18/09/2026
Bagaimana Kalau Alam Tidak Hanya Dijaga, Tapi Juga Diberi Nilai?
https://youtu.be/UflGcprEd20
*SELAMAT HARI BAMBU DUNIA, 18 SEPT*
Semakin saya pelajari potensi kawasan sekitar 490 hektare ini, saya mulai merasa bahwa kita mungkin sedang melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar lahan untuk menanam bambu.
Awalnya saya berpikir sederhana: bagaimana bambu bisa ditanam, diproduksi, memberikan penghasilan kepada masyarakat, kemudian industrinya berkembang.
Tapi ternyata di dalam kawasan ini ada banyak hal lain yang nilainya mungkin jauh lebih besar.
Ada hutan yang sudah dijaga turun-temurun. Ada sumber air. Ada keanekaragaman hayati. Ada cerita tentang kandungan mineral di bawah tanah. Ada kawasan budaya, goa, sejarah masyarakat adat, dan berbagai pengetahuan lokal yang selama ini mungkin tidak pernah dihitung sebagai sebuah kekayaan ekonomi.
Dari situ saya mulai bertanya:
Kalau semua kekayaan alam ini sebenarnya mempunyai nilai, kenapa selama ini kita hanya menghitung harga tanah atau hasil panennya saja?
Padahal dunia sekarang mulai mengenal istilah natural capital atau modal alam.
Hutan punya nilai.
Karbon punya nilai.
Air punya nilai.
Keanekaragaman hayati punya nilai.
Budaya juga punya nilai.
Bahkan sesuatu yang tidak kita eksploitasi bisa tetap mempunyai nilai karena kita memilih untuk menjaganya.
Itulah yang kemudian membuat saya melihat BMC dengan cara yang berbeda.
BMC jangan hanya bicara tentang bambu
Nama BMC memang lahir dari ekosistem bambu. Tetapi semakin dipikirkan, bambu sebenarnya hanya salah satu pintu masuk.
Yang ingin kita bangun seharusnya adalah sebuah ekosistem ekonomi yang menghubungkan manusia, alam, teknologi, dan nilai ekonomi.
Misalnya, dalam kawasan 490 hektare tadi kita bisa mulai memetakan beberapa jenis aset.
Pertama adalah hutan, bambu, dan karbon.
Selama hutannya tetap dijaga dan bambu terus tumbuh, ada potensi penyerapan karbon yang bisa dihitung. Kalau kawasan tersebut mempunyai biodiversitas tinggi, nilai ekologinya tentu berbeda dengan perkebunan biasa.
Kedua adalah air.
Kalau benar terdapat banyak mata air yang menjadi bagian dari aliran Sungai Banten, bagi saya ini bukan sekadar sumber air. Ini adalah aset kehidupan.
Di masa depan, menjaga sumber air mungkin justru jauh lebih penting daripada menjual hasil tambang atau menebang hutan.
Ketiga adalah mineral yang berada di bawah tanah.
Kalau memang secara geologi terdapat kandungan emas atau mineral lainnya, bukan berarti kemudian harus ditambang.
Justru saya tertarik dengan pemikiran sebaliknya:
Bisakah sesuatu tetap mempunyai nilai ekonomi justru karena kita memilih untuk tidak merusaknya?
Keempat adalah budaya dan pengetahuan masyarakat lokal.
Kawasan adat, tradisi, sejarah, ribuan goa, pengetahuan tentang tanaman, bambu, air, dan hutan merupakan kekayaan yang tidak mudah dibuat ulang.
Kalau hutan rusak, mungkin bisa ditanam kembali.
Tetapi kalau sebuah kebudayaan hilang, belum tentu bisa dikembalikan.
Lalu pertanyaannya: berapa nilainya?
Di sinilah kita harus hati-hati.
Saya pernah mencoba membuat hitungan kasar.
Kalau nilai karbon, biodiversitas, sumber air, potensi mineral, bambu, ekowisata, budaya, dan aset fisiknya dihitung bersama, secara teori nilai keseluruhan ekosistem tersebut bisa sangat besar.
Bisa ratusan juta dolar.
Bahkan mungkin lebih.
Tetapi saya tidak ingin BMC berdiri hanya berdasarkan angka perkiraan.
Kalau suatu hari kita mengatakan bahwa sebuah kawasan bernilai USD 250 juta atau USD 500 juta, maka angka tersebut harus bisa dijelaskan:
siapa yang menghitungnya,
metodenya apa,
hak atas aset tersebut milik siapa,
apa yang boleh dan tidak boleh dimonetisasi,
dan apakah nilainya sudah diverifikasi oleh lembaga yang memang kompeten.
Karena menurut saya, di sinilah perbedaan antara membuat sebuah cerita dengan membangun sebuah aset yang benar-benar dipercaya pasar.
Bagaimana dengan harga BMC?
Ini juga masih pemikiran awal.
Misalnya suatu hari total suplai BMC ditetapkan 1 miliar token.
Secara matematika sederhana, kalau ekosistem yang mendukungnya benar-benar mempunyai nilai USD 500 juta, maka angka USD 0,50 per BMC memang terlihat masuk akal sebagai sebuah simulasi.
USD 0,50 kira-kira sekitar Rp8.000 per BMC.
Kalau nilainya USD 1 per BMC, berarti valuasinya menjadi USD 1 miliar.
Tetapi saya tidak ingin membalik prosesnya.
Jangan menentukan harga token dulu, baru mencari cerita untuk membenarkan harganya.
Menurut saya seharusnya justru sebaliknya.
Bangun asetnya.
Bangun kegunaannya.
Bangun ekonominya.
Bangun datanya.
Audit asetnya.
Baru pasar menentukan nilainya.
Kalau fundamentalnya kuat, harga akan mengikuti.
Saya membayangkan BMC memiliki empat fondasi
Untuk sementara saya melihat ada empat kelompok besar yang mungkin bisa menjadi fondasi ekosistem BMC.
Green Asset
Bambu, hutan, karbon, biodiversitas, restorasi lahan, dan berbagai aktivitas konservasi.
Blue Asset
Sumber air, sungai, kawasan pesisir, mangrove, dan ekosistem air.
Real World Commodity
Produk bambu, industri bambu, hasil pertanian, atau sumber daya lain yang benar-benar mempunyai aktivitas ekonomi nyata.
Untuk mineral seperti emas, tentu harus melalui pembuktian geologi, aspek hukum, kepemilikan, dan valuasi yang jauh lebih ketat sebelum bisa dikaitkan dengan ekosistem.
Cultural & Social Asset
Pengetahuan lokal, sejarah, masyarakat adat, pendidikan, penelitian, ekowisata, dan berbagai kegiatan yang menjaga hubungan manusia dengan alam.
Jadi BMC tidak hanya mempunyai cerita tentang lingkungan.
Harus ada ekonomi riil di belakangnya.
Kalau BMC mempunyai nilai, tokennya harus bekerja
Saya tidak ingin BMC menjadi token yang hanya disimpan sambil berharap harganya naik.
BMC harus dipakai.
Misalnya untuk validator yang membantu memverifikasi data tanaman bambu.
Untuk memberi penghargaan kepada petani yang melakukan penanaman dan pemeliharaan.
Untuk membayar akses terhadap data atau jurnal.
Untuk transaksi di marketplace bambu.
Untuk mendukung konservasi.
Untuk membiayai penelitian.
Untuk mencatat carbon project.
Bahkan mungkin suatu hari digunakan dalam mekanisme staking bagi pihak-pihak yang ikut menjaga integritas data dalam ekosistem.
Kalau misalnya harga BMC suatu hari Rp8.000, maka validator yang melakukan staking 500 BMC berarti menempatkan sekitar Rp4 juta sebagai jaminan.
Orang yang melakukan pekerjaan lapangan mungkin mendapatkan 10 atau 20 BMC.
Nominalnya tidak harus besar dalam jumlah token, tetapi tetap mempunyai arti secara ekonomi.
Di situlah menurut saya sebuah token mulai mempunyai kehidupan.
Jadi apa sebenarnya yang ingin saya bangun?
Semakin ke sini, saya merasa BMC bukan sekadar proyek cryptocurrency.
Saya melihatnya sebagai usaha untuk menjawab satu pertanyaan sederhana:
Bisakah kita membuat orang mendapatkan manfaat ekonomi karena menjaga alam, bukan karena merusaknya?
Selama ini banyak kekayaan alam baru dianggap bernilai setelah ditebang, ditambang, dijual, atau dialihfungsikan.
Saya ingin mencoba membalik logika itu.
Bagaimana kalau pohon yang tetap berdiri mempunyai nilai?
Bagaimana kalau mata air yang tetap bersih mempunyai nilai?
Bagaimana kalau bambu yang terus tumbuh mempunyai nilai?
Bagaimana kalau hutan yang tidak ditambang justru menjadi aset?
Bagaimana kalau masyarakat yang menjaga alam ikut mendapatkan manfaat ekonominya?
Kalau konsep seperti ini bisa diwujudkan, mungkin BMC tidak perlu disebut sekadar green token.
Saya lebih s**a melihatnya sebagai sebuah ekosistem nilai alam.
Token hanyalah alat.
Teknologi blockchain juga hanyalah alat.
Yang paling penting adalah apa yang kita jaga, apa yang kita bangun, dan siapa yang akhirnya mendapatkan manfaatnya.
Dan bagi saya, perjalanan BMC mungkin harus dimulai dari sana.
Disampaikan oleh Founder bamboochain.id | BaMbooChain | BMC
Perkebunan Emas Hijau Cibarani adalah inisiatif ekosistem bambu ber...