10/03/2026
https://youtu.be/BGu8aZlFn7Q?si=hxkGpyKrSvISA4yw
Juara 2 Tilawah Festival Ramadhan Gugus Kinabatangan 2026
Deskripsi Kegiatan: Festival Ramadhan Gugus KinabatanganFestival Ramadhan Gugus Kinabatangan merupakan kegiatan keagamaan yang diselenggarakan dalam rangka m...
08/03/2026
Alhamdulillah ada yang di bawa pulang ke Gerola, Terimakasih anak-anak hebat sudah berjuang 👏👏👏
08/03/2026
Festival Ramadhan Gugus Kinabatangan 2026
26/11/2025
Kalimat "hari ini banyak orang tua menjadikan anaknya seperti raja, lihat saja 20 tahun lagi negara ini diurus mantan anak manja" sebenarnya bukan sekadar keresahan personal. Namun telah menjadi gejala budaya. Sebuah alarm halus tentang bagaimana satu generasi dibentuk, dan bagaimana generasi itu kelak akan membentuk bangsa.
Dan menariknya, keresahan ini sejalan dengan kritik tajam almarhum Prof. Malik Badri, bapak Psikologi Islam modern. Beliau pernah bercerita tentang seorang ayah yang menghukum anaknya karena berlaku tidak sopan pada ibunya.
Profesor Amerika menganjurkan sang ayah bersikap lebih permisif karena kalau tidak anak manja itu akan menderita neurosis nantinya. Sang profesor membuat si ayah muda merasa bersalah gara-gara telah menghukum anaknya yang telah berlaku tidak sopan pada ibunya.
Ayah itu pulang dengan rasa bersalah, bukan karena ia telah berbuat zalim,
tapi karena standar kebenaran yang ia yakini selama ini dirampas oleh "otoritas psikologi modern".
Kapan anak diperlakukan sebagai Raja? Usia balita hingga tamyiz, biasanya maks 7 tahun.
Setelahnya? Sebagai budak/tawanan.
Itulah mengapa di Malaysia, anak-anak disebutnya "budak-budak."
Malik Badri mengkritik keras pandangan semacam ini.
Sebab jika worldview Barat dijadikan kiblat, maka:
anak manja harus dilestarikan,
batasan harus dilonggarkan,
orangtua harus selalu lembut tanpa syarat,
dan anak harus selalu nyaman.
Lalu kita heran, mengapa banyak remaja yang tumbuh rapuh, egois, tidak tahan tekanan, dan kehilangan adab dasar.
Kata Prof. Malik Badri,
"Saya selalu mengatakan kepada teman-teman yang penuh semangat mempelajari psikologi anak modern—terutama yang hidup di lingkungan Barat atau masyarakat Islam yang sudah sangat ter-Baratkan. Kalau Anda ingin anak-anak Anda tumbuh seperti remaja dalam film-film Amerika, meletakkan kaki di meja ketika bicara dengan Anda,
membantah tanpa rasa bersalah,
hidup dengan pola 'my freedom, my choice'
dan kelak menitipkan Anda di panti jompo—
maka ikutilah psikologi anak versi Amerika itu tanpa kritik.
Tapi jika kita masih menghargai firman Allah,
masih percaya bahwa adab mendahului ilmu,
dan masih meyakini bahwa anak adalah amanah bukan pusat orbit keluarga,
maka kita harus kembali membuka ayat-ayatNya."
Lihat bagaimana Al-Qur’an menggambarkan posisi orang tua,
bagaimana anak diperintahkan berkata qawlan karīman,
bagaimana ketaatan, kesantunan, dan penghormatan bukan "opsi",
melainkan bagian dari struktur ruhani manusia.
Prof. Malik Badri bahkan menutup kritikannya dengan mengingatkan ayat-ayat Al-Ahqaf, tentang anak yang berdoa agar dikuatkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.
Ayat yang di dunia Barat dianggap "opresif terhadap otonomi anak",
tapi dalam worldview Islam adalah landasan peradaban.
Well,
Kita memang sedang menuju masa di mana banyak anak dididik menjadi "raja kecil" padahal usianya sudah lebih dari 7 tahun.
Tidak boleh kecewa, tidak boleh ditegur, tidak boleh dibebani tugas,
dan tidak boleh diperintahkan menghormati.
Lalu ketika ia memasuki dewasa, ia bingung.
Hidup kok keras, bos kok menuntut, dunia kok tak memanjakan? Lingkungan kerja menuntut profesionalisme, dibilangnya "toxic."
Sebab sejak kecil ia dibentuk dengan paradigma semu bahwa DUNIA BERKEWAJIBAN MEMBUATNYA NYAMAN.
Komentar itu benar: bangsa ini akan diurus oleh generasi yang kita bentuk hari ini.
Jika anak dibesarkan sebagai raja padahal usianya tak lagi balita,
ia akan tumbuh ingin memerintah tanpa mau melayani.
Jika anak dibesarkan tanpa disiplin,
ia akan gagal memimpin dirinya sebelum memimpin bangsa.
Dan jika orang tua lebih takut anak "mental drop" daripada takut anak kehilangan adab,
maka tinggal tunggu waktu sebelum rumah-rumah dan akhirnya negara dipimpin oleh "mantan anak manja".
Mendidik anak bukan soal memilih "keras" atau "lembut",
tetapi memilih worldview mana yang membentuk standar benar-salah dalam pengasuhan. Keras dan lembut kadang mesti dipakai dua-duanya.
Dan muslim mestinya tahu.
Kita memiliki standar dari Yang Maha Kuasa dan Maha Mengenal CiptaanNya, bukan dari Hollywood.
15/11/2025
“Mengapa Sekolah Tidak Bisa Kerja Sendiri? Peran Orangtua yang Sering Terlupakan”
Kadang kita lupa bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah.
Guru bisa mengajar, membimbing, dan menanamkan nilai…
tapi tanpa dukungan rumah, semua itu mudah hilang di tengah perjalanan anak.
Anak belajar paling kuat dari dua tempat:
🏫 Sekolah — tempat ilmu diberikan
🏡 Rumah — tempat karakter dibentuk
Bila salah satu tidak hadir, anak berjalan pincang.
Tugas sekolah adalah membukakan jendela pengetahuan,
tapi tugas orangtua adalah menguatkan pondasinya:
✨ Mengingatkan disiplin
✨ Menanamkan sopan santun
✨ Mengawasi pergaulan
✨ Mendukung proses belajar
✨ Mengajarkan tanggung jawab
Pendidikan akan berhasil bila sekolah dan rumah saling menggenggam tangan.
Karena masa depan anak tidak hanya dibangun oleh guru—
tetapi oleh keluarga yang mau berjalan bersama.
Mari hadir, bukan sekadar berharap.
Mari terlibat, bukan hanya menuntut.
13/11/2025
🧠“Sekolah Hebat Tercipta Saat Guru, Orang Tua, dan Murid Saling Mendengar”
Sering kali kita berpikir bahwa sekolah hebat lahir dari fasilitas megah, teknologi canggih, atau program-program baru.
Padahal, fondasi sesungguhnya jauh lebih sederhana dan jauh lebih manusiawi: kemauan untuk saling mendengar.
Guru butuh didengar agar bisa mengajar dengan tenang.
Orang tua butuh didengar agar bisa percaya pada sekolah.
Murid butuh didengar agar berani berkembang tanpa takut salah.
Ketika guru berbicara, orang tua mendengarkan.
Ketika orang tua menyampaikan keresahan, sekolah membuka pintu dialog.
Ketika murid mencoba mengungkapkan perasaannya, semua orang mau berhenti sejenak untuk memahami.
🌿 Di situlah sekolah hebat terbentuk —
bukan melalui instruksi satu arah,
tetapi melalui hubungan yang tumbuh dari empati dan keterbukaan.
Karena pendidikan bukan perkara siapa yang paling benar,
tapi siapa yang paling mau saling mendengar.
12/11/2025
👣 Anak Butuh Dua Sayap: Guru di Sekolah, Orang Tua di Rumah
1. Guru membentuk pengetahuan, orang tua menanamkan kebiasaan.
Pendidikan tidak berhenti di gerbang sekolah — keduanya harus berlanjut di rumah.
2. Anak belajar nilai bukan hanya dari kata, tapi dari teladan.
Saat guru dan orang tua menunjukkan kesamaan sikap, anak belajar konsistensi.
3. Komunikasi dua arah itu penting.
Jangan hanya guru yang melapor, tapi orang tua juga perlu berbagi cerita tentang anak di rumah.
4. Hargai peran masing-masing.
Guru tak bisa menggantikan peran orang tua, begitu pun sebaliknya. Sinergi itulah yang menumbuhkan karakter anak.
5. Ketika keduanya bersatu, anak tumbuh seimbang.
Satu sayap tak bisa membuat burung terbang tinggi — dibutuhkan dua untuk mencapai langit harapan.
13/08/2025
Semarak Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80