21/05/2026
SANTRI BARU dan BARU SANTRI
By : Aep Saepuloh Nawawi
Di sebuah Pondok Pesantren perbatasan dua provinsi.
"kamu dari mana nak?" kata Ajengan Ujang dengan ramah.
"Saya dari kampung sebrang, mau belajar ilmu agama, Ajengan..." menunduk dengan penuh hormat.
"Kamu SANTRI BARU, belajarlah dari nol, insya Allah beberapa tahun kemudian, kamu menjadi faham. Terpenting belajar dengan sungguh sungguh..."
"Terimakasih Ajengan…"
Di waktu berbeda, datanglah seorang pemuda.
"Maaf, kamu siapa anak muda?" Kata Ajengan.Ujang
"Saya Soleh, Ajengan.." dengan bahasa tubuh yang yang agak sombong.
"Ada keperluan apa?" Ajengan Ujang tersenyum.
"Saya datang kesini ingin meluruskan beberapa hal yang terkait agama Islam." Pemuda itu langsung ke pokok masalah
"Alhamdulillah, silahkan.." kata Ajeng ujang dengan ramah.
"Saya lihat disini, banyak hal yang tidak sesuai syariah, banyak hal yang bid'ah, banyak perilaku riba dan khurafat. Banyak melakukan kemusyrikan" kata pemuda penuh semangat
"Boleh dikasih contoh..."
Pemuda itu pun memberikan contoh contoh perbuatan bid'ah, riba dan khurafat. Berbicara panjang lebar selama satu jam lebih. Rujukannya hanya gurunya semata.
"Terimakasih mas**annya, semangat mu luar biasa, boleh bertanya," Ajengan Ujang mengajukan permohonan
"Silahkan ajengan.."
Terjadilah tanya-jawab
"Bisa membaca Al Qur'an?" | "belum bisa.."
"Pernah belajar ilmu hadits?" | "belum..."
"Pernah belajar ilmu fiqih?" | "belum..."
"Pernah belajar usul fiqih?" | "belum..."
"Pernah belajar asbabul nuzul?" | "belum..."
"Pernah belajar asbabul wurud?" | "belum..."
"Pernah belajar sejarah islam?" | "belum..."
"Pernah belajar bahasa arab?" | "belum..."
"Apa yang pernah dipelajari?"
"Saya selalu mendengarkan kajian keislaman dari guru saya selama setahun ini."
"Ternyata kamu BARU SANTRI, terima mas**annya ya anak muda"
"sama-sama ajengan, ini menjadi tugas saya untuk memperbaiki pemahaman yang keliru."
Pemuda itu pun pergi. Ajeng Ujang merasa prihatin, banyak BARU SANTRI. Baru memahami sedikit, tapi merasa lebih faham dan lebih suci dari orang lain. Pemahamannya dari apa yang dia dengar, bukan apa yang dia kaji dan dalami. Kasian sebenarnya, tapi semangatnya harus dicontoh.
Ajengan Ujang kembali membaca alquran dan tafsirnya yang belum rampung.
*Ajengan: sebutan ulama, ustadz atau kyai di wilayah jawa barat