30/06/2021
KEISLAMANHIKMAH
Gus Baha: Teori Hijrah Secara Fisik Itu Sudah Selesai
Oleh
Rifa'atul Mahmudah
22 November 2020
Hijrah beberapa tahun ini menjadi fenomena yang gandrungi oleh sebagian Muslim urban di Indonesia. Kebangkitan kesadaran terhadap identitas keislaman didasari oleh pesatnya arus modernitas yang berimplikasi kepada kegersangan spiritualitas di perkotaan. Maka, tak heran jika akan banyak dijumpai komunitas dan festival-festival hijrah yang menjamur di beberapa kota besar. Bahkan, yang menjadikan daya tarik bagi kaum milenial adalah penyelenggara atau anggota komunitas ini berasal dari kalangan artis.
Namun, apakah sejatinya hijrah itu hanya persoalan perpindahan busana, merk kosmetik yang dipakai, dan komunitas yang diikuti? Gus Baha, sapaan akrab kiai dengan nama lengkap KH. Bahauddin Nursalim dalam rekaman pengajian beliau di channel Santri Gayeng, menjelaskan terkait hijrah ini. Di tengah-tengah pengajian Tafsir Jalalain QS. Al-Hajj 57-70, Gus Baha menuturkan bahwa setelah era fathu Mekkah (10 Ramadhan tahun ke-10 atau di saat Nabi Saw umur 63 tahun) Nabi Saw bersabda:
لاَ هِجْرَةَ بعدَ الفَتْحِ ولكِنْ جِهادٌ ونيةٌ
“Sekarang tidak ada hijrah. Usai hijrah secara fisik, hijrah sudah ditutup. Yang ada adalah niat dan jihad (berjuang).”
Setelah itu, Nabi Saw bersabda lagi:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسلِمون مِن لِسَانِهِ وَيَدِهِ. وَالمُهاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang Islam adalah orang yang orang Islam lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Muhajir (orang yang hijrah)––setelah era fathu Mekkah––adalah orang yang mau meninggalkan larangan Allah.”
Setelah Fathul Makkah, yang disebut sebagai muhajir adalah orang yang meninggalkan larangan Allah Swt. Jika teorinya itu meninggalkan daerah buruk menuju daerah yang lebih baik, terdapat perbedaan pendapat di antara ulama. Ikhtilaf ulama yang pertama adalah jika seseorang hidup di negara yang tidak prospek, maka boleh pindah ke tempat yang menjadikannya nyaman beribadah. Sebagaimana cont