01/13/2026
Rombongan jamaah dari Asia Selatan membuat saya terpental lagi ke lingkaran luar tawaf.
Matahari semakin naik, adzan dhuhur akan berkumandang satu-setengah jam lagi. Perempuan-perempuan yang melaksanakan tawaf mulai undur diri.
Pelataran ka'bah bebas dari jamaah perempuan, di kelima sholat wajib. Bagi perempuan yang mau melaksanakan shalat wajib, diberikan area tepat di sekeliling pelataran. Teduh dari terik panas.
Pun masih ada area lain yang masih menjadi bagian dari Masjidil Haram, masih luas.
Tiba saatnya saya mulai menerobos masuk lagi. Kebanyakan yang tawaf sekarang adalah laki-laki.
Singkat cerita, saya berhasil masuk di lingkaran dalam. Hanya sekitar 5 meter dari Ka'bah.
Di depan Ka'bah persis, jamaah pria sudah berdecak pinggang - menggandeng dan mengunci tangan satu sama lain membentuk shaf shalat.
Ini menandakan bahwa shaf tersebut sudah 'diamankan'. Jamaah yang masih tawaf harus menghindar atau memutar, karena orang yang sudah mengunci shaf depan tidak akan mau berpindah atau bergeming sedikitpun.
Bahkan rela adu kuat-kuatan 'body' demi mempertahankan posisi itu.
Saya menempati shaf ketiga.
"Yaa akhi, let's lock our hand." Rekan di samping kanan saya, asal Albania, memberikan arahan untuk mempertahankan barisan.
Hingga shaf belakang kami terisi, posisi kami insyaallah sudah aman.
Kecuali jika Askar (polisi Makkah) meminta untuk pindah. Seperti apa yang dirasakan jamaah yang menduduki pelataran di hadapan Imam Shalat.
Askar menarik tali merah dari sisi kanan Hajar Aswad ditarik menuju ke belakang, ke arah imam shalat. Area ini perlu dikosongkan dari jamaah.
Saya baru tahu, ternyata Imam Shalat di Makkah tidak memimpin di depan Ka'bah persis, melainkan di belakang pelataran. Di dalam bangunan.