27/02/2025
Lagi Viral Koruptor Pertamina Oplosan Pertalite menjadi Pertamax, tapi kita tidak membicarakan itu lebih lanjut
Kita ajak tengok masa lalu Perusahaan bahan bakar dan gas yg berkiprah di Indonesia jaman kolonial al :
BPM adlh Bataafse Petroleum Maatschappij adlh perusahaan minyak Belanda yg didirikan th 1907 menjadi anak perusahaan Shell di Indonesia, saat jaman kolonial mendominasi industri minyak bumi dan menguasai Lebih 95 % total minyak mentah , setelah kemerdekaan 1957 pangsa pasar BPM turun drastis akibat serbuan caltek dan stanvac yg belakangan caltek berubah nama menjadi Chevron dan stanvac menjadi Exxon.
Sementara Socony adlh Perusahaan Minyak standard oil company didirikan th 1870 oleh JD Rockefeller di Ohio USA , perusahaan ini masuk di Indonesia saat jaman kolonial yaitu th 1898 dg anak perusahaan socony , diperjalanan waktu 1999 socony melebur menjadi perusahaan terbesar didunia dengan menggandeng Exxon dan mobil menjadi Exxon mobil yg menjadi leading produksi minyak dan minyak pelumas dunia.
27/02/2025
Penjual Asongan di depan Gardu Listrik Aniem Kranggan 1930
29/01/2025
Situasi Jembatan Merah di Th. 1974
13/12/2024
Parade Tank Sherman & Marinir dari Brigade Marinir kolonial Belanda memasuki Surabaya lewat Pantai pasir putih ca. 1946
09/12/2024
Cikar Sapi / Ossencar melintas di Jalan Rajawali ( Heerenstraat ) ca. 1940
08/12/2024
Jembatan Merah / Willemskade berpagar gedung tinggi ca. 1930
19/09/2024
Sepak Bola di kota Surabaya dimasa HIndia Belanda
John Edgar, siswa HBS (Hollandsche Burgere School) membentuk tim sepakbola bernama Victoria di Surabaya ditahun 1894. Victoria menjadi klub resmi pertama dibentuk lalu disusul dengan dibentuknya klub Spartan, SIOD ( Scorns InOns Doel ) , Rapiditas dan THOR ( Thot Heil Onzer Ribben ) , klub Thor ini yang tempat latihanya sekarang menjadi Lapangan Thor.
Semua klub bernaung di Oost Java Voetbalbond ( OJVB ) ditahun 1907 dan ditahun 1909 berganti nama menjadi Soerabjasche Voetbalbond ( SVB ) dan mengelar pertandinga antar klub.
Ditahun 1914 Oei Kim Liem mendirikan klub Tiong Hoa Soerabaja, Disusul tahun 1927 oleh R. Pamoedji dan Paidjo mendirikan Soerabajasche Indonesische VoetbalBond ( SIVB) pada tanggal 18 Juni 1927 dalam perkembangnya menjadi PERSEBAYA.
Tahun 1930 Yislam Murtak, Salim Barmen, Mohammad bin Said Martak, dan Mohammad Bahalmar membentuk klub Bernama Annasser ( artinya Kemenangan ) dan dalam perkembangannya menjadi klub Assyabaab.
Kompetisi antar Klub
Klub klub bola milik orang eropa seperti Victoria Spartan, SIOD , Rapiditas dan THOR, klub bola milik bangsa Timur Jauh seperti SV Tionghoa Soerabaja dan SV Annasser berkompetisi di SVB sedang SIVB memiliki kompetisi sendiri berisi klub milik orang orang pribumi.
Adanya dua poros dipersepak bolaan kota Surabaya pada waktu itu yakni SVB dan SIVB secara tidak langsung adanya " Persaingan" antar dua ornaisasi ini.
Kemudian muncul 1 poros lagi yakni SKVB ( Soerabajasche Kantoor VoetbalBond ) yang berisikan klub klub yang dirikan oleh pegawai perusahaan semisal SV Douane. SV Factorij, SV Internatio, SV Handlesbank, SV Marine Karzene Goebeng dll.
Tetapi dalam perkembangnya poros poros itu akur dan saling tukar pemain walau pun berkompetisi dijalur yang berbenda . SVB di kompetisi antar kota ( Strendenwedstrijden ) sedangan SIVB di perserikatan.
Kultur sepak bola seakan akan menjadi jalinan komunikasi dan persabahatan dimana SVB yang mayorital pemain dan pemiliknya orang Belanda / Eropa dan Timur jauh sedangan SIBV merupakan berisi klub klub milik pribumi tetapi mereka sering berbagi lapangan, sparing / pertandingan persahabatan . Mereka bersaing secara Fair dan saling menghargai. Sedangan SIVB bisa tetap menjaga Jiwa Nasioanlis melalui olah raga Sepak Bola.
Foto: KITLV : Klub dari Soerabajasche VoetbalBond mengikuti kompetisi di acara pameran dagang dikota Semarang tahun 1914
18/09/2024
Kota Surabaya pada masa kolonial merupakan kota yang paling dinamis pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Surabaya tumbuh menjadi salah satu kota besar di Hindia Belanda.
Perkembangan ekonomi Surabaya semakin tumbuh disertai p**a pesatnya perkembangan urbanisasi searah dengan gencarnya pertumbuhan industri dan aktifitas perdagangan.
Hal ini mengakibatkan pop**asi penduduk kota Surabaya semakin bertambah pesat setiap tahunnya (Frederick,1989: 4)
Dengan pertambahan jumlah pop**asi kota yang semakin padat tentunya juga menimbulakan masalah di bidang kesehatan lingkungan suatu kota.
Kenyataan ini akhirnya menimbulkan kesadaran kondisi kota sebagai hunian mereka . Selain itu ketakutan akan wabah penyakit yang terjadi pada tahun 1911, membuat pemerintah kota menyoroti pentingnya memperbaiki lingkungan terutama terutama masalah sampah.
Disamping itu, pemecahan masalah sampah ini dianggap sebagai hal yang mendesak karena volume sampah di kota Surabaya dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Jika pada tahun 1914 volume sampah kota hanya sebanyak 360 meter kubik, maka pada tahun 1930 volume sampah bertambah menjadi 238.000 meter kubik (Dick, 2001: 172).
Keberadaan Reinigingsdienst sebagai lembaga pembersihan kota tentunya membutuhkan beberapa hal yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dinas seperti petugas kebersihan, alat pengangkutan sampah, dan tahapan pengelolaan sampah.
Kebijakan tersebut seakan menjadi penentu bagaimana Reinigingsdienst mencoba melakukan tugas pembersihan kota dengan sebaikbaiknya sesuai dengan tugas yang diembannya. Namun, seringkali pelayanan menimbulkan Reinigingsdienst deskriminasi dalam pelaksanaan peraturan sampah khususnya di permukiman bumiputera.
Dimana pemukiman pribumi masalah sampah tidak terurus dengan baik, kebanyak penghuninya membakar sendiri sampah sampai tersebut sisa dibiarkan begitu saja atu dibuang ke sungai.
Foto : KITLV : 1911 Ossenkar van de stadsreinigingsdienst te Soerabaja
07/09/2024
Jalan Tunjungan ca. 1950 an
23/07/2024
Tampak Pemandangan Embong Malang - Tunjungan ca. 1900 - 1910
14/07/2024
Suasana Jalan Pahlawan / Pasar Besar 1930 & 1950an
15/06/2024
Stasiun Goebeng ca. 1908 , salah satu stasiun utama yg berada di Surabaya timur saat itu