26/02/2024
PERJALANAN DENGAN KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA!
Catatan perjalanan ke Dermaga Tua (Eks. Pelabuhan Buleleng) di Kota Singaraja Bali, 23 Februari 2024
Melakukan aktivitas dan sembari berlibur di Pulau Dewata adalah menjadi harapan kebanyakan orang. Bagi saya sendiri, selain menjalani tanggung jawab dan rencana jangka panjang demi manfaat banyak orang, berkunjung ke Pulau Dewata adalah salah satu perjalanan spiritual saya, tidak mengapa berkunjung ke berbagai Pura besar dan tua adalah bagian dari praktik yang mendalam sebagai jembatan untuk memahami banyak aspek kehidupan spiritual yang saya jalani.
Bertemu dengan Mangku dan Dane adalah cara-cara unik dengan upaya kausalya yang akan memberikan arah perjalanan dalam mengemban tanggung jawab dan memahami kehidupan nusantara.
Setiap kali dalam sebuah perjalanan di manapun itu, saya sering bertemu dengan beberapa bagian kisah kehidupan yang tidak jauh dari kehidupan masyarkat secara umum tetapi penting untuk dipahami dan bagaimana kita meresponnya. Saat kami berkesempatan untuk makan malam bersama di atas dermaga bekas pelabuhan tua di Kota Singaraja yang otentik dan sangat khas dengan daerah pesisir pantai.
Aroma air laut di dermaga, asap dari dapur rumah makan, beberapa sampah dan air keruh mengikuti gelombang yang memecahkan kesunyian sore di antara para pengunjung yang sedang menikmati sore hari. Jelas sekali saya melihat ada empat orang anak kecil dan mereka terjun bebas ke air di jembatan dekat pondokan di atas dermaga di mana kami duduk santai menikmati minuman dan makanan. Saat waktu memasuki rumah makan tersebut saya sudah melihat anak-anak ini bermain dan bersenda gurau bahkan beberapa kali menegur sapah kami dengan berbahasa inggris.
Saya melihat cara anak-anak yang naik turun jembatan dari air di bawahnya yang kotor dan keruh, ada banyak pertanyaan yang muncul; apakah mereka bersekolah? Dari mana asalnya mereka apakah anak sekitar ini? Hanya demi koin 500 rupiah mereka harus terjun? Apa tidak berbahaya? Apakah orang yang memberikan koin tadi hanya ingin melihat atraksi mereka terjun ke air kotor? Apakah anak-anak ini seperti tidak ada harganya? Orang-orang di sekitar duduk menikmati minuman dan makanan dengan santai seolah-olah anak-anak di hadapan mereka ini adalah bagian dari atraksi yang ditawari oleh sajian makan malam mereka?
Sungguh banyak sekali pertanyaan dan membuat saya harus kembali ke praktik untuk berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya tersebut. Saya paham bahwa bukan soal pertanyaan-pertanyaan ini, tapi bagaimana saya harus melihat mendalam akan fenomena yang ada di hadapan saya tanpa menghakimi dan menyalahkan siapapun. Saya tahu bahwa marginalisasi itu terjadi bahkan tanpa disadari oleh banyak pihak, karena bagi kita itu adalah hal biasa bahkan dalam prkatik spiritual dan bersifat religius.
Saya setelah menikamti makanan saya keluar dari rumah makan dan menghampir anak-anak tersebut. Mereka juga antusias sembari memberikan salam dan menyapa saya, “mister where are you from? China? Japan? Or Indonesia? Saya pun tersenyum, lalu salah satu teman dari anak-anak ini, menimpali, “Buddha ya?” lalu temannya menegur dalam bahasa indonesia, “tidak boleh bilang buddha, itu tidak sopan, panggilnya mister atau biksu”. Lalu teman yang memanggil dengan kata Buddha tersebut meralat dengan memanggil saya, “mister”. Lalu saya menjawab bahwa saya dari Indonesia.
Mereka sangat senang dan antusias, meminta saya untuk melempar koin dan mereka akan mengambilnya, intinya mereka meminta uang dengan cara demikian. Saya terdiam dan menimpali mereka, "apakah adek-adek tidak dingin dan bukannya air itu kotor ya?” mereka menjawab, “sudah terbiasa, lumayan dapat uang karena kami tidak sekolah jadi setiap hari di sini cari uangnya”. Lalu mereka tetap memohon saya melempar koin uang logam ke air laut. Lalu saya mengajak mereka bicara dan meminta mereka agak minggir di sisi jembatan.
Kami pun berbincang-bincang, saya bertanya, “apakah adek-adek semuanya bersekolah?” mereka menjawab, “tidak sekolah, karena tidak punya uang, faktor kemiskinan mister”. Lalu ada yang menimpali, “ini dia baru keluar sekolah, kelas tiga SD karena tidak punya uang”. Saya tersenyum dan mengatakan, “wah harus sekolah, jangan berhenti, ada sekolah negeri sekarang bebas uang sekolahnya”. Mereka tidak menjawab dan tetap berusaha meminta agar saya melempar koin, mereka mengatakan semua pengunjung akan melakukan itu dan mereka senang melihat atraksi mereka mengambil koin itu, dan saya akan senang juga. Lalu saya mengatakan, “tidak, saya tidak akan melempar koin uang ke bawah sana karena airnya kotor dan kalian tampak kedinginan”.
Saya akan memberikan koin dengan cara kita foto bersama dan selfi bersama, dan mereka senang serta antusias. Saya pun membagikan uang receh ke mereka dengan layak dan mengajarkan bagaimana mereka harus sopan, tidak agresif dan menunggu dengan sabar. Mereka bisa melakukannya, naluri anak-anak yang lugu, natural, dan tanpa dibuat-buat terlihat jelas. Setelah bersama mereka, saya juga berkeinginan untuk memberikan kesempatan bagaimana mereka duduk di rumah makan dan melihat keadaan sekitar, saya tahu mereka tidak pernah merasakan pengalaman demikian.
Hal ini adalah pengalaman yang penting bagi mereka untuk mengalami dan mengetahui bahwa hidup itu adalah pilihan dan bagaimana kita menjalani serta berupaya mengkondisikan diri kita dan orang-ora ng di sekitar kita. Saya mengundang mereka untuk duduk di rumah makan dan menikmati makan malam, saya memesankan empat prosi nasi goreng dan empat gelas es jeruk segar. Mereka tidak percaya dan bahkan ada yang mengatakan, “benaran mister? Wah beneran? Terima kasih, terima kasih ya”. Saya menjawab dan tersenyum, “iya sore ini kalian semua diundang untuk makan malam di sini ya, ayo duduk dan jangan ragu, mister yang traktir”.
Sembari menujukkan kursi dan meja untuk sahabat kecil saya berempat ini. Lalu ketika saya melirik ke arah pelayan rumah makan, tampak kasir rumah makan agak bingung dan dengan menatap serius, lalu saya datangi dan mengatakan, “mohon diterima dan saya yang membayar semuanya, mari saya bayar dulu dan mohon berikan hal yang sama seperti para pelanggan lainnya”.
Kasir rumah makan tersebut tersenyum dan mengucapkan terima kasih serta memastikan pesanan saya. Setelah semuanya terkondisikan, saya akan segera kembali ke rombongan dan melanjutkan trip kami.
Salah satu biksu dari monasteri di eropa mengetahui hal tersebut dan bertanya ke saya, “kamu mengundang mereka makan malam?” saya menjawab, “iya, sudah seharusnya kita menikmati makan malam ini, dan mereka juga mengalami hal yang sama, pengalaman ini akan menghantarkan mereka bahwa hidup itu semua adalah bagaimana kita memandang, kemisikinan dan kobodohan hanyalah kondisi sementara yang bisa diubah, jika kita tidak sadar sepenuhnya kita akan menjadi pelaku dan korban dalam pengkondisian mereka saat ini, kita berkontribusi akan hal ini, ini juga adalah pemandangan kecil dari kehidupan yang sesungguhnya dengan berbagai fenomena, kita hadir adalah untuk mereka sepenuhnya dan segala perjalanan kehidupan sangha kita untuk membawa kebermanfaatan bagi semua makhluk, mereka adalah bodhisattva kita untuk membantu lebih mengakar pada kehidupan sangha yang sesungguhnya ini, apalagi saya saat ini juga sedang mengembangkan lembaga pendidikan yang sarat dengan anak-anak seperti mereka”.
Kami pun meninggalkan dermaga tua di kota singaraja dengan penuh s**acita dan rasa syukur dan terima kasih, terutama pengalaman spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena dia melampaui kebenaran itu sendiri. Kemanapun kita berada, kita harus mampu melihat segala fenomena dengan pengertian benar, welas asih, dan bijaksana melalui hukum sebab akibat yang saling bergantungan mengarahkan hakekat kehidupan yang sesungguhnya, akhirnya membawa kebahagian dan s**a cita bagi diri kita dan semua makhluk, pada titik akhirnya mengarahkan pada transformasi diri dan sosial.
16/05/2023
02/04/2023
02/04/2023
01/04/2023