Philosophy - PIGAI

Philosophy - PIGAI

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Philosophy - PIGAI, Education, .

06/09/2025

Apakah benar membaca buku berjam-jam bisa menjadikan kita pintar? Jawabannya mengejutkan: tidak selalu. Banyak orang rajin membaca, tetapi yang tersisa dalam ingatan hanyalah potongan kecil dari apa yang pernah mereka baca. Otak kita ternyata bukan seperti wadah kosong yang bisa diisi begitu saja, melainkan lebih seperti otot yang hanya akan menguat jika dilatih dengan strategi yang tepat.

Fakta menariknya, penelitian dari University of Waterloo menemukan bahwa orang yang membaca sambil merenungkan isi teks mampu mengingat hingga 50 persen lebih lama dibanding mereka yang hanya membaca sekadar lewat. Artinya, bukan seberapa banyak buku yang kita habiskan, tetapi bagaimana kita memperlakukan bacaan itu yang menentukan apakah pengetahuan tersebut akan tinggal lama dalam memori.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa puas setelah menyelesaikan satu buku penuh. Namun, sebulan kemudian, isi buku itu hanya tersisa samar. Misalnya, seseorang membaca buku tentang kebiasaan produktif, merasa tercerahkan, tetapi kembali ke pola lama seminggu kemudian. Itu bukan salah bukunya, melainkan cara kita membacanya.

Berikut tujuh trik yang bisa membuat setiap halaman buku menempel lebih lama dalam pikiran.

1. Membaca dengan tujuan yang jelas

Banyak orang membaca tanpa arah, hanya sekadar mengikuti alur halaman demi halaman. Padahal, otak manusia lebih mudah menyimpan informasi jika ada kerangka tujuan. Misalnya, ketika membaca buku filsafat, tentukan dulu apa yang ingin dicari: apakah pemahaman konsep kebebasan, atau sekadar menambah wawasan tentang cara berpikir kritis. Dengan tujuan itu, otak secara otomatis akan memfilter informasi yang relevan dan mengabaikan hal yang tidak penting.

Contoh sederhana terlihat saat seseorang membaca buku resep masakan. Jika tujuannya hanya hiburan, maka resep itu akan cepat terlupakan. Tetapi jika tujuannya ingin membuat hidangan untuk keluarganya minggu depan, maka detail resep lebih mudah tertanam. Inilah yang menunjukkan bahwa otak bekerja efektif ketika diarahkan oleh tujuan spesifik.

Strategi ini membuat kita sadar bahwa membaca bukan kegiatan pasif. Ia membutuhkan kesadaran penuh akan arah. Banyak konten eksklusif di logikafilsuf yang membongkar teknik tujuan membaca dari berbagai tradisi pemikiran, dan ini membuktikan bahwa cara berpikir sebelum membaca sering kali lebih penting dari jumlah buku yang ditamatkan.

2. Membuat catatan aktif, bukan pasif

Sekadar menandai kalimat dengan stabilo sering memberi ilusi bahwa kita sudah menguasai isi buku. Padahal, otak cenderung mengingat lebih kuat ketika kita memproses ulang informasi dengan bahasa kita sendiri. Menulis catatan dengan gaya pribadi, pertanyaan kritis, atau bahkan menentang argumen penulis, memberi ruang bagi otak untuk bekerja lebih dalam.

Sebagai contoh, seseorang yang membaca buku psikologi lalu menulis catatan, “Teori ini mirip dengan pengalaman saya saat menghadapi stres di kantor,” akan mengingatnya lebih lama dibanding mereka yang hanya menyalin definisi dari buku. Otak menyimpan memori lebih kuat ketika ada keterkaitan dengan pengalaman nyata.

Proses ini mungkin terlihat melelahkan, tetapi justru di situlah kekuatannya. Dengan cara ini, setiap catatan menjadi refleksi pribadi, bukan sekadar kutipan orang lain. Kualitas pemahaman jauh lebih meningkat dibanding membaca secara pasif.

3. Menggunakan teknik mengajar ulang

Salah satu cara paling efektif mengingat adalah dengan mencoba menjelaskan kembali isi buku kepada orang lain. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai the protégé effect. Ketika kita mengajar, otak dipaksa menyusun ulang informasi secara logis sehingga lebih mudah diingat.

Contoh mudahnya, ketika selesai membaca satu bab buku sejarah, coba ceritakan ulang kepada teman dengan gaya bercerita. Jika teman itu bisa paham, berarti kita benar-benar telah menyerap isinya. Jika masih sulit dijelaskan, itu tanda ada bagian yang belum kita kuasai.

Kebiasaan ini tidak hanya memperkuat ingatan, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi. Membaca bukan lagi sekadar aktivitas individual, melainkan jembatan untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain. Semakin sering kita melatih diri menjelaskan, semakin kuat p**a ingatan kita terhadap isi bacaan.

4. Menerapkan metode spaced repetition

Otak kita memiliki kecenderungan lupa yang disebut forgetting curve, ditemukan oleh Hermann Ebbinghaus pada abad ke-19. Informasi baru akan cepat hilang jika tidak diulang secara berkala. Namun, dengan teknik pengulangan yang diberi jarak waktu, memori bisa bertahan jauh lebih lama.

Misalnya, setelah membaca satu bab buku, ulangi catatannya keesokan hari, kemudian seminggu setelahnya, lalu sebulan. Dengan pola ini, memori akan semakin menguat karena otak menganggap informasi tersebut penting untuk disimpan jangka panjang.

Hal ini terlihat jelas pada pelajar yang menggunakan aplikasi pengulangan berselang seperti Anki atau Quizlet. Mereka mampu mengingat istilah atau konsep bertahun-tahun karena otak terus diberikan pengingat pada waktu yang tepat. Teknik sederhana ini bisa diterapkan siapa saja tanpa memerlukan teknologi canggih.

5. Mengaitkan bacaan dengan pengalaman pribadi

Pengetahuan yang terhubung dengan kehidupan nyata cenderung lebih tahan lama dalam ingatan. Jika kita membaca buku tentang etika Aristoteles, lalu mencoba menerapkannya ketika menghadapi konflik moral sehari-hari, maka teori itu akan lebih melekat. Otak tidak menyukai informasi yang berdiri sendiri, ia lebih s**a jaringan yang saling terhubung.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang membaca buku tentang manajemen waktu lalu mencoba mengatur jadwal tidurnya berdasarkan teori itu, akan lebih mudah mengingat konsepnya karena sudah merasakannya dalam praktik. Sebaliknya, jika hanya dibaca tanpa tindakan nyata, memori akan cepat memudar.

Membaca menjadi lebih bermakna ketika kita jadikan ia lensa untuk melihat hidup. Buku tidak lagi hanya teks mati, tetapi menjadi cermin yang memantulkan pengalaman pribadi kita sendiri. Dengan begitu, isi buku terasa hidup dan lebih mudah dikenang.

6. Membatasi jumlah bacaan sekaligus

Ironisnya, terlalu banyak membaca justru membuat otak kewalahan. Membaca lima buku dalam seminggu seringkali hanya menyisakan serpihan informasi yang tercecer. Otak membutuhkan ruang untuk mencerna, bukan banjir informasi.

Contoh sehari-hari, orang yang menonton banyak film sekaligus sering lupa detail ceritanya. Hal serupa terjadi pada membaca. Jika kita memforsir diri membaca terlalu cepat, otak akan menolak menyimpan informasi secara mendalam. Membatasi jumlah bacaan membuat setiap ide memiliki waktu untuk dipikirkan dan direnungkan.

Kebiasaan ini bukan berarti membaca sedikit, melainkan membaca dengan kedalaman. Dengan memilih satu atau dua buku lalu mendalaminya, kita memberi kesempatan pada otak untuk menyerap dengan lebih stabil.

7. Membiasakan refleksi setelah membaca

Selesai membaca bukan berarti selesai proses. Justru tahap paling penting adalah refleksi. Duduk sejenak, menuliskan apa yang kita pahami, apa yang kita setujui atau sangkal, serta bagaimana bacaan itu bisa diterapkan dalam hidup. Refleksi adalah jembatan antara teks dan diri kita sendiri.

Misalnya, setelah membaca buku tentang kebahagiaan, seseorang bisa bertanya, “Bagian mana yang paling relevan dengan hidup saya? Apakah benar kebahagiaan bisa lahir dari kesederhanaan?” Pertanyaan ini bukan hanya melatih ingatan, tetapi juga menghidupkan kembali isi buku dalam konteks pribadi.

Dengan refleksi, membaca berubah dari sekadar konsumsi informasi menjadi percakapan dengan diri sendiri. Proses ini membuat pengetahuan lebih dalam, lebih personal, dan lebih tahan lama di ingatan.

Membaca buku agar ingat lebih lama ternyata bukan soal berapa banyak yang kita habiskan, melainkan bagaimana kita menyerap, mengolah, dan mengaitkannya dengan kehidupan. Setiap orang bisa mempraktikkan trik ini mulai hari ini tanpa menunggu waktu yang tepat.

Kalau menurut kamu, trik mana yang paling sering kamu abaikan saat membaca buku? Tulis di kolom komentar dan jangan lupa bagikan agar lebih banyak orang belajar membaca dengan cara yang benar.

04/06/2025

Omnes in Christo unum sumus — “We are all one in Christ”

13/12/2024

Pernyataan Bertrand Russell, “Penyebab dasar masalah adalah karena di dunia modern, orang bodoh sangat yakin, sementara orang pandai ragu-ragu,” menggambarkan pandangannya tentang perbedaan sikap antara orang yang kurang pengetahuan dan yang berpendidikan terhadap kebenaran dan keyakinan.

Russell mengamati bahwa di dunia modern, banyak orang yang kurang memahami suatu masalah atau topik, tetapi justru memiliki keyakinan yang sangat kuat dan tak tergoyahkan tentang hal itu. Mereka merasa yakin meskipun pemahaman mereka terbatas. Sebaliknya, orang yang lebih berpendidikan dan lebih berpengetahuan cenderung lebih ragu dan berpikir dua kali sebelum membuat keputusan atau mengklaim sesuatu sebagai kebenaran, karena mereka sadar akan kompleksitas masalah dan keterbatasan pengetahuan.

Russell menyoroti bahwa rasa percaya diri yang berlebihan dari orang yang tidak berpengetahuan ini dapat menyebabkan masalah besar, karena mereka sering kali mendominasi percakapan atau pengambilan keputusan, meskipun mereka tidak memiliki pemahaman yang mendalam. Sementara itu, orang yang lebih bijaksana cenderung lebih berhati-hati, yang bisa tampak seperti keraguan yang berlebihan. Namun, ini sebenarnya adalah sikap yang lebih rasional karena mereka mengakui bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan mudah atau pasti.

Pesan utama dari Russell adalah bahwa dalam dunia yang semakin kompleks, keyakinan yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang mendalam dapat menjadi sumber masalah, sementara keraguan yang sehat dan kritis adalah langkah yang lebih bijak dalam menghadapi kenyataan yang seringkali ambigu dan tidak pasti.***

17/10/2024

Published in 2000, ‘Greek Philosophers in the Arabic Tradition’ by Dimitri Gutas delves into the captivating journey of Greek philosophical thought as it was preserved and transformed through medieval Arabic translations. Offering newly discovered texts, translations, and insightful commentary, Gutas unravels the complex processes of transmission and the rich interplay between Greek and Arabic intellectual traditions.

Book Summary:

“Professor Gutas deals here with the lives, sayings, thought, and doctrines of Greek philosophers drawn from sources preserved in medieval Arabic translations and for the most part not extant in the original. The Arabic texts, some of which are edited here for the first time, are translated throughout and richly annotated with the purpose of making the material accessible to classical scholars and historians of ancient and medieval philosophy.

Also discussed are the modalities of transmission from Greek into Arabic, the diffusion of the translated material within the Arabic tradition, the nature of the Arabic sources containing the material, and methodological questions relating to Graeco-Arabic textual criticism. The philosophers treated include the Presocratics and minor schools such as Cynicism, Plato, Aristotle and the early Peripatos, and thinkers of late antiquity.

A final article presents texts on the malady of love drawn from both the medical and philosophical (problemata physica) traditions.”

Available:
https://www.routledge.com/Greek-Philosophers-in-the-Arabic-Tradition/Gutas/p/book/9780860788379

Tags:

10/10/2024

"The Will to Power" by Friedrich Nietzsche is a collection of notes and essays that explore his philosophical ideas on power, morality, and the nature of existence. Although the book was published posthumously, its themes are central to Nietzsche’s philosophy.

Here are 10 lessons from "The Will to Power":

1. Will to Power as Fundamental Drive: Nietzsche posits that the fundamental driving force in humans is the "will to power." This concept suggests that individuals are motivated by a desire to assert and enhance their influence and creativity in the world.

2. Critique of Traditional Morality: Nietzsche challenges conventional moral values, arguing that they often suppress human potential. He advocates for a reevaluation of values that promote life, strength, and individual excellence.

3. Power Dynamics in Relationships: The book explores how power dynamics shape relationships and societal structures. Nietzsche asserts that power is inherent in all human interactions and influences behavior and societal norms.

4. Beyond Good and Evil: Nietzsche emphasizes moving beyond simplistic notions of good and evil. He believes that moral judgments should be examined critically, recognizing that they can often reflect the interests of those in power.

5. Creation of Values: Individuals have the ability and responsibility to create their own values and meanings in life. Nietzsche encourages self-overcoming and the pursuit of personal excellence as a means of defining one’s own existence.

6. The Role of Suffering: Nietzsche views suffering as an essential aspect of life that can lead to growth and self-discovery. He suggests that embracing challenges and hardships can foster resilience and strength.

7. Eternal Recurrence: Nietzsche introduces the concept of eternal recurrence, urging readers to consider how they would live if they had to relive their lives infinitely. This idea serves as a test for living authentically and meaningfully.

8. Art as a Means of Expression: Nietzsche emphasizes the importance of art and creativity in expressing the will to power. He sees artistic creation as a way to transcend ordinary existence and assert one’s individuality.

9. Critique of Nihilism: While Nietzsche recognizes the rise of nihilism—the belief that life lacks meaning—he argues that it can be overcome through the affirmation of life and the creation of new values.

10. The Übermensch (Overman): Nietzsche introduces the concept of the Übermensch, an individual who transcends societal norms and limitations to create their own values and meaning. The Übermensch embodies the ideal of self-actualization and the will to power.

These lessons from "The Will to Power" invite readers to engage with complex philosophical ideas, challenge conventional beliefs, and strive for personal growth and authenticity.

GET BOOK: https://amzn.to/3Y9uLXw

You can also get the AUDIO BOOK for FREE using the same link. Use the link to register for the AUDIO BOOK on Audible and start enjoying it.

05/10/2024

Misteri Plato: 20 Fakta Menarik Tentang Sang Filsuf yang Mengubah Sejarah

1. Nama asli Plato adalah Aristocles. Plato sebenarnya adalah julukan yang berarti luas atau berbadan tegap, mungkin mengacu pada fisiknya atau gaya menulisnya yang luas dan mendalam.

2. Plato lahir di Athena, Yunani, sekitar tahun 428/427 SM dan berasal dari keluarga aristokrat terkemuka. Ibunya adalah keturunan raja-raja Athens dan Messenia, sementara ayahnya berasal dari keluarga bangsawan.

3. Plato adalah murid Socrates, dan banyak dari karya-karyanya ditulis dalam bentuk dialog yang menampilkan Socrates sebagai karakter utama. Kematian Socrates karena dihukum mati oleh negara mempengaruhi pandangan filosofis Plato.

4. Plato mendirikan Akademi di Athena sekitar tahun 387 SM, yang dianggap sebagai universitas pertama di dunia Barat. Akademi ini menjadi pusat pendidikan dan penelitian selama hampir 900 tahun.

5. Salah satu konsep filosofis paling terkenal dari Plato adalah Theory of Forms atau Teori Bentuk, yang menyatakan bahwa dunia materi hanyalah bayangan atau representasi dari dunia ide yang lebih tinggi dan lebih murni.

6. Plato menulis sekitar 36 dialog filosofis dan 13 surat, meskipun keaslian beberapa surat diperdebatkan. Dialog-dialog ini mencakup berbagai topik, termasuk etika, politik, epistemologi, dan metafisika.

7. Salah satu karya terbesar Plato adalah Republik (Politeia), di mana ia mengeksplorasi konsep keadilan dan merumuskan visinya tentang negara yang ideal, dipimpin oleh para Raja-Filsuf yang bijaksana.

8. Dalam Republik, Plato memperkenalkan Allegory of the Cave atau Metafora Gua, yang menggambarkan manusia yang hidup dalam kegelapan dan hanya melihat bayangan, sebagai metafora untuk kebodohan dan ketidaktahuan.

9. Plato adalah guru dari Aristoteles, yang kemudian menjadi salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah. Meski murid-muridnya, Aristoteles mengembangkan pandangan yang berbeda dalam banyak aspek, terutama dalam hal metafisika.

10. Plato melakukan perjalanan ke Italia dan Mesir, di mana ia belajar lebih banyak tentang filsafat dan sistem pemerintahan. Pengalaman ini mempengaruhi pemikirannya, terutama dalam kaitannya dengan ilmu matematika dan politik.

11. Plato percaya bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga bagian: rasional, semangat (thumos), dan nafsu. Konsep ini dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya, Aristoteles.

12. Dalam dialog Phaedo, Plato membahas keabadian jiwa dan argumen untuk kehidupan setelah kematian, di mana ia memaparkan konsep bahwa jiwa tidak pernah mati tetapi mengalami siklus reinkarnasi.

13. Istilah cinta platonis berasal dari pemikiran Plato tentang cinta dalam dialog Symposium, di mana ia menggambarkan cinta sebagai bentuk cinta yang lebih tinggi dan tidak berorientasi fisik, melainkan cinta terhadap ide dan kebaikan.

14. Plato sangat kritis terhadap demokrasi Athena yang dia anggap sebagai sistem yang mudah dimanip**asi oleh orator pandai dan orang-orang yang kurang pengetahuan. Pengalaman kematian Socrates mungkin berkontribusi pada pandangannya ini.

15. Dalam Timaeus, Plato membahas teori tentang asal mula alam semesta dan struktur alam semesta yang dibangun dari empat elemen dasar: tanah, air, udara, dan api.

16. Ada beberapa karya Plato yang diketahui pernah ada tetapi hilang seiring waktu. Salah satunya adalah Hermocrates, yang merupakan bagian dari trilogi dengan Timaeus dan Critias.

17. Plato percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai keadilan dan kebijaksanaan, dan dalam Republik, ia menyusun kurikulum yang ketat untuk melatih calon pemimpin.

18. Karya Plato diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh para sarjana Muslim pada Zaman Keemasan Islam, dan pemikirannya memengaruhi filsafat Islam dan Barat.

19. Dialog Laws adalah salah satu karya terakhir Plato yang membahas konsep hukum dan tatanan dalam masyarakat. Berbeda dengan Republik, Laws lebih praktis dalam pendekatannya terhadap politik dan tata kelola.

20. Meskipun Plato telah meninggal sekitar 347 SM, pemikirannya tetap hidup dan menjadi fondasi bagi filsafat Barat, memengaruhi berbagai bidang studi hingga saat ini, termasuk filsafat, politik, teologi, dan ilmu pengetahuan.

04/10/2024

🙏🙏

22/08/2024

The question echoes, a timeless refrain,
"Does God exist?" with doubt and pain,
But I stand firm, with heart aflame,
"Yes, He exists," and I proclaim.

You seek proof, a tangible sign,
But I am the evidence, divine,
My existence a testament, a living creed,
For if I am, then He indeed proceeds.

In self-awareness, we all confess,
Our own existence, we cannot repress,
If I and you, with consciousness ablaze,
Then in our being, His presence sways.

I am the proof, a living, breathing soul,
A reflection of the Divine, made whole,
In my existence, His existence shines,
A mirror to the Infinite, that's truly divine.

18/08/2022

“Invisible threads are the strongest ties.”

― Friedrich Nietzsche

[ Art • “Universa Mysterium” by Santiago Caruso ]

Want your school to be the top-listed School/college?

Website