Ngopidiyyah

Ngopidiyyah

Share

Belajar agama, sejarah, politik, gak bikin bosan ! Klik “ikuti” biar dapat bacaan menarik tiap harinya !

10/05/2026

1 Menit Membuktikan Kenabian Muhammad

Salah satu tanda kenabian adalah membawa berita ghaib akan kejadian masa depan yang akurat.

Dalam pembahasan tentang kenabian, titik tolaknya harus jelas terlebih dahulu. Persoalannya bukan sekadar apakah suatu prediksi “terjadi” atau “tidak terjadi”,

melainkan: apakah prediksi tersebut berasal dari seseorang yang benar-benar mengaku sebagai nabi, lalu terbukti benar secara konsisten sehingga mustahil dijelaskan hanya dengan tebakan manusia biasa?

Karena itu, seorang Muslim menetapkan premis yang sangat sederhana:

Jika Al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah, maka seluruh pemberitaan gaib di dalamnya pasti benar, sebab Allah tidak mungkin salah.

Sebaliknya, jika terbukti bahwa Al-Qur’an memberikan berita gaib yang keliru dan bertentangan dengan fakta sejarah, maka itu menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan firman Allah.

Dengan demikian, isu nubuwwat sebenarnya adalah isu yang sangat serius. Sebab Al-Qur’an mempertaruhkan dirinya di hadapan sejarah. Ia tidak berbicara dengan bahasa samar yang bisa dipelintir sesuka hati, melainkan memberikan klaim-klaim yang dapat diverifikasi.

Namun perlu dipahami: tidak setiap ramalan layak disebut sebagai bukti kenabian. Sebab manusia biasa pun kadang dapat menebak sesuatu dengan benar berdasarkan intuisi, analisis politik, atau sekadar keberuntungan. Karena itu, para ulama ketika membahas dalil kenabian menetapkan syarat-syarat yang ketat terhadap sebuah nubuwwat agar ia benar-benar layak dijadikan hujjah atas kenabian.

Di antara syarat-syarat tersebut ialah:

* Nubuwwat harus berasal dari seseorang yang memang mengklaim kenabian, bukan dari peramal, dukun, atau analis politik biasa.
* Nubuwwat harus berada di luar ranah dugaan yang mudah ditebak. Sebab perkara-perkara yang bersifat probabilistik terkadang memang dapat diprediksi manusia.
* Nubuwwat harus jelas redaksinya dan tegas maksudnya, bukan kalimat kabur yang dapat ditafsirkan ke banyak arah setelah peristiwa terjadi.
* Pemberitaan nubuwwat harus disampaikan sebelum peristiwa terjadi, bukan ditulis belakangan setelah sejarah berlangsung.
* Nubuwwat harus berjumlah banyak. Sebab satu atau dua tebakan yang benar masih mungkin dijelaskan sebagai kebetulan. Tetapi ketika berita-berita gaib yang benar terus berulang secara konsisten, kemungkinan “kebetulan” menjadi runtuh secara rasional.
* Jika orang yang sama ternyata juga memiliki nubuwwat lain yang gagal atau keliru, maka hal itu menjadi indikasi kuat bahwa nubuwwat yang sebelumnya dianggap benar bisa jadi hanyalah keberuntungan semata. Sebab kebenaran wahyu tidak bercampur dengan kesalahan.

Karena itu, pembahasan kenabian Nabi Muhammad bukan sekadar bertumpu pada satu prediksi tunggal, tetapi pada kumpulan nubuwwat yang banyak, spesifik, konsisten, dan terbukti benar.

Salah satu contohnya adalah nubuwwat dalam awal Surah Ar-Rum.

Allah berfirman:

“Bangsa Romawi telah dikalahkan di negeri yang paling dekat, tetapi setelah kekalahan itu mereka akan kembali menang dalam beberapa tahun. Segala urusan berada di tangan Allah, sebelum dan sesudahnya. Pada hari itu orang-orang beriman akan bergembira atas pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”
— QS. Ar-Rum: 2–5

Ayat ini turun ketika keadaan dua kekuatan digdaya dunia yang saat itu diwakili Romawi berperang berdarah-darah dan panjang melawan Persia 602–628 M

Kondisi saat itu Pasukan Persia Sasaniyah menghancurkan wilayah-wilayah Romawi secara berturut-turut.
Yerusalem jatuh.
Suriah direbut.
Mesir terancam. Bahkan banyak sejarawan menganggap kekaisaran Romawi Timur berada di ambang keruntuhan total.

Bahkan sangking terhinanya, “Salib Suci” atau True Cross—salib yang dipercaya sebagai tempat penyaliban Yesus berhasil di Rampas oleh pasukan Persia.

Bayangkan kiblat Kekristenan dan simbolnya saja sudah diambil.

Kejadian ini jadi peristiwa internasional yang mengguncang dunia saat itu.

“Headline trending topic” Kabar tentang jatuhnya wilayah-wilayah Romawi menyebar dari negeri ke negeri, menjadi bahan pembicaraan para pedagang, penguasa, pengelana, hingga masyarakat umum di pasar-pasar Arab.

Semua analisis manusia mengarah pada satu kesimpulan: Romawi telah tamat.

Dan justru di tengah suasana seperti itulah Al-Qur’an turun dengan pernyataan yang mengejutkan:

“Bangsa Romawi telah dikalahkan… tetapi setelah kekalahan itu mereka akan kembali menang dalam beberapa tahun.”

Kaum Quraisy memahami hal itu. Karena itu ketika ayat tersebut dibacakan, mereka tidak menganggapnya sebagai ucapan aman. Mereka justru menjadikannya bahan ejekan.

Bagi mereka, Muhammad ﷺ sedang mempertaruhkan kebenaran agamanya pada sebuah peristiwa geopolitik yang tampaknya mustahil terjadi. Mereka menertawakan kaum Muslimin karena dianggap mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal.

Namun justru di sinilah letak kekuatan nubuwwat tersebut.

Seandainya Al-Qur’an hanyalah karangan manusia, tentu lebih aman memilih kalimat samar dan ambigu yang bisa diselamatkan dengan berbagai penafsiran. Tetapi Al-Qur’an justru melakukan sebaliknya: ia memberikan prediksi yang jelas, spesifik, dan terikat waktu.

Kata “بِضْعِ سِنِينَ” dalam bahasa Arab menunjukkan rentang antara tiga sampai sembilan tahun. Artinya, Al-Qur’an bukan sekadar berkata “suatu saat Romawi akan bangkit”, melainkan menentukan jangka waktunya.

Ini bukan prediksi yang mudah ditebak. Seluruh indikator politik saat itu justru bergerak ke arah sebaliknya. Karena itu, nubuwwat ini memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya:

* Ia berasal dari seseorang yang mengklaim kenabian.
* Ia diumumkan sebelum peristiwa terjadi.
* Redaksinya jelas.
* Memiliki batas waktu yang spesifik.
* Membahas peristiwa besar yang saat itu tampak mustahil terjadi.
* Dan akhirnya terbukti benar secara historis.

Bahkan sejarawan Barat Edward Gibbon dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire mengakui betapa kecil kemungkinan kemenangan Romawi pada saat nubuwwat itu disampaikan. Ia mengatakan:

“Pada saat nubuwwat ini dikatakan telah disampaikan, tidak ada ramalan yang tampak lebih jauh dari kemungkinan untuk terwujud; sebab dua belas tahun pertama pemerintahan Heraclius justru menunjukkan semakin dekatnya kehancuran kekaisaran.”

"At the time when this prediction is said to have been delivered, no prophecy could be more distant from its accomplishment, since the first twelve years of Heraclius announced the approaching dissolution of the empire."

Edward Gibbon, The Decline and Fall of the Roman Empire, London: Henry G. Bohn, 1854, 5/175

Kaum Quraisy memahami risiko besar ini. Karena itu sebagian riwayat menyebutkan bahwa mereka sampai mengajak taruhan dengan kaum Muslimin. Abu Bakr pun menerima taruhan tersebut dengan penuh keyakinan, sebab ia percaya bahwa apa yang diberitakan Al-Qur’an pasti benar karena berasal dari Allah.

Namun sejarah berjalan sesuai dengan apa yang diberitakan Al-Qur’an. Kaisar Heraclius berhasil membalik keadaan dan memenangkan peperangan melawan Persia, dan mengembalikan wibawa Salib Kristus ke Yerusalem

dalam rentang waktu yang sesuai dengan nubuwwat Al-Qur’an.

Dan akhirnya Abu Bakar berhasil mendapatkan harta yang melimpah dari taruhan melawan kalangan Quraisy.

Karena itu, persoalannya menjadi sangat sederhana:

Jika seseorang secara konsisten memberitakan perkara-perkara gaib yang mustahil ditebak secara manusiawi, lalu seluruhnya terbukti benar tanpa kesalahan, maka sumber informasi tersebut tidak mungkin berasal dari kemampuan manusia biasa.

Dan di sinilah seorang Muslim mengatakan: Al-Qur’an adalah firman Allah, dan Muhammad adalah benar-benar utusan-Nya.

Bagaimana dengan sekte Kristen ?

Jehovah’s Witnesses atau saksi saksi Yehuwa juga berkali-kali membuat prediksi terkait akhir zaman, seperti tahun 1914, 1925, dan 1975, namun seluruh prediksi tersebut gagal terwujud.

Mereka kemudian menafsirkan bahwa kiamat yang terjadi bukan kiamat bumi tapi kiamat batin.

Nabi Mormon, Joseph Smith menubuatkan tentang pembangunan bait suci di Missouri, namun gagal.

Joseph Smith juga menyampaikan nubuat pada tahun 1832 bahwa pemberontakan di South Carolina akan berkembang menjadi perang besar yang melibatkan banyak bangsa. Namun gagal.

Hehe
—-

Ikuti Ngopidiyyah untuk post menarik lainnya

09/05/2026

Baik Islam, Yahudi maupun Kristen sama-sama meyakini bahwa Adam dan Hawa di usir dari Surga karena kesalahannya memakan buah kuldi.

Namun pertanyaannya

Apakah dosa Adam diwariskan kepada seluruh manusia?

disinilah perbedaan ketiga agama ini.

Menurut Kristen, Dosa Nabi Adam itu tidak dimaafkan oleh Tuhan dan justru di wariskan keseluruh keturunannya.

Mereka menganalogikan dengan Gen penyakit.

Jika orang tua membawa mutasi gen tertentu
Maka anak bisa terlahir dengan kondisi yang sama

Dalam konsep ini:

dosa Adam = “kondisi awal manusia”
manusia = lahir sudah membawa kondisi itu
Maka semua manusia berdosa.

Karena seluruh manusia berdosa sejak lahir, maka kemudian muncul pertanyaan:

“Bagaimana manusia bisa kembali kepada Tuhan?.”

Akhirnya, menurut keyakinan Kristen

Tuhan tidak langsung memaafkan,

Tapi Tuhan harus repot repot dulu turun ke muka bumi, keluar dari lewat rahim perawan Maria, menjelma menjadi manusia bernama Yesus, berjalan-jalan, letih bekerja dimuka bumi selama 33 tahun, dan endingnya Yesus “Menumbalkan dirinya” untuk di Salib.

Setelah Yesus sukses di Salib maka seketika itu seluruh dosa Keturunan Adam sirna. Baik dosa waris maupun dosa pribadi.

Dosa pribadi semisal korupsi, mencuri, berzina semua dihapuskan karena sudah ditanggung oleh Yesus.

Sederhananya “Tuhan butuh tumbal manusia untuk dikorbankan.”

Makanya Yesus disebut domba paskah yang disembel1h

Berbeda dengan Islam,

Dalam Islam, Adam setelah diturunkan dibumi senantiasa berdoa kepada Allah

Doa yang sering kita baca

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

QS. Al-A‘raf 7:23

Melihat Adam yang menantiasa menangis selama ratusan tahun, Dan Allah Yang Maha Pengasih iba dan memaafkannya

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

QS. Al-Baqarah 2:37

Artinya, dalam Islam dosa Nabi Adam sudah diampuni.
Karena diampuni sudah tidak butuh lagi penebus dosa.

Sehingga dalam Keyakinan Islam, Nabi Isa atau Yesus tidak di Salib.

Logikanya sederhana.

Bapa yang makan buah asam.
Mustahil gigi anak-anaknya yang ngilu.

Btw, kalau dosa waris saya nggak mau.
Kalau harta waris baru mau.
-
Ikuti Ngopidiyyah agar nggak ketinggalan post menarik lainnya

09/05/2026

1 Menit Buktikan al-Quran bukan Buatan Nabi Muhammad

Orang yang menolak kenabian Muhammad ﷺ pada dasarnya meyakini bahwa Al-Qur’an bukan wahyu dari Tuhan, melainkan berasal dari Nabi Muhammad sendiri. Maka secara sederhana hanya ada dua kemungkinan sebagai dasar penilaian:

• Jika gaya bahasa, kosakata, dan cara ungkap Al-Qur’an sama dengan ucapan Nabi sehari-hari ﷺ, maka itu berarti Al-Qur’an adalah ucapan beliau sendiri.

• Jika gaya bahasa, kosakata, dan cara ungkap Al-Qur’an berbeda secara jelas dari ucapan Nabi ﷺ, maka itu berarti Al-Qur’an bukan berasal dari beliau.

Maka, tidak ada pilihan ketiga.

Lalu apa benar al-Quran sama dari segi gaya bahasa dengan Nabi Muhammad ?

Sebelum kesitu kita perlu paham bahwa Dalam Islam, al-Qur’an adalah murni perkataan Allah, Adapun Nabi hanya menyampaikan.
Sedangkan ucapan Nabi, semuanya terkandung dalam kitab-kitab hadits, misalnya hadits bukhari, muslim dll.

Jadi paham ya bedanya.

Para ahli bahasa kemudian mengkaji perbedaan antara Al-Qur’an dan hadis (ucapan Nabi) Nabi ﷺ, dan hasilnya
Bahwa gaya bahasa al-Qur’an dengan hadits berbeda secara nyata dalam cara memilih kata, menyusun kalimat, dan membentuk gaya bahasa.

Salah satu penelitian perbandingan kosakata antara Al-Qur’an dan hadis dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī menunjukkan hasil yang cukup tegas. Sekitar 62% kosakata hadis tidak terdapat dalam kamus kosakata Al-Qur’an, dan sekitar 83% kosakata Al-Qur’an tidak terdapat dalam kamus kosakata hadis. Artinya, sebagian besar kata yang digunakan dalam hadis dan Al-Qur’an tidak saling tumpang tindih. Ini menunjukkan bahwa keduanya bekerja dengan “perbendaharaan bahasa” yang berbeda. Sumbernya Halim Sayoud, “Author discrimination between the Holy Quran and Prophet’s statements,” Literary and Linguistic Computing, Vol. 27, No. 4 (2012).

Tidak hanya itu, Seorang peneliti akademik yang ahli dalam kritik sastra Arab dalam karyanya al-Qur’ān wa al-Ḥadīth Muqāranah Uslūbiyyah juga sampai pada kesimpulan yang sama. Ia menjelaskan melalui banyak contoh bahwa gaya bahasa ucapan Nabi ﷺ dalam hadis berbeda secara jelas dari gaya bahasa Al-Qur’an, dan perbedaan ini bisa dilihat secara konsisten, bukan hanya di satu atau dua bagian.

Dalam kajiannya, ia membandingkan kosakata Al-Qur’an dari sisi leksikal dan gaya (stilistik) dengan kosakata dalam kitab-kitab hadis utama seperti Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, Sunan Abī Dāwūd, Sunan an-Nasā’ī, Sunan at-Tirmidhī, Ibn Mājah, Musnad Aḥmad, dan Muwaṭṭa’ Mālik.

Hasilnya menunjukkan pola yang sangat mudah dilihat:

Hadis Nabi ﷺ banyak menggunakan kosakata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari pada masa itu, seperti:

• makanan, minuman, pakaian, dan perhiasan
• nama-nama waktu seperti hari, bulan, musim, dan hari raya
• satuan ukuran seperti shibr, dhirā‘, qirāṭ, dan ṣā‘
• lingkungan alam padang pasir seperti topografi, serangga, hewan, dan burung
• aspek sosial seperti struktur qabīlah dan hubungan masyarakat Arab
• bidang militer seperti alat perang dan organisasi tempur
• istilah dalam ṭahārah, ṣalāh, dan berbagai praktik ibadah lainnya

Namun yang penting, jenis kosakata seperti ini secara umum tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, atau hanya muncul dalam jumlah yang sangat kecil.
Hal yang sama terlihat pada pola pasangan kata yang hanya dominan dalam hadis, tetapi tidak digunakan dalam Al-Qur’an, seperti:

• al-ajru wa al-wazru (pahala dan dosa)
• al-ājil wa al-ājil (yang segera dan yang ditangguhkan)

Juga terdapat istilah dalam hadis yang digunakan dalam konteks tertentu, yang tidak memiliki padanan langsung dalam Al-Qur’an, seperti:

• imām (imam dalam salat)
• ḥudūd (hukuman syariat sebagai hak Allah)

Sebaliknya, Al-Qur’an memiliki ungkapan yang sangat sering berulang, tetapi tidak ditemukan dalam hadis dalam bentuk yang sama, seperti:

• āmanū wa ‘amilū aṣ-ṣāliḥāt (beriman dan beramal saleh)
• yujādilu fī āyāt Allāh (mereka memperdebatkan ayat-ayat Allah)
• afalā ta‘qilūn (maka tidakkah kalian menggunakan akal?)
Sebaliknya lagi, ada ungkapan khas hadis yang tidak digunakan dalam Al-Qur’an, seperti:
• mā bālu كذا (apa urusan/apa masalah dengan hal ini)
• bayna ẓahrānayh (di tengah-tengah mereka)
• alā u‘allimuka (maukah aku mengajarkan kepadamu…)

Selain itu, hadis juga memiliki pola ungkapan yang khas dan berulang, seperti:

• ni‘ma / bi’sa al-‘abd (sebaik-baik / seburuk-buruk hamba)
• ayyumā كذا (barang siapa/apa pun itu)
• iyyāka / iyyākum wa كذا (jangan sekali-kali kamu/kalian melakukan hal itu)

Dari sisi lain, perbedaan juga terlihat pada penggunaan nama-nama. Al-Qur’an relatif lebih sedikit menyebut nama orang, tempat, atau tokoh tertentu, sedangkan hadis justru sangat kaya dengan:

• nama individu
• nama kabilah
• nama tempat dan peristiwa

Mungkin ada teman teman Non Muslim yang membantah:
“Ah itu Muhammad sengaja bedain”

Ada tiga bantahan
Kalau dikatakan Nabi “berusaha membedakan”, maka muncul pertanyaan baru:

Bagaimana kita bisa membuktikan ada “usaha membedakan” itu secara historis dan linguistik?
Karena yang kita miliki hanya dua korpus teks:

• Al-Qur’an
• Hadis Nabi ﷺ
Silakan Anda tunjukan kesamaannya dimana sedangkan penelitian ilmiah berkata sebaliknya.

Kedua, Dalam linguistik, “usaha membedakan gaya” tidak menghapus jejak gaya asli
Secara teori bahasa:
Setiap manusia punya idiolek (ciri bahasa pribadi):
• pilihan kata
• struktur kalimat
• pola ungkapan
• gaya ekspresi

Kalau seseorang “berusaha membedakan gaya”, yang biasanya terjadi adalah:

• gaya bisa berubah sebagian
• tapi jejak dasar tetap muncul

Contoh sederhana:
Seseorang bisa bicara formal di kantor dan santai di rumah, tetapi tetap terlihat ciri bahasa orang yang sama.

Jadi pertanyaannya:
Apakah “usaha membedakan” bisa menghasilkan dua sistem bahasa yang benar-benar berbeda secara konsisten di level kosakata, struktur, dan pola ungkapan?
Secara linguistik, itu sangat tidak biasa.

Ketiga, Jika memang “dibuat berbeda”, maka itu berarti Nabi mengontrol gaya secara ekstrem
Agar argumen orientalis benar, maka harus diterima bahwa:
• Nabi tidak hanya berbicara berbeda konteks
• tapi secara sadar menjaga dua sistem bahasa yang tidak bercampur sama sekali

Ini menimbulkan pertanyaan lain:
Adakah contoh manusia yang mampu menjaga pemisahan gaya bahasa seketat itu dalam seluruh ucapan sepanjang hidupnya?
Dalam studi linguistik, itu sangat tidak lazim.

Oke, ini bukan kata saya tapi kata Peneliti Barat orientalis A. J. Arberry, yang mengatakan:

“Kita sebenarnya mengetahui dengan cukup jelas bagaimana Muhammad ﷺ berbicara dalam kehidupan sehari-hari, karena banyak ucapan spontan beliau telah tercatat dalam sumber-sumber tradisi. Karena itu, tidak tepat jika menerima begitu saja pandangan Margoliouth yang menyatakan bahwa hampir tidak mungkin menemukan kasus lain di mana sebuah karya sastra sepenuhnya identik dengan pikiran pengarangnya.

Justru sebaliknya, setelah menerima keabsahan sebagian besar riwayat ucapan Nabi ﷺ—dan memang ada alasan kuat untuk itu—serta dengan mengikuti asumsi Margoliouth sendiri bahwa Al-Qur’an adalah hasil karya sadar Muhammad, maka kesimpulan yang lebih masuk akal adalah: sangat sulit menemukan kasus lain di mana gaya bahasa seorang tokoh berbeda secara begitu mendasar dari ucapan kesehariannya sendiri”

Pada dasarnya, hal ini sangat jelas dan dapat dipahami oleh siapa saja yang memiliki sedikit kemampuan membedakan gaya bahasa (balaghah) dan keindahan sastra Arab (uslub). Karena itu, al-Bāqillānī berkata tentang perbedaan antara susunan bahasa Al-Qur’an dan ucapan Nabi Muhammad ﷺ dalam khutbah serta surat-surat beliau:

“Jika engkau memiliki sedikit saja kemampuan dalam seni bahasa, atau sekadar rasa terhadap sastra Arab—meskipun kecil—aku tidak menyangka engkau akan sulit membedakan antara keindahan Al-Qur’an dan ucapan Rasul ﷺ yang kami nukil dalam khutbah dan surat-surat beliau, atau yang engkau dengar dari perkataannya sehari-hari. Engkau pasti akan melihat bahwa antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, jarak yang sangat besar, dan perbedaan kualitas yang sangat jelas.” Ijaz al-Qur'an

Jika kamu berkata:

mungkin saja Al-Qur’an itu dibuat-buat dengan susah payah, disusun secara sengaja,

maka berhentilah sejenak.....
gunakan akalmu, kumpulkan pikiranmu dengan tenang, dan pastikan dirimu sadar.

Qur'an itu turun 22 tahun, perstiwa selama itu penuh hal-hal menyakitkan, ketika Nabi gelisah justru ayat Quran yang turun sabar, ketika Nabi lelah al-Quran turun dengan ayat berjuang, ketika mod Nabi sedih justru al-Quran turun janji janji menghiburnya.

Bagaimana ada dua karakter dalam satu lisan ?

dan nggak usah jauh jauh, gausah pandai bahasa Arab bahkan kita yang Muslim nggak usah baca, dari denger saja, kita udah tau ini suara Quran, ini dari hadits.
-
Ikuti Ngopidiyyah untuk postingan menarik lainnya

07/05/2026

Bayangkan kamu diminta menghitung seperti ini:
388 + 247
Kalau pakai angka modern, kamu tinggal menulis:
388 + 247 = 635
Selesai cepat.

Sekarang bayangkan kamu hidup di dunia angka Romawi:
CCCL # # + CCXLVII = ?
Pertanyaannya sederhana:
kamu mau “menghitungnya” dengan rumus apa?

Tidak ada rumus penjumlahan seperti sekarang
Tidak ada kolom satuan–puluhan–ratusan yang rapi
Tidak ada angka 0 yang bisa jadi “penahan posisi”
Jadi kamu tidak bisa berkata:

“satuannya 8 + 7, simpan 1…”

Karena konsep itu belum ada dalam bentuk sistem angka yang efisien.

Dan inilah yang kamu rasakan ketika hidup dimasa sebelum angka nol ditemukan.
Angka-angka waktu itu hanyalah simbol penanda bukan sistem.

Dulu kamu untuk menulis angka 388 harus menulisnya CCCL # #
mau nulis 3888 malah jadi MMMDCCCL # #

Panjang, tidak efisien, dan tidak punya cara rapi untuk melakukan perhitungan besar.

nah konsep angka angka bilang 1-10 saat itu belum ada.

Di banyak tempat, matematika berat hampir selalu bergantung pada alat bantu seperti sempoa, alat manik-manik kecil yang kita gunakan waktu sd untuk berhitung.
Ya seperti itu.
Di tengah keterbatasan itu, muncul peradaban Islam yang kemudian menjadi jembatan besar ilmu pengetahuan dunia. Dari dunia ilmiah ini lahir tokoh penting bernama Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi.

Al-Khwarizmi merumuskan angka nol yang kita pakai sekarang,
Dia mendapatkan ide ini berasal dari banyaknya membaca literatur-literatur Kuno di perpustakaan Negara, saat itu negara Islam sangat menfasilitasi penerjemahan buku-buku asing. salah satunya konsep sunya dari matematikawan India. Karena banyak kecacatan, Sistem ini oleh khawarism diteliti, diriset kemudian diperbaiki dan ditemukanlah angka nol yang sempurna yang kita kenal sekarang ini. Dan disebarkan keseluruh penjuru negara Islam dan tembus menyebar ke benua Eropa, Cina dan dunia.

Dari sinilah lahir revolusi besar:
• angka tidak lagi sekadar simbol
• tetapi menjadi sistem posisi yang bisa dihitung secara logis
Dan dari karya-karya al-Khwarizmi tentang perhitungan langkah demi langkah, lahirlah istilah yang kemudian dikenal dunia modern sebagai:
algoritma (algorithm)

Awalnya berasal dari pelatinan nama beliau: Algoritmi.

Namanya kita sebut untuk ai
Facebook, youtube dll

Dampaknya sangat besar
Dengan sistem baru ini:
• perhitungan menjadi cepat dan terstruktur
• perkalian dan pembagian menjadi sistematis
• sains berkembang jauh lebih maju
• dunia memasuki era matematika modern

Dan dari bahasa logika inilah:
👉 komputer
👉 pemrograman
👉 AI
👉 dan dunia digital modern
akhirnya bisa lahir.

Coba bagaimana seandainya nggak ada angka 0?

seandainya al Khawarism kamu anggap ga berjasa, tapi faktanya Nasa menamakan kawah dibulan dengan nama al-Khawarizmi crater.
seandainya nggak berjasa, tapi para ilmuan modern menamakan planet kecil (Asteroid) dengan nama 13498 al Khawarizmi.
Tanpa al Khawarizm juga kamu ga akan belajar al Jabar disekolah.

pertanyaannya, namamu sekarang dipasang dimana?

-
Kalau tidak follow, besar kemungkinan Anda tidak akan menemukan tulisan seperti ini lagi.
klik ikuti halaman
Ngopidiyyah

06/05/2026

Setelah berbagai tuduhan awal kepada Nabi Muhammad ﷺ seperti dianggap mengambil dari Injil atau disebut-sebut belajar dari tokoh Kristen seperti Buhaira, satu per satu klaim itu mulai mentah ketika berhadapan dengan data sejarah yang lebih kuat. Penjelasan berbasis “pengaruh luar” ternyata tidak cukup untuk menjelaskan dari mana sebenarnya wahyu itu berasal.

Dari situ, sebagian penulis Barat awal kemudian bergeser lagi. Ketika jalur pertama tidak lagi dianggap memadai, mereka mencoba jalur lain untuk menjelaskan sumber pengalaman kenabian itu sendiri.

Di titik ini, pengalaman wahyu mulai dicoba dijelaskan dengan cara yang dianggap “ilmiah” menurut standar zamannya, terutama lewat psikologi awal dan kedokteran. Jadi, pengalaman kenabian tidak lagi dipahami sebagai peristiwa spiritual, tetapi dipindahkan ke ranah gangguan jiwa atau kondisi saraf.

“hanya orang gila yang mengaku mendapat bisikan ghaib” kata mereka.
“di Amerika ada itu mak mak mendapat bisikan Tuhan, akhirnya menenggelamkan 4 anaknya, ya itu persis seperti nabimu”

Dari sini, William Muir, Gustav Weil, serta Samuel Margoliouth (abad 19) melontarkan tuduhan bahwa sebenarnya Nabi Muhammad mengidap epilepsi.

Alasannya dalam sumber sumber Islam, Ketika Muhammad bertemu malaikat dan mendapat wahyu, dirinya berkeringat, pusing, dan sesekali pingsan, dan ketakutan.

Karena menurut mereka, ciri-ciri yang ada pada Nabi ketika mendapat wahyu sama dengan ciri-ciri penderita gangguan jiwa. Maka disimpulkan nabi Muhammad menderita gangguan jiwa.

Dan menariknya, teman-teman para ahli diatas yang mendiagnosa Nabi Muhammad sebenarnya bukan ahli dokter, melainkan historian. jadi ini sebenarnya bukan bidang mereka.

Apakah tuduhan itu baru ?
Penduduk Mekah dahulu pernah berkata kepada Nabi Muhammad:

“Wahai orang yang diturunkan kepadanya adz-Dzikr, sungguh engkau benar-benar orang gila.” (QS. al-Hijr: 6)

Ini bukan tuduhan yang unik. Hampir tidak ada nabi yang selamat dari luka tudingan ini.

“Kaum Nuh telah mendustakan sebelumnya; mereka mendustakan hamba Kami dan berkata: ‘Dia gila’, lalu dia dihardik.” (QS. al-Qamar: 9)

Dan tentang Musa:

“Ini seorang penyihir atau orang gila.’” (QS. adz-Dzariyat: 38–39)

Bahkan secara umum ditegaskan:

“Demikianlah, tidak seorang rasul pun datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka berkata: ‘Ia penyihir atau orang gila.’” (QS. adz-Dzariyat: 52)

Namun menariknya, setelah masa kerasulan, para penentang kenabian tidak lagi mengulang tuduhan “gila” secara mentah seperti kaum musyrik Mekah.

Mereka mengemasnya dalam bentuk yang lebih “ilmiah”: mengatakan bahwa Nabi Muhammad menderita epilepsi. Dalil yang mereka ajukan adalah kondisi fisik dan perubahan keadaan yang tampak pada beliau saat menerima wahyu.

Apakah Epilepsi sama dengan dengan Turunnya Wahyu?

Gejala epilepsi:
Melemahkan kondisi fisik.
Menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
Merusak daya ingat.
Mengganggu kondisi kejiwaan.
Diikuti rasa takut dan kecemasan.
Melemahkan fungsi mental.
Murni merupakan gejala penyakit.

Dengan kata lain, epilepsi pada dasarnya adalah kondisi medis yang bersifat patologis dan mengganggu fungsi normal manusia.
Sementara itu, dalam sumber-sumber Islam, kondisi yang menyertai turunnya Al-Qur’an justru digambarkan secara berbeda. Di antaranya:

Tidak berdampak buruk pada fisik.
Tidak menimbulkan rasa sakit.
Daya ingat tetap kuat.
Tidak mengganggu kondisi kejiwaan.
Diikuti rasa lapang dan ketenangan.
Disertai kejernihan dan terang pikiran.

Dari sini terlihat bahwa kedua kondisi tersebut tidak berada pada satu kategori yang sama. Pada epilepsi, kesadaran dan kontrol diri dapat hilang, sedangkan dalam pengalaman wahyu, yang ditampilkan justru sebaliknya: ketenangan, kesadaran, dan kejernihan tetap terjaga.

Memang, secara umum bisa saja dikatakan bahwa sebuah pengalaman spiritual yang berat dapat memberi efek fisik tertentu. Namun kemiripan sebagian gejala tidak otomatis berarti kesamaan hakikat. Kesamaan tanda luar tidak cukup untuk menyamakan dua realitas yang berbeda secara mendasar.

Pertanyaannya, Jika wahyu hanya gangguan jiwa ?
Bagaimana bisa yang terucap dalam mulutnya berupa ucapan-ucapan yang secara sastra sangat tinggi ?
Bagaimana orang yang gangguan jiwa bisa mengingat apa yang diucapkannya, dan faktanya Nabi mengingat Quran yang turun bertahap selama 22 tahun, dengan surat ini, ayat ini, bagian ini ?
Bagaimana orang yang gangguan jiwa dari lidahnya hanya berisi nasihat, berjuang, sabar, hukum, etika, politik bahkan ramalan ramalan yang akan terjadi ?

Di antaranya disebutkan dalam riwayat:
• terdengar suara seperti dengungan lebah di sekitar Nabi Muhammad ﷺ,
• beliau berkeringat sangat deras meskipun dalam kondisi cuaca dingin,
• wajah beliau terkadang berubah dan tampak berat,
• dalam sebagian riwayat, beliau mengeluarkan suara seperti dengkuran unta muda,
• bahkan tubuh beliau pernah digambarkan menjadi sangat berat hingga orang yang berada di sampingnya merasakan beban tersebut, dan tunggangan pun seakan terduduk karena beratnya.

Hal yang sulit untuk dijelaskan adalah, bagaimana menjelaskan secara psikologis ketika Nabi mendapat wahyu justru para sahabat yang sedang pahanya tertimpa paha nabi merasakan beratnya, dan unta yang ditungganginya tadinya berdiri ikut merunduk ?

Karena itu, penyamaan pengalaman wahyu dengan epilepsi tidak memiliki dasar yang kuat. Tuduhan seperti ini sendiri sudah pernah muncul dalam sejarah awal Islam dan sudah ditinggalkan di abad pertengahan,. Bahkan sebagian penulis Barat yang sebelumnya mengangkat teori ini kemudian mengakui bahwa deskripsi epilepsi terhadap kondisi Nabi Muhammad ﷺ tidak lagi diterima dalam studi Islam modern di Barat.

Sebagaimana diutarakan Frank R. Freeman

“Para ilmuwan Barat modern yang meneliti Islam telah menolak deskripsi epilepsi terhadap kondisi Nabi Islam” A Differential Diagnosis of the Inspirational Spells of Muhammad the Prophet of Islam, Epilepsia, vol. 17: 423–7.

William Montgomery Watt dalam bukunya Muhammad at Mecca hlm. 57.

Banyak penentang Islam mengklaim bahwa Muhammad menderita epilepsi; oleh karena itu pengalaman keagamaannya tidak dapat dipercaya. Namun pada kenyataannya, gejala-gejala yang sampai kepada kita tidaklah sesuai dengan gejala epilepsi. Penyakit tersebut justru menyebabkan kemunduran fisik dan mental, sementara Muhammad tetap berada dalam kendali penuh atas seluruh kapasitas dirinya hingga akhir hayatnya. Bahkan seandainya klaim ini benar sekalipun, tuduhan ini tetap sepenuhnya tidak berdasar dan bertumpu pada kebodohan serta prasangka semata; sebab gejala fisik tidak dapat dijadikan bukti untuk menetapkan ataupun menafikan pengalaman keagamaan.”

Bagaimana dengan Paulus?

Pandangan ini bahwa Paulus mengalami gangguan jiwa disampaikan mayoritas psikiater Jerman. salah satunya muncul dalam literatur medis abad ke-19, termasuk The Edinburgh Medical and Surgical Journal (1845),

dari kisah pertobatan Paulus dalam Acts of the Apostles,

Paulus mengalami ketika ia tiba-tiba jatuh, bangun sendiri, melihat cahaya terang, mendengar suara, mengalami kebutaan sementara, lalu penglihatannya pulih kembali. Rangkaian peristiwa yang mendadak ini kemudian dibandingkan oleh sebagian penafsir modern dengan gejala neurologis.

Selain itu, dalam Epistle to the Galatians (4:13–14), Paulus menyebut adanya “kelemahan pada tubuhnya”, yang oleh sebagian pembaca modern juga ditarik sebagai indikasi kondisi fisik tertentu.

refrensi soal ini baca
P. Vercelletto, “Saint Paul disease. Ectasia and ecstatic seizures”, dalam R***e Neurologique, Desember 1994; 150(12): 835–839.

D. Landsborough, “St Paul and temporal lobe epilepsy”, dalam Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry, Juni 1987; 50(6): 659–664.

Tautan artikel:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1032067/pdf/jnnpsyc00553-0001.pdf

btw Yesus ketakutan lihat Malaikat
Matius
22:43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.
22:44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.

silakan tanggapi ya

Want your school to be the top-listed School/college in Yogyakarta City?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address

Yogyakarta City