IAN Jogja

IAN Jogja

Share

Ikatan Alumni Nasy'atul Muta'allimin (IAN) sebuah organisasi yang sifatnya kekeluargaan yang berada di Yogyakarta.

12/10/2017

Anak-anak Dunia Maya
:Damhuri Muhammad

DI MASA LALU, bila seorang anak hendak berpamitan, ia mesti mengetuk pintu kamar ayahnya, atau menghampiri ibunya ke dapur, untuk bersalaman, cium tangan, sebelum meninggalkan rumah. Tata krama dan laku santun itu kini telah diringkas oleh perkakas bernama gawai. Ia cukup mengetik satu-dua kalimat di layar telpon pintar, lalu kirim melalui fasilitas online messenger ke nomor Mama-Papa, dan tuntas perkara. Mama-Papa akan membalas pesan-pesan digital dari anak-anaknya, lantas kembali tenggelam dalam rutinitas yang tiada sudah-sudah. Begitu selalu, hingga banyak keluarga seperti sedang membangun rumah di semesta jagad maya. Seolah-olah ramai perbincangan, seakan-akan semarak kehangatan, padahal mereka jarang bertemu-muka.

Generasi yang lahir di era 1980-an hingga 2000-an adalah generasi yang tumbuh di lingkungan serba digital. Mereka meluncur ke bumi ketika dunia internet telah merajalela. Hampir semua aktivitas mereka dijembatani oleh internet. Mereka mencari informasi untuk keperluan tugas-tugas sekolah di Google, YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, dan berkomunikasi dengan macam-macam fasilitas online messenger semacam BBM, WhatsApp, Line. Pendeknya, tak ada satu urusan pun yang lepas dari dunia maya. Gawai adalah perkakas. Jagad maya adalah napas.

Marc Prensky (2001) menyebut mereka sebagai generasi digital native. Bila anak-anak yang terbiasa berbincang dengan ibu-bapaknya via WhatsAppmeski mereka berada di rumah yang samadisebut digital native, maka orangtua atau generasi di atas usia mereka, adalah kaum digital immigrant. Orang-orang yang lahir di jaman analog, tapi tidak bisa lari dari kepungan dunia digital. Ada yang bisa beradaptasi, tapi lebih banyak yang kepayahan, karena generasi masa kini tidak lagi bisa memahami fitur-fitur analog dalam bahasa mereka.

Kolumnis M Burhanuddin (2016) mencatat, generasi digital native membangun gaya, perilaku, dan bahasa-bahasa baru dalam alur komunikasi dan interaksi yang cepat, massif, dan penuh fantasmagoria. Mereka mengubah tatanan nilai dan gaya hidup menjadi serba digital. Jumlah mereka sangat besar, dan akan menjadi yang terbesar di Indonesia pada 2030. Bila menggunakan istilah Manuel Castel (1996), pertumbuhan generasi digital native dianalogikan seperti rhizome, tumbuhan yang berkembang dengan cara menjalar ke segala arah.

Di berbagai belahan dunia, kaum digital native terus bermunculan. Bahkan di negara yang dikuasai oleh junta militer dan paling represif terhadap media seperti Myanmar sekalipun, sejak 1988 sebagaimana dicatat oleh Reza AA Wattimena muncul kelompok virtual bernama Support the Monks Protest. Setiap 12 jam, 10.000 anggota baru mendaftar. “Kini, Anda bisa menyaksikan komunitas-komunitas yang kuat, dari orang-orang Myanmar di Norwegia, Thailand, India, dan Inggris. Teknologi digital membuat jaringan bawah tanah menjadi lebih efektif,” ungkap Vincent Brossel, wartawan Reporters Without Border. Di negara-negara Arab, revolusi digital bahkan menggerakkan perubahan sosial politik. Otoritarianisme bertumbangan digilas gelombang perlawanan yang bermula dari suara anak-anak dunia maya.

Dari kaum digital native p**a lahirnya sosok seperti Travis Kalanick, pendiri sekaligus CEO Uber, aplikasi penghubung para pengguna jasa transportasi. Sebagaimana dilansir www.cnnindonesia.com (24/03/16), Kalanick mendirikan Uber pada 2009 di San Fransisco, California. Uber diterima masyarakat, karena harganya terjangkau. Uber mengekspansi layanan ke berbagai negara secara agresif, mengganggu tatanan transportasi, dan memicu kontroversi. Pada 2015 di New York, Uber menyediakan layanan kepada 1,9 juta pengguna dalam waktu tiga tahun dan menciptakan rata-rata 13.750 pekerjaan. Sementara di London, pengguna Uber sudah mencapai 900 ribu dan membuka 7.800 pekerjaan. Kini Uber telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan dianggap mengganggu bisnis transportasi konvensional.

Anthony Tan, putra seorang konglomerat Malaysia, suatu hari saat ia kuliah di Harvard Business School (AS), temannya berkabar perihal sulitnya mendapatkan taksi di Malaysia. Ia kemudian menyusun rencana bisnis yang mirip layanan Uber pada 2012. Tan membangun GrabTaxi, aplikasi yang semula dirancang guna mendukung operasional perusahaan taksi, tapi kemudian malah menggoyang perusahaan taksi itu sendiri. GrabTaxi semakin membuat pusing perusahaan taksi dengan meluncurnya GrabCar, Juni 2015 di Bali. Aplikasi online yang memungkinkan mobil pribadi mengangkut penumpang. GrabCar hadir di Jakarta pada Agustus 2015 (www.cnnindonesia.com 15/3/2016).

Generasi digital native adalah para penggerak ekonomi digital. Pertumbuhan kelas menengah dan penetrasi internet tak dapat diabaikan. Menurut catatan Bank Dunia, Indonesia telah mengalami pertumbuhan kelas menengah yang fantastis sejak krisis moneter 1998. Pertumbuhan itu diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun 2030 dengan pop**asi sebanyak 141 juta jiwa. Lembaga riset eMarketer mensinyalir, pada 2014 jumlah pengguna internet dalam negeri sudah 83.7 juta jiwa. Litbang Kompas memprediksi, pada 2017 jumlahnya akan sebanyak 117 juta jiwa.

Uber, Grab, Go-jek, hanya sebagian kecil dari bentuk-bentuk kreativitas kaum digital native, yang kini sedang menggelinding menjadi buah simalakama. Disukai banyak orang, tapi dicerca banyak orang p**a. Dalam silang-singkarut layanan transportasi publik yang tak kunjung terurus, banyak orang merasa terbantu, ratusan ribu orang terlapangkan ekonominya. Tapi, penyelenggara negara tak bisa membiarkan itu bergulir tanpa aturan. Maka, dalil undang-undang lekas dibacakan, himbauan dimaklukmatkan, bahkan ancaman memblokir situs, telah dikumandangkan. Solusi analog dan super-manual. Kreativitas dihadang dengan undang-undang. Keleluasaan berinovasi dikunci dengan regulasi yang kaku.

Jarak ideologis antara digital native dan digital immigrant, dalam psikologi disebut “efek juvenoia.” Orang-orang masa lalu memandang anak-anak masa kini sebagai gerombolan tak bermoral. Sebaliknya, anak-anak masa kini memandang generasi tua sebagai kerumunan yang tak mampu berpikir. Undang-undang tak akan mempan menjinakkan keliaran kaum digital native, kecuali negara menjadi bagian dari ranah digital itu sendiri. Kontrol, sanksi, dan hukuman seharusnya juga berlaku secara digital, bukan mengandalkan undang-undang, ancaman pemblokiran, dan semacamnya.

Anak-anak dunia maya tak terbiasa banyak bicara di dunia analog. Mereka akan terus berselancar di layar-layar digital, mencari celah yang bisa ditelusuri untuk kembali menemukan bentuk-bentuk kreativitas baru, dan boleh jadi akan jatuh sebagai buah simalakama yang jauh lebih pahit. Begitu seterusnya, hingga negara ini lapuk dalam keletihan…

(Kompas, Selasa, 14 Juni 2016)

04/10/2017

TERKADANG, PENDERITAAN MENJADIKAN SEGALANYA LEBIH MUDA

Anda tahu Marlon Brando? Ia sempat membuat sejarah dengan meraih Oscar sebagai pemeran utama terbaik. Namun, hadiah itu ia tolak sebagai bentuk protes terhadap perlakuan diskriminasi pemerintah Amerika Serikat terhadap suku Indian. Ia adalah sosok yang penuh perjuangan.

Masa kecil Marlon Brando ialah sebuah kisah yang penuh tekanan. Ibunya merupakan seorang pemabuk yang lebih memilih minum ketimbang mengurusi anak-anaknya. Selama seminggu, bisa dipastikan ibunya sering menghilang berhari-hari untuk pergi minum entah ke mana. Kakak perempuannyalah yang kemudian kelimpungan keluar-masuk bar setempat demi menemukan sang ibu.

Ayah Marlon pun setali tiga uang dengan ibu Marlon. Ia bekerja sebagai sales produk pertanian. Tidak hanya senang mabuk, ayahnya juga sering melecehkan mental Marlon dengan mengatakan bahwa anak laki-lakinya itu bodoh dan tidak bisa mengerjakan apa pun secara benar.

Suatu hari, orang tua Marlon dipanggil ke sekolah karena prestasi sekolah Marlon yang menurun. Dan seperti biasa, sang ayah justru mengatakan segala sesuatu yang merendahkan Marlon. Sayangnya, si kepala sekolah juga sama tabiatnya.

"Kamu bodoh, Marlon!" kata kepala sekolah.

"Kamu tidak bisa apa-apa! Tidak akan pernah berhasil dalam hidupmu! Kau hanya akan menjadi gelandangan!" timpal sang ayah.
Tidak tahan dengan semua itu, Marlon memutuskan untuk berhenti sekolah.

Suatu hari, Marlon muda berjalan-jalan di pusat kota New York. Ia kemudian terpikat pada sebuah sekolah akting. Ia pun mendaftarkan diri di sana.

Salah satu teknik akting yang paling penting ialah mengeluarkan emosi. Caranya yaitu dengan mengingat kembali emosi-emosi pada masa lalu yang pernah dialami. Metode ini akan membuat tangisan, kemarahan, kegembiraan, dan semua bentuk emosi lainnya menjadi lebih natural. Dengan semua "penderitaan" yang telah ia alami dalam hidupnya, tentu saja ini bukan masalah besar bagi Marlon. Kemampuan ini sangat mendukung perkembangan kariernya sebagai aktor.

Perannya dalam Julius Caesar dan The Godfather yang meraih penghargaan menjadikan anak yang tidak bisa apa-apa ini sebagai salah satu bintang film tersukses di Hollywood.

Catatan: cerita di atas dikutip (dan diedit seperlunya) dari buku Assep Purna, 101 Kisah Inspiratif. Semoga bermanfaat. Salam semangat!

Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu 15/09/2017

Yuk g**s si baca , biar wawasan kita semakin hari semakin bertambah

Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 28 Juni 2015) Kami dipaksa menganut agama resmi, mencantumkannya di KTP, dan dipaksa menjauhi Tuhan kami— Dewata Sewwae, tentu kami tidak berdaya lantas harus menerima…

Photos from IAN Jogja's post 15/09/2017

Malam ini, Sabtu 15 September 2017 kami kembali melakukan silaturrahmi sambil nyeruput kopi. Kami juga mengenang masa-masa dulu, masa dimana masih bergelut dengan dunia pondok, sekolah dan lain-lain. Sangat manis untuk dikenang. Semanis kopi yang menemani kami.

Photos 07/09/2016
Photos from IAN Jogja's post 07/09/2016

Alhamdulillah di kepengurusan IAN kemarin sudah menyelesaikan Film Dokumenter Nasy'atul Muta'allimin dan bikin koas IAN.

Photos 07/09/2016

Selamat atas terpilihnya Khairul Amin Rais (Ilung) sebagai Ketua IAN di Periode berikutnya, semoga IAN lebih baik lagi. Amien

Photos 07/09/2016

Kongres IAN Ke - 3
Yogyakarta, 06 September 2016

15/07/2015

Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus meski hanya sedikit. (Muhammad SAW)

Want your school to be the top-listed School/college in Yogyakarta City?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

Sorowajan
Yogyakarta City
55198