KALAM ARAB - Kelas Belajar Islam dan Bahasa Arab

KALAM ARAB - Kelas Belajar Islam dan Bahasa Arab

Share

Diasuh oleh Ust. Salman Abu Ammar, Lc. Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. Fak. Ushuluddin, Jur. Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Qur'an. Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Halaman ini berisi kajian, dialog dan soal-jawab seputar Tafsir, Hadits, Fiqh, Aqidah, Siroh serta beberapa disiplin ilmu yang lainnya yang diasuh lansung oleh seorang hamba Allah yang masih menuntut ilmu di Univ. Segala manfaat dan kebaikan yang didapatkan dari halaman ini silahkan untuk disebarkan seluas-luasnya dengan menyertakan sumbernya. Jika terdapat berbagai kekeliruan dan kekhilafahan, kami sangat berbesar hati menerima saran dan mas**an. Jazakumullah khairal jazaa'

27/09/2017

Diantara nikmat terbesar Allah untuk kita adalah, terbangun kembali di pagi hari setelah tidur di malam hari. Tiada satupun dari kita yang bisa menjamin bahwa esok hari ia masih hidup. Di saat yang sama, di belahan bumi lain, ada orang-orang yang tidak lagi terbangun.

Terbangun dalam kondisi tubuh yang sehat, semua organ berfungsi dengan baik: mata, telinga, tangan, kaki, dllnya.

Maka kitapun memuji Allah yang telah menghidupkan kembali. Lalu kita berwuduk, mendirikan shalat penuh kyusuk, melantunkan pujian, shalawat, doa dan adzkar. Kemudian tilawah al-Quran, dst.

Ketika kita masih diberi kesempatan untuk hidup di hari ini, bisa kembali bertemu dengan keluarga dan orang yang kita cintai, maka sepatutnya kita bersyukur pada Allah. Kita masih memiliki waktu tambah untuk berbenah diri, memohon ampun atas segala dosa dan khilaf di masa lalu, memperbaiki segala kesalahan yang pernah diperbuat; terhadap hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan orang lain.

Kita masih diberi waktu untuk berbekal amal guna kehidupan akhirat. Maka sepatutnya kita manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, mengisinya dengan amal saleh dan ketaatan; ibadah dan zikrullah, menuntut ilmu dan mengajarkannya, berdakwah, berkhidmah pada Islam dan kaum muslimin, menolong siapa saja yang memerlukan, dsb.

Karena esok kita tidak tahu apakah masih hidup atau tidak. Betapa banyak kita mendengar, orang-orang terdekat yang telah meninggal dalam usia relatif muda. Padahal 1 minggu yang lalu kita masih bertemu, beberapa hari yang lalu masih mendengar sapaan hangatnya, atau mungkin beberapa jam yang lalu kita masih bercengkrama dengannya. Siapa yang bisa menyangka bahwa ia akan berumur panjang?! Tidak ada!

Bersungguhlah, jangan lalai, jangan menunda, jangan malas dan jangan memperturutkan hawa nafsu dan godaan setan. Isilah pikiran dengan hal positif. Abaikan segala hal negatif. Ikutilah segala perasaan yang baik, dan tolak segala perasangka dan perasaan yang buruk.

Hari yang lalu telah selesai. Telah tenggelam. Ia tidak akan kembali sampai kapanpun. Maka bersedih dan larut dalam kegagalan hidup masa lalu adalah suatu kebodohan. Hari esok belumlah pasti, maka larut dalam gelisah, ketakutan dan kecemasan terhadap masa depan juga adalah suatu kebodohan.

Hidup kita sesungguhnya adalah hari ini, saat ini dan detik ini. Inilah kehidupan yang nyata, bukan bayang-bayang masa lalu dan imajinasi hari esok yang belum pasti.

Maka berbuatlah yang terbaik hari ini, karena kebaikan hari ini akan menghapus dosa dan kesalahan di masa lalu, mengobati luka, kesedihan dan kegagalan di masa lalu. Karena kebaikan hari ini adalah bekal terbaik menyiapkan hari esok dan masa depan yang baik dan cemerlang; di dunia dan akhirat.

~Ust. Salman Abu Ammar, Lc.

04/03/2017

Kajian Tafsir Pertemuan Minggu ke-11
Tafsir Surat Al-Maa'un (107)

Oleh: Abu Muhammad Ammar, Lc
Alumnus Univ. Al- Azhar, Kairo-Mesir
Fak. Ushuluddin, Jur. Tafsir dan Ulum Qur'an

Surat al-Maun adalah surat Makkiyah, berjumlah 7 ayat. Surat ini secara ringkas berbicara tentang 2 kelompok manusia:

1. Orang kafir yang ingkar terhadap nikmat Allah dan mendustakan hari pembalasan

2. Orang munafik yang tidak pernah berniat karena Allah dalam amal perbuatannya, namun ia selalu berniat pamer pada manusia dengan amal dan shalatnya.

Tentang yang pertama Allah menyebutkan sifat-sifat mereka yang tercela, yaitu mereka mencela anak yatim, menghardik mereka, tidak berbuat baik. Mereka tidak berlaku baik dalam ibadah pada Tuhan dan juga tidak berlaku baik dalam pergaulan dengan manusia.

Sedangkan kelompok kedua, adalah orang munafik, yang lalai dari shalatnya, tidak mengerjakan pada waktunya, mereka mendirikan shalat sekedar tampilan luar saja, kosong dari makna, mereka pamer pada manusia. Allah telah mengancam mereka dengan kecelakaan dan azab yang pedih di akhirat.

Tafsir

Allah bertanya pada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallan, "Tahukah engkau siapakah yang mendustakan hari pembalasan itu? Apa saja sifat-sifat mereka?"

Allah Ta'ala kemudian menjawab.
Yaitu;

• Orang yang menghardik anak yatim, menzaliminya, dan tidak memberikan haknya.

• Orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Abu Hayyan berkata dalam al-Bahru al-Muhith "Ayat ini isyarat bahwa mereka tidak memberi makan anak yatim, padahal mereka mampu." (8/517)

Berkata Ar-Raziy dalam at-Tafsir al-Kabir, "Kenapa Allah mengatakan, 'tidak menganjurkan' dan tidak mengatakan, 'tidak memberi makan'? Jawabannya adalah, jika mereka tidak menganjurkan orang lain memberi anak yatim dari harta mereka, maka bagaimana ia akan memberi dari hartanya sendiri. Ini adalah watak tercela, prilaku yang buruk, puncak kekikiran dan kerasnya hati." (31/162)

Selanjutnya Allah Ta'ala menjelaskan sifat orang munafik. Allah berfirman, "Maka kecelakaan lah bagi orang-orang yang shalat (orang munafik)."

Siapakah mereka? Yaitu:

• Orang yang lalai dari shalatnya. Mereka s**a menunda waktu shalatnya karena meremehkan, dan mengakhirkan waktunya.

Ibnu Abbas berkata, "Ia shalat tidak mengharapkan pahala dan jika ia tinggalkan ia tidak takut akan siksa." (Al-Qurthubi, 20/211)

Abu al-Aliyah berkata, "Mereka tidak shalat pada waktu yang ditetapkan, tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya."

Rasulullah pernah ditanya tentang ayat ini, beliau menjawab, "Yaitu orang-orang yang s**a menunda waktu shalatnya."

• Orang-orang s**a pamer / riya. Mereka shalat di hadapan manusia untuk pamer agar dikatakan, mereka orang saleh. Mereka seolah khusyuk tapi niat di hati mereka agar disebut orang bertakwa. Mereka bersedekah agar disebut dermawan. Semua amal yang mereka perbuat hanya untuk pamer dan mencari ketenaran di hadapan manusia.

• Enggan menolong orang lain. Ath-Thabari berkata, "Mereka enggan menolong orang lain dengan segala sesuatu yang bermanfaat yang mereka punyai." (Tafsir ath-Thabari, 30/203)

Wallahu a'lam bish shawab.

Photos 01/01/2017

Bismillah.
Program Menghafal 1000 Hadits Nabi صلى الله عليه وسلم

Sahabat FB yang dirahmati Allah, di awal Januari 2017 ini kami memiliki program Ta'lim dan Tahfizh Harian Hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم, kami akan menshare bacaan hadits secara audio dari hadits-hadits Sahih pilihan.

Bagi anda yang berminat silahkan cantumkan no WA anda di kolom komentar / inbox FB.

Hadits akan dishare setiap hari. Silahkan pilih mana yang mudah untuk dihafalkan. Jika hadits panjang mungkin 1 hadits, jika sedang 2 hadits, jika pendek 3 hadits. Kami akan bacakan hadits dengan tambahan sedikit penjelasan/ keterangan ringkas terhadap hadits.

Kita berharap, disamping menghafalkan al-Qur'an, kita juga punya hafalan hadits yang banyak.

Harapan kita, akhir tahun target hafal minimal 500 hadits dapat kita capai dan maksimal 1000 hadits. In sya Allah. Dan semoga tahun-tahun mendatang, sisa umur kita, dapat kita isi dengan hafalan dan mengulang hafalan hadits. Jika umur anda saat ini, misal 30 tahun, lalu anda mampu menghafal 1000 hadits/ tahun, sampai usia 60 tahun, anda telah memiliki hafalan 30.000 hadits Nabi.

Setiap bulan kita akan murajaah ( mengulang) hafalan kita dan akhir tahun kita adakan ujian hafalan. In sya Allah.

Keutamaan menghafal hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

Rasulullah SAW pernah bersabda (artinya) : Semoga Allah menjadikan berseri-seri wajah seseorang yang mendengar dari kami hadits lalu dia menghafalkannya kemudian menyampaikannya kepada orang lain.
(HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Zaid bin Tsabit ra.)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang menghafal 40 hadits yang bermanfaat bagi ummatku dari urusan agama mereka, niscaya Allah akan membangkitkannya di hari kiamat beserta para ulama. Keutamaan seorang alim di bandingkan seorang abid (ahli ibadah) sebanyak 70 derajat dan Allah yang lebih tahu berapa jarak antara satu derajat ke derajat berikutnya.
(HR. Baihaqi dalam Syu'bul Iman)

Dari Abu Darda ra. berkata, Rasulullah SAW telah di tanya apa batasan ilmu jika seseorang menghafalnya maka dia termasuk faqih?

Rasulullah SAW menjawab, "Barangsiapa menghafal bagi ummatku 40 hadits dari perkara agama mereka, niscaya Allah akan membangkitkannya di hari kiamat sebagai seorang faqih dan aku menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya." (HR. Baihaqi dalam Syu'bul Iman)

Alfaqir,
Abu Muhammad Ammar, Lc

03/12/2016

Takhrij Hadits

Apakah yang dimaksud dengan takhrij hadits?
Takhrij secara bahasa merupakan bentuk masdar dari kata kerja "خرّج, يخرّج, تخريجا". Dalam kamus al-Munjid fi al-Lughah disebutkan, takhrij adalah: "menjadikan sesuatu keluar dari sesuatu tempat; atau menjelaskan suatu masalah[1]”

Sedangkan menurut pengertian terminologis, takhrij berarti;
التخريج هو الدلالة على موضع الحديث في مصادره الأصلية التي أخرجته بسنده. ثم بيان مرتبته عند الحاجة المراد بالدلالة على موضع الحديث

"Menunjukkan letak Hadits dari sumber-sumber aslinya (sumber primer), untuk kemudian diterangkan rangkaian sanadnya, dan dinilai derajat haditsnya jika diperlukan[2].

Jadi, ada dua hal yang dikaji dalam takhrij hadits. Pertama, menunjukkan letak hadits dalam kitab-kitab primer hadits. Kedua, menilai derajat hadits tersebut jika diperlukan.

Apakah tujuan dari takhrij hadits?
Tujuan utama dari takhrij hadits adalah mengetahui derajat suatu hadits, apakah maqbul atau mardud. Sebenarnya takhrij tidak hanya untuk hadits saja, tetapi juga kepada perkataan yang disandarkan kepada shahabat dan tabi’in.

Apakah faedah dari takhrij hadits?
Dapat diketahui banyak-sedikitnya jalur periwayatan suatu hadist yang sedang menjadi topik kajian.
Dapat diketahui status hadist, apakah shahih li dzatih atau shahih li ghairih, hasan li dzatih, atau hasan li ghairih. Demikian juga akan dapat di ketahui istilah hadist mutawatir, masyhur, aziz, dan gharib-nya.

Memberikan kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadist tersebut adalah makbul (dapat di terima). Sebaliknya, orang tidak akan mengamalkannya apabila mengetahui bahwa hadist tersebut tidak dapat diterima (mardud).
Dapat diketahui p**a hadits yang semula dhaif dari satu jalur, ternyata ada jalur lain yang hasan atau shahih.

Ilmu apa saja yang harus dikuasai jika ingin melakukan takhrij?
Pertama yang jelas adalah Bahasa Arab. Karena literatur yang dipakai dalam takhrij hadits adalah kitab-kitab yang berbahasa Arab. Kedua, adalah ilmu Ushul al-Hadits atau lebih dikenal dengan Ilmu Mushthalah Hadits.Ketiga, lebih spesifik lagi adalah Ilmu at-Tarajum dan Ilmu al-Jarhi wa at-Ta’dil. Ilmu ini berkaitan dengan rawi dari setiap hadits yang akan kita takhrij, masa hidupnya dan penilaian ulama terhadapnya. Itulah kualifikasi dasar yang harus dimiliki seseorang jika ingin mencoba mentakhrij hadits Nabi[3].

Apakah takhrij hadits termasuk ilmu baru dalam Islam?
Bisa dikatakan iya, bisa tidak. Dikatakan ilmu baru karena memang ilmu ini belum berkembang pada masa awal Islam. Tetapi bisa dikatakan tidak baru, karena semangat dasar takhrij sudah ada sejak masa shahabat.

Takhrij hadits dimaksudkan agar seseorang berhati-hati dalam menerima informasi hadits, apakah memang benar dari Nabi Muhammad atau palsu.

Bisa dikatakan Abu Bakar as-Shiddiq adalah orang pertama dari shahabat Nabi yang selektif dalam menerima informasi hadits dari Nabi, jika beliau tidak langsung mendengarnya. Hal itu sebagaimana komentar dari ad-Dzahabi (w. 748 H)[4]:
كان أول من احتاط في قبول الأخبار

(Abu Bakar as-Shiddiq) adalah orang pertama yang berhati-hati dalam menerima kabar dari Nabi. Sampai akhirnya takhrij hadits ini berkembang pesat pada abad ke-8 dan ke-9 Hijriyyah.[5]

Sebutkan contoh kitab-kitab takhrij dari ulama terdahulu?

Sebagaimana disebutkan diatas, masa keemasan ulama dalam menulis kitab takhrij adalah abad ke-8 dan ke-9 Hijriyyah.
Taghliq at-Ta’liq, karya: al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani (w. 852 H). Kitab ini menerangkan tentang hadits-hadits yang disinyalir mu’allaq dalam kitab Shahih Bukhari yang jumlahnya sekitar 1341 buah hadits.

Al-‘Ujab fi Takhrij ma Yaqulu fihi at-Tirmidizi, karya al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani (w. 852 H).

Nushbu ar-Rayah Li Ahadits al-Hidayah, karya: Abdullah bin Yusuf az-Zailaghi (w. 726 H). Kitab ini merupakan takhrij dari kitab al-Hidayah karya Ali bin Abu Bakar al-Marghinani (w. 593 H).

Al-Badru al-Munir, karya: Sirajuddin ibn al-Mulaqqan (w. 804 H). Kitab ini mentakhrij hadits-hadits yang ada di kitab as-Syarhu al-Kabir atau Fathu al-Aziz bi Syarhi al-Wajiz karya Abdul Karim ar-Rafi’i (w. 623 H). Kitab as-Syarhu al-Kabir ini merupakan syarah dari kitab al-Wajiz karya Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H).
At-Talkhish al-Habir, al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani (w. 852 H). Kitab ini juga mentakhrij hadits-hadits yang ada di kitab as-Syarhu al-Kabir atau Fathu al-Aziz bi Syarhi al-Wajiz karya Abdul Karim ar-Rafi’i (w. 623 H).

Al-Mughni an Hamli al-Asfar di al-Asfar, karya: al-Hafidz Zainuddin Abu al-Fadhl al-Iraqi (w. 806 H). Kitab ini mentakhrij kitab Ihya’ Ulum ad-Din karya Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H).
Al-Maqashid al-Hasanah fi Bayani Katsirin min al-Ahadits al-Musytahirah ala al-Alsinah, karya: Syamsuddin as-Sakhawi (w. 902 H). Kitab ini mentakhrij hadits-hadits yang masyhur dalam masyarakat.

Sebutkan kitab-kitab yang membicarakan teori takhrij?
Ushul at-Takhrij wa Dirasat al-Asanid, karya: Mahmud at-Thahhan.
Kasyfu al-Litsam an Asrar Takhrij Sayyid al-Anam, karya: Abdul Maujud Muhammad Abdullatif.
Thuruq Takhrij Haditsi Rasulillah, karya: Abdul Mahdi bin Abdul Qadir.

Oleh : Hanif Luthfi, Lc

Referensi :

[1] Louis Ma'luf, al-Munjid fi al-A'lam, (Beirut: Dar al-Masyariq, 1986), h. 172.

[2] Mahmud al-Thahhan, Ushul al-Takhrij Wa Dirasah Al-Asanid, (Riyadh: Maktabah al-Maa'rif, 1991), h. 10.

[3] Hatim bin Arif al-Auni, at-Takhrij wa Dirasat al-Asanid, (Maktabah Syamilah), h. 2

[4] Syamsuddin ad-Dzahabi, Tadzkirat al-Huffadz, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419 H), juz 1, h. 9

[5] Muhammad bin Dhafir as-Syahri, Ilmu at-Takhrij wa Daurhu fi Hifdzi as-Sunnah an-Nabawiyyah, h. 6

04/02/2016

Mengenal Singkat Surat Al-Fatihah

Kapan Surat Al Fatihah Diturunkan?

Pendapat yang paling kuat diantara ulama mengatakan bahwa surat ini turun di Makkah, bahkan surat ini merupakan surat yang pertama kali turun dari Al Qur`an di Makkah. Pendapat lain mengatakan surat Al Fatihah turun di Madinah. Ada juga yang berpendapat surat Al Fatihah turun dua kali, turun di Makkah saat di-fardhukannya shalat dan turun di Madinah ketika terjadi perubahan kiblat. Imam Al Qurthubiy berkata, "Pendapat pertama adalah paling benar, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Hijr :

87. Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang [1] dan Al Quran yang agung. Surat Al Hijr secara ijmak ulama turun di Makkah.

Berapa Jumlah Ayatnya?

Jumlah ayatnya adalah tujuh ayat sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Hijr di atas. Ulama berkata, "As-Sab`u Al-Matsaaniy adalah Al Fatihah."

Ibnu Katsir berkata, "Surat Al Fatihah berjumlah tujuh ayat tanpa diperselisihkan." Amru bin Abid berkata, "Surat Al Fatihah berjumlah delapan ayat karena dia menjadikan ayat 'Iyyaka na`budu' satu ayat. Husain bin Al Ja`fiy berkata, "Surat Al Fatihah berjumlah enam ayat." Dua pendapat ini sangat asing di kalangan ulama.

Berapa Nama yang Dimiliki Surat Al Fatihah?

Surat Al Fatihah memiliki nama-nama yang cukup banyak, diantara nama-nama yang terkenal adalah:

1. Al Fatihah atau Fatihatul Kitab.

Dinamakan demikian karena bacaan Al Quran secara lafaz dibuka dengan Al Fatihah. Dan juga dibuka secara tulisan dengan Al Fatihah dan begitu juga dalam shalat, walau ia bukanlah surat yang pertama kali turun dari Al Qur`an. Nama ini telah populer di kalangan sahabat di era kenabian.

2. Ummul Qur`an atau Ummul Kitaab.

Dinamakan dengan Ummul Qur`an atau Ummul Kitab karena surat Al Fatihah mengandung secara umum tentang pujian pada Allah SWT, beribadah sesuai perintah dan larangan-Nya, menerangkan tentang janji dan ancaman-Nya, dan juga tentang hukum-hukum teori dan praktek dalam menempuh jalan yang lurus serta mengetahui tangga-tangga menuju kebahagiaan dan jalan-jalan kesengsaraan.

Ibnu Jarir berkata, "Orang Arab menamakan segala sesuatu yang mengumpulkan dengan 'Um', dan setiap orang di depan yang punya banyak pengikut dinamakan dengan 'Um'. Bendera yang berkumpul di bawahnya para pas**an dengan nama 'Um'.

3. As-Sab`u Al Matsaaniy.

Dinamakan demikian karena ia berjumlah tujuh ayat yang dibaca dalam shalat atau karena surat ini selalu dibaca berulang-ulang dalam shalat. Imam Ahmad berkata, dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda, "Surat Al Fatihah adalah 'Ummul Qur`an', ia adalah As Sab`u Al Matsaaniy, dan ia adalah Al Qur`an yang mulia".

4. Al Hamd
5. Al Kanz
6. Al Wiqaayah
7. Asy Syifaa`, sebagaimana dalam hadits Rasul SAW, "Dia adalah syifaa`
(penyembuh) dari segala penyakit".
8. Al Kaafiyah
9. Al Asaas
10. Ar Ruqyah

Inilah diantara nama-nama surat Al Fatihah, Imam Al Qurthubiy menyebutkan bahwa surat Al Fatihah memiliki dua belas nama, sedangkan Imam As Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al Itqan bahwa jumlah nama surat Al Fatihah berjumlah dua puluh lima nama.

Apa Saja Keutamaan Surat Al Fatihah?

1. Imam Bukhari dalam Sahih-nya dari Abi Said bin Al Mu`liy radhiyallahu `anhu berkata, "Suatu ketika saya sedang berada dalam mesjid, lalu Nabi SAW memanggil saya, saya tidak menjawab. Kemudian saya berkata pada beliau, 'Wahai Rasulullah saya sedang shalat,' Rasulullah membacakan sebuah ayat, 'Jawablah panggilan Allah dan Rasul-Nya jika Allah dan Rasul-Nya memanggil kalian..'

Seterusnya beliau bersabda, "Saya akan mengajarkan kamu satu surat yang merupakan surat yang paling mulia dalam Al Qur`an sebelum kamu keluar dari mesjid". Tatkala beliau hendak keluar, saya berkata, "Wahai Rasulullah, bukankah engkau ingin mengajarkan saya surat yang paling mulia dalam Al Quran?". Beliau membaca, "Alhamdulillahi rabbil `alamin', ia adalah As Sab`u Al Matsaniy dan Al Quran yang mulia yang diberikan padaku."[]

2. Imam Muslim dan Nasai meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Tatkala Jibril duduk bersama Rasulullah SAW, beliau mendengar suara dari atas, lalu beliau mengangkat kepala. Jibril berkata, "Ini adalah pintu dari langit yang dibuka hari ini, belum dibuka sebelumnya, kemudian ia berkata, "Aku memberimu kabar gembira dengan dua Nur yang telah diberikan padamu yang belum pernah satu nabi pun diberikan sebelummu, yaitu : Fatihatul Kitab dan akhir surat Al Baqarah, kamu tidak membaca satu huruf darinya kecuali permintaanmu akan dikabulkan." []

3. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abdullah bin Jabir bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Maukah kamu aku beritahukan sebaik-baik surat dalam Al Quran? Saya menjawab, "Iya, ya Rasulullah", beliau berkata, "Bacalah "Alhamdulillahi rabbil `alamin" sampai akhir surat."[]

Itulah diantara hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan surat Al Fatihah. Untuk selanjutnya, insya Allah, jika Allah masih memberi umur, kita akan masuk pada perkenalan surat-surat al-Qur'an lainnya beserta tafsirnya. Jika terdapat kekeliruan dan kesalahan mohon koreksiannya, terima kasih.

***
Salam dari Kairo,
M. Arif As-Salman, Lc
(Peminat Kajian Tafsir & Hadits)
Page Facebook : Rumah Tafsir dan Hadits / دار التفسير و الحديث)

[1] Yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang ialah surat Al-Faatihah yang terdiri dari tujuh ayat. sebagian ahli tafsir mengatakan tujuh surat-surat yang panjang yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah.

SILAHKAN DISHARE agar manfaatnya semakin luas.
Jazakumullah khairan.

Want your school to be the top-listed School/college in Madinat an Nasr?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Madinat An Nasr