03/02/2024
Awal Kedatangan Mbah Syaiban
Berpuluh tahun jauh sebelum Mbah Syaiban mukim di Wonorojo. Seorang perempuan yang arif, zuhud, dan wira'i terkenal dengan sapaan 'Mbah Wali Martinah' yang mempunyai nama asli 'Buthuk Marjan' (Desa Sigedong, Tretep, Temanggung, Jawa Tengah) telah meramalkan akan kedatangan sosok Mbah Syaiban. Beliau mengatakan, "Mbesok rondo Wonorojo nduweni anak wadon loro, anak wadon lorone arep dinikahi Waline Gusti Allah. (Nanti seorang janda di Wonorojo yang mempunyai dua anak perempuan, kedua putrinya akan dinikahi oleh seorang Waliyulloh).".
Meski Mbah Wali Martinah tidak menyebutkan nama 'Mbah Syaiban', tetapi tanda-tanda dari ramalan tersebut tertuju pada Mbah Syaiban dan ramalan berpuluh tahun tadi nyata terbukti. Janda Wonorojo beranak dua itu adalah Ibu Sukariyah dan dua anak gadisnya adalah Ibu Su'anniyah dan Ibu Sri'ah, yang di kemudian hari kedua-duanya menjadi bidadari Mbah Syaiban.
Ibu Su'aniyah adalah putri pertama dari Ibu Sukariyah yang lebih dahulu dinikahi oleh Mbah Syaiban, setelah kurang lebih enam tahun menikah, ibu Su'aniyah berp**ang ke haribaan Sang Maha Pencipta dalam usia yang masih sangat muda, akhirnya Mbah Syaiban memutuskan untuk turun ranjang. Iya, beliau menikahi mantan adik iparnya sendiri, yaitu Ibu Sri'ah.
Meski Mbah Syaiban mempunyai alasan yang kuat untuk turun ranjang. Namun, hal itu tak bisa lepas dari sebuah takdir Allah yang sudah ditetapkan di Lauhil Mahfudz yang telah diramalkan oleh Mbah Wali Martinah, sebelumnya.
Sebenarnya kedatangan Mbah Syaiban di Wonorojo sudah didahului oleh seorang Kiai Alim, beliau tunanetra, tetapi punya hati yang sangat bersih dan sangat dalam ilmunya. Beliau bernama Kiai Ilyas (wafat dan dimakamkan di Tegaron, Bandar, Batang, Jawa Tengah).
Kiai Ilyas yang sudah lebih dahulu datang dan menikahi salah satu gadis Wonorojo bernama 'Fatimah' (Mbah Timah) mengatakan dengan penuh keyakinan, "Mangkih ono Kiai sing sak duwure aku arep rene (nanti ada Kiai yang lebih tinggi ilmunya dariku akan datang ke sini)".
Kiai yang keilmuannya lebih tinggi yang dimaksud oleh Kiai Ilyas itu adalah Mbah Syaiban.
Beberapa hari kemudian Kiai Ilyas pergi ke arah utara dan datang kembali bersama Mbah Syaiban. Menurut penuturan warga, pertama kali Mbah Syaiban datang ke Wonorojo rambutnya panjang dan badannya berlumut.
"Mbah Sriban pertama dugi nganggo tudung mriki rambute dowo karo awake lumuten (Mbah Syaiban pertama datang kesini memakai topi bambu rambutnya panjang dan badannya berlumut)," ujar Mbah Timah yang menjadi tuan rumah sekaligus menyaksikan kedatangan Mbah Syaiban untuk pertama kalinya. (Beberapa warga setempat lebih akrab memanggil Mbah Syaiban dengan sapaan 'Mbah Sriban').
Lantaran yang membawa datang ke Wonorojo adalah Kiai Ilyas, maka Mbah Syaiban pun singgah pertama kali untuk sementara di rumah Kiai Ilyas. Setelahnya tiba di Wonorojo, keseharian Mbah Syaiban kerap kali berdiri mematung mengamati mata air dan batu besar yang ada di sebelah barat Masjid al-Muttaqin Wonorojo. Di permukaan batu besar tersebut terdapat tapak kaki seorang wali sekaligus raja agung.
"Simbahmu mbiyen sak gurunge nikah karo mbok tuomu sedino-dino senenge ngadek ndelengi tuk karo watu gede sing ono tapak sikil karo betek lungguhe Wali Subaqir (Kakekmu dulu sebelum menikah dengan nenekmu keseharinya s**a melihat sumber air dan batu besar yang terdapat bekas telapak kaki dan bekas duduk Wali Subaqir)," tutur ibuku suatu hari.
Sebenarnya (menurut satu riwayat) tapak tersebut adalah bekas jejak telapak kaki Waliyulloh besar yang bernama 'Sultan Khut Bani Isroil'. Bahkan tapak itulah yang menjadi alasan Nyai Endang Sukati datang ke Wonorojo. Wallahu 'A'lamu.
Saat Mbah Syaiban tengah menjalani kesehariannya itu, diam-diam ada seseorang yang mengamati beliau dari belakang. Seseorang tersebut adalah gadis muda cantik berusia enam belas tahun, putri seorang janda yang rumahnya sangat dekat dengan lokasi Mbah Syaiban saat itu berada dan nama gadis muda itu adalah 'Su'aniyah'.
Merasa diamati diam-diam oleh seorang gadis, Mbah Syaiban lantas mendekat dan berbisik pada gadis tersebut. "Sesuk tak ajak lungan (Besok kuajak jalan-jalan).". Keesokan harinya Mbah Syaiban bukan mengajak jalan-jalan gadis tadi, melainkan malah melamarnya. Lamaran Mbah Syaiban diterima dengan s**a ria oleh Ibu Su'aniyah dan keluarganya. Dikatakan, setelah menikah mereka berdua tidak pernah makan, kecuali satu piring berdua. Sungguh romantis.
Dari penuturan beberapa anaknya, Mbah Syaiban jarang berada di rumah, beliau lebih sering keluar untuk syi'ar, seperti di Indramayu (salah satunya di Desa Lemah Ayu), Cirebon, Pemalang, Batang, dan Temanggung. Biasanya beliau akan membangun masjid di tempat yang beliau datangi.
Mbah Syaiban meninggal bertepatan malam Selasa wage, 4 Sya'ban 1408 Hijriyah. Dikatakan, setelah jenazah beliau usai dimandikan dan tetangga membaca surat yasin, Mbah Syaiban malah didapati sedang membuat api unggun (genen) bersama salah seorang warga di desa sebelah, yaitu Desa Tambakroto, Sukorejo, Kendal.