12/06/2022
DISTORSI SEBUAH KERINGANAN
pertama diujian terakhir.
Segala puji selalu tercurahkan atas limpahan nikmatNya, sehingga terlaksanakanlah hari ini, ujian tahriry yang dibuka dengan maddah Istidhar Al-Qur'an, semoga Allah beri kemudahan untuk 7 maddah selanjutnya. Amin.
Ada sesuatu yang menarik disini, yaitu tentang keringanan yang diberikan al-Azhar untuk tholabah wafidin (mahasiswa asing).
Pada zaman daluhu,, al-Azhar mewajibkan seluruh tholabahnya (baik mahasiswa pribumi maupun wafidin) untuk hafal Al-Qur'an 30 juz FULL. Tetapi karena beberapa syakwa yang datang dari kalangan wafidin, turunlah standard hafalan Al-Qur'an bagi mereka, yang awalnya 30 juz kemudian menurun dan semakin presss menjadi 4 juz _saja_ dalam jangka 4 tahun masa study S1 di al-Azhar.
Pastilah rukhshoh ini dimaksudkan sebagai _tashil & taisir_ bagi para wafidin ini, jazahumullah untuk mereka yang menerima kesah wafidin dan berusaha mencari problem solvingnya. Tapi perlu direnungkan sekarang, apakah tashil itu memang benar-benar tashil, ataukah malah menjadi tadmir bagi wafidin itu sendiri?
Bayangkan kalau 30 juz Al-Qur'an masih muqoror kita sekarang, setiap tahun setidaknya hafal 7 juz, bayangkan jika tiap semester diadakan imtihan maddah ini syafawy beserta tahrirynya.
Kemarin ketika ujian lisan kita lihat banyak misriyat menangis karena kesulitan menyambung ayat yg dibacakan Dukturoh, mereka bilang sudah hafal kok,, entah emang lupa atau dia ketemu ayat mutasyabihat jadi belebet, maklumlah mereka ujiannya 30 juz, jauh dibanding kita yang _hanya_ 4 juz. Timbul dipikiran, mengapa mereka nangis sendiri, mengapa kita tidak ikut menangis? Kan itu yang namanya solidaritas.
Masihkah kita terlena?
Kuliah mana yang kalau muhadhoroh tidak ada absen? Kuliah mana yang Dukturohnya mau jawab chat pertanyaan muridnya jam 1 pagi? Kuliah mana yang bisa najah meskipun hanya masuk saat ujian? Lulus, bawa pulang gelar Lc, terlihat wah, sudah. Tetapi ketika ditanya berapa hafalan Al-Qur'anmu? Hm,, kalau ku jawab 4, kok malu yaa....
19/02/2022