Nyanabandhu Shakya

Nyanabandhu Shakya

Share

'Page' ini hadir untuk mendukung pengembangan praktik berkesadaran penuh di masyarakat untuk membawa transformasi individu dan sosial.

Membawa informasi, pengetahuan, dan wawasan mengenai seni hidup sadar penuh di berbagai bidang kemasyarakatan.

26/02/2024

PERJALANAN DENGAN KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA!

Catatan perjalanan ke Dermaga Tua (Eks. Pelabuhan Buleleng) di Kota Singaraja Bali, 23 Februari 2024

Melakukan aktivitas dan sembari berlibur di Pulau Dewata adalah menjadi harapan kebanyakan orang. Bagi saya sendiri, selain menjalani tanggung jawab dan rencana jangka panjang demi manfaat banyak orang, berkunjung ke Pulau Dewata adalah salah satu perjalanan spiritual saya, tidak mengapa berkunjung ke berbagai Pura besar dan tua adalah bagian dari praktik yang mendalam sebagai jembatan untuk memahami banyak aspek kehidupan spiritual yang saya jalani.

Bertemu dengan Mangku dan Dane adalah cara-cara unik dengan upaya kausalya yang akan memberikan arah perjalanan dalam mengemban tanggung jawab dan memahami kehidupan nusantara.
Setiap kali dalam sebuah perjalanan di manapun itu, saya sering bertemu dengan beberapa bagian kisah kehidupan yang tidak jauh dari kehidupan masyarkat secara umum tetapi penting untuk dipahami dan bagaimana kita meresponnya. Saat kami berkesempatan untuk makan malam bersama di atas dermaga bekas pelabuhan tua di Kota Singaraja yang otentik dan sangat khas dengan daerah pesisir pantai.

Aroma air laut di dermaga, asap dari dapur rumah makan, beberapa sampah dan air keruh mengikuti gelombang yang memecahkan kesunyian sore di antara para pengunjung yang sedang menikmati sore hari. Jelas sekali saya melihat ada empat orang anak kecil dan mereka terjun bebas ke air di jembatan dekat pondokan di atas dermaga di mana kami duduk santai menikmati minuman dan makanan. Saat waktu memasuki rumah makan tersebut saya sudah melihat anak-anak ini bermain dan bersenda gurau bahkan beberapa kali menegur sapah kami dengan berbahasa inggris.

Saya melihat cara anak-anak yang naik turun jembatan dari air di bawahnya yang kotor dan keruh, ada banyak pertanyaan yang muncul; apakah mereka bersekolah? Dari mana asalnya mereka apakah anak sekitar ini? Hanya demi koin 500 rupiah mereka harus terjun? Apa tidak berbahaya? Apakah orang yang memberikan koin tadi hanya ingin melihat atraksi mereka terjun ke air kotor? Apakah anak-anak ini seperti tidak ada harganya? Orang-orang di sekitar duduk menikmati minuman dan makanan dengan santai seolah-olah anak-anak di hadapan mereka ini adalah bagian dari atraksi yang ditawari oleh sajian makan malam mereka?

Sungguh banyak sekali pertanyaan dan membuat saya harus kembali ke praktik untuk berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya tersebut. Saya paham bahwa bukan soal pertanyaan-pertanyaan ini, tapi bagaimana saya harus melihat mendalam akan fenomena yang ada di hadapan saya tanpa menghakimi dan menyalahkan siapapun. Saya tahu bahwa marginalisasi itu terjadi bahkan tanpa disadari oleh banyak pihak, karena bagi kita itu adalah hal biasa bahkan dalam prkatik spiritual dan bersifat religius.

Saya setelah menikamti makanan saya keluar dari rumah makan dan menghampir anak-anak tersebut. Mereka juga antusias sembari memberikan salam dan menyapa saya, “mister where are you from? China? Japan? Or Indonesia? Saya pun tersenyum, lalu salah satu teman dari anak-anak ini, menimpali, “Buddha ya?” lalu temannya menegur dalam bahasa indonesia, “tidak boleh bilang buddha, itu tidak sopan, panggilnya mister atau biksu”. Lalu teman yang memanggil dengan kata Buddha tersebut meralat dengan memanggil saya, “mister”. Lalu saya menjawab bahwa saya dari Indonesia.

Mereka sangat senang dan antusias, meminta saya untuk melempar koin dan mereka akan mengambilnya, intinya mereka meminta uang dengan cara demikian. Saya terdiam dan menimpali mereka, "apakah adek-adek tidak dingin dan bukannya air itu kotor ya?” mereka menjawab, “sudah terbiasa, lumayan dapat uang karena kami tidak sekolah jadi setiap hari di sini cari uangnya”. Lalu mereka tetap memohon saya melempar koin uang logam ke air laut. Lalu saya mengajak mereka bicara dan meminta mereka agak minggir di sisi jembatan.

Kami pun berbincang-bincang, saya bertanya, “apakah adek-adek semuanya bersekolah?” mereka menjawab, “tidak sekolah, karena tidak punya uang, faktor kemiskinan mister”. Lalu ada yang menimpali, “ini dia baru keluar sekolah, kelas tiga SD karena tidak punya uang”. Saya tersenyum dan mengatakan, “wah harus sekolah, jangan berhenti, ada sekolah negeri sekarang bebas uang sekolahnya”. Mereka tidak menjawab dan tetap berusaha meminta agar saya melempar koin, mereka mengatakan semua pengunjung akan melakukan itu dan mereka senang melihat atraksi mereka mengambil koin itu, dan saya akan senang juga. Lalu saya mengatakan, “tidak, saya tidak akan melempar koin uang ke bawah sana karena airnya kotor dan kalian tampak kedinginan”.

Saya akan memberikan koin dengan cara kita foto bersama dan selfi bersama, dan mereka senang serta antusias. Saya pun membagikan uang receh ke mereka dengan layak dan mengajarkan bagaimana mereka harus sopan, tidak agresif dan menunggu dengan sabar. Mereka bisa melakukannya, naluri anak-anak yang lugu, natural, dan tanpa dibuat-buat terlihat jelas. Setelah bersama mereka, saya juga berkeinginan untuk memberikan kesempatan bagaimana mereka duduk di rumah makan dan melihat keadaan sekitar, saya tahu mereka tidak pernah merasakan pengalaman demikian.

Hal ini adalah pengalaman yang penting bagi mereka untuk mengalami dan mengetahui bahwa hidup itu adalah pilihan dan bagaimana kita menjalani serta berupaya mengkondisikan diri kita dan orang-ora ng di sekitar kita. Saya mengundang mereka untuk duduk di rumah makan dan menikmati makan malam, saya memesankan empat prosi nasi goreng dan empat gelas es jeruk segar. Mereka tidak percaya dan bahkan ada yang mengatakan, “benaran mister? Wah beneran? Terima kasih, terima kasih ya”. Saya menjawab dan tersenyum, “iya sore ini kalian semua diundang untuk makan malam di sini ya, ayo duduk dan jangan ragu, mister yang traktir”.

Sembari menujukkan kursi dan meja untuk sahabat kecil saya berempat ini. Lalu ketika saya melirik ke arah pelayan rumah makan, tampak kasir rumah makan agak bingung dan dengan menatap serius, lalu saya datangi dan mengatakan, “mohon diterima dan saya yang membayar semuanya, mari saya bayar dulu dan mohon berikan hal yang sama seperti para pelanggan lainnya”.
Kasir rumah makan tersebut tersenyum dan mengucapkan terima kasih serta memastikan pesanan saya. Setelah semuanya terkondisikan, saya akan segera kembali ke rombongan dan melanjutkan trip kami.

Salah satu biksu dari monasteri di eropa mengetahui hal tersebut dan bertanya ke saya, “kamu mengundang mereka makan malam?” saya menjawab, “iya, sudah seharusnya kita menikmati makan malam ini, dan mereka juga mengalami hal yang sama, pengalaman ini akan menghantarkan mereka bahwa hidup itu semua adalah bagaimana kita memandang, kemisikinan dan kobodohan hanyalah kondisi sementara yang bisa diubah, jika kita tidak sadar sepenuhnya kita akan menjadi pelaku dan korban dalam pengkondisian mereka saat ini, kita berkontribusi akan hal ini, ini juga adalah pemandangan kecil dari kehidupan yang sesungguhnya dengan berbagai fenomena, kita hadir adalah untuk mereka sepenuhnya dan segala perjalanan kehidupan sangha kita untuk membawa kebermanfaatan bagi semua makhluk, mereka adalah bodhisattva kita untuk membantu lebih mengakar pada kehidupan sangha yang sesungguhnya ini, apalagi saya saat ini juga sedang mengembangkan lembaga pendidikan yang sarat dengan anak-anak seperti mereka”.

Kami pun meninggalkan dermaga tua di kota singaraja dengan penuh s**acita dan rasa syukur dan terima kasih, terutama pengalaman spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena dia melampaui kebenaran itu sendiri. Kemanapun kita berada, kita harus mampu melihat segala fenomena dengan pengertian benar, welas asih, dan bijaksana melalui hukum sebab akibat yang saling bergantungan mengarahkan hakekat kehidupan yang sesungguhnya, akhirnya membawa kebahagian dan s**a cita bagi diri kita dan semua makhluk, pada titik akhirnya mengarahkan pada transformasi diri dan sosial.

16/05/2023

Bertemu Bodhisattva Pengingat Diri di Kota Magelang
Oleh Biksu Nyanabandhu

15 Mei 2023, Kota Magelang—Berbicara tentang masyarakat kita, kemarin saat saya tiba di Kota Magelang, ada pengalaman yang membuat perenungan mendalam dalam tiga belas tahun kehidupan sangha saya. Keperluan ke Kota Magelang adalah untuk menghadiri pembukaan kegiatan Mahanitiloka Dhamma 2023, karena hotel yang disediakan oleh Bimas Buddha hanya untuk peserta, maka saya dan pendamping mahasiswa dari kampus kami tidak mendapatkan hotel di tempat kegiatan maka saya harus mencari penginapan terpisah. Untuk itu harus menginap di beberapa hotel dan berpindah-pindah.

Kami diminta menghubungi secara tersendiri ke hotel yang dijadikan tempat kegiatan mahaniti kali ini. Sayangnya kami tidak mendapatkan pembiayaan bagi pendamping maupun ketua stiab, bahkan harus menghubungi tersendiri ke bagian marketingnya. Tidak heran, jika berurusan dengan bagian marketing, kami ditawarkan kamar primier ke atas, jadi sudah tentu tidak perlu didiskusikan bahwa itu dibawah anggaran kampus. Maka saya mencari ke hotel lainnya, dan akhirnya mendapatkan di beberapa hotel. Sangat melelahkan dan membuat pekerjaan bertambah, tetapi semua dapat teratasi, karena memang kami cukup berpengalaman dalam menyiapkan akomodasi dan transportasi berpergian. Kelelahan harus dilampaui mengingat bahwa mahasiswa dan dosen telah bekerja keras, sebagai pimpinan juga harus mendukung, makanya saya setelah menyelesaikan berbagai tanggung jawab di Kota Jakarta langsung terbang ke Kota Yogyakarta dan melanjutkan via darat ke Kota Magelang.

Saat tiba di Kota Magelang, waktu sudah menunjukkan saatnya makan siang, maka saya meminta bapak driver jemputan bandara untuk makan bersama dan membantu kami berdua sangha untuk makan siang, maka dibantu mencarikan rumah makan di sekitar hotel yang akan kami inap nanti malam. Seperti biasa, di Rumah Makan Ayam Goreng, tetapi menu tahu dan tempe menjadi andalan bagi kami yang vegetarian. Bapak driver juga ikut makan siang dengan meja yang sama. Beliau mengatakan belum makan sejak pagi karena biasanya sekalian jalan dari bandara karena lebih murah makan di luar kawasan bandara, dan juga tergantung ada tidaknya penumpang. Mungkin berhubungan dengan pemas**an. Undangan makan siang ini membuat bapak drivernya senang. Sebelumnya beliau bercerita kalau ia terkejut karena tidak menyangka saya bisa berkomunikasi dengan Bahasa jawa krama inggil. Keakraban dan kebersamaan terjadi.

Kami pun menikmati makan siang dengan lahap dan santai. Selagi menikmati makan siang, saya merasa ada yang sedang mengamati saya dari kejauhan dan tepatnya di belakang saya, setelah saya lihat ada seorang kakek tua, kira-kira berumur tujuh puluh tahunan. Beliau berjualan keliling serbet petak-petak klasik dan melegenda, disetiap kota dan desa pasti ada serta dikenal. Saya dapat melihat raut wajah kakek tadi terlihat Lelah dan kepanasan. Beliau memandang kami sedang menikmati makanan, dan ketika tatapan mata kami saling bertemu, saat itu juga saya tersenyum dan beliau juga tersenyum. Beliau lalu berbalik dan tidak memandang ke arah kami lagi. Saya pun bergegas mencuci tangan saya dan menghampiri, sembari menyapa dengan Bahasa Indonesia, beliau terdiam dan tersenyum. Saya menduga beliau tidak berbahasa Indonesia atau malu, kemudian saya menggantinya dengan berbahasa Jawa Krama Inggil. Beliau menjawab. Saya pun senang saat itu.

Inti dari percakapan yang saya lakukan adalah menyapa dan memberi salam, serta memperkenalkan diri. Saya mengatakan jika cuaca panas dan sudah waktunya makan siang untuk semua orang yang sedang bekerja. Lalu, saya bertanya apakah jualan beliau hari ini banyak laku, beliau mengatakan lagi sepi dan tidak semua orang mau beli serbet tiap hari. Saya pun bertanya kembali sesuai tujuan awal saya menemui beliau, apakah beliau sudah makan siang. Beliau tersenyum dan terdiam. Tanpa ragu, saya mengundang beliau untuk bergabung bersama kami makan siang dengan Bahasa jawa krama inggil yang sangat formal dan jika orang jawa penutur krama inggil pasti memahami, apalagi jika kita berbicara dengan mereka yang dianggap bukan kalangan bangsawan atau terdidik bahkan yang kaya-raya. Bahasa komunikasi ini pasti dipahami secara perspektif strata masyarakat. Beliau menolak dan mengucapkan terima kasih serta mengatakan tidak perlu.

Lalu saya menggenggam tangan beliau, saya memandang tangan yang sudah tua keriput, gemetaran, dan kulit yang terkelupas hingga kebagian lengan atas. Saat saya menggenggam tangan beliau, saya seperti menggenggam tangan orangtua saya yang jauh dan ada kerinduan di sana. Saya mengirimkan energi saat itu jika saya bukanlah orang asing dan bukan juga orang yang berbeda strata. Saya hadir sepenuhnya tanpa ada pemikiran diskriminasi, saya hadir dengan energi sadar-penuh dan kasih. Saya merasakan perubahan beliau dan lebih menerima saya tanpa ragu, dan saya mengatakan jika sudah waktunya makan siang, maka saat bekerja harus makan. Jadi jika beliau tidak mau makan saat ini, boleh dibungkus. Beliau pun menyetujui dan tersenyum.

Lalu saya meminta beliau menunggu saya dan memesan satu paket makanan beserta minuman lengkap. Saya meminta kepada pelayana rumah makan membungkus lengkap dengan minuman segar. Setelah makanan siap dan dibungkus dengan rapi, saya membawa dan mempersembahkan kepada kakek tadi. Karena posisi beliau duduk menyender di dinding rumah makan tepat di trotoar jalan, di lengan kanan dan kiri terdapat serbet yang terlipat tinggi dan agak lusu, di punggung terikat serbet dan celemek memasak, berat sudah pasti dengan bawaan dagangan yang banyak demikian, maka saya pun duduk di dekat samping beliau dan menyerahkan makanan kotak tadi. Saya mengatakan dalam Bahasa Jawa Krama Inggil, jika makanan ini untuk beliau dan semoga sehat selalu. Beliau memandang saya dan memegang tangan saya hanya mengatakan berkali-kali, “ya Allah….ya Allah…ya Allah”, dan mengucapkan terima kasih. Saya mengatakan sudah sewajarnya dan bukan hal besar.

Sesaat saya memandang barang dagangannya masih banyak menumpuk di lengan dan punggung beliau dan bertanya berapa satu harga serbet tersebut. Beliau mengatakan jika saya beminat dengan serbet-serbet tersebut, beliau mempersilakan untuk diambil saja dan saya tidak peru membayar. Saya tersenyum dan mengucapkan terima kasih, saya mengatakan jika saya pelanggan pertama maka kata ibu saya bahwa saya adalah penglaris, maka hari ini semoga laris. Beliau tersenyum dan memperbolehkan saya membelinya. Beliau mengatakan harganya tiga lembar serbet seharga sepuluh ribu rupiah. Saya meminta lima belas buah jadi total harga lima puluh ribu rupiah. Saya juga berniat berdana lebih, karena memang uangnya satu lembar seratus ribu rupiah. Saya memang tidak mau langsung memberikan dana dalam bentuk uang secara penuh. Hal ini akan memberikan pendekatan yang berbeda, juga menjaga agar beliau tidak sungkan dan malu. Terkadang dengan membeli produk dagangan ini akan memberikan semangat dan motivasi, juga penghormatan.

Saya mengatakan kembaliannya ada lima puluh ribunya untuk beliau membeli vitamin, saya mendoakan beliau agar sehat dan kuat ketika bekerja. Beliau Kembali memegang tangan saya dan hanya mengatakan, “ya allah…. Ya allah…. Ya allah….”. Saya tersenyum dan berterima kasih karena senang bisa bertemu, beliau bekerja keras dan saya yang masih muda sangat termotivasi. Beliau hanya tersenyum, senyuman yang sangat mendalam dan penuh makna, itu sudah cukup untuk memberikan sentuhan pada wawasan praktik kehidupan spiritualitas saya.

Saya pun berpamitan dan izin untuk melanjutkan perjalanan. Beliau tersenyum dan terdiam, tetapi tatapan masih terutju pada saya, saya melihat dari kaca spion mobil, jika beliau masih memandang ke arah mobil yang saya tumpangi melaju. Setiba di mobil yang mengantarkan kami ke hotel, saya menghadiahkan satu plastik serbet ke bapak driver. Saya menyampaikan jika serbet-serbet ini hadiah untuk istrinya. Semoga istri beliau senang dan bersedia untuk menerimanya. Beliau senang sekali dan berterima kasih. Tak berapa lama kami sampai di hotel dan kami seperti biasa karena jam untuk melakukan check in masih lama, dan kami harus menunggu di lobby hotel. Saya pun memilih untuk menunggu di café dan memesan kopi ekspresso kes**aan saya, sembari mengerjakan pekerjaan yang tertunda.

Saat malam tiba kami jam sembilan malam sudah beristirahat dan tidur karena kelelahan. Saat bangun dini hari, tiba-tiba wajah kakek tadi muncul di benak saya, senyuman dan suara itu masih ada serta terdengar jelas. Kakek tadi adalah bodhisattva saya, di manapun saya pergi selalu bertemu para bodhisattva yang selalu mengingatkan saya untuk menjadi seorang sangha sejati di manapun saya berada. Mereka adalah guru saya yang luar biasa, penjelmaan bodhisattva avalokitesvara untuk menjadi pengingat kesadaran penuh dalam praktik spiritualitas saya, hingga detik ini saya senyuman dan ucapan kakek bodhisattva tadi masih hadir secara jelas dan penuh energi kebajikan.

Kisah ini saya hanya ingin berbagi dan menyampaikan bahwa saya sering merasakan lapar, saya sering kepanasan, saya sering ingin makan, ketika melihat orang-orang dan merasa mereka beruntung dan saya tidak. Saat saya melihat mereka yang sedang makan, tetapi kebanyakan orang merasa jijik dan menganggu waktu mereka makan, bahkan rumah makan mengusir mereka karena dianggap pengganggu. Saya tahu bahwa saya adalah kakek tadi, bapak, ibu, kakak, adik, dan sahabat saya adalah kakek tadi. Saya adalah bagian dari mereka dan juga kelanjutan dari mereka. Saya tahu bahwa diri saya adalah alam semesta, makanya saya harus terkoneksi dengan setiap hal sehingga mampu melihat segala sesuatu yang hakekatnya saling terkait. Langkah dan napas berkesadaran saya adalah mewakili kakek yang tersenyum sambal membawa barangan dagangannya yang belum laku. Kemampuan melihat secara mendalam adalah komunikasi intim yang kita lakukan dengan alam semesta.

Saat saya duduk dengan seksama dan menikmati makan siang saya, saya berada secara penuh di sana, sehingga saya mengetahui dan menyadari keberadaan kakek yang tersenyum di bawah terik matahari, rasa lapar ada di sana, rasa haus yang mencekik dahaga. Saat saya terkoneksi dengan fenomena tersebut, bukan lagi berbicara dana atau rasa dahaga, tetapi ini melampaui sebuah hakekat kehidupan, saya adalah kakek tadi, kami adalah manunggal, semua ini melampaui sebuah komunikasi lisan, ini adalah komunikasi mendalam dengan diri beserta alam kehidupan. Bapak saya di rumah sendiri dan juga terkadang telat makan karena harus bekerja, tetapi alam semesta hadir karena saya ada di sini untuk bapak saya. Apa yang saya lakukan adalah terkoneksi dengan bapak saya yang jauh secara fisik tetapi kami saya adalah keberlanjutan dirinya.

Saudara-saudaraku, semua ini semua bukan berbicara tentang moderasi kehidupan dan agama, tetapi ini adalah hakekat sebuah kehidupan yang jauh dari label-label yang membuat jurang pemisah dalam kehidupan ini. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Salam saya untuk semuanya! Mari kita menghadirkan disetiap langkah kita dengan praktik cinta kasih—karena cinta kasih adalah nutrisi yang sangat penting dalam kehidupan kita, karena ia mentranformasikan dan menyembuhkan diri kita dan semua pihak.

02/04/2023

BERBAGI PENGALAMAN [BAG. III]

Oleh Biksu Nyanabandhu Sakya

Walaupun makanan tempe dari kemarin masih enak dan renyah. Kami bahkan saling berbagi dan menikmatinya. Saya merasakan di proses memakan tadi kami hadir sepenuhnya untuk potongan-potongan tempe tadi, dan di sana ada s**acita dan kebahagiaan. Hal ini menciptakan kemampuan merasakan setiap kunyahan yang kami buat. Kami terkoneksi dengan banyak aspek keterkaitan dalam makanan tempe ini. Kami merasakan berkah itu. Setelah satu jam menempuh penyebrangan laut, kapal kami pun tiba di dermaga dan kami bersiap-siap Kembali ke kendaraan mobil kami, dan melanjutkan perjalanan kami. Beberapa kendalapun mulai muncul, salah satunya adalah karena berganti mobil yang tidak sesuai rencana membuat kami harus mendaftarkan mobil ke aplikasi ‘my pertamina’ untuk mengisi bahan bakar, hal ini tidak instan sehingga membuat kendala. Selain harus mengisi sesuai kuota yang diberikan juga ada syarat berapa banyak perharinya yang diperkenankan, hal ini membuat kami harus berhenti berkali-kali melakukan pengisian bahan bakar. Sungguh memakan waktu dan juga menghabiskan biaya yang lebih tinggi. Fenomena ini membuat saya bergejolak dan sedikit kecewa, karena saya berupaya hemat dan merencanakan perjalanan jauh-jauh hari tetapi digagalkan oleh pihak-pihak yang tidak memahami keadaan. Balik lagi, semua ini adalah latihan dan fenomena yang diluar kendali. Saya harus berdamai ke diri saya, bagaimana melihat fenomena batin saya, muncul keadaan di mana saya tidak menerima hal yang tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan dan harapkan. Ini adalah sebuah penderitaan. Kembali ke napas berkesadaran dengan menyadari keadaan tubuh dan batin saya menjadikan saya dapat merelakskan kekakuan dalam diri. Saya bisa melihat bagaimana energi kebiasaan saya—perfeksionis, idealis, sistematis, terencana, dan sesuai prosedur hadir dan sangat kuat menggenggam setiap bagian diri ini. Ketika saya Kembali ke rumah sejati saya, saat itu cengkraman energi kebiasaan dan berbagai bentukan perasaan serta pikiran melemah dan redup. Ada energi sadar penuh yang selalu menyinari, sehingga saya bisa memilih untuk berbahagia bukan menjadi boneka energi kebiasaan tersebut.

Saat perjalanan dilakukan kurang lebih 12 jam, kami pun tiba di gerbang tol Solo-Boyolali arah ke wilayah Yogyakarta. Waktu itu sudah pukul enam sore. Lengket dan lapar serta Lelah bahkan mengantuk menyerang bersamaan. Kami sepakat untuk makan malam terlebih dahulu selanjutnya baru ke hotel. Makanan di angkringan adalah pilihan kami semuanya. Tahu dan tempe goreng Bersama sambal adalah makanan pokok untuk kami yang vegetarianis, untuk sahabat lainnya memilih makanan standar di angkringan tersebut, ada ayam geprek dan lainnya. Tidak lupa kami memilih es jeruk untuk semuanya. Total harga sekali makan di sana sangat murah, apalagi porsi yang sangat banyak dan mengenyangkan hingga besok pagi. Tidak lupa, setiap orang dari kami meminta dua porsi nasi putih. Kami adalah tipikal masyarakat dari daerah yang masih cinta dengan nasi putih dan tanpa dia rasanya menderita serta hampa. Kebiasaan dan kemelekatan terhadap rasa dan zona nyaman.

Bersambung ke Bagian IV…

02/04/2023

BERBAGI PENGALAMAN [BAG. II]

Balik lagi, bantuan ini sungguh membantu dan memberikan secercah harapan bagi civitas akademika STIAB Jinarakkhita. Perpustakaan adalah elemen krusial, esensial, dan fundamental dalam pengembangan perguruan tinggi. Ia adalah wadah keilmuan yang memberikan pengaruh pada penguasaan, wawasan, dan juga pendalaman bidang keilmuan yang sedang ditekuni. Salah satu indikator untuk melihat sebuah peradaban akademik yang maju dan berkembang adalah dengan menilai seberapa lengkap cakupan koleksi, sistem informasi pelayanan, dan akses perpustakaan dari sebuah kampus. Untuk itu, UPT Perpusatkaan STIAB Jinarakkhita sedang diupayakan dan dikembangkan ke arah tersebut.

Perjalanan kali ini akan ditempuh dengan memakan waktu setengah hari. Saya meminta tiga karyawan kampus untuk bergantian menyupir. Hal ini untuk menghindari kelelahan jika dilakukan oleh satu orang. Menggunakan mobil pinjama dari wihara. Saya tahu bahwa saya harus ikutserta dalam perjalanan ini walaupun tubuh rasanya ingin remuk dan tidak henti-henti berpergian. Dengan mambawa rasa syukur dan terima kasih atas dukungan yang luar biasa dari sepuluh penjuru bagi pengembangan UPT Perpustakaan ini, sudah seharusnya saya bersemangat dan lebih bekerja keras untuk mengupayakan. Saya bergembira dan penuh s**acita memulai perjalanan kali ini. Saya masih ingat, sisa dari dana makanan yang diberikan kepada saya, saya berpesan untuk dibawa sebagai bekal untuk saya makan, bekal itu adalah nasi putih dan tempe goreng. Saya sangat s**a tempe goreng, selain menu vegetarian juga jenis menu yang sangat kaya nutrisi bagi mereka yang vegetarianis. Kami berenam menuju ke Kota Yogyakarta, dengan melintasi jalan tol dan Pelabuhan Bakauheuni melalui penyebrangan kapal laut ke Pelabuhan Merak Tangerang. Selama penyebrangan kami menikmati waktu satu jam untuk berdiskusi sembari menikmati sarapan pagi kami ditemani dengan satu ukuran besar Pop Mie ditambah bekal yang dibawa tadi.

Oya, mengapa saya tetap membawa bekal dari sisa dana siang kemarinnya, karena memang saya melatih diri untuk tidak menyia-nyiakan makanan dan juga menghargai para umat yang berdana. Saya tahu keluarga yang mendanakan makanan ini meluangkan waktu secara khusus untuk memasak dana makanan ini secara rutin. Ini adalah jenis dana makanan yang tidak hanya untuk fisik tetapi untuk makanan batin saya. Seorang sramana harus memahami tentang apa yang diterima dan apa yang akan dimakan. Makanan yang dimakan tidak hanya untuk fisik tetapi juga untuk batin. Makanan yang kita makan itu terintegrasi dalam proses penyediaannya, proses mendanakan, dan setelahnya. Makanan itu akan membentuk dan menjadikan diri kita. Proses dari kehidupan kita akan sangat dipengaruhi oleh proses mendapatakan makanan dan memakannya. Makanya Buddha sendiri mengatakan, “kamu akan menjadi seperti apa yang kamu makan”. Hal ini merujuk pada apa yang kita konsumsi baik itu secara fisik maupun makanan kesan impresi dari batin kita. Makanya praktik menyadari hal ini dengan konsumi berkesadaran penuh sangat penting karena kita membutuhkan nutrisi bagi diri kita bahkan bagi mereka yang terlibat dalam proses penyediaan makanan yang ada di hadapan kita ini. Makanya ketika kita memakan makanan kita, kita butuh rasa syukur dan berterima kasih. Hal ini hanya didapatkan dari pengertian benar dan kebijkasanaan serta welas asih dari kemampuan berkesadaran penuh tersebut.

Bersambung ke Bagian III…

01/04/2023

BERBAGI PENGALAMAN [BAG. I]

Lampung, 26 Maret 2023
Pagi dini hari, pukul empat kami memulai perjalanan pengembaraan Kembali untuk sebuah misi dan manfaat besar. Perjalanan dimulai dari Wihara Viryaparamita Kota Sepang, Bandar Lampung. Perjalnan kali ini akan ke Kota Yogyakarta menggunakan jalur laut dan darat. Tujuan perjalanan kali ini untuk membeli buku-buku yang akan menjadi koleksi referensi perpustakaan. Hal ini dilakukan karena memang dibutuhkan kendaraan mobil untuk mengangkut buku-buku yang akan dibeli di sana nantinya. Membeli buku dengan memilih secara langsung banyak keuntungannya. Selain harga lebih murah dengan mendapatkan diskon khusus, juga memungkinkan untuk dilihat dan dipilih langsung. Pemilihan sebaran judul buku sesuai bidang keilmuan ini sangat penting sehingga anggaran yang dikeluarkan sesuai rencana. Memilih Kota Yogyakarta sebagai lokasi membeli buku adalah kesimpulan yang kami buat setelah melakukan penelitian kecil untuk mengetahui profil penerbit buku dan banyaknya jumlah serta jenis sebaran buku sesuai bidang keilmuan yang dibutuhkan. Efektivitas dan efisiensi merupakan pertimbangan utama dalam waktu, materi, dan energi yang akan dikeluarkan. Penghematan biaya tentunya juga menjadi pertimbangan utama. Jadi banyak pertimbangan yang dilakukan sebelum memutuskan untuk perpergian kali ini. Intinya, perhitungan secara matang dan akurat dilakukan dalam analisis kebutuhan ini.

Tidak tanggung-tanggung kali ini kampus mendapatkan dana dari salah satu Majelis Agama Buddha untuk pengadaan buku-buku koleksi di perpustakaan STIAB Jinarakkhita Lampung. Dana ini diinisiasi oleh seorang Mahatheri yang sangat peduli dengan pendidikan masyarakat Buddha. Ketika mendengarkan STIAB Jinarakkhita sedang mengembangkan UPT Perpustakaannya secara bertahap dan membutuhkan biaya yang luar biasa besar, maka beliau dalam waktu singkat membantu mengupayakan dana ini. Jujurnya, saya terharu sekali atas pengertian dan kebaikan yang diberikan. Saya menangis ketika menerima pesan dari kakak spiritual saya di Bandung bahwa ada seoranag Mahatheri akan mengirimkan dana dari majelis di mana beliau berada. Sungguh ketika foto tangkapan layar bukti transfer dana masuk, saya gemetar dan saya terdiam. Tubuh dan batin ini dipenuhi rasa syukur dan terima kasih. Sebagai ketua STIAB, tidak banyak yang bisa saya kemukakan betapa pentingnya sebuah perpustakaan untuk peradaban akademik sebuah kampus. Sejak awal saya melakukan pengembangan perpustakaan secara bertahap satu tahun ini, dimulai satu keluarga dermawan di Kota Bandar Lampung, mendanakan semua kebutuhan lemari dan rak buku serta desain interior ruangan perpustakaan. Dana ini juga tidak tanggung-tanggung menghabiskan dana yang sangat besar. Saya memahami dermawan ini ingin mendanakan secara sempurna dan untuk jangka Panjang. Sungguh penuh berkah bagi mereka yang berdana secara tulus dan sesuai kebutuhan. Kebajikan ini akan mengalir selama dana yang diberikan ini digunakan oleh banyak orang untuk sebuah transformasi diri dan sosial yang membawa pada pencerahan dan kebaikan kehidupan saat ini maupun akan datang.

Saya selalu mengatakan kepada diri ini bahwa proses pengembangan kampus ini akan selalu didukung oleh sepuluh penjuru. Kekuatan dari kehidupan Sramana yang saya jalani ini adalah berkah dan juga kebajikan yang menjadi jembatan antara alam semesta dengan tujuan besar yang sedang kami lakukan---manfaat besar untuk semua makhluk. Saya akan berjalan, berlari, dan mengembara terus-menerus untuk pengembangan ini. Sehingga satu demi satu semua terpenuhi dan proses pengembangan kebajikan jangka panjang bagi semua mahkluk dan memunculkan generasi yang memiliki sifat kebuddhaan demi kebahagiaan semua makhluk dimungkinkan. Guru saya mengatakan, “kamu bukan penikmat spiritual tetapi kamu adalah penyedia dan pemberi manfaat, maka ini akan menjadi kendaraan bagi praktik kehidupan sramana yang akan kamu jalani di kehidupan ini dan akan datang. Menjadi seorang sramana itu butuh kebajikan yang luar biasa, maka ini adalah bagian praktik utama dan harus selalu dilakukan di setiap Langkah dan napas kehidupan sramana---menjadi sramana sejati adalah memanunggalkan tubuh dan batin dengan melampaui praktik dan etika serta mengakar pada jalur kebuddhaan sejati melalui kehidupan sehari-hari yang dijalani. Menjadi ketua STIAB adalah kendaraan praktik sramana yang melampaui kedudukan, tanggung jawab, popularitas, pengakuan, dan kekuatan. Ini adalah latihan, pelayanan, dan akumulasi kebajikan dan kebijaksanaan”.

Bersambung ke Bagian II…

Want your school to be the top-listed School/college in West Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

West Jakarta