14/09/2017
ada sesuatu mengganjal dihati begitu berhadapan dengan raksasa yang dingin itu. tubuhnya yang mulai rapuh dimakan usia membuat hatiku sedikit pilu. debu dan kotoran yang menyelimutinya menambah kepedihan hati ini.
dulu -dulu sekali- keagungannyalah yang pertama kali menyapa disaat fajar. dia pulalah yang mengantar ketika larut malam. namun kini, senyumannya telah pudar. tak ada lagi kehangatan yang dipancarkannya. dia telah lama tenggelam dalam kesunyian. berkubang dalam kesenyapan. menyedihkan.
apa yang harus dilakukannya? marah? marah pada siapa? bukankah ini semua takdir? takdirnya untuk tetap berdiri kokoh disana. menantikan keajaiban. berdoa dan berharap akan kembalinya kenangan masa lalu. senyuman, sapaan, gurauan, serta tawa hangat.
*memandang gerbang SAC yang walau kecantikannya telah pudar, tulang-tulang besinya telah rapuh, dan gaun indahnya telah pudar, tetap berdiri dengan gagahnya.