan do'a ibunya yang mendambakan anaknya menjadi ulama dan anak yang shaleh serta berguna bagi Agama Bangsa dan Negara.

Akhirnya anak yang tercinta ini pun lahir sebagai ulama seperti yang di kenal saat ini. Berlakulah Sabda Nabi SAW : yang Artinya: "Seseorang atas siapa yang ia cintai " siapa yang mencintai ulama pastilah anaknya atau cucunya kelak di jadikan ALLAH SWT menjadi ulama.Ulama sederhana ini menghabiskan masa kecilnya di Amuntai di bawah bimbingan orang tuanya Unus dan Mascinta. Beliau bersekolah di SD (1954 1960) dan SMP (1960 1963). Sejak kecil ia belajar membaca Al-Qur'an kepada Pamannya sendiri yaitu M. Qadri bin Ali bin Abdurrasyid. Ia juga belajar Ilmu Tauhid kepada Tuan Guru H.M. Mansyur, serta selalu membaca kitab-kitab Agama Islam secara otodidak dengan langsung menghapalkannya.

Wafatnya sang ayah Unus merupakan pengalaman spiritual yang tak terlupakan bagi beliau. Dan setelah itu tahun 1963 M beliau memutuskan untuk merantau ke Kota Intan Martapura guna mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Darussalam." Saya memutuskan mendalami ilmu Agama setelah ayah saya meninggal " Cerita Guru Syukri.Sebagai pemuda beliau tergolong cerdas dibuktikan dengan selalu Juara satu dikelas sejak SD, SMP, hingga beliau meneruskan sekolah di Pondok Pesantren Darussalam.

Ketika ia masih tinggal di Amuntai yaitu dari tahun 1958 – 1963 ia banyak menghadiri Majelis ta'lim yang diasuh oleh beberapa ulama terkenal disana diantaranya, KH. Abdul Hamid ( Guru Tuha Haji Tarus ), KH.M. Suberi, K. Umar Baki, KH. Abd. Muthalib, KH. Mansur, KH. Asy'ari, KH. Hasan, KH. Abdul Wahab Sya'rani, KH. M. Imberan ( B**g Tomo ).Sebelum ia nyantri di Pondok Pesantren Darussalam ia belajar dengan temannya yaitu Saudara Umar Hamdan secara Privat ( Khusus Sendiri ).

Tahun 1963 -1964 ia belajar kepada K.Gusti Imansyah ( Guru Murad ) beliau adalah guru pertamanya sejak nyantri di Pondok Pesantren Darussalam. Tahun 1964 – 1965 ia berguru kepada KH.M. Rofi'I Ahmad, beliau adalah guru yang disiplin dan ahli dalam ilmu Nahwu dan Shoraf. Tahun 1965-1976 ia juga berguru kepada KH.M. Husein Dahlan. Tahun 1966 -1967 ia berguru kepada muhaditsin Kalimantan yakni KH. Anang Sya'rani Arief . tahun 1967 – 1968 ia berguru kepada KH.M. Ramli. Tahun 1967 -1968 ia berguru kepada KH. Husein Qadri. Tahun 1968 -1969 ia berguru kepada KH.Abd. Syukur.

Selain berguru kepada para Ulama yang mengajar dipondok Pesantren Darussalam ia juga selalu menghadiri majelis ta'lim dikampung-kampung.
Tercatat ia juga berguru kepada KH. Abd. Qadir Hasan, KH. M. Zaini Abd. Ghani, KH. Badruddin, KH. Salim Ma'ruf, KH. A. Royani, KH. Nasrun Thahir, KH. Syarwani Abdan.Ia belajar kepada KH.Syarwani Abdan atas restu dan perintah dari KH. M. Zaini Abd. Ghani. Kh.M. Syukri pergi ke kpta Bangil yang pertama kali tahun 1981 bertepatan dengan bulan Ramadhan 1401. kemudian tahun 1984 M atau 1404 pada akhir Sya'ban ia kembali lagi ke kota Bangil untuk mengambil berbagai ijazah berbagai ilmu pengetahuan.KH. M.Syukri adalah seorang yang senang berkunjung kepada para Ulama guna mengambil berkah dan ijazah ilmu, diantaranya ia pernah bersilaturrahmi kepada K. Abdullah Katum ( Wali Katum ) di Tebu Darat Pantai Hambawang Hulu Sungai Tengah, KH. Ahmad Mugeni ( Ayah Negara ) yang berdomisili di Kota Barabai HST, KH. Abd. Rahman di kampung Kopi Barabai, KH. Luqman Kampung Tanta Kelua, KH. M. Ramli Bitin Danau Panggang, KH. Abdul Wahab bin H. Abdurrahaman bin Tuan Lusuk di Anjir Kapuas, KH. Mahfudz Amin Pamangkih, KH. M. Tarmudzi Badruddin Lombok, NTB, KH. Abdullah Faqih Langitan Tuban Jawa Timur, KH. Drs. A. Wahid Zaini SH.

KH.M. Syukri juga mengunjungi dan mengambil Ijazah Sanad Ilmu dan berkah kepada para Masyayikh dan para Habaib, diantaranya Kepada Syikhul Ulama Syeikh Muhammad Hasan Masyath, Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani, Syeikh Ismail Zein Al-Yamani, Syeikh Habib Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Habib Hamid Al-Kaff, Syeikh Zein Baweaan al-Hafiz, Syeikh Abd. Karim Al-Banjari Makkah, Syeikh Habib Salim bin Abdullah Asy-Syatiri, Habib Muhammad bin Ibrahim Al-Ahdal, Makkah, Habib Abu Bakar bin Salim Al-Habsyie ( Basirih ), Habi Ja'far Basirih, Habib Zein bin Muhammad Al-Habsyie ( Martapura ), Habib Husein Al-Hamid ( Berani Kulon ), Habib Anis bin Ali Al-Habsyie ( Solo ), Habib Muhammad Al-Ba'bud ( Lawang Malang ), Habib Umar Al-Athas ( Jakarta ), Habib Abu Bakar bin Hasan Al-Attas, Habib Idrus Al-Habsyie ( Ampel, Surabaya ), Habib Muhammad bin Husein Al-Hamid ( Seiwun Hadramaut ), Habib Ali bin Muhsin Al-Hamid ( Seiwon Hadramau t ), Habib Muhammad bin Salim bin Aqil ( Surabaya ), Habib Ali Bahsyiem ( Air Putih Samarinda ), Habib Husein bib Hasan Alaydrus ( Solo ) , Habib Muhammad Zein Al-Kaff ( Gresik ), Habib Syeikh As-Seggaf ( Surabaya ) dan Habib Abdullah bin Ja'far Al-Jufri ( paiton , Jawa Timur ).

Senin tanggal 10 7 1978 KH.M. Syukeri menikahi Hj Ramlah sepupu dari Tuan Guru KH.M.Zaini Ghani putri dari pasangan H. Asy'ari dan Hj. Siti Zaleha(saudara Kandung Ayah Guri Ijai red). Pernikahan tersebut berlangsung di rumah mertuanya di Gg. Kurnia Pasayangan Martapura dihadiri p**a oleh KH Badruddin dan KH.M. Zaini Ghani. Setelah menikah iapun pindah ke rumah mertuanya.Bersama istrinya ia dikaruniai tiga anak yaitu M. Noor, Habibah, dan Laila Badriyyah, la menghidupi keluarganya dari hasil sewa asrama milik saudaranya dan penjualan kitab kitab karangannya yang banyak dijadikan panduan berbagai pesantren di Kalsel.Dalam bidang Da'wah beliau memilika prinsip yang berpegang pada hadist Rasulullah SAW, yang artinya "Sebaik baik kamu adalah orang yang belajar AI Qur'an dan yang mengajarkannya".Walaupun beliau sekarang bermukim dan mengajar serta membuka majelis Talim di Martapura. Sebagai putra kelahiran Amuntai beliau tak pernah melupakan tanah kelahirannya,

selain banyak akrab dengan ulama di Amuntai beliau juga kerap mengadakan pengajian di Amuntai. Sambutan jama'ah yang ada di Amuntai pun sangat luar biasa kepada beliau.KH.M. Syukri juga adalah seorang Ulama yang selalu berkarya dianatara Karya tulisnya adalah, Is'afut Thalibin ( Nahwu ), Is'aful Haid ( Faraid ), Miftahul Ilmi ( Mantiq ), Is'aful Murid ( Balaghah ), Dalilul Wadihah ( Balaghah ), Dalilul Murid ( Tauhid ), Ta'liqu Isyaratil Maqal ( Saraf ) Dalilut Thalibin ( Ushul Hadist ), Taudihul Masalik ( Nahwu ), Asrarus Saum ( Masalah Puasa ), Risalah Rahasia Haji dan umrah , Irsyadul Aulad ( Akhlaq ).Ia juga menulis buku-buku Manaqib diantaranya, Manaqib Syyidatina Khadijah, Nubzah Karamat Siti Khadijah, Terjemah Imam Syafi'I, Nubzah Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, Manaqib Imam Rabbani Sayyid Ahmad Al-Badawi, Manaqib Imam Rabbani Sayyid Ahmad Rifai'I, Manaqib Imam Abul Hasan Asy-Syadzili, Manaqib Ahmad bin Idris Al-Idrisi, Manaqib Imam Rabbani Syeikh Ibrahim ad-Dasuqi,Terjemah syeikh Muhammad bin Said Al-busyari, Terjemah Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli Dan lain sebagainya.

Keberhasilan seorang Ulama bukan saja di pandang dari sudut ilmu pengetahuan yang dimilikinya, akan tetapi juga sangat ditentukan p**a pada kemampuan Ulam itu sendiri untuk melahirkan figure generasi pengganti dikemudian hari.Diantara para kader yang sempat menimba ilmu kepadanya yang sekarang ini telah menjadi ulama besar dan mempunyai pondok pesantren dan Majelis ta'lim yang tersebar diman-mana adalah :, KH. Ahmad Bakri ( Gambut ), KH. Hafidz Anshari ( Banjarmasin ), KH. Ahmad Fahmi Zam-zam ( Kedah , Malaysia ), KH. Suriani. Lc. ( Amuntai ), KH. Ibrahim Aini ( Rantau ), Alm. KH. M. Sya'rani Zuhri (Jakarta ),KH. Bahran Jamil ( Barabai ), KH.M. bakhit ( Barabai ), KH. M. Sya'rani ( Samarinda ), dan lain-lain.Dalam bidang Pendidikan Agama KH.M. Syukri Unus banyak menekuni ilmu alat atau ilmu tata bahasa ( Nahwu / Gramatika ) yang menurutnya sangat berguna untuk mempelajari kitab cabang pelajaran lain.Demikianlah sekelumit Propil dari KH. M. Syukri Unus yang kami sadur dari buku " Biografi Singkat KH.M. Syukri Unus yang disusun oleh Ustadz Gusti Wardiansyah "
(Abu Najla A.Muslim Safwan )
ditulis ulang oleh Y,uliansyah Riffai

Semoga kita dikumpulkan bersama beliau serta orang orang saleh lainnya
,Aamiin

Al Fatihah

Address

Jalan Batung Batulis/Sukmaraga No. 244
Amuntai
71418

Opening Hours

Monday 07:15 - 14:00
Tuesday 07:30 - 14:00
Wednesday 07:30 - 14:00
Thursday 07:30 - 14:00
Friday 07:30 - 10:30
Saturday 07:30 - 12:30

Telephone

052761400

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when alumni MAN 2 Amuntai posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category