05/02/2025
Beneran Atau "Seakan"?
Oleh: Muhammad Fatan Ariful Ulum
Saya dulu punya rekan kuliah yang mendapatkan nilai A dalam sebuah mata kuliah. Karena itulah, ketika menghadapi kesulitan di mata kuliah tersebut, teman ini yang menjadi tempat bertanya. Akan tetapi, bukan penjelasan yang saya dapatkan, tetapi sebuah jawaban yang mengejutkan. "Sudah lupa. Kan aku sudah lulus dari mata kuliah tersebut".
Tanpa kita sadari, banyak di antara kita yang belajar bukan karena belajar itu sendiri, tetapi karena hal lain. Sehingga ketika kita mendapatkan nilai bagus di suatu pelajaran, tidak berarti kita memahami pelajaran tersebut. Kita "seakan" pintar dan paham, tapi sebenarnya kita tidak benar-benar paham apa yang kita pelajari.
Di sinilah, peran _external motivation_ yang kian kuat cenderung "merusak" kecintaan belajar anak. Merusak "motif" atau alasannya untuk benar-benar belajar, yang akan menjadikannya beneran pintar. Bukan hanya "seakan".
Untuk itulah, mendorong anak untuk terus berusaha meskipun awalnya belum bisa, akan sangat menentukan keberhasilan belajarnya. Anak yang terus berusaha memahami apa yang sedang dia pelajari, mengulang-ulang hingga paham, akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk berhasil dalam belajar. Semakin dia menikmatinya, semakin terasa "mudah" baginya menjalani proses belajar.
Oleh karena itu, orang tua di rumah, begitu p**a para guru di sekolah, perlu menguatkan tekad anak untuk terus berusaha. Bukan hasil yang dipentingkan, tetapi kemauan untuk terus mencoba dan mencoba. Tidak langsung paham, apalagi materi yang dipelajari merupakan hal yang baru, adalah normal. Yang penting, anak mau untuk terus belajar memahaminya.
Di saat yang sama, merasakan "lezatnya" belajar, perlu kita fasilitasi. Oleh karena itu, memberikan kesempatan anak untuk bermain, akan membantu anak untuk menikmati belajar. Apalagi bermain yang berkaitan dengan materi pelajaran. Bagi anak, bermain itu sendiri adalah proses belajar.