01/08/2026
Bikin hoax mulu kerjaannya.
Salah satu stigma yang hingga kini masih melekat pada agama Kristen di Indonesia adalah cap sebagai "agama penjajah". Stigma ini bukan muncul tanpa alasan. Penyebaran agama Kristen dalam skala besar memang berlangsung bersamaan dengan ekspansi Portugis dan Belanda ke Nusantara.
Resah akan aib sejarah, Kalangan Kristen berusaha mencari-cari jawaban, bahwa agama mereka datang ke Nusantara bukanlah “datang menjajah”, mereka mengklaim bahwa Kekristenan pertama kali datang di Barus abad ke 7 Masehi, sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam ataupun penjajah Spanyol di Nusantara.
Kalau narasi ini benar, tentu cap "agama penjajah" menjadi sulit dipertahankan.
Sekilas, klaim itu tampak sangat kuat.
Buku sejarah gereja mengutipnya. Jurnal ilmiah mengulanginya. Skripsi, tesis, disertasi, hingga mbah google pun menyebut hal yang sama.
Akhirnya muncul kesan, seolah-olah ada begitu banyak bukti yang berdiri sendiri.
Tetapi benarkah demikian?
Ketika jejak kutipan itu ditelusuri, jawabannya justru mengejutkan.
Satu demi satu referensi diperiksa. Dari buku berpindah ke jurnal. Dari jurnal menuju tulisan yang lebih lama. Dari tulisan yang lebih lama kembali kepada rujukan sebelumnya.
Dan ujungnya selalu sama.
Sebagian besar , pasti dan pasti berhenti pada satu nama, yakni Pastor Y. Bakker, SJ.
Dalam bukunya Umat Katolik Perintis di Indonesia, dan majalah berjudul “Gereja Tertua di Indonesia” yang dimuat di Majalah Basis No. 18 (1969) hlm. 261-265 Bakker mengutip manuskrip Abu Shalih sebagai berikut:
"Fansur: Di sana terdapat banyak gereja dan semuanya adalah dari Nasarthirah... Dari situ berasal kapur Barus... Dalam kota itu terdapat satu gereja bernama Bunda Perawan Murni Maria."
Terjemahan inilah yang kemudian dikutip lagi dan dikutip lagi. Dari satu buku berpindah ke buku lain. Dari satu artikel masuk ke jurnal. Dari jurnal menjadi rujukan skripsi, tesis, dan disertasi.
Lalu timbul pertanyaan yang lebih penting.
Apakah terjemahan Pastor Y. Bakker memang sama dengan isi manuskrip yang ia jadikan rujukan?
Ketika kembali membuka terjemahan resmi B.T.A. Evetts terhadap manuskrip Abu Shalih, manuskrip Abu Shalih, ternyata bunyinya berbeda:
"Fahsûr. Here there are several churches; and all the Christians here are Nestorians... It is from this place that camphor comes... In this town there is one church named after our Lady, the Pure Virgin Mary."
(B.T.A. Evetts (ed.), The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Shalih, the Armenian, Oxford, 1895, hlm. 300).
Jika kedua kutipan itu dibandingkan, segera tampak beberapa perbedaan penting.
- Fahsûr berubah menjadi Fansur.
- Camphor (al-kafur) diterjemahkan menjadi kapur Barus.
Padahal, penyunting edisi tersebut, A.J. Butler, justru memberikan catatan yang berbeda. Ia menulis:
"So the word is written in the manuscript. I can only conjecture that it may be a clerical error for Mansur... or Mansurah, a country in north-west India at the mouth of the Indus. This country was particularly famous among the Arabs for camphor."
Dengan kata lain, Butler tidak mengidentifikasi Fahsûr sebagai Barus di Sumatra. Sebaliknya, ia menduga nama itu merujuk kepada Mansur (Mansurah) di kawasan barat laut India, sebuah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai penghasil kamper.
Itu kata pentahqiq naskah aslinya loh.
Kalau Anda masih ragu bahwa yang sedang dibahas Abu Shalih adalah kawasan India, cobalah buka sendiri konteks manuskripnya, bukan hanya membaca satu paragraf yang sering dikutip.
Di dalam manuskrip tersebut, Abu Shalih terlebih dahulu membahas kota-kota di India, termasuk Kulam (Quilon, Travancore). Setelah itu barulah muncul nama Fahsûr. Dan setelah pembahasan Fahsûr selesai, manuskrip langsung beralih ke Yaman.
Urutan ini penting. Sebab, akan terasa janggal jika di tengah-tengah pembahasan tentang India, Abu Shalih tiba-tiba melompat membahas Barus di Sumatra,
Jadi jelas, Fahsur ini di India secara perikop bukunya.
Dan akhirnya, Apakah ini sekadar kekeliruan penerjemahan, kesalahan identifikasi, atau penafsiran yang kemudian diterima begitu saja, biarlah pembaca yang menilainya.
Yang jelas, tanyakan kepada Y. Bakker, SJ. Dan tulisan dialah yang kemudian dikutip terus-menerus oleh banyak penulis. Akibatnya, gara-gara buku dia, dan klaim ini kini berkembang menjadi ratusan kutipan, dan ratusan kutipan itu akhirnya memberi kesan seolah-olah didukung oleh banyak bukti sejarah.
Padahal ora…..
————
Ikuti Ngopidiyyah untuk postingan menarik tiap harinya