12/10/2016
Sahabatku yang kukasihi
Perhatikanlah perbualan beriiut dengan teliti :
Seorang anak lelaki itu wataknya buruk. S**a sekali dia berkelahi dengan teman-teman segenerasinya. Oleh itu pada suatu hari ayahnya, dia diberi sekantung penuh paku.
Berkata ayahnya “Nak, tanamkan sebatang paku setiap kali engkau kehilangan kesabaran. Tanamkan ini di tiang pagar itu,” pesan si ayah.
Di hari pertamanya, anak tadi memaku 37 batang di pagar. Di waktu Maghrib, dia terkejut sendiri. “Sebanyak itukah aku marah dalam sehari?” benaknya keheranan hampir tak percaya.
Saban hari berikutnya, dia belajar untuk menahan diri sehingga jumlah paku yang dia tancapkan berkurang hari demi hari.
Lama-lama dia memahami bahwa sabar dan menahan diri itu justru lebih mudah daripada menancapkan sebatang paku di pagar.
Dan akhirnya tibalah hari dimana dia tak memaku sebatang paku pun. Dengan bangga dia berkata, “Ayah, hari ini tidak satu pun paku yang aku pakai.”
Sang ayah lalu menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap kali dia berhasil menahan diri/bersabar.
Hari-hari berlalu hingga akhirnya semua paku yang tertancap di pagar itu tercerabut bersih.
Kemudian, “Ayah, tidak ada lagi paku yang akan kucabut dari pagar itu,” lontar si anak dengan bangga.
Ayahnya tersenyum kecil. Dia mengajak si anak ke pagar itu dan berkata, “Anakku, kamu sudah berlaku baik… Tapi tengoklah… lihatlah betapa banyak lubang yang ada di pagar ini…”
“Anakku… pagar ini tidak akan kembali cantik seperti semula. Setiap kali engkau bertengkar, apalagi sampai menghinakan orang lain, setiap itu p**a engkau meninggalkan luka di hatinya, bagai lubang yang ada di pagar ini… Ya... ibarat engkau mengnusukkan pisau di dada seseorang… walaupun dicabut pun pisau itu, tetap saja ada luka yang ditinggalkannya…”
Si ayah melanjutkan dengan pelan, “Anakku… tak peduli berapa kali engkau meminta maaf dan menyesali perbuatanmu menyakiti orang lain, engkau tetap meninggalkan luka di hatinya. Luka di hati lebih perih dari luka di badan, anakku… Maka jangan engkau menambah jumlah orang yang engkau lukai.”
----------------------
Ya… begitulah, sebab persahabatan itu ibarat kesehatan, kita akan merasakan betapa penting kehadirannya ketika kita sedang kehilangannya.
Kawan itu senang dicari,tetapi sahabat itu terlalu sukar untuk dijumpai. Sahabat adalah seorang teman yang mana dia akan bergembira dengan kegembiraan temannya,dan dia akan bersedih dengan kesedihan temannya.
Marilah kita membangun persahabatan yang saling membimbing, saling merangkul, saling mengingatkan, saling menghargai...jauhkanlah daripada sifat hasad dan dengki antara sahabat/keluarga, kerana ia akan memakan segala kebajikan kita sepertimana api memakan kayu-kayu bakarnya.
Sahabat yang tidak saja mendengar apa yang diucapkan, tetapi sahabat yang juga mendengar apa yang tidak terkatakan.
Sepertimana yang disabdakan oleh Baginda Muhammad SAW "akan terdapat tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah swt di hari Kiamat nanti, hari dimana Tidak Ada Naungan Kecuali naungan Allah swt" .. dan salah satu dari 7 golongan tersebut adalah " dua orang sahabat yang saling berjumpa dan berpisah Hanya kerana Allah swt semata-mata"
Begitu besar nilai persahabatan tersebut hinggakan Allah swt janji untuk memberikan Naungan di bawah panas teriknya matahari pada Hari tersebut kepada dua orang yang bersahabat bukan dengan matlamat untuk mendapatkan kemegahan,kekayaan serta kesenangan sahabatnya..tetapi Hanya kerana Allah swt semata-mata !
Semoga Allah senantiasa menaungi kita dengan rahmat dan hidayahNya dalam menjalani kehidupan keseharian dan memberkati persahabatan kita sesama Amin Ya Rabbal A'lamin...