KALAM UGM

KALAM UGM

Share

Mengaji dan Mengkaji

05/05/2026
05/07/2025

SUBHAANALLAH...

04/09/2024

*SANTRIAT SESIBUK APAPUN SELALU SHALAT BERJAMA'AH, BERDOA DAN MENBACA AL-QURAN,KITA HANYA DISURUH THOLAB ILMU,Didalam hadits hanya diceritakan,Mencari ilmu wajib bagi kaum muslimin dan muslimat,didalam hadits tersebut tidak disampaikan hasilnya ilmu,HASILNYA ILMU TERGANTUNG KEBERSIHAN HATI,KARENA ILMU TDK AKAN TURUN PADA HATI YANG KOTOR KARENA ILMU BERUPA NUUR/CAHAYA,MAKA BERSIHKANLAH HATI,JIWA DAN RAGA DENGAN CARA BERAMAL SHOLIH DAN BERDO'A*
Semoga berhasil ilmunya dengan usaha yang maksimal,Aamiin

Pondok Pesantren Al-Islami Raudhotul Fata · Sukabumi City, West Java 12/06/2024

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*"BERSEGERA UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH HAJI DAN UMROH"*

Oleh : Ust Husni Ugm
Pim Ponpes Raudhotul Fata,Tour Leader,Pembimbing dan Motivator Umroh.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada para nabi dan rasul yang paling mulia,
Aku nasihatkan kepada saudaraku bagi mereka yang belum menunaikan ibadah haji, hendaknya bersegera untuk menunaikannya.
Menunaikan haji hukumnya wajib bagi yang telah mampu untuk pergi ke sana (Baitullah).
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وصوم رمضان ، وحج البيت

“Islam dibangun atas lima hal: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إن الله قد فرض عليكم الحج فحجوا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.” (HR. Muslim).
Wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang mampu menunaikan ibadah haji, hendaknya ia bersegera dan jangan menundanya.
Karena Allah Jalla wa ‘Alla mewajibkan untuk menyegerakannya, dan tidak boleh bagi setiap muslim yang mampu dan terkena beban ibadah haji untuk menundanya,karena kalau menundanya kena ancaman dari baginds nabi besar muhammad saw,

من استطاع الى الحج ولم يحج فمات ان شاء يهوديا او نصرانيا.

Barang siapa yang sudah mampu untuk mrlaksanakan ibadah hsji/Umroh tetapi dia tidak melaksanakan ibadah haji,maka matinya tinggal memilih mati menjadi yahudi atau nashroni.
Ayo secepatnya sambut panggilan allah swt,jangan ragu,karena allah sudah menyiapkan balasannya yang agung nyaitu surga yang penuh kenikmatan dan kita akan kekal didalamnya,

Uang yang kita keluarkan statusnya menjadi nilai akhiraat,jangan terjebak dengan dunia,karena ketika dunia tidak diolahkan dijalan allah hanya jadi barang hina dan sampah bahkan menjadi rebutan keluarga,sebelum terlambat maka gunakanlah untuk keselamatan diri dan keluarga.

Bahkan menyegerakannya dan mempercepatnya, akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه

“Barangsiapa yang menunaikan haji, dengan tidak berbicara kotor dan tidak mencaci maka diampuni dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
“Umrah satu ke Umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ini adalah nikmat yang sangat besar, yang sepatutnya setiap muslim bersemangat untuk menunaikannya.
Bagi yang melaksanakan ibadah haji banyak jaminan-jaminan yang baginda rosulullah sampaikan dari berbagai hadits diantaranya,Ibadah haji dan umroh menghapus dosa dsn menghilsngkan kepakiran (Siap-siap menjadi orang Sukses dan Kaya)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.”

Syaikh Abul ‘Ula Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa maksud menghilangkan kemiskinan di sini bisa bermakna dzahir atau makna batin. Beliau berkata,

أي يزيلانه وهو يحتمل الفقر الظاهر بحصول غنى اليد ، والفقر الباطن بحصول غنى القلب

“Haji dan umrah menghilangkan kefakiran, bisa bermakna kefakiran secara dzahir, dengan terwujudnya kecukupan harta. Bisa juga bermakna batin yaitu terwujudnya kekayaan dalam hati.”

Bersegera untuk melakukan amalan akhirat baik di dalam perjalanan maupun di Makkah.
Di antara kebaikan tersebut adalah bersedekah kepada fakir dan miskin, memperbanyak membaca Al-Quran dan berdzikir mengingat Allah, memperbanyak tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, memperbanyak shalat di Masjidil Haram dan thawaf jika mudah baginya dalam rangka mendapatkan manfaat yang besar di tempat dan waktu tersebut.
Di Masjidil Haram, shalat satu kali memiliki 100.000 kali lipat keutamaan.
Ibadah wajib di sana lebih baik 100.000 kali dibanding tempat yang lain. Sedekah di sana pahalanya berlipat.
Demikian juga bertasbih, tahmid, tahlil dan takbir, membaca Al-Quran, amar ma’ruf nahi munkar, berdakwah mengajak kepada Allah, mempelajari ibadah haji.
Semua ini diperintahkan bagi setiap muslim. Di antara perintah syariat adalah mengajarkan tata cara ibadah haji kepada saudara-saudaranya (jika ia telah memiliki ilmu yang mapan), dengan cara yang santun, lembut dan gaya bahasa yang baik.
Di samping berharap ada kesempatan hadir di Makkah untuk dapat melakukan berbagai macam amalan kebaikan, sebagaimana yang telah dijelaskan seperti shalat, thawaf, berdakwah kepada Allah, amar ma’ruf nahi munkar, dengan gaya bahasa yang baik dan kalimat yang santun.
Demikianlah Allah lebih tahu apa yang menjadi niat utama dan usaha seorang hamba.
Apabila seorang hamba sangat ingin naik haji dan benar-benar tulus dari hati yang paling dalam, tentu ia berusaha dari awal dengan mempelajari fikh ibadah haji meskipun belum mendaftar haji atau umrah.

Allah mengetahui apa yang disembunyikan hati sebagaimana firman Allah,

وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan. [An-Nahl/16: 19]

Allah juga berfirman,

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” [Ghafir: 19]

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah tahu apa yang ada dalam hatinya, yaitu keinginan yang sangat kuat untuk segera naik haji, maka bisa jadi Allah memudahkan jalannya menunju baitullah. Ibnu Katsir berkata,

ويعلم ما تنطوي عليه خبايا الصدور من الضمائر والسرائر .

“Allah mengetahui apa yang menjadi keinginan hati dan rahasia serta yang tependam di dalam hati.” [Tafsir Ibnu Katsir 7/137]

Sebagian orang juga memang sengaja menunda haji, mereka berpikir bahwa haji itu adalah ibadah yang bisa ditunda, padahal mereka sudah mampu dan wajib. Mereka menunggu ketika sudah tua dahulu baru berangkat pergi haji. Hal ini tidaklah tepat, ibadah haji itu dilakukan sesegra mungkin apabila telah mampu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعَجَّلُوا إِلَى الْحَجِّ – يَعْنِي : الْفَرِيضَةَ – فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ

“Bersegeralah kalian berhaji-yaitu haji yang wajib-karena salah seorang diantara kalian tidak tahu apa yang akan menimpanya” [HR.Ahmad, dihasankan oleh Al-Albany]

Beliau juga bersabda,

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ الْمَرِيضُ وَتَضِلُّ الضَّالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ

“Barangsiapa yang ingin pergi haji maka hendaklah ia bersegera, karena sesungguhnya kadang datang penyakit, atau kadang hilang hewan tunggangan atau terkadang ada keperluan lain (mendesak)”. [HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani]

Semoga kita dimudahkan untuk segera mempelajari fikh ibadah haji dan Allah pun memudahkan kita untuk segera naik haji memenuhi panggilan Allah.

Semoga bermanfa'at...Aamiin
Trima kasih
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Pondok Pesantren Al-Islami Raudhotul Fata · Sukabumi City, West Java Find local businesses, view maps and get driving directions in Google Maps.

08/04/2024

"Nasehat Penghujung Ramadhan"

Meraih Akhir yang Indah

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈┈•

Saudaraku..
Jaga semangat ibadahnya, jangan gugur di detik-detik terakhir, Ramadhan belum usai, justru hari-hari penuh kemuliaan dan keutamaan berada di akhirnya, hari-hari inilah menjadi penentunya.

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ pernah bersabda :

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Bahwa nilai amal itu ditentukan oleh bagian penutupnya”. (HR Muslim, no.265).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله :

العِبرَةُ بِكَمَالِ النِّهَايَات لا بِنَقصِ البِدَايَات

“Yang menjadi tolak ukur (suatu amal) adalah akhir yang penuh kesempurnaan, bukan permulaan yang penuh kekurangan.” (Dikutib dari nasehat Syekh Abdurrazaq Badr hafizhahullah).

Berkata Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah :

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ شهْرَ رَمَضَانَ قَدْ عَزِمَ عَلَى الرَّحِيْلِ وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُ إِلاَّ القَلِيْلُ، فَمَنْ مِنْكُمْ أَحْسَنَ فِيْهِ فَعَلَيْهِ التَّمَامُ وَمَنْ فَرَطَ فَلْيُخْتِمُهُ بِالحُسْنِى.

“Wahai para hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit، karena itu, siapa saja yang telah beramal baik di dalamnya hendaklah dia menyempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia mengakhirinya dengan yang terbaik.” (Lathaiful Ma'arif, 386).

Mintalah pertolongan kepada Allah dengan doa agar meraih akhir yang indah, Sahabat yang mulia yaitu Abu Bakr as-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pernah berdoa kepada Allah Ta'ala :

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاك

Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku, ketika aku bertemu dengan-Mu. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, no. 28929).

Demikian, semoga Allah mengakhiri ramadhan kita dengan ampunan serta pembebasan dari api neraka.

اللَّـهُـمَّ اخْـتِـمْ لَـنَا رَمَـضَانَ بِالْغُـفْـرَانِ وَالْعِـتْـقِ مِنَ النِّـيرَانِ

*Ya Allah, tutuplah Ramadhan kami ini dengan ampunan dan pembebasan dari siksa neraka*
🤲🏻🤲🏻🤲🏻

07/04/2024

Setiap tahun terus pada debat padahal dalil masing-masing udah jelas,tinggal kita mau ngambil yang mana,jangan pada ego yang penting pada legowo,ingsyaa allah semuanya dapat Ridho dari yang maha Ridho,Allah swt.

ماحكم اخراج زكاة الفطر نقدًا

(BAGAI MANA HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT DENGAN UANG)

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛ وبعد.
ففي نهاية رمضان من كل عام، وقبل صلاة العيد؛ يحرص المسلمون على تطبيق شعيرة من شعائر الدين التي فرضها عليهم، واقتداء بسنة نبيهم المصطفى - صلى الله عليه وسلم-، وما عليه صحابته رضوان الله عليهم، ألا وهي زكاة الفطر، أو صدقة الفطر: فرضها رسول الله - صلى الله عليه وسلم- على كل مسلم، وعلى من يمونه، من صغير أو كبير، ذكر أو أُنثى، وقدَّر لها قدرها، التي تخرج به، وأصنافها التي تُخرج منها، ومصارفها، ومن يستحقها، وبين ذلك أيما بيان، وأوضحه أيما إيضاح.
وقد اتفق الفقهاء([1]) على مشروعية إخراج زكاة الفطر من الأنواع المنصوصة في حديثي ابن عمر، وأبي سعيد الخدري رضي الله عنهما الآتيين، وأما إخراج قيمتها للفقير، سواء كان ذلك بغير سبب، أو بسبب؛ كحاجة الفقير للنقود، أو تعذر شراء المزكي لزكاة الفطر، أو لكون إخراجها نقدا هو الأيسر جمعاً وحفظاً ونقلاً وتوزيعاً لجهات الجمع كالجمعيات ونحوها فقد شاع في هذا العصر وانتشر السؤال عنه "وعمت به البلوى"، وفي ذلك اختلف الفقهاء إلى قولين:

القول الأول:

ذهب جمهور العلماء: المالكية([2])، والشافعية([3])، والحنابلة([4])، إلى عدم جواز وإجزاء إخراج القيمة في زكاة الفطر، والتقيد بما ورد من الاقتصار على الأصناف التي وردت بها السنة من طعام وهو: بر القمح، التمر، أو الشعير، أو الأقط، أو الزبيب، واستندوا على ذلك بأدلة صحيحة صريحة تَعضد قولهم، منها:

1)ما أخرجه الشيخان([5]) من حديث ابن عمر رضي الله عنهما قال: " فرض رسول الله - صلى الله عليه وسلم- زكاة الفطر صاعًا من تمر، أو صاعًا من شعير، على العبد، والحر، والذكر، والأنثى، والصغير، والكبير، من المسلمين، وأمر بها أن تُؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة"([6]).
وجه الدلالة: أن النبي - صلى الله عليه وسلم- فرض الصدقة من تلك الأنواع، فمن عدل إلى القيمة فقد ترك المفروض([7]).
2)عن أبي سعيد الخدري رضي قال: "كنا نخرج زكاة الفطر صاعًا من طعام أو صاعًا من شعير أو صاعًا من تمر أو صاعًا من أقط أو صاعًا من زبيب"([8]).

وجه الدلالة: أن الصحابة رضوان الله عليهم لم يكونوا يخرجونها من غير الطعام، وتابعهم على ذلك دليل على أن المشروع إخراجها طعاماً([9]).
3) وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم-: "أغنوهم في هذا اليوم"([10]).

وجه الدلالة منه: أن غنى الفقراء في هذا اليوم -يوم العيد- يكون فيما يأكلون، حتى لا يضطروا لسؤال الناس الطعام يوم العيد.
4)أن ابن عباس رضي الله عنهما قال: "فرض رسول الله - صلى الله عليه وسلم- الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث و طعمة للمساكين"([11]).
وجه الدلالة: أن الطعمة تكون بما يُطعم، ولا تكون بالدراهم التي تقضى بها الحاجات، مما يدل على أن إخراج زكاة الفطر طعامًا مقصودٌ للشارع([12]).
5)أن زكاة الفطر عبادة مفروضة من جنس معين، فلا يجزئ إخراجها من غير الجنس المعين كما لو أخرجها في غير وقتها المعين([13]).
6)أن الزَّكَاة وجبت لدفع حاجة الفقير، وشكرا لنعمة المال، والحاجات متنوعة، فينبغي أن يتنوع الواجب ليصل إلى الفقير من كل نوع ما تندفع به حاجته، ويحصل شكر النعمة بالمواساة من جنس ما أنعم الله عليه به([14]).
7) ولأن مُخرج القيمة قد عدل عن المنصوص، فلم يجزئه، كما لو أخرج الرديء مكان الجيد([15]).
8) أن إخراج زكاة الفطر من الشعائر، فاستبدال المنصوص بالقيمة يؤدي إلى إخفائها وعدم ظهورها([16]).

9)أن النبي - صلى الله عليه وسلم- فرضها من أصناف متعددة مختلفة القيمة، فدل على إرادة الأعيان، ولو كانت القيمة معتبرة لفرضها من جنس واحد، أو ما يعادله قيمة من الأجناس الأخرى([17]).
10) فهذه سنة محمد - صلى الله عليه وسلم- في زكاة الفطر، ومعلوم أن وقت هذا التشريع وهذا الإخراج يوجد بيدالمسلمين وخاصة في مجتمع المدينة الدينار والدرهم اللذان هما العملة السائدة آنذاك، ولم يذكرهما صلوات الله وسلامه عليه في زكاة الفطر، فلو كان شيء يجزئ في زكاة الفطر منهما لأبانه صلوات الله وسلامه عليه ؛ إذ لا يجوز تأخير البيان عن وقتالحاجة ،ولو فعل ذلك لنقله أصحابه رضي الله عنهم.

القول الثاني:

وهو القول بجواز إخراج زكاة الفطر نقودًا، وبه قال أبو حنيفة([18])، وغيره من السلف الصالح([19]) على رأسهم أمير المؤمنين عمر بن عبد العزيز –رحمه الله- الذي سبق أبا حنيفة إلى القول به، فقد رُوي أنه أمر عامله في البصرة أن يأخذ من كل إنسان نصف درهم عن صدقة الفطر([20])،
وهذالم يكن مجرد رأي شخصي لعمر بن عبد العزيز، وإنما جعله أمراً عاماً ، وأَمَرواليَه أن يأخذ من أهل ذلك البلد نصف درهم على صدقة الفطر. ومن الأدلة التي يستدل بها أصحاب هذا القول ما يلي([21]):

1) قوله تعالى: ( لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ) ([22])
وجه الدلالة: أن المال هو المحبوب، فإن كثيراً من الناس يهون عليه إطعام الطعام، ويصعب عليه دفع ثمن ذلك للفقراء، بخلاف الحال في عصر النبي صلى الله عليه وسلم، ولذا كان إخراج الطعام في حقهم أفضل لأنه أحب، وإخراج المال في عصرنا أفضل؛ لأنه إلينا أحب.
2)أن الأصل في الصدقة المال، قال تعالى:
(خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا) ([23])،
والمال في الأصل ما يملك من الذهب أو الفضة، وبيان الرسول - صلى الله عليه وسلم- للمنصوص عليه إنما هو للتيسير ورفع الحرج، لا الحصر الواجب([24]).
3)أن الواجب إغناء الفقير لقوله - صلى الله عليه وسلم-: "أغنوهم عن المسألة في مثل هذا اليوم"([25])،
و الاغناء يحصل بالقيمة؛ لأنها أقرب إلى دفع الحاجة([26]). وأن النبي - صلى الله عليه وسلم- قيد الإغناء بيوم العيد ليعم السرور جميع المؤمنين، ويستوي فيه الغني والفقير، وهذا المعنى لا يحصل اليوم بإخراج الحب الذي ليس هو طعام الفقراء والناس كافة، ولا في إمكانهم الانتفاع به ذلك اليوم حتى لو أرادوا اقتياته على خلاف العادة([27]).
4) أن النبي - صلى الله عليه وسلم- قال للنساء يوم عيد الفطر: "تصدقن ولو من حليكن"([28]. )
5)أن النبي - صلى الله عليه وسلم- غاير بين القدر الواجب من الأعيان المنصوص عليها، مع تساويها في كفاية الحاجة، وسد الخلة فأوجب من التمر والشعير صاعًا، ومن البر نصف صاع([29]).
وجه الدلالة: أن النبي - صلى الله عليه وسلم- لم يستثن صدقة الفرض من غيرها"([30]).
6)إذا ثبت جواز أخذ القيمة في الزَّكَاة المفروضة في الأعيان، فجوازها في الزَّكَاة المفروضة على الرّقاب (زكاة الفطر) أولى؛ لأن الشرع أوجب الزَّكَاة في عين الحب، والتمر والماشية، والنقدين، كما في حديث معاذ -رضي الله عنه- الذي قاله له النبي - صلى الله عليه وسلم- لما بعثه إلى اليمن: "خذ الحب من الحب، والشاة من الغنم، والبعير من الإبل، والبقر من البقر"([31])،
ولما كان الحال كذلك اقتضت حكمة الشرع البالغة أمر الناس في عهد النبوة بإخراج الطعام ليتمكن جميعهم من أداء ما فرض عليهم، ولا يحصل لهم فيه عسر، ولا مشقة؛ وذلك لأن النقود كانت نادرة الوجود في تلك الأزمان ببلاد العرب ولاسيما البوادي منها، وخصوصاً الفقراء، فلو أمر بإعطاء النقود في الزَّكَاة المفروضة على الرؤوس لتعذر إخراجها على الفقراء بالكلية، ولتعسر على كثير من الأغنياء الذين كان غناهم بالمواشي والرقيق، والطعام، أما الطعام فإنه متيسر للجميع، ولا يخلو منه منزل إلا من بلغ به الفقر منتهاه، فكان من أعظم المصالح، وأبلغ الحكم العدول عن المال النادر العسر إخراجه إلى الطعام المتيسر وجوده، وإخراجه لكل الناس([32]).
7)أن مراعاة المصالح من أعظم أصول الشريعة، وحيثما دارت تدور معها، فالشريعة كلها مبنية على المصالح ودرء المفاسد.

المناقشات والردود:
أولاً: بعض ما ورد من ردود على بعض أدلة القول الأول:
·أما حديث: " فرض رسول الله - صلى الله عليه وسلم- زكاة الفطر صاعًا من تمر، أو صاعًا..." نوقوش بأن ذكر هذه الأنواع ليس للحصر، وإنما هو للتيسير ورفع الحرج، فإخراج تلك الأنواع المنصوصة أيسر من إخراج غيرها من الأموال فقد عين النبي - صلى الله عليه وسلم- الطعام في زكاة الفطر لندرته بالأسواق في تلك الأزمان، وشدة احتياج الفقراء إليه لا إلى المال، فإن غالب المتصدقين في عصر النبي - صلى الله عليه وسلم- ما كانوا يتصدقون إلا بالطعام([33]).
·وأما حديث: "أغنوهم في هذا اليوم"، يمكن أن يُناقش بأن الإغناء قد يكون بهذه الأصناف، وبغيرها من النقود ونحو ذلك.
·وقولهم: " أن مُخرج القيمة قد عدل عن المنصوص، فلم يجزئه، كما لو أخرج الرديء مكان الجيد"، نوقش: بأنه إنما عدل عنه لكون ذلك هو الأصلح للفقير و الأدفع لحاجته، مع عدم وجود الدليل المانع من ذلك([34]).
·واحتجاجهم بأن النبي - صلى الله عليه وسلم- فرضها من أصناف متعددة مختلفة القيمة، فدل على إرادة الأعيان... نوقش: بأن ذلك من قياس الحاضر على الغائب المجهول، فإنهم قاسوا عصرهم على عصر النبي - صلى الله عليه وسلم-، وظنوا أن هذه الأشياء لما كانت مختلفة القيم في عصرهم، كانت كذلك في عصر النبي - صلى الله عليه وسلم-، وهذا أمر يحتاج إلى نقل صريح في إثباته، و إلا فالأزمنة تختلف في الأسعار، ومساواة الأشياء وتفاضلها. ثم إن هذه دعوى غير مسلمة، فإن النبي - صلى الله عليه وسلم- غاير بين هذه الأشياء ولم يسو بينها([35]).

ثانيًا: بعض ما ورد من ردود على بعض أدلة القول الثاني:
·ونوقش استدلالهم بقوله تعالى: ( لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ) بأن هذا التفريق بين العصرين في ذلك لا دليل عليه، ثم إنه لو سلم فيحمل على صدقة التطوع، أما الفرض فيتبع فيه المشروع، ويكون هو الأفضل.
·قولهم أن الأصل في الصدقة المال، قال تعالى: (خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا) ([36])، نوقش: بعدم التسليم بهذا الأصل، فالمال يطلق على كل ما يتمول، ومن ذلك بهيمة الأنعام والحبوب، والأنواع المنصوصة في زكاة الفطر، فالأصل في زكاة كل نوع ما ورد فيه.
·وأما حديث: "تصدقن ولو من حليكن"، فقد نوقش بأنه لوكان المقصود زكاة الفطر لما أمرهن بها في الخطبة بعد الصلاة، وقد أمر المسلمين أن يؤدوها قبل الصلاة.
· وقولهم: إذا ثبت جواز أخذ القيمة في الزَّكَاة المفروضة في الأعيان، فجوازها في الزَّكَاة المفروضة على الرّقاب (زكاة الفطر) أولى، نوقش كذلك بعدم التسليم بإطلاق هذا التعليل، إذ التشريع لكل زمان ومكان، كما أن قيمة زكاة الفطر يسيرة، والدراهم والدنانير كانت شائعة في زمنهم، ولا تشق على كثير منهم، مع كون الزَّكَاة فيها معنى التعبد الذي يتحقق يقيناً بإخراج الطعام في زكاة الفطر.
·وقولهم: أن النبي - صلى الله عليه وسلم- غاير بين القدر الواجب من الأعيان المنصوص عليها، مع تساويها في كفاية الحاجة، نوقش بأنه على التسليم بصحة الأحاديث فاعتبار القيمة هنا لا يلغي اعتبار النوع، فهما جميعًا معتبران.

الخلاصة والترجيح:

أنه مما سبق يتبين لنا أن الخلاف في هذه المسألة قديم وفي الأمر سعة، فإخراج أحد الأصناف المذكورة في الحديث يكون في حال ما إذا كان الفقير يسد حاجته الطعام في يوم العيد، وإخراج القيمة يجوز في حال ما إذا كانت النقود أنفع للفقير؛ كما هو الحال في معظم بلدان العالم اليوم، ثم إنه لا ينبغي الانكار على من أخرج زكاة الفظر نقودًا فقد ظهر لي ما يلي:

· أن كثيراً من الفقهاء يرون أنه يخرج من قوت البلد من غير المنصوص عليه في حديث أبيسعيد وحديث ابن عمر ، فإذا تغير القوت جاز أن يُخرج من القوت الموجود كالأرز، أوالقمح، أو أي قوت ينتشر في بلد من البلدان، وإذا جاز إخراجها من قوت البلد - حتىولو لم يكن منصوصًا- فمن باب أولى أن تُخرج من الدراهم؛لأنها قد تكون أفضل من القوت لكثير من الناس وهذا منهم مصير إلى القيمة والتقييم؛لأنهم قوّموا ماكان قوتاً في زمن النبي - صلى الله عليه وسلم- وأخرجوا بدله.

· أن الأمر في هذه الأشياء ليس تعبديًا محضًا لا يجوز الخروج عنهإلى غيره، وإنما هو أمر مصلحي واضح، أي: أن المقصود من صدقة الفطر منفعةالمسلمين ومنفعة الآخذ والباذل أيضاً، ولاشك أن منفعة الآخذ أولى، وإخراج القيمةـ خصوصاً إذا طابت بها نفس المعطي ونفس الآخذ وأنه أحب إليهما معاً ـ يحقق مقصدالشرع في التوسعة على الناس وفي تطهيرهم وفيما فيه تحقيق مصالحهم ، وهذا مقتضى ما تعم به البلوى.
· أن هناك نوع من التلاعب الواضح في بعض البيئات، فعلى سبيل المثال: وجد من الذين يبيعونصدقة الفطر يبيعونها ثم يأخذون المال ثم يأخذونها باعتبار أنهمفقراء ثم يبيعونها على الآخر وهكذا ، فهذا من حجج الذين قالوا بوجوب النظر فيالموضوع.
ولعل حديث رسول الله - صلى الله عليه وسلم-" أغنوهم في هذا اليوم"، يؤيد هذا القول؛ لأن حاجة الفقير الآن لا تقتصر على الطعام فقط، بل تتعداه إلى اللباس ونحوه ..، ولعل العلة في تعيين الأصناف المذكورة في الحديث، هي: الحاجة إلى الطعام والشراب وندرة النقود في ذلك العصر،حيث كانت أغلب مبايعاتهم بالمقايضة، وإذا كان الأمر كذلك فإن الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً، فعلى القول بجواز إخراج النقود في زكاة الفطر للحاجة القائمة والملموسة للتغير اليوم هو "مما تعم به البلوى".

--------------------------------

([1]) الإجماع لابن المنذر (1/45).
([2]) الكافي لابن عبد البر (1/112)،
([3]) المجموع (5/384)، الحاوي (3/383).
([4]) المغني (2/355).
([5]) البخاري واللفظ له أخرجه في كتاب الزكاة، باب فرض صدقة الفطر (2/547)، رقم (1432)، ومسلم في باب زكاة الفطر على المسلمين من التمر والشعير (2/677)، رقم (13).
([6]) أي: صلاة العيد.
([7]) انظر المغني (2/355).
([8]) أخرجه البخاري في كتاب الزكاة، باب صدقة الفطر صاع من طعام (3/548)، رقم (1435)، ومسلم في كتاب الزكاة، باب زكاة الفطر على المسلمين من التمر والشعير (2/678)، رقم (17).
([9]) مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين (8/265).
([10]) أخرجه الدار قطني كتاب الزكاة، (2/152)، رقم (67)، والبيهقي في السنن الكبرى، في كتاب الزكاة، باب وقت إخراج زكاة الفطر، (4/175)، رقم (7528)، من حديث ابن عمر رضي الله عنهما.
([11]) أخرجه أبو داود في كتاب الزكاة، باب زكاة الفطر (1/505)، رقم (1609)، والحاكم في المستدرك كتاب الزكاة، (1/568)، رقم (1488)، والبيهقي في السنن الكبرى في كتاب الزكاة، باب الكافر يكون فيمن يمون فلا يؤدي عنه زكاة الفطر (4/162)، رقم (7481).
([12]) انظر: مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين (18/278).
([13]) انظر: مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين (18/285).
([14]) المغني (2/355).
([15]) نفس المرجع السابق.
([16]) انظر: مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين (18/278).
([17]) نفس المرجع السابق.
([18]) انظر: بدائع الصنائع (2/72)، المبسوط (3/107).
([19]) وهو مذهب البخاري في صحيحه، ومذهب الثوري وعطاء، وابن حزم، والحسن البصري وغيرهم.
([20]) أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه، كتاب الزكاة، في إعطاء الدراهم في باب زكاة الفطر (2/398)، رقم (10369)، وعبد الرزاق في مصنفه كتاب الزكاة، (3/316)، رقم (5778)، وانظر: شرح معاني الآثار، لأحمد بن محمد بن سلامة بن عبد الملك بن سلمة أبو جعفر الطحاوي، تحقيق: محمد زهري النجار، الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت، الطبعة الأولى، عام 1399هـ، (2/47)، رقم (2895).
([21]) غالب هذه الأدلة والنقاشات قد انتظمها كتاب"تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال" لأبي الفيض أحمد بن محمد الصديق الغماري، وقد أذكر الإحالة إذا كان النقل نصيًا، وأكتفي بما أنقله بالمعنى بهذه الإشارة.
([22]) الآية رقم (92)، من سورة آل عمران.
([23]) الآية رقم (104)، من سورة التوبة.
([24]) انظر: تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال ص (59).
([25]) سبق تخريجه ص (141).
([26]) انظر: بدائع الصنائع (2/72)
([27]) انظر: تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال ص (97).
([28]) سبق تخريجه ص (234).
([29]) انظر: تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال ص (83).
([30]) من استنباط البخاري في صحيحه في كتاب الزَّكَاة، باب العرض في الزَّكَاة (2/525).
([31]) أخرجه أبو داود في كتاب الزكاة، باب صدقة الزرع (1/503)، رقم (1599)، وابن ماجه في كتاب الزكاة، باب ما تجب فيه الزكاة من الأموال (1/580)، رقم (1814)، والحاكم في المستدرك في كتاب الزكاة، (1/546)، رقم (1433)، وقال: إسناده صحيح على شرط الشيخين إن صح سماع عطاء بن يسار عن معاذ بن جبل، وأخرجه الدار قطني في كتاب الزكاة، باب ليس في الخضراوات صدقة (2/99)، رقم (23)، والبيهقي في السنن الكبرى، في كتاب الزكاة، باب لا يؤدي عن ماله فيما وجب عليه إلا ما وجب عليه (4/112)، رقم (7163).
([32]) المغني (2/355)، تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال ص (62-63)، مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين (18/285).
([33]) انظر: المبسوط (3/107).
([34]) انظر: تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال ص (101).
([35]) انظر: تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال ص (114).
([36]) الآية رقم (104)، من سورة التوبة.

05/04/2024

Semoga acaranya lancar,Aamiin

15/03/2024

Bismillah...
Motivasi,,,,
Belajar adalah kunci untuk membuka pintu kesuksesan. Jadikan setiap pelajaran sebagai kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

24/02/2024

Malam Nisfu Syaban, Catatan Amal Ditutup ?...

Malam Nisfu Syaban
Pertanyaan:

Assalammu’alaikum.

Apa keistewaan bulan Sya’ban? Karena saya sering mendengar bahwa Allah menutup catatan perbuatan manusia dan menggantinya dengan catatan baru?...

Terima kasih.

Wassalammualaikum warahmatullahi wa barakatu

Jawaban:

Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami tidak pernah menjumpai dalil maupun keterangan ulama bahwa buku catatan amal hamba ditutup di malam nisfu Sya’ban atau ketika bulan Sya’ban. Kami hanya menduga, barangkali anggapan semacam ini karena kesalah pahaman terhadap hadis, dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ

“Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.’” (HR. An Nasa’i 2357, Ahmad 21753, Ibnu Abi Syaibah 9765 dan Syuaib Al-Arnauth menilai ‘Sanadnya hasan’).

Dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, salah satu waktu, dimana amal para hamba dilaporkan adalah ketika bulan Sya’ban. Dan karenanya, beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Kedua, Penting untuk dicatat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan di tanggal berapa peristiwa pelaporan amal itu terjadi. Bahkan zahir hadis menunjukkan, itu terjadi selama satu bulan. Karena itulah, puasa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Sya’ban tidak pilih-pilih tanggal. Beliau juga tidak menganjurkan agar kita memilih pertengahan Sya’ban untuk puasa. Yang beliau lakukan, memperbanyak puasa selama Sya’ban.

Untuk itu, siapa yang beranggapan dianjurkan memperbanyak ibadah ketika pertengahan Sya’ban, dengan anggapan bahwa ketika itu terjadi pelaporan amal, maka dia harus mendatangkan dalil. Tanpa dalil, berarti dia menebak perkara ghaib. Dan tentu saja, pendapatnya wajib ditolak.

Kemudian, penting juga untuk kita perhatikan, hadis itu sedikitpun tidak menyebutkan adanya penutupan buku catatan amal. Beliau hanya menyampaikan ketika bulan Sya’ban terdapat pelaporan amal dan bukan penutupan catatan amal.

Ketiga, tidak ada istilah penutupan buku amal dalam islam. Karena kaum muslimin dituntut untuk selalu beramal dan beramal sampai ajal menjemputnya. Allah berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.” (QS. Al-Hijr: 99)

Para ulama tafsir sepakat bahwa makna Al-Yaqin pada ayat di atas adalah kematian. Karena setiap manusia dituntut beramal dan beribadah selama akalnya masih berjalan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan agar kita selalu menjaga iman, dengan istiqamah beramal. Ada seorang sahabat yang meminta nasehat kepada beliau. Yang nasehat ini akan selalu dia jaga selama hidupnya. Nasehat yang beliau sampaikan sangat ringkas,

قلْ آمنتُ بالله ثم استقم

Katakan, Saya beriman kepada Allah, kemudian istiqmahlah.” (HR. Ahmad 15416 dan sanadnya shahih).

Dan yang namanya istiqamah, tentu saja tidak akan ada putusnya.

Al-Imam Ahmad pernah ditanya, ‘Kapan waktu untuk istirahat?’ beliau menjawab,

عند أول قدم نضعها في الجنة

“Ketika pertama kali kita menginjakkan kaki kita di surga.”

Sekali lagi tidak ada istilah istirahat beramal atau buku catatan amal ditutup sementara. Amal kita yang dihisab tidak hanya ketika nisfu Sya’ban, namun juga di bulan-bulan lainnya. Semoga Allah meringankan kita untuk terus istiqamah meniti jalan kebenaran. Amin..

Allahu a’lam

29/01/2024

Hukum Pamer Harta di Media Sosial.

Media sosial merupakan salah satu bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia modern. Dengan sadar dan leluasa, seseorang bisa mengunggah berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, mulai dari urusan pribadi, pekerjaan, keluarga, hingga hal-hal yang bersifat remeh temeh. Lalu muncul pertanyaan terkait unggahan di dunia maya yang menjurus pada pamer harta. Bagaimanakah hukum pamer kemewahan di media sosial?

Sejatinya pamer harta termasuk dalam kategori sombong. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang melarang manusia untuk melakukan pamer harta dan sombong. Pasalnya, perbuatan tersebut merupakan akhlak tercela yang tidak diis**ai oleh Allah Swt. Allah berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. Luqman ayat 18)

Di sisi lain, terdapat hadis Rasulullah yang menjelaskan larangan berbuat sombong karena memakai pakaian yang bagus, indah dan mahal. Demikian penjelasan dari hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad. Beliau bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya: Bagaimana dengan seorang yang s**a memakai baju dan sandal yang bagus? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Sombong Membatalkan Amal
Sementara itu, orang yang pamer harta, terlebih pamer amal, maka amalnya tidak akan diterima oleh Allah. Hal itu, sebagaimana dalam perkataan Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, dalam kitab Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Iqna’, juz I, halaman 198 berikut:

قوله : (من أمر دنيوي) أي غير الرياء أما هو فإنه محبط للثواب مطلقاً للحديث القدسي : (أنا أغنى الشركاء عن الشرك فمن عمل عملاً أشرك فيه غيري فأنا منه بريء وهو للذي أشرك) . والمراد بالقصد الدنيوي مثل نية التبرد والتنظف ونحو ذلك

“Perkataan Syekh Khatib (Dari perkara duniawi) Maksudnya selain pamer. Adapun pamer maka dapat menghilangkan pahala secara mutlak, berdasarkan firman Allah dalam hadis Qudsi: ‘Aku tidak butuh untuk disekutukan. Barang siapa yang beramal dengan menyekutukan ku di dalamnya, maka aku terbebas darinya. Dia menjadi milik perkara yang ia jadikan sekutu’. Sedangkan yang dikehendaki dengan tujuan duniawi adalah niat menyegarkan, niat membersihkan badan dan lain sebagainya.”

Lebih jauh, Imam Nawawi dalam kitab Naṡaiḥul ‘Ibâd menjelaskan bahwa pamer harta dengan sikap sombong dapat membahayakan orang tersebut. Imam Nawawi mengatakan dari tiga perkara yang dapat menyebabkan manusia rusak, salah satunya ialah membanggakan diri sendiri dengan harta yang dimilikinya.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abdurrahman bin Shakhr dan Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ دَرَجَاتٌ وَ ثَلَاثٌ كَفَارَةٌ أَمَّا المنْجِيَاتُ فَخَشْيَةُ اللهِ تَعَالى فِي السِّر ِوَالعَلَانِيَةِ وَالقَصْدُ فِي الفَقْرِ وَالغِنَى وَالعَدْلُ فِي الرِّضَا وَالغَضَبِ وأَمَّ المهلِكَاتُ فَشُحٌّ شَدِيْدٌ وَهَوَى مُتَبَّعٌ وَإِعْجَابُ المرْءِ بِنَفْسِهِ وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ فَإِفْشَاءُ السَّلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ وَأَمَّا كَفَارَةُ فَإِسْبَاغُ الوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ وَنَقْلُ الأَقْدَامِ إِلىَ الجَمَاعَةِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ

“Tiga perkara yang dapat menyebabkan selamat, tiga perkara yang dapat menyebabkan kerusakan, tiga perkara yang dapat mengangkat derajat, dan tiga perkara yang dapat menebus dosa. Adapun tiga perkara yang menentukan keselamatan adalah: takut kepada Allah (taqwa), baik dalam keadaan sepi maupun ramai, penuh kesederhanaan, baik ketika dalam keadaan fakir maupun berkecukupan, dan bersikap adil baik pada waktu senang maupun saat marah.

Dan tiga perkara yang dapat menyebabkan rusak adalah: bakhil (pelit) yang berlebihan, mengikuti hawa nafsu, dan membanggakan diri sendiri.

Adapun tiga perkara yang dapat mengangkat derajat adalah: menguluk salam, memberi makanan, mengerjakan sholat malam saat orang lain terlelap. Dan tiga perkara sebagai penebus dosa adalah menyempurnakan wudhu ketika cuaca sangat dingin berangkat mengerjakan sholat berjamaah. (Syekh Nawawi, Nashaihul ‘Ibâd, halaman 51).

Demikian penjelasan terkait hukum pamer harta di media sosial. Pada akhirnya, orang yang pamer, akan melahirkan sifat sombong dan membanggakan diri sendiri. Wallahu a’lam.

Want your school to be the top-listed School/college in Sukabumi?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address

Jalan Cipeujeuh Rt 2 Rw 3 Baros Gang Pesantren Raudhotul Fata
Sukabumi
43161