Dengan sangat kumohon kutukanmu ya Tuhan, jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup, mencari derajat tinggi di hadapanMu, sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya.
Dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan, untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku, untuk menghalau dengki dari bumi, untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri.
Dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan, demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia, serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya menanam pohon-pohonMu yang baru.
Ambillah hidupku sekarang juga, jika memang itu diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati, kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia.
Hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini, jadikan duka deritaku ini makanan bagai kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan, asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu.
Jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah. Potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya, seratus berikutnya, dan seribu berikutnya, sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hambaMu menjadi terang benderang karena keikhlasan.
Jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan dibutuhkan kekalahan para hambaMu yang lain, maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu ia menundukkan wajahnya di hadapanMu.
Jika untuk mengusir muatan kedunguan di balik kepandaian hambaMu diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain, maka hancurkan dan permalukan aku, asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir di hatinya.
Jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya, maka sengsarakanlah aku.
Jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku, maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku.
Jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu adalah penyadaran akan kegelapan, maka gelapkan aku, demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu.
Demi Engkau wahai Tuhan yang aku tiada kecuali karena kemauanMu, aku berikrar dengan sungguh-sungguh bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang kudambakan, bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan, serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan.
Demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku, aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat, hidupku hanyalah tanpa henti memandangMu sampai kembali hakikat tiadaku.
JURAGAN DUSO
Manusia yg sempurna bukanlah manusia yg Tampa dosa. Tapi, manusia yg sempurna adalah manusia yg Mau mengakui kesalahan & Mau bertobat kepada sang pencipta
diskusi kajian islam klasik dan kontemporer.
Manusia Dipimpin BINATANG
Peradaban Manusia sejauh ini menambah bukti kebenaran hipotesis para Malaikat: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’”. [1] (Al-Baqarah: 30).
Peradaban manusia sepanjang zaman dipenuhi oleh ketinggian dan kecanggihan Iqra` dalam hal-hal yang menyangkut perusakan hidup dan penumpahan darah. Satuan-satuan Kerajaan maupun Negara dibangun pada akhirnya berujung pada perampokan atas kekayaan bumi dan penguasaan atas sesama manusia.
Pengetahuan diteliti, ilmu digali, ideologi disusun, teknologi ditata, strategi dibangun, komunikasi dijaringkan, informasi direkayasa, dengan tujuan untuk mengambil alih hak Allah, memonopoli hasil-hasil rampokan untuk egoisme dan egosentrisme suatu kelompok di antara manusia. Segala kemungkinan tipudaya, makar atas nilai hakiki kemanusiaan, jebakan-jebakan politik, secara amat canggih diIqra`i oleh binatang-binatang pemuka kehidupan manusia, yang bahkan Allah menyebut mereka lebih hina dari binatang.
“Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan lebih hina lagi” [2] (Al-A’raf: 179). Disebut binatang karena sebagai manusia mereka tidak menggunakan akal dan kalbunya selain untuk kedhaliman kepada sesamanya. Disebut lebih hina karena pada hakikinya manusia diciptakan lebih mulia dari benda, tetumbuhan, dan hewan. Benarkah Iqra`ku ini?
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan lebih hina lagi.
Kamu dan preman cuma beda pakaian.
Ada pepatah yang mengatakan,” man lam ya’rif al syarra yaqa’ fiihi”( barangsiapa yang tidak mengerti suatu keburukan, maka ia akan terjatuh kedalamnya). Dengan itu, maka di dunia ini sebaiknya jangan hanya mengerti kebaikan, tapi juga keburukan. Kebaikan kita pelajari, agar kita bisa melakukannya, sedangkan keburukan, perlu kita pelajari, agar kita selamat darinya. Tapi, di Indonesia tidak ada lembaga pendidikan yang mengajarkan keburukan karena cara berpikir kita yang bersifat linear. Hampir semua sekolah menjadi penyebar “ajaran”, hampir tak ada yang menuntun untuk bisa ambil “pelajaran”. Kita kesampingkan dulu hal tersebut, meskipun dampaknya kita-kita ini menjadi sebuah bangsa yang gampang ditipu, langganan ditipu, sudah ditipu bisa ketipu lagi, sudah dijajah bisa ke jajah kembali. Itu dampak dari tiadanya kepekaan untuk ambil “pelajaran”, bahkan tidak bisa membedakan mana “ajaran” dan mana “pelajaran”.
kita musti bisa membedakan dengan jelas antara “tujuan” dan “teknik” atau “cara” dalam mencapai tujuan, antara “ghayah” dan “wasilah”. Pemahaman terhadap hal ini sangat penting. Dalam semua hal, kita perlu memahami mana “ghayah”, mana “wasilah”. Coba anda pikirkan, antara penjajah, koruptor,perampok, pencuri atau maling, pencopet dan preman. Kalau tidak jeli, anda akan tertipu oleh istilah berbeda yang tujuannya sama. Mereka itu, sebenarnya tujuannya sama, Cuma “teknik” dan “cara”nya yang berbeda. Ghayahnya sama-sama untuk menguasai atau mengambil harta kekayaan yang bukan haknya, atau milik pihak atau orang lain, tapi dengan “cara” dan “teknik” yang berbeda, lalu kita sebut dengan atribut, identitas atau baju yang berbeda. Dan maaf, memang kita itu, s**a menilai orang sesuai baju atau libasnya, kalo pakai sarung disebut santri, pakai sorban, kiai atau ustadz, pakai jaz dan dasi disebut pejabat atau pembesar, giliran ada orang pakai celana jeans, kaos hitam dan jaket kulit hitam, apalagi berkumis tebal, wah ini pasti preman. dst , tak peduli kelakuannya bagaimana. Padahal urusan “baju” itu urusan gampang, murah meriah. Tapi itulah budaya materialisme yang materialistis. (karena itu, iblis men-talbis; membajui, memberikan pakaian…). Penjajah itu sebenranya ya “perampok”, ya “maling”, dst…, Koruptor juga ya, dia itu “maling”, “perampok”, dst….dst….Bagi orang atau kelompok yang sudah memiliki “ilmu canggih” ini, dalam mencapai tujuannya yang sama itu, tinggal melihat situasi dan kondisi untuk mengetrapkan “teknik” atau “cara” mana yang sesuai dan compatable dengan kahanan baik secara makro maupun mikro, structural-kultural, fisik –psikis, serta opini publik. Dalam situasi yang memungkinkan untuk menjajah, ya menjajah, dalam situasi yang memungkinkan untuk korupsi, ya korupsi, dan dalam situasi yang memungkinkan mencopet, ya nyopet, dan begitu seterusnya.
Saya kira anda semua sudah tahu apa dan bagaimana penjajah dan penjajahan, koruptor dan korupsi, perampok dan perampokan, maling dan permalingan, tapi, maaf belum semuanya tahu tentang copet dan teknik pencopetan, preman dan modus per-premanan. Silahkan tunggu kabar berikutnya dari sang premaan.
Al Imam Ghazali dan pandangan-pandangannya banyak mengantarkan orang menjadi wali-wali Allah, didalam Ihya' Ulumiddin beliau berkata:
1.Juz 2,hal. 150:
وبالجملة إنما فسدت الرعية بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء فلولا القضاة السوء والعلماء السوء لقل فساد الملوك خوفاً من إنكارهم
Artinya: kesimpulannya, sesungguhnya rakyak rusak karena rusaknya para penguasa, dan rusaknya para penguasa karena rusaknya ulama'. Seandainya tidak karena para hakim dan ulama' yang buruk, niscaya sedikit penguasa yang rusak, karena takut diingkari oleh mereka.
2.juz 2 half. 357;
ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر
:maka rusaknya rakyat disebabkan oleh rusaknya para penguasa dan rusaknya penguasa disebabkan oleh rusaknya ulama' dan rusaknya ulama' disebabkan oleh bersemayamnya Cinta Harta dan kedudukan ( dalam hati). Seseorang yang dikuasai Cinta dunia tidak akan kuasa mengoreksi orang -orang bawah, maka bagaimana mungkin bisa mengkoreksi para penguasa dan orang-orang besar?
Masalah yang muncul kepermukaan seperti ketimpangan ekonomi yang semakin membesar antara si muslim dan yg non Muslim, si miskin semakin miskin, dan yg kaya semakin merajalela. Yang mana melahirkan saling ketidak percayaan antar rakyat dan pemerintah, dimana rakyat disini adalah ummat Islam sebagai mayoritas, sementara pihak yang menguasai ekonomi adalah non pribumi yang mana sebagian besar agamanya juga tidak Islam, maka terjadilah protes besar melalui aksi sekian juta orang ( belum lagi yang diam-diam tapi sebenarnya juga protes) ketika terjadi “kesalahan” yang dilakukan oleh salah satu orang dijakarta sebagai representasi pihak yang menguasai ekonomi negara dan berbeda agama juga, masalah- masalah lain seperti kasus saling tuduh dan Keengganan pemerintah untuk duduk bersama kelompok Islam yang menuntut keadilan serta selalu ter“lambat”nya pemerintah dalam merespon setiap masalah, masalah demi maslah lain yang semakin meluas dan meningkat, itu semua sebenarnya adalah akibat, bukan sebab. Bahkan kegelapan berpikir, berpikir membabi buta serta berperilaku politis dalam semua hal, juga akibat.
Sebagia bangsa Indonesia yang katanya ber Pancasila, pola pikir kita tidak gravitatif dengan Pancasila itu sendiri. Apalagi pemegang kekuasaan, sangat tidak gravitatif terhadap Pancasila dan pembukaan UUD 1945 ( maaf batang tubuhnya sudah di amandemen oleh MPR dibawah kepemimpinan Pak Amien Rais). Dan sebagai ummat Islam, kita juga tidak gravitatif dengan al Qur’an sebagai Muhammad literar dan Kanjeng Nabi Muhammad saw sebagai al Qur’an yang hidup. Sebagai bangsa yang berbudaya, kita juga tidak gravitatif dengan alam semesta dan seluruh isinya. Sebagai manusia, kita tidak gravitatif dengan kemanusiannya manusia (kita tidak memanusiakan manusia secara manusiawi).
Oleh karenanya, kita lupa untuk belajar dari kesalahan sebelumnya. Kesalahan disusul dengan kesalahan, kesalahan kedua disusul dengan kesalahan ketiga dan begitu seterusnya. Pemegang kekuasaan melupakan atau mengabaikan hukum sebab akibat yang merupakan “firman Tuhan” yang menjadi pola kehidupan. Kesenjangan ekonomi mau diselesaikan dengan mendatangkan investasi asing, padahal investasi asing itulah yang menjadi penyebab kesenjangan. Hutang mau diselesaikan dengan hutang. Kepemimpinan yang bersih mau diwujudkan dengan sistem pemilihan yang kotor, dan begitu seterusnya.
Saat ini kita belum bisa menyelesaikan banjir besar masalah bangsa Indonesia. Tapi saya yakin, jika anda semua saat ini bisa berada di “atas” masalah, dengan cara membangun kemandirian jiwa dari dunia. Dunia bukan tujuan, tapi sekedar “jalan” yang kita lewati menuju akhirat. Dunia ini sekedar syari’at, thoriqot, shirat, dan wasilah”. Berarti selama di dunia kita ber syari’at dan ber thoriqot secara substansial, maka pada waktunya andalah generasi yang akan meneyelesaikan dan membawa Indonesia kepada harapan para pejuang kemerdekaan. Semoga.
Amiieen
Didalam kitab ihya' ulumiddin juz 2 hal 142, seorang ulama' besar sepanjang zaman, al Imam Hujjatul Islam, Abu Hamid al Ghazali menyitir sebuah hadits yang berbunyi:
وفي الخبر خير الأمراء الذين يأتون العلماء وشر العلماء الذين يأتون الأمراء
وفي الخبر العلماء أمناء الرسل على عباد الله ما لم يخالطوا السلطان فإذا فعلوا ذلك فقد خانوا الرسل فاحذروهم واعتزلوهم (٤)
Artinya:
1.sebaik -baik umara' adalah mereka yang "datang" kepada ulama' dan seburuk-buruk ulama' adalah mereka yang "datang" kepada umara'.
2. Ulama' adalah orang -orang kepercayaan para Rasul terhadap hamba-hamba Allah selama mereka tidak "berbaur" dengan penguasa, maka apabila mereka telah melalukan hal tersebut, sungguh mereka telah mengkhianati para Rasul, maka waspadalah kepada mereka.
'atberkah
Meng”atas”I masalah bukan berarti lari dari masalah. Mangatasi masalah adalah menerapkan strategi pertahanan diri dalam menghadapi masalah. Karena, sehebat apapun kemampuan seseorang dalam menguasai jurus-jurus dan strategi dalam pertempuran, dia tidak akan bisa mengalahkan lawannya tanpa siasat dan kuda-kuda yang tepat dan kuat. Masalah yang sedang dihadapi bangsa Indonesia ini, bukan masalah sederhana, tapi besar, luas, dalam dan komplikatif. Sebenarnya ini merupakan masalah lama yg berusaha dikemas dengan desain baru, yakni penguasaan asset ekonomi bangsa oleh para penjajah, yang mana penguasaan tersebut membutuhkan “jalan” atau “instrument" kekuasaan, maka mereka juga bermain dan memilih jalan politik sebagai roda penggerak dalam proses penguasaan itu. Dilalah, kita sangat lemah dalam bidang ekonomi, kemudian kran demokrasi yang melahirkan pemilihan langsung dalam semua tingkatan membutuhkan dana yang besar, maka semuanya bisa diatur oleh pemilik modal. Para calon butuh modal, rakyat juga dibiasakan tidak memilih tanpa kompensasi materi, maka kepada siapa lagi para calon itu mau mencari dana kalo tidak kepada para konglomerat atau taipan itu.Berlakulah hukum ekonomi dalam dunia politik, yakni jual beli, transaksi, kontrak karya berdasarkan hukum penawaran dan permintaan (supply and demand). Lebih parahnya lagi, kedua-duanya ( politikus dan pemilik modal) sama-sama serakahnya, yang satu ingin menguasai asset sebanyak-banyaknya tanpa batasan dan yang satunya mau memanfaatkan kesempatan untuk berkuasa sekuat-kuatnya. Akhirnya, kedua-duanya menghalalkan segala cara. Satunya menjadi qarun, yang satunya menjadi fir’aun.
Mereka menginginkan pola kerjasama saling menguntungkan itu berlangsung sukses tanpa hambatan. Sebenarnya mereka menemukan momentum kemajuan Teknologi Informasi dengan menguasai media resmi dan media sosial. Media resmi sudah lama menjadi milik mereka, kemudia media sosial yang berkembang pesat, maunya mereka kuasai juga dengan membentuk pas**an-pas**an cyber yang bekerja all out dan all time. Informasi-informasi yang beredar sengaja diciptakan / di setting sedemikian rupa dengan pola seperti sungguhan, padahal sebenarnya hasil olahan atau by design. Awal-awal, public percaya, tapi lama kelamaan ketahuan juga. Pertama ragu, kemudian tidak percaya. Dilalah, sekarang persoalannya berkembang tidak hanya tidak percaya kepada media, melainkan juga tidak percaya kepada penegndali media, yaitu penguasa dan pemilik modal itu. Saya kira itu pantas saja sebagai kilas balik dan perlawanan terhadap penjajahan. Sekali lagi, saya kira, di dunia manapun tidak ada penjajahan yang tidak dilawan, kecuali oleh bangsa-bangsa yang benar-benar tidak punya jati diri dan harga diri. Tapi mereka itu tidak mau menyerah begitu saja, dengan modal dana dan kekuasaan yang mereka miliki, mereka mencoba bertahan dan memaksa untuk terus dipercaya. Maka diciptakan lagi pola repsresif mempergunakan instrumen-instrumen hukum, borokrasi dan perusahaan. Diangkatlah issu radikalisme, intoleransi, diskriminasi, anti kebhinekaan, anti Pancasila dan lain-lain sebagai pembenar dari tindakan repressif yang mereka lakukan. Satu hal yang tidak di duga oleh mereka bahwa perlawanan itu lahir dari kelompok Islam yang mayoritas di negeri ini. Maka mereka melakukan polarisasi Islam agar ummat Islam tidak bersatu. Dan begitu seterusnya. Sayangnya, ummat Islam kini rupanya telah mengerti sehingga tidak mudah juga untuk di “bohongi”. Para pemimpin ormas mungkin bisa mereka beli dan kendalikan, tapi tidak semudah itu dengan ummatnya.. Mereka ini ternyata lebih “mellek” dibandingkan para pimpinan ormas yang s**a jualan ummat. Keresahan dan ketidak percayaan itu kini telah merasuk kedalam hati dan sanubari mereka.
Yang terpenting sekarang, kita meng”atas”i dulu masalah yang komplek ini agar kita bisa menghadapi dengan tenang dan tidak terjadi saling sikut antar kita sesama obyek penjajahan. Dalam situasi panik, gak mungkin kita bisa berpikir jernih dan bersatu padu melawan penjajahan. Itulah maksud tawaran saya, meng”atas”i masalah. Bagaimana caranya? Besok kita lanjutkan, sekarang ngopi dulu….!
'atBerkah
BELAJAR SOKO TEMBANG GUNDUL-GUNDUL PACUL
titipan Kanjemg Sunan Kalijogo
Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglempang segane dadi saklatar
Wakul ngglempang segane dadi saklatar
Gundul-Gundul Pacul merupakan tembang dolanan ciptaan Kanjeng Sunan Kalijogo yg terkesan sepele dan diperuntuk bagi anak2. Padahal sesungguhnya unen2 tembang diatas merupakan pesan moral untuk menegur para pemimpin agar menjadi pemimpin yg amanah dalam menjalankan tugasnya. Makna filosofis yang terkandung dalam tembang Gundul Gundul Pacul kurang lebih seperti berikut ini:
GUNDUL-GUNDUL PACUL-CUL, GEMBELENGAN
"GUNDUL" Gundul adalah kepala tanpa rambut, pelontos. Kepala adalah letak kehormatan seseorang, rambut adalah lambang mahkota yang membuat kepala tampak indah. Kepala yang gundul bermakna seseorang yang tanpa mahkota. PACUL dalam bahasa Jawa berarti cangkul, alat bertani berbentuk segi empat. PACUL merupakan singkatan dri “Papat Kang Ucul” (4 parkara yang lepas), bermakna kehormatan seseorang sangat bergantung pada 4 hal: mata, telinga, hidung, dan mulut. Jika 4 hal itu terlepas, tak terkendali, lepaslah kehormatannya.
“GEMBELENGAN” Gembelengan berarti besar kepala, "sak karepe dewe" s**a sembrono menggunakan kedudukannya. lupa asal-usulnya. sombong, semana-mana dan zalim pada rakyat, lupa bahwa pemimpin sejatinya pengemban amanah rakyat.
NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL-KUL, GEMBELENGAN
"NYUNGGI WAKUL" Nyunggi wakul berarti menjunjung tempat nasi. Pemimpin itu nyunggi (mengemban amanah rakyat). Tapi pada kenyataannya justru banyak pemimpin yang lupa bahwa dia sedang mengemban amanah untuk memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Wakul (tempat nasi) adalah simbol kesejahteraan rakyat. Dengan kedudukannya, pemimpin seharusnya melakukan segala hal demi kepentingan rakyat yang disungginya.
WAKUL NGGLEMPANG SEGANE DADI SAKLATAR
"WAKUL GLEMPANG" Wakul ngglempang berarti tempat nasi yang tumpah. Amanah rakyat yang disepelekan. Kepentingan rakyat tidak lagi menjadi prioritas dan tidak lagi diperjuangkan. Sehingga mengakibatkan “Segane dadi saklatar” berarti nasinya tersebar ke mana-mana. Tempat nasi sudah terlepas, kepentingan rakyat bukan lagi prioritas, menyebabkan isinya tumpah ruah ke mana-mana. Ini sama halnya dengan pemimpin yang tidak amanah, yang justru menggunakan kedudukannya untuk menyejahterakan dirinya sendiri sehingga kepentingan rakyatnya terabaikan. Nasi yang tumpah tidak akan bisa dimakan lagi karena sudah kotor. Meskipun bisa terkumpul lagi, tapi sudah tidak kayak lagi untuk disajikan kepada rakyatnya. seperti para pemimpin yang tidak dapat menjaga amanah dari rakyatnya.
Tembang yg terlihat seperti dolanan anak kecil karya Kanjeng Sunan Kalijaga ini sebenarnya terkait erat dengan komitmen manusia ketika menjalankan tugas dan amanat yang diembannya. Saat masih kecil, gembelengan itu masih wajar, karena masih gundul. Tapi jika sudah dewasa, lebih-lebih saat menjadi pemimpin, bukan lagi saatnya untuk bermain-main dan bersikap gembelengan. Jika seorang pemimpin bersikap gembelengan, rakyatlah yang menanggung akibatnya.
'atBerkah
Division of labour
Sesuatu hal yang Tidak Menyelesaikan Masalah
Menggunakan bahasa dan logika yang cukup gamblang, sederhana dan berimbang, Mari kita lihat melihat model kepemimpinan zaman dahulu. Saya jadi teringat istilah all in one—peran dan fungsi pemimpin ternyata beragam, menampung segala persoalan masyarakat, lalu dengan presisi pemahaman yang utuh memberi solusi untuk menyelesaikan problematika masyarakat.
Kehadiran pesantren di tanah Jawa tidak lepas dari sejarah dan watak kepemimpinan model all in one itu. Tidak ada Kyai atau guru di pesantren yang menobatkan diri mereka sendiri sebagai guru besar dan melabeli diri mereka sebagai kyai. Warga dan masyarakat yang mengangkat mereka sebagai kyai atau guru berkat peran, fungsi dan kualitas kepemimpinan mereka.
Pemaparan terkait model kepemimpinan yang kerap disebut tradisional itu menemukan urgensinya setelah kita sandingkan dengan model kepemimpinan modern. Solusi atas persoalan dipecah dan dispesialisasikan sesuai bidang dan departemen. Untuk sambatan tentang kesehatan ada Kementerian Kesehatan; sambatan pendidikan dan kebudayaan ada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; sambatan agama ada Kementerian Agama. Semua lengkap dengan departemen-departemen.
Faktanya, division of labour itu tidak sepenuhnya bisa menyelesaikan masalah—bahkan cenderung gagal dan malah menimbulkan banyak masalah. Mereka yang dibayar rakyat untuk bekerja di kementerian dan departemen, melayani rakyat, memberikan solusi justru menciptakan masalah dan menjadi bagian dari masalah. “Banyak pemimpin sekarang yang tidak menyelesaikan masalah dan malah bikin masalah,”.
Tidak semata untuk menyudutkan kenyataan kepemimpinan di Indonesia, dan tidak berhenti sebatas pada pertanyaan itu. Kita harus terus mengalir. Ketika masyarakat tidak menemukan solusi yang ditawarkan oleh model division of labour itu, mereka mencari sendiri jawaban bagi setiap persoalan. Di sinilah terjadi kontinuasi mental, watak, dan cara berpikir khas bangsa Indonesia. Masyarakat mencari sosok yang tepat untuk mengurai persoalan hidup mereka—kenyataan yang kembali merujuk pada model kepeminpinan yang kerap dianggap tradisional itu.
“Perang Mulut Kontemporer"
Dan Karena ucapan, kata-kata dan baju alias identitas lebih kita pentingkan, maka saat ini kita semua menuai akibatnya, yaitu perang mulut setiap saat melalui media sosial. Perang mulut modern ini begitu liarnya karena pelakunya tidak harus saling kenal satu sama lain, lawan dan kawan bisa berubah sesuai dengan tema yang diposting, pelakunya bisa menembak dan ditembak ketika sedang ngising di dalam toilet, sedang bersenggama dengan isterinya dirumah, dihotel atau dimanapaun, pada saat makan, minum, jalan-jalan, ataupun sedang ceramah atau shalat jama’ah. Cukup dengan menggenggam smart phone.
Kita tidak perlu mengetahui siapa penulis, latar belakang pribadi, keluarga dan pendidikan, dan apa tujuannya. Yang penting cocok dan sesuai kemauan, kita copas dan tembakkan kepada sasaran, entah kepada orang yang sejatinya kawan atau sejatinya lawan. Perang dan perang.
Kemudian dalam situasi tidak menentu itu, ada sekelompok orang yang dengan sengaja membikin “pas**an IT”, dengan taktik dan strategi seta manajemen jitu, memainkan perasaan dan psikologi masyarakat kepada arah tertentu, mengolah informasi membentuk persepsi dan opini, mengatur arah pemikiran dan nalar serta emosi, tanpa harus ketemu, kelompok ini menguasai alam pikiran, nalar dan emosi masyarakat untuk senang, s**a, mendukung , membela, memperjuangkan, memilih figur atau partai tertentu pada satu sisi, kemudian membenci, anti, memusuhi, menolak dan mem black list dan black campaign figur dan partai tertentu.
Dan hebatnya, kita percaya bahkan sangat percaya, melebihi keyakinan kepada al Qur’an dan hadits Nabi. Kepada al Qur’an kita berani bilang masih multi tafsir, kepada hadits kita berani bilang bisa dla’if dan maudlu’, tapi kepada berita media kita bisa langsung percaya dan yakin.
Akal sehat dan hati nurani hakiki terkesampingkan, berganti dengan akal sehat palsu dan hati nurani palsu, buatan media sosial. Orang yang dicinta dan dipuja, sejatinya belum tentu seprti yang disangka. Yang dibenci dan ditolak juga belum tentu seperti yang di sangka. Semuanya bentukan alias talbis. Dan kita sudah tidak punya waktu lagi untuk mengetahui “apa yang sebenar”nya.
PANDAWAYUDHA
Kalau pesawat mengalami turbulence, hati penumpangnya galau, perasaannya hancur dan pikirannya buntu. Apalagi kalau guncangannya semakin menjadi-jadi, seluruh jiwa raga serasa lumpuh.
Apa saja yang dilakukan, tidak ada benarnya. Berdiri, miring ke kanan miring ke kiri, terbanting ke depan atau terjengkang ke belakang. Semua gerakan salah. Semua inisiatif mencelakakan. Segala sesuatu yang biasanya benar, menjadi tidak benar. Ketika dilakukan sesuatu yang sebenarnya salah, bisa menjadi benar. Tidak ada paramenter, logika, proporsi, teori, pengetahuan dan ilmu, yang bisa diberlakukan sebagaimana pada keadaan yang normal.
Kalau kapal bergoyang-goyang ekstrem, mau memeluk istri malah kepala membentur kepalanya. Mau menyodorkan gelas minuman, tumpah ke badan kawan. Semua pergerakan membias, melenceng, bahkan berbalik. Kebenaran menjadi kesalahan, haq menjadi batil, kebaikan menjadi kejahatan, komunikasi menghasilkan kesalahpahaman, kasih sayang menghasilkan pertengkaran.
“Terlanjur” Pancasila
Mungkin tidak persis apalagi separah itu, tetapi kita bangsa Indonesia rasanya sedang mengalami situasi semacam itu. Berlangsung ketidakseimbangan berpikir yang semakin merata. Kemiringan persepsi serta ketidakadilan sikap satu sama lain. Mungkin karena semua pihak mengalami kepanikan subjektif, sehingga berlaku over-defensif, kehilangan presisi logika dan ketegakan analisa atas segala sesuatu. Termasuk terhadap dirinya sendiri.
Kita menjadi kanak-kanak massal, ditindih oleh rasa tidak percaya satu sama lain, sehingga terseret untuk melakukan hal-hal yang membuat kelompok lain semakin tidak percaya. Semua dirundung situasi patah hati sebagai kelompok-kelompok, sehingga egosentrisme membengkak pada masing-masing yang merasa saling terancam. Ukuran-ukuran tentang apa saja menjadi semakin kabur. Wajah kebangsaan kita menjadi tak berbentuk, seperti lukisan abstrak ekspresionis yang dihasilkan oleh tangan bayi yang meronta-ronta, yang di antara jari-jemarinya kita letakkan kuas yang kita sentuhkan pada kanvas sejarah.
Andaikan pada akhirnya terjadi chaos, entah pada tingkat tawur, sweeping, pembakaran-pembakaran sporadis atas wilayah “lawan”, atau penyerbuan-penyerbuan lokal. Atau na’udzu billahi min dzalik demi anak-cucu kita kelak jangan sampai terjadi perang sipil atau pembasmian massal seperti 1965 – kita tinggal berharap kepada “Kami” dari langit atau ekstra dimensi yang lebih lembut.
“Kami” itu maksudnya Tuhan dengan para aparat-Nya: rombongan Malaikat, Jin, makhluk-makhluk lain termasuk Komunitas Mukswa, yang juga merupakan sahabat dan tetangga kita penduduk Indonesia. Mereka yang mengawal detak jantung dan jalannya darah kita, membagi kalori, lemak, karbohidrat, protein, mineral, dll di jasad kita. Juga memastikan gravitasi, menetesnya embun, bersemainya dedaunan, hingga beredarnya matahari dan rembulan. Kenapa tidak juga ditugasi ekstra untuk menolong rakyat kecil Indonesia para kekasih Tuhan?
Sebab seluruh himpunan pengetahuan dan ilmu, dari masa silam, sekarang, maupun masa datang, yang modern maupun tradisional, dari kearifan dusun hingga kecanggihan toga kaum Sarjana – belum pernah saya temukan bagian dari itu semua yang sanggup mengatasi komplikasi permasalahan yang ekstra-unik, ultra-ruwet, dan multi-simalakama khas Indonesia Raya sekarang ini.
Saya memberanikan diri menyebut fenomena “langit” ini karena bangsa kita terlanjur melandasi kebangsaan dan kenegaraannya dengan Pancasila yang sokoguru-nya oleh Ketuhanan Yang Maha Esa.
Akurasi, Presisi, dan Talbis
Andaikan sekarang ini era Nabi Nuh, dan kita semua ingkar kepada Tuhan, sehingga menyakiti hati kekasih-Nya, yakni Ruhullah Nuh itu, lantas menganugerahkan banjir bandang yang menenggelamkan seluruh Nusantara – juklak-juknisnya akan tidak sesederhana dan semudah Bahtera Nuh dahulu kala.
Bagaimana verifikasi siapa-siapa yang akan naik kapal? Nabi Nuh tidak memerlukan penyaringan, sebab semua yang ingkar tidak berminat naik kapal, karena yakin akan bisa selamat tanpa Bahtera Nuh. Tapi kita sekarang sudah punya referensi tentang kasus kapal Nuh. Kita tidak mau disapu habis oleh banjir, maka kita semua akan beramai-ramai mengaku beriman kepada Tuhan dan Nabi Nuh agar diperbolehkan naik kapal. Kita adalah bangsa yang sudah sangat terdidik dalam hal “kutu loncat”. Sangat banyak politisi kita yang menjadi “teladan” perilaku kekutu-loncatan, yang luwes dan dinamis.
Di dalam atmosfir itu, siapa yang menolak kutu loncat, adalah pribadi yang keras kepala, hambegugug nguthowaton, kepala batu, meskipun yang bersangkutan merasa dirinya konsisten dan teguh iman. Dalam situasi normal saja kita tidak selalu memiliki presisi untuk membedakan antara hemat dengan pelit, antara boros dengan dermawan, antara move-on dengan disorientasi, antara kemurahan sosial dengan poligami, antara kearifan dengan kompromi, antara kedewasaan dengan ketidakberdayaan, antara takut dengan mengalah. Terlebih lagi antara kapan merasa bangga kapan merasa hina, miskin itu letaknya di mentalitas ataukah harta benda, atau antara pemimpin dengan penguasa, bahkan antara penguasa dengan boneka.
Maka di tengah turbulence pesawat atau kapal berguncang-guncang hari-hari ini, kita juga kehilangan ketepatan dan keseimbangan, tidak lagi punya akurasi dan presisi ketika menggagas dan merumuskan SARA, Agama, Etnik, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI Harga Mati, Nasionalis dan Islamis. Jalan kita sangka tujuan. Sarana kita anggap pencapaian. Roh dianggap jasad. Lembaga disangka Ideologi. Pemerintah merasa dirinya Negara. Pejabat menyimpulkan dirinya atasannya Rakyat. Tak mengerti pilah antara Negeri dengan Negara. Pengkhianat dinobatkan sebagai Pahlawan.
Pengetahuan kita tinggal satu: yang pasti benar adalah kita. Yang bukan kita, pasti salah, meskipun di lubuk hati kecil ada kans 1% yang bukan kita itu punya kemungkinan untuk benar. Yang pasti benar meskipun bukan kita adalah yang membayar kita. Pesawat kebangsaan kita sedang mengalami super-turbulence. Bahtera NKRI kita sedang terguncang-guncang oleh pertengkaran kita sendiri. Semakin kapal berguncang, semakin kita bertengkar. Dan semakin kita bertengkar, semakin kapal berguncang.
Kita langsungkan itu semua dalam Deret Hitung, dan kalau yang kita lakukan adalah yang itu-itu juga yang sejauh ini kita lakukan, segera akan kita alami percepatan Deret Ukur. Terutama kalau kita terus melakukan Talbis. Talbis adalah peristiwa di surga ketika Adam dijebak dan ditipu oleh Iblis, karena menyangka yang datang kepadanya adalah Malaikat. Sang Iblis berpakaian Malaikat, sementara Adam belum terdidik oleh pengalaman untuk membedakan antara Iblis dengan Malaikat. Sebagaimana rakyat tidak pernah belajar memahami Talbis perpolitikan Negaranya.
Yang paling besar sumbangannya terhadap kehancuran NKRI adalah para pelaku Talbis. Manusia-manusia, kelompok, lembaga atau satuan yang memprogram ke-Iblis-an, mengkamuflasenya dengan kostum, formula, simbolisme dan teks seakan-akan Malaikat. Kostum nasionalisme, pewarnaan Merah Putih, serban Istighotsah dan lantunan suara surgawi. Tapi di belakang punggung melakukan rekayasa, bullying, kriminalisasi, skenario penumpasan, pembunuhan karakter, pemanfaatan pasal hukum, penyebaran meme-meme, pengaturan irama viral, serta apa saja untuk meneguhkan kekuasaan dan penguasaan.
Pandawayudha
Dalam peristiwa Bahtera Nuh terdapat polarisasi antara Kaum Beriman dan Kaum Ingkar. Dalam perang Bharata Yudha bertarung antara Pandawa yang mewakili kebenaran dan kebaikan, melawan Kurawa yang mewakili kebatilan dan kejahatan. Yang kita alami dengan NKRI hari ini adalah Pandawayudha.
Masing-masing pihak yang berhadap-hadapan merasa dirinya Pandawa. Bahkan sangat yakin dengan ke-Pandawa-annya. Masing-masing juga memiliki landasan nilai dan argumentasi yang kuat bahwa mereka Pandawa. Kwa-nilai dan substansi, keduanya bisa menemukan kebenaran dan kebaikannya. Ini Pandawayudha. Permusuhan antara Pandawa dengan Pandawa untuk dirinya masing-masing, atau Kurawa lawan Kurawa untuk penglihatan atas musuhnya masing-masing.
Mereka berhadap-hadapan dalam eskalasi kebencian dan pembengkakan permusuhan. Kalau didaftar, disensus, masing-masing adalah NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Tuhan menggambarkan dengan kalimat “tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta”: mereka berada di satu bulatan NKRI, dengan hati mereka terpecah belah.
Padahal titik krusialnya terletak pada turbulence pesawat dan guncangan kapal. Yang satu bersikukuh bunyi kokok ayam adalah “kukuruyuk”, lainnya bersikeras “kongkorongkong”, lainnya diam-diam menyimpulkan “kukeleku”, “kukurunnuk” atau “cock-a-doodle-doo”. Padahal yang benar sejati adalah si ayam itu sendiri.
Ada konstelasi Pribumi dan Non-Pribumi. Ada Arab, Habib, Sayyid, Syarif, Ahlul-Beyt. Di kejauhan sana ada Kiai, Yai, Ustadz, Ajengan, Tuan Guru. Di sekitar kita ada Cina Daratan, Cina Perantauan, Cina Benteng, dan Cina Toko. Padahal substansial menghampar juga Jawa Benteng dan Jawa Toko, Batak Benteng dan Batak Toko, pun Arab Benteng dan Arab Toko. Sebagian dari konstelasi itu kini sedang incar mengincar dan bermusuhan dengan parameter simbolik, bukan ukuran substansial dan hakiki kasunyatan perilaku. Pelaku SARA menuduh lainnya SARA, yang dituduh SARA terpojok untuk juga berlaku SARA.
Berlangsung dengan marak turbulensi alam pikiran, melahirkan guncangan sikap dengan pilihan kemiringan masing-masing. Ada yang miring karena diakibatkan oleh turbulensi, ada yang nempel ke salah satu dinding karena terlempar oleh guncangan. Tapi ada juga yang memanfaatkan kemiringan, mendayagunakan turbulensi, dan memanfaatkan guncangan. Bahkan ada yang pro-aktif merekayasa turbulensi, merancang guncangan, dan memperdaya para penumpang dengan meyakinkan bahwa itu tegak, bukan miring. Bahwa yang ini NKRI, yang itu makar. Yang ini Bhinneka Tunggal Ika, yang itu radikal.
Padahal pada hakekat dan kenyataannya, menurut tradisi terminologi Al-Qur`an, musuh utama Islam dan manusia adalah keingkaran (kufur), kemusyrikan (selingkuh), kemunafikan (hipokrisi, oportunisme), kefasiqan (lupa Tuhan sehingga lupa diri), juga kedhaliman (kejam dan mentang-mentang). Di antara semua itu yang ratusan kali lebih berbahaya dan sangat menyulitkan adalah kemunafikan: “mungsuh mungging cangklakan” (musuh yang nempel di ketiak) alias musuh dalam selimut.
Di dalam golongan-golongan yang saling bermusuhan terdapat Munafiqun-nya masing-masing. NKRI dan Bangsa Indonesia ini sendiri diperlakukan secara munafik oleh sebagian penghuninya. Dan itulah the true turbulence, guncangan sejati sejarah kita hari ini.
Pawang Kambing dan Sanggar Kenegarawanan
NKRI adalah abstraksi garis lurus vertikal gravitasi. Tetapi semua yang berdiri miring dan bermusuhan satu sama lain, meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka tegak gravitatif. Terjadilah saling-silang garis-garis yang masing-masing adalah klaim gravitasi. Atau NKRI adalah patok kayu di mana kambing-kambing diikat lehernya dengan tali. Panjang pendeknya tapi dari kambing ke patok itu bervariasi sesuai dengan potensi dan pencapaian masing-masing. Tetapi masalah NKRI hari ini adalah masing-masing kambing menancapkan patoknya sendiri-sendiri.
NKRI hari ini adalah kambing-kambing (bhinneka) berlarian pada kepentingan diri (tunggal)nya sendiri dan membikin patok (ika)nya masing-masing atau sendiri-sendiri. Sungguh kita para kambing ini butuh Penggembala, Negawaran, Panembahan, Punakawan, Begawan. Kalau semua pihak, Polisi, Tentara, Parpol, Ormas, Presiden, Menteri, Kiai dan Ulama, bahkan alam pikiran rakyat, tercampak di kurungan arena politik (praktis) – maka tidak perlu waktu lama bagi kambing-kambing itu untuk kehilangan lapangan rumput.
Telah berdatangan “Pawang-pawang Kambing” dari luar memasuki lapangan, bekerjasama dengan “Pawang-pawang Toko” yang sejak lama ada di lapangan. Secara bertahap dan sangat strategis gravitasi NKRI dikaburkan dengan diperbanyaknya gravitasi-gravitasi di sana sini, untuk pada akhirnya – sesudah sempurna delegitimasi gravitasi NKRI – akan dimapankan tancapan gravitasi baru, yang mungkin tetap bernama NKRI tapi sesungguhnya bukan lagi NKRI.
Dengan rancangan yang seksama dan hampir sempurna, kambing-kambing dirangsang dengan rumput-rumput di berbagai area, kemudian dipandu untuk menancapkan patoknya masing-masing. Telah berlangsung hampir menyeluruh amandemen atas gravitasi dan patok. Bangsa Indonesia sedang bergerak menuju bukan Bangsa Indonesia, dan Negara Indonesia menuju Indonesia baru yang hanya namanya saja.
Saya pribadi sedang merekapitulasi seberapa cacat Negara kita ini dulu ketika lahir. Misalnya dalam hal formula kenegaraan, kadar kontinuasi dari masa lalu Bangsa Indonesia yang tua, serta adopsi, copas, epigon, atau bahkan plagiat dari suplai nilai-nilai para penjajah. Sangat banyak nilai-nilai mendasar yang mau tidak mau akan harus kita pertimbangkan kembali, demi kemaslahatan anak cucu.
Kalau para orang tua Bangsa ini, para Sesepuh, para Negarawan dan Begawan-Begawan nilai, tidak bersegera untuk duduk bersama, berunding dengan kelengkapan kulit dan isi, langit dan bumi, kesementaraan dan keabadian, kebendaan dan kemanusiaan, kebinatangan dan kemalaikatan – di dalam lingkup kesaktian dan keindahan Pancasila – kita semua harus bersiaga untuk mengalami lonjakan dari Pandawayudha ke Bharata Yudha – yang untuk jenis karakter Bangsa Indonesia, bisa amat sangat mengerikan dan membuat penduduk dunia menggigil terpana.
Presiden dan para figur kunci Pemerintahan, pendekar Sipil maupun Militer, pemuka-pemuka semua kelompok, para sesepuh masyarakat, semua lingkaran kebhinnekaan, ojo dumeh, anak cucu memerlukan para Paduka duduk melingkar bersama di Sanggar Kenegarawanan, untuk semacam Musyawarah Darurat Keselamatan Bangsa.
Saya berlindung kepada Tuhan Yang Maha Penyayang dari Indonesia yang kehilangan Pusaka, dan tersisa di tangannya hanya Pedang, Pisau, Parang, Peluru, Tenung, Santet, dan Senapan. Siapa saja yang hendak menguasai suatu Negara sekalian Bangsanya, menggunakan kecerdasan, limpahan uang dan keserakahan: sungguh tidak s**ar. Fakta dan buktinya sedang berlangsung. Tetapi penguasaan atas kehidupan, manusia dan sejarah, berhadapan dengan tantangan-tantangan yang tidak sesederhana yang bisa dihitung oleh akal dan strategi. Juga dengan “kekejaman” waktu dan “min haitsu la yahtasib” atau “devine authority”, yang kalau meremehkannya, jangan 100%
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Address
Surabaya
60134