Ngopidiyyah

Ngopidiyyah Warung kopi lagi libur, mohon doakan admin ya yang terbaik ya🙏

Bikin hoax mulu kerjaannya.
01/08/2026

Bikin hoax mulu kerjaannya.

Salah satu stigma yang hingga kini masih melekat pada agama Kristen di Indonesia adalah cap sebagai "agama penjajah". Stigma ini bukan muncul tanpa alasan. Penyebaran agama Kristen dalam skala besar memang berlangsung bersamaan dengan ekspansi Portugis dan Belanda ke Nusantara.

Resah akan aib sejarah, Kalangan Kristen berusaha mencari-cari jawaban, bahwa agama mereka datang ke Nusantara bukanlah “datang menjajah”, mereka mengklaim bahwa Kekristenan pertama kali datang di Barus abad ke 7 Masehi, sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam ataupun penjajah Spanyol di Nusantara.

Kalau narasi ini benar, tentu cap "agama penjajah" menjadi sulit dipertahankan.

Sekilas, klaim itu tampak sangat kuat.
Buku sejarah gereja mengutipnya. Jurnal ilmiah mengulanginya. Skripsi, tesis, disertasi, hingga mbah google pun menyebut hal yang sama.
Akhirnya muncul kesan, seolah-olah ada begitu banyak bukti yang berdiri sendiri.
Tetapi benarkah demikian?


Ketika jejak kutipan itu ditelusuri, jawabannya justru mengejutkan.

Satu demi satu referensi diperiksa. Dari buku berpindah ke jurnal. Dari jurnal menuju tulisan yang lebih lama. Dari tulisan yang lebih lama kembali kepada rujukan sebelumnya.

Dan ujungnya selalu sama.
Sebagian besar , pasti dan pasti berhenti pada satu nama, yakni Pastor Y. Bakker, SJ.

Dalam bukunya Umat Katolik Perintis di Indonesia, dan majalah berjudul “Gereja Tertua di Indonesia” yang dimuat di Majalah Basis No. 18 (1969) hlm. 261-265 Bakker mengutip manuskrip Abu Shalih sebagai berikut:

"Fansur: Di sana terdapat banyak gereja dan semuanya adalah dari Nasarthirah... Dari situ berasal kapur Barus... Dalam kota itu terdapat satu gereja bernama Bunda Perawan Murni Maria."

Terjemahan inilah yang kemudian dikutip lagi dan dikutip lagi. Dari satu buku berpindah ke buku lain. Dari satu artikel masuk ke jurnal. Dari jurnal menjadi rujukan skripsi, tesis, dan disertasi.

Lalu timbul pertanyaan yang lebih penting.
Apakah terjemahan Pastor Y. Bakker memang sama dengan isi manuskrip yang ia jadikan rujukan?

Ketika kembali membuka terjemahan resmi B.T.A. Evetts terhadap manuskrip Abu Shalih, manuskrip Abu Shalih, ternyata bunyinya berbeda:

"Fahsûr. Here there are several churches; and all the Christians here are Nestorians... It is from this place that camphor comes... In this town there is one church named after our Lady, the Pure Virgin Mary."
(B.T.A. Evetts (ed.), The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Shalih, the Armenian, Oxford, 1895, hlm. 300).

Jika kedua kutipan itu dibandingkan, segera tampak beberapa perbedaan penting.

- Fahsûr berubah menjadi Fansur.
- Camphor (al-kafur) diterjemahkan menjadi kapur Barus.

Padahal, penyunting edisi tersebut, A.J. Butler, justru memberikan catatan yang berbeda. Ia menulis:

"So the word is written in the manuscript. I can only conjecture that it may be a clerical error for Mansur... or Mansurah, a country in north-west India at the mouth of the Indus. This country was particularly famous among the Arabs for camphor."

Dengan kata lain, Butler tidak mengidentifikasi Fahsûr sebagai Barus di Sumatra. Sebaliknya, ia menduga nama itu merujuk kepada Mansur (Mansurah) di kawasan barat laut India, sebuah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai penghasil kamper.

Itu kata pentahqiq naskah aslinya loh.

Kalau Anda masih ragu bahwa yang sedang dibahas Abu Shalih adalah kawasan India, cobalah buka sendiri konteks manuskripnya, bukan hanya membaca satu paragraf yang sering dikutip.

Di dalam manuskrip tersebut, Abu Shalih terlebih dahulu membahas kota-kota di India, termasuk Kulam (Quilon, Travancore). Setelah itu barulah muncul nama Fahsûr. Dan setelah pembahasan Fahsûr selesai, manuskrip langsung beralih ke Yaman.

Urutan ini penting. Sebab, akan terasa janggal jika di tengah-tengah pembahasan tentang India, Abu Shalih tiba-tiba melompat membahas Barus di Sumatra,
Jadi jelas, Fahsur ini di India secara perikop bukunya.

Dan akhirnya, Apakah ini sekadar kekeliruan penerjemahan, kesalahan identifikasi, atau penafsiran yang kemudian diterima begitu saja, biarlah pembaca yang menilainya.

Yang jelas, tanyakan kepada Y. Bakker, SJ. Dan tulisan dialah yang kemudian dikutip terus-menerus oleh banyak penulis. Akibatnya, gara-gara buku dia, dan klaim ini kini berkembang menjadi ratusan kutipan, dan ratusan kutipan itu akhirnya memberi kesan seolah-olah didukung oleh banyak bukti sejarah.
Padahal ora…..

————
Ikuti Ngopidiyyah untuk postingan menarik tiap harinya

31/07/2026

Bayangkan jika Anda diculik dari kampung halaman, dipisahkan dari keluarga, dibawa ribuan kilometer melintasi lautan, lalu dimasukkan ke dalam kandang kebun binatang. Bukan karena Anda penjahat. Bukan p**a karena Anda hewan liar. Tetapi karena ada orang yang ingin menjadikan Anda "bukti" bagi sebuah gagasan.

Ya...semua berawal dari Tahun 1871, Charles Darwin menerbitkan The Descent of Man. Di dalamnya ia mengemukakan bahwa manusia dan kera memiliki nenek moyang yang sama. Tetapi ada satu persoalan yang langsung menghantui para pendukung gagasan itu.

Di mana makhluk peralihannya?
Ada spesies setengah manusia, setengah kera.

Jika manusia benar berevolusi, seharusnya ada jejak yang menghubungkan keduanya. Pertanyaan itulah yang kemudian berubah menjadi obsesi. Para antropolog dan pemburu fosil berlomba-lomba mencari missing link. Mereka menggali bukit, menyisir gua, dan menjelajahi benua demi menemukan makhluk yang diyakini menjadi penghubung antara kera dan manusia.

Namun tahun demi tahun berlalu.
Fosil yang diharapkan belum juga ditemukan.
Sebagian kalangan kemudian mengubah arah pencarian. Mereka mulai bertanya, "Bagaimana jika missing link itu belum punah? Bagaimana jika ia masih hidup?"

Karena dalam teori evolusi, orang-orang Eropa itu dianggap manusia dengan tingkat evolusi tertinggi, Sedangkan orang-orang Afrika dikatakan “leluhur mereka”. Bahasa kasarnya “makluk evolusi belum selesai”

Karena dianggap “spesies makluk evolusi belum selesai” orang-orang evolusionis merasa berhak menjadikan orang Afrika sebagai objek penelitian, memburu mereka, mengukur tengkoraknya, memamerkannya.

Toh “mereka bukan manusia seperti kita”
“Toh gak setara”
“Etika nggak berlaku, etika hanya berlaku sesama manusia”

Diantara ribuan korbannya, diantaranya bernama Ota Benga…….

Ia adalah seorang pria Pigmi dari Kongo. Ia memiliki seorang istri, dua orang anak, dan kehidupan yang damai di tanah kelahirannya.

Semua itu berakhir pada tahun 1904.

Ota Benga ditangkap di Kongo dan dibawa ke Amerika Serikat oleh penjelajah Samuel Phillips Verner. Ia dipertontonkan di Pekan Raya Dunia St. Louis bersama berbagai satwa eksotis. Bagi evolusionis saat itu, Ota Benga dijadikan contoh manusia yang dianggap paling dekat dengan "mata rantai" antara manusia dan kera.
Dua tahun kemudian, penghinaan itu mencapai puncaknya.

Ota Benga ditempatkan di Kebun Binatang Bronx, New York. Ia dipamerkan bersama beberapa simpanse, seekor gorila bernama Dinah, dan seekor orang utan bernama Dohung. Ribuan orang datang setiap hari untuk melihatnya. Sebagian menertawakannya. Sebagian mengejeknya. Sebagian lagi menganggapnya sebagai bukti hidup yang selama ini mereka cari.

Parahnya, Dr. William T. Hornaday, direktur kebun binatang yang evolusionis berceramah tentang betapa bangganya ia memiliki “bentuk peralihan” yang luar biasa ini di kebun binatangnya dan memperlakukan Ota Benga yang terkurung seolah ia seekor binatang biasa.

Tak tahan dengan perlakuan yang diterimanya, Ota Benga akhirnya mengakhiri hidupnya.

Tahukah kamu ?
Ini bukan pertunjukan diam-diam, ini legal dan dipamerkan keliling Negara Amerika Serikat, Prancis, Belgia, Jerman, Inggris, Spanyol Swiss, Italia, dan negara Eropa lainnya.

Begitulah kemunafikan negara-negara yang konon melahirkan demokrasi, melahirkan HAM.

Coba lihat
Manusia Piltdown. Manusia Nebraska. Ota Benga.
Satu dipalsukan. Satu dibesar-besarkan. Satu lagi dikorbankan.

Ketiganya lahir dari satu obsesi yang sama: membuktikan bahwa missing link itu ada.
Sejarah menunjukkan bahwa kalangan evolusionis tak segan-segan harus melakukan dengan cara apa pun, demi membenarkan teori mereka.

Oh ya menurutmu sendiri, ini emang dasar orangnya yang rasis atau memang teori evolusi berpengaruh memotivasi untuk rasis ?

Jawab dikolom komentar

Evolusionis biasanya komentar “tapi kan udah dubongkar”😭
31/07/2026

Evolusionis biasanya komentar “tapi kan udah dubongkar”😭

Bagaimana jika sebuah fosil dipuji sebagai penemuan terbesar abad ini, tetapi puluhan tahun kemudian terbukti hanyalah sepotong rahang orang utan yang ditempelkan pada tengkorak manusia?

Sulit dipercaya.

Namun itulah yang benar-benar pernah terjadi.

Awal abad ke-20, dunia paleoantropologi sedang berada dalam perlombaan besar. Banyak ilmuwan meyakini bahwa manusia berevolusi secara bertahap dari nenek moyang yang mirip kera. Tetapi keyakinan itu masih menyisakan satu pertanyaan yang belum terjawab.
Di mana fosil peralihannya?

Jika perubahan itu benar-benar berlangsung sedikit demi sedikit selama jutaan tahun, seharusnya pernah ada makhluk yang belum sepenuhnya manusia, tetapi juga bukan lagi kera. Makhluk yang membawa ciri-ciri keduanya. Fosil semacam itulah yang dicari ke berbagai penjuru dunia dan kemudian dikenal dengan istilah missing link “mata rantai yang hilan”.

(Dan Mencari fosil itu bukan sekadar berburu tulang belulang. Mencarinya berarti mencari potongan terakhir yang dianggap akan melengkapi kisah evolusi manusia.Karena itu, siapa pun yang berhasil menemukannya diyakini akan mengubah sejarah.)

Lalu datanglah tahun 1912.

Seorang pengacara sekaligus kolektor fosil amatir asal Inggris bernama Charles Dawson mengumumkan sebuah penemuan yang langsung menghebohkan dunia. Dari sebuah lubang kerikil di Piltdown, Inggris, ia mengaku menemukan pecahan tengkorak dan sepotong tulang rahang.

Tengkoraknya tampak seperti manusia.
Rahangnya menyerupai kera.
Persis seperti gambaran fosil peralihan yang selama ini dibayangkan.

Dunia ilmiah pun bersorak.
Fosil itu diberi nama Manusia Piltdown. Diperkirakan berusia sekitar 500.000 tahun dan segera dipromosikan sebagai salah satu kandidat terkuat missing link yang selama ini dicari.
Museum Inggris (British Museum) memajangnya.
Buku-buku memuatnya.
Ilustrasi dibuat.
Bahkan, lebih dari 500 disertasi doktor menjadikan Piltdown sebagai objek penelitian.

Bahkan, paleoantropolog terkemuka Amerika, Henry Fairfield Osborn, menyebut Piltdown sebagai "kita harus selalu diingatkan bahwa alam dipenuhi paradox, dan itu sesuatu yang mengejutkan tentang manusia prasejarah."

Seolah-olah pencarian panjang itu akhirnya telah berakhir.
Dan seolah-olah fakta-fakta Penciptaan dan Adam telah diruntuhkan.

Namun ingat !
Semakin besar sebuah klaim, semakin besar p**a tuntutan agar ia diuji.

Tahun 1949, Kenneth Oakley dari Museum Inggris memperkenalkan metode baru untuk menentukan usia fosil, yaitu uji fluorin. Metode ini didasarkan pada fakta bahwa tulang yang terkubur lebih lama akan menyerap lebih banyak fluorin dari air tanah.

Ketika diteliti, Tulang rahang Piltdown hampir tidak mengandung fluorin. Artinya, rahang itu bukan fosil yang telah terkubur selama ratusan ribu tahun. Tengkoraknya pun hanya berusia beberapa ribu tahun.

Ada yang tidak beres.
Penyelidikan pun diperluas.
Semakin dalam diteliti, semakin banyak kepalsuan yang tersingkap.

Gigi-giginya ternyata sengaja dikikir agar tampak seperti bentuk peralihan antara kera dan manusia. Permukaan rahangnya dipahat agar menyatu dengan tengkorak manusia. Bahkan seluruh fosil diwarnai menggunakan kalium dikromat supaya tampak tua. Alat-alat batu yang ditemukan bersamanya pun ternyata hanyalah benda tiruan yang dibuat dengan perkakas modern.

Lalu datanglah tahun 1953.
Joseph Weiner bersama timnya akhirnya mengumumkan sesuatu yang mengejutkan dunia.

“Manusia Piltdown tidak pernah ada.”

Yang selama puluhan tahun dipuja sebagai "mata rantai yang hilang" ternyata hanyalah tengkorak manusia modern yang dipasangkan dengan rahang seekor orang utan.
Bukan fosil peralihan.
Bukan nenek moyang manusia.
Bukan missing link.

Sir Wilfred Le Gros Clark selaku tim yang ikut membongkar skendul itu mengaku heran. Dan berkomentar

"Bukti-bukti pengikisan buatan segera timbul di depan mata. Sungguh, hal itu begitu jelas hingga patut ditanyakan bagaimana dulu bisa sampai lolos dari pengamatan?" katanya

Padahal, fosil yang kemudian terbukti palsu itu telah dipercaya lebih dari 40 tahun, dipajang di Museum Inggris, disebut sebagai missing link, dan menjadi bahan sekitar 500 disertasi doktor.

Akhirnya, Museum Inggris cepat-cepat menyingkirkan Manusia Piltdown dari ruang pameran.

Ini bukan yang pertama, dan bukan p**a yang terakhir. Sebagaimana harapan Darwin bahwa “dimasa depan” kelak, kelak mereka akan menemukan setengah burung setengah reptil, setengah ikan setengah reptil, setengah reptil setengah mamalia, setengah manusia setengah kera.

Namun usaha itu nihil dan tidak memiliki bukti, kecuali Hanya “Keyakinan.”

1 Menit jawaban Dalil dan Logis Tentang Bidadari Surga
29/07/2026

1 Menit jawaban Dalil dan Logis Tentang Bidadari Surga

"Ah, Surga Islam isinya bidadari, makanan, minuman, pakaian, isinya cuman kenikmatan fisik."

Baik.
Sebelum sampai pada kesimp**an itu,

ada satu hal yang patut direnungkan.

Mengapa dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya surga dan bidadari?

Mengapa bukan الجنة (al-Jannah) dan الحور العين (ḥūr al-'īn)?

Ketika Islam mulai didakwahkan di Nusantara, para ulama berhadapan dengan masyarakat yang belum mengenal bahasa Arab.

Kalau semua istilah Arab dipertahankan begitu saja, dakwah akan lebih sulit dipahami.

Karena itu, konsep-konsep Islam dijelaskan dengan istilah yang telah dikenal masyarakat sebagai padanan makna.

(aṣ-ṣalāh) الصلاة diganti dengan sembahyang.
(aṣ-ṣaum) الصوم diganti dengan upavāsa (उपवास), menjadi puasa.

(an-Nār) النار dipadankan dengan Naraka (नरक), jadi neraka.

(al-Jannah) dipadankan dengan Svarga (स्वर्ग), jadi surga
Dan الحور العين (ḥūr al-'īn) berasal dari Vidyādhārī (विद्याधरी).

Mengapa justru istilah-istilah itu yang dipilih?

Karena dalam penerjemahan, orang tidak memilih kata secara sembarangan. Yang dicari adalah istilah yang paling dekat untuk membantu masyarakat memahami konsep yang sedang dijelaskan.

Di sinilah letak poin yang sering terlupakan.

Ternyata Dalam berbagai literatur Hindu, Svarga (स्वर्ग) juga digambarkan sebagai alam tempat memperoleh balasan dan kenikmatan. Di dalamnya terdapat taman-taman yang indah, kemegahan, serta apsara (अप्सरा), apa itu apsara ? yaitu perempuan-perempuan surgawi yang terkenal karena kecantikan, tarian, dan pesonanya.

bahkan beberapa kitab menggambarkan para apsara sebagai penyambut atau pendamping para penghuni Svarga yang sesama hidupnya beramal saleh.

Brahma Vaivarta Purana, Krishna Janma Khanda 59.77–103
"...Orang-orang yang saleh, setelah melakukan berbagai perbuatan suci di Bharata (India), akan pergi ke surga. Di sana mereka dilayani oleh para perempuan surgawi dan menikmati kebahagiaan surgawi dalam waktu yang sangat lama... Wahai yang jelita, surga bukanlah tempat untuk beramal, melainkan tempat menikmati hasil amal. Dan di antara segala kenikmatan, kebersamaan dengan seorang perempuan yang unggul adalah kenikmatan yang paling utama."
(Terjemahan: Rajendra Nath Sen, disunting oleh B.D. Basu)

Mahābhārata 13.107.53–55
"Seseorang yang berpuasa, sungguh pada setiap langkahnya ia memperoleh pahala yang setara dengan pelaksanaan berbagai yajña (kurban suci). Orang itu akan naik ke surga dengan menaiki sebuah kereta yang ditarik oleh angsa-angsa. Dengan penuh kemuliaan, ia menikmati segala macam kebahagiaan di surga selama seratus tahun. Seratus Apsara yang sangat cantik akan melayaninya dan bersenang-senang bersamanya."

Devī Bhāgavatam 4.6.56–58
Para Apsara berkata:
"Jika engkau ingin pergi ke surga, ketahuilah bahwa tidak ada surga yang lebih tinggi daripada Gandhamādana. Nikmatilah kebahagiaan tertinggi berupa “hubungan asmara badan” yang menyenangkan bersama kami, para perempuan surgawi, di tempat yang sangat indah dan mempesona."

Bahkan kepada mereka yang berjuang dimedan Perang

Parāśara Smṛti 3.28–29
"Para perempuan surgawi (Apsara) bergegas menghampiri seorang pahlawan yang tubuhnya terluka atau tercabik oleh panah, gada, maupun senjata lainnya. Ribuan Apsara berlomba-lomba mendekati pahlawan yang gugur di medan perang, masing-masing berseru, 'Dia adalah tuanku! Dia milikku!'"

Parāśara Smṛti 3.31
"Jika menang, ia memperoleh kekayaan. Jika gugur, perempuan-perempuan yang cantik menjadi bagiannya. Karena tubuh jasmani ini dapat binasa dalam sekejap, mengapa harus takut menghadapi kematian di medan perang?"

Mahābhārata 12.98.46–51
"Ribuan Apsara yang paling utama keluar dengan sangat cepat untuk menyambut arwah pahlawan yang gugur, masing-masing menginginkannya sebagai tuan mereka."
(Terjemahan K.M. Ganguli)

Sekarang mari tinggalkan dulu persoalan agama.
Saya ingin bertanya dari sisi rasio.

Apa sebenarnya yang dianggap salah secara moral dari keberadaan bidadari di surga?

Apakah karena mereka ada wanita ?
Adanya wanita bukan perbuatan tercela.

Apakah sesuatu menjadi tercela hanya karena mereka menjadi pasangan di surga?

Penilaian tercela atau tidak dalam hukum bergantung pada dasar penilaiannya.

Jika hubungan itu berlangsung di alam balasan yang suci, tanpa pengkhianatan, tanpa perebutan, tanpa paksaan, dan tanpa kezaliman, maka di mana letak masalah moralnya?

“Tapi kan Surganya penuh material, isinya kenikmatan semua.”

Mari kita lihat dengan ukuran moral yang berlaku hari ini. Seseorang memiliki rumah mewah. Mobil mewah. Pakaian mahal. Makanan terbaik. Minuman terbaik. Kehidupan yang nyaman.

Apa yang salah secara moral?

Tidak ada.

Selama semua itu diperoleh dengan cara yang halal, jujur, dan tidak menzalimi orang lain, kemewahan itu sendiri bukanlah pelanggaran moral.
Yang dinilai oleh moral bukanlah kenikmatannya, melainkan cara memperolehnya.

Karena itu, keberatan terhadap gambaran surga yang penuh kenikmatan memerlukan alasan yang lebih kuat daripada sekadar mengatakan, "Itu terlalu material."
Kenikmatan bukanlah dosa.

Kezaliman, penipuan, pemaksaan, dan eksploitasi—itulah yang menjadi dosa secara moral.

Maka pertanyaannya kembali sederhana.
Bukankah orang-orang yang disurga, itu mendapatkan kenikmatan itu dari jerih payahnya baik selama didunia setelah perjuangan yang panjang?

Seorang pedagang menolak menipu timbangan, meski itu membuatnya kalah bersaing.

Seorang hakim menolak suap, meski karier dan keselamatannya dipertaruhkan.

Seorang pegawai menolak korupsi, meski kesempatan terbuka lebar.

Seorang pengusaha memilih rugi daripada memenangkan proyek dengan menyuap.
Seorang ayah bekerja puluhan tahun demi memberi nafkah yang halal.

Seorang janda mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak dengan penuh kesabaran.

Seorang pemuda menahan syahwatnya ketika zina begitu mudah dilakukan.

Seorang wanita menjaga kehormatan dan agamanya meski harus diejek dan dikucilkan.

Seorang guru mengabdikan hidupnya mendidik generasi, meski jasanya sering tidak dihargai.

Seorang dai tetap menyampaikan kebenaran meski dicaci, difitnah, bahkan diancam.

Seorang miskin tetap bersedekah dari harta yang sedikit.

Seorang yang dizalimi memilih memaafkan ketika ia sebenarnya mampu membalas.

Seorang yang bangun di sepertiga malam beribadah saat semua orang terlelap.

Seorang yang gugur dalam perjuangan yang diyakininya benar rela meninggalkan keluarga, harta, bahkan nyawanya.

Semua itu dijalani bukan sehari.
Bukan seminggu.

Melainkan bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.
Lalu setelah seluruh pengorbanan itu, apakah tidak wajar bila mereka memperoleh balasan?

Bukankah keadilan memang mengajarkan bahwa pengorbanan yang besar layak memperoleh penghargaan yang besar?

Kalau begitu, pertanyaannya bukan lagi,
"Mengapa ada kenikmatan di surga?"
Melainkan,

"Mengapa balasan atas perjuangan yang begitu panjang dianggap tidak pantas?"

Yang penting nggak nyuri ayam
26/07/2026

Yang penting nggak nyuri ayam

apa hobi Krishna ?
Hampir semua orang akan menjawab, mencuri mentega. (Bukan mencuri ayam! Upsss!)

Memang itu yang paling sering ditampilkan. Film mengulangnya dan Televisi menayangkannya.

Padahal, menurut beberapa kitab Hindu, kebiasaan mengambil milik orang lain tidak berhenti sekedar mentega, karena sering ditoleransi lucu dan mengemaskan, kelakuan Krishna dimasa kanak-kanak ini bahkan berlanjut hingga dewasa.

Dalam Kitab Śrīmad Bhāgavatam Purana (10.22),

pada suatu pagi sekelompok gadis penggembala sapi (gopi) datang ke Sungai Yamuna untuk mandi. Seperti biasa, mereka meletakkan pakaian di tepi sungai sebelum turun ke dalam air.

Saat itulah Krishna datang bersama teman-temannya. Melihat pakaian-pakaian yang tergeletak di pinggir sungai, ia langsung mengambil semuanya. Tanpa membuang waktu, Krishna bergegas memanjat pohon kadamba sambil membawa pakaian-pakaian itu. Setelah duduk di atas dahan, ia tertawa bersama teman-temannya.

"Hei gadis-gadisku! Kalau ingin pakaian kalian kembali, kemarilah dan ambil sendiri.” Mendengar teriakan itu, para gopi langsung menoleh.

Mereka terkejut ketika melihat Krishna sudah duduk di atas pohon kadamba sambil memegang seluruh pakaian mereka.

“Aku tidak sedang bercanda. Aku serius. “

“Kalian tahu aku tidak pernah berbohong. Teman-temanku juga bisa menjadi saksi. Mau datang satu per satu atau bersama-sama, silakan."

Para gadis-gadis itu masih bertahan di dalam sungai. Mereka berharap Krishna hanya sedang bercanda dan sebentar lagi mengembalikan pakaian mereka.

Namun harapan itu sia-sia. Semakin lama mereka berendam, dinginnya air Sungai Yamuna semakin menusuk. Tubuh mereka mulai menggigil,

Para gopi akhirnya berseru,
"Krishna, jangan berlaku seperti ini. Engkau adalah putra Nanda, kepala desa yang dihormati seluruh penduduk Vraja. Semua orang mengenalmu sebagai anak dari keluarga terpandang. Tolong kembalikan pakaian kami. Kami sudah tidak kuat menahan dingin."

Mereka kembali memohon,
"Wahai Syamasundara, kami adalah pelayan-Mu dan akan melakukan apa pun yang Engkau perintahkan. Tetapi kembalikanlah pakaian kami. Engkau sendiri mengetahui ajaran dharma. Jika Engkau tetap tidak mengembalikannya, kami terpaksa akan mengadukan hal ini kepada raja (Nanda, bapakmu)."

Namun permohonan itu tidak mengubah keputusan Krishna.
Memanfaatkan gelarnya sebagai putera pemimpin desa, atau gus (raden bagus) Krishnapun tinggi hati:

"Kalau kalian benar-benar pelayan-Ku dan sungguh ingin menaati perintah-Ku, datanglah ke sini dan ambil sendiri pakaian kalian. Kalau tidak, pakaian itu tidak akan Kukembalikan. Lagi p**a, sekalipun raja marah, apa yang bisa ia lakukan kepada-Ku?"

Lalu penulis Srimad Bhagavatam mendeskripsikan
ततो जलाशयात् सर्वा दारिका: शीतवेपिता: ।
पाणिभ्यां योनिमाच्छाद्य प्रोत्तेरु: शीतकर्शिता: ॥ १७ ॥

Kemudian, menggigil karena kedinginan yang menyakitkan, semua gadis muda itu (terpaksa) bangkit dari air, menutupi area k4-mluwand mereka dengan tangan. (untuk mengambil baju mereka)”

Perhatikan teks Sansekerta

; pāṇibhyām — dengan tangan mereka ; yonim — area kemaluan mereka ; ācchādya — penutup ; protteruḥ —

Ya ini deskripsi langsung dari Kitab suci.
Krisha sangat senang melihat para gadis itu tanpa sehelai benangpun.

Dan ini bukan pertama kali, Krishna juga pernah melakukan hal serupa kepada bibinya, Radha, di depan semua gadis-gadis gopi Vrindavan.

Dalam sejumlah kisah dalam literatur Hindu, tindakan mengambil pakaian perempuan ternyata bukan hanya dilakukan oleh Krishna. Beberapa dewa lain juga dikisahkan melakukan perbuatan serupa demi melihat tubuh perempuan tanpa busana. misalnya Dewa Indra Untuk bersenang-senang, meniup pakaian gadis-gadis yang sedang mandi hingga terbang, Dewa Marut, maupun Maharsi Viswamitra yang bertemu dengan Menaka hingga akhirnya melahirkan Shakuntala.

Menariknya, adegan-adegan tersebut tidak hanya diceritakan dalam kitab-kitab, tetapi juga diabadikan dalam patung, relief candi, dan lukisan-lukisan keagamaan sebagai bagian dari kisah yang dianggap suci.

Bahkan bisa jadi, leluhur kita mengarang dongeng Jaka Tarub, dimana pria pengangguran itu memergoki bidadari mandi dan mencuri pakaiannya.

Itu terpengaruh kisah Krishna.
Tapi itu bisa jadi ya.

Lalu bagaimana jika ini terjadi dizaman sekarang ?

Ada laki-laki tau ada sekelompok gadis sedang mandi di sungai. Diam-diam ia nyolong semua pakaian gadis, lalu memaksa mereka keluar dari air untuk mengambil kembali pakaiannya.

Pasti akan dianggap pelecehan.

Mungkin ada yang bela “ah tapi kan gadis gadis itu itu teman-temannya Krishna, lagian itu becanda kok, hidupmu kok serius amat.”

Oh becanda ya, sampai tanpa busana.🙂
Baik becanda berarti ya.

Membongkar klaim bahwa Hindu Bali adalah Penduduk Asli
26/07/2026

Membongkar klaim bahwa Hindu Bali adalah Penduduk Asli

"Tiyang Bali kaya-kaya, bukan kayak kamu orang miskin! Kamu nggak makan di Jawa, makanya cari uang ke Bali!"

Bagi sebagian orang, ucapan itu bukan sekadar ejekan. Itu lahir dari keyakinan bahwa orang Jawa, khususnya yang beragama Islam, hanyalah pendatang di Pulau Bali.

Sedangkan orang Hindu Bali dianggap sebagai pemilik tanah ini, penduduk asli yang telah mendiami Bali sejak awal.

Masalahnya, benarkah sejarah berkata demikian? Siapa sebenarnya penduduk asli Pulau Bali?

Pada abad ke-14, Majapahit menjelma menjadi kerajaan Hindu terbesar di Nusantara. Di bawah Sumpah Palapa, Gajah Mada bertekad membawa kerajaan-kerajaan di Nusantara bertekuk lutut dibawah kaki Majapahit. Ekspedisi militer pun dikirim ke berbagai wilayah yang belum berada dalam kekuasaannya.

Salah satu sasarannya adalah Bali.

Saat itu Bali telah berdiri sebagai sebuah kerajaan yang merdeka. Pulau ini memiliki raja sendiri, rakyat sendiri, panglima sendiri, serta adat dan keyakinannya sendiri. Bagi rakyat Bali, tidak ada alasan untuk menyerahkan negerinya kepada kekuasaan dari seberang lautan.

Peperangan berubah menjadi perang yang melelahkan. Berkali-kali pasukan Majapahit menerjang pertahanan Bali, berkali-kali p**a mereka dipukul mundur. Selama Kebo Iwa (panglima Bali) yang terkenal hebat masih berdiri di medan perang, Bali tetap sulit ditaklukkan.

Menurut Babad Usana Bali, karena kemenangan tak kunjung datang, biaya tentara membengkak dan korban terus berjatuhan.

Gajah Mada pun mengundang Kebo Iwa ke Majapahit dengan menawarkan mengadakan perundingan damai. Sebagai seorang ksatria, Kebo Iwa memenuhi undangan itu tanpa membawa pasukan, sendirian dan tanpa senjata ke Jawa.

Dan tahu ?

Kebo Iwa dibunuh ditengah jalan oleh Gajah Mada.

Gugurnya panglima terbesar Bali karena pengkhianatan Majapahit menjadi pukulan telak bagi kerajaan. Majapahit kembali mengirim pasukan. Kali ini, benteng pertahanan Bali telah kehilangan orang yang selama bertahun-tahun menjadi tembok kokohnya. Raja Bali Sri Astasura Bumi Banten dibunuh.

Bali akhirnya jatuh ke tangan Majapahit, dan sebuah babak baru dalam sejarah Pulau Dewata pun dimulai.

Singkat cerita, Kerajaan Bali sudah dikuasai, Majapahit kemudian mengangkat seorang Brahmana Jawa, Aji Kṛṣṇa Kepakisan, sebagai penguasa baru di Bali. Hal ini disusul gelombang banyak pengungsi dari Jawa berdatangan ke kota kota Kerajaan.

Mengetahui itu, marahlah Rakyat Bali asli.

Wujud menolak kekuasaan asing ini akhirnya mereka mengungsi ke pegunungan di wilayah Karangasem, Bangli, dan Buleleng.

Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Bali Aga penduduk asli Bali yang mempertahankan adat dan keyakinan leluhur mereka.

Banyak perbedaan dari keduanya, Hindu Majapahit kemudian hari memperkenalkan kasta dan pembakaran mayat, sedangkan orang Bali asli hidup secara egaliter tanpa kelas sosial dan mengenal sistem pengkuburan jenazah. Anda sampai hari ini bisa datang ketrunyan bagaimana masyarakat Hindu disana masih menaruh jenazah tanpa dibakar. Banyak deh bedanya.

Intinya merekalah orang Bali asli.

Kliwon demi kliwon berlalu 1478, Majapahit runtuh karena perang saudara, cahaya Islam di Jawa semakin meluas, sehingga orang-orang Hindu Majapahit itu berpindah ke Bali secara besar-besaran dan sesampai disana disambut baik oleh raja-raja Bali keturunan Jawa Majapahit tadi.

(Keturunan Aji Krishan Kepakisan menyebar menjadi kerajaan kecil seperti, Gelgel dll menjadi raja-raja Bali. Sehingga dari sini dikenalah bahwa Bali adalah penerus Majapahit)

Makanya Orang Bali menghormati banget Majapahit kan kenapa ? karena yah nenek moyangnya mereka itu raja Bali dari Jawa.

Tapi dilain sisi anehnya wong Majapahitan ini mengaku sebagai “pewaris Majapahit yang terusir”,

justru menganggap orang-orang “anak Jawa” hari ini pendatang.

Padahal mereka toh orang-orang hindu bali juga pendatang, menjajah malahan. Buktinya browsing aja banyak kok orang Bali yang sampai hari ini sakit hati dengan kelakuan Gajah Mada karena mencurangi Kebo Iwa.

Adapun Bali asli merasa dirugikan karena kedatangan orang-orang Ini mereka kehilangan rumah dan tanahnya, sehingga mereka menyingkir ke pedalaman pedalaman hutan.

Wilayah perkotaan pada akhirnya dikuasai “wong Majapahitan”

Nikmat Sumpah Palapa mana yang kamu dustakan?
———
Ikuti Ngopidiyyah untuk info menarik lainnya

Pagi pagi masak apa?
25/07/2026

Pagi pagi masak apa?

"Ah, itu mah cuma ulah oknum. Di mana-mana juga ada sabung ayam."

Kalau kalimat ini keluar dari orang bukan Bali, mungkin masih bisa dimaklumi.
Benar, hampir setiap daerah mengenal sabung ayam. Dua ayam diadu, orang bertaruh, lalu selesai.
Tetapi tajen bukan sekadar sabung ayam.
Ini alasannya .....!

Jauh sebelum serdadu Belanda menginjakkan kaki di Pulau Bali, jauh sebelum pemerintah kolonial mengenal adat-istiadat masyarakat Bali, tradisi tajen telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat. Clifford Geertz dalam Notes on the Balinese Cockfight (1973) menjelaskan bahwa tajen adalah ritual asli agama Hindu Bali.

Hal ini bisa dilihat dalam setiap piodalan, yaitu perayaan hari jadi sebuah pura, maupun sejumlah upacara keagamaan besar lainnya, terdapat sebuah ritual yang disebut tabuh rah atau "persembahan darah". Ritual ini menjadi bagian dari upacara yang bertujuan memberikan persembahan kepada bhuta kala, yaitu makhluk-makhluk yang dalam kepercayaan Hindu Bali diyakini perlu diberikan persembahan agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

Berbeda dengan tradisi yang mempersembahkan darah melalui penyembelihan hewan, tabuh rah menggunakan pertarungan dua ekor ayam jantan. Dalam uraian Geertz, adu ayam dilakukan sebanyak tiga kali sebagai bagian dari prosesi upacara. Darah yang tertumpah dari pertarungan itulah yang dipandang sebagai bagian dari persembahan ritual.

Coba pikir, apa benar ini hanya sabung ayam biasa?

Tradisinya memiliki nama ritualnya tertentu, dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, jumlah tertentu, mengikuti tata cara tertentu, dan menjadi bagian dari rangkaian upacara keagamaan tertentu?

Masih bilang tajen sebagai adu ayam biasa?

Kalau jawabannya "ya", lalu mengapa ada buku yang secara khusus mengajarkan ilmu tajen?

Hari ini Anda cukup membuka Shopee dan mengetik "Tajen, Ilmu dan Doanya." Isinya bukan cerita fiksi, melainkan panduan memilih ayam, merawat ayam aduan, hingga doa-doa versi Hindu yang diyakini membawa Anda menang taruhan.

Sebuah praktik yang melahirkan ilmu, buku, dan tradisi lisan jelas bukan sekadar mainan adu ayam biasa!

Karena itu, menyamakan tajen dengan sabung ayam biasa sama seperti menyamakan gunung es dengan bongkahan es yang terapung di laut. Yang tampak di permukaan memang serupa, tetapi aslinya berbeda.

"Lalu kenapa lukisan perempuan Bali digambarkan bekerja di pasar, mengangkat barang, bahkan menjadi pekerja keras, sementara laki-lakinya hanya duduk dan mengadu ayam?"

Ya nggak tahu juga ya, yang pasti wanita Bali itu saya akui sangat tangguh, jadi kuli mau, jadi buruh angkut barang mau, tapi waktu pembagian warisan nggak dapat.

(Oh ya toh kemarin yang marah-marah juga Ibu Ibu Penjahit)

Tetapi di sisi lain, menarik melihat bagaimana dari dunia luar memandang "laki-laki malas, kerjaaannya ngelus-ngelus ayam, taruhan, dan buang-buang waktu nggak jelas”

Tapi berhasil oleh orang-orang itu dibuatkan buatkan alasan bahwa kerjaan tajen itu bukan simbol kemalasan, justru simbol kejantanan.

(Iya kejantanan, bahkan disamakan dengan alat nganunya laki-laki) ini disampaikan Dalam Jurnal "Budaya dan Perilaku Berjudi: Kasus Tajen di Bali" karya N. Trisna Aryanata, Program Studi Psikologi Institut Ilmu Kesehatan Medika Persada Bali,

Para laki-laki yang patriaki itu, Mereka menutupi kemalasannya dengan menjejali doktrin-doktrin ke anak-anaknya dan Isterinya bahwa arena tajen bukan tempat seorang laki-laki melarikan diri dari “tanggung jawab”, tapi tempat menunjukkan Jati diri sebagai laki-laki !.

Sebab katanya, Ia datang aslinya bukan sekedar membawa ayamnya, tapi membawa keberaniannya, membawa nama keluarganya, marganya, kastanya bahkan ada nama satu banjar (desa) yang ikut dipertaruhkan kehormatannya.

(katanya sih begitu)
(Sok penting lah)

“Tapi kan kalau Judi resiko rugi ! ” kata kita

Mereka biasanya jawab “Bli, Bli, bukankah semua usaha memiliki risiko?

Lihat Pedagang mempertaruhkan modalnya, petani mempertaruhkan tenaga dan musim, pengusaha mempertaruhkan uangnya. “

Begitu p**a, aku, wku mempertaruhkan nasibnya !
Toh juga kalau menang, uangnya kembali ke anak-istri.”

Ya begitulah.

Yang menarik, penelitian psikologi yang dilakukan Putu Saras Apriyanti berjudul "Gambaran Motivasi Pelaku Tajen: Sebuah Tradisi Sabung Ayam di Bali"

Hati terdalam mereka pun sebenarnya mengakui bahwa mustahil dirinya kaya dari hasil uang panas.

"Kalau dibilang dari segi ekonomi mencari nafkah kan ndak bener itu. Ndak ada orang judi makin kaya kan gitu... Intinya sekali, hobi dah jadinya... Di waktu kita main ini punya perasaan bahagia... senang... Keuntungannya kita ada kebahagiaan di waktu judi sabungan ayam." Ujar P1 sambil menertawakan kekalahan dirinya yang sekian kali.

Salah satu curhatan Orang Bali sendiri, Putu Setia dalam bukunya Bali Mengunggat, bahwa kebiasaan sabung ini sampai jadi sterotip orang luar Bali ke Bali.

“Sampai sekarang pun saya sering mendapat pertanyaan, apa betul anak perempuan di Bali tidak disekolahkan sampai tinggi, sebagaimana anak lelakinya, karena pertimbangan "anak itu akan diambil orang". Masih ada anggapan di sebagian besar orang, menjadi perempuan di Bali adalah menjadi warga manusia kelas dua. Lihat itu, betapa parahnya perlakuan orang Bali terhadap kaum wanitanya. Mereka mencari pasir di sungai, mengangkutnya ke truck di atas jembatan. Para wanita Bali berjemur di panas terik mengaspal jalanan. Mereka naik sepeda sambil menjunjung bakul besar berisi barang dagangan. Sementara lelaki Bali sangat malas, kerjanya hanya mengelus-elus ayam aduan. Foto-foto manusia Bali yang pernah menyiratkan keindahan budaya itu, tiba-tiba berubah menjadi tamparan buat Bali.

Dan kini, ketika kesadaran umat manusia akan hak-hak asasi semakin tinggi, maka yang jelek-jelek kemudian menjadi identik dengan Bali. Sabungan ayam ada di seluruh daerah Indonesia dengan berbagai variasinya. Tetapi karena sabung ayam di Bali menjadi resmi - mudah sekali disaksikan karena tak dilarang oleh polisi - foto-foto ini sejak lama menghias berbagai media masa dan liputan televisi. Akibatnya, seolaholah sabung ayam yang ada di daerah luar Bali itu adalah hasil budaya buruk orang Bali.

Di Sumatra Selatan, misalnya, kalau polisi menggrebek sabung ayam pasti menyebutkan: judi ala Bali. Padahal yang melakukannya bukan lagi orang Bali. Di satu wilayah di NTT baru-baru ini dibubarkan sabungan ayam. Apa kata pejabat setempat: "Kalian jangan meniru orang Bali yang penjudi itu."
Waduh, sedihnya hati ini mendengar. Mau bilang apa? Soalnya di Bali judi sabung ayam tak pernah dibubarkan polisi. Polisi di Bali tak ikut "menjaga Bali".

Keluh Putu Setia…..

Nah, Kira-kira kenapa ya polisi tidak membubarkan ?
Apa takut karena itu ada bakingan aturan adat, atau jangan jangan itu aturan agama ?

——-

Untuk tulisan lebih detail soal Pandangan Hindu dan Judi, baca disini, ada kisah kisah bagaimana Pandawa bahkan Dewa Siwa pun kalah taruhan.

https://www.facebook.com/share/1Edcoa5tpo/?mibextid=wwXIfr

Address

Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ngopidiyyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share