SANTRI BARU dan BARU SANTRI
By : Aep Saepuloh Nawawi
Di sebuah Pondok Pesantren perbatasan dua provinsi.
"kamu dari mana nak?" kata Ajengan Ujang dengan ramah.
"Saya dari kampung sebrang, mau belajar ilmu agama, Ajengan..." menunduk dengan penuh hormat.
"Kamu SANTRI BARU, belajarlah dari nol, insya Allah beberapa tahun kemudian, kamu menjadi faham. Terpenting belajar dengan sungguh sungguh..."
"Terimakasih Ajengan…"
Di waktu berbeda, datanglah seorang pemuda.
"Maaf, kamu siapa anak muda?" Kata Ajengan.Ujang
"Saya Soleh, Ajengan.." dengan bahasa tubuh yang yang agak sombong.
"Ada keperluan apa?" Ajengan Ujang tersenyum.
"Saya datang kesini ingin meluruskan beberapa hal yang terkait agama Islam." Pemuda itu langsung ke pokok masalah
"Alhamdulillah, silahkan.." kata Ajeng ujang dengan ramah.
"Saya lihat disini, banyak hal yang tidak sesuai syariah, banyak hal yang bid'ah, banyak perilaku riba dan khurafat. Banyak melakukan kemusyrikan" kata pemuda penuh semangat
"Boleh dikasih contoh..."
Pemuda itu pun memberikan contoh contoh perbuatan bid'ah, riba dan khurafat. Berbicara panjang lebar selama satu jam lebih. Rujukannya hanya gurunya semata.
"Terimakasih mas**annya, semangat mu luar biasa, boleh bertanya," Ajengan Ujang mengajukan permohonan
"Silahkan ajengan.."
Terjadilah tanya-jawab
"Bisa membaca Al Qur'an?" | "belum bisa.."
"Pernah belajar ilmu hadits?" | "belum..."
"Pernah belajar ilmu fiqih?" | "belum..."
"Pernah belajar usul fiqih?" | "belum..."
"Pernah belajar asbabul nuzul?" | "belum..."
"Pernah belajar asbabul wurud?" | "belum..."
"Pernah belajar sejarah islam?" | "belum..."
"Pernah belajar bahasa arab?" | "belum..."
"Apa yang pernah dipelajari?"
"Saya selalu mendengarkan kajian keislaman dari guru saya selama setahun ini."
"Ternyata kamu BARU SANTRI, terima mas**annya ya anak muda"
"sama-sama ajengan, ini menjadi tugas saya untuk memperbaiki pemahaman yang keliru."
Pemuda itu pun pergi. Ajeng Ujang merasa prihatin, banyak BARU SANTRI. Baru memahami sedikit, tapi merasa lebih faham dan lebih suci dari orang lain. Pemahamannya dari apa yang dia dengar, bukan apa yang dia kaji dan dalami. Kasian sebenarnya, tapi semangatnya harus dicontoh.
Ajengan Ujang kembali membaca alquran dan tafsirnya yang belum rampung.
*Ajengan: sebutan ulama, ustadz atau kyai di wilayah jawa barat
Celoteh KANG AEP Saenawa
Menulis yang saya s**a
GENERASI PENIKMAT
By : Aep Saepuloh Nawawi
Laki-laki itu terlihat lebih tua dari usianya. Sebut saja namanya Balegug. Saat ini hanya bisa menatap nasib yang tidak menentu. Harus berjibaku mencari kerja dan mengerjakan apa saja yang dia bisa selama masih bisa menghidupi istri dan anaknya. Kesulitan hidup dia alami sejak kedua orang tuanya meninggal hidupnya berubah 360 derajat.
Hidup selalu berputar, kaya-miskin, senang-menderita, bahagia-sedih. Kekayaan adalah titipan. Namun merawat kekayaan adalah keharusan. Diantara merawat kekayaan yaitu menyiapkan generasi berikutnya agar memiliki kompetensi merawat kekayaan. Banyak kompetensi yang harus dimiliki, diantaranya pendidikan, ya pendidikan. Walaupun orang tuanya kaya hanya lulusan SMA, jangan biarkan anak-anak hanya lulusan SMA juga. Gunakan kekayaan saat ini untuk menuntaskan pendidikan minimal sampai S1. Kenapa, pendidikan S1 bukan hanya mengejar kesarjanaan namun pendidikan akan membentuk pola pikir bagaimana mencari solusi dari masalah, lebih rasional, bisa berpikir efektif dan lebih mudah memahami dunia.
Belugug anak orang kaya raya, termasuk orang paling kaya di lingkungannya. Kesalahan terbesar orang tuanya adalah tidak memberikan arahan pentingnya pendidikan. Sebagai orang kaya hanya lulusan SMA yang sukses. Pendidikan baginya tidak penting, yang penting adalah pengalaman, koneksi dan kesungguhan. Sehingga tidak masalah bila anaknya tidak mau kuliah.
Kekayaan berlimpah membuat Belugug dan saudara-saudaranya terlena. Prinsip "bodohnya" Kalau orang tua kaya kenapa harus repot kuliah dan belajar bisnis. Santai saja, bisa belajar sambil bekerja di perusahaan orang tuanya. Ujung-ujungnya juga pasti jadi pemimpin perusahaan. Tidak harus pinter-pinter banget yang penting dikelilingi orang-orang pinter.
Berlajan waktu, kesenangan melupakan bahwa hidup selalu berproses. Kesengan bisa berubah menjadi kesedihan bila tidak dimenej dengan baik. Ibunya meninggal karena sakit. Hidup masih berjalan normal. Kemudian bapaknya meninggal, kehidupan berubah. Sedikit-sedikit kekayaan berkurang. Perusaan mulai ada penurunan proyek. Anak-anaknya tidak mampu menjalankan karena keterbatasan pemahaman mengelola keuangan dan memenej perusahaan. Bisa ditebak, perusaan gulung tikar dan kayaaan habis tak tersisa untuk memenuhi kebutuhan.
Belegug tidak bersalah. Seandainya orang tuanya memberikan arahanan anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan keahlian sesuai usaha yang dijalankan ceritanya akan berbeda. Orang tuanya sudah menciptakan generasi penikmat, generasi yang menikmati kekayaan orang tuanya tanpa berpikir bagaimana merawatnya.
DIA SUDAH HAJI PAK!
By : Aep Saepuloh Nawawi
Dalam pertemuan pengajar praktik se Banten setahun yang lalu di kota Tangerang, saya bertemu dengan beberapa veteran instruktur kurikulum nasional K-13. Kenapa disebut veteran, karena pada tahun 2013-2015 kami berjibaku mengikuti pelatihan dan melatih sahabat guru untuk memberikan implementasi K-13 yang saat itu lagi keren-kerennya.
Berganti tahun berganti kurikulum, akhirnya IN K-13 bubar dengan sendirinya. Group WA yang awalnya bernama IN K-13 Banten berubah menjadi Veteran Kuriulum Banten. Lalu terakhir menjadi Kurikulum SD Banten. Banyak kenangan, cerita dan pengalaman yang berharga. Terpenting saat ini, persahabatan yang terus terjalin dan mau saling berbagi informasi perkembangan kurikulum.
Pada pertemuan pengajar praktik saya bertemu beberapa veteran, sebut saja begitu. Saling sapa saling cerita.
"Assalamualaikum pak # # , apa Khabar, lama tidak ketemu?" saya menyapa dengan suara agak kencang, karena terhalang beberapa kursi.
"Waalaikumsalam, eh Pak Aep, Kumaha damang" senyumnya khas dengan kaca minusnya menjadi ciri khusus Pak # # .
Tiba-tiba ada seseorang mencolek, seorang ibu guru sesama pengajar praktik dari sekolah yang sama dengan Pak # # .
"Pak Aep, di sudah haji. panggilanya Pak Haji # # ," Dengan surat yang pelan tapi sangat jelas.
"Hah, haji???
Saya pun mau tak mau menyapa dia Dengan panggilan haji. Sebagai tanda dia sudah menunaikan ibadah haji. Mau bagaimana lagi, mungkin di lingkungan dia, panggilan haji sudah menjadi kewajiban. Bila tidak akan dianggap tidak menghormati perjuangan dan proses panjang untuk menjalankan rukun iman yang ke lima.
Jadi teringat dengan keluarga selebritis yang marah ketika anaknya tidak dipanggil haji. Teringat juga dengan penjabat tinggal kelurahan yang marah kepada MC hanya karena nama haji di depan namanya tidak disebutkan.
"Saya ini sudah haji, tau nggak! Biayanya juga mahal!"
Ditempat saya bekerja malah berbeda. Sudah pernah pergi haji tapi malah kesal dan tidak s**a dipanggil haji. Beberapa orang malah merasa malu dan tidak nyaman dengan panggilan haji. Bahkan menurut satu kelompok, panggilan haji termasuk bid'ah karena tidak ada pada zaman Rosulullah, sahabat dan tabi'in. Tidak ada panggilan Haji Abu Bakar As Shidiq atau Haji Ali bin Abi Tholib. Ulama-ulama hadist juga tidak menyebut diri dengan awalan haji.
Menurut sejarah, panggilan itu sengaja diciptakan oleh kolonial Belanda untuk mengetahui siapa saja yang sudah pergi ke tanah suci. Untuk memudahkan memantau perubahan pola pikir dan ketakutan adanya perlawanan jihad bagi mereka yang kembali dari tanah suci.
Catatan lain menjelaskan, untuk jamaah yang pulang dari tanah suci mendapat penghormatan dari masyarakat karena dianggap memiliki ilmu agama, pengalaman luas, dan status sosial yang tinggi. Pada masa kolonial Belanda, gelar haji bahkan dicatat dalam administrasi dan sering dipakai sebagai identitas resmi.
"Jadi bagaimana menurut Bag Haji???"
"Maafkan aye ya Bang Haji"
FASE KESOMBONGAN
By : Aep Saepuloh Nawawi
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri". (QS Lukman : 18)
Setelah mengingat-ngingat kehidupan. Melihat kehidupan dan mengamati lingkungan sekitar serta interaksi sesama manusia, ternyata semua manusia pernah memasuki "Fase Kesombongan".
"Fase kesombongan" ?
"Fase yang dilalui semua manusia!"
Lihat saja disekeliling kita, ada manusia yang begitu sombong karena kekayaannya, karena orang tuanya, karena pendidikan atau ilmunya, karena jabatannya, karena parasnya atau karena perasaanya.
Manusia yang berada dalam fase kesombongan diri, terlihat pada sikap, prilaku, bahasa tubuh dan ucapannya. Namun fase ini muncul diwaktu tertentu, tidak selamanya.
Pada fase kesombongan ini setiap manusia memiliki rentang waktu yang berbeda. Ada saat usia remaja, ada saat pemuda ada juga disaat tua. Ada yang muncul dipuncak karier, ada juga yang muncul disaat memiliki jabatan tertentu.ada juga terus berlanjut sampai akhir hidupnya. Artinya setiap orang "pasti" memiliki fase kesombongan. Berjalan waktu orang ada yang berubah dan mencapai "taubatan nasuha", muncul kesadaran diri karena suatu peristiwa atau memang sudah saatnya, kita sebut saja faktor hidayah.
"Jadi bagaimana sikap kita?"
Tidak perlu dipikirkan berlebihan, untuk apa juga. Siapa yang sombong siapa yang repot. Kata Gus Dus, "gitu saja kok repot". Doakan saja orang-orang yang terjebak pada fase kesombongan untuk kembali kejalan yang benar. Kalau belum juga, mungkin sudah terkontaminasi oleh gaya Iblis yang super sombong.
Sebenarnya ini untuk introspeksi diri. Jangan-jangan saat ini saya pun masih berada dalam fase kesombongan, "Astagfirullah, maafkan saya ya Allah."
Kita fahami dengan baik nasehat Lukman kepada anaknya dalam surat Lukman di atas. Kita renungkan juga bagaimana iblis terusir dari surga. Padahal iblis sudah mengenal Allah terlibih dahulu. Hanya karena Iblis merasa lebih baik dan bersikap sombong.
Kata Iblis, "Aku lebih baik dari Adam. Aku (kata iblis) diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah" (QS Al-A'raf : 12 )
Kalau hari ini, tetap merasa lebih baik dari orang dan sangat haus untuk dihargai, bisa jadi kita masih berada di "Fase kesombongan".
====
Wallahu a'lam bishawab
(Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya).
diri
SEKOLAH SUNNAH?
By : Aep Saepuloh Nawawi
"Apakah ini sekolah sunnah? " seorang bapak bertanya dalam kegiatan penerimaan siswa baru
"Sunnah?, maksud bapak apakah sekolah saya makruh? " kata saya dengan bercanda. kami sama-sama tertawa
"Boleh tahu pak, maksudnya sekolah sunnah itu bagaimana?" saya ingin menggali pemahaman tentang sekolah sunnah yang dia fahami
diantara penjelasannya, menurut beliau, sekolah sunah adalah sekolah berbasis Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad. juga berdasarkan pemahaman para sahabat Nabi dan Ulama terdahulu. Sekolah ini akan menerapkan kurikulum dalam bidang tauhid, fiqih, tahfidz, dasar-dasar Islam, adab serta akhlak mulia, hingga mempelajari Hadist dan Quran.
Saya tiba-tiba merenung, bukankah sejak islam datang ke Indonesia juga mengajarkan al-quran, Hadist, pemahaman sahabat. juga belajar Tauhid, fiqih, akidah akhlaq, sejarah islam. hafalan, akhlaq dan lainnya.
Saya ingat waktu di MTsN dan SMA, sekalian mondok, belajar al-Qur'an, Hadist dan lainnya. Termasuk kitab-kitab klasik yg membahas fiqih, Tauhid dan akhlaq. kenapa tidak disebut sekolah sunnah atau pesantren sunnah.
ketika kuliah juga belajar hal yang sama. malah belajar tentang ilmu tafsir, ilmu hadist, sejarah, tasawuf dan keilmuan pendukung lainnya, tidak juga di sebut kampus Sunnah.
kenapa kalimat sunnah seolah menjadi senjata untuk melebelkan diri lebih sunnah dari yang lainnya.
Apakah persepsi saya yang salah?
saya hanya kuatir pada orang-orang yang terjebak pada "Kesombongan spiritualitas", yaitu orang yang merasa dirinya lebih baik. Kualitas agamanya lebih dari pada orang lain. Merasa lebih pantas masuk sorga dibanding orang lain. Bahkan merendahkan orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya. kapan majunya agama islam yang kita cintai ini.
Penyakit lainya yaitu "MenTuhankan Gurunya". Apapun kata gurunya harus diterima dengan mutlak, karena keyakinan pada kebenaran gurunya secara mutlak tanpa berpikir. Selain kata gurunya, adalah salah. padahal Allah memberikan kita kecerdasan untuk berpikir. banyak membaca, banyak merenung, banyak belajar.
Nah, ada lagi yang mengerikan, yaitu Menyalahkan ulama-ulama terdahulu yang jelas-jelas sudah berjasa dalam mengumpulkan hadist, membuat buku-buku, yang karyanya digunakan di kampus islam seluruh dunia. Mereka menulis berjilid-jilid buku atau kitab melalui proses yang panjang, penuh keikhlasan tidak berpikir royalty. Alasanya lucu, kitabnya tidak sesuai sunnah. Aduh, kenapa tidak membuat karya yang lebih baik dan diakui dunia, jangan hanya menyalahkan.
09/05/2026
Hayuu ngaku...
Siapa coba
Meni gaya ngajak orang lain like & coment dengan rayuan dan paksaan, tapi nggak ada balas like dan koment.
BERSAMA MASALAH
By : Aep Saepuloh Nawawi
"Loe punya masalah apa sama gue" kata Odading dengan mata melotot, dua tangan dipinggang, wajah mirip preman belum mandi lima hari.
"Hah masalah? Maksudnya?" Seorang pemuda merasa heran. Masalahnya dimana? Padahal cuma lewat lalu bilang, "Permisi orang baik, saya mau lewat.
Tidak terbayang bila pemuda tadi lewat lalu berkata, maaf jin dan setan saya numpang lewat. Bisa-bisa babak belur dipukul preman tadi.
Di sekeliling kita, kadang bertemu dengan orang yang tiba-tiba marah-marah tidak jelas, tahu-tahu emosi, tahu-tahu mencak-mencak, muka dilipat sepuluh atau gestur yang membingungkan. Terlalu perasa, baperan, tidak kenal tempat dan waktu, muncul bagai bintang film antagonis. Membawa masalah hidup kemanapun dia pergi. Setiap orang dianggap Masalah bagi hidupnya. Padahal setiap orang punya masalah masing-masing. Mirip orang yang hidungnya ketempelan jengkol, lalu bilang semua orang bau jengkol. Nggak nyambung ya?
Benarkan setiap orang punya masalah masing-masing ?
"Masalah masing-masing?"
Betul, setiap orang pasti punya masalah masing-masing. Bila tidak punya masalah bisa jadi dia orang yang bermasalah. Karena ada masalah, kita jadi berpikir bagaimana mencari solusi dari setiap masalah. Tergantung bagaimana menyikapinya dan terkadang kita harus pandai memanipulasi masalah sehingga tidak terbaca orang lain.
"Memanipulasi masalah?"
Betul, tidak semua masalah kita, harus diketahui orang lain. Ada orang yang terlalu mudah ditebak bila memiliki masalah, dari kejauhan orang sudah terlihat bahwa dia punya banyak masalah. Gestur tubuh, raut mukanya, posisi mulutnya, tatapan matanya. Semua gambaran masalah dan masalah.
Hati-hati ya dek, tidak semua masalah harus disampaikan, ditunjukan, dipamerkan dan disombongkan. Jangan dijadikan status, jangan diposting, jangan terlalu lebay diinfokan. Harus kuat untuk disimpan dan hanya disampaikan kepada orang yang sangat terpercaya.
Selanjutnya, terserah anda
PENGHAFAL SALAH NIAT
By : Aep Saepuloh Nawawi
"Nama istri Antum namanya Maryanah ya? ", kata Faisal kepada temannya jazuli.
" Alhafizah Maryanah" Kata Jazuli
"Maksudnya? " Faisal heran
"Istri saya hafal al-Qur'an 30 juz, makanya di beri gelar hafidzah" Jazuli menjelaskan
"Oh gitu, lalu tujuan menghafal apa Bang Jazuli? dan kenapa harus ada gelar segala, karena banyak umat Islam yang hafal, tidak harus ada gelarnya, bisa-bisa ada yang menganggap bid'ah loh" Faisal semakin heran.
Pertnyaan Faisal membuat Jazuli sulit menjelaskan.
"Setahu saya, para penghafal al-quran lebih tawadhu. Bahkan mereka tidak ingin membanggakan diri karena bisa mengahafal." Faisal bicara perlahan.
Faisal melanjutkan, seorang penghafal Al-Quran pantas mendapat pujian, entah orang itu mengharapkan pujian, ataupun tidak, sebenarnya pujian itu memang pantas didapat. Karena menghafal Al-Quran merupakan amalan yang istimewa dan setiap mukmin pasti menginginkannya. Namun jika tujuannya hanya ingin mendapatkan pujian maka hendaknya mengikhlaskan diri bahwa apa yang diperolehnya merupakan karunia dari Allah. Allah yang lebih berhak untuk dipuji karena jika bukan karena kehendak Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampukan oleh Allah untuk menghafal Al-Quran.
Menurut Faisal, ada sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharapkan adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Faisal teringat dengan anak temanya yang berusaha kuat mengafal al-Qur'an agar bisa mendapat beasiswa masuk SMA favorit dan masuk PTN jalur hafalan.
"Anak yang hafal al-Quran, kelak akan memberi mahkota untuk orang tuanya. Rasulullah bersabda, "Siapa menghafal Al-Qur'an, mengkajinya, dan mengamalkannya maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari." Lanjut Jazuli
"Benar Bang Jazuli, sejauh yang saya tahu, di hadist itu ada 3 point, Menghafal, mengkaji dan mengamalkannya, bukan hanya menghafal. Mahkotanya bukan sekarang, tapi nanti. Kata Rosulullah, bahwa orang tua yang memiliki anak penghafal Alquran akan diberikan mahkota oleh Allah SWT pada hari kiamat nanti, Hari kiamat, bukan sekarang. Mahkota tersebut memiliki cahaya yang lebih indah daripada cahaya matahari yang menerangi kediaman mereka di dunia"
DO'A SENDIRI KAN BISA!
By : Aep Saepuloh Nawawi
Bis besar mulai memasuki are makan. Ada tulisan besar di atas pintu masuk penziarahan 'Selamat datang di makam mbah # # # # # #. Sekuriti wilayah mengarahkan bis agar parkir di area yang sudah disediakan. Ada lokasi parkir untuk kendaraan besar, kendaraan kecil dan roda dua. Kebanyakan dari kelompok ibu-ibu, Ibu-ibu majlis ta'lim. Terlihat dari seragam baru yang dikenakan.
Setiap bis terdapat ketua rombongan. Mengarakan titik kumpul dan 'roundown acara' mereka. Ada EO yang siap mengatur 100℅. Rombongan hanya duduk manis mengikuti alur perjalanan. Sesuai perjanjian besaran bayaran.
Ibu-ibu bergerak perlahan mengikuti arahan kepala Rombongan, tentang apa yang dilakukan dan bagaimana etika ziarah kubur.
"Ingat ibu-ibu, jangan meminta apapun kepada kuburan, ingat ya!, kita meminta hanya kepada Allah. Luruskan niat. Kita berziaran untuk mengenal sejarah perjuangan para ulama terdahulu, mencontoh kebaikan mereka, mendoakan mereka dan mendoakan seluruh umat islam serta memohon kepada Allah agar kita bisa istiqomah dalam ketaqwaan" Ustadz Yayat memberikan tauyiah singkat agar jamaahnya tidak keliru dalam perjalanan wisata religi saat ini. Beberapa jamaah mengangguk mengerti, beberapa tidak mendengarkan. Ada yang sibuk posting media ada juga yang mengantuk berat.
Sisi kanan dan kiri sepanjang area pintu masuk penziarahan, pendagang berbaur dengan pengemis yang mengiba. Seorang laki-laki bergabis, bersoban dengan peci putih, mendekati ibu-ibu yang berada di belakang.
"Ibu mau ziarah? Mau saya bantu do'a, pokoknya apa saja keinginan Ibu, insyaAllah dikabulkan. Mau minta apa? Mau kaya, mau berkah, mau kewibawaan, Saya yang do'akan, saya bantu" Katanya dengan santun.
si Ibu yang tertidur saat ada penjelasan dari Ustad Yayat segera menyanggupinya. minta dido'akan dengan memberikan imbalan yang disepakati. Menurutnya, penampilan laki-laki tadi sangat meyakinkan dan seyakin-yakinnya doa orang itu akan dikabulkan.
Penjual makanan yang tidak jauh dari percakapan Si Ibu dan lelaki bergaya ulama, hanya bisa melihat. Dalam hatinya berkata, "Kasian si Ibu, mau saja dibodohi, dia sendiri kan bisa
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Telephone
Website
Address
15417