27/09/2017
Diantara nikmat terbesar Allah untuk kita adalah, terbangun kembali di pagi hari setelah tidur di malam hari. Tiada satupun dari kita yang bisa menjamin bahwa esok hari ia masih hidup. Di saat yang sama, di belahan bumi lain, ada orang-orang yang tidak lagi terbangun.
Terbangun dalam kondisi tubuh yang sehat, semua organ berfungsi dengan baik: mata, telinga, tangan, kaki, dllnya.
Maka kitapun memuji Allah yang telah menghidupkan kembali. Lalu kita berwuduk, mendirikan shalat penuh kyusuk, melantunkan pujian, shalawat, doa dan adzkar. Kemudian tilawah al-Quran, dst.
Ketika kita masih diberi kesempatan untuk hidup di hari ini, bisa kembali bertemu dengan keluarga dan orang yang kita cintai, maka sepatutnya kita bersyukur pada Allah. Kita masih memiliki waktu tambah untuk berbenah diri, memohon ampun atas segala dosa dan khilaf di masa lalu, memperbaiki segala kesalahan yang pernah diperbuat; terhadap hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan orang lain.
Kita masih diberi waktu untuk berbekal amal guna kehidupan akhirat. Maka sepatutnya kita manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, mengisinya dengan amal saleh dan ketaatan; ibadah dan zikrullah, menuntut ilmu dan mengajarkannya, berdakwah, berkhidmah pada Islam dan kaum muslimin, menolong siapa saja yang memerlukan, dsb.
Karena esok kita tidak tahu apakah masih hidup atau tidak. Betapa banyak kita mendengar, orang-orang terdekat yang telah meninggal dalam usia relatif muda. Padahal 1 minggu yang lalu kita masih bertemu, beberapa hari yang lalu masih mendengar sapaan hangatnya, atau mungkin beberapa jam yang lalu kita masih bercengkrama dengannya. Siapa yang bisa menyangka bahwa ia akan berumur panjang?! Tidak ada!
Bersungguhlah, jangan lalai, jangan menunda, jangan malas dan jangan memperturutkan hawa nafsu dan godaan setan. Isilah pikiran dengan hal positif. Abaikan segala hal negatif. Ikutilah segala perasaan yang baik, dan tolak segala perasangka dan perasaan yang buruk.
Hari yang lalu telah selesai. Telah tenggelam. Ia tidak akan kembali sampai kapanpun. Maka bersedih dan larut dalam kegagalan hidup masa lalu adalah suatu kebodohan. Hari esok belumlah pasti, maka larut dalam gelisah, ketakutan dan kecemasan terhadap masa depan juga adalah suatu kebodohan.
Hidup kita sesungguhnya adalah hari ini, saat ini dan detik ini. Inilah kehidupan yang nyata, bukan bayang-bayang masa lalu dan imajinasi hari esok yang belum pasti.
Maka berbuatlah yang terbaik hari ini, karena kebaikan hari ini akan menghapus dosa dan kesalahan di masa lalu, mengobati luka, kesedihan dan kegagalan di masa lalu. Karena kebaikan hari ini adalah bekal terbaik menyiapkan hari esok dan masa depan yang baik dan cemerlang; di dunia dan akhirat.
~Ust. Salman Abu Ammar, Lc.