26/11/2025
Kalimat "hari ini banyak orang tua menjadikan anaknya seperti raja, lihat saja 20 tahun lagi negara ini diurus mantan anak manja" sebenarnya bukan sekadar keresahan personal. Namun telah menjadi gejala budaya. Sebuah alarm halus tentang bagaimana satu generasi dibentuk, dan bagaimana generasi itu kelak akan membentuk bangsa.
Dan menariknya, keresahan ini sejalan dengan kritik tajam almarhum Prof. Malik Badri, bapak Psikologi Islam modern. Beliau pernah bercerita tentang seorang ayah yang menghukum anaknya karena berlaku tidak sopan pada ibunya.
Profesor Amerika menganjurkan sang ayah bersikap lebih permisif karena kalau tidak anak manja itu akan menderita neurosis nantinya. Sang profesor membuat si ayah muda merasa bersalah gara-gara telah menghukum anaknya yang telah berlaku tidak sopan pada ibunya.
Ayah itu pulang dengan rasa bersalah, bukan karena ia telah berbuat zalim,
tapi karena standar kebenaran yang ia yakini selama ini dirampas oleh "otoritas psikologi modern".
Kapan anak diperlakukan sebagai Raja? Usia balita hingga tamyiz, biasanya maks 7 tahun.
Setelahnya? Sebagai budak/tawanan.
Itulah mengapa di Malaysia, anak-anak disebutnya "budak-budak."
Malik Badri mengkritik keras pandangan semacam ini.
Sebab jika worldview Barat dijadikan kiblat, maka:
anak manja harus dilestarikan,
batasan harus dilonggarkan,
orangtua harus selalu lembut tanpa syarat,
dan anak harus selalu nyaman.
Lalu kita heran, mengapa banyak remaja yang tumbuh rapuh, egois, tidak tahan tekanan, dan kehilangan adab dasar.
Kata Prof. Malik Badri,
"Saya selalu mengatakan kepada teman-teman yang penuh semangat mempelajari psikologi anak modern—terutama yang hidup di lingkungan Barat atau masyarakat Islam yang sudah sangat ter-Baratkan. Kalau Anda ingin anak-anak Anda tumbuh seperti remaja dalam film-film Amerika, meletakkan kaki di meja ketika bicara dengan Anda,
membantah tanpa rasa bersalah,
hidup dengan pola 'my freedom, my choice'
dan kelak menitipkan Anda di panti jompo—
maka ikutilah psikologi anak versi Amerika itu tanpa kritik.
Tapi jika kita masih menghargai firman Allah,
masih percaya bahwa adab mendahului ilmu,
dan masih meyakini bahwa anak adalah amanah bukan pusat orbit keluarga,
maka kita harus kembali membuka ayat-ayatNya."
Lihat bagaimana Al-Qur’an menggambarkan posisi orang tua,
bagaimana anak diperintahkan berkata qawlan karīman,
bagaimana ketaatan, kesantunan, dan penghormatan bukan "opsi",
melainkan bagian dari struktur ruhani manusia.
Prof. Malik Badri bahkan menutup kritikannya dengan mengingatkan ayat-ayat Al-Ahqaf, tentang anak yang berdoa agar dikuatkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.
Ayat yang di dunia Barat dianggap "opresif terhadap otonomi anak",
tapi dalam worldview Islam adalah landasan peradaban.
Well,
Kita memang sedang menuju masa di mana banyak anak dididik menjadi "raja kecil" padahal usianya sudah lebih dari 7 tahun.
Tidak boleh kecewa, tidak boleh ditegur, tidak boleh dibebani tugas,
dan tidak boleh diperintahkan menghormati.
Lalu ketika ia memasuki dewasa, ia bingung.
Hidup kok keras, bos kok menuntut, dunia kok tak memanjakan? Lingkungan kerja menuntut profesionalisme, dibilangnya "toxic."
Sebab sejak kecil ia dibentuk dengan paradigma semu bahwa DUNIA BERKEWAJIBAN MEMBUATNYA NYAMAN.
Komentar itu benar: bangsa ini akan diurus oleh generasi yang kita bentuk hari ini.
Jika anak dibesarkan sebagai raja padahal usianya tak lagi balita,
ia akan tumbuh ingin memerintah tanpa mau melayani.
Jika anak dibesarkan tanpa disiplin,
ia akan gagal memimpin dirinya sebelum memimpin bangsa.
Dan jika orang tua lebih takut anak "mental drop" daripada takut anak kehilangan adab,
maka tinggal tunggu waktu sebelum rumah-rumah dan akhirnya negara dipimpin oleh "mantan anak manja".
Mendidik anak bukan soal memilih "keras" atau "lembut",
tetapi memilih worldview mana yang membentuk standar benar-salah dalam pengasuhan. Keras dan lembut kadang mesti dipakai dua-duanya.
Dan muslim mestinya tahu.
Kita memiliki standar dari Yang Maha Kuasa dan Maha Mengenal CiptaanNya, bukan dari Hollywood.