13/05/2026
๐๐ฌ๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง ๐๐ข ๐๐๐ฐ๐๐ก ๐๐๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐จ๐ฅ๐๐ซ
Saya tak bisa menutup mata: kurs rupiah hari ini menembus Rp17.500 per USD (Bank Indonesia, 13/05/2026). Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras bahwa biaya ujian internasional melonjak lebih dari 25% dibanding tahun lalu. Asesmen pendidikan anak pun terasa seperti transaksi valuta asing, bukan proses mendidik.
OECD dalam ๐ธ๐๐ข๐๐๐ก๐๐๐ ๐๐ก ๐ ๐บ๐๐๐๐๐ 2024 mencatat Indonesia hanya mengalokasikan 3,4% PDB untuk pendidikan, jauh di bawah rata-rata global 5%. Ironi ini membuat asesmen sibuk menghitung skor, sementara masa depan anak-anak tergadai kurs dolar. Bukankah ini mirip Sisifus yang terus mendorong batu tanpa pernah sampai puncak?
Novel ๐โ๐ ๐ถ๐๐ก๐โ๐๐ ๐๐ ๐กโ๐ ๐
๐ฆ๐ (J.D. Salinger, 1951) menggambarkan Holden Caulfield muak pada kepalsuan sistem. Begitu p**a anak-anak kita: dipaksa menghafal demi nilai, padahal riset McKinsey (2023) menunjukkan 40% pekerjaan masa depan menuntut problem-solving, bukan sekadar skor ujian.
Jika asesmen hanya jadi ritual angka, maka pendidikan kehilangan jiwa. Pertanyaannya: apakah kita rela masa depan anak ditentukan kurs dolar dan lembar jawaban pilihan ganda?
Selengkapnya baca
Kenaikan nilai dollar hingga menembus Rp 17.500 per dollar AS mungkin tampak seperti angka yang dinginโsekadar indikator di layar finansial. Namun perlahan ia merembes ke ruang yang paling perso . . .