29/04/2015
(Surat An-Nisa’: ayat 60-64)
SEBAB TURUNNYA AYAT
Terjadi sengketa antara seorang laki bernama Bisyr menghadapi seorang laki Yahudi. Bisyr ini secara zahirnya mengaku diri beriman, tapi sejatinya dia termasuk golongan munafik.
Untuk menyelesaikan pertikaian yang alot itu, keduanya sepakat membawa perkara mereka ke meja hijau. Si Bisyr malah ingin yang menjadi hakim bagi mereka Ka’ab bin Asyraf, si Thagut Yahudi yang menjadi mafia peradilan. Ia berniat akan memberi uang suap kepada Ka’ab agar memenangkannya dalam peradilan tersebut. Kubu Yahudi yang mencium niat licik itu tidak menyetujui Ka’ab sebagai Hakim. Menurutnya, hakim yang paling adil dan bersih adalah Nabi Muhammad SAW.
Dalam peradilan Rasullullah SAW, dengan penuh keadilan beliau memberi putusan kemenangan kepada Pihak Yahudi. Namun si Munafik tidak terima dengan hasil putusan Rasulullah itu. Dia ingin menggugatnya kepada Umar bin Khattab RA.
Alih-alih mendapat pembelaan dari Umar, si Munafik malah mendapat bencana besar atas keras kepalanya itu. Umar bertanya maksud kedatangan kedua pihak yang bertengkar itu. Setelah tahu bahwa lelaki munafik itu sebelumnya telah mengingkari putusan Nabi SAW, beliau berkata “Tunggu aku sebentar disini.” Beliau masuk rumah dan keluar membawa pedang. Tanpa basa-basi, kepala si Munafik dipenggal. “Inilah keputusan yang paling tepat buat orang yang tidak terima atas keputusan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya”.
Mengenai peristiwa di atas, maka turunlah Malaikat Jibril menyampaikan ayat ini. Jibril berkata tentang Umar, “Sungguh Umar benar-benar yang membedakan antara yang benar dan bathil”. Sejak itulah Umar mendapat titel resmi “Al-Faruq”, sematan yang pas untuk sosok yang memiliki keberanian dan ketegasan yang tak bisa dikompromi dalam menegakkan kebenaran dan membasmi kebatilan. Sehingga beliau disegani oleh siapapun, Nabi SAW bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفْرَقُ مِنْ عُمَرَ
“Sesungguhnya setan pun lari karena takut pada Umar.”
PELAJARAN
Ada seabrek pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini,
1) Dalam memilih hakim, pilihlah hakim yang tepat yaitu yang bersih dan jujur. Bukan hakim yang curang, menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lain. Dalam hal ini, tidak ada yang lebih baik di antara manusia dalam menetapkan hukum dari Rasulullah SAW. Atau secara umum, dalam menentukan keputusan jangan sangkutkan kepercayaan-kepercayaan kepada Takhayyul.
2) Memberi keputusan benar walaupun itu pahit, berat atau sulit. Dalam hal ini, Rasul SAW memenangkan Yahudi ketimbang orang yang mengaku sahabat beliau, karena memang Yahudi lah yang benar dalam kasus tersebut. Walaupun itu keluarga atau teman dekat, jika memang dia salah, harus dihukum dengan sebenarnya tanpa pandang bulu.
3) Harus rela menerima kekalahan jika memang salah, apalagi yang memberi keputusan itu Rasul. Bagi yang tidak rela menerima putusan Rasul, tidak diragukan lagi ia adalah orang yang sesat atau kafir walau lisannya mengatakan beriman. Karenanyalah, Umar tidak ragu memenggal leher orang semacam itu.
4) Dalam ayat ini, Allah membongkar borok orang-orang Munafik dimana keimanan hanya sebatas ujung lidah mereka, namun tidak membekas ke dalam hati, perbuatan mereka selalu mencerminkan kebencian kepada Allah dan Rasul-Nya serta menentang hukumnya. Dalam ayat berikutnya diceritakan pasca kematian munafik itu, sejumlah keluarga datang kepada Rasulullah SAW menuntut Umar dengan berbagai alasan yang diperhalus-halus dan bersumpah atas nama Allah bahwa tujuan munafik itu baik, ia menghendaki perdamaian. Padahal jelas-jelas dia tidak mau menerima kebenaran. Maka terhadap mereka itu, Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk tidak terpengaruh dengan ucapan manis mereka, mengajak mereka bertaubat dan memperingati mereka dengan kata-kata yang dapat menimbulkan efek jera.
5) Setelah menguak kejahatan munafiqin, dalam ayat 64 Allah menjelaskan sezhalim apapun mereka terhadap dirinya sendiri, pintu taubat dari Allah senantiasa terbuka lebar. Jiwa penyayang yang dimiliki Rasulullah SAW pun juga akan ikut memohon ampunan untuk mereka kepada Allah. Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih.