07/05/2026
Menjemput Berkah di Sukodono: Saat "Santri Gubuk" Bertemu dalam Balutan Rindu
SUKODONO – Ada pemandangan yang menggetarkan hati dalam pertemuan rutin alumni Pondok Pesantren Nurul Istiqomah (Nurist) wilayah Sukodono baru-baru ini. Di antara deretan wajah-wajah muda, tampak hadir para alumni sepuh angkatan pertama. Mereka adalah saksi hidup sejarah, para santri yang pernah mereguk langsung tetesan ilmu dari Sang Muasis, Al-Maghfurlah Al-Arif Billah Kyai Faqih Kholili Rahimahullah.
Hadirnya para sesepuh ini seolah menarik mundur garis waktu, membawa suasana pertemuan menjadi majelis yang penuh takzim sekaligus penuh kehangatan emosional.
Nostalgia meledak saat Kyai Yahya Assyarifi mulai melempar kenangan bersama para alumni senior. Gelak tawa mewarnai cerita tentang asrama masa lalu yang jauh dari kata mewah. Kala itu, tempat bernaung para santri hanyalah bangunan sederhana berbahan bambu dengan dinding gedek (anyaman bambu).
Namun, bagi komunitas Nurist, anyaman bambu bukan sekadar kenangan tentang keterbatasan fisik. Di balik celah-celah dinding yang kerap dilewati angin malam itulah, pondasi karakter Zuhud dipahat. Pendidikan salaf di Nurist menekankan bahwa martabat seorang hamba tidak diukur dari fasilitas yang ia miliki, melainkan dari ketangguhan batin yang senantiasa terhubung dengan Sang Khaliq. Kesederhanaan inilah yang kemudian mengkristal menjadi jati diri alumni Nurist: tangguh, rendah hati, dan tidak mudah silau oleh gemerlap dunia.
Kedekatan antara beliau, Bindereh Simin, dengan para "Santri Gubuk" ini menciptakan suasana yang begitu cair. Tak heran jika obrolan terus mengalir hingga pukul 22.45 WIB tanpa menyisakan rasa jemu sedikit pun.
Bekerja adalah Jihad, Adab adalah Identitas
Di tengah suasana santai tersebut, Kyai Yahya Assyarifi menyelipkan pesan mendalam yang dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali:
"Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban (ibadah) yang lain."
Pesan ini menjadi kompas bagi para alum